Moh. Zaki Amami: Menghargai Jasa Pahlawan adalah Kewajiban Agama

Moh. Zaki Amami: Menghargai Jasa Pahlawan adalah Kewajiban Agama

Memperingati Hari Pahlawan, IPI Iran menggelar diskusi pada Selasa (13/11) di kota Esfahan, Republik Islam Iran. Mengambil tema, “Mengingat Sejarah Pahlawan adalah Perintah Islam dan Bukti Kecintaan pada NKRI”, Mohammad Zaki Amami sebagai pembicara mengawali materinya dengan memberikan defenisi kata Pahlawan.

“Melihat defenisi pahlawan dari KBBI, kamus Persia dan Oxford Dictionary, bisa kita simpulkan pahlawan adalah individu yang dinilai memiliki sifat berani, rela berkorban dan menepati janjinya. Dalam konteks hari Pahlawan maka kita memahami bahwa semua yang telah mengorbankan jiwa, raga, harta, umur dan keluarga untuk mencapai kemerdekaan NKRI adalah pahlawan Nasional. Contohnya adalah Ir. Sukarno, Bung Hatta, Pangeran Diponegoro, R.A. Kartini, Cut. Nyak Dien, Imam Bonjol, dan lain-lain” Ungkap Mahasiswa S2 Bahasa dan Sastra Arab Universitas Internasional al-Mustafa Esfahan tersebut.

Lebih lanjut, mahasiswa kelahiran Jember Jawa Timur tersebut bercerita singkat mengenai kronologis peristiwa 10 November 1945 yang kemudian melatarbelakangi hari itu dijadikan sebagai Hari Pahlawan. “Perang terbuka yang terjadi pada 10 November 1945 di Surabaya sangat dasyhat, meski arek-arek Suroboyo bersenjata apa adanya, namun mereka tidak mau tunduk pada kemauan Inggris yang memiliki kekuatan senjata yang lebih canggih. Hal itu terungkapkan dalam pidato Bung Tomo, yang berkata, ….selama banteng-banteng Indonesia masih punya darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga”.

“Pertempuran tidak berimbang tersebut berimbas banyaknya korban jiwa jatuh dari pihak pejuang. Menurut Merle Calvin Ricklefs, dalam A History of Modern Indonesia Since c.1300, tercatat setidaknya 6.000-16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya sebagai imbas dari pertempuran tersebut. Sementara itu, taksiran Woodburn Kirby dalam The War Against Japan (1965), korban dari pihak sekutu sejumlah 600- 2.000 tentara.” Paparnya.

Lebih lanjut, menukil tafsir Allamah Thabathabai mengenai ayat 169 dan 170 dari surah Ali Imran, Zaki Amami mengatakan, “Dalam kitab Tafsir al-Mizan disebutkan, orang-orang mukmin yang kehilangan nyawa di jalan Allah tidaklah mengalami kematian, bahkan masih tetap diberi rezeki dari Allah berupa kebahagiaan di sisi-Nya. ”

“Kebahagiaan yang dimaksud adalah tidak adanya rasa sedih dan takut ketika menghadapi kematian dan hari pengadilan. Ini merupakan rejeki luar biasa bagi mereka yang meninggal dalam keadaan Syahid. Kenikmatan dan rejeki yg lain adalah keberadaan mereka disisi Allah. Mereka mencintai Allah dan Allah mencintainya. Mereka telah dijamin untuk tidak diazab dan disiksa.” Jelasnya.

Pada bagian akhir pemaparannya, Kepala Departemen SDM dan Kelembagaan IPI Iran 2018-2019 tersebut menyimpulkan, “Pertama, kita wajib mendoakan, meniru dan meneladani jejak para pahlawan, karena merupakan ajaran Islam yang hakiki. Kedua, generasi muda wajib menjaga dan mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawian dengan berbagai kegiatan positif. Ketiga, seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada harus menjaga nasionalisme dan rela berkorban demi kejayaan NKRI.

Diskusi selanjutnya dilanjutkan dengan sharing session, dengan masing-masing dari peserta menceritakan mengenai pahlawan di daerah masing-masing dan bagaimana cara mengisi kemerdekaan. Diskusi yang diakhiri dengan makan malam bersama tersebut, tidak hanya dihadiri mahasiswa Indonesia yang berada di kota Esfahan namun juga dari mahasiswa negeri Jiran, Malaysia dan Thailand.

