Keceriaan Hari Lebaran bersama KBRI Tehran

Keceriaan Hari Lebaran bersama KBRI Tehran

Meski jauh dari tanah air, dari kampung halaman dan jauh dari orangtua dan sanak saudara, sejumlah pelajar Indonesia di Iran tetap  semarak merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama dengan Pejabat KBRI dan WNI lainnya. Bertempat di halaman belakang Wisma Duta KBRI untuk Iran, KBRI Tehran menggelar salat Idul Fitri pada Rabu (5/5). Kesemarakan perayaan Idul Fitri bertambah dengan kehadiran sejumlah warga muslim dari negara-negara sahabat seperti dari Turki, beberapa negara di Afrika, UEA, Pakistan, Palestina, Mesir dan lain-lain, baik dari Duta Besar, diplomat dan warga biasa dari masing-masing negara sahabat tersebut.

Bertindak sebagai imam salat, Muhammad Nasrullah Hanafiiyah, Presiden IPI Iran 2017-2018. Sementara Muhammad Hilal Zain didaulat sebagai khatib dalam penyelenggaraan salat Idul Fitri tersebut. 

Mahasiswa S1 fikih Universitas Internasional Al-Mustafa cabang Esfahan tersebut dalam khutbah Id nya mengingatkan jamaah agar selalu menjaga ukhuwah Islamiyah dan menjalin tali persaudaraan antar sesama, baik terhadap sesama muslim maupun terhadap non muslim. Dalam lanjutan khutbahnya, mahasiswa asal Jepara tersebut menegaskan puasa dan amalan ibadah yang dilakukan sepanjang bulan Ramadhan sangat memberi efek dan pengaruh besar pada pembentukan pribadi yang berakhlak baik. “Terkikisnya sifat hasad, iri dan dengki kepada sesama manusia adalah diantara capaian-capaian yang harus kita rasakan sehabis menjalankan rangkaian amalan ibadah sepanjang Ramadhan.” Ungkapnya.

Mengaitkan dengan pesta demokrasi yang baru saja berlangsung dengan terselenggaranya Pemilu serentak pada April lalu dengan lancar dan aman, mahasiswa kelahiran 7 Agustus 1995 tersebut mengingatkan untuk menghindari perpecahan. “Namanya juga kontestasi, pasti ada yang menang, ada yang kalah, namun dengan itu, tidak boleh dijadikan alasan untuk berpecah belah. Memanfaatkan momen yang fitri ini, mari kita saling memaafkan . Dan keretakan-keretakan yang sempat muncul akibat dari panjangnya masa kampanye, semoga bisa direkatkan kembali dengan fokus pada pencapaian cita-cita bersama untuk kemajuan bangsa.” Pesannya.

Usai khutbah dibacakan, para jamaah serentak berdiri dan saling bersalaman satu sama lain dengan diiringi salawatan. Prosesi selanjutnya adalah menyantap makanan ala nusantara yang telah dipersiapkan KBRI, menambah suasana penuh kegembiraan terjadi. Acara ditutup dengan sesi foto bersama oleh Dubes, staff, masyarakat dan mahasiswa Indonesia yang berada di Iran. [FD]

 

Kajian Jelang Buka Puasa IPI Iran Peringati Haul Sayidah Khadijah sa

Kajian Jelang Buka Puasa IPI Iran Peringati Haul Sayidah Khadijah sa

Bertempat di Aula Pertemuan Masjid A’zham Haram Sayidah Maksumah sa di kota Qom Republik Islam Iran, Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran kembali menggelar acara buka puasa bersama pada Rabu (15/5). Bertepatan dengan malam ke sepuluh Ramadhan yang dalam literatur sejarah Islam disebutkan merupakan malam wafatnya Sayidah Khadijah al Kubra sa, istri Rasulullah saw kajian jelang buka puasa IPI Iran mengambil tema, “Menuai Hikmah Ramadhan: Belajar dari Ketegaran Sayidah Khadijah sa”. Kajian diantarkan oleh Ustad H. Hendar Yusuf MA.

