World Poetry Day – Merangkai Kata dalam Puisi

World Poetry Day – Merangkai Kata dalam Puisi

Banyak hal yang berseliweran dalam pikiran kita namun tidak cukup hanya diungkapkan secara lisan. Sedangkan pikiran atau pun rasa tersebut terasa ganjil apabila hanya dengan berbicara. Masih banyak hal yang belum dapat terungkap karena beragam ihwal. Keberanian yang lenyap seketika sebelum kita sempat mengutarakannya dan ada kemungkinan apa yang kita sampaikan tidak dapat dijangkau dalam waktu, jarak atau pun rasa.

Ada metode lain yang bisa kita gunakan dalam mengungkapkan hal yang tak dapat terungkap yakni melalui tulisan, merangkai kata-kata dalam bait yang terikat oleh irama dan rima menjadi sebuah puisi indah dan penuh makna. Tutur kata dalam puisi mampu mencakup banyak makna, suara hati sarat semantis. Banyak pujangga dunia maupun negeri yang telah menorehkan banyak karya dan puisi mereka yang tetap dinikmati hingga saat ini.

Taman

Chairil Anwar, Maret 1943

Taman punya kita berdua

tak lebar luas, kecil saja

satu tak kehilangan lain dalamnya.

Bagi kau dan aku cukuplah

Taman kembangnya tak berpuluh warna

Padang rumputnya tak berbanding permadani

halus lembut dipijak kaki.

Bagi kita bukan halangan.

Karena

dalam taman punya berdua

Kau kembang, aku kumbang

aku kumbang, kau kembang.

Kecil, penuh surya taman kita

tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini

Taufik Ismail, 1966

Tidak ada pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

Duli Tuanku ?

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus.

Oh Maula-Ku

karya : Yusuf Ali Agustin 

Tak ada gelap…

Tak sekelam jauh darimu

Tak ada terang

Tak secemerlang kasihmu…

Tak ada riang, di relung sukma ku…

Ketika santiranmu, mulai memudar

nan lenyap…

Kau buatku rindu, seraya

Mengobral kesemrungahan ini…

Ku berharap,

Kau tetap menjadi senja…

yang menenggelamkan semua,

termasuk nafas ini…

Kini… yang tersisa…

hanya aroma do’a tawa…

dan semerbak harum air mata… 

Ku mencari suaramu… 

Dalam keterenyuhan, penuh sanjungan…

lalu ku mencari wujudmu… 

Tetapi bukan sekedar celoteh ‘wujud’ yang mereka rundungkan… 

dan amat terus ku mencarimu… 

sehingga kuasa,merangkul

keabadian bersamamu

Oh Maula-Ku

Puisi untuk Dare

karya : sz

Serpihan lara

Inilah ketika cinta tak berpenghujung

Menggurat luka dalam sekeping hati yg kemarin sempat berangan

Membuat langkah lunglai tak bertenaga  

Membuat udara tak lagi terasa dan tatapan hambar tak bertujuan

Haruskah aku teriak merobek malam

Haruskah ku bangunkan setan-setan yg malas menggangu selembar iman

Namamu tak lagi jadi puisi dalam roman ku

Sebaliknya telah menjadi ilalang tajam yang membelah keinginan

Menunggumu rasanya membuang umur yang tersisa

Tapi jauh meninggalkan mu rasanya membuang cerita indah yang telah ada

Inilah dilema cinta yang kini jadi teman setia

Wahai malam, temanilah aku bernyanyi

Wahai udara

Koyaklah hatiku yg telah lantak

Biar sakitku semakin kentara

Matipun sambil memeluk lara

Silaturahim

karya: haidareljihad

Aku Indonesia

Kamu pun Indonesia

Begitu juga mereka, Indonesia

Kita tidak saling mengenal

Namun, di kala itu kita saling

berbagi dan memahami

Tawa-tiwi telah tergambarkan

Sedih patah hati telah terukir di hati

Saat itu, di Amman

Silaturahim itu terjadi saat itu

Silaturahim terikat kuat kala itu

Silaturahim itu menjadikan keluarga yang satu

Dan di Amman-lah

Sekeping hatiku tertinggal

Siapa Kamu

karya : haidareljihad

Tersadar langit begitu biru

Berasa dalam hati ada kamu

Tersentuh angin hari biru

Ternyata hari ini pun ada kamu

Tersedu malu aku merasakanmu

Gundahku hilang, ada kamu

Tidurku tenang, ada kamu

Setiap langkah aku pergi, ada kamu

Susah nikmatku, selalu ada kamu

Ada kamu, aku malu

Tiada kamu, aku rindu

Kamu… Akankah kita bertemu??

Indonesia,Cerdikiawan

Karya : Hamba Allah

Banyak ragam terbilang

Semua bersatu padu katanya

Indonesia memang kuat

Kuat dilawan bangsa sendiri

Bisakah kita tetap mengasihi walau membiru?