Hakikat Sumpah Pemuda Untuk Meraih Kemerdekaan Bermedia

Hakikat Sumpah Pemuda Untuk Meraih Kemerdekaan Bermedia

Di era revolusi industri 4 ini generasi muda dihadapkan pada berbagai tantangan kehidupan. Salah satu tantangan itu adalah bagaimana merawat kecintaan generasi muda kepada negaranya sendiri. Rasa cinta pada negeri yang lazim disebut dengan nasionalisme, adalah modal dasar yang harus dimiliki oleh setiap pemuda-pemudi sebuah bangsa jika ingin negara dan bangsanya menjadi maju dan berwibawa dihadapan bangsa lainnya.

Sumpah pemuda yang di deklarasikan 90 tahun lalu menjadi fakta bahwa generasi pendahulu kita menyadari pentingnya eksistensi rasa nasionalisme dalam jiwa setiap pemuda. Terbukti bahwa dengan rasa nasionalisme yang kuat, 17 tahun kemudian, kita mampu meraih kemerdekaan. Kemerdekaan yang selama berabad-abad seolah menjadi mimpi untuk diraih bangsa yang terdiri dari ratusan suku bangsa dan bahasa. Beragam versi sejarah menyatakan bahwa Indonesia pernah dijajah oleh Belanda, Portugis, hingga Jepang, namun dengan nasionalisme yang kuat dan kecintaan pada NKRI, bangsa kita mampu mendeklarasikan kesepakatan bersejarah pada tahun 1928. Karena itulah, dapat dikatakan jika sumpah pemuda pada hakikatnya adalah tonggak perlawanan dan resistensi rakyat Indonesia melawan penjajahan.

Perlu diketahui bahwa kata “Penjajahan” memiliki makna yang luas. Penjajahan di masa lalu identik dengan penjajahan fisik, kekerasan, serta penguasaan sumber daya alam oleh bangsa penjajah yang secara langsung menempati negeri jajahannya [1]. Namun, penjajahan di era milenial lebih identik dengan penjajahan yang bersifat ideologi, moral dan penghancuran ekonomi suatu bangsa oleh bangsa lain melalui media. [2] Penjajahan di era milenial lebih bersifat “halus”, bangsa yang sedang dijajah tidak merasa bahwa mereka hakikatnya sedang mengalami penjajahan.

Salah satu bentuk penjajahan yang dialami oleh NKRI yang saat ini perlu menjadi perhatian generasi muda adalah penjajahan media sosial. [3] Menurut Erich Fromm (1977) “Penjajahan media sosial” adalah dikuasainya sekelompok masyarakat oleh “realitas virtual kosong” untuk memenuhi hasrat utilitarian manusia. [4] Realitas virtual kosong bisa dimaknai sebagai sebuah dunia yang tidak lebih dari sebesar kaca beserta perangkat lunaknya yang bisa dipakai untuk memproduksi, mereplikasi dan menyebarkan konten tertentu. Sedangkan utilitarianisme adalah sebuah sikap dimana kebenaran dan kesalahan diukur oleh banyaknya kesenangan dan ketidaksenangan didalamnya. [5]

Dari terminologi diatas dapat dipahami bahwa penjajahan media sosial berpotensi menjangkiti lebih dari 50 persen (143 Juta) pengguna media sosial di tanah air. [6]Bahkan dalam salah satu pidatonya mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo mengatakan bahwa media sosial telah menjajah masyarakat Indonesia dan mengancam persatuan dan kesatuan NKRI. [7] Dari fakta ini maka sudah selayaknya kita tidak memandang sebelah mata tentang dampak penjajahan media sosial. Melalui semangat sumpah pemuda kita wajib menganalisa dan mencari solusi untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan NKRI.

