Delegasi Indonesia Harumkan Indonesia di MTQ Internasional Iran

Delegasi Indonesia Harumkan Indonesia di MTQ Internasional Iran

Berlangsung selama 6 hari sejak dibuka Senin (8/4) sampai ditutup Minggu (14/4) Musabaqah Tilawatil Quran Internasional XXXIV di kota Tehran ibukota Republik Islam Iran diikuti oleh 5 delegasi Indonesia untuk berbagai kategori. MTQ yang berlangsung di Mushallah Imam Khomeini Tehran tersebut telah menjadi agenda rutin Pemerintah Republik Islam Iran yang dibawahi oleh Darul Quran Republik Islam Iran.

Adapun Indonesia diwakili oleh Ummu Habibabh Rochim (28) dari Provinsi Jawa Timur, Salman Amrillah (31) dari provinsi Jawa Barat, Muhammad Rifqi Hawari (13) dari Kepulauan Riau, Muhammad Khaerrurozzaq (17) dari Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Sidiq Mulyana dari Provinsi Jawa Barat. Dalam wawancarannya dengan media Iran setempat yang diterjemahkan oleh Firmansyah al-Jibran, Muhammad Rifqi Hawari menuturkan rasa bangganya telah menjadi delegasi Indonesia dalam MTQ Internasional tersebut. “Meskipun ini pengalaman pertama kali saya mengikuti MTQ Internasional tapi saya pribadi percaya diri mampu berkompetisi dengan qari dari berbagai negara. Saya juga merasa nyaman dengan kompetisi ini karena penyelenggaranya sangat ramah dan menyambut kami dengan senang, yang mereka sebut peserta dari negara muslim terbesar di dunia.” Ungkap pelajar asal Kepulauan Riau tersebut.

Sementara Muhammad Khaerrurozzaq  menuturkan pandangannya dengan mengatakan, “MTQ ini bagi saya sangat istimewa karena diselenggarakan di Republik Isla m Iran yang pandangan awal saya merupakan negara misterius karena tertutup dari dunia luar. Awalnya saya bahkan khawatir dan bingung ketika diutus untuk berangkat ke Iran. Namun karena rasa penasaran, membuatku menguatkan diri. Ternyata, melihat langsung Iran dan bukan hanya mengenalnya dari pemberitaan membuatku takjub dengan nuansa Islami Iran. Ternyata Iran tidak sebagaimana yang diisukan selama ini.”

Muhammad Rifqi Hawari dan Muhammad Khaerrurozzaq diantara delegasi Indonesia yang masuk putaran final pada kategori hafizh dan tilawah cabang remaja. Dua anak emas asuhan Ustad Mahadi Rahman yang telah banyak menamatkan qari dan qariah di Kepulauan Riau tersebut, sebelumnya telah meraih berbagai penghargaan MTQ baik ditingkat regional maupun nasional. Pada pengumuman hasil pemenang, pada acara penutupan Minggu (14/4), setelah bersaing dengan hafiz dan qari dari Suriah, Kenya, Iran dan Chad, Muhammad Rifqi Hawari diumumkan berhasil meraih juara 3 kategori tilawah tingkat pelajar.

Pada kategori Fahmil Qur’an tingkat santri, Sidiq Mulyana asal Jawa Barat juga meraih juara 3. Sementara prestasi lebih membanggakan lainnya dipersembahkan Salman Amrillah dengan meraih juara I pada kategori tilawah tingkat dewasa mengalahkan pesaing dari Iran, Irak, Mesir dan Malaysia di putaran final.  Ratusan Qari dan Qariah, Hafiz dan Hafizah dari 83 negara dunia disebutkan berpartisipasi dalam MTQ Internasional ini. Pada acara penutupan turut hadir mantan Menteri Agama RI Prof. Dr. Said Agil Husin Al Munawar yang turut memberi selamat dan penghargaan pada Salman Amrillah yang telah berhasil mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. (JF)

IPI Iran Sukses Gelar MUBES IPI Iran VIII

IPI Iran Sukses Gelar MUBES IPI Iran VIII

Perhelatan akbar Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran MUBES VIII telah berakhir, berjalan lancar dan sukses, Dibuka oleh Kepala Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran bapak Octavino Alimuddin Rabu (20/3) pukul 10.00 seusai memberi sambutan. Turut memberikan sambutan sebelumnya Atase Pertahanan KBRI Tehran Kolonel Marinir Harwin Dicky Wijanarko, Presiden IPI Iran 2018-2019 Muhammad Ghiffari dan Ketua Panitia MUBES Aqilah Zainab. Hadir sekitar 35 peserta MUBES yang berasal dari berbagai wiliyah di Iran seperti dari Tehran, Masyhad, Esfahan, Qom, Larestan, Syiraz dan Kish.

