Milenial dan Gaya Hidup Produktif dalam Beragama dan Berbangsa

July 10, 2021

}

17:43

Saat ini, generasi milenial adalah generasi yang menjadi pusat perhatian bagi masyarakat. Keberadaan generasi ini memiliki penilaian tersendiri di mata publik khususnya terkait dengan gaya hidup dan pola pikirnya. Tuntutan gaya hidup milenial yang secara sadar atau tidaknya telah mempengaruhi tujuan hidup mereka,  sebagian di antaranya adalah trend mengikuti prilaku konsumtif dan hedonis dalam kesehariannya.

Di sisi lain, kemajuan teknologi dan berkembangnya ilmu pengetahuan  juga berpengaruh penting dalam peradaban budaya dan gaya hidup kaum milenial. Bahkan perannya mendominasi perubahan masyarakat milenial secara sosial dalam menentukan garis hidup. Kemajuan tekonologi yang bertujuan untuk mempermudah dalam melayani manusia telah banyak membantu pekerjaan dan aktifitas manusia, namun dampak dari kebergantungan hidup manusia padanya juga tidak dapat dihindari. Tanpa menyalahkan kondisi. Mengambil sikap kuat terhadap  perkembangan pesat ini bisa menjadi sebuah peluang untuk meningkatkan kualitas dan pergerakan generasi kaum milenial di masa depan.

Di masa yang sama, pemuda dan milenial dihadapkan pada konteks yang lain. Masalah yang mereka hadapi kini begitu beragam dan kompleks. Oleh karenanya, mereka harus bertanggung jawab pada diri sendiri dan masyarakat. Kemampuan, tingkah laku, pola pikir, kreativitas yang diharapkan dari mereka seharusnya dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas bagi diri mereka baik dalam beragama maupun berbangsa. Namun terdapat beberapa faktor utama yang menghambat produktifitas kaum milenial yang perlu diwaspadai di antaranya sikap mereka yang lebih mengedepankan individualism dan kepuasan pribadi, obsesi berlebihan dalam mengikuti idola dan gaya hidup orang lain (visual), kurangnya focus dalam mengelola skill dan pengembangan diri.

Adanya pemaparan solusi diharapkan mampu menyeimbangkan gaya hidup mereka dalam beragama dan berbangsa. Mengarahkan mereka dengan cara membentuk pergaulan positif sebagai makhluk social yang seimbang, menjadikan  idola atau  figur sebagai sarana motivasi dalam berjuang dan menciptakan sinergi yang bagus untuk selalu mencintai proses, menghargai keringat, berkarya dan juga focus dalam memenejemen diri. Sehingga nantinya, gelar sebagai generasi millenial produktif dalam beragama dan berbangsa mampu untuk berkonstribusi di tengah masyarakat modern dalam berbagai bidang dan keahlian.

Berstatus sebagai makhluk social, tentunya manusia tidak akan lepas dari keterikatan dan kebergantungan dengan yang lain. Hal ini menjadi sebuah konsekuensi bagi manusia hidup di dunia. Namun yang menjadi kendala adalah gesekan dan perbedaan sudut pandang dalam melihat realitas kehidupan. Perbedaan terhadap penilaian yang kemudian akan berlanjut dengan perbedaan gaya hidup setiap orang. Bagaimana menjadikan perbedaan ini sebagai sebuah peluang dalam keberagaman dan bersosial, baik dari segi beragama maupun berbangsa.

Tidak diragukan lagi bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi sasaran pasar global dunia. Dengan sumber daya manusia yang banyak dan juga sumber daya alam yang melimpah membuat negara Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi pasar global dunia. Dari segi sumber daya manusia, kaum millennial menjadi target utama bagi pasar global dunia untuk mengikuti alur permainan yang mereka produksi. Kemudian melakukan promosi semanarik mungkin sehingga kaum millennial bersedia menjadi media bagi mereka untuk berperan sebagai makhluk yang konsumtif. Begitu juga dari segi sumber daya alam, Indonesia sangat kaya akan alamnya. Bahkan menjadi pemasok bahan utama berbagai macam produk di sejumlah negara di dunia.

Pujian dan penghargaan lainnya yang sering diutarakan oleh beberapa negara di dunia tentang masyarakat Indonesia adalah sikap toleransi dan keramahan-tamahan. Sikap moral yang bernilai tinggi ini tentu menjadikan Indonesia sebagai masyarakat yang berjiwa social tanpa membedakan suku dan warna.

Dengan melihat fenomena yang terjadi saat ini dan memperhatikan potensi yang dimiliki, beberapa solusi yang bisa dijadikan acuan penyeimbang antara realitas dan gaya hidup millennial agar lebih produktif dalam beragama dan berbangsa di antaranya:

 

  1. Agama: Dekat dengan Tuhan, dekat dengan manusia.

Secara naluriah, manusia condong untuk beragama. Hal ini bisa dilihat ketika manusia sadar akan keberadaan dirinya untuk mengikuti sebuah aturan. Kepatuhan terhadap sebuah kesepakatan dan juga komitmen yang telah mengalir dalam diri manusia sejak lahir. Contohnya seperti kasih sayang seorang ibu pada anaknya harus dibalas dengan kebaikan.

