Abdul Latif, MA: Tugas Terbesar Santri, Menjamin Nilai-Nilai Keislaman Dirasakan Masyarakat

Abdul Latif, MA: Tugas Terbesar Santri, Menjamin Nilai-Nilai Keislaman Dirasakan Masyarakat

Bekerjasama dengan Gusdurian Tehran, IPI Iran sukses menggelar acara diskusi dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. Bertempat di ruang seminar Al-Hikmah Institute Universitas Internasional Al-Mustafa Qom Iran, diskusi Hari Santri Nasional IPI Iran menghadirkan Wakil Rais PW Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA dan Mahasiswa kandidat Doktor Filsafat Islam Universitas Internasional Al-Mustafa, Abdul Latif, MA sebagai pembicara, Selasa (22/10)

Abdul Latif, MA sebagai pembicara pertama, dalam paparan materinya mengutarakan sebelum mengetahui tugas dan tanggungjawab santri, perlu diketahui dulu siapa yang dimaksud santri. 

“Ada kesesuaian antara sebab dan akibat. Sebelum mempelajari sebab kita akan buta pada akibat. Santri dan perdamaian adalah hubungan dan sebab. Jadi yang pertama kita lakukan adalah mengetahui santri itu, tugas dan tanggungjawabnya apa.” Ungkapnya. 

“Santri adalah sosok yang ingin mendalami dan mengkaji ilmu-ilmu suci yang tertera dalam Alquran dan Assunnah, yang karena benar-benar ingin fokus mendalaminya santri belajar pada pondok pesantren dengan bimbingan kyai atau ulama.” tambah alumnus Pondok Pesantren Al-Hadi Pekalongan tersebut. 

Lebih lanjut Abdul Latif menguraikan setidaknya 6 kewajiban santri yang dikutipnya dari pernyataan Ayatullah Sayid Ali Khamanei pada pidato sambutan masuknya tahun ajaran baru di hadapan ribuan santri Hauzah Ilmiah Iran. “Ada 12 pesan dari Ayatullah Sayid Ali Khamanei kepada para santri namun pada kesempatan ini, saya hanya akan menyampaikan 6 pesan saja yang menguraikan tugas terpenting seorang santri karena keterbatasan waktu yang ada

Pertama, memberi pencerahan dan arahan pemikiran agama. Yaitu seorang santri dengan ilmu-ilmu agama yang dipelajarinya secara mendalam, ia harus mampu meluruskan pemikiran ajaran yang salah dan menyimpang dari agama. 

Kedua, santri tidak boleh hanya aktif dalam bidang agama saja, bukan ceramah saja di mimbar-mimbar, namun santri juga harus punya andil untuk bisa menciptakan suasana politik yang adem. Santri berkewajiban mengenalkan pada masyarakat, mana kawan mana lawan. Bukan hanya hafal Alfiah saja, hanya sharaf saja, tapi mampu memberi pencerahan dalam semua dimensi kehidupan.

Ketiga, santri harus hadir di tengah-tengah masyarakat, harus peka kepada sosial, harus mampu melihat apa yang sedang dihadapi masyarakat. Tidak hanya menghafal Alquran dan Hadis saja, melainkan bagaimana ia dengan ilmu yang dimiliki mampu mengetahui mana yang dibutuhkan masyarakat.

Keempat, membangun masyarakat yang islami. Tugas terbesar santri adalah menjamin nilai-nilai keislaman harus dirasakan masyarakat. 

Kelima, santri harus mengikuti perkembangan zaman dan harus mampu membaca pemikiran-pemikiran yang berkembang saat ini. Setiap isu miring yang melenceng dan menyimpang dari Islam, santri harus sigap memberikan bantahan. Karenanya santri harus bisa turut aktif di media sosial. Sebab di dunia maya saat ini, penyesatan, penyelewengan terhadap aqidah dan ajaran-ajaran islam yang murni sangat massif dilakukan, dalam hal ini santri harus membenahi. 