Seusai dibuka oleh DUBES, sarapan dan foto bersama, agenda pertama MUBES yang berlangsung di aula serba guna kantor KBRI Tehran tersebut langsung dimulai dan diawali dengan agenda pembahasan Tata Tertib MUBES IPI Iran VIII yang dipimpin oleh kordinator Stering Commite Kamaruddin Pati. Berlansung alot, pembahasan Tata Tertib menghabiskan waktu dua jam sehingga harus di skorsing untuk istrahat, salat dan makan siang. Usai pembahasan Tata Tertib, kelanjutan MUBES dipimpin oleh Presidium Sidang yang dipilih oleh peserta, Laode Abdul Janat mahasiswa Universitas Ahlulbait Tehran dan Laila Rahma, mahasiswi kedokteran Tehran University of Medical Science.

Agenda berikutnya adalah evaluasi laporan kerja Badan Pengurus Harian IPI Iran periode 2018-2019. Tampil kurang lebih sejam secara bergiliran Presiden IPI Iran Muhammad Ghiffari, Sekretaris Salsabilla Kemangi Ur Rachman, Bendahara M. Alhusaini Ba’bud, Kepala Departemen Kajian Strategis dan Intelektual Ismail Amin, Kepala Departemen HUMAS dan Media Dzikri al-Jihad, Departeman SDM dan Kelembagaan yang diwakili oleh Zainab az-Zahra. Sementara Wapres Behesty Zahra dan Kepala Departemen Pendidikan, Sosial dan Budaya Andi Ahmad Kasyfi yang sedang berada di tanah air hadir secara online via Skype pada agenda ini. Dengan realisasi program kerja mencapai 75%, peserta MUBES menyatakan LPJ Kepengurusan IPI Iran 2018-2019 dinyatakan diterima, setelah sebelumnya sejumlah peserta MUBES menyampaikan saran dan kritikannya.

Agenda-agenda sidang berikutnya tidak kalah alotnya, pembahasan AD/ART, GBHO dan rekomendasi berlangsung sampai pukul 19.00. Ada beberapa pasal yang mengalami amandemen dan perbaikan, diantaranya disepakati MUBES akan dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Agenda sidang selanjutnya dilanjutkan di rumah dinas Atase Pertahanan KBRI Tehran bapak Kolonel Harwin Dicky Wijanarko yang mengundang seluruh peserta MUBES untuk makan malam bersama.

Sebelum menyantap makan malam, Kolonel Harwin sempat berbagi pengalaman saat bertugas di Sudan dan Liberia. Bertugas dikemilteran TNI angkatan laut, ia menceritakan suka duka saat harus menjalankan tugas negara di luar negeri, jauh dari keluarga dan menemukan banyak kebiasaan yang berbeda dengan kehidupan keseharian di tanah air. Pukul 22.00 agenda pembahasan tata tertib dan mekanisme pemilihan Presiden IPI Iran dimulai. Dikarenakan, tidak ada yang mencalonkan diri sebagai calon presiden, maka peserta MUBES mengajukan calonnya masing-masing. Terjaring sejumlah nama diantaranya: Muhammad Ghiffari, Ismail Amin, Laode Abdul Janat, Kamaruddin Pati, Aqilah Zainab, Laila Rahma, Muhammad Jawad, Jodi Firmansyah dan Muhammad Mehdi. Dari kesejumlah nama tersebut, setelah melalui penyeleksian sesuai persyaratan dan menanyakan kesediaan untuk dicalonkan, tersisa dua nama Ismail Amin dan Laode Abdul Janat.