Jika dikaji dari sisi agama, pada dasarnya semua agama mengajak manusia pada kebaikan. Memberikan aturan dan larangan yang sesuai dengan kebutuhan manusia. Memperhatikan segala aspek baik dalam urusan individual maupun social. Mendekatkan manusia pada tujuan-tujuan mulia dan menstabilkan hubungan antara sesuatu yang materi dan juga non materi. Memberikan keuntungan dan kemaslahatan bagi manusia di dunia dan di akherat. Beragama artinya beraturan. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki keyakinan tertentu terhadap sebuah kepercayaan maka konsekuensinya adalah mematuhi dan mengamalkan ajaran yang telah diterimanya. Mungkin sebagian orang melawatkan batas dan wilayah dari keberagamaan. Yang jelas, dalam beragama manusia dituntut untuk mendekatkan diri pada Tuhan, mendekatkan diri pada manusia. Dan ikatan ini saling berhubungan erat tanpa menyampingkan salah satu darinya. Bahkan dampak positif terbesar bagi diri agamawan adalah menjadikan dirinya sebagai manifestasi dari tuhan dalam bersikap dan bersosial.

Terlepas dari itu semua, negara Indonesia memiliki sistem aturan yang tepat dalam mengatur bangsa yang beragam ini. Melalui Undang-undang 1945 dan Pancasila meyakini keesaan tuhan menjadi acuan bagi bangsa Indonesia untuk bebas dalam memilih agama. Mewadahi masyarakatnya untuk beribadah sesuai dengan ajaran masing-masing. Kebijakan bertuhan ini justru memeperkaya bangsa untuk saling berlomba-lomba dalam mengamalkan kebaikan antar sesama. Karena  nilai-nilai ketuhanan menjadikan tujuan dan gaya hidup manusia semakin jelas dalam menjalankan rutinitas hariannya.

Bagi kaum millennial yang identik dengan gaya hidup bebas dan hedonisnya, maka dengan cara mendekatkan diri dengan tuhan dan mengingatkan nilai-nilai kemanusiaan dapat mengembalikan kesadaran atas tujuan hidupnya. Sehingga secara bertahap menyibukkan diri untuk mengamalkan program dan ajaran yang  sudah menjadi komitmen awal sebagai manusia yang beragama. Ini adalah salah satu solusi utama yang menjadi dasar untuk merubah pola pikir dan gaya hidup seseorang agar tidak bersikap individualism atau mengedepankan kepuasan pribadi.

 

  1. Waktu: dekat dengan target, dekat dengan keberhasilan.

Dalam ilmu filsafat, waktu adalah sebuah mesin penggerak, yang mana di setiap pergerakkannya memiliki momentum tersendiri dan hanya berlaku di waktu tersebut.

Menghargai waktu adalah sebuah keharusan bagi setiap orang dalam menjalani kehidupan. Dengan cara menentukan tujuan hidup dengan baik dan benar. Karena tujuan  inilah yang nantinya akan menjadi indicator dalam melakukan pergerakan dan menghitung mundur dalam mendekati sebuah titik  pencapaian. Menghargai waktu juga merupakan sebuah prinsip yang harus dipegang oleh semua orang yang menganggap bahwa kehidupan adalah anugrah besar yang tuhan berikan pada manusia. Menghargai waktu juga bagian dari kedisiplinan yang menjadi kunci keberhasilan seseorang dalam mencapai sebuah target.

Pada dasarnya, menentukan tujuan adalah syarat penting dalam sebuah pergerakan, namun tanpa adanya target pergerakan menjadi tidak efisien. Target ini yang akan menjadi program hidup selama berlakunya waktu bagi dirinya. Jika waktu tidak berpihak padanya maka targetpun akan berakhir dengan sebuah khayalan.

 

Selama ini yang menjadi permasalahan dari kaum millennial dalam menjalani masa remajanya adalah lalai dengan waktu dan membiarkannya berjalan tanpa sebuah target.

Sedangkan usia emas yang ada di tangan kaum millennial menjadian harapan besar bagi mereka yang sudah tidak lagi muda. Di masa produktivitas dan semangat kerja yang seharusnya dilakukan kaum millennial justru lebih banyak digunakan untuk bermalas-malasan tanpa sebuah pencapaian. Akibatnya, pola pikirnya diisi dengan imajinasi dan hiburan yang kurang bermanfaat bagi dirinya dan sekitarnya yang berlanjut dengan gaya hidup serba instan dan konsumtif  tanpa memikirkan resiko di masa depannya.

