Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Kagumi Sistem Pendidikan di Iran

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Kagumi Sistem Pendidikan di Iran

Sejumlah guru besar dan dosen dari UIN Sunan Ampel Surabaya dalam kunjungannya ke Iran mengikuti kegiatan short course dan international research di Al-Mustafa International University Qom dari 1-11 Desember 2018 turut mengunjungi kota Esfahan, sekitar 375 km dari kota Qom, Kamis-Jumat (6-7/12).

Selama di Esfahan, rombongan yang dipimpin DR. KH. Imam Ghazali Said mengunjungi beberapa tempat bersejarah seperti Menara Junbon, Masjid Jami’ Allamah Majlisi, Ali Qapu Museum, Masjid Syeikh Luthfullah, Takht-e Foulad (pemakaman bersejarah), Naqsh-e Jahan Square dan salat Jumat di Masjid Mushalla Imam Khomeini.

Dalam kunjungan tersebut, Moh. Zaki Amami salah seorang mahasiswa Indonesia di Esfahan yang juga mejabat sebagai kepala departemen SDM dan Kelembagaan IPI Iran 2018-2019 sempat melakukan wawancara dengan sejumlah guru besar dan dosen dalam rombongan tersebut. Kali ini redaksi akan menurunkan wawancara Moh. Zaki Amami dengan Guru Besar Fakultas Adab UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Ali Mufrodi, MA.

Selama keberadaan bapak di Iran ini, bisa bapak ceritakan bagaimana pandangan bapak mengenai Iran?

Iran Adalah negara muslim yang sejak ribuan tahun lalu, telah memiliki sejarah peradaban yang besar. Peradaban Iran kala itu mejadi contoh bagi berbagai perkembangan peradaban manusia di India, Afghanistan dan negara-negara Timur tengah yang lain. Selama berada di Iran, saya menilai bahwa Iran adalah negara yang sangat aman untuk dikunjungi oleh semua orang. Di bidang pendidikan, Iran adalah negara yang memberi fasilitas pendidikan luar biasa bagi penduduknya dan membuka kerjasama luar biasa dengan negara-negara lain di berbagai bidang.

Saya juga melihat, biaya hidup dan pendidikan di Iran sangat murah jika dibandingkan dengan biaya hidup dan biaya pendidikan di Australia, India, Spanyol bahkan Indonesia.

Kalau mengenai kehidupan masyarakat muslim di Iran, bagaimana tanggapan bapak?

Masyarakat Muslim di Iran yang mayoritas Muslim Syiah, saya lihat hidup rukun dan berdampingan dengan masyarakat Muslim Sunni, Yahudi dan Kristen. Ini merupakan cerminan peradaban Masyarakat Iran yang sudah tinggi dan mampu menjalankan toleransi dengan baik.

Menurut bapak, apa yang menyebabkan masyarakat Iran mampu memiliki toleransi yang tinggi dan hidup rukun?

Menurut saya, pembelajaran filsafatlah yang membuat masyarakat Iran mampu hidup rukun dan menjaga toleransinya hingga saat ini. Pemahaman filsafat dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari adalah juga menjadi kunci keberhasilan Revolusi Islam Iran.
Adanya ulama-ulama yang memang teguh dan Istiqomah dijalan keilmuan sehingga mampu menjadi panutan umat merupakan faktor lainnya. Saya pikir, di Indonesia perlu diajarkan filsafat sejak dini dan memasukkannya kedalam kurikulum di sekolah sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh Iran.

Menurut bapak, hal apa yang kurang bapak sukai seputar kebiasaan orang Iran?

Menurut pendapat saya, masyarakat Iran terlalu mengkultuskan sesuatu, seperti ketika mereka pergi ke makam ulama atau meninggalkan masjid, mereka berjalan mundur untuk menghormati tempat itu, menurut saya hal ini tidak perlu untuk dilakukan.

Hal paling positif apa yang bapak lihat selama berada di Iran?

Hal-hal positif yang saya lihat, pertama, persatuan masyarakat Iran dalam melawan musuh Islam. Kedua, biaya hidup dan biaya pendidikan yang relatif murah. Ketiga, peran aktif Iran dalam membantu umat muslim di negara-negara lain. Keempat, kehidupan rukun dan keramahan masyarakat Iran pada pendatang. Dan kelima, pembelajaran Filsafat yang telah dilalukan sejak dini.

Apa pesan bapak bagi para pelajar Indonesia di Iran beserta tips-tips belajar untuk bisa mencapai keberhasilan?

Pertama, fokuslah dalam mempelajari pengetahuan. Kedua, perkuatlah pondasi keilmuan dalam satu bidang tertentu agar memiliki penguasaan dan pendalaman dalam bidang tersebut. Ketiga, manfaatkan kesempatan dan waktu dengan baik ini untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Keempat, bagilah waktu dan berusahalah untuk disiplin agar berhasil dalam menghadapi ujian. Kelima, buatlah rencana yang baik dan matang untuk masa depan kalian.