Sebelum dilakukan proses pemilihan, Ismail Amin sempat menyatakan pengunduran diri untuk tidak mengikuti proses pemilihan namun dikarenakan pengunduran dirinya ditolak maka berlangsunglah proses pemilihan Presiden melalui voting. Dari 33 suara, Ismail Amin meraup 21 suara, Abdul Janat 11 suara, dan satu suara tidak sah. Unggul dari Abdul Janat, Ismail Amin dinyatakan menjadi Presiden IPI Iran 2019-2021. Setelah konsideran penetapan MUBES IPI Iran VIII mengenai pengangkatan Presiden IPI Iran dibacakan Laila Rahma, Ismail Amin pun menyampaikan orasi pertamanya. Dalam orasinya, mahasiswa Universitas al-Mustafa Qom tersebut menyatakan melalui kerjasama dan kolaborasi seluruh anggota IPI Iran, ia optimis IPI Iran akan bisa memberi kontribusi lebih baik buat pelajar Indonesia di Iran khususnya, dan masyarakat Indonesia umumnya.

Tepat pukul 1.30 dini hari MUBES IPI Iran VIII dinyatakan selesai dan dilakukan foto bersama yang menutup perhelatan akbar IPI Iran tersebut. Salam kolaborasi 🙂

IPI Iran Bahas Identitas Sejati Perempuan di Era Kontemporer

IPI Iran Bahas Identitas Sejati Perempuan di Era Kontemporer

Bertempat di Gedung Kebudayaan Haram Imam Ali Ridha as kota Masyhad Republik Islam Iran, Departemen Sosial Budaya Ikatan Pelajar Indonesia Iran (IPI) Iran periode 2018-2019 menggelar Seminar Internasional “The True Identity of Woman in Contemporary Era”. Acara yang berlangsung selama dua hari 7-8 Maret 2019 tersebut dibuka oleh Kepala Duta Besar Indonesia untuk Iran Octavino Alimuddin.

Dalam sambutannya, Dubes Indonesia tersebut menegaskan pentingnya perempuan untuk juga terlibat dalam urusan publik tidak hanya dalam lingkup domestik rumah tangga. “Kita bisa belajar banyak dari kaum perempuan di Iran. Banyak peneliti di Iran dari kaum perempuan, menunjukkan mereka tidak hanya menghabiskan waktu di pusat-pusat perbelenjaan, namun juga aktif dalam bidang pendidikan dan penelitian. Diluar itu mereka tetap tidak melalaikan tanggungjawabnya dalam kehidupan rumah tangga mereka.” Ungkap Octavino.

Lebih lanjut Octavino menyambut baik penyelenggaraan seminar tersebut. Menurutnya seminar tersebut tidak hanya memberikan pencerahan namun juga memperat hubungan antar bangsa dengan adanya interaksi ilmiah dan diskusi bersama.

Usai menyampaikan sambutannya, didampingi Presiden IPI Iran 2018-2019 Muhammad Ghiffari, Kedubes Indonesia Iran Octavino Alimuddin menggunting pita sebagai simbol seminar internesional perempuan tersebut resmi dibuka.

Turut memberi sambutan, Kepala Departemen Kebudayaan dan Hubungan Internasional  Astan Quds DR. Hasyemi Nejad dan Kepala Maktab Nargis Universitas Internasional al-Mustafa DR. Shateshtekhooi.

Pada hari pertama, hadir sebagai pembicara utama, DR. Allamal Huda peneliti di Islamic Research Foundation Masyhad dan DR. Mujdeghan Sukhooi pengajar di Universitas Islam Azad Iran. Seminar berlangsung dari pukul 8.00 sampai 14.00 waktu setempat. Pada seminar ini juga terdapat sesi diskusi terbuka yang semua peserta dibagi beberapa kellompok kemudian membahas problematika wanita modern dari berbagai penjuru dunia. Hasil diskusi pada hari pertama akan dipresentasekan pada hari berikutnya.

Ketua panitia seminar, Suroyya Salehah dalam penyampaiannya mengatakan pentingnya tema “Identitas Sejati Perempuan di Era Kontemporer” diangkat dan diskusikan dikarenakan banyak fenomena sosial yang terjadi pada era modern dikarenakan terjadinya krisis identitas pada kaum perempuan.

Mahasiswi jurusan filsafat-teologi Maktab Nargis Universitas Internasional al-Mustafa Masyhad tersebut lebih lanjut menyebut penyelenggaraan seminar tersebut diharapkan akan menjadi sarana yang mampu merumuskan solusi secara kongkret atas persoalan-persoalan yang kerap dihadapi wanita serta menjelaskan kembali tentang kesetaraan gender antara pria dan wanita.