Keenam, santri bertugas untuk menjaga aqidah masyarakat dengan cara yang terbaik. Ketika ingin membenahi aqidah masyarakat, harus memahami terlebih dahulu budaya dalam masyarakat, secara garis besarnya perlu mengetahui medan. Metode yang kerapkali diajarkan belum tentu dapat diterapkan. Karenanya, bagaimana kita menggunakan budaya lokal, untuk mentransfer yang kita ilmui. Bagaimana menjelaskan materi yang rumit dengan contoh yang gamblang sehingga mudah dipahami dan diterapkan masyarakat.”

Seusai mahasiswa Filsafat Islam Universitas Internasional Al-Mustafa Iran tersebut menguraikan materinya, Guru Besar UIN Alauddin Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA menyampaikan materinya. Hadir sejumlah mahasiswa Indonesia dalam diskusi yang berlangsung kurang lebih 2,5 jam tersebut. 

Presiden IPI Iran: Santri Dituntut Menyampaikan Pesan Perdamaian Islam

Presiden IPI Iran: Santri Dituntut Menyampaikan Pesan Perdamaian Islam

Hari Santri Nasional 2019 turut diperingati mahasiswa Indonesia di Iran yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran. Bertempat di ruang seminar Al-Hikmah Institute Universitas Internasional Al-Mustafa Qom Iran, bekerjasama dengan Gusdurian Tehran, IPI Iran menggelar diskusi dan silaturahmi bersama yang menghadirkan Wakil Rais PW Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA dan Mahasiswa kandidait Doktor Filsafat Islam Universitas Internasional Al-Mustafa, Abdul Latif, MA sebagai pembicara, Selasa (22/10) . 

Acara dimulai dengan ucapan basmalah oleh Sultan Nur sebagai moderator yang dilanjutkan dengan bacaan ayat suci Alquran oleh Kamaruddin Dg. Pati. Presiden IPI Iran 2019-2021 Ismail Amin  dalam sambutannya menyebutkan penetapan Hari Santri Nasional menunjukkan penghargaan  pemerintah atas jasa yang ditorehkan kaum santri baik dalam berdirinya republik maupun dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. 

“22 Oktober yang ditetapkan Presiden Jokowi sebagai Hari Santri Nasional berlatar belakang keluarnya fatwa dan resolusi jihad yang dikeluarkan oleh Hadratus Syaikh KH. Muh. Hasyim Asy’ari yang kemudian disambut kaum santri dengan menggelorakan semangat perjuangan melawan pasukan sekutu yang hendak kembali menjajah Indonesia.” 

“Tema santri tahun ini melanjutkan tema santri tahun sebelumnya, yaitu berkaitan dengan peran santri Indonesia dalam menciptakan perdamaian, baik skala nasional maupun sampai tingkat dunia. Santri yang setiap harinya bergelut dengan literatur keislaman memang sudah semestinya tampil menjalankan perannya sebagai juru damai sebagaimana pesan dan tuntutan Islam.” Tambah mahasiswa jurusan Tafsir Universitas Internasional Al-Mustafa Iran tersebut.

Presiden IPI Iran lebih lanjut mengatakan, “Sebelumnya di masa ORBA, peran santri dan ulama dalam upaya mencapai kemerdekaan dan perjuangan mempertahankannya tidak banyak dibicarakan, bahkan terkesan tidak ada dengan literatur sejarah perjuangan bangsa didominasi oleh peran dan kisah perlawanan dari kelompok militer. Dengan ditetapkannya Hari Santri sebagai hari nasional oleh Presiden Jokowi, kita jadi tahu, perjuangan heroik bangsa Indonesia pada 10 November 1945 didahului oleh resolusi jihad ulama yang disambut meluas oleh kaum santri.”

“Jadi kemerdekaan Indonesia tercapai dan dipertahankan oleh perjuangan bersama semua lapisan masyarakat. Kelompok nasionalis, agamis, militer dan rakyat jelata bersatu padu mempertahankan kemerdekaan, karenanya tidak ada satu kelompok yang berhak mengklaim negara adalah milik kelompok tertentu yang melahirkan dominasi terhadap kelompok minoritas. Santri sebagai bagian dari kaum agamawan harus berada di garda terdepan untuk menjamin terwujudnya kehidupan yang rukun di negeri ini, sehingga dengan sendirinya menular dan memberi efek yang lebih luas dengan terciptanya perdamaian dunia.” Tambahnya. 

