KBRI Tehran Gelar Obrolan Santai untuk Peringati Hari Ibu

KBRI Tehran Gelar Obrolan Santai untuk Peringati Hari Ibu

Bertempat di ruang serbaguna KBRI Tehran, sejumlah pejabat-staff KBRI, pelajar dan diaspora Indonesia asyik menikmati pemaparan tiga orang pemantik diskusi memperingati Hari Ibu bertajuk “Dari Perempuan untuk Perempuan”, Sabtu (21/12) yang diselenggarakan oleh KBRI Tehran. Ketiga pembicara yang kesemua dari kaum ibu tersebut saling bergiliran menyampaikan pemaparannya. Dimulai oleh Afifah Ahmad, perempuan penulis yang menceritakan tiga kisah dari perempuan inspiratif dan dorongannya agar kaum laki-laki bisa memberikan keleluasan ruang untuk kaum perempuan berekspresi dan mengembangkan kreatifitasnya. Kemudian dilanjutkan oleh Hj. Ani Surya, MPd yang berbagi pengalaman dengan profesinya sebagai guru selama 40 tahun di Jambi dan Jakarta disamping tugasnya sebagai ibu yang tidak ditinggalkannya. 

Sebagai pembicara terakhir, Haryati SPd mengawali pembicaraannya dengan menceritakan peristiwa yang melatarbelakangi ditetapkannya 22 Desember sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno. Menurutnya memperingati Hari Ibu tidak cukup hanya dengan seremonial saja, namun juga harus ada refleksi yang dilakukan kaum Ibu, diantaranya adalah dengan mengadakan diskusi dan kajian khusus memperingati Hari Ibu. “Kita sangat berterimakasih pada KBRI Tehran yang berinisiatif dan menyelenggarakan obrolan santai sore ini, sehingga untuk pertama kali tahun ini kita tidak hanya memperingati Hari Ibu dengan acara seremonial saja, tapi dibarengkan dengan dialog dan sharing untuk sesama ibu bisa saling mendukung dan saling menguatkan dalam menjalankan peran sebagai ibu.” Ungkapnya. 

Lebih lanjut, anggota Dep. Pengawasan dan Kontrol Internal IPI Iran 2019-2021 tersebut memaparkan alasan dibalik ditetapkannya 22 Desember sebagai Hari Ibu. Ia berkata, “Kaum Ibu terinspirasi dari Sumpah Pemuda yang dicetuskan 28 Oktober 1928 oleh kaum muda, dengan juga ingin memberikan kontribusi dalam upaya meraih kemerdekaan Indonesia. Hanya berselang dua bulan di tahun yang sama, 30 organisasi perempuan mengadakan Kongres Perempuan I di Yogyakarta. Mereka berkumpul untuk menyamakan visi misi bagaimana memajukan perempuan, yang juga berarti adalah juga kemajuan untuk bangsa.”

“Dari sini kita melihat, bahwa semangat kaum Ibu untuk memikirkan nasib bangsa sudah ada dari dulu. Pandangan mengenai Ibu atau istri yang kerap diidentikkan hanya di dapur, kasur dan sumur didobrak oleh kaum ibu masa itu dengan juga berbicara politik. Politik yang dilakukan ibu-ibu di zaman itu adalah anti kolonialisme dan penggeloraan semangat nasionalisme.” Tambahnya. 

Mahasiswi Jamiat-u al-Zahra Qom tersebut lebih lanjut mengatakan, “Kecerdasan berpolitik kaum Ibu dimasa itu bisa kita nilai dari cara mereka memilih nama organisasi. Mereka Membuat organisasi dengan nama Persatuan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII). Mereka sengaja menggunakan istilah istri untuk mengelabui Belanda agar tidak dicurigai. Istilah istri saat itu identik untuk kaum perempuan yang hanya mengurusi domestik rumah tangga saja. Dengan itu, gerakan-gerakan politik yang mereka lakukan tidak mendapat kecurigaan.”

Di bagian lain penyampaiannya, anggota Badan Penasehat Aliansi Keputrian Timur Tengah Afrika 2019-2020 tersebut menyebut perempuan bisa berkarir baik di ruang publik maupun dalam rumah tangga, yang menurutnya sangat sulit untuk dilakukan laki-laki yang lebih sering hanya mampu meniti karir di luar rumah. Ia berkata, “Menjadi ibu rumah tangga adalah karir yang luar biasa. Kalau seumpama menjadi guru, guru lebih mudah dari menjadi ibu rumah tangga. Guru ada masa pensiun. sementara ibu rumah tangga tidak ada masa pensiunnya. Ini adalah karir yang tinggi, karena juga dari Allah swt.”