_______

Disebutkan, rombongan guru besar dan dosen UIN Sunan Ampel Surabaya selain mengunjungi Tehran, Esfahan dan Qom juga dijadwalkan untuk melakukan kunjungan ke kota Masyhad dan berziarah ke makam Imam al-Ghazali di kota Thus.

Wapres IPI Iran: Radikalisme Tidak Punya Tempat di Bumi Pancasila

Wapres IPI Iran: Radikalisme Tidak Punya Tempat di Bumi Pancasila

“Mengedepankan spirit agama yang semua agama memilikinya yaitu, berlaku adil, tidak mengganggu satu sama lain dan berlomba-lomba berbuat kebaikan, adalah cara dan peran warga negara dalam menguatkan ketahanan nasional.”

Demikian yang diungkap Wakil Presiden Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran 2018-2019, Bahesty Zahra dalam penyampaiannya pada sarasehan yang diadakan KBRI Tehran di Sadaf Hall Tehran Grand Hotel, pada Kamis sore (22/11). Sarasehan yang mengusung tema,  “Pertahanan Nasional di Era Globalisasi”, turut menghadirkan tiga pembicara lainnya dari Universitas Pertahanan Indonesia, yaitu Marsekal Muda Taufik Hidayat, SE, Marsekal Pertama TNI Dr.Siswo Pudjiatmoko, SE, MSi dan Dr. Ir. Rudy Laksmono. 

“Agama apapun mengajarkan kebaikan. Melihat dari sisi itu jika orang tidak bersaudara karena satu aqidah maka dia bersaudara dikarenakan sesama manusia. Kalau prinsip ini dikedepankan maka kesatuan bangsa Negara itu akan utuh. Bahkan bukan hanyakesatuan Negara bahkan hubungan manusia di alam semesta ini akan baik dan rukun.” Tambah mahasiswi S1  jurusan Food Technology and Engineering Fakultas Agriculture and Natural Resources of University Tehran tersebut.

Behesty lebih lanjut menambahkan, “Lalu bagaimana cara menularkan nilai-nilai tersebut?. Perlu diajarkan kepada setiap individu bahwa setiap agama adalah kebaikan. Ketika agama menjadi pemicu timbulnya perpecahan dan peperangan maka bisa dipastikan itu tidak murni lagi sebagai agama, melainkan telah terkontaminasi oleh pemahaman-pemahaman manusia yang memiliki kepentingan-kepentingan tertentu. Agama yang datangnya dari Tuhan, bisa dipastikan akan mendatangkan maslahat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.”

“Ideologi pancasila yang dimiliki bangsa Indonesia adalah idelogi yang sudah ideal dan sangat tepat untuk bangsa Indonesia, karena nilai-nilainya universal yang bisa diterima oleh semua masyarakat Indonesia yang beragam etnis dan keyakinan. Di dalamnya ada nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, prinsip kebersamaan dan toleransi terhadap perbedaan yang diselesaikan melalui musyawarah dan membangun kesepakatan-kesepakatan bersama. Perbedaan itu sendiri adalah sebuah keniscahyaan yang harus diterima dengan baik. Tidak mungkin didunia ini tidak ada perbedaaan. Maka nilai-nilai pancasila itu sangat akurat karena memiliki hubungan integral terhadap sang pencipta dengan hubungan antar manusia, hablu minallah dan habluminannas.”Tambah mahasiswi lulusan SMAN 5 Depok tersebut.

Mengenai radikalisme yang menurutnya telah menggenjala di tanah air, ia berpendapat radikalisme tidak boleh diberikan tempat di bumi Pancasila. Karena baginya, radikalisme itu sendiri bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. “Bukan hanya nilai-nilai pancasila tetapi nilai-nilai setiap segala keyakinan yang berpaku pada ketuhanan yang maha esa, radikalisme itu bertentangan dengan itu semua.” Tegasnya.

Dibagian akhir pembicaraannya, Behesty yang juga aktif di PPI Dunia berbagi informasi mengenai pengalamannya kuliah di Iran. Sesuai pengamatannya, ia menyebut sistem pendidikan di Iran berangkat dari nilai-nilai spritual. “Pendidikan di Iran terintegral, tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan non agama. Ilmu sains sekalipun tetap berlandaskan nilai-nilai agama. Karena itu Iran meski agamis tetap dikenal sebagai negara scientist. Sejak dulu Iran telah dikenal sebagai lumbung ilmuan-ilmuan yang juga sekaligus ulama. Banyak filosof-filosof terlahir di Iran.” Terangnya.