Dengan merenungkan nilai-nilai sumpah pemuda dan mengejawantahkannya dalam kehidupan ini maka bangsa Indonesia akan mampu mengatasi dampak negatif penjajahan media sosial. Beberapa hakikat sumpah pemuda yang bisa kita praktekkan untuk melawan model penjajahan media sosial adalah:

  1. Memupuk keyakinan adanya kesatuan darah antar anak bangsa.
    Persatuan adalah kunci melawan jutaan arus informasi di media sosial yang berusaha memecah belah NKRI. Negara kita adalah negara besar, dengan lebih dari 17 ribu pulau, 748 bahasa daerah dan 300 kelompok etnis, [8] Indonesia bisa dengan mudah dipecah belah dengan berbagai isu sektarian atau perbedaan pemikiran. Inilah yang harus diwaspadai oleh segenap anak bangsa yang memahami pentingnya kesatuan darah. Kesatuan darah dalam menggunakan media sosial bisa dimaknai bahwa setiap individu rela untuk selalu menghindarkan diri dari membuat, menulis, atau menyebarkan berita yang akan menyakiti saudara sebangsa dan setanah airnya. Tidak ada yang lebih penting daripada persatuan dan kesatuan bangsa dalam melawan penjajahan di era modern ini, inilah hakikat dari kalimat pertama “Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia”.
  2. Menjunjung tinggi perbedaan dan meningkatkan literasi digital.Seorang pujangga berkata, “Keindahan suatu lukisan karena perbedaan dan keseimbangan warna di dalamnya” ini sebuah ungkapan yang sesuai untuk mewakili bangsa Indonesia. Bangsa besar dengan Pancasila sebagai asas pemerintahannya. Pancasila dengan asas Bhineka Tunggal Ika mengajarkan pada generasi muda untuk menjunjung tinggi perbedaan. Perbedaan adalah sumber kekuatan untuk melawan beragam bentuk penjajahan dan musuh bangsa, baik musuh internal maupun eksternal. Dengan perbedaan suku, budaya, adat dan kebiasaan menjadikan beragamnya sudut pandang anak bangsa untuk melawan propaganda musuh yang dijalankan melalui media sosial. Salah satu cara praktis yang bisa dilakukan adalah menganalisa berbagai berita di media sosial dari sudut pandang yang berbeda dengan meningkatkan literasi digital. Literasi digital berarti menggunakan media sosial secara bertanggung jawab dan tidak mudah terpengaruh dan menyebarkan berita bohong atau hoax. [9] Manusia yang berakal sehat pasti tidak menyetujui sebuah kebohongan. Apalagi kebohongan yang sengaja diciptakan, diproduksi dan disebarkan untuk kepentingan kelompok tertentu. Pencipta hoax di media sosial memiliki beberapa tujuan dalam menjalankan aksinya, diantara tujuan-tujuan itu adalah:
  1. Menciptakan rasa takut, perselisihan dan instabilitas di tengah masyarakat. [10]
  2. Mengunggulkan kelompok, ormas atau golongan tertentu demi memperoleh pengakuan/eksistensi.
  3. Memperoleh dana atau uang untuk menjalankan agenda-agenda politik tertentu. [11]
  4. Menyesatkan pemahaman masyarakat dengan menghancurkan nama baik individu atau golongan tertentu [12]

Bila setiap WNI mengenal ciri dan karakter berita hoax ini maka masyarakat Indonesia bisa lebih cerdas dan mampu menyaring informasi sebelum mensharingnya. Selanjutnya, keutuhan hidup berbangsa dan bernegara tetap terjaga. Hal ini sesuai dengan tujuan dan makna kalimat kedua sumpah pemuda “Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia”.

3. Menggunakan Bahasa Indonesia sesuai Kepribadian Luhur bangsa Indonesia.

Bahasa pada dasarnya merupakan simbol jati diri penuturnya, begitu pula halnya dengan bahasa Indonesia juga merupakan simbol jati diri bangsa13. Oleh karena itu, bahasa Indonesia harus senantiasa kita jaga, kita lestarikan, dan secara terus-menerus harus kita bina dan kita kembangkan agar tetap dapat memenuhi fungsinya sebagai sarana komunikasi modern yang mampu membedakan bangsa kita dari bangsa-bangsa lain di dunia. Lebih-lebih dalam era global seperti sekarang ini, jati diri suatu bangsa menjadi suatu hal yang amat penting untuk dipertahankan agar bangsa kita tetap dapat menunjukkan keberadaannya di antara bangsa lain di dunia. Dalam konteks media sosial, bahasa memegang peranan sentral dalam proses komunikasi dan interaksi. Beberapa tips praktis penggunaan bahasa Indonesia dalam menangkal pengaruh negatif media sosial adalah:

  1. Gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai aturan berbahasa.
  2. Menggunakan bahasa Indonesia dengan santun serta sesuai dengan kepribadian dan jati diri bangsa.
  3. Menggunakan akal sehat ketika membuat, mengolah dan menyaring informasi yang didapatkan dari sumber yang otentik.
  4. Menghindarkan diri dari penggunaan umpatan, hinaan, kosa kata negatif yang ditujukan untuk kelompok, individu atau organisasi tertentu.