“Karena itu saya bangga, ibu-ibu ada disini memperingati hari ibu, untuk meneruskan apa yang diinginkan para perempuan kita sebelumnya untuk negara kita. Mari memberikan kontribusi sesuai dengan bidang kita masing-masing, jangan sampai negara kita malah mengalami kemunduran. Seorang ibu tidak boleh berhenti belajar. Menyekolahkan anak meskipun itu disekolah favorit bukan berarti ibu bisa lepas tanggungjawab. Justru semakin tinggi tingkat pendidikan anak, justru orangtuanya juga harus mengimbangi. Sekarang revolusi industri 4.0 yang semuanya serba canggih. Jangan sampai ibu karena gaptek, kita tidak bisa mengimbangi dan memahami kecenderungan anak-anak yang dunianya memang berbeda dengan yang dulu kita alami.” Tanbahnya.

“Kalau ingin melihat negara itu maju, maka lihatlah kondisi kaum ibunya. Karena setiap generasi lahir dari ibu. Dari tangan yang welas asih dan pangkuannya lahir generasi yang kelak menentukan masa depan dan nasib suatu bangsa.” Tutupnya.

Obrolan santai memperingati Hari Ibu yang dimoderatori oleh Salsabila Kenangi Urrachman Kadep Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021 tersebut berlangsung mulai dari pukul 15.00 sampai 17.30 waktu setempat. Hadir memberikan sambutan di awal acara, pejabat Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Tehran Tety Mudrika Hayati dan pejabat Fungsi Politik KBRI Tehran Priaji Soelaiman yang mewakili Duta Besar Indonesia untuk Iran Octavinu Alimuddin yang sedang menjalankan ibadah umrah bersama keluarga. 

Atase Pertahanan KBRI Tehran: Bela Negara Harus untuk Kepentingan Indonesia

Atase Pertahanan KBRI Tehran: Bela Negara Harus untuk Kepentingan Indonesia

“Jika diibaratkan sebuah rumah, negara kita didukung oleh empat pilar yang membuat negara kita tetap tegak sampai sekarang. Pilar utama adalah Pancasila, kemudian UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Kemudian ada dua elemen dalam bela negara yaitu ada elemen dasar yang sifatnya statis dan tetap yaitu Pancasila sebagai dasar negara. Kemudian elemen kedua yang sifatnya dinamis yaitu perkembangan lingkungan strategis baik nasional, regional dan internasional.” Hal ini diungkap Atase Pertahanan KBRI Tehran, Kol. Harwin Dicky Wijanarko pada Dialog Kebangsaan Memperingati Hari Bela Negara dengan tema “Membangun Revolusi Mental Menjaga NKRI”, Selasa (17/12) di Auditorium Shahid Sadr Universitas Imam Khomeini Qom Republik Islam Iran. 

Lebih lanjut, perwira TNI AL tersebut menguraikan sejumlah pertempuran yang pernah dilakukan TNI dan laskar rakyat dalam menghadapi musuh seperti Pertempuran Surabaya, Pertempuran Ambarawa, Puputan Margarana, Bandung Lautan Api dan Pertempuran Medan Area. Menurutnya pertempuran-pertempuran tersebut adalah implementasi dari bela negara. Namun tambahnya, pertempuran yang dihadapi sekarang bukan lagi perang fisik sebagaimana yang dialami pejuang di masa mempertahankan kemerdekaan.

Harwin Dicky berkata, “Kita memang saat ini sudah tidak mengalami perang militer, namun sampai sekarang kita masih dalam kondisi perang. Baik perang asimetri, perang cyber kemudian proxyber. Perang ini terjadi tidak secara langsung namun kehancuran yang ditimbulkannya bisa lebih besar. Pada perang ini pihak ketiga tidak akan berhadapan langsung, mereka menggunakan unsur yang berada di dalam sendiri. Yaitu dengan cara membuat gerakan separatis, memecahbelah antar golongan sehingga akan jatuh sendiri. Dari sisi tekhnologi yaitu berupa perang cyber. Masyarakat diprovokasi melalui penyebaran berita-berita hoax. Dan kita saat ini sadar atau tidak berada di tengah-tengah perang ini.”

Atase Pertahanan KBRI Tehran kemudian menegaskan pentingnya bela negara dengan menjelaskan mengenai kerangka dasar bela negara. Menurutnya, kerangka pertama dasar bela negara, adalah amanah Tuhan. “Negara yang kita punyai adalah amanah dari Tuhan, sehingga wajib bagi kita menjaga keutuhannya.” Jelasnya. 

“Yang kedua adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Seorang yang adil dan beradab, menjadi keniscayaan baginya untuk membela negaranya. Yang ketiga adalah persatuan. Tanpa persatuan, gotong royong dan kerjasama kehancuran itu akan terjadi. Dua dasar bela negara lainnya adalah manisfestasi hikmat dan keadilan sosial.” Tambahnya lagi.