Hadir dalam sarasehan tersebut, Kepala Duta Besar Indonesia untuk Iran Octavino Alimuddin yang juga memberi sambutan sekaligus membuka sarasehan secara resmi. Acara yang dimoderatori Fungsi Politik KBRI Tehran Priadji Soelaiman itu dihadiri puluhan WNI dan pelajar Indonesia di Iran dari berbagai kota seperti dari Tehran, Qom, Ghurghan, Esfahan dan Masyhad. Presiden IPI Iran 2018-2019, Muhammad Ghiffari yang turut hadir, mengungkapkan pada sesi diskusi pentingnya penanaman nilai-nilai Pancasila dalam membangun nasionalisme dan semangat cinta tanah air pada generasi muda. Ia lebih lanjut berharap, acara-acara serupa harus terus digalakkan terutama diluar negeri, agar WNI meski berada jauh dari tanah air, namun tetap mencintai dan loyal pada negara. Acara diakhiri dengan ramah tamah dan makan malam bersama.

Dubes Indonesia untuk Iran: Kita Perlu Belajar Menjaga Ketahanan Nasional dari Iran

Dubes Indonesia untuk Iran: Kita Perlu Belajar Menjaga Ketahanan Nasional dari Iran

Bertempat di Sadaf Hall Tehran Grand Hotel, Tehran ibukota Republik Islam Iran, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Iran menyelenggarakan sarasehan pada Kamis sore (22/11). Dengan mengambil tema, “Pertahanan Nasional di Era Globalisasi”, hadir tiga pembicara dari Universitas Pertahanan Indonesia, yaitu Marsekal Muda Taufik Hidayat, SE, Marsekal Pertama TNI Dr.Siswo Pudjiatmoko, SE, MSi dan Dr. Ir. Rudy Laksmono.

Kepala Duta Besar RI untuk Iran, Octavino Alimuddin dalam sambutannya menyebutkan, Indonesia yang berbentuk negara kesatuan telah menjadi inspirasi bagi banyak negara di dunia, yaitu begitu banyak perbedaan yang terdapat di Indonesia dengan beragam suku, agama dan ras serta bentangan ribuan pulau namun mampu bertahan sejak 1945 sampai sekarang sebagai negara yang bersatu dan berada dalam keadaan aman.

“Dengan wilayah negara kita yang sangat luas, kita tentu memerlukan satu penanganan khusus bagaimana menghadapi potensi gangguan keamanan. Iran pun memiliki hal yang sama, banyak potensi gangguan yang ada di iran sebagaimana halnya di negara kita, seperti ancaman terorisme, serangan-serangan baik sifatnya subversif maupun agitasi dari luar negeri.” Ungkapnya.

Lebih lanjut Dubes mengatakan,”Iran selama ini melakukan pengamanan wilayahnya dengan melakukan upaya-upaya agar ancaman keamanan itu biar diluar, jangan sampai masuk ke Iran. Sementara kita di Indonesia, dengan wilayah kita yang begitu terbuka ancaman itu telah masuk. Bahkan dengan tidak sadar, benih-benih terorisme telah berada di tengah-tengah kita. Sementara Iran secara aktif melakukan upaya pencegahan dan penangkalan agar gangguan keamanan tidak masuk dalam wilayah Iran.”

“Iran mengundang wisatawan dan investor untuk masuk Iran namun sangat ketat dalam melakukan pengamanan. Mereka tidak dengan mudah menerima orang asing. Orang-orang asing di negara ini tetap dimonitor dan berada dalam pengawasan mereka. Namun meski demikian, pengawasan yang mereka lakukan tidak berlebihan. Kita hanya diminta memperlihatkan pasport, dan bisa bebas kemana saja dan melakukan aktivitas apa saja, selama bukan aktivitas yang berpotensi mengganggu keamanan. Ini yang menurut saya bisa kita pelajari dari Iran.” Tambahnya.

“Kedekatan Iran dengan negara-negara tetangganya seperti Suriah, Irak dan Yaman adalah dalam rangka menjaga keamanan negaranya. Sebagaimana Indonesia, Iran juga mendukung Palestina, bahkan memiliki kedekatan khusus dengan HAMAS. Kedekatan-kedekatan itu adalah dalam upaya preventif untuk tetap menjaga keamanan dalam negeri. Meskipun demikian, Iran tetap kecolongan, setidaknya dalam 2 tahun terakhir, di Iran terjadi tindakan teror. Tahun 2017 di moseulum Imam Khomeini dan di tengah-tengah parade militer di Ahvaz baru-baru ini. Ini menunjukkan betapa tidak mudahnya menjaga keamanan itu.” Ungkap Octavino.

Dibagian akhir sambutannya, Octavino Alimuddin menyambut baik kedatangan delegasi Universitas Pertahanan Indonesia di Iran. Ia menyebut pendirian dan keberadaan Universitas Pertahanan sangat strategis dan sangat dibutuhkan terlebih lagi dalam kondisi dunia tengah berhadapan dengan ancaman terorisme. Dubes berharap, agar acara-acara serupa tetap berlanjut terutama dalam rangka memberikan pengetahuan kepada WNI dan mahasiswa Indonesia di luar negeri mengenai pentingnya menjaga dan memperkuat ketahanan nasional.