Inilah hakikat praktis kalimat ketiga dalam sumpah pemuda “Kami Putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia” di era bermedia sosial. Dengan memahami seluruh hakikat sumpah pemuda diatas, niscaya bangsa Indonesia pasti mencapai kemerdekaan dalam bermedia sosial sekaligus merawat persatuan dan kesatuan. Jayalah NKRI!

Catatan Kaki:

1. https://kbbi.web.id/jajah diakses 17 Oktober 2018

2. https://www.academia.edu/7007278/Globalisasi_ekonomi_Kapitalisme_Global, diakses 19 Oktober 2018

3. http://aceh.tribunnews.com/2018/03/28/mewaspadai-penjajahan-baru-media, diakses 19 OKtober 2018

 4. https://geotimes.co.id/opini/media-sosial-dan-ancaman-kebhinnekaan-kita/ , diakses 17 Oktober 2018

5. Ibid

6. https://tekno.kompas.com/read/2018/02/22/16453177/berapa-jumlah-pengguna-internet-indonesia, diakses 18 Oktober 2018

7. https://www.merdeka.com/peristiwa/panglima-tni-ingatkan-penjajahan-gaya-baru-gunakan-media-sosial.html, daikses 12 Oktober 2018

8. https://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia#Bahasa, diakses 18 Oktober 2018

9. https://indeks.kompas.com/tag/literasi-digital, diakses 19 Oktober 2018

10. http://www.tribunnews.com/tag/berita-bohong?url=nasional/2018/10/15/berita-bohong-dapat-ganggu- stabilitas-nasional, diakses 19 Oktober 2018

11. http://www.tribunnews.com/nasional/2017/01/21/tujuan-penyebaran-berita-hoax-adalah-politis, diakses 19 Oktober 2018

12. http://www.tribunnews.com/nasional/2018/02/21/polisi-ungkap-sepak-terjang-2-kelompok-penyebar-berita- bohong-yang-kerap-menyesatkan-masyarakat, Diakses 19 Oktober 2018

13. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/bahasa-sebagai-jati-diri-bangsa-0, diakses 19 oktober 2018

Moh. Zaki Amami

[Kadep. SDM dan Kelembagaan IPI Iran 2018-2019]

Mengenal Identitas Kita Lewat Sumpah Pemuda

Mengenal Identitas Kita Lewat Sumpah Pemuda

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Republik Islam Iran mengadakan acara diskusi sederhana bersama seluruh mahasiswa Indonesia di kota Mashhad, Iran dengan tema “Mengenal Identitas Kita Lewat Sumpah Pemuda”.

Diskusi ini diselenggarakan oleh Departemen Kajian Strategis dan Intelektual IPI di Mashhad, Kamis sore, 11 Oktober 2018 pukul 15:00 waktu setempat.
Saat ini ada sekitar 20 mahasiswa Indonesia yang belajar di kota Mashhad. Mereka menuntut ilmu di 2 kampus ternama di Iran yaitu Almustofa University dan Ferdowsi University of Mashhad.

Setelah dibuka dengan doa bersama, Hafiz Hasibuan, mahasiswa S2 Al-Mustofa University pertama menyampaikan bahwa ada 4 tahap dalam perjuangan kebangsaan yaitu berdirinya Budi Utomo, Sumpah Pemuda, Kemerdekaan, dan Mengisi Kemerdekaan. Sumpah Pemuda adalah salah satu dari perjuangan penting bangsa Indonesia. Ada 3 poin penting yang disampaikan pada kongres itu seperti pentingnya persatuan, pendidikan kebangsaan, dan gerakan PANDU. Ikrar ini bisa menyatukan seluruh pemuda-pemudi yang awalnya bukan satu bangsa, daerah, dan agama yang dimana pada saat itu dari Sabang sampai Marauke kita sedang dijajah oleh Belanda.