Dalam penyampaiannya, Kolonel Harwin Dicky mengungkapkan rasa bangganya dengan mahasiswa Indonesia di Iran. Menurutnya Iran adalah negara yang harmonis dan kerukunan beragama terjalin dengan baik. Iapun meminta agar mahasiswa Indonesia di Iran bisa mempelajari kerukunan beragama tersebut untuk bisa diimplementasikan di Indonesia. “Kami bangga dengan saudara-saudara sekalian yang belajar di negara Iran dengan bermacam-macam paham namun ternyata disini kerukunan beragama sangat menjadi pembelajaran buat kita. Bahkan dari Kementerian Agama RI juga datang disini secara langsung meliput dan meneliti mengenai keharmonisan tersebut. Awalnya Iran itu bagi kami kesannya cenderung negatif, ternyata ketika berada disini, ternyata disini tempatnya belajar tentang kerukunan beragama. Kesan-kesan negatif itu muncul akibat propaganda pihak-pihak asing yang dari dulu berupaya menghambat kemajuan Iran.”

“Namun perlu kami tekankan, bela negara itu untuk kepentingan Indonesia. Dimanapun kita berada, bela negara untuk kepentingan Indonesia. Kami dulu waktu bertugas di Liberia, di Sudan dan sekarang di Iran, adalah untuk kepentingan Indonesia. Buat saudara-saudara yang sementara di Iran, ingatlah apapun yang anda lakukan adalah untuk kepentingan Indonesia bukan untuk kepentingan negara dimana kita berada. Seperti bela negara yang terjadi di Iran itu adalah tanggungjawab warga Iran.  Tugas kita adalah memperhatikan dan mencermati perkembangan global dalam dan luar negeri, sehingga akan menjadi penguat wawasan kebangsaan. Tugas kita adalah memberikan kontribusi nyata untuk Indonesia dari negeri perantauan serta mampu memberikan output untuk NKRI dalam menyatukan keragaman. Apa yang kita dapat disini, outputnya untuk kepentingan negara kita. Kita tunjukkan kita membela negara dari sini dan tetap punya kepedulian atas nasib bangsa.” Pesannya.  

Pada bagian akhir penyampaiannya, Atase Pertahanan KBRI Tehran tersebut juga mengingatkan untuk menjaga semangat nasionalisme dalam rangka bela negara. Pesannya, meski tinggal di negara lain namun culture, karakter dan watak selaku WNI tetap harus dipertahankan. “Meski kita lama di negara orang, jangan sampai merubah karakter kita. Jangan sampai terjadi gesekan sesama WNI sendiri. Kita berada di negara asing kultur kita tetap kultur Indonesia. Ajarkan budaya Indonesia pada anak-anak meski terlahir di Iran. Dan yang penting, apapun profesi kita, bela negara harus menjadi karakter dan mental kita.” Tutupnya. 

Kol. Harwin Dicky Wijanarko adalah salah satu narasumber dalam Dialog Kebangsaan Memperingati Hari Bela Negara oleh KBRI Tehran yang berlangsung dari pukul 18.30 sampai 22.00 waktu setempat. Tampil juga sebagai narasumber Diplomat KBRI Tehran Fungsi Politik Priaji Soelaiman, perwakilan akademisi dan praktisi Iran masing-masing DR. Yahya Jahangiri, Prof. Muhammad Zargari dan Mustafa Nazarikia dan perwakilan dari mahasiswa Indonesia, Ali Zainal Abidin MA dan Kamaruddin  MA. Kegiatan KBRI Tehran ini diawali oleh sambutan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Iran merangkap Turkmenistan Octavino Alimudin sekaligus sebagai keynote speaker dan membuka acara secara resmi. Dialog yang dihadiri kurang lebih 70 peserta dari mahasiswa dan diaspora ini berlangsung atas kerjasama KBRI Tehran dengan Universitas Internasional Almustafa Iran dan dua organisasi pelajar Indonesia di Iran, Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) dan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran.

Duta Besar KBRI Tehran: Penting untuk Belajar Bela Negara dari Iran

Duta Besar KBRI Tehran: Penting untuk Belajar Bela Negara dari Iran

Bertempat di Auditorium Shahid Sadr Universitas Imam Khomeini Qom Republik Islam Iran, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tehran menggelar Dialog Kebangsaan Memperingati Hari Bela Negara dengan tema “Membangun Revolusi Mental Menjaga NKRI”, Selasa (17/12). Hadir Kepala Duta Besar Indonesia untuk Iran merangkap Turkmenistan Octavino Alimuddin sebagai keynote speaker sekaligus membuka acara dialog secara resmi. 

Dalam pemaparannya, Dubes Octavino menyebutkan Hari Bela Negara dilandasi peristiwa tahun 1948 yang saat itu Indonesia dalam keadaan genting. Ia berkata, “Tahun 1948 saat itu kita nyaris diambang perpecahan. Kita nyaris kembali lagi menjadi negara jajahan. Saat itu kemerdekaan kita pertahankan dengan memindahkan ibukota supaya tidak terjadi kevakuman. Saat ini kita lihat ibukota juga hendak dipindahkan, tapi kita bukan karena dalam keadaan gawat, melainkan untuk memberi ruang lebih luas kepada aparatur sipil negara untuk lebih berkarya dan memberi tempat yang yang lebih kondusif.”

