Menurut KBBI, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Etimologi kata pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan.

Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) yang selalu diperingati setiap tanggal 2 Mei adalah sekaligus merupakan hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Sosoknya disematkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional dikarenakan beberapa gebrakan yang Beliau lakukan untuk Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Beliau merupakan tokoh pelopor pendidikan Indonesia dan pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa.  

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat adalah nama aslinya, pada tahun 1992, namanya berubah menjadi Ki Hadjar Dewantara. Beliau tumbuh dalam lingkungan lingkungan keluarga Kadipaten Pakualaman, putra dari GPH Soerjaningrat dan cucu Pakualam III. Beliau merupakan lulusan ELS, yakni Sekolah Dasar Eropa/Belanda dan sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tetapi tidak tamat karena sakit.

Pada zaman penjajahan Belanda – seperti yang kita semua ketahui – pendidikan adalah hal yang sangat langka, hanya untuk orang terpandang (keluarga priyayi) dan orang asli Belanda yang diperbolehkan untuk mendapatkan pendidikan. Mengingat sifat Ki Hadjar Dewantara yang independen, non-konfromis, dan merakyat; maka Beliau tidak tinggal diam dengan sikap yang ditunjukkan para penjajah. Ia aktif dalam berbagai organisasi pergerakan seperti Boedi Oetomo, Insulinde, dan Indische Partij. Beliau adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, politisi, kolumnis, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

Selain aktif dalam pergerakan, Ki Hadjar Dewantara adalah seorang penulis dan wartawan di beberapa surat kabar. Tulisan-tulisannya dikenal tajam dengan semangat antikolonialisme sehingga Beliau sering berurusan dengan Belanda. Pada tanggal 13 Juli 1913, salah satu tulisannya yang terkenal dan dimuat dalam surat kabar De Express  ialah Als Ik Eens Nederlander Was yang berarti Seandainya Saya Orang Belanda. Tulisan tersebut mengkritik pemerintah Belanda yang menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah dirampas sendiri kemerdekaannya di mana pesta tersebut bahkan dibiayai oleh bangsa yang telah dirampas kemerdekaannya. Karena berani menentang Belanda, maka Beliau pun diasingkan ke Belanda selama enam tahun.

Namun pengasingan bukanlah hambatan, Beliau tidak menyerah dan belajar banyak hal dalam bidang politik dan pendidikan. Beliau tergugah dengan gagasan tokoh-tokoh pendidikan dari negara lain, seperti Friederich Wilhelm August Frobel yang menjadikan permainan sebagai media pembelajaran dan Maria Montessori yang memberikan kemerdekaan kepada anak-anak. Sekembalinya dari pengasingan, Beliau mendirikan Taman Siswa pada tahun 1992 yang diperuntukkan bagi para pribumi agar dapat memperoleh hak pendidikan seperti kaum priyayi dan orang-orang Belanda.

Tujuan didirikannya Taman Siswa adalah untuk mewujudkan Indonesia yang tertib dan damai. Beliau mendirikan Taman Siswa untuk mematahkan sistem pendidikan Belanda yang mengutamakan intelektualistis, individualistis, dan materialistis. Kehadiran Taman Siswa membuka peluang bagi semua orang untuk mengenyam pendidikan secara mudah dan murah tanpa terkendala status sosial. Prinsip dasar Taman Siswa adalah pendoman bagi guru yang dikenal dengan Patrap Triloka yang memiliki unsur-unsur.

  1. ing ngarsa sung tulada “(yang) di depan memberi teladan”,
  2. ing madya mangun karsa “(yang) di tengah membangun kemauan/inisiatif”,
  3. tut wuri handayani  “dari belakang mendukung”.

Sudah semestinya kita meneladani semangat juang Ki Hadjar Dewantara. Zaman sekarang di mana pendidikan merupakan hal yang mudah untuk didapat dan diakses, peluang inilah yang harus kita manfaatkan dengan menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Selain itu, pendidikan sendiri tidak mesti hanya dengan menjadi salah satu siswa di sebuah sekolah atau duduk manis mendengarkan penjelasan guru di kelas. Banyak pelajaran yang bisa kita peroleh dari terjun langsung ke masyarakat, masih banyak hal yang belum kita ketahui hanya dengan duduk di kelas. Selama ini, pendidikan Indonesia berat sebelah hanya memfokuskan pada pengetahuan para siswanya. Apabila pendidikan di Indonesia lebih fleksibel dengan menyeimbangkan antara skill pengetahuan dan keterampilan siswa, maka pendidikan Indonesia bisa berkembang dengan pesat.

Ada yang berbeda dengan peringatan pada tahun ini dikarenakan pandemi Covid-19 yang sudah merebak di Indonesia. Hardiknas 2020 yang mengusung tema “Belajar dari Covid-19” akan diselenggarakan dengan meniadakan upacara bendera untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Kemendikbud akan menyelenggarakan upacara bendera secara virtual melalui siaran langsung di kanal youtube KEMENDIKBUD RI pukul 08.00 WIB.

Akhir kata IPI Iran mengucapkan pantun penutup, “Soto babat sate rusa. Hari senja merah merona. Alangkah hebat anak Indonesia. Tetap belajar walau sedang Corona”

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020

Dian Islamiati

Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan
  2. https://sejarahlengkap.com/indonesia/sejarah-hari-pendidikan-nasional
  3. https://geotimes.co.id/kolom/pendidikan/tamansiswa-ki-hadjar-dewantara-dan-sistem-pendidikan-kolonial/
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Taman_Siswa
  5. https://www.kalderanews.com/2020/05/7-cara-baru-milenialis-rayakan-hardiknas-saat-pandemi-covid-19/