Lalu dilanjutkan dengan pertanyaan terbuka oleh Hafiz, Pada tahun 1945 kita merdeka, lalu apakah kita masih butuh dengan Ikrar Sumpah Pemuda ini? Bukankah tujuan sudah didapat yaitu kemerdekaan?

Ghiffari, salah satu mahasiswa Ferdowsi University menanggapi. Pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam perjuangan bangsa Indonesia. Pada tahun 1928, pemuda-pemudi saat itu membuat kongres sumpah pemuda. Lalu pada tahun 1945, pemuda juga yang berperan banyak berperan aktif dalam kemerdekaan Indonesia. Dan contoh terakhir pada tahun 1998, pemuda juga yang menjadi penggerak elemen masyarakat untuk mengganti Rezim Orba menjadi Reformasi. Jadi, semua tergantung tujuannya masing-masing.

Zhafran, sebagai penanggap kedua, meramaikan diskusi dengan berpendapat bahwa Ikrar Sumpah Pemuda itu adalah sebuah spirit untuk kita. Ikrar yang diucapkan pemuda-pemudi pada saat itu bagai lintas ruang dan waktu. Spirit artinya ada dalam diri kita masing-masing, yang dimana spirit itu harus selalu kita punya walaupun tinggal di luar negri.

Menurut Hafiz, yang penting untuk kita fahami sebagai anak bangsa adalah para pemuda yang berkumpul pada saat itu sudah diperbolehkan berorganisasi seperti Budi utomo yang orientasinya adalah untuk sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Sebelum Budi Utomo, sudah ada organisasi-organisai sebelumnya seperti Serikat Dagang Indonesia, lalu yang bersifat keagamaan seperti Muhammadiyah dan NU. Jadi pada zaman itu sudah diperbolehkan organisasi-organisasi yang tidak bersifat politik.

Pada zaman sebelum itu, Nusantara awalnya sudah memiliki kekuatan besar sebelum dimasuki oleh Belanda, Seperti kerajaan Majapahit dan Sriwijaya yang dimana kekuatan itu mampu untuk mengkondisikan Nusantara. Alasan kenapa 2 kerajaan ini memiliki kekuatan yang besar pada saat itu adalah karena mereka memanfaatkan kekuatan laut. Dibuatnya kapal-kapal yang kuat untuk bisa menguasai Nusantara.

Satu kisah lagi yang perlu difahami, lanjutnya, Alqur’an juga bercerita tentang berjuang untuk bangsa dalam kasus Nabi Musa A.S. Setelah menjatuhkan fir’aun pada zaman itu, Nabi Musa A.S sudah berhasil membebaskan bangsanya dari raja yang dzalim. Tapi apa yang dilakukan setelah itu? Nabi Musa A.S tidak kembali ke Mesir akan tetapi melanjutkan perjuangannya ke Palestina untuk menyelamatkan manusia disana dari raja yang dzalim.

Oleh karena itu, untuk memulai perjuangan langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenal identitas kita. Lalu kita harus bisa keluar dari kotak daerah dan mulai untuk membuat yang lebih besar lagi yaitu Bangsa Indonesia.

Diakhir pemaparannya, Hafiz mengatakan, substansi Sumpah Pemuda pada hari ini adalah kita pemuda Indonesia harusnya sudah mampu untuk mewacanakan ide-ide baru yang sesuai dengan nilai-nilai Sumpah Pemuda. Semisalnya di zaman sekarang ini, kita bukan hanya mengikrarkan sumpah kebangsaan akan tetapi Sumpah Kemanusiaan yang sifatnya universal. Bukan hanya masyarakat Indonesia saja akan tetapi juga dari bangsa-bangsa lain untuk menjadi satu bangsa yang bisa kita sebut Bangsa Kemanusiaan. (ZF)

Syafaatun Almirzanah: Mistisime Matrix Dialog Antar Agama!!!

Syafaatun Almirzanah: Mistisime Matrix Dialog Antar Agama!!!

Prof, Dr. Syafaatun Almirzanah dosen UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta dan UGM dalam sebuah diskusi memaparkan beberapa poin penting peran mistisisme dalam membangun dialog antar agama. Dikatakanya, pluralisme agama adalah sebuah fakta, oleh karena itu penting mencari matrix baru hubungan antar agama. Matrix itu bisa di temukan dalam tradisi mistisime.