“Jadi tantangannya sudah berbeda namun kita tetap mengingat ada unsur bela negara. Rujukan bela negara jelas, pasal 30 UUD 1945 bahwa setiap warga negara berhak dalam usaha pertahanan keamanan. Di pasal 27 amandamen 3 secara khusus menyangkut kewajiban bela negara. Dengan adanya dua landasan hukum ini, bela negara tidak hanya berkaitan dengan upaya pertahanan keamanan, tapi juga dalam konteks yang lebih luas, sesuai dengan bidang masing-masing warga negara.” Lanjutnya. 

Lebih lanjut, Octavino Alimuddin menganjurkan agar warga negara Indonesia di Iran bisa belajar dari masyarakat Iran mengenai cara mereka melakukan bela negara. Ia berkata, “Iran 40 tahun sejak berdirinya, tidak satu tahunpun yang mereka lewati tanpa ada ancaman terhadap keutuhan wilayahnya. Kalau kita lihat, tahun 1978 diawali dengan jatuhnya rezim Syah Pahlevi kemudian 1979 secara resmi berdiri Republik Islam Iran dan sejak itu mulai tahun 1980 sampai 1988 terjadi perang Irak-Iran dan selanjutnya tidak ada hentinya keamanan Iran berada dalam ancaman.”

“Kita bisa belajar banyak dari Iran, bagaimana mereka membela negaranya. Pertanyaannya apakah bela negara yang dilakukan rakyat Iran semua dari militer?. Tidak, upaya bela negara juga berasal dari semua lapisan masyarakat mulai dari pelajar sampai ulama. Semua golongan dilibatkan dalam usaha bela negara sesuai dengan bidangnya masing-masing.” Tambahnya. 

“Sebagai perbandingan dengan Indonesia, apakah kita memiliki ancaman yang sama sebagaimana yang dihadapi Iran? Kalau dilihat dari wilayah Indonesia di kawasan Asia Tenggara, mungkin tidak sebanyak konfliknya di kawasan Timur Tengah, di Indonesia masuknya kekuatan asing mungkin lebih sedikit resikonya, namun kita juga memiliki ancaman yang tidak kalah pentingnya. Diantaranya masuknya ancaman-ancaman ideologi. Dulu kita bicaranya komunisme, sekarang radikalisme, dari ekstrim kiri ke ekstrim kanan. Begitupun ancaman yang bersumber dari isu SARA. Ini adalah semua masalah kita. Di alam demokrasi yang menjamin kebebasan berpendapat, ini masalah akan selalu muncul. Dan menjadi tantangan yang kita hadapi. Begitu juga ada ancaman dari luar. Ada ancaman dari utara yaitu RRT ataupun dari selatan yaitu Australia. Indonesia itu persimpangan antara kekuatan barat dan timur. Akan selalu ada tantangan dari luar. Bagaimana kita menyikapi secara konkrit. Apakah kita berpangku tangan melihat kondisi adanya gerakan-gerakan yang selalu berupaya mendorong adanya perpecahan, yang hanya akan meretakkan kesatuan kita. Kita melihat ancaman perang mungkin tidak ada, namun di satu sisi kekuatan militer tetap diperlukan untuk menjaga kesatuan, di sisi lain kita tetap harus memiliki mental sebagai negara, dengan tetap punya semangat untuk menjaga keutuhan negara ditengah-tengah banyaknya pihak yang menginginkan Indonesia berpecah.” 

Dibagian akhir penyampaiannya, Dubes KBRI Tehran menyampaikan pelibatan Indonesia dalam organisasi-organisasi internasional dan perannya dalam upaya perdamaian dunia menunjukkan Indonesia negara yang dipandang penting dalam kancah pergaulan internasional. Ia berharap bersama Iran, Indonesia bisa bersama-sama menciptakan dunia yang lebih damai. “Sekali lagi kita bisa belajar banyak dari Iran terutama dalam upaya mencegah masuknya ancaman militer asing. Kita lihat mereka mampu mendeteksi drone mata-mata musuh dan itu bisa dijatuhkan hanya dengan satu peluru. Dari segi ideologi, kita punya Pancasila dan Iran punya ajaran-ajaran Imam Khomeini, apakah kedua ideologi bisa dipadankan untuk bersama-sama menjadikan dunia menjadi lebih damai dan negara kita menjadi lebih kuat?. Ini sangat penting untuk kita diskusikan dan bicarakan bersama.” Tutupnya.

