Indonesia memiliki 34 provinsi dan 11 diantaranya memiliki kabupaten yang tergolong sebagai wilayah 3T sebesar 62 kabupaten. Hal ini berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 63 tentang penetapan daerah tertinggal tahun 2020-2024. Penilaian daerah tertinggal dilakukan berdasarkan enam aspek penilaian, yaitu: 1) perekonomian masyarakat; 2) keadaan sumber daya manusia (SDM); 3) ketersediaan sarana dan prasarana; 4) kemampuan daerah; 5) aksesibilitas dan 6) karakteristik daerah (Bidara, 2020). Dari aspek keadaan SDM, tampak bahwa persentase buta huruf di daerah tersebut terbilang cukup tinggi dibandingkan daerah-daerah lainnya. Hal ini terbukti dari data BPS tahun 2019 yang menyebut Provinsi Papua sebagai daerah dengan persentase buta aksara tertinggi sebesar 20,21% disusul oleh Nusa Tenggara Timur (2,51%) dan Nusa Tenggara Barat (2,46%) pada kategori umur 15-44 tahun (BPS, 2020). Padahal, kemampuan membaca merupakan kebutuhan fundamental tiap individu maupun negara secara keseluruhan untuk dapat berkembang. Untuk menanggulangi masalah ini diperlukan usaha yang serius dalam memberantas buta aksara di daerah-daerah tersebut.

Tentara Nasional Indonesia atau disingkat TNI memiliki peran vital dalam menjaga keamanan dan keselamatan nusa dan bangsa. Di samping tugas utamanya tersebut, TNI juga aktif berkontribusi di berbagai bidang di tengah masyarakat. Salah satu bidang yang menjadi pokok perhatian ialah pendidikan. Dikarenakan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945, Indonesia telah merumuskan ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ sebagai salah satu tujuan utama pembentukan negara ini. Untuk mewujudkan hal tersebut, seluruh elemen masyarakat termasuk TNI bersama rakyat sipil harus bahu-membahu.

Di antara manifestasi komitmen TNI dalam memberikan solusi pendidikan ialah melalui program Mobil Calistung (baca-tulis-hitung) keliling di beberapa distrik Kabupaten Merauke. Mobil calistung menyediakan buku-buku bacaan dan media elektronik yang diharapkan mampu meningkatkan semangat belajar serta kemampuan membaca, menulis dan berhitung anak-anak (Hermawan, 2019). Sebelum itu pun, yakni pada tahun 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggaet TNI Angkatan Darat untuk bekerja sama mengisi kekosongan guru di wilayah 3T. Sebelum diperbantukan di wilayah perbatasan, para personel TNI wajib diberi pembekalan terlebih dahulu sehingga dapat memenuhi standar pembelajaran nasional. Hal ini dinilai merupakan solusi ideal karena TNI bertugas di wilayah perbatasan dan sudah terlatih untuk melalui medan-medan yang sulit dan keterbatasan lainnya sebagaimana yang diungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang menjabat saat itu, Mohammad Nuh (Rachman, 2014).

Pada tahun 2019 lalu, program yang menggandeng TNI AD sebagai tenaga pengajar di daerah 3T pertama kali terlaksana. Berbekal bimbingan dan materi dari Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (P4TK) bidang bahasa, Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Timur, Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan dosen-dosen dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sebanyak 900 prajurit TNI AD siap ditugaskan di Kabupaten Nunukan dan Malinau, Kalimantan Utara (Seftiawan, 2019).

Di luar kepedulian dan langkah nyata TNI dalam pemerataan pendidikan di wilayah-wilayah tersebut, masyarakat umum pun memiliki gagasan yang sama. Dengan menjaring ratusan relawan dari putra-putri bangsa yang berkemauan kuat untuk memberantas kebodohan di bumi pertiwi, sejumlah gerakan berhasil digencarkan diantaranya ada Indonesia Mengajar (IM), Kelas Inspirasi, Ruang Berbagi Ilmu dan sebagainya. Namun sayangnya, baik TNI maupun gerakan-gerakan ini masih berjalan sendiri-sendiri.

Inisiatif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam melibatkan TNI AD merupakan sebuah gebrakan yang cemerlang dimana infrastruktur belum tersedia secara merata di seluruh pelosok negeri. Akibatnya, relawan akan sangat kesulitan jika hendak mengajar di daerah-daerah tersebut dan keadaan ini dapat diatasi dengan mudah oleh personel TNI AD yang telah terlatih di medan-medan yang sulit. Sayangnya, jika dibanding rasio anggota TNI AD dengan jumlah relawan yang dibutuhkan untuk diperbantukan di daerah-daerah 3T cukup timpang. Selain itu, TNI AD juga mengemban amanat yang tidak kalah penting untuk dilaksanakan yakni menjaga keamanan dengan menjaga perbatasan misalnya, sehingga sulit bagi TNI untuk bekerja secara independen dalam menunaikan tugas mulia sebagai pengajar. Oleh karena itu, mereka perlu bersinergi dengan yayasan maupun gerakangerakan masyarakat yang memiliki tujuan yang sama. Dengan adanya sinergi dan kolaborasi dari kedua belah pihak, baik relawan dari TNI maupun masyarakat sipil dapat bergotong-royong memutus rantai kebodohan di daerah pelosok Indonesia dengan lebih efisien. Jumlah buta huruf dapat berkurang secara signifikan. Penurunan angka buta huruf pun berdampak pada peningkatan kualitas SDM Indonesia sehingga dalam waktu dekat dapat bersaing di kancah global.

Fatimah Mustafawi Muhammadi

Mahasiswa pascasarjana Medical Nanotechnology, Tehran University of Medical Sciences

Bendahara Umum Ikatan Pelajar Indonesia (IPI Iran) 2019-2021

(Artikel ini meraih juara III pada lomba menulis karya ilmiah oleh KBRI Tehran dan Atase Pertahanan RI-Tehran dalam rangka memperingati HUT TNI ke 75)

Referensi

Bidara, P. (2020). Jokowi tetapkan 62 kabupaten ini sebagai daerah tertinggal periode 20202024. Kontan.co.id. Retrieved from https://nasional.kontan.co.id/news/jokowitetapkan-62-kabupaten-ini-sebagai-daerah-tertinggal-periode-2020-2024?page=1

BPS. (2020). Persentase Penduduk Buta Huruf (Persen), 2017-2019. September, from Badan Pusat Retrieved 14 Statistik https://www.bps.go.id/indicator/28/102/1/persentase-penduduk-buta-huruf.html

Hermawan, N. (2019). Mobil Calistung Yonmek 521/DY Disambut Antusias di SD YPK Sota. Retrieved from sd-ypk/ https://tniad.mil.id/mobil-calistung-yonmek-521dy-disambut-antusias-

Rachman, T. (2014). Republika.co.id. Mendikbud: TNI Menjadi Pengajar Retrieved di Daerah Terpencil. from https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/06/12/pendidikan/eduaction/14/10/11/nd970l-mendikbud-tni-menjadi-pengajar-di-daerah-terpencil

Seftiawan, D. (2019). TNI AD Mengajar di Daerah 3T. PikiranRakyatcom. Retrieved from https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-01307068/tni-ad-mengajar-di-daerah-3t