Disebutkan seminar tersebut tidak hanya dihadiri mahasiswa Indonesia di Masyhad namun juga dari mahasiswa asing lainnya, seperti mahasiswa India, Pakistan, Afghanistan, Azerbaijan, Turki, Aljazair, Thailand, Afrika, Arab Saudi, Lebanon dan Cina.

IPI Iran akan Gelar Seminar Internasional di Mashhad

IPI Iran akan Gelar Seminar Internasional di Mashhad

Departemen Sosial Budaya Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran priode 2018-2019 akan menyelenggarakan Seminar International “The True Identity of Woman in Contemporary Era” di Mashhad, timur laut Republik Islam Iran.

Seminar yang akan mengupas secara mendalam mengenai identitas asli wanita dari berbagai aspek khususnya Islam dan sosiologi ini akan digelar selama dua hari, Kamis-Jumat, 7-8 Maret 2019 di Gedung Kebudayaan Imam Ali Ridha as.

“The True Identity of Woman in Contemporary Era” akan diisi oleh para pakar dan peneliti terkemuka dalam rangka menemukan solusi atas beragam problem yang dihadapi kaum hawa seperti penerapan stigma buruk terhadap wanita, pelecehan fisik dan verbal, misogini, perilaku ketidakadilan terhadap wanita, kekerasan dan berbagai persoalan serupa lainnya.

Menurut Humas Panitia Seminar Zainab Zahra, Duta Besar Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Islam Iran Octavino Alimudin akan memberikan sambutan dalam senimar yang bertujuan membangkitkan kesadaran peran wanita terhadap nilai budaya, masyarakat dan kemajuan bangsa ini.

Seminar yang mengupas “Identitas Sejati Perempuan di Era Kontemporer” tersebut juga diharapkan akan menjadi sarana yang mampu merumuskan solusi secara kongkret atas persoalan-persoalan yang kerap dihadapi wanita serta menjelaskan kembali tentang kesetaraan gender antara pria dan wanita.

Selain itu, melalui seminar yang akan dihadiri oleh mahasiswa Indonesia, India, Pakistan, Afghanistan, Azerbaijan, Turki, Aljazair, Thailand, Afrika, Arab Saudi, Lebanon dan Cina ini, wanita diharapkan akan lebih mengenal kembali keistimewaan dirinya, menerapkan peran dan tugasnya sesuai dengan kodrat wanita dan menyebarluaskan nilai positif sebagai seorang wanita.

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Kagumi Sistem Pendidikan di Iran

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Kagumi Sistem Pendidikan di Iran

Sejumlah guru besar dan dosen dari UIN Sunan Ampel Surabaya dalam kunjungannya ke Iran mengikuti kegiatan short course dan international research di Al-Mustafa International University Qom dari 1-11 Desember 2018 turut mengunjungi kota Esfahan, sekitar 375 km dari kota Qom, Kamis-Jumat (6-7/12).

Selama di Esfahan, rombongan yang dipimpin DR. KH. Imam Ghazali Said mengunjungi beberapa tempat bersejarah seperti Menara Junbon, Masjid Jami’ Allamah Majlisi, Ali Qapu Museum, Masjid Syeikh Luthfullah, Takht-e Foulad (pemakaman bersejarah), Naqsh-e Jahan Square dan salat Jumat di Masjid Mushalla Imam Khomeini.

Dalam kunjungan tersebut, Moh. Zaki Amami salah seorang mahasiswa Indonesia di Esfahan yang juga mejabat sebagai kepala departemen SDM dan Kelembagaan IPI Iran 2018-2019 sempat melakukan wawancara dengan sejumlah guru besar dan dosen dalam rombongan tersebut. Kali ini redaksi akan menurunkan wawancara Moh. Zaki Amami dengan Guru Besar Fakultas Adab UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Ali Mufrodi, MA.

Selama keberadaan bapak di Iran ini, bisa bapak ceritakan bagaimana pandangan bapak mengenai Iran?

Iran Adalah negara muslim yang sejak ribuan tahun lalu, telah memiliki sejarah peradaban yang besar. Peradaban Iran kala itu mejadi contoh bagi berbagai perkembangan peradaban manusia di India, Afghanistan dan negara-negara Timur tengah yang lain. Selama berada di Iran, saya menilai bahwa Iran adalah negara yang sangat aman untuk dikunjungi oleh semua orang. Di bidang pendidikan, Iran adalah negara yang memberi fasilitas pendidikan luar biasa bagi penduduknya dan membuka kerjasama luar biasa dengan negara-negara lain di berbagai bidang.