Sempatkan tuk pulang ke beranda

Kabarkan kepada siapa saja yang berkuasa

Di tanah air ini

Sebarkan tafsir pluralisme yang hakiki

Indonesia, Cerdikiawan

Menggarungi Jalan Menyatakan Mimpi

Karya : salsa

Kabut yang pekat membungkus suasana

Menutupi jalan menuju mimpi

Aku menengok kebelakang

Sadar bahwa aku telah melangkah sejauh ini

Jalanan penuh bebatuan tajam

Tanjakan terjal

Ditemani hujan es, badai, angin dan kekhawatiran

Setimbun rasa ingin tahu ku mencapai puncak impian

Membuatku lupa rasa sakit diotot ku

Lupa rasa sakit setelah ku tengok sepatu kesayangan hasil tabunganku telah berlubang hingga bisa kulihat ibu jari kaki ku berdarah

Mungkin perjalanan ini butuh istirahat

Ku telaah kehidupan bersama jujurnya kopi yang pahit

Embun itu mereda dan kulihat jalan

Hanya ada satu jalan

Hanya ada satu pilihan

Tetap ku garungi jalan itu menuju nyata nya mimpi

Kamu

Karya : unknown

Sinaran surya, hangat dirimu

Malam yang indah, langit yang megah

Mata yang binar, dihiasi bintang-bintang

Angin yang syahdu, menerbangkanku

Mengantarkan ku padamu puan

Semesta raya, merayakan dirimu

Bersemarak dekat dan penuh

Semoga riuhnya bergemuru di udara

Bertanya-tanyalah kau curiga

Dari mana asal suara

Dari sini, dari aku

Hanya itu

Karya : salsa

Ketika senja mulai menyemburatkan warnanya

Jiwa-jiwa tertunduk merenung atas apa yang sudah ia lakukan

Memikirkan hal apa yang harus mereka berikan untuk sebuah pertanggung jawaban

Langit mulai menyerap pandangan-pandangan

Dan perasaan campur aduk

Yang tak sanggup di ucap oleh bibir

Para makhluk bertekuk lutut

Tersungkur

Terbata-bata mengingat perih

Pada akhirnya, tidak ada yang tersisa

Pada akhirnya, hanya Tuhan lah itu sendiri, dengan kemurnian

Hanya itu untuk mengimani-MU yang tersimpan dalam kalbu

Puisi adalah karya sastra sarat semantik, kamu bisa membacanya berulang-ulang untuk memahami maknanya, bisa jadi ketika pertama kali kamu memembacanya dengan yang kedua kali memiliki arti berbeda. Puisi bisa dimaknai dengan berbeda tergantung ilmu pengetahuan, pengalaman ataupun pola pikir.

SELAMAT HARI PUISI INTERNASIONAL, SELAMAT BERPUISI.

Belajar Nasionalisme dari Iran

Belajar Nasionalisme dari Iran

Imam Khomeini aslinya adalah seorang ulama Islam, namun melalui Republik Islam Iran yang didirikannya, ia bukan hanya membangun rasa cinta rakyat Iran pada Islam namun juga menumbuhkan semangat nasionalisme pada bangsanya. Republik Islam Iran berdiri lebih muda 34 tahun dari Republik Indonesia, namun laju percepatannya baik dari segi pembangunan infrastruktur maupun ketangguhan ekonomi dan tekhnologinya bisa dikatakan menyaingi Indonesia, belum lagi Iran sempat mengalami krisis dahsyat akibat perang 8 tahun menghadapi arogansi Irak dibawah Saddam Husain. 


Di bidang politik, di 40 tahun usianya Iran telah mengalami kematangan yang mencengangkan. Iran diakui kawan maupun lawan, memiliki pengaruh besar di Timur Tengah. Iran bahkan duduk sejajar dengan negara-negara besar Eropa maupun dengan Amerika Serikat dalam penentuan kebijakan-kebijakan internasional. Melalui langkah-langkah diplomasi yang elegan, Iran melenggang di panggung internasional sebagai salah satu kekuatan dunia yang diperhitungkan. 


Kesemua keberhasilan itu, bermula dari kepiawaian Imam Khomeini beserta murid-muridnya meramu Islam sebagai kekuatan pendobrak yang menghancurkan arogansi asing yang mendiktekan kemauannya pada bangsa Iran. Dan menjadi jauh lebih dasyhat setelah dicampurkan dengan semangat nasionalisme yang tinggi. Iran sejak ribuan tahun silam telah dikenal sebagai bangsa yang besar. Diantara bangsa yang memiliki peradaban yang mempengaruhi banyak bangsa-bangsa. Meski telah berubah menjadi negara bersistem Republik Islam dan meninggalkan sistem kekaisaran, nasionalisme bangsa Iran malah semakin menjadi-jadi. Tampak ada kecenderungan yang berbeda dengan yang diyakini sebagian aktivis Islam di Indonesia. Mereka mengkampanyekan Islam dan nasionalisme berada pada kutub yang berbeda sehingga sulit untuk disatukan. 


Iran membuktikan diri, semangat nasionalisme senafas dengan pesan dan prinsip Islam. Kita bisa banyak belajar dari Iran, khususnya metode menumbuhkan semangat patriotisme dan nasionalisme yang sedikit banyak belakangan ini tampak mulai memudar dikalangan generasi muda bangsa. 


Kepatuhan pada Pemimpin


Hal yang menakjubkan dari Iran dan diakui oleh dunia internasional, adalah kepatuhan rakyat pada pemimpinnya. Sejak berdirinya sampai saat ini, musuh-musuh Republik Islam Iran baik dari dalam maupun dari luar telah menjalankan banyak agenda dan melakukan berbagai bentuk propaganda untuk menimbulkan kebencian dan kejenuhan rakyat Iran pada pemimpinnya. Namun kesemua langkah yang telah ditempuh tidak ada yang berhasil. Rakyat Iran bukan hanya patuh, namun benar-benar mencintai bahkan mengidolakan pemimpinnya. Gambar dan foto Ayatullah Ali Khamanei sebagai pemimpin tertinggi di Iran saat ini bukan hanya terpasang di kantor-kantor, sekolah dan instansi-instansi pemerintahan namun juga di rumah-rumah warga. Bahkan dengan sangat mudah didapati poster besar Imam Khomeini yang disandingkan dengan Ayatullah Ali Khamanei di dinding-dinding kota, di tembok-tembok, di halte-halte bis dan diruang publik lainnya. Sebaliknya di Indonesia, telah berlalu sejumlah presiden, dan kesemuanya tidak luput dari hujatan publik. 