Hadir dalam acara sarasehan yang dimulai pukul 17.00 waktu setempat tersebut, sejumlah WNI dan mahasiswa Indonesia yang berasal dari berbagai wilayah di Iran, seperti Tehran, Qom, Ghurghan, Lurestan dan Masyhad.

Sehari sebelumnya, anggota delegasi dari Universitas Pertahanan Indonesia yang terdiri dari Marsekal Muda Taufik Hidayat, SE, Marsekal Pertama TNI Dr.Siswo Pudjiatmoko, SE,MSi dan Dr.Ir.Rudy Laksmono berkunjung ke AJA University of Command and Staff, DAFOOS, Iran dan disambut oleh Rektor AJA University of Command and Staff, Iran, Hossein Valivand Zamani.

Dalam pertemuan tersebut, Sekretaris Universitas Pertahanan Indonesia, Marsekal Muda Taufik Hidayat, SE mengatakan delegasi dari Universitas Pertahanan Indonesia berkunjung ke Iran untuk menjalin kerja sama pendidikan dan tujuan terpenting adalah bertukar dosen dan mahasiswa.

Rahman Dahlan: Pemerintah Harus lebih Serius Perhatikan Nasib Veteran

Rahman Dahlan: Pemerintah Harus lebih Serius Perhatikan Nasib Veteran

Memanfaatkan momen peringatan Hari Pahlawan, pada Jumat sore (16/11), IPI Iran gelar diskusi di kota Qom Republik Islam Iran dengan topik diskusi, pentingnya menghargai jasa para pahlawan. Rahman Dahlan, Kordinator IPI Iran wilayah Qom mengawali diskusi dengan menyampaikan keprihatinannya, pahlawan dan veteran kurang dihargai dan diperhatikan di Indonesia. “Keluarnya UU nomor 15 tahun 2012 tentang Veteran Republik Indonesia yang mengatur hak-hak veteran kita syukuri, sebab menunjukkan adanya kepedulian pemerintah terhadap nasib para veteran. Namun, jika kita membandingkan bagaimana pemerintah Iran menghargai jasa para pahlawannya, maka tentu kebijakan tersebut sangat terlambat.”

“Meski UU mengatur adanya dana bantuan kesehatan dan tunjangan buat para veteran dan keluarganya, namun dengan banyaknya syarat yang harus dipenuhi dan rumitnya jalur bikrorasi yang harus ditempuh, banyak veteran yang akhirnya tidak mendapatkan haknya. Kita harus akui, tidak sedikit veteran sampai saat ini hidupnya terlantar dan memprihatinkan. Sementara para veteran pejuang tersebut harus dihargai dan mendapatkan hak-haknya dari negara ini.” Ungkap mahasiswa S2 Universitas al-Mustafa program studi Tafsir Alquran tersebut.

Lebih lanjut, ia mengatakan, “Para pejuang telah mengorbankan harta, tenaga bahkan nyawanya demi kemerdekaan negeri ini, maka sudah sepantasnya mereka yang masih hidup atau keluarganya, layak mendapatkan hak-haknya. Selain menghargai jasa pahlawan dengan mewajibkan negara menunjang kehidupan mereka dan keluarganya, bentuk penghargaan lainnya adalah kita mengisi kemerdekaan dengan memberikan kontribusi positif pada kemajuan negara ini, supaya perjuangan mereka tidak sia-sia.”

“Kemerdekaan harus diisi setiap anak bangsa dengan menjalankan profesinya masing-masing, sebaik-baiknya. Sebagai pelajar, harus belajar dengan baik. Sebagai PNS harus bekerja dengan baik. Kita sayangkan, tidak sedikit PNS yang belum maksimal menjalankan tugasnya. Bagi saya itu adalah bentuk pengkhianatan pada pahlawan.” Tambahnya.

Mahasiswa asal Palu Sulawesi Tengah tersebut selanjutnya menegaskan peran pelajar yang berada di luar negeri. “Kita yang menuntut ilmu di luar negeri, harus belajar dengan sebaik-baiknya, agar kelak bisa menggunakan ilmu yang telah dituntut tersebut untuk membangun bangsa kita, bukan hanya fisiknya, tapi juga jiwa dan mentalnya. Membangun mental dan ruh masyarakat kita untuk tidak jadi pengkhianat bangsa.” Tegasnya.

Rahman Dahlan melanjutkan, “Sampai hari ini, masih banyak rakyat yang belum bisa terbebas dari jeratan kemiskinan. Bukan karena mereka malas, melainkan karena ada yang mengambil uang rakyat untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Sistem yang belum berjalan dengan baik. Tidak tegaknya hukum, korupsi masih merajalela dan masih banyak bentuk pengkhianatan lainnya.”