Diawal penyampaiannya, Ustad Hendar mengatakan, “Empat perempuan yang agung, yang diprioritaskan Allah swt dari semua perempuan yang ada, yaitu Sayidah Maryam, Asiyah istri Firaun, Khadijah binti Khuwailid dan Sayidah Fatimah. Dengan masuknya Sayidah Khadijah dalam list perempuan-perempuan terbaik ini maka ketinggian derajat beliau tidak dapat dipungkiri.” Lebih lanjut, mahasiswa Doktoral program Tafsir Alquran Universitas Internasional al-Mustafa Qom tersebut menguruai alasan dibalik ketinggian derajat Sayidah Khadijah. Ia berkata, “Pertama, cukup bagi Khadijah Kubra satu kemuliaan, di atas kemuliaan sebagaimana yang terungkap dalam satu pernyataan, yaitu ketika Islam tidak akan tangguh di awal penyebarannya, kecuali melalui harta yang dimiliki Khadijah dan pedang Ali as.”

“Dalam ayat ke 8 dari surah ad-Dhuha, dan kami dapati engkau ya Muhammad, sebagai orang tidak memiliki apa-apa, dan kemudian berikan kau kecukupan. Maksudnya disini, Allah swt kemudian memberikan kepada Nabi Muhammad saw yang papa sebuah dukungan finansial, berupa harta dari Sayidah Khadijah. Ini adalah peran yang sangat tinggi.” Tambahnya.  

“Peran kedua, Sayidah Khadijah adalah menjadi pendamping dan pendukung dakwah Nabi Muhammad saw. Ketika Nabi saw pulang dalam keadaan letih, Sayidah Khadijahlah yang kemudian menghilangkan keletihan itu, dengan kecintaan dan perhatiannya. Ialah yang pertama yang masuk Islam, ketika suaminya diangkat menjadi Nabi. Dan tidak cukup dengan itu, ia kerahkan seluruh perhatian, waktu, tenaga dan hartanya untuk membantu Nabi Muhammad saw dalam mendakwahkan Islam yang saat itu mendapat penolakan luar biasa dari penduduk Mekah.” Lanjutnya lagi.

Hendar Yusuf juga menyebutkan sejumlah poin lainnya yang menurutnya membuat Allah swt memberikan keistimewaan luar biasa kepada Sayidah Khadijah. “Diantara keistimewaan yang diberikan Allah adalah, kain kafan yang digunakan untuk membungkus jasad suci Sayidah Khadijah didatangkan dari surga. Ini menunjukkan ketinggian derajat Sayidah Khadijah sebagai balasan dari keistiqamahannya.”  

 

Di bagian akhir penyampaian nya, Ustad Hendar mengingatkan, “Dengan mengenang Sayidah Khadijah, maka kita seharusnya tidak mengeluh atau merasa telah banyak berjasa pada Islam. Sebab apa yang telah kita berikan kepada Islam belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang telah dipersembahkan Ummul Mukminin Sayidah Khadijah sa.” Ia lebih lanjut memesankan, untuk menjadikan Sayidah Khadijah sebagai figur teladan, bukan hanya bagi kaum perempuan, namun juga bagi kaum laki-laki.

Hadir kurang lebih 80 pelajar dan mahasiswa Indonesia dalam acara kajian jelang buka puasa bersama tersebut. Kajian yang diantarkan Ustad H. Hendar Yusuf, MA tersebut juga diikuti  puluhan netizen melalui siaran live di IG @ipiiran. Seusai pengajian, acara dilanjutkan dengan salat maghrib berjamaah dan buka puasa bersama.

Jelang Buka Puasa, IPI Iran Kaji Tips Memaksimalkan Amalan di Bulan Ramadhan

Jelang Buka Puasa, IPI Iran Kaji Tips Memaksimalkan Amalan di Bulan Ramadhan

“Bulan suci Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keutamaan, karena pada bulan ini, kita semua menjadi tamu-tamu Allah. Tentu saja, sejak kita lahir, kita sudah menjadi tamu Allah dan menerima banyak keutamaan yang tidak terhitung jumlahnya setiap harinya, namun ketika memasuki bulan suci Ramadhan rahmat Allah menjadi berlipat ganda, ampunan-Nya dibuka selebar-lebarnya, bahkan pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup bahkan syaitan-syaitan dirantai atau dibelenggu.”

Demikian penyampaian Dr. Marzuki Amin, MA mengawali Kajian Menjelang Buka Puasa yang diadakan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran, Selasa (7/5) di kota Qom, Iran.