Saya juga melihat, biaya hidup dan pendidikan di Iran sangat murah jika dibandingkan dengan biaya hidup dan biaya pendidikan di Australia, India, Spanyol bahkan Indonesia.

Kalau mengenai kehidupan masyarakat muslim di Iran, bagaimana tanggapan bapak?

Masyarakat Muslim di Iran yang mayoritas Muslim Syiah, saya lihat hidup rukun dan berdampingan dengan masyarakat Muslim Sunni, Yahudi dan Kristen. Ini merupakan cerminan peradaban Masyarakat Iran yang sudah tinggi dan mampu menjalankan toleransi dengan baik.

Menurut bapak, apa yang menyebabkan masyarakat Iran mampu memiliki toleransi yang tinggi dan hidup rukun?

Menurut saya, pembelajaran filsafatlah yang membuat masyarakat Iran mampu hidup rukun dan menjaga toleransinya hingga saat ini. Pemahaman filsafat dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari adalah juga menjadi kunci keberhasilan Revolusi Islam Iran.
Adanya ulama-ulama yang memang teguh dan Istiqomah dijalan keilmuan sehingga mampu menjadi panutan umat merupakan faktor lainnya. Saya pikir, di Indonesia perlu diajarkan filsafat sejak dini dan memasukkannya kedalam kurikulum di sekolah sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh Iran.

Menurut bapak, hal apa yang kurang bapak sukai seputar kebiasaan orang Iran?

Menurut pendapat saya, masyarakat Iran terlalu mengkultuskan sesuatu, seperti ketika mereka pergi ke makam ulama atau meninggalkan masjid, mereka berjalan mundur untuk menghormati tempat itu, menurut saya hal ini tidak perlu untuk dilakukan.

Hal paling positif apa yang bapak lihat selama berada di Iran?

Hal-hal positif yang saya lihat, pertama, persatuan masyarakat Iran dalam melawan musuh Islam. Kedua, biaya hidup dan biaya pendidikan yang relatif murah. Ketiga, peran aktif Iran dalam membantu umat muslim di negara-negara lain. Keempat, kehidupan rukun dan keramahan masyarakat Iran pada pendatang. Dan kelima, pembelajaran Filsafat yang telah dilalukan sejak dini.

Apa pesan bapak bagi para pelajar Indonesia di Iran beserta tips-tips belajar untuk bisa mencapai keberhasilan?

Pertama, fokuslah dalam mempelajari pengetahuan. Kedua, perkuatlah pondasi keilmuan dalam satu bidang tertentu agar memiliki penguasaan dan pendalaman dalam bidang tersebut. Ketiga, manfaatkan kesempatan dan waktu dengan baik ini untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Keempat, bagilah waktu dan berusahalah untuk disiplin agar berhasil dalam menghadapi ujian. Kelima, buatlah rencana yang baik dan matang untuk masa depan kalian.

_______

Disebutkan, rombongan guru besar dan dosen UIN Sunan Ampel Surabaya selain mengunjungi Tehran, Esfahan dan Qom juga dijadwalkan untuk melakukan kunjungan ke kota Masyhad dan berziarah ke makam Imam al-Ghazali di kota Thus.

Wapres IPI Iran: Radikalisme Tidak Punya Tempat di Bumi Pancasila

Wapres IPI Iran: Radikalisme Tidak Punya Tempat di Bumi Pancasila

“Mengedepankan spirit agama yang semua agama memilikinya yaitu, berlaku adil, tidak mengganggu satu sama lain dan berlomba-lomba berbuat kebaikan, adalah cara dan peran warga negara dalam menguatkan ketahanan nasional.”

Demikian yang diungkap Wakil Presiden Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran 2018-2019, Bahesty Zahra dalam penyampaiannya pada sarasehan yang diadakan KBRI Tehran di Sadaf Hall Tehran Grand Hotel, pada Kamis sore (22/11). Sarasehan yang mengusung tema,  “Pertahanan Nasional di Era Globalisasi”, turut menghadirkan tiga pembicara lainnya dari Universitas Pertahanan Indonesia, yaitu Marsekal Muda Taufik Hidayat, SE, Marsekal Pertama TNI Dr.Siswo Pudjiatmoko, SE, MSi dan Dr. Ir. Rudy Laksmono. 