“Kita bisa belajar banyak dari Iran. Dengan sumber daya alam yang terbatas bahkan sempat porak poranda oleh perang selama 8 tahun, namun bisa mengelola negara dengan baik. Meski belum sampai pada tahap sempurna, namun di Iran setidaknya kita tidak melihat ada dari mantan pejuang mereka yang hidupnya memprihatinkan dan terabaikan nasibnya oleh negara.” Jelasnya.

Dibagian akhir penyampaiannya, Rahman Dahlan mengatakan, “Momen peringatan Hari Pahlawan harus kita jadikan pengingat untuk kita mewarisi sifat-sifat kepahlawanan para pahlawan. Diantaranya adalah berani. Panggilan zaman saat ini, bukan lagi berani menghadapi penjajah di front terdepan, tapi berani mengatakan tidak pada korupsi. Berani mengatakan tidak pada kolusi dan praktik-praktik hitam yang berpotensi membangkrutkan negeri ini.”

Pada sesi selanjutnya, Kamaruddin Dg Pati, salah satu peserta diskusi menyampaikan pendapatnya, “Salah satu faktor yang berpengaruh dalam membangun mental keterjajahan pada bangsa kita adalah dipercayainya mitos bangsa kita dijajah selama 350 tahun. Mengapa itu saya katakan mitos? karena sebenarnya kita tidak dijajah sampai selama itu. Namun sayangnya, versi resmi sejarah bangsa kita menuliskan itu. Akibatnya, mental yang terbentukpun mental pecundang, mental terjajah sehingga gagal membangun nilai-nilai kemerdekaan pada dirinya.”

“Seperti pada dunia pendidikan misalnya. Sampai hari ini dunia pendidikan kita belum terbebas sepenuhnya dari praktik-praktik kekerasan. Baru masuk saja, anak didik telah diperkenalkan dengan praktik perpeloncoan. Jadi mental yang lahirpun hanya ada dua. Kalau bukan diperas, ya memeras. Kalau bukan mempecundangi, ya dipecundangi. Padahal itu semua keluar dari nilai-nilai fitrah kemanusiaan, fitrah kebebasan yang merupakan ajaran luhur dari para pahlawan. Mental pecundang tersebut terus terbawa bahkan ketika menjadi pejabat. Membuat aturan dan UU yang justru meraup kepentingan pribadi.” Tambahnya.

“Solusinya, harus dibuat sistem dan program yang sistematis yang diterapkan dari usia dini generasi bangsa untuk ditanamkan nilai-nilai kepahlawanan dan rela berkorban. Di Iran, kita melihat sistem itu diterapkan dan hasilnya, negara ini jadi besar, karena penghargaannya yang besar pada para pahlawannya.” Ungkapnya. 

Mengenai veteran, mahasiswa asal Makassar tersebut turut menyampaikan kritikannya. Ia berkata, “Veteran lebih diidentikkan dengan mereka yang dulu memanggul senjata menghadapi penjajah. Sementara mereka yang dulu berjuang memperjuangan kemerdekaan negara ini bukan hanya dari kalangan militer namun juga dari rakyat sipil. Dalam peperangan, tanpa bantuan dari kalangan sipil, militer kita tidak akan bisa berbuat banyak. Rakyat sipil membantu membuat benteng, membuat markas, membuat parit, menyediakan makanan bahkan turut berperang dengan bambu runcing. Mereka membantu pejuang dengan menjadi mata-mata, yang tidak sedikit dari mereka sampai harus disiksa dan cacat fisiknya disiksa penjajah.”

“Lembaga dan yayasan-yayasan veteran yang dibuat harus benar-benar ditujukan buat mensejahterahkan para veteran, bukan hanya mensejahterahkan para pengelolanya saja.” Ungkapnya mengakhiri diskusi.

Moh. Zaki Amami: Menghargai Jasa Pahlawan adalah Kewajiban Agama

Moh. Zaki Amami: Menghargai Jasa Pahlawan adalah Kewajiban Agama

Memperingati Hari Pahlawan, IPI Iran menggelar diskusi pada Selasa (13/11) di kota Esfahan, Republik Islam Iran. Mengambil tema, “Mengingat Sejarah Pahlawan adalah Perintah Islam dan Bukti Kecintaan pada NKRI”, Mohammad Zaki Amami sebagai pembicara mengawali materinya dengan memberikan defenisi kata Pahlawan.