Usai memberikan sambutan, kedua pembicara menyampaikan materinya yang dilanjutkan dengan sesi dialog dan tanya jawab. Hadir sejumlah mahasiswa Indonesia dalam dialog dalam rangka memperingati hari santri tersebut. Aktivis Gusdurian Tehran, Purkon Hidayat turut menyampaikan tanggapan dalam sesi tanya jawab. 

Beragam Lomba dan Doa Bersama Warnai Peringatan HUT TNI di Iran

Beragam Lomba dan Doa Bersama Warnai Peringatan HUT TNI di Iran

Dalam rangka memperingati HUT TNI yang ke-74, selain upacara resmi, pihak Atase Pertahanan RI mengadakan beragam kegiatan, diantaranya menggelar acara lomba dan doa bersama. Rangkaian kegiatan dibuka pada Rabu (2/10) di gedung KBRI Tehran, pukul 15.30 waktu setempat. Dalam acara pembukaan, Atase Pertahanan (Athan) Republik Indonesia (RI) Kolonel Marinir Harwin Dicky Wijanarko, SE memberikan sambutannya disusul sambutan oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Iran merangkap Turkmenistan Octavino Alimudin sekaligus membuka acara secara resmi. 

Di antara perlombaan dan pertandingan yang digelar untuk menyambut HUT TNI bertema “TNI Profesional Kebanggaan Rakyat” ini adalah lomba Dart, pertandingan catur, lomba mewarnai dan Fun Bike. Beragam lomba dan pertandingan menarik tersebut diikuti oleh Warga Negara Indonesia yang berada di Republik Islam Iran, baik dari kalangan diplomat, staf KBRI, mahasiswa, maupun diaspora. 

Sementara doa bersama digelar Atase Pertahanan RI dengan mahasiswa Indonesia di kota Qom Malam Jumat (3/10) pukul 19.00 waktu setempat. Bertempat di Sekretariat HPI Iran, acara doa bersama seusai salat Isya berjamaah  yang dimoderatori oleh Sayid Mahdi Alatas diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars TNI disusul dengan membaca surah Yasin dan doa bersama untuk keselamatan negeri yang dipimpin oleh Muhammad Haidir. 

Seusai doa dan dzikir bersama, Atase Pertahanan RI untuk Iran Kolonel Marinir Harwin Dicky Wijanarko, SE menyampaikan sejumlah pesan dalam pengantarnya untuk mengawali dialog dan diskusi yang dipandu oleh Yopi Dani Saputra. Kolonel Harwin dalam pengantarnya mengatakan upaya TNI sejak awal berdirinya sampai saat ini adalah menjaga kedekatan dengan rakyat. “Alhamdulillah sampai saat ini TNI masih tetap menjaga netralitas dan tidak memiliki kepentingan politik. Dengan netralitas tersebut, TNI tetap memberikan pengabdiannya pada rakyat. Sebab TNI aslinya berasal dari rakyat dan sebisa mungkin memberikan yang terbaik untuk rakyat.”

“Profesional TNI menurut kami baru bisa terbangun dengan menjalin kedekatan yang sangat intens dengan rakyat. Karena itu Panglima TNI mengintruksikan agar dalam peringatan HUT TNI tahun ini harus sebanyak mungkin melibatkan rakyat khususnya rekan-rekan mahasiswa bahkan Pramuka sebagai komponen cadangan. Jadi bersatu dengan rakyat, berdoa bersama, kita silaturahim, adalah bagian dari kegiatan upacara memperingati HUT TNI.”