Dialog Kebangsaan Memperingati Hari Bela Negara yang dihadiri kurang lebih 70 mahasiswa dan WNI tersebut menghadirkan tujuh narasumber, yang terdiri dari Atase Pertahanan KBRI Tehran Kol. Harwin Dicky Wijanarko, Diplomat KBRI Tehran Fungsi Politik Priaji Soelaiman, perwakilan akademisi dan praktisi Iran masing-masing DR. Yahya Jahangiri, Prof. Muhammad Zargari dan Mustafa Nazarikia dan perwakilan dari mahasiswa Indonesia, Ali Zainal Abidin MA dan Kamaruddin  MA serta Abdul Latif MA sebagai moderator. Kegiatan KBRI Tehran ini berlangsung atas kerjasama dengan Universitas Internasional Almustafa Iran dengan dua organisasi pelajar Indonesia di Iran, Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) dan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran.

Pahlawan Sepanjang Masa

Pahlawan Sepanjang Masa

Pah.la.wan

orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Begitu tertulis di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Beberapa ratus tahun yang lalu saat tanah ibu pertiwi tejadi pertumpahan, rakyat berjiwa nasional dengan gagah berani maju melawan penjajah. Sementara, rakyat lain memilih bersembunyi, mengamankan diri dari letusan dan bom-bom yang haus akan darah. Kemudian, mulai bermunculan harapan-harapan supaya mimpi buruk tersebut menghilang setelah terbangun di pagi hari. Sebagian yang lain merapat ke pihak lawan, alih-alih mencuri strategi lalu membagikan kepada kawan, malah membelot dengan sendirinya atas seribu macam alasan yang hanya mengatasnamakan kenyamanan pribadi. Tatkala peperangan telah usai, semua orang berteriak kepada rakyat berjiwa nasional itu “pahlawaaannn!!!!!!” entah yang gugur atau yang masih bertahan hidup bersama sisa-sia perjuangan yang menempel di tubuhnya.

         Konon katanya perang yang sesungguhnya adalah perang melawan diri sendiri.

Kini perang pun sudah tidak lagi ada di atas tanah ibu pertiwi, arti pahlawan itu bergeser, adalah semua orang yang memiliki jiwa membela, menegakkan dan mempertahankan kebenaran sejati. Tapi kebenaran yang mereka junjung itu bukan kebenaran yang hanya menurut mereka benar dan menganggap orang lain salah apalagi membenarkan sesuatu yang memang salah.

bukan lagi orang yang mengangkat senjata, membunuh lawan, adanya ledakan bom, suara-suara helikopter atau tank baja menderu melancarkan peluru, miris yang terjadi.

Aku selalu senang memperhatikan keadaan sekitar, hati terasa tenang tatkala melihat bagaimana harmoni kehidupan menyenandungkan kisahnya. Sungguh, jika kita mau melihat barang sejenak. Membuang segala tetek bengek bernama kemewahan, banyak sekali hal yang bisa dipelajari dari Sang kehidupan.

Senja mulai menyapa, kulihat seorang bapak dengan gerobak baksonya berpeluh tanpa kesah terus mendorong gerobaknya. Gerobak tersebut berhenti di sebuah tanah lapang dimana anak-anak sd bermain sepakbola. Dalam sekejap, bapak dan gerobaknya sudah dikerubungi bak semut berebutan gula. Senyum tersungging dari bibir tipis bapak itu, menggumamkan syukur sembari melayani pelanggan-pelanggan kecil yang heboh berteriak minta didahulukan.

Tak jauh dari tanah lapang tersebut, ada sebuah mushola kecil yang selalu dipenuhi suara anak-anak belajar mengaji. Ustazah yang selalu sabar mengajari apabila ada pelafalan yang salah. Mushola itu penuh dengan anak-anak yang ingin menunjukkan bahwa mereka mampu membaca dengan baik. Ustazah tersenyum mengucap hamdalah melihat gayung yang bersambut itu.

Dari seberang jalan terlihat seorang gadis yang tampak gelisah menunggu, yang kemudian segera terlonjak setelah melihat yang ditunggu datang. Gadis itu menggandeng seorang ibu berperut besar. Ibu tersebut tersenyum kecil menyambut uluran tangan si gadis. Tampak tongkat di tangan kirinya. Keduanya berjalan beriringan, sesekali si gadis mengingatkan apabila ada aral di setapak yang mereka lalui.

Deru mesin terdengar, sang pengendara memberhentikan motornya di depan sebuah rumah. Setelah membuka helm dan mengambil pesanan dari pelanggan. Pria itu memencet bel, terlihat sedikit interaksi dan selembar ribuan yang diselipkan diantara tangan. Mulanya pria tersebut menggeleng namun ibu tersebut bersikeras, sambil membungkuk dan mengucap terimakasih pria itu pamit. Sebelum kembali berkendara, pria tersebut menengadah ke arah langit dan berdoa pelan.

Aku menatap takjub, puas dengan pengamatanku sore itu. Sambil menenteng beberapa barang di tangan, aku kembali ke studio. Ada banyak persiapan untuk hari esok. Tanganku sibuk bekerja sambil memutar apa saja yang kulihat. Tengah malam ketika aku merampungkan sapuan terakhir.