Lebih lanjut, alumni Universitas Internasional al-Mustafa Iran yang baru saja menyelesaikan studi S3 nya dibidang Tafsir Alquran tersebut mengatakan, “Bulan Ramadhan juga disebut dengan Syahrul Rabi’ul Qur’an karena Alquran diturunkan pada bulan Ramadhan. Disebut Rabi’ul Qur’an, yaitu bulan seminya Alquran, sebab sebagaimana kita melihat dibanyak negara-negara muslim, dan disetiap tempat yang ada muslimnya, ramai mereka membaca dan mengkaji Alquran, yang pemandangan-pemandangan sesemarak seperti itu tidak kita ketemui diluar bulan Ramadhan.”

“Juga disebut Syahrul Ibadah, yaitu ibadah dibulan Ramadhan ini harus kita tingkatkan baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Dan disebut juga bulan Tarbiyaturruh atau tarbiyatunnafs,atau bulan tazkiyatunnafs, yaitu menjadi kesempatan bagi kita untuk membersihkan jiwa kita. Karena pada bulan ini, kesempatan lebih banyak dan lebih besar dari bulan-bulan lainnya.” Tambahnya lagi.

Lebih lanjut Marzuki Amin menjelaskan mengenai tazkiyah. “Tazkiyah memiliki dua dimensi makna. Yaitu Takhalli,  mengosongkan. Yaitu hati kita kosongkan dari sifat-sifat buruk, seperti hasud, takabur dan sebagainya. Kemudian dimensi lainnya adalah tahalli, menghiasi. Yaitu setelah hati kita kosong dari karakter dan sifat yang buruk, kita mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji. Takhalli dan tahalli ini terkandung dalam kalimat at-Tazkiyah.” Jelasnya.

Terkait bagaimana memaksimalkan amalan agar meraih pahala sebanyak-banyaknya di bulan Ramadhan, Dengan menukil riwayat dari Imam Jakfar Shadiq, Ustad Marzuki mengatakan, “Jika engkau hendak berpuasa, berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu, kulitmu, kakimu, tannganmu dan seluruh anggota tubuhmu, bahkan juga hatimu. Jangan sampai apa yang kau lakukan di bulan Ramahdan sama dengan di hari-hari biasa.”

“Jadi maksudnya, hati, tangan, pendengaran semuanya harus ikut berpuasa. Pendengaran juga harus berpuasa maksudnya menghindarkan diri dari mendengarkan hal-hal yang diharamkan dan yang dimakruhkan. Menahan diri dari melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.” Tambahnya.

Pada bagian lain penyampaiannya, Ustad Marzuki Amin menjelaskan lebih detail mengenai puasa. Ia mengatakan, “Puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Hal yang membatalkan ada dua hal, yaitu yang bersifat materi atau terkait dengan perbuatan anggota tubuh. seperti makan, minum dan jima’. Dan ada pula yang membatalkan yang bersifat maknawiah, yaitu terkait dengan perbuatan hati, contohnya seperti riya. Yaitu melakukan amalan puasanya bukan karena Allah, tapi karena ingin mendapatkan pujian dan sanjungan manusia.”

“Karena itu, untuk dapat terkabulnya suatu amalan, harus memenuhi dua syarat. Yaitu husnul fi’li, yaitu baik perbuatannya. Yang kedua, husnul fa’il, yaitu baik pelakunya.  Husnul fi’li, terkait dengan fikih dan ahkam. Bahwa amalan yang dilakukan harus sesuai dengan syariat, sementara husnul fa’il terkait dengan pelakunya harus baik, misalnya tidak riya. JIka suatu amalan seperti puasa memenuhi husnul fi’li, yaitu puasanya dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan fikih dan memenuhi husnul fa’il, yaitu pelakunya baik dengan memiliki kelurusan niat karena Allah Ta’ala, maka amalan puasanya akan diterima. Namun jika sebaliknya tidak memiliki satu-satunya apalagi keduanya, maka amalan yang dilakukan akan tertolak.” Jelasnya.