Semangat Bela Negara yang Tinggi


Nasionalisme dan semangat bela negara telah dibuktikan rakyat Iran saat perang Irak-Iran yang berlangsung selama 8 tahun. Dengan kekuatan senjata seadanya, rakyat Iran berhasil mempertahankan wilayahnya dari ekspansi rezim Saddam Husein. Tidak sedikit warga sipil yang turut membela negara gugur di medan perang. Iran menerapkan wajib militer bagi warganya selama 2 tahun. Saat pendidikan militer, peserta didik tidak hanya diajari tangkas dan militan, tetapi juga diberi wawasan kebangsaan secara komprehensif. Hal itu memberi pengaruh besar pada mindset setiap generasinya. Berbeda dengan di Indonesia, bendera merah putih terkadang baru bisa kita temui ramai berkibar hanya pada momentum Agustus, di Iran bendera nasionalnya hampir disetiap titik keramaian selalu ditemui berkibar. 


Mencintai dan Menghargai Jasa Pahlawan


Para pahlawan di Iran (khususnya yang gugur dalam perang Irak-Iran) memiliki tempat yang sangat istimewa, bagi yang masih hidup mendapat banyak peristimewaan dan kekhususan yang didapatkan. Bagi yang telah meninggal dunia, apalagi yang gugur di medan tempur, maka keluarganya yang mendapatkan keistimewaan itu. Anak-anak dari pahlawan yang gugur, dijamin pendidikannya oleh pemerintah dengan mendapat beasiswa sepenuhnya sampai jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Mereka juga akan mudah mendapatkan akses pekerjaan dipemerintahan. Keluarga yang ditinggalkan, akan mendapat jaminan pemerintah untuk tetap mendapatkan kehidupan yang layak. Gambar-gambar pahlawan Iran sangat mudah ditemui terpajang di titik-titik keramaian. Karenanya, tidak mengherankan, setiap anak-anak di Iran di tanya mengenai cita-citanya, mereka akan menjawab, bercita-cita menjadi pahlawan. 


Kemandirian Ekonomi 


Hal lain yang bisa dicontoh adalah cinta pada produk dalam negeri. Kesepakatan sejumlah negara besar menetapkan embargo ekonomi pada Iran sedikit banyaknya membawa keberuntungan. Iran dipaksa membuat produk dalam negeri sendiri. Hanya dalam kurun waktu 3 dasawarsa, perekonomian Iran bangkit dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Saat ini bukan hanya mampu memproduksi kendaraan sendiri, Iran bahkan telah memiliki satelit yang pengoperasiannya dilakukan secara mandiri, tanpa bantuan negara lain. 


Cinta Tanah Air


Cinta tanah air bagi rakyat Iran, bukan hanya diwujudkan dengan kesiapan untuk membela dan memperjuangkan kedaulatan tanah air dari ronrongan negara lain, namun juga bagaimana membuat prestasi yang dapat mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. Prestasi Iran didunia internasional telah mulai diukir mulai dari tingkat remaja, bukan hanya berprestasi ditingkat penemuan-penemuan ilmiah, namun juga di cabang olahraga. Laki-laki dan perempuan Iran haus akan prestasi. Mereka saling berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan memberikan kebanggaan pada negaranya. 


Meski demikian, sebaik-baiknya Iran dengan semua hal positif yang dimilikinya, Indonesia tetaplah negara dan tempat yang terbaik bagi kita sebagai warga negara Indonesia. Semua hal baik yang ada pada negara lain, bisa kita pelajari dan amalkan untuk juga menjadikan negara kita diperhitungkan posisinya. Tidak ada kata terlambat, mari tetap mencintai dan bangga sebagai bangsa Indonesia.


Ismail Amin 

Presiden IPI Iran 2019-2021

Turut Berjuang bagi Negeri

Turut Berjuang bagi Negeri

Tatkala kalbu terhubung kuat dalam satu visi

Dikala suara bersatu padu dalam satu misi

Dengarlah…

Derap langkah tegas para pemuda

Selalu bergerak tak berdiam barang sedetik

Lihatlah, para pemuda berjuang 

Ketika ikrar suci diucapkan dengan lantang

Satu tanah air, bangsa, bahasa, Indonesia

Satu mimpi telah tercapai hai Ibu Pertiwi

Tetapi kawanku… jangan lengah

Perjalanan kita masihlah panjang

Ibu pertiwi sedang kritis dan menjerit dalam duka

Ulurkan tangan kalian wahai pemuda

Renungkan kembali para pendiri negri

Ibu pertiwi merindukan para pemudanya

Dimanapun dan kapanpun kawan

Kembalilah dalam dekapan ibu pertiwi

Lanjutkan asa para pendahulu tuk bangsa

Salam kepada Pemuda Negeri !!!

Dian Islamiati

Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

Peringatan Asyura di Iran, antara Fakta dan Fitnah

Peringatan Asyura di Iran, antara Fakta dan Fitnah

Peringatan Asyura telah selesai, meski sebenarnya hawa kesedihan dan kedukaan rakyat Iran yang mayoritas Syiah atas gugurnya Imam Husain di Karbala terus berlanjut sampai bulan Safar. Tulisan ini perlu kami ketengahkan untuk menceritakan realita sesungguhnya suasana peringatan Asyura di Iran, yang tidak sedikit oleh media-media internasional dan nasional diceritakan jauh dari kenyataan. Atau secara serampangan menyebut peringatan Asyura di Irak, Pakistan atau di negara lainnya yang diperingati secara berlebihan dengan berdarah-darah juga dikaitkan dengan peringatan Asyura di Iran. 