Pelajaran sore itu mengajarkanku banyak hal, bahwa kata pahlawan tidak lagi hanya berkaitan dengan orang yang menenteng senjata, menembakkan bedhilnya di tangan, badan yang berlumuran darah dengan bendera yang masih tegak berdiri. Semua definisi tersebut sudah mulai bergeser. Pahlawan dapat diartikan sebagai orang yang peduli dengan orang lain, kesadaran untuk tolong menolong, punya keberanian untuk membela kebenaran, melindungi kaum yang tertindas. Dalam lingkup yang lebih kecil, pahlawan bisa diartikan ketika diri kita mampu melawan dan mengendalikan hawa nafsu. Pahlawan itu, bisa jadi ibu, ayah, guru, teman atau orang lain yang tidak dikenal, bahkan dirimu sendiri adalah pahlawan. 

salsa,dian

Departemen kajian dan intelektual IPI Iran 2019-2021

Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA: Sunni dan Syiah di Iran Hidup secara Harmonis

Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA: Sunni dan Syiah di Iran Hidup secara Harmonis

“Di Hari Santri Nasional ini, kita ucapkan selamat kepada para santri. Sudah menjadi kepatutan juga untuk kita mendoakan para pejuang-pejuang pesantren yang telah kembali ke rahmatullah. Mari kita membacakan Alfatihah, kepada mereka yang telah mempersembahkan jasa besar bagi negara maupun agama.” Ungkap Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA mengawali pembicaraannya dalam acara diskusi Hari Santri Nasional 2019 yang diselenggarakan oleh IPI Iran bekerjasama dengan Gusdurian Tehran pada Selasa (22/10). 

Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar tersebut lebih lanjut mengatakan, “Pesantren dan santri adalah ciri khas Indonesia yang tidak ditemukan negara lain. Kata santri bukan berasal dari bahasa Arab apalagi Persia, tapi dari ajaran umat Hindu dalam melaksanakan pendidikan agama. Ada lima ciri khas dari pesantren Islam Indonesia. Yaitu, ada santri, ada kyai yang tinggal bersama santrinya, ada pondok, ada masjid sebagai tempat mengaji selain ruangan belajar dan ada kitab kuning.”

“Keberadaan pesantren di Indonesia telah dirasakan besar manfaatnya. Misalnya disuatu wilayah yang sebelumnya dipenuhi aktivitas maksiat dan kejahatan dengan kemudian di tempat tersebut didirikan pesantren, wilayah tersebut akan berubah menjadi daerah yang religius. Di Jombang misalnya. Menurut informasi sebelumnya di Jombang adalah sarang kemaksiatan, namun sekarang dikenal sangat religius dan disucikan setelah didirikan pesantren di daerah tersebut.” Lanjut Wakil Rais PW NU Sul-Sel tersebut. 

“Mengapa pesantren dirasakan manfaatnya oleh masyarakat? karena fungsi pesantren adalah mendidik santri, selain dimensi intelektual juga akhlak dan karakter. Fungsi kedua adalah mendakwahkan ajaran agama dan yang ketiga adalah memperbaiki masyarakat.” Tambahnya lagi. 

“Salah satu ciri Islam Indonesia adalah datang dengan damai. Islam datang ke Nusantara tidak dengan senjata tetapi melalui dakwah muballigh dan pedagang. Islam yang didakwahkan diterima masyarakat setempat karena tidak dengan membabibuta menabrak tradisi-tradisi yang telah lama berlaku di masyarakat yang terpengaruh tradisi Hindu dan Budha. Melainkan tradisi-tradisi yang bisa diadaptasi akan dikembangkan, diperbaiki dan dilengkapi. Jadi dalam perkembangan agama di Indonesia ada kesinambungan. berlangsung secara damai, sebelum masuk Islam sudah ada Hindu dan Budha, dan itu berkembang secara damai. Begitupun kehadiran Konghucu dan Kristen pun datang dengan damai.” Papar pakar sejarah Islam tersebut. 

“Itulah mengapa ulama-ulama kita tidak mempersoalkan ketika harus mengadaptasi tradisi nyantri milik umat Hindu ke dalam sistem pendidikan Islam. Pesantren sebagai lembaga tradisional yang mengembangkan Islam di Indonesia kemudian menjadi motor berkembangnya Islam yang damai dan sejuk.” Lanjutnya. 

Mantan Pembantu Rektor UIN Alauddin Makassar tersebut lebih lanjut menguraikan bahwa santri sangat berpotensi menjadi agen dan juru damai karena dalam tradisi pesantren dikembangkan sikap menghormati kyai. Penghormatan pada guru dengan sendirinya akan menciptakan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat. Menurutnya selain memberi penghormatan pada guru atau kyai, pada santri juga ditanamkan sikap menghormati pandangan yang berbeda.