“Maka untuk memaksimalkan amalan di bulan Ramadhan untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya maka harus memperhatikan kedua hal tersebut. Karena itu pula dikenal dua syarat dalam ibadah, yaitu syartu shihah, dan syartu qabul. Setiap syartu qabul terpenuhi maka pasti syartu shihah sebelumnya telah terpenuhi, namun tidak semua syartu shihah akan berarti syartu qabul terpenuhi. Syartu shihah adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dikatakan amalan itu sah, seperti berpuasa syaratnya harus dilakukan oleh yang telah baligh, memiliki qudrah (kemampuan), mengilmui hal-hal yang membatalkan puasa dan menghindarinya dan seterusnya. Sementara Syartu qabul, syarat dikabulkan atau diterimanya sebuah amalan, seperti puasa baru diterima jika dilakukan sesuai kaidah fikih dan yang melakukannya niat hanya karena Allah swt.” Jelasnya lebih lanjut.

Dibagian akhir penyampaiannya, ustad Marzuki menyampaikan ada tiga tingkatan berpuasa, yaitu shaumul umum, puasanya orang awam yaitu hanya dapat mengekang syahwat tapi tidak meninggalkan dosa, sekedar mengugurkan kewajiban. Yang kedua, shaumul khusus, puasanya orang khusus, mengekang syahwat sambil meninggalkan maksiat pandangan mata, pendengaran,llisan, kaki, tangan sampai maksiat hati, ini dapat meningkatkan takwa dan dapat mencapai pahala. Dan yang ketiga, Shaumul khususil khusus, yaitu puasanya orang khusus, yaitu dilakukan dengan mengosongkan semua kehendak dan khayalan kecuali zikir kepada Allah.

“Pada tingkatan ketiga ini, sama sekali tidak memikirkan materi. Yang membatalkan puasa bukan makan minum, tapi yang membatalkan adalah ketika ia lalai dari mengingat Allah. Hasil dari puasa ini, kehendaknya ambisinya hanya karena Allah, selain Allah dia tolak semuanya.” Ungkap Ustad Marzuki mengakhiri kajiannya.

Hadir kurang lebih 30 mahasiswa dalam kajian dengan materi “Tips Memaksimalkan Meraih Pahala di Bulan Suci” yang berlangsung selama 45 menit menjelang buka puasa tersebut. Acara yang dimoderatori oleh Sayid Muhammad Mahdi Alatas tersebut juga disiarkan secara live melalui akun instagram @ipiiran. Rangkaian acara selanjutnya adalah buka puasa bersama dan salat maghrib berjamaah. 

Peringati Hardiknas, IPI Iran Gelar Seminar Pendidikan Internasional 2019

Peringati Hardiknas, IPI Iran Gelar Seminar Pendidikan Internasional 2019

Bertempat di Aula Pertemuan Amin Complex kota Qom Republik Islam Iran, Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran bekerjasama dengan KBRI Tehran dan Universitas Internasional al-Mustafa Iran sukses menggelar Seminar Pendidikan Internasional 2019, Kamis (2/5). Seminar yang mengusung tema, “Melacak Relasi antara Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Pendidikan Kewarganegaraan: Pengalaman Indonesia dan Iran” menurut Presiden IPI Iran 2019-2021 Ismail Amin dalam sambutannya adalah untuk mengimbangi berkembangnya paham yang mendikotomikan Islam dengan demokrasi termasuk dengan kewarganegaraan. “Bahwa diantara keduanya tidak bisa diselaraskan. Siapa yang memilih Islam otomoatis tidak bisa bersikap demokratis dan dengan sendirinya harus jadi penentang negara. Dan jika dididik menjadi warga negara yang baik, otomatis harus menjadi penentang dan anti Islam. Itu tidak benar.” Tegasnya.

Mahasiswa pasca sarjana Universitas Internasional al-Mustafa Iran tersebut lebih lanjut mengatakan, “Iran contohnya, dengan pendidikan Islam yang dikembangkan di negara ini, rakyat Iran bisa tetap menjadi warga negara yang baik sembari tetap kuat keberislamannya. Di Indonesiapun sesungguhnya demikian. Sejarah menuliskan Indonesia didirikan oleh tokoh-tokoh yang juga ulama sekaligus pejuang demokrasi. Hal inilah yang harus diluruskan, yang karena itu diperlukan kegiatan-kegiatan seperti ini diselenggarakan.”