Begitu memasuki bulan Muharram sejak malam pertama, mayoritas rakyat Iran melarutkan diri dalam majelis-majelis duka. Bulan Muharram bagi masyarakat Iran yang mayoritas bermazhab Syiah adalah bulan duka, bulan yang mengharu biru, bulan yang menggoreskan kenangan akan peristiwa paling pahit dalam sejarah Islam. Karena itu, bergantinya tahun hijriah yang seringkali dijadikan momen untuk bergembira dan saling mengucapkan selamat bagi umat Islam kebanyakan, tidak akan ditemukan dilakukan oleh warga Iran.

Rasa belasungkawa akan syahidnya Imam Husain as beserta keluarga dan sahabatnya yang terbantai di Karbala mereka tunjukkan bukan hanya dengan pakaian serba hitam yang mereka kenakan, namun juga pemasangan umbul-umbul bendera hitam, ornamen-ornamen yang dipasang di tepi-tepi jalan, masjid dan tempat-tempat umum yang berisi pesan duka Asyura, termasuk mencat mobil-mobil mereka dengan tulisan Husain, Zainab, Ali Asghar, Aba al-Fadhl Al Abbas dan nama tokoh-tokoh lainnya dalam peristiwa Karbala.Secara resmi, warga Iran memperingati peristiwa Asyura selama sepuluh hari berturut-turut, dari tanggal 1 sampai 10 Muharram.

Hari kesembilan dan hari kesepuluh dijadikan hari libur nasional. Selama kesepuluh hari tersebut, setiap sehabis shalat Isya berjama’ah, diadakan majelis-majelis duka. Ratusan warga berbondong-bondong memadati masjid-masjid dan Husainiyah tempat diadakannya majelis-majelis duka tersebut. Acara dibuka dengan tilawah Alquran dan  dilanjutkan dengan ceramah agama yang berisi pesan dan hikmah dari kisah-kisah kepahlawanan Imam Husain as beserta keluarga dan sahabatnya di padang Karbala. Disaat Khatib menyampaikan ceramahnya, tidak jarang terdengar suara isak tangis dari para jama’ah. Peristiwa kematian Imam Husain as meski sudah berlalu hampir 1400 tahun lalu, namun bagi mereka tampak seolah-olah baru terjadi kemarin sore. Setelah mendengarkan ceramah, lampu-lampu dipadamkan, dan hanya menyisakan sedikit cahaya.

Dalam suasana nyaris gelap itu, seseorang tampil untuk membacakan maqtal atau syair-syair duka. Pada prosesi ini, para jama’ah dilibatkan. Kesemuanya berdiri dan mengiringi kidung duka yang dinyanyikan sembari menepuk-nepuk dada. Suasana haru semakin menyeruak setiap disebutkan nama al Husain.

Diakhir acara, panitia akan membagikan kotak makanan dan disantap bersama. Majelis ini berlangsung selama sepuluh malam berturut-turut. Dalam majelis ini tidak adegan melukai diri, tidak ada aksi memukul badan dengan benda tajam hingga berdarah-darah. Ulama-ulama Iran memberikan fatwa akan keharaman melukai diri apalagi sampai berdarah-darah dalam memperingati hari Asyura. Fatwa itupun menjadi hukum postif bagi kepolisian Iran untuk membubarkan dan menangkapi mereka yang melakukan aksi melukai diri dalam majelis Husaini.

Sayang, karena perbuatan segelintir Syiah di Irak, Afghanistan dan Pakistan yang masih juga memperingati Asyura dengan tradisi melukai diri, Syiah pun diidentikkan dengan perbuatan irasional tersebut. Patut diketahui, kalau memang melukai diri dianggap ibadah yang afdhal dilakukan pada peringatan Asyura, maka yang paling pertama melakukannya adalah ulama-ulama dan kaum terpelajar dari kalangan Syiah, dan itu harusnya bermula dari Iran, sebagai sentral keilmuan penganut Syiah. Faktanya, tidak satupun ulama Syiah yang melakukannya, yang ada justru memfatwakan keharamannya. Dan kalau memang itu sudah menjadi bagian dari tradisi Syiah, maka tentu jumlah orang-orang Syiah yang melakukannya jauh lebih banyak dari yang tidak. Faktanya, yang melakukannya tidak seberapa, dan itu hanya ada diluar Iran, tidak di Iran.

Mengenang Ali Asghar

Pada hari Jum’at pagi, dari kesepuluh hari awal Muharram itu, diperingati secara khusus kesyahidan Ali Asghar, putra Imam Husain as yang masih berusia beberapa bulan namun turut menjadi korban kebengisan tentara-tentara Yazid. Dikisahkan, bayi Imam Husain As tersebut dalam kondisi kehausan, sebab sumber mata air berada dalam penguasaan tentara Yazid dan tidak mengizinkan kafilah Imam Husain untuk mengambil airnya barang setetes pun. Kasihan dengan bayinya yang merengek kehausan, Imam Husain as pun memeluk dan menggedongnya.