Dalam pemaparanya berjudul When Mystic Master Meet; toward a New Matrix for Critian-Muslim Dialogue” yang dikutip dari bukunya menjelaskan lebih lanjut. “Buku ini berisi studi tentang peran dan pengalaman mistik yang dapat dimainkan dalam dialog Kristen-Muslim sebagai bagian dari dialog antaragama secara umum. Fokus buku ini pada karya dua master mistik hebat abad pertengahan, seorang Muslim dan Kristen. Guru Sufi al-Syaikh al-akbar atau “Guru Terbesar” —Muhyi al-Din Ibnu al-‘Arabi dan ahli teologi mistik, filosofis besar Jerman Meister Eckhart.

Buku ini mengidentifikasi tema-tema utama masing-masing ajaran yang memiliki implikasi signifikan untuk menangani isu-isu keragaman agama dan dialog antaragama. Mengapa dialog lintas agama?, Mirzah bertanya pada peserta diskusi. Kemajemukan adalah fakta dunia kontemporer kita, baik dalam skala global dan seringkali pada tingkat masyarakat tertentu. “Agama banyak dan beragam dan mereka mencerminkan hasrat baik pria dan wanita sepanjang masa berhubungan dengan Yang Mutlak.” (Paus Yohanes Paulus II dalam Asisi, 27 Oktober 1986)

Mengutip Friedrich Max Mullerm, Mirzanah mengatakan “Dia yang tahu satu agama tidak tahu apa-apa.” Dalam konteks pluralitas sosial yang semakin hari semakin religius, kata-kata ini menunjukkan tidak hanya kegagalan untuk melibatkan pluralisme, juga tindakan selfmarginalization dalam konteks sosial kita sendiri. Tanpa pemahaman tentang iman tetangga kita, orang beragama (atau komunitas) yang hidup dalam masyarakat majemuk yang religius bahkan tidak dapat memahami dirinya sendiri.

Kenapa mistisisme menjadi penting, menurut Mirzanah, seseorang akan memiliki peluang atau akses untuk mengunduh lebih banyak makna. Menggunakan interpretasi dari tradisi mistik, tidak berarti ia mengingkari pentingnya genre tafsir lain-linguistik, legal, filosofis atau teologis; masing-masing memiliki tempatnya dalam matriks interpretasi dan aplikasi secara keseluruhan.

Tetapi kita sekarang lebih membutuhkan kembali ke sumber spiritual agama daripada sebelumnya; dengan demikian, perhatian khusus harus diberikan kepada dimensi mistis, spiritual dan metafisika dari wahyu, dan kepada pihak yang memiliki otoritas menafsirkan kedalaman makna dalam Kitab Suci. Warisan makna tidak akan pernah habis. Sebuah tek, termasuk teks agama, bukanlah komunikasi tunggal yang diulang tanpa henti, melainkan sebagai kendaraan yang secara terus-menerus memberikan arti baru berdasarkan situasi dan momen pembaca. “Hal-hal yang diketahui ada pada “known” sesuai dengan mode knower” . “Warna air tergantung wadahnya”

Mengutip Fishbane, Mirzanah menegaskan bahwa, salah satu fungsi utama dari penafsir mistis – seperti Ibnu al-‘Arabi dan Eckhart – adalah “untuk melanjutkan misi kenabian, yakni menghancurkan berhala, melampaui pemujaan bahasa ”dan mengutuk“ arogansi hermeneutik dalam segala bentuknya. Keduanya percaya dengan tegas pada teks literal sekaligus memperjuangkan pembacaan kedalaman makna tak terbatas diluar makna literal.

Ibnu al-‘Arabi dan Eckhart cenderung menafsirkan teks suci dengan cara yang lebih alegoris dan mistis, bukan untuk menggantikan interpretasi yang lebih langsung, melainkan untuk melengkapi interpretasi konvensional dengan menggali makna teks yang paling dalam dan dengan bantuan metode filosofis. Eckhart tidak pernah menolak signifikan interpretasi literal langsung dari tek suci. Sebaliknya apa yang dia lakukan adalah mencari arti yang lebih dalam.