Seminar yang terselenggara dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional dan Hari Guru di Iran tersebut dihadiri pembicara oleh guru-guru besar UIN Alauddin Makassar. Diantaranya Ketua Prodi Hukum Islam Pascasarjana, Prof. Dr. H. Kasjim Salenda, MA yang tampil sebagai keynote speaker dan Sekretaris Kopertais Wilayah IX, Prof. Dr. Syarifuddin Ondeng, MA dan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Dr. H. Basihannor, MA sebagai pembicara utama.

Di antara guru-guru besar UIN Alauddin Makassar tersebut tampil pula Duta Besar Indonesia untuk Iran Octavino Alimuddin, Wakil Rektor Universitas Internasional al-Mustafa  Iran Dr. Majid Khaliqpur sebagai keynote speaker dan Deputi Hubungan Internasional Seminari Islam Iran Dr. Sayid Mufid Husaini Kuhsari sebagai pembicara utama. Sementara yang mewakili mahasiswa Indonesia di Iran tampil Muhammad Iqbal Lubis kandidat Ph.D dalam bidang Tafsir Alquran yang mengurai Islam dan demokrasi dalam perspektif Alquran. Para pembicara menyampaikan pandangannya dalam seminar yang dimoderatori Akmal Kamil, MA mengenai urgensi pendidikan Islam dalam pembentukan karakter bangsa dengan menggali pengalaman dari dua negara Muslim besar, Indonesia dan Iran.

Dalam orasinya, Duta Besar Indonesia untuk Iran mengatakan, kehidupan toleransi beragama yang memperkuat persatuan dan kesatuan Indonesia merupakan hasil dari pendidikan dini di sekolah serta pendidikan islam. “Kita harapkan juga pendidikan Islam dapat merespon perkembangan zaman dengan tetap meninggalkan ekstremisme agar keutuhan persatuan Indonesia dapat tetap terjaga,” ujar Octavino.

Octavino juga menekankan, Indonesia dan Iran dapat terus berkolaborasi dalam kerja sama pendidikan, meningkatkan hubungan antaruniversitas di kedua negara, serta melakukan penelitian bersama, berbagi pengetahuan dan pengalaman. Dalam seminar tersebut, Wakil Rektor Universitas Internasional al-Mustafa Dr. Majid Khaliqpur  mengurai pendidikan Islam dan tantangannya menghadapi modernitas. Ia juga menyampaikan berbagai cabang ilmu yang dapat dikembangkan di negara-negara Islam termasuk dalam upaya membendung invasi pemikiran Barat yang menggerus nilai-nilai pendidikan Islam.

Hadir sekitar 80 peserta dari kalangan mahasiswa, dosen dan akademisi dalam seminar yang berlangsung kurang lebih lima jam tersebut. Perlu diketahui 2 Mei tahun ini Iran dan Indonesia memperingati hari besar nasional secara bersamaan,  Hari Guru di Iran untuk mengenang ketokohan Syahid Muthahari dan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia memperingati kelahiran Ki Hajar Dewantara. Syahid Muthahari dan Ki Hajar Dewantara adalah perintis teori-teori pendidikan yang banyak mempengaruhi arah perjalanan masing-masing bangsanya. 2 Mei yang diperingati Indonesia dan Iran menjadi momen yang tepat untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman di bidang pendidikan.

Delegasi Indonesia Harumkan Indonesia di MTQ Internasional Iran

Delegasi Indonesia Harumkan Indonesia di MTQ Internasional Iran

Berlangsung selama 6 hari sejak dibuka Senin (8/4) sampai ditutup Minggu (14/4) Musabaqah Tilawatil Quran Internasional XXXIV di kota Tehran ibukota Republik Islam Iran diikuti oleh 5 delegasi Indonesia untuk berbagai kategori. MTQ yang berlangsung di Mushallah Imam Khomeini Tehran tersebut telah menjadi agenda rutin Pemerintah Republik Islam Iran yang dibawahi oleh Darul Quran Republik Islam Iran.