Beliau menghadap pasukan Yazid untuk diizinkan mengambil air, setidaknya untuk menghilangkan dahaga bayinya tersebut, sembari memperlihatkan kondisi Ali Asghar yang dicekik kehausan. Bukannya iba, seorang tentara Yazid malah melezatkan anak panah yang tepat mengenai leher bayi Imam Husain As tersebut, yang kemudian mati seketika dipelukan ayahnya. Kejadian tragis ini secara khusus diperingati pada hari Jum’at pertama bulan Muharram.

Ribuan ibu dengan bayi-bayinya yang berkostum pakaian Arab paduan warna hijau dan putih lengkap dengan surban dan ikat kepala yang bertuliskan Ali Asghar, memadati masjid-masjid dan tanah-tanah lapang. Ditempat itu mereka mendengarkan ceramah khusus mengenai kisah kesyahidan Ali Asghar dan betapa pedihnya hati Imam Husain As melihat kematian bayinya yang tragis di pelukan sendiri, justru oleh mereka yang mengaku sebagai muslim dan pengikut Nabi Muhammad saw.

Suasana haru dan emosional tidak terhindarkan ketika kisah yang menyayat hati itu kembali disuguhkan. Ibu-ibu tersebut menangis sambil mendekap bayi mereka masing-masing sembari membayangkan kesedihan dan kepiluan hati Imam Husain melihat bayinya tergeletak tanpa nyawa. Dalam acara ini tidak ada adegan orangtua mengiris bayinya dengan pedang hingga berdarah, hanya sekedar untuk merasakan kepedihan Imam Husain. Foto yang beredar di media sosial yang menggambarkan kepala seorang anak yang berdarah-darah karena dilukai oleh orangtuanya sendiri, kejadiannya bukan di Iran. Itu adalah kelakuan orang-orang yang ekstrim yang justru mendapat kecaman dari ulama Syiah sendiri, yang tidak bisa menjadi representatif semua Syiah pasti melakukan itu.  

Pada hari kesembilan Muharram -yang dikenal juga dengan sebutan Tasu’a Husaini- dan pada hari kesepuluh –dikenal dengan sebutan hari Asyura- karena menjadi hari libur nasional, jalan-jalan raya dipadati oleh ribuan warga dengan pakaian serba hitam yang berjalan kaki. Disepanjang jalan, terdapat posko-posko yang menyediakan minuman panas dan makanan ringan secara gratis. Satu-dua jam menjelang shalat dhuhur masjid-masjid dan juga kantor-kantor resmi ulama-ulama Marja dipadati lautan manusia. Ditempat-tempat itu mereka berkumpul untuk menumpahkan rasa haru dan kesedihan yang sama. Suara isak tangis yang tak tertahan terdengar dimana-mana disaat khatib menyampaikan detik demi detik proses terbantainya Imam Husain As di Karbala. Bagaimana saat dadanya yang telah penuh dengan sayatan pedang ditindih dan kemudian kepalanya dengan tebasan pedang dipisahkan dari tubuhnya.

Tangisan mereka dengan tragedi memilukan yang menimpa cucu Nabi Muhammad saw tersebut bukan untuk menyesal atas apa yg telah terjadi melainkan upaya merawat dan menjaga ingatan dan kenangan atas perjuangan dan pengorbanan keluarga Nabi dalam menjaga eksistensi agama ini.

Bangsa kita juga punya tradisi yg sama dalam mengenang pengorbanan para pahlawan bangsa? ada upacara bendera, ada hening cipta, ada ziarah kemakam pahlawan, ada pembuatan film perang melawan penjajah, ada pementasan drama, ada pembacaan puisi dan seterusnya. Yang tentu tujuannya bukan untuk mengorek luka sejarah, bukan pula untuk menyimpan dendam, melainkan untuk menghidupkan semangat kepahlawanan, patriotisme dan pengorbanan para pejuang terdahulu supaya generasi sekarang juga punya semangat yang sama. Begitu juga dengan yang diadakan rakyat Iran pada peringatan Asyura. Pawai yang diadakan tidak ubahnya pawai-pawai yang diadakan banyak negara-negara lain saat memperingati hari-hari yang dianggap penting. Ada rombongan drum band, pembawa bendera dan arak-arakan yang menjadi tontonan masyarakat banyak, termasuk wisatawan asing.  

Bagi rakyat Iran, tangisan mengenang al Husain pada peringatan Asyura bukanlah tangisan cengeng. Melainkan tangisan yang justru membakar semangat perlawanan terhadap penindasan dan kesewenang-wenangan sebagaimana yang diwariskan Imam Husain as melalui tragedi Karbala. Rakyat Iran menyodorkan bukti, bahwa bermula dari tangisan itulah, revolusi besar yang mengubah takdir Iran dengan menjungkalkan rezim Shah Pahlevi telah mereka rancang dan ledakkan. Imperium Persia yang berusia 2.500 tahun beralih menjadi Republik Islam, dimulai dari tangisan mengenang al Husain. Dikarenakan peringatan Asyura membawa kabar buruk bagi penguasa zalim dan mereka yang menindas rakyat secara sewenang-wenang, karenanya penguasa-penguasa zalim itu sepanjang sejarah merasa perlu memberikan citra buruk pada peringatan Asyura untuk dihindari dan dijauhi.

Liputan: IPI Iran

Hidup dan Batangan Rokok – Cerpen

Hidup dan Batangan Rokok – Cerpen

                Kerlip bintang menemani senyapnya malam, seorang pemuda tertunduk lesu di bawah sinar rembulan. Wajah yang tak bersemangat dan sorot mata yang penuh penyelasan tertera jelas. Hembusan nafasnya sesekali terdengar

                “My dear… maafkan aku karena tidak bisa melindungi dirimu.” Pelan terdengar sepatah kata dari mulut pemuda itu, diikuti dengan bulir air mata membasahi pipi. Pemuda itu kembali ke dalam bangsal rumah sakit sambil terseok.