“Melihat defenisi pahlawan dari KBBI, kamus Persia dan Oxford Dictionary, bisa kita simpulkan pahlawan adalah individu yang dinilai memiliki sifat berani, rela berkorban dan menepati janjinya. Dalam konteks hari Pahlawan maka kita memahami bahwa semua yang telah mengorbankan jiwa, raga, harta, umur dan keluarga untuk mencapai kemerdekaan NKRI adalah pahlawan Nasional. Contohnya adalah Ir. Sukarno, Bung Hatta, Pangeran Diponegoro, R.A. Kartini, Cut. Nyak Dien, Imam Bonjol, dan lain-lain” Ungkap Mahasiswa S2 Bahasa dan Sastra Arab Universitas Internasional al-Mustafa Esfahan tersebut.

Lebih lanjut, mahasiswa kelahiran Jember Jawa Timur tersebut bercerita singkat mengenai kronologis peristiwa 10 November 1945 yang kemudian melatarbelakangi hari itu dijadikan sebagai Hari Pahlawan. “Perang terbuka yang terjadi pada 10 November 1945 di Surabaya sangat dasyhat, meski arek-arek Suroboyo bersenjata apa adanya, namun mereka tidak mau tunduk pada kemauan Inggris yang memiliki kekuatan senjata yang lebih canggih. Hal itu terungkapkan dalam pidato Bung Tomo, yang berkata, ….selama banteng-banteng Indonesia masih punya darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga”.

“Pertempuran tidak berimbang tersebut berimbas banyaknya korban jiwa jatuh dari pihak pejuang. Menurut Merle Calvin Ricklefs, dalam A History of Modern Indonesia Since c.1300, tercatat setidaknya 6.000-16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya sebagai imbas dari pertempuran tersebut. Sementara itu, taksiran Woodburn Kirby dalam The War Against Japan (1965), korban dari pihak sekutu sejumlah 600- 2.000 tentara.” Paparnya.

Lebih lanjut, menukil tafsir Allamah Thabathabai mengenai ayat 169 dan 170 dari surah Ali Imran, Zaki Amami mengatakan, “Dalam kitab Tafsir al-Mizan disebutkan, orang-orang mukmin yang kehilangan nyawa di jalan Allah tidaklah mengalami kematian, bahkan masih tetap diberi rezeki dari Allah berupa kebahagiaan di sisi-Nya. ”

“Kebahagiaan yang dimaksud adalah tidak adanya rasa sedih dan takut ketika menghadapi kematian dan hari pengadilan. Ini merupakan rejeki luar biasa bagi mereka yang meninggal dalam keadaan Syahid. Kenikmatan dan rejeki yg lain adalah keberadaan mereka disisi Allah. Mereka mencintai Allah dan Allah mencintainya. Mereka telah dijamin untuk tidak diazab dan disiksa.” Jelasnya.

Pada bagian akhir pemaparannya, Kepala Departemen SDM dan Kelembagaan IPI Iran 2018-2019 tersebut menyimpulkan, “Pertama, kita wajib mendoakan, meniru dan meneladani jejak para pahlawan, karena merupakan ajaran Islam yang hakiki. Kedua, generasi muda wajib menjaga dan mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawian dengan berbagai kegiatan positif. Ketiga, seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada harus menjaga nasionalisme dan rela berkorban demi kejayaan NKRI.

Diskusi selanjutnya dilanjutkan dengan sharing session, dengan masing-masing dari peserta menceritakan mengenai pahlawan di daerah masing-masing dan bagaimana cara mengisi kemerdekaan. Diskusi yang diakhiri dengan makan malam bersama tersebut, tidak hanya dihadiri mahasiswa Indonesia yang berada di kota Esfahan namun juga dari mahasiswa negeri Jiran, Malaysia dan Thailand.

Hakikat Sumpah Pemuda Untuk Meraih Kemerdekaan Bermedia

Hakikat Sumpah Pemuda Untuk Meraih Kemerdekaan Bermedia

Di era revolusi industri 4 ini generasi muda dihadapkan pada berbagai tantangan kehidupan. Salah satu tantangan itu adalah bagaimana merawat kecintaan generasi muda kepada negaranya sendiri. Rasa cinta pada negeri yang lazim disebut dengan nasionalisme, adalah modal dasar yang harus dimiliki oleh setiap pemuda-pemudi sebuah bangsa jika ingin negara dan bangsanya menjadi maju dan berwibawa dihadapan bangsa lainnya.

Sumpah pemuda yang di deklarasikan 90 tahun lalu menjadi fakta bahwa generasi pendahulu kita menyadari pentingnya eksistensi rasa nasionalisme dalam jiwa setiap pemuda. Terbukti bahwa dengan rasa nasionalisme yang kuat, 17 tahun kemudian, kita mampu meraih kemerdekaan. Kemerdekaan yang selama berabad-abad seolah menjadi mimpi untuk diraih bangsa yang terdiri dari ratusan suku bangsa dan bahasa. Beragam versi sejarah menyatakan bahwa Indonesia pernah dijajah oleh Belanda, Portugis, hingga Jepang, namun dengan nasionalisme yang kuat dan kecintaan pada NKRI, bangsa kita mampu mendeklarasikan kesepakatan bersejarah pada tahun 1928. Karena itulah, dapat dikatakan jika sumpah pemuda pada hakikatnya adalah tonggak perlawanan dan resistensi rakyat Indonesia melawan penjajahan.