Pemahaman terhadap waktu dan target dalam sebuah keberhasilan harus selalu ditekankan di dalam diri kaum millennial yang tentunya semua elemen harus terlibat di dalamnya. Khususnya dalam proses pendidikan keluarga. Inilah yang di sebut dengan hidup memegang sebuah prinsip. Dengan mengukir target dapat membantu seseorang dalam memimpin dirinya untuk mengatur gaya hidup yang bermanfaat dan bermaslahat.

Salah satu sistem yang dapat membantu seseorang untuk merubah gaya hidup selain melalui sistem pendidikan keluarga adalah dengan mengikuti pendidikan militer. Meskipun terkesan keras atau angker, sebenarnya sistem dan aturan yang berlaku di dalam dunia militer banyak memberikan nilai-nilai positif bagi pesertanya seperti: melatih kedisiplinan, memperkuat mental, fisik, emosional dan spiritual. Oleh karena itu, pelatihan sejenis ini bisa dijadikan percontohan dalam menentukan sebuah target dan keberhasilan secara konsisten.

Sehingga otomatis dia akan tergolong sebagai kaum yang dirahmati oleh Tuhannya, sebagaimana riwayat yang mengatakan bahwa, “ Tuhan merahmati seseorang yang mengetahui dari mana dia berasal, dimana dia berada dan kemana dia akan pergi.”

 

  1. Perhitungan untung dan rugi dari prilaku konsumtif menjadi produktif

Seorang psikolog dari dunia barat pernah mengatakan bahwa, “salah satu watak manusia yang menakjubkan adalah kemampuannya dalam mengubah minus menjadi plus”.

Kalau soal mencari materi dan kekayaan memang baratlah ahlinya. Tetapi, Adler adalah ahli ilmu jiwa. Pendapat yang kita kutip tentunya berkaitan dengan kemampuan manusia merubah dirinya. Dalam buku Gumam-Gumam Dari Dusun Indonesia di mata Santri sang penulis menyebutkan bahwa istilah trendnya sekarang ini dari ucapan Adler menjadi: “manusia akan mampu mereformasi dirinya.” Anehnya, meskipun manusia bisa berubah sikap menjadi lebih baik lagi, mengapa sampai saat ini masih ramai masyarakat yang memilih untuk hidup penuh dengan kerugian?

Ketika agama dan aturan telah menata program kehidupan manusia dengan sebaik mungkin. Seharusnya kestabilan dan keseimbangan tatanan masyarakat sudah terlihat sejak lama. Namun, hingga saat ini dengan berbagai macam fasilitas dan kemajuan teknologi justru membuat masyarakat semakin bingung dengan identitasnya aslinya. Tidak sedikit dari masyarakat yang mengikuti hal-hal viral di media social dan mempercayai berita hoax tanpa dianalisa. Sehingga secara tidak langsung perhatian masyarakat telah difokuskan dengan sesuatu yang kurang menguntungkan bagi diri mereka.

Merubah diri menjadi lebih baik yang awalnya sering bergantung pada sesuatu, menjadi sosok yang lebih mandiri. Dari yang emosional menjadi lebih penyabar. Dari yang suka hal-hal instan menjadi lebih senang berproses sendiri. Dari prilaku konsumtif menjadi sosok yang lebih produktif, baik berupa karya maupun jasa. Karena meningkatkan diri tentunya merubah pola hidup yang dulunya kurang menjadi lebih. Yang dulunya merugikan menjadi sesuatu yang lebih menguntungkan.

Sistem perhitungan ini, juga bagian dari intropeksi diri seseorang. Dengan cara menganalisa kerugian dan keuntungan dalam bersikap dan mengambil keputusan. Bagi kau millennial momen seperti harus sering dilakukan khususnya ketika menjelang tidur di malam harinya. Kesempatan berfikir realistis yang dapat membuat seseorang berinovasi dan memunculkan ide-ide baru untuk meraih keuntungan bagi dirinya. Karena merupakan hal manusiawi bagi semua orang untuk selalu ingin mengejar keuntungan bagi dirinya. Tentunya tidak ada seorangpun yang menyukai kerugian.Apalagi berkaitan dengan kejiwaan seseorang.

Manusia yang sehat tentu memperhitungkan dengan teliti keuntungan dan kerugian bagi dirinya. Menjadikannya sebagai sebuah misi besar bagi dirinya untuk terus mengevaluasi dan mengupgrade kualitas dan kuantitas perbuatannya. Untuk itu sebagai seorang millennial yang beragama dan berbangsa tentu akan memprioritaskan hal-hal penting dan yang menguntungkan bagi dirinya. Sehingga

            “ Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”. (al-ashr 1-3)

Artikel Lainnya

Komentar

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Penulis

Suroya Solehah Zainal

Kalam/ Teologi - Maktabe Nargis, Mashhad, Iran. instagram.com/Sora._.yaa

Share artikel ini

Follow Instagram IPI IRAN

Baca Juga