_

                Sudah beberapa bulan berlalu, semenjak percekcokan antara Ayah dan Ibu berlangsung. Suasana rumah pun tak pernah sama lagi. Kepulangan Ayah kali ini pun juga tak disambut oleh Ibu. Hanya adikku saja yang masih antusias menyambut kedatangan Ayah.

“Ayah… bawa oleh-oleh apa hari ini?” Tangan mungil melingkari kaki Ayahku, segera Ayah menggendong Caca.

“Caca Sayang, iya Ayah bawa oleh-oleh. Sabar ya… nanti Ayah beri. Ayah mau istirahat dulu.” Sembari meletakkan Caca di kursi, Ayah menarik koper hendak ke kamar. Ibu berdiri tak jauh dari ambang pintu, wajahnya sama sekali tidak suka melihat Ayah menggendong Caca.

“Dari mana?” Pertanyaan tajam itu Ibu tujukan pada Ayah, kedua tangan Ibu menyilang di depan dada. Ayah menghembuskan nafas panjang sambil menatap mata Ibu.

“Bandung Ma… Ada proyek di sana.” Ayah sibuk mengeluarkan barang-barang dari koper.

“Jangan bohong, kamu!! Kamu main sama wanita lain kan!” Teriak Ibu dan menantang mata Ayah lekat-lekat. Oh no.. they fight sooner after meeting with each other again.

Tergesa, aku meraih Caca dalam dekapan dan menutup telinganya. Gadis kecil itu tidak perlu tahu apa yang sedang terjadi. Senyuman kecil ditujukannya padaku. “Kak Obi, main di taman yuk…” Panggilan kesayangannya untukku.

Aku mengusap pelan rambutnya dan kubalas ajakannya dengan anggukan. Adikku yang malang…

__

                Sejak insiden terakhir, Ayah dan Ibu memutuskan untuk berpisah. Aku sudah memperkirakan hal itulah yang bakal terjadi. Ayah memiliki hak asuhku dan Ibu memiliki hak asuh Caca. Waktu itu kulihat wajah mungil Caca yang tidak tahu apa-apa tersenyum ke arahku. Kudekap erat gadis mungil, adikku tercinta itu. Maafkan Kakak… kakak tidak bisa melindungi Caca dengan baik.

Sudah lima tahun berlalu semenjak perceraian kedua orang tuaku. Aku sama sekali belum pernah mendengar kabar tentang Ibu maupun Caca. Ayah memutus semua hubungan dengan Ibu. Tak hanya itu, Ayah juga melarangku menemui Caca dan Ibu. Sejak itu, aku juga tak peduli dengan Ayah. Nilai-nilaiku merosot, aku pun mulai bergaul dengan anak-anak nakal di sekolah. Hari itu, sepulang sekolah seperti biasanya aku dan teman-teman berkumpul di warung kopi dekat sekolah.

“Hei… temen-temen, lihat nih aku punya barang bagus!!” Andre melambaikan tangan yang menggenggam sebuah kotak berwarna merah. Sekilas, aku bisa melihat gambar gudang dan rel yang melintas dari sampul depan kotak tersebut.

Aku hanya melihat sekilas dan tahu pasti itu apa. Teman-teman yang lain tertarik dan ikut mengerubungi Andre. Dengan cepat, Andre membagikan satu-satu isi kotak tersebut ke dalam genggaman tangan teman-temanku. Seketika itu juga mereka menjejalkan batang rokok tersebut ke dalam mulut mereka. Bergaya layaknya sudah pernah menghisap rokok. Aku menyeringai, dengan cepat kuambil pemantik api dari dalam tas. Menyalakan ujung gulungan tembakau tersebut dengan luwes. Teman-temanku melongo.

“Abi, kamu sudah pernah pakai?” Aku mengedikkan bahu acuh tak acuh, malas membalas ucapan mereka. Kuhembuskan nafas perlahan, asap putih perlahan keluar dari mulutku. Aku menyelempangkan tas di bahu, mengangguk sedikit ke arah Andre sebagai ucapan terima kasih.

Aku pergi meninggalkan teman-teman menuju rumah. Tidak mengherankan jika aku tahu cara merokok. Semenjak bercerai, Ayah mulai merokok kembali. Kebiasaan lamanya sebelum bertemu dengan Ibu. Bagiku rokok bukanlah hal baru.

__

                Umurku sekarang 22 tahun. Aku hanya bisa diterima di universitas seni karena nilaiku yang pas-pasan semasa SMA. Hari itu, aku memutuskan untuk mengerjakan tugas kuliah di taman karena kepalaku mumet memikirkan ide apa yang bagus untuk lukisanku. Kuusap rambutku perlahan namun sama sekali belum ada ide yang muncul. Kukeluarkan sebatang rokok dari kotaknya. Rokok sudah menjadi teman karibku saat aku sedang stres.

Baru sekali kuhisap dan kuhembuskan asap dari batang rokok itu. Ketika jemari lentik dan cekatan mengambil rokok tersebut dari tanganku. Dengan cepat gadis itu menghentakkan rokok tersebut ke tanah dan menginjaknya dengan keras.

Aku terpana kaget. Gadis itu tinggi semampai, mengenakan baju kasual dan topi di kepalanya. Wajahnya manis namun terlihat agak kesal karena melihatku merokok. Wait, kenapa dia yang kesal harusnya yang kesal itu aku.