Ia juga menyebutkan, menjadi kebahagiaan setelah kurang lebih 10 bulan bertugas di Iran bisa bersilaturahmi dengan warga negara Indonesia dalam jumlah yang lumayan banyak, sebab sebelumnya saat bertugas di Liberia dan Nigeria, kolonel Harwin menyebut sangat minim bisa melakukan banyak interaksi dengan WNI karena jumlah WNI di kedua negara tersebut memang terhitung sangat sedikit. “Yang sangat membahagiakan juga, dengan keberadaan kami di Iran, ternyata banyak hal yang bisa kami pelajari. Dalam bidang militer setidaknya kami berupaya melakukan tiga bentuk kerjasama soft power militer dengan Iran yaitu, yang pertama dalam bentuk saling mengunjungi antara pejabat-pejabat militer. Yang kedua, kerjasama pendidikan. Dan yang ketiga, transfer of technology tentang industri pertahanan kita. Semoga dalam waktu dekat kita bisa banyak menimba ilmu dari Iran terutama dari sisi tekhnologinya yang mengalami kemajuan pesat.”

“Yang memudahkan kita bekerjasama dengan negara lain karena tidak pernah punya masalah dengan negara manapun. Alhamdulillah dengan Amerika Serikat, ayo. Sama Iran, ayo. Sama Korea Utara, ayo. Sama Korea Selatan, ayo. Karena negara kita negara nonblok. Dan ini adalah salah satu kekuatan bagi negara kita. Jadi dengan keberadaan kami di Iran, semoga kerjasama militer dengan Iran bisa jadi lebih intens dan memberi manfaat bagi negara khususnya bagi TNI.” Tambahnya perwira dari Angkatan Laut tersebut. 

Pada sesi dialog dan tanya jawab, Kolonel Marinir Harwin memberikan jawaban dari berbagai pertanyaan yang diajukan beberapa mahasiswa. Diantaranya memberi penjelasan mengenai mungkin tidaknya terjadinya perang Amerika Serikat dan Iran dari sudut pandang militer, menyebut berbagai kemajuan yang berhasil dicapai TNI termasuk mampu memproduksi sendiri berbagai jenis alutsista di tengah keterbatasan anggaran pertahanan Indonesia serta menjawab pertanyaan mengenai bagaimana kemampuan kekuatan militer Indonesia dalam menjaga keamanan dan keutuhan NKRI dari ancaman musuh baik dari dalam maupun dari luar. 

Pada bagian penutup, Atase Pertahanan RI memberikan pesan dan nasehat kepada semua mahasiswa yang hadir untuk memanfaatkan waktu di Iran untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. “Saudara-saudara sekalian, belajarlah sebaik-baiknya, karena menuntut ilmu adalah juga bagian dari upaya memperjuangkan tanah air.” Pesannya. 

Acara doa bersama yang dihadiri lebih dari seratus WNI di Qom tersebut ditutup dengan membaca Doa Wahdat sambil bergandengan satu sama lain membentuk lingkaran, sebagai simbol persatuan dan kesatuan. Acara kemudian dilanjutkan dengan makan malam bersama. Pada saat yang sama, di kota Esfahan, juga diadakan doa bersama dalam rangka memperingati HUT TNI oleh 10 mahasiswa Indonesia di kota tersebut. 

Sementara upacara resmi memperingati HUT TNI ke74, berlangsung di gedung KBRI Tehran pada Jumat (4/10) pukul 15.00 waktu setempat. Upacara HUT TNI tersebut dihadiri oleh diplomat, staf KBRI, mahasiswa, maupun diaspora di Iran.

Menjaga Silaturahim, Atase Pertahanan RI Kunjungi WNI di Esfahan

Menjaga Silaturahim, Atase Pertahanan RI Kunjungi WNI di Esfahan

Dalam rangka menguatkan hubungan silaturahim dan persaudaraan setanah air, Atase Pertahanan Republik Indonesia, Kol. Mar. Harwin Dicky Widjanarko melakukan kunjungan resmi ke kota Esfahan, Iran dengan bertemu diaspora Indonesia yang berada di kota tersebut, Jumat (20/9). Dengan menempuh jarak 448 km, berangkat dari Tehran, Atase Pertahanan RI beserta keluarga dan staff harus menghabiskan waktu kurang lebih empat jam di perjalanan untuk tiba di Esfahan. 