Perlu diketahui bahwa kata “Penjajahan” memiliki makna yang luas. Penjajahan di masa lalu identik dengan penjajahan fisik, kekerasan, serta penguasaan sumber daya alam oleh bangsa penjajah yang secara langsung menempati negeri jajahannya [1]. Namun, penjajahan di era milenial lebih identik dengan penjajahan yang bersifat ideologi, moral dan penghancuran ekonomi suatu bangsa oleh bangsa lain melalui media. [2] Penjajahan di era milenial lebih bersifat “halus”, bangsa yang sedang dijajah tidak merasa bahwa mereka hakikatnya sedang mengalami penjajahan.

Salah satu bentuk penjajahan yang dialami oleh NKRI yang saat ini perlu menjadi perhatian generasi muda adalah penjajahan media sosial. [3] Menurut Erich Fromm (1977) “Penjajahan media sosial” adalah dikuasainya sekelompok masyarakat oleh “realitas virtual kosong” untuk memenuhi hasrat utilitarian manusia. [4] Realitas virtual kosong bisa dimaknai sebagai sebuah dunia yang tidak lebih dari sebesar kaca beserta perangkat lunaknya yang bisa dipakai untuk memproduksi, mereplikasi dan menyebarkan konten tertentu. Sedangkan utilitarianisme adalah sebuah sikap dimana kebenaran dan kesalahan diukur oleh banyaknya kesenangan dan ketidaksenangan didalamnya. [5]

Dari terminologi diatas dapat dipahami bahwa penjajahan media sosial berpotensi menjangkiti lebih dari 50 persen (143 Juta) pengguna media sosial di tanah air. [6]Bahkan dalam salah satu pidatonya mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo mengatakan bahwa media sosial telah menjajah masyarakat Indonesia dan mengancam persatuan dan kesatuan NKRI. [7] Dari fakta ini maka sudah selayaknya kita tidak memandang sebelah mata tentang dampak penjajahan media sosial. Melalui semangat sumpah pemuda kita wajib menganalisa dan mencari solusi untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan NKRI.

Dengan merenungkan nilai-nilai sumpah pemuda dan mengejawantahkannya dalam kehidupan ini maka bangsa Indonesia akan mampu mengatasi dampak negatif penjajahan media sosial. Beberapa hakikat sumpah pemuda yang bisa kita praktekkan untuk melawan model penjajahan media sosial adalah:

  1. Memupuk keyakinan adanya kesatuan darah antar anak bangsa.
    Persatuan adalah kunci melawan jutaan arus informasi di media sosial yang berusaha memecah belah NKRI. Negara kita adalah negara besar, dengan lebih dari 17 ribu pulau, 748 bahasa daerah dan 300 kelompok etnis, [8] Indonesia bisa dengan mudah dipecah belah dengan berbagai isu sektarian atau perbedaan pemikiran. Inilah yang harus diwaspadai oleh segenap anak bangsa yang memahami pentingnya kesatuan darah. Kesatuan darah dalam menggunakan media sosial bisa dimaknai bahwa setiap individu rela untuk selalu menghindarkan diri dari membuat, menulis, atau menyebarkan berita yang akan menyakiti saudara sebangsa dan setanah airnya. Tidak ada yang lebih penting daripada persatuan dan kesatuan bangsa dalam melawan penjajahan di era modern ini, inilah hakikat dari kalimat pertama “Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia”.
  2. Menjunjung tinggi perbedaan dan meningkatkan literasi digital.Seorang pujangga berkata, “Keindahan suatu lukisan karena perbedaan dan keseimbangan warna di dalamnya” ini sebuah ungkapan yang sesuai untuk mewakili bangsa Indonesia. Bangsa besar dengan Pancasila sebagai asas pemerintahannya. Pancasila dengan asas Bhineka Tunggal Ika mengajarkan pada generasi muda untuk menjunjung tinggi perbedaan. Perbedaan adalah sumber kekuatan untuk melawan beragam bentuk penjajahan dan musuh bangsa, baik musuh internal maupun eksternal. Dengan perbedaan suku, budaya, adat dan kebiasaan menjadikan beragamnya sudut pandang anak bangsa untuk melawan propaganda musuh yang dijalankan melalui media sosial. Salah satu cara praktis yang bisa dilakukan adalah menganalisa berbagai berita di media sosial dari sudut pandang yang berbeda dengan meningkatkan literasi digital. Literasi digital berarti menggunakan media sosial secara bertanggung jawab dan tidak mudah terpengaruh dan menyebarkan berita bohong atau hoax. [9] Manusia yang berakal sehat pasti tidak menyetujui sebuah kebohongan. Apalagi kebohongan yang sengaja diciptakan, diproduksi dan disebarkan untuk kepentingan kelompok tertentu. Pencipta hoax di media sosial memiliki beberapa tujuan dalam menjalankan aksinya, diantara tujuan-tujuan itu adalah:
  1. Menciptakan rasa takut, perselisihan dan instabilitas di tengah masyarakat. [10]
  2. Mengunggulkan kelompok, ormas atau golongan tertentu demi memperoleh pengakuan/eksistensi.
  3. Memperoleh dana atau uang untuk menjalankan agenda-agenda politik tertentu. [11]
  4. Menyesatkan pemahaman masyarakat dengan menghancurkan nama baik individu atau golongan tertentu [12]