“Abang… merokok itu ndak baik lho, apalagi di tempat umum. Bikin polusi! Kasihan juga orang-orang yang tidak merokok bisa kena imbasnya juga karena menghirup asap rokok Abang. Lagian, apa bagusnya sih merokok. Padahal banyak efek buruknya untuk kesehatan diri sendiri.” Tegas dan sedikit ketus gadis itu menasehati tindakanku.

“Ohh… gitu ya..” Aku tergelitik untuk menggoda gadis itu. Ada rasa familiar ketika aku melihat gadis itu. Tapi aku sendiri juga tidak mengerti kenapa rasa itu muncul.

Gadis itu meraih kotak rokok yang terserak di antara barang-barangku. “Iyalah, rokok itu bisa menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dll. Padahal tertulis jelas lho di bungkusnya.”

“Well ok, aku tahu. Tapi aku punya alasan tersendiri untuk merokok.” Aku merebut kembali kotak tersebut dari tangannya. Gadis itu geleng-geleng kepala dan berjalan ke arah bangku di seberang bangku tempat aku duduk.

Gadis itu mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Ia mulai menuliskan sesuatu di bukunya. Sepertinya dia sedang mengerjakan tugas sekolah. Aku perhatikan gadis itu sekali lagi, sinar matahari senja menelisip dari balik dedaunan menerpa wajah manisnya. Aku tersenyum kecil dan segera bergerak mencoretkan kuasku di kanvas. Bergegas aku menyelesaikan gambar itu sebelum pemandangan di depanku lenyap.

Sesekali angin menyibak rambut gadis itu, memperlihatkan lehernya. Sekilas aku melihat tanda lahir di sana. Aku merampungkan gambarku ketika gadis itu melihat jam tangan yang melingkar di tangannya dan terkesiap. Gadis itu membereskan semua barangnya. Ia melirik ke arahku, otomatis aku melambaikan tangan ke arahnya. Gadis itu melengos dan berlari meninggalkan taman. Aku masih sempat melihat lagi tanda lahir di lehernya karena angin masih sempatnya bermain dengan rambut gadis itu.

Aku pun bergegas membereskan barang-barangku. Aku masih terkikik geli mengingat wajah marah gadis itu saat melihatku merokok. Namun tak lama kemudian badanku membeku karena menyadari sesuatu. Tanda lahir itu, tidak salah lagi.

Aku berlari ke arah luar taman, berusaha mencari sosok gadis itu. Jejaknya tidak dapat kutemukan di mana pun. Aku berlari kesana kemari dan hasilnya tetap nihil. Dengan badan lelah, aku kembali ke tempat di mana barang-barangku tertinggal. Kuambil kanvas yang baru saja kuselesaikan senja ini. Kupandangi lekat-lekat wajah gadis itu. Tidak salah lagi, gadis itu adalah Caca.

__

                Aku berlari cepat ke arah motorku, Ayah baru saja mengirim pesan yang membuat wajahku pucat pasi. Kuarahkan motorku ke arah Rumah Sakit Sanjaya. Tidak kugubris para perawat yang melarangku berlarian di koridor. Kubuka perlahan pintu bangsal 105, kulihat Ayah dan Ibu yang menangis sesenggukan di samping tempat tidur. Gadis yang sama kutemui di taman sekarang terbaring lemah di kasur. Kabel-kabel ventilator terhubung dengan tubuh gadis itu.

Ibu mendekapku erat, ini adalah pertemuan pertamaku dengan Ibu setelah kami berpisah lama. Mataku nanar menatap wajah gadis itu. Aku tersedu, tak percaya atas apa yang kulihat. “Apa yang terjadi?”

Ibu menjelaskan kehidupannya bersama Caca selama dua belas tahun ini. Setelah usaha Ibu bangkrut, awalnya Ibu hanya bekerja serabutan dari satu tempat ke tempat lain. Tidak mudah mencari pekerjaan dikarenakan persaingan yang ketat di ranah pekerjaan dan sertifikat pendidikan yang membatasi Ibu. Ketika ada lowongan pekerjaan sebagai karyawan pabrik rokok dengan gaji lebih besar maka gayung bersambut, Ibu mengambil pekerjaan tersebut. Ibu harus puas hanya tinggal di rumah kecil dengan lingkungan yang dipenuhi asap rokok. Kurangnya informasi, rendahnya kesadaran akan kesehatan, sekaligus karyawan pabrik banyak yang merokok pula sehingga tak mengherankan apabila lingkungan sekitar Caca sangat tidak sehat. Caca divonis kanker paru-paru dua tahun yang lalu. Keadaan Caca sekarang sedang kritis, kankernya sudah memasuki tahap akhir stadium 3.

Aku mendengarkan cerita Ibu hingga selesai, masih tak percaya dengan apa yang terjadi dengan adik kecilku itu. Kugenggam jemarinya yang kemarin merebut rokok dari tanganku. Aku menangis tertahan sembari mendekatkan mulut dan berbisik pelan, “Ca… kakak disini, lekas sembuh ya.”

Tidak ada reaksi apa-apa dari tubuhnya, tidak berbekas sedikitpun semangat yang kulihat saat ia menasehatiku di taman. Aku bermalam di rumah sakit, kusuruh Ayah dan Ibu pulang karena keduanya terlihat lelah. Tepat tengah malam, jemari Caca bergerak perlahan membuatku terbangun. Senyum kecil tersungging di bibirnya. “Hai, Kak Obi…” Ia masih memanggilku dengan panggilan yang sama.