Di kota yang dikenal dengan julukan Nisf-e Jahan (separuh dunia), rombongan Atase Pertahanan RI disambut oleh 10 WNI yang kesemuanya adalah mahasiswa. Acara ramah tamah di gelar di Hotel Ali Qapu, tepat di jantung kota Esfahan. Dalam sambutannya,Harwin Dicky Widjanarko menyampaikan maksud kedatangannya yang disebutnya sebagai kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka mendukung keberhasilan tugas pokok perwakilan RI/KBRI di negara akreditasi Iran.  

Atase Pertahanan RI untuk Iran merangkap Azerbaijan, Turkmenistan, Uzbekistan, Irak, Kirgiztan, dan Qatar tersebut lebih lanjut menyebutkan tatap muka dan siltaruhami tersebut sangat penting dilaksanakan sebagai sarana komunikasi dan sharing informasi. “Secara spritual silaturahmi sebagaimana tuntunan agama dapat memanjangkan umur dan menjadi jalan dibukakan pintu rezeki oleh Allah swt.” Ungkapnya. 

Lebih lanjut pejabat militer yang pernah bertugas di Liberia tahun 2009 dan Sudan tahun 2013 tersebut menyebut pertemuan tatap muka secara langsung juga dapat menjadi wahana sharing, baik mengenai perkembangan terkini di tanah air, maupun perkembangan terbaru di luar negeri, terutama di Iran. 

Para mahasiswa Indonesia yang sedang studi di kota Esfahan tersebut menyambut hangat kedatangan Atase Pertahanan RI beserta keluarga dan rombongan. Dalam pertemuan yang diselingi makan malam bersama tersebut, satu demi satu mahasiswa berkesempatan untuk menjelaskan keadaan dan kondisi masing-masing. Para mahasiswa juga berterimakasih atas kedatangan dan perhatian Atase Pertahanan RI terhadap diaspora di Esfahan meskipun hanya berjumlah 10 orang.

Di penghujung pertemuan, Koloner Harwin memesankan, agar para mahasiswa menuntut ilmu sebaik-baiknya selama berada di Iran. “Keberhasilan ada di pundak kalian masing-masing, tetap semangat belajar untuk kejayaan tanah air tercinta.” Pesannya. 

Didampingi istri, Ny. Peltu TTU Osi Oktaviana, putri bungsunya Syakira Nabila, beserta kedua staff Syarif Hidayatullah dan Mulyani, Kolonel Harwin menyempatkan mengunjungi sejumlah destinasi wisata terkenal di Esfahan. Diantara yang dikunjungi selama seharian penuh adalah Naqshe Jahan, Se-o Se pol, Gereja Vank, Akuarium, dan Firetemple Zoroaster.

Menteri Kesehatan RI: Saya Kagum dengan Kemajuan Tekhnologi Iran

Menteri Kesehatan RI: Saya Kagum dengan Kemajuan Tekhnologi Iran

Bertempat di Wisma Indonesia di Tehran, Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. Nila Djuwita Moeloek dalam kunjungan resminya ke Iran menyempatkan untuk mengadakan pertemuan dan menyapa masyarakat dan diaspora Indonesia di Iran, Senin (16/9). Pada kesempatan tersebut, turut hadir Timnas Putra Bola Voli Indoor Indonesia yang sementara berlaga di ajang di ajang “The 20th Asian Senior Men’s Volleyball” di Tehran, 11-22 September 2019.

Acara ramah tamah diawali dengan sambutan Kepala Duta Besar RI untuk Iran merangkap Turkmenistan, Octavino Alimudin. Dalam sambutannya, Octavino memberikan informasi mengenai keberadaan WNI di Iran dan kebanyakan adalah pelajar dan mahasiswa yang tersebar disejumlah kota besar di Iran. Lebih lanjut ia menyambut baik kedatangan Menkes RI beserta rombongan dan berharap kerjasama bilateral Jakarta-Tehran terutama terkait kerjasama di bidang kesehatan bisa lebih meningkat.