Mirzanah menutup pemaparanya, jika dialog agama itu otentik dan membawa transformasi otentik, maka perjumpaan dengan orang lain yang religius seharusnya memiliki efek terhadap pemahaman tentang keagamaan kita, dan oleh karena itu pada pembacaan kita sendiri atas teks kita sendiri.

Ibnu al-‘Arabi menyinggung dua dimensi berbeda dari pengalaman manusia tentang Tuhan. Yang pertama adalah “Tuhan yang diciptakan oleh manusia,” atau seperti “Dewa Keyakinan,” yang berubah sesuai dengan kecenderungan manusia. Yang kedua adalah Ketuhanan, Dzat yang tidak bisa diketahui. Menurut ajaran Ibn al-‘Arabi, tidak ada yang salah dengan “God of Belief,” asalkan selalu sadar akan sejauh mana pengalaman Tuhan ini terkondisi secara signifikan oleh keterbatasan mereka sendiri.

Seperti Arabi, Eckhart membedakan antara Tuhan sebagaimana dipahami oleh orang (Tuhan yang kita sembah), di satu sisi, dan Tuhan sebagai di luar bayangan dan konsep (Godhead). Juga Seperti Arabi, dan Eckhart, Tuhan yang merupakan objek ibadah dan penyembahan Kristen berbeda dari Ketuhanan yang tak terlukiskan. “Tuhan dan Tuhan Yang tak terlukiskan,” Eckhart berpendapat, berbeda satu sama lain sebagai surga dan bumi.

Baik Ibnu al-‘Arabi dan Eckhart percaya, Tuhan yang disembah adalah “konstruksi sebagian manusia, dia ada hanya dalam hubunganya dengan komunitas pemujaan.” “” Ketika aku berdiri pada tujuan pertama saya, maka saya tidak punya Tuhan,. . . tetapi ketika saya keluar dari rumah sendiri dan menerima sebagai makhluk ciptaan, maka saya memiliki Tuhan, karena sebelumnya ada makhluk lain, Tuhan bukan Tuhan, tetapi dia memang seperti itu. Tetapi ketika makhluk menjadi dan menerima status makhluk ciptaan, maka Tuhan bukanlah Tuhan dalam dirinya sendiri, tetapi dia adalah Tuhan di dalam makhluk. ”

Pembicara kedua, Dr. Seyyed Mirri (Mustofa International University) memberi respon. Dalam tradisi Filsafat Islam, terdapat dua subjek yang selalu dibahas beriringan, wujud qua wujud dan mahiyah. Wujud am (wujud sebagaimana wujud) dan wujud khos (Ketuhanan). Wujud yang tak tersentuh oleh konsep (wujud murni), wujud yang bercampur denga mahiyah (dengan konsep). Akan tetapi karakter wujud bergradasi, dan kesanggupan manusia dalam mentransendensikan wujud sesuai dengan kondisi gerak jiwanya. Proses memahami Tuhan simultan dengan perjalanan spiritualnya bertiingkat-tingkat sesuai dengan layer kedalaman makna baik tersirat dan tersurat.

Diksusi ini mengambil tema “Mysticism in Islam and West”, diselenggarakan oleh panitia gabungan Indonesia Discussion Forum, KBRI Tehran, IPI, HPI, Gusdurian Tehran, 3/10 2018, bertempat di Mustofa International University, Tehran.

IPI Iran Kunjungi Pameran Nano

IPI Iran Kunjungi Pameran Nano

Beberapa mahasiswa/wi yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran mengadakan kunjungan pameran Nano Teknologi, “The 11th, International Nanotechnology Exhibition, 2018”. Pameran berlangsung 13-16 oktober 2018 di Tehran International Exhibition Center. Beberapa produk Nano Tek, dipamerkan diantaranya baju, sepatu, ban mobil, keramik, bangunan, pralon, robot, obat dll.

Kunjungan ini dimaksudkan sebagai ajang update teknologi Nano, juga untuk menumbuhkan kecintaan terhadap teknologi. Karena sifat interdisiplinernya; Fisika, Kimia, Biologi, Kedokteran dan Teknik maka sains dan teknologi Nano menarik minat mahasiswa dari beragam jurusan dan pelaku pasar. Tidak menutup kemungkinan setelah lulus mahasiswa/wi anggota IPI yang mengambil jurusan sains dapat mengembangkan kerjasama Iran-Indonesia di bidang sains Nano.