Bila setiap WNI mengenal ciri dan karakter berita hoax ini maka masyarakat Indonesia bisa lebih cerdas dan mampu menyaring informasi sebelum mensharingnya. Selanjutnya, keutuhan hidup berbangsa dan bernegara tetap terjaga. Hal ini sesuai dengan tujuan dan makna kalimat kedua sumpah pemuda “Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia”.

3. Menggunakan Bahasa Indonesia sesuai Kepribadian Luhur bangsa Indonesia.

Bahasa pada dasarnya merupakan simbol jati diri penuturnya, begitu pula halnya dengan bahasa Indonesia juga merupakan simbol jati diri bangsa13. Oleh karena itu, bahasa Indonesia harus senantiasa kita jaga, kita lestarikan, dan secara terus-menerus harus kita bina dan kita kembangkan agar tetap dapat memenuhi fungsinya sebagai sarana komunikasi modern yang mampu membedakan bangsa kita dari bangsa-bangsa lain di dunia. Lebih-lebih dalam era global seperti sekarang ini, jati diri suatu bangsa menjadi suatu hal yang amat penting untuk dipertahankan agar bangsa kita tetap dapat menunjukkan keberadaannya di antara bangsa lain di dunia. Dalam konteks media sosial, bahasa memegang peranan sentral dalam proses komunikasi dan interaksi. Beberapa tips praktis penggunaan bahasa Indonesia dalam menangkal pengaruh negatif media sosial adalah:

  1. Gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai aturan berbahasa.
  2. Menggunakan bahasa Indonesia dengan santun serta sesuai dengan kepribadian dan jati diri bangsa.
  3. Menggunakan akal sehat ketika membuat, mengolah dan menyaring informasi yang didapatkan dari sumber yang otentik.
  4. Menghindarkan diri dari penggunaan umpatan, hinaan, kosa kata negatif yang ditujukan untuk kelompok, individu atau organisasi tertentu.

Inilah hakikat praktis kalimat ketiga dalam sumpah pemuda “Kami Putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia” di era bermedia sosial. Dengan memahami seluruh hakikat sumpah pemuda diatas, niscaya bangsa Indonesia pasti mencapai kemerdekaan dalam bermedia sosial sekaligus merawat persatuan dan kesatuan. Jayalah NKRI!

Catatan Kaki:

1. https://kbbi.web.id/jajah diakses 17 Oktober 2018

2. https://www.academia.edu/7007278/Globalisasi_ekonomi_Kapitalisme_Global, diakses 19 Oktober 2018

3. http://aceh.tribunnews.com/2018/03/28/mewaspadai-penjajahan-baru-media, diakses 19 OKtober 2018

 4. https://geotimes.co.id/opini/media-sosial-dan-ancaman-kebhinnekaan-kita/ , diakses 17 Oktober 2018

5. Ibid

6. https://tekno.kompas.com/read/2018/02/22/16453177/berapa-jumlah-pengguna-internet-indonesia, diakses 18 Oktober 2018

7. https://www.merdeka.com/peristiwa/panglima-tni-ingatkan-penjajahan-gaya-baru-gunakan-media-sosial.html, daikses 12 Oktober 2018

8. https://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia#Bahasa, diakses 18 Oktober 2018

9. https://indeks.kompas.com/tag/literasi-digital, diakses 19 Oktober 2018

10. http://www.tribunnews.com/tag/berita-bohong?url=nasional/2018/10/15/berita-bohong-dapat-ganggu- stabilitas-nasional, diakses 19 Oktober 2018

11. http://www.tribunnews.com/nasional/2017/01/21/tujuan-penyebaran-berita-hoax-adalah-politis, diakses 19 Oktober 2018

12. http://www.tribunnews.com/nasional/2018/02/21/polisi-ungkap-sepak-terjang-2-kelompok-penyebar-berita- bohong-yang-kerap-menyesatkan-masyarakat, Diakses 19 Oktober 2018

13. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/bahasa-sebagai-jati-diri-bangsa-0, diakses 19 oktober 2018

Moh. Zaki Amami

[Kadep. SDM dan Kelembagaan IPI Iran 2018-2019]