Sementara, Menkes RI Prof. Dr. Nila Djuwita Moeloek dalam sambutannya menyampaikan kondisi kesehatan masyarakat Indonesia teraktual yakni terkait stunting. Ia menjelaskan, stunting merupakan kondisi dimana anak memiliki tinggi badan yang lebih rendah dari standar usianya, dan sangat disayangkan hal ini terjadi pada 4 dari 10 anak Indonesia. Hal ini diperburuk jika diikuti dengan perkembangan otak  anak yang ikut terhambat sehingga tidak dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.

Namun disela sambutannya, Djuwita Moeloek memuji salah satu anggota Timnas yang memiliki tinggi di atas rata-rata, yang menurutnya itu bisa dilakukan jika gizi anak sejak awal bisa terpenuhi dengan baik. Lebih lanjut Menkes RI menyinggung Forum Bisnis yang diadakan siang harinya yang dihadiri sejumlah perusahaan Indonesia seperti Biofarma, CV. Bartec, Phapros, Kalbe Farma, Kimia Farma, dan perusahaan Iran seperti Cinnagen, Sina Robotics dan medical innovators, dan Celltech pharmed.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia selanjutnya menyatakan kekagumannya terhadap perkembangan teknologi kesehatan di Iran khususnya di bidang nanoteknologi yang telah melahirkan beberapa inovasi berupa obat kanker, bernama Sinacurcumin, Sina Robotic Nano surgery, dan teknologi sel punca.

Dalam kesempatan tanya jawab, Ali Asghar Fadlullah Muhammadi, seorang mahasiswa Kedokteran di Shiraz University of medical Sciences bertanya terkait nasib mahasiswa kedokteran Indonesia di Iran setelah menyelesaikan studinya dan kembali ke Indonesia, serta kesediaan Kementerian Kesehataan dalam membantu biaya pendidikan mahasiswa Indonesia yang mempelajari ilmu kedokteran di Iran.

Terkait pertanyaan tersebut, Menkes menanggapi bahwa pihaknya menyediakan beasiswa spesialis jika mahasiswa telah menempuh jenjang sebelumnya dengan syarat diwajibkan untuk kembali ke daerah asalnya untuk mengabdi. Namun untuk membiayai perkuliahan di Iran ia menyarankan untuk merujuk ke Kemenristek Dikti dengan program LPDP dimana program ini juga mengevaluasi terlebih dahulu universitas tujuan dari pendaftar beasiswa. Kemudian, semua mahasiswa kedokteran yang menyelesaikan studinya di luar negeri memang harus menghadapi ujian adaptasi di Indonesia dan mempersilahkan penanya untuk menanyakan hal ini secara langsung kepada seorang bapak dari RS Cipto Mangunkusumo yang saat itu hadir dalam acara ramah tamah tersebut.

Sementara penanya kedua, Fatimah Mustafawi Muhammadi, yang saat ini sedang menempuh S-2 Nanoteknologi Medis dari Tehran University of Medical Sciences, bertanya terkait hasil Forum Bisnis Indonesia-Iran yang diadakan di Gedung Iran National Innovation Fund siang 15 September 2019 tadi serta produk atau teknologi apa saja yang sekiranya paling dibutuhkan dan menjanjikan bagi masyarakat Indonesia saat ini.

Nila Djuwita Moeloek pun menjawab, bahwa untuk pihaknya ingin mengevaluasi tiap perusahaan beserta produk yang ditawarkan sehingga dalam membuahkan kerjasama yang menguntungkan tidak akan dapat dihasilkan dalam waktu singkat. “Sementara produk yang menjanjikan dan dibutuhkan yakni pertama, Sinacurcumin yang merupakan obat kanker yang berbahan dasar kunyit ini menurut saya kita bisa manfaatkan celah kerjasama dengan menyuplai bahan dasarnya karena Indonesia kaya akan herbal ini.” Ungkapnya.