Pecinta Nano akan mendapatkan manfaat beragam, selain aspek Nano Sains, perkembangan riset sebagai ilmu yang menuntut materi baru, juga Nano teknologi, aplikasi lebih lanjut dari penemuan tersebut yang dapat diaplikasikan dalam beragam media. Selain itu semakin banyak perusahaan menggunakan hak paten Nano akan memicu pertumbuhan teknologi ini.

Nano teknologi adalah proses merekayasa material dari produk yang tidak bernilai sehigga menjadi produk bernilai tinggi, harganya jadi mahal.

Ilmu ini mempelajari fenomena benda-benda yang berukuran di bawah 100 nano meter. Nano singkatan dari nanometer, ukuranya 1/1 miliar. Seperti 1 rambut dibelah 50 ribu kali, baru kita mendapatkan 1 nanometer. Jadi dengan mengecilkan ukuran sebuah benda, kita bisa menemukan sifat-sifat lain dari sebuah material, dan kita bisa menciptakan material baru.

Penguasaan Nano Teknologi sangat penting karena akan memberikan sebuah revolusi dan elemen masa depan sebuah bangsa. Iran dan Indonesia mempunyai pasar yang sangat kuat dari sisi populasi. Indonesia terbanyak ketiga di Asia dan keempat di dunia. Jumlah pendiduduknya sampai 250 juta jiwa lebih. Sementara Iran 70 juta lebih. Indonesia memiliki kekayaan bahan baku nano teknologi, energi, sumber daya alam, flora dan fauna.

Menurut catatan Masyarakat Nano Indonesia, terdapat 300 ilmuan Nano Indonesia. Terdiri dari 156 Nano Material, 43 Nano Kimia, 42 Nanom Biologi, 47 Nano Elektronik & Divais, 12 Isu Strategis Nano.

Manurut data The Institute for Scientific Information (ISI), tahun 2018 Iran menempati ranking satu dari 57 negara dunia Islam, rangking 15 dunia dalam hal capaian akumulasi seluruh produksi sains. Oleh karena itu perlu peningkatan kerjasama Indonesia-Iran terutama di bidang Sains Nano, baik aspek sains dan pasar. Disamping itu kedua negera memiliki basis masyarakat muslim yang sangat besar akan membantu mempererat kerjasama, demikian dikatakan Husain, salah satu peserta dan ketua panitia rombongan IPI.

Semarakkan Peringatan Sumpah Pemuda, IPI Iran Gelar Lomba Penulisan Artikel

Semarakkan Peringatan Sumpah Pemuda, IPI Iran Gelar Lomba Penulisan Artikel

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-90, Departeman Kajian Strategis dan Intelektual Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran menyelenggarakan kegiatan lomba menulis artikel dengan tema:

“Meneguhkan Komitmen Kebangsaan Pemuda dalam Mengawal dan Menjaga Keutuhan NKRI”

Untuk itu di harapkan kepada seluruh pelajar/mahasiswa Indonesia yang menuntut studi di Republik Islam Iran dapat berpartisipasi dalam kegiatan lomba menulis artikel tersebut.

Syarat dan ketentuan lomba:

1. Artikel diketik pada kertas ukuran A4, spasi 2, panjang artikel maksimum 8 halaman dan sekurang-kurangnya 4 halaman, menggunakan font Times New Roman ukuran font 12.

2. Artikel adalah hasil karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya di media manapun.

3. Artikel yang dikirim akan sepenuhnya menjadi milik penyelenggara dan akan diposting di site resmi IPI Iran.

3. Soft copy artikel dikirim ke alamat email: ipiiran.org@gmail.com paling lambat 20 Oktober 2018.

Bagi Juara I, II dan III akan mendapat piagam dan hadiah berupa uang dengan nominal:

Juara I : 2.000.000 IRR

Juara II : 1.500.000 IRR

Juara III : 1.000.000 IRR

Pemenang akan diumumkan pada 28 Oktober 2018 melalui site: http://www.ipiiran.org/

Informasi lebih lanjut bisa menghubungi:
> Muhammad Zhafran: +98 903 582 1321
> Ulfia Ahmadi: +98 901 605 6797