Adapun Indonesia diwakili oleh Ummu Habibabh Rochim (28) dari Provinsi Jawa Timur, Salman Amrillah (31) dari provinsi Jawa Barat, Muhammad Rifqi Hawari (13) dari Kepulauan Riau, Muhammad Khaerrurozzaq (17) dari Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Sidiq Mulyana dari Provinsi Jawa Barat. Dalam wawancarannya dengan media Iran setempat yang diterjemahkan oleh Firmansyah al-Jibran, Muhammad Rifqi Hawari menuturkan rasa bangganya telah menjadi delegasi Indonesia dalam MTQ Internasional tersebut. “Meskipun ini pengalaman pertama kali saya mengikuti MTQ Internasional tapi saya pribadi percaya diri mampu berkompetisi dengan qari dari berbagai negara. Saya juga merasa nyaman dengan kompetisi ini karena penyelenggaranya sangat ramah dan menyambut kami dengan senang, yang mereka sebut peserta dari negara muslim terbesar di dunia.” Ungkap pelajar asal Kepulauan Riau tersebut.

Sementara Muhammad Khaerrurozzaq  menuturkan pandangannya dengan mengatakan, “MTQ ini bagi saya sangat istimewa karena diselenggarakan di Republik Isla m Iran yang pandangan awal saya merupakan negara misterius karena tertutup dari dunia luar. Awalnya saya bahkan khawatir dan bingung ketika diutus untuk berangkat ke Iran. Namun karena rasa penasaran, membuatku menguatkan diri. Ternyata, melihat langsung Iran dan bukan hanya mengenalnya dari pemberitaan membuatku takjub dengan nuansa Islami Iran. Ternyata Iran tidak sebagaimana yang diisukan selama ini.”

Muhammad Rifqi Hawari dan Muhammad Khaerrurozzaq diantara delegasi Indonesia yang masuk putaran final pada kategori hafizh dan tilawah cabang remaja. Dua anak emas asuhan Ustad Mahadi Rahman yang telah banyak menamatkan qari dan qariah di Kepulauan Riau tersebut, sebelumnya telah meraih berbagai penghargaan MTQ baik ditingkat regional maupun nasional. Pada pengumuman hasil pemenang, pada acara penutupan Minggu (14/4), setelah bersaing dengan hafiz dan qari dari Suriah, Kenya, Iran dan Chad, Muhammad Rifqi Hawari diumumkan berhasil meraih juara 3 kategori tilawah tingkat pelajar.

Pada kategori Fahmil Qur’an tingkat santri, Sidiq Mulyana asal Jawa Barat juga meraih juara 3. Sementara prestasi lebih membanggakan lainnya dipersembahkan Salman Amrillah dengan meraih juara I pada kategori tilawah tingkat dewasa mengalahkan pesaing dari Iran, Irak, Mesir dan Malaysia di putaran final.  Ratusan Qari dan Qariah, Hafiz dan Hafizah dari 83 negara dunia disebutkan berpartisipasi dalam MTQ Internasional ini. Pada acara penutupan turut hadir mantan Menteri Agama RI Prof. Dr. Said Agil Husin Al Munawar yang turut memberi selamat dan penghargaan pada Salman Amrillah yang telah berhasil mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. (JF)

IPI Iran Sukses Gelar MUBES IPI Iran VIII

IPI Iran Sukses Gelar MUBES IPI Iran VIII

Perhelatan akbar Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran MUBES VIII telah berakhir, berjalan lancar dan sukses, Dibuka oleh Kepala Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran bapak Octavino Alimuddin Rabu (20/3) pukul 10.00 seusai memberi sambutan. Turut memberikan sambutan sebelumnya Atase Pertahanan KBRI Tehran Kolonel Marinir Harwin Dicky Wijanarko, Presiden IPI Iran 2018-2019 Muhammad Ghiffari dan Ketua Panitia MUBES Aqilah Zainab. Hadir sekitar 35 peserta MUBES yang berasal dari berbagai wiliyah di Iran seperti dari Tehran, Masyhad, Esfahan, Qom, Larestan, Syiraz dan Kish.

Seusai dibuka oleh DUBES, sarapan dan foto bersama, agenda pertama MUBES yang berlangsung di aula serba guna kantor KBRI Tehran tersebut langsung dimulai dan diawali dengan agenda pembahasan Tata Tertib MUBES IPI Iran VIII yang dipimpin oleh kordinator Stering Commite Kamaruddin Pati. Berlansung alot, pembahasan Tata Tertib menghabiskan waktu dua jam sehingga harus di skorsing untuk istrahat, salat dan makan siang. Usai pembahasan Tata Tertib, kelanjutan MUBES dipimpin oleh Presidium Sidang yang dipilih oleh peserta, Laode Abdul Janat mahasiswa Universitas Ahlulbait Tehran dan Laila Rahma, mahasiswi kedokteran Tehran University of Medical Science.