Terkait tekhnologi robotic surgery yang telah dicapai Iran, menurutnya bisa sangat membantu dokter bedah dengan menyediakan posisi yang nyaman saat mengoperasi pasien dimana dokter dapat melakukan operasi dalam keadaan duduk maupun berdiri, serta dapat dilakukan di ruangan terpisah seingga tidak menuntut keadaan steril bagi dokter. Selain itu, robot ini dapat meningkatkan akurasi bedah dan mengurangi tremor pada dokter. Menariknya Iran menawarkan produk ini dalam harga 1 juta dolar Amerika Serikat yang 3 kali lipat lebih murah dibanding perusahaan kompetetitor dari Jerman. Namun ia menyatakan pihaknya masih perlu mengevaluasi apakah benar sesuai dengan klaim perusahaan asalnya.

Di akhir sambutannya, ahli mata Indonesia memberikan motivasi dan pesan kepada mahasiswa Indonesia di Iran terutama yang mengambil studi kedokteran. Menurutnya kemajuan tekhnologi medis yang dicapai Iran saat ini karena ketekunannya meraih target besar untuk mandiri.

“Saya sangat terkejut melihat tekhnologi Iran yang sangat maju, khususnya nano tekhnologi dan robotic surgery. Saya mengharapkan mahasiswa Indonesia bisa mempelajari tekhonologi-tekhnologi yang dimiliki Iran tersebut dan membawanya ke tanah air.” Pesannya.

Acara ramah tamah Menkes RI beserta rombongan dengan KBRI dan WNI di Iran kemudian diakhiri dengan makan malam bersama. Kedatangan Menteri Kesehatan Indonesia ke Iran yang menandatangani 11 bentuk kerjasama diharapkan dapat menjembatani transfer teknologi di bidang kesehatan antara kedua negara dan menjadi motivasi bagi mahasiswa-mahasiswa yang sedang memempuh studinya di Iran agar lebih giat dan menegaskan bahwa mereka telah berada di negara yang tepat untuk menimba ilmu.

Pemenang Lomba Artikel Kemerdekaan RI ke 74 oleh IPI Iran

Pemenang Lomba Artikel Kemerdekaan RI ke 74 oleh IPI Iran

Turut memeriahkan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74, Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021 telah menyelenggarakan lomba artikel kemerdekaan yang bertema “PERAN PEMUDA DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN MENUJU INDONESIA UNGGUL”

Lomba yang diikuti sejumlah pelajar Indonesia di Iran tersebut memperebutkan tiga titel juara serta hadiah menarik dari penyelenggara. Setelah mendapatkan penilaian dari Tim Juri yaitu Atase Pertahanan KBRI Tehran Bpk. Kol. Mar. Harwin Dicky Wijanarko, SE dan Afifah Ahmad, jurnalis dan penulis buku diumumkan empat artikel terbaik yang masing-masing mendapatkan apresiasi sebagai terbaik pertama, kedua dan ketiga.

Penyerahan sertifikat dan hadiah kepada para pemenang dilakukan oleh Kepala Duta Besar KBRI Tehran Bapak Octavino Alimuddin, Atas Pertahanan KBRI Tehran, Kol. Mar. Harwin Dicky Wijanarko, Presiden IPI Iran 2019-2021 yang diwakili oleh saudara Rahman Dahlan dan Kepala Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran Saudari Salsabila Urrachman.

Berikut daftar pemenang Lomba Artikel Kemerdekaan RI 74 IPI Iran 2019-2021:

Juara 1 : Aisyah Habrul Ilma Alfatin dengan judul Perempuan Cikal Bakal Lahirnya Revolusioner

Juara 2 : Haryati dengan judul Perempuan dan Tugasnya dalam Pembangunan Negeri

Juara 3 : Sutiawan dengan judul Urgensi Kecerdasan Pemuda Dalam Membangun Bangsa

dan Hendar Yusuf dengan judul Pola Pandang Alquran tentang Peran Pemuda dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Selamat kepada para pemenang!!!

Terima kasih kepada Bpk. Kol. Mar. Harwin Dicky Wijanarko, SE dan Afifah Ahmad (perwakilan) yang telah meluangkan waktunya untuk menjadi juri dalam lomba artikel kali ini, senang bekerja sama dengan anda sekalian. Sampai bertemu lagi di lomba-lomba selanjutnya