“Agama apapun mengajarkan kebaikan. Melihat dari sisi itu jika orang tidak bersaudara karena satu aqidah maka dia bersaudara dikarenakan sesama manusia. Kalau prinsip ini dikedepankan maka kesatuan bangsa Negara itu akan utuh. Bahkan bukan hanyakesatuan Negara bahkan hubungan manusia di alam semesta ini akan baik dan rukun.” Tambah mahasiswi S1  jurusan Food Technology and Engineering Fakultas Agriculture and Natural Resources of University Tehran tersebut.

Behesty lebih lanjut menambahkan, “Lalu bagaimana cara menularkan nilai-nilai tersebut?. Perlu diajarkan kepada setiap individu bahwa setiap agama adalah kebaikan. Ketika agama menjadi pemicu timbulnya perpecahan dan peperangan maka bisa dipastikan itu tidak murni lagi sebagai agama, melainkan telah terkontaminasi oleh pemahaman-pemahaman manusia yang memiliki kepentingan-kepentingan tertentu. Agama yang datangnya dari Tuhan, bisa dipastikan akan mendatangkan maslahat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.”

“Ideologi pancasila yang dimiliki bangsa Indonesia adalah idelogi yang sudah ideal dan sangat tepat untuk bangsa Indonesia, karena nilai-nilainya universal yang bisa diterima oleh semua masyarakat Indonesia yang beragam etnis dan keyakinan. Di dalamnya ada nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, prinsip kebersamaan dan toleransi terhadap perbedaan yang diselesaikan melalui musyawarah dan membangun kesepakatan-kesepakatan bersama. Perbedaan itu sendiri adalah sebuah keniscahyaan yang harus diterima dengan baik. Tidak mungkin didunia ini tidak ada perbedaaan. Maka nilai-nilai pancasila itu sangat akurat karena memiliki hubungan integral terhadap sang pencipta dengan hubungan antar manusia, hablu minallah dan habluminannas.”Tambah mahasiswi lulusan SMAN 5 Depok tersebut.

Mengenai radikalisme yang menurutnya telah menggenjala di tanah air, ia berpendapat radikalisme tidak boleh diberikan tempat di bumi Pancasila. Karena baginya, radikalisme itu sendiri bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. “Bukan hanya nilai-nilai pancasila tetapi nilai-nilai setiap segala keyakinan yang berpaku pada ketuhanan yang maha esa, radikalisme itu bertentangan dengan itu semua.” Tegasnya.

Dibagian akhir pembicaraannya, Behesty yang juga aktif di PPI Dunia berbagi informasi mengenai pengalamannya kuliah di Iran. Sesuai pengamatannya, ia menyebut sistem pendidikan di Iran berangkat dari nilai-nilai spritual. “Pendidikan di Iran terintegral, tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan non agama. Ilmu sains sekalipun tetap berlandaskan nilai-nilai agama. Karena itu Iran meski agamis tetap dikenal sebagai negara scientist. Sejak dulu Iran telah dikenal sebagai lumbung ilmuan-ilmuan yang juga sekaligus ulama. Banyak filosof-filosof terlahir di Iran.” Terangnya.

Hadir dalam sarasehan tersebut, Kepala Duta Besar Indonesia untuk Iran Octavino Alimuddin yang juga memberi sambutan sekaligus membuka sarasehan secara resmi. Acara yang dimoderatori Fungsi Politik KBRI Tehran Priadji Soelaiman itu dihadiri puluhan WNI dan pelajar Indonesia di Iran dari berbagai kota seperti dari Tehran, Qom, Ghurghan, Esfahan dan Masyhad. Presiden IPI Iran 2018-2019, Muhammad Ghiffari yang turut hadir, mengungkapkan pada sesi diskusi pentingnya penanaman nilai-nilai Pancasila dalam membangun nasionalisme dan semangat cinta tanah air pada generasi muda. Ia lebih lanjut berharap, acara-acara serupa harus terus digalakkan terutama diluar negeri, agar WNI meski berada jauh dari tanah air, namun tetap mencintai dan loyal pada negara. Acara diakhiri dengan ramah tamah dan makan malam bersama.