“Ca… gimana perasaanmu? Apa ada yang sakit? Kalo ada yang sakit bilang yaa… Kakak panggilkan Dokter yang jaga.” Mataku bergerak memeriksa keadaan Caca. Kepalanya menggeleng perlahan, Caca mengisyaratkanku mendekat. Kudekatkan kepalaku supaya lebih mudah untuknya berbicara.

“Masih merokok?” Kudengar sayup pertanyaan itu bergulir. Aku terkesima, adikku mengenali diriku dari awal di mana pertemuan itu merupakan yang pertama sejak kita terpisah. Aku menggeleng berusaha meyakinkan dirinya, sejak bertemu dengannya di taman aku sudah berhenti merokok. Terlihat wajahnya yang lega. Caca  memejamkan mata karena lelah, kuusap keningnya perlahan. Caca membuka matanya sedikit dan kembali berbisik lirih, “Kak Obi, makasih untuk segalanya…”

Aku menggeleng pelan, mengisyaratkan padanya untuk beristirahat. Caca, kamu harus sembuh.

Aku memanggil dokter untuk mengecek Caca. Ketika aku kembali bersama dokter, aku menyadari garis lurus dari monitor. Jantungku berdegup kencang, dokter bergegas mengecek Caca. Aku terduduk di ruang tunggu sambil mengirim pesan kilat kepada orang tuaku. Melihat dari jauh, dokter dan suster yang berusaha menolong adikku. Tak lama dokter keluar dan menepuk bahuku. Dokter meminta maaf kepadaku, aku menggeleng dan mengucap terima kasih atas usahanya. Kuhampiri tubuh adikku dan kutatap wajahnya untuk terakhir kalinya. Hangat. Air mata bergulir membasahi pipiku.

               My Dear, maafkan aku karena gagal melindungimu lagi. Dik, akan Kakak perjuangkan supaya tidak ada lagi korban karena rokok sepertimu.

 

Dian Islamiati

Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

 

Semaraknya Peringatan Hari Alam di Iran bersama KBRI Tehran

Semaraknya Peringatan Hari Alam di Iran bersama KBRI Tehran

Iran dengan sejarah besar peradabannya dikenal memiliki banyak fitur budaya dan tradisi yang telah terjaga ribuan tahun dan tetap mereka rawat sampai hari ini. Diantara perayaan tradisi nasional dari masyarakat Iran yang sampai hari ini masih lestari adalah perayaan 13 Farvardin, yang oleh warga setempat disebut Sizdah Bedar.

Tradisi “Sizdah Bedar” ini telah berlangsung turun temurun selama ribuan tahun dan oleh Pemerintah Iran diadopsi menjadi hari nasional dengan sebutan Hari Alam. Pada hari tersebut, masyarakat Iran meninggalkan rumah dan melakukan piknik dan rekreasi di alam terbuka sampai menjelang sore.

Sizdah Bedar sendiri berasal dari bahasa Persia. Sizdah sendiri berarti tiga belas, dan Bedar artinya ke pintu atau rumah. Maksudnya, pada tanggal 13 Farvardin (Farvardin adalah bulan pertama dari Kalender Persia) orang-orang akan meninggalkan rumah menuju alam terbuka.

Menurut para sejarawan Iran, tanggal 13 dipilih sebagai penutup dan penyempurna dari dua belas hari pertama di awal tahun baru untuk mengawali hari-hari berikutnya. 13 Farvardin adalah penutup dari rangkaian peringatan Novrouz (tahun baru) yang kedua belas hari itu merupakan hari-hari libur di Iran.

Turut ikut menyemarakkan perayaan Hari Alam, KBRI Tehran mengundang masyarakat Indonesia di Iran untuk turut menikmati alam terbuka. Bertempat di Parvaz Park (Fly Land) di pinggiran kota Tehran yang berbatasan dengan pegunungan Alborz pada Selasa (2/4). Seratusan lebih WNI yang didominasi pelajar dan mahasiswa bersama dengan pejabat dan staff KBRI Tehran telah berkumpul di taman sejak pukul 9 pagi. Mereka berdatangan dari beberapa kota di Iran seperti dari Qom, Masyhad, Ghurghan, Kish dan Tehran sendiri.

Diawali dengan sambutan Kepala Duta Besar Indonesia untuk Iran Bapak Octavino Alimuddin. Dalam sambutannya, bapak Octavino memuji tradisi masyarakat Iran tersebut yang menurutnya bisa kita adopsi untuk juga turut mencintai dan menghargai alam. 

Rangkaian acara selanjutnya, doa yang dipimpin Syarif Hidayatullah (Presiden IPI Iran tahun 2016-2017), sarapan, senam yang dikomandoi Atase Pertahanan KBRI Tehran Kolonel Marinir Harwin Dicky Wijanarko serta jalan kaki bersama mengitari taman. Sepanjang taman, terlihat aktivitas orang-orang Iran yang menyiapkan peralatan masak dan bahan bakunya untuk dimasak di alam terbuka dan disantap bersama.

Setelah kurang lebih dua jam berjalan kaki mengitari dan menikmati keindahan kota Tehran dari ketinggian, pukul 12 siang dilanjutkan dengan makan siang bersama. Foto bersama menutup rangkaian acara KBRI Tehran bersama masyarakat Indonesia di Iran tersebut. Sementara masyakarat Iran sendiri masih tetap berada di taman sampai malam menjelang.

Mengutip dari Kantor Berita Parstoday, Peringatan Hari Alam di Iran adalah bagian dari penyadaran ekologis yang berpijak dari khazanah kebudayaan yang telah berusia ribuan tahun. Dan masyarakat Indonesia di Iran, juga turut efouria merasakan kesemarakannya.

Berikut foto-foto selengkapnya: