Serupa dengan Pekan Pertahanan Suci (Sacred Defense Week) yang dirayakan setiap tahun di  Iran setiap bulan September, publik Indonesia merayakan Hari Pahlawan Nasional pada setiap 10 November untuk mengenang pertempuran heroik di Surabaya (sekarang ibu kota Provinsi Jawa Timur) antara pasukan Indonesia dengan Sekutu, yang dipimpin oleh pasukan Inggris menjelang berakhirnya Perang Dunia Kedua pada tahun 1945. Pertempuran tersebut telah menjadi simbol perlawanan dan nasionalisme Indonesia. Dalam rangka merayakan perjuangan kemerdekaan Indonesia, suda sepatutnya pula bangsa Indonesia memberikan penghormatan kepada salah satu tokoh heroik, Jenderal Sudirman, panglima pertama Tentara Nasional Indonesia, yang dihormati secara luas di tanah air bahkan hingga saat ini.

Jenderal Sudirman tidak hanya dikenal sebagai bapak pendiri Tentara Nasional Indonesia (TNI), tetapi juga karena hidupnya yang sederhana dan rendah hati. Karenanya, artikel singkat ini akan menyoroti secara sederhana sosok Sudirman, gambaran gaya hidup sederhana serta bagaimana prinsip dan nilai hidup yang ia jalani serta bagaimana dirinya menilai penting kedekatan antara tentara dan rakyat.

Seperti yang telah disebutkan di atas, perayaan Hari Pahlawan Nasional Indonesia adalah serupa dengan Sacred Defense Week di Iran yang ditujukan untuk memperingati delapan tahun Perang Iran-Irak (1980-1988). Efek kedua peringatan tersebut identik dan layak menjadi lessons learned hingga kini. Sosok martir almarhum Jenderal Qaseem Soleimani di Iran juga dirayakan dan dikenang sebagai seorang Pahlawan Nasional oleh masyarakat Iran. Soedirman, lahir pada tanggal 24 Januari 1916 di desa Rembang, Pulau Jawa, memiliki karakter yang dipengaruhi oleh tiga subkultur yang berbeda: petani (wong cilik/rakyat biasa) dari ibunya, bangsawan (priyayi) dari ayahnya, dan budaya Islam (santri) dari para mentornya baik di lingkungan masyarakat maupun sekolah. Sejak usia muda, dia sudah memiliki pemahaman yang baik tentang prinsip dan ajaran Islam, ideologi dan keyakinan yang menyertai kehidupan dan perjuangannya. Tahun-tahun berikutnya menunjukkan sifat kepemimpinannya yang matang, ideal, dan menjadi teladan.

Pada tanggal 18 Desember 1945 Soedirman terpilih menjadi Panglima TKR (TKR/Tentara Keamanan Rakyat, kemudian diubah menjadi TNI/Tentara Nasional Indonesia) dengan tugas dan tanggung jawab menjaga dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sebagai Panglima TNI, Sudirman tetap rendah hati, menjaga kesopanan, lebih bisa dipercaya, dan peduli. Orang-orang di sekitarnya mengenalnya sebagai seorang jenderal yang hidup sederhana, pekerja keras dan disiplin. Karena gangguan kesehatan, Jenderal Soedirman harus dirawat di rumah sakit di Yogyakarta karena penyakit TBC dan salah satu paru-parunya harus diambil. Namun, dalam kondisi kesehatan yang begitu sulit dan serius, ia terus memimpin Tentara Indonesia melawan pasukan Belanda. Soedirman setelah selama beberapa hari terbaring di tempat tidur, secara mengejutkan dapat bangkit dan mengambil kembali tongkat kepemimpinan TNI. Hal tersebut tentu membangkitkan semangat juang ara pejuang kemerdekaan Indonesia.

Ketika pasukan Belanda menyerbu kota, Soedirman dan kontingen kecil melarikan diri dan meninggalkan kota, mendirikan markas di Sobo, dekat Gunung Lawu di mana ia memimpin opaerasi militer di seluruh Jawa, termasuk operasi militer mengejutkan “Serangan 1 Maret 1949” di Yogyakarta. Perang gerilya saat itu juga semakin membuktikan kedekatan antara TNI dan rakyat. Jenderal Soedirman meyakini bahwa kekuatan Angkatan Darat terletak pada dukungan rakyat seperti yang dia alami selama bergerilya, dengan penyakit yang semakin parah mendapat perlindungan dan rangkulan oleh rakyat yang ditemuinya selama bertempur melawan pasukan invasi Belanda. Baginya, rakyatlah yang  melahirkan TNI. Ketika Belanda mulai menarik diri, pada Juli 1949 Soedirman ditarik kembali ke Yogyakarta dan tidak dijinkan untuk bertempur.

Pada akhir 1949 penyakit TBC Soedirman kembali kambuh dan memburuk sehingga ia pensiun ke Magelang, di mana ia menghembuskan nafas terakhirnya satu bulan setelah pihak Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Kematian Soedirman pada 29 Januari 1950 pada usia 34 tahun, menjadi khabar menyedihkan di seluruh Indonesia, tampak dari pengibaran bendera setengah tiang dan ribuan orang yang berkumpul untuk menyaksikan konvoi dan prosesi pemakamannya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki di Yogyakarta. Operasi militer gerilya yang dilakukan Jenderal Sudirman kemudian ditetapkan sebagai tradisi militer dimana rute sepanjang 100 km (62 mil) saat Jenderal Sudirman bergerilya menjadi salah satu syarat bagi taruna Indonesia sebelum menyelesaikan  pendidikan militer.

Sebagai kesimpulan, dapat dikatakan bahwa khususnya bagi bangsa Indonesia, Hari Pahlawan Nasional dan sosok Jenderal Soedirman mengingatkan kembali bagaimana negara didirikan dan diperjuangkan melalui darah, air mata, pengorbanan jiwa dan raga serta penderitaan yang tak terhitung lainnya. Sungguh melegakan bahwa Jenderal Sudirman tetap dapat menyaksikan kemenangan yang ia perjuangkan dengan begitu heroik. Dari tempat tidur di rumah sakit, sang Jenderal sempat menyaksikan kemerdekaan Indonesia yang akhirnya diakui oleh Belanda. Semua negara, termasuk Indonesia atau Iran, layak dan wajib memberi penghormatan kepada para patriotnya karena perjuangan heroik untuk memperebutkan kemerdekaan mengajarkan banyak hal.

Priadji, Pemerhati isu/masalah Kebijakan Luar Negeri

Working Experience:

1997-2001: ASEAN Cooperation Directorate General, Indonesian Foreign Ministry Jakarta

Oct 2001-March 2003: Indonesian Embassy in Baghdad, Iraq

March – Sept 2003: Indonesian Embassy in Damascus, Syria

Sept 2003-Jan 2004: Directorate of North America, Foreign Ministry of the Republic Indonesian, Jakarta

Jan 2004-Nov 2005: Indonesian Embassy in Kabul, Afghanistan

Nov 2005-July 2007: Indonesian Consulate General in Hamburg, Germany

July 2007-Feb 2010: Directorate of Middle East, Indonesia Foreign Ministry Jakarta

Feb 2010-Sept 2010: Indonesian Embassy in Kabul, Afghanistan

Oct 2010-Feb 2011: Directorate of Middle East, Indonesian Foreign Ministry Jakarta

March 2011-Oct 2014: Indonesian Embassy in Tashkent, Uzbekistan

Jan 2015-Jan 2018: Coordinating Ministry for Political, Security and Legal Affairs of the Republic Indonesian, Jakarta

Feb 2018-Currently: Indonesian Embassy in Tehran, Iran