Agenda berikutnya adalah evaluasi laporan kerja Badan Pengurus Harian IPI Iran periode 2018-2019. Tampil kurang lebih sejam secara bergiliran Presiden IPI Iran Muhammad Ghiffari, Sekretaris Salsabilla Kemangi Ur Rachman, Bendahara M. Alhusaini Ba’bud, Kepala Departemen Kajian Strategis dan Intelektual Ismail Amin, Kepala Departemen HUMAS dan Media Dzikri al-Jihad, Departeman SDM dan Kelembagaan yang diwakili oleh Zainab az-Zahra. Sementara Wapres Behesty Zahra dan Kepala Departemen Pendidikan, Sosial dan Budaya Andi Ahmad Kasyfi yang sedang berada di tanah air hadir secara online via Skype pada agenda ini. Dengan realisasi program kerja mencapai 75%, peserta MUBES menyatakan LPJ Kepengurusan IPI Iran 2018-2019 dinyatakan diterima, setelah sebelumnya sejumlah peserta MUBES menyampaikan saran dan kritikannya.

Agenda-agenda sidang berikutnya tidak kalah alotnya, pembahasan AD/ART, GBHO dan rekomendasi berlangsung sampai pukul 19.00. Ada beberapa pasal yang mengalami amandemen dan perbaikan, diantaranya disepakati MUBES akan dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Agenda sidang selanjutnya dilanjutkan di rumah dinas Atase Pertahanan KBRI Tehran bapak Kolonel Harwin Dicky Wijanarko yang mengundang seluruh peserta MUBES untuk makan malam bersama.

Sebelum menyantap makan malam, Kolonel Harwin sempat berbagi pengalaman saat bertugas di Sudan dan Liberia. Bertugas dikemilteran TNI angkatan laut, ia menceritakan suka duka saat harus menjalankan tugas negara di luar negeri, jauh dari keluarga dan menemukan banyak kebiasaan yang berbeda dengan kehidupan keseharian di tanah air. Pukul 22.00 agenda pembahasan tata tertib dan mekanisme pemilihan Presiden IPI Iran dimulai. Dikarenakan, tidak ada yang mencalonkan diri sebagai calon presiden, maka peserta MUBES mengajukan calonnya masing-masing. Terjaring sejumlah nama diantaranya: Muhammad Ghiffari, Ismail Amin, Laode Abdul Janat, Kamaruddin Pati, Aqilah Zainab, Laila Rahma, Muhammad Jawad, Jodi Firmansyah dan Muhammad Mehdi. Dari kesejumlah nama tersebut, setelah melalui penyeleksian sesuai persyaratan dan menanyakan kesediaan untuk dicalonkan, tersisa dua nama Ismail Amin dan Laode Abdul Janat.

Sebelum dilakukan proses pemilihan, Ismail Amin sempat menyatakan pengunduran diri untuk tidak mengikuti proses pemilihan namun dikarenakan pengunduran dirinya ditolak maka berlangsunglah proses pemilihan Presiden melalui voting. Dari 33 suara, Ismail Amin meraup 21 suara, Abdul Janat 11 suara, dan satu suara tidak sah. Unggul dari Abdul Janat, Ismail Amin dinyatakan menjadi Presiden IPI Iran 2019-2021. Setelah konsideran penetapan MUBES IPI Iran VIII mengenai pengangkatan Presiden IPI Iran dibacakan Laila Rahma, Ismail Amin pun menyampaikan orasi pertamanya. Dalam orasinya, mahasiswa Universitas al-Mustafa Qom tersebut menyatakan melalui kerjasama dan kolaborasi seluruh anggota IPI Iran, ia optimis IPI Iran akan bisa memberi kontribusi lebih baik buat pelajar Indonesia di Iran khususnya, dan masyarakat Indonesia umumnya.

Tepat pukul 1.30 dini hari MUBES IPI Iran VIII dinyatakan selesai dan dilakukan foto bersama yang menutup perhelatan akbar IPI Iran tersebut. Salam kolaborasi 🙂