“Dengan santri belajar dan mengenal ushul dan juga dibekali ilmu mantik, santri jadi tidak mudah terprovokasi membenci suatu kelompok hanya karena berbeda pandangan keagamaan. Mengapa ada mazhab-mazhab yang berbeda, itu karena ada perbedaan tempat, waktu dan kondisi. Misalnya Imam Malik yang tinggal di Madinah, lebih tekstual karena dengan berada di Madinah, banyak riwayat dan hadis yang ditemukan, sementara Imam Abu Hanifah yang menetap di Bagdad yang karena kurang pasokan riwayat sehingga fatwa dan hasil ijtihadnya lebih kontekstual. Semakin luas wawasan, maka akan fleksibel dalam menyikapi perbedaan, dan lebih bisa bersikap toleran karena mengetahui sumber perbedaan itu dalam ilmu ushul.” Jelasnya mendetail. 

Ketua Umum Forum Kerukunan Umat Beragama Sulawesi Selatan tersebut menyayangkan merebaknya paham-paham radikalisme yang muncul. Menurutnya itu lahir dari wawasan yang sempit. “Mereka yang terpapar radikalisme kebanyakan tidak mengetahui sumber-sumber perbedaan pendapat. Yang mereka ketahui dan pelajari hanya satu pendapat saja, sehingga menihilkan pendapat-pendapat yang lain.” Ungkapnya. 

“Munculnya radikalisme dan takfirisme adalah pengaruh dari luar, bukan bagian dari Islam yang dikembangkan di Indonesia. Takfirisme tidak sesuai dengan tradisi dan budaya Indonesia yang tepa selira terhadap perbedaan. Jumlah kelompok-kelompok takfiri sedikit, namun karena gaungnya besar, kemunculan mereka menjadi berbahaya. Terorisme yang lahir dari takfirisme bukan berasal dari pesantren, kalaupun ada santri yang melakukannya, itu memang berasal dari pesantren yang sengaja didirikan untuk menciptakan mesin-mesin pembunuh.” Tegas Anre Gurutta Rahim Yunus. 

Lebih lanjut, Prof. Rahim Yunus berkata, “Indonesia lahir dari konsep kenegaraan yang tidak melawan dengan konsep yang sudah berkembang sebelumnya. Yang umumnya tidak mau memahami, karena sudah digembleng dengan satu pemahaman. Mereka tidak paham dengan sejarah perbedaan-perbedaan yang ada. Sejarah harus dipelajari dengan baik, sehingga tidak gagap dalam mengenal dan memenuhi kebutuhan masa sekarang.” 

“Solusi yang harus dilakukan adalah, lembaga pendidikan Islam baik dari pesantren sampai perguruan tinggi  harus mengembangkan pendidikan moderasi beragama. Kepada peserta didik harus dibekali ilmu alat sehingga mengetahui proses lahirnya hasil ijtihad. Harus dipahamkan bahwa Indonesia lahir dari kebersamaan. Semua penganut agama berjuang, dan jasa-jasa mereka ada. Sehingga yang harus dikembangkan adalah sikap saling menghargai satu sama lain.” Tambahnya.

Lebih lanjut, akademisi yang keberadaannya di Iran karena mendapat tugas dari Kementerian Agama untuk melakukan riset mengenai toleransi beragama di Timur Tengah, mengatakan, “Di Iran antara Sunni dan Syiah hidup secara harmonis. Dan saya melihatnya langsung. Saya ke Ghurghan dan Mahad Hanafiyah dan berbincang langsung dengan komunitas Sunni yang menceritakan betapa mereka hidup aman, harmonis dan rukun ditengah-tengah masyarakat Syiah.”

“Banyak informasi yang tidak benar mengenai Iran dan Syiah yang beredar di Indonesia. Saya diajak salah seorang dosen Sunni alumni Libiya yang memperlihatkan di perpustakaan-perpustakaan umum, literatur Sunni sangat mudah ditemukan. Tidak ada kebencian dan permusuhan pada Sunni dari rakyat Iran yang Syiah yang selama ini viral diberita-berita. Saya dengan bisa dengan tenang melakukan salat dengan tatacara Sunni NU tanpa ada gangguan dari mereka yang Syiah. Di Ghurghan saya salat dhuhur di salah satu masjid, dan Imamnya Sunni sementara jamaahnya dari Sunni dan Syiah.” Jelasnya. 

Diskusi Hari Santri Nasional 2019 IPI Iran bertempat di ruang seminar Al-Hikmah Institute Universitas Internasional Al-Mustafa Qom Iran. Selain menghadirkan Wakil Rais PW Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA sebagai pembicara juga hadir sebagai pembicara pertama, Mahasiswa kandidat Doktor Filsafat Islam Universitas Internasional Al-Mustafa, Abdul Latif, MA. Hadir sejumlah mahasiswa Indonesia di acara diskusi yang berlangsung dari pukul 14.30 sampai 17.00 waktu setempat tersebut.

Abdul Latif, MA: Tugas Terbesar Santri, Menjamin Nilai-Nilai Keislaman Dirasakan Masyarakat

Abdul Latif, MA: Tugas Terbesar Santri, Menjamin Nilai-Nilai Keislaman Dirasakan Masyarakat

Bekerjasama dengan Gusdurian Tehran, IPI Iran sukses menggelar acara diskusi dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. Bertempat di ruang seminar Al-Hikmah Institute Universitas Internasional Al-Mustafa Qom Iran, diskusi Hari Santri Nasional IPI Iran menghadirkan Wakil Rais PW Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA dan Mahasiswa kandidat Doktor Filsafat Islam Universitas Internasional Al-Mustafa, Abdul Latif, MA sebagai pembicara, Selasa (22/10)

Abdul Latif, MA sebagai pembicara pertama, dalam paparan materinya mengutarakan sebelum mengetahui tugas dan tanggungjawab santri, perlu diketahui dulu siapa yang dimaksud santri. 

“Ada kesesuaian antara sebab dan akibat. Sebelum mempelajari sebab kita akan buta pada akibat. Santri dan perdamaian adalah hubungan dan sebab. Jadi yang pertama kita lakukan adalah mengetahui santri itu, tugas dan tanggungjawabnya apa.” Ungkapnya. 

“Santri adalah sosok yang ingin mendalami dan mengkaji ilmu-ilmu suci yang tertera dalam Alquran dan Assunnah, yang karena benar-benar ingin fokus mendalaminya santri belajar pada pondok pesantren dengan bimbingan kyai atau ulama.” tambah alumnus Pondok Pesantren Al-Hadi Pekalongan tersebut. 

Lebih lanjut Abdul Latif menguraikan setidaknya 6 kewajiban santri yang dikutipnya dari pernyataan Ayatullah Sayid Ali Khamanei pada pidato sambutan masuknya tahun ajaran baru di hadapan ribuan santri Hauzah Ilmiah Iran. “Ada 12 pesan dari Ayatullah Sayid Ali Khamanei kepada para santri namun pada kesempatan ini, saya hanya akan menyampaikan 6 pesan saja yang menguraikan tugas terpenting seorang santri karena keterbatasan waktu yang ada

Pertama, memberi pencerahan dan arahan pemikiran agama. Yaitu seorang santri dengan ilmu-ilmu agama yang dipelajarinya secara mendalam, ia harus mampu meluruskan pemikiran ajaran yang salah dan menyimpang dari agama. 

Kedua, santri tidak boleh hanya aktif dalam bidang agama saja, bukan ceramah saja di mimbar-mimbar, namun santri juga harus punya andil untuk bisa menciptakan suasana politik yang adem. Santri berkewajiban mengenalkan pada masyarakat, mana kawan mana lawan. Bukan hanya hafal Alfiah saja, hanya sharaf saja, tapi mampu memberi pencerahan dalam semua dimensi kehidupan.

Ketiga, santri harus hadir di tengah-tengah masyarakat, harus peka kepada sosial, harus mampu melihat apa yang sedang dihadapi masyarakat. Tidak hanya menghafal Alquran dan Hadis saja, melainkan bagaimana ia dengan ilmu yang dimiliki mampu mengetahui mana yang dibutuhkan masyarakat.

Keempat, membangun masyarakat yang islami. Tugas terbesar santri adalah menjamin nilai-nilai keislaman harus dirasakan masyarakat. 

Kelima, santri harus mengikuti perkembangan zaman dan harus mampu membaca pemikiran-pemikiran yang berkembang saat ini. Setiap isu miring yang melenceng dan menyimpang dari Islam, santri harus sigap memberikan bantahan. Karenanya santri harus bisa turut aktif di media sosial. Sebab di dunia maya saat ini, penyesatan, penyelewengan terhadap aqidah dan ajaran-ajaran islam yang murni sangat massif dilakukan, dalam hal ini santri harus membenahi. 

Keenam, santri bertugas untuk menjaga aqidah masyarakat dengan cara yang terbaik. Ketika ingin membenahi aqidah masyarakat, harus memahami terlebih dahulu budaya dalam masyarakat, secara garis besarnya perlu mengetahui medan. Metode yang kerapkali diajarkan belum tentu dapat diterapkan. Karenanya, bagaimana kita menggunakan budaya lokal, untuk mentransfer yang kita ilmui. Bagaimana menjelaskan materi yang rumit dengan contoh yang gamblang sehingga mudah dipahami dan diterapkan masyarakat.”

Seusai mahasiswa Filsafat Islam Universitas Internasional Al-Mustafa Iran tersebut menguraikan materinya, Guru Besar UIN Alauddin Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA menyampaikan materinya. Hadir sejumlah mahasiswa Indonesia dalam diskusi yang berlangsung kurang lebih 2,5 jam tersebut.