Hidup dan Batangan Rokok – Cerpen

Hidup dan Batangan Rokok – Cerpen

                Kerlip bintang menemani senyapnya malam, seorang pemuda tertunduk lesu di bawah sinar rembulan. Wajah yang tak bersemangat dan sorot mata yang penuh penyelasan tertera jelas. Hembusan nafasnya sesekali terdengar

                “My dear… maafkan aku karena tidak bisa melindungi dirimu.” Pelan terdengar sepatah kata dari mulut pemuda itu, diikuti dengan bulir air mata membasahi pipi. Pemuda itu kembali ke dalam bangsal rumah sakit sambil terseok.

_

                Sudah beberapa bulan berlalu, semenjak percekcokan antara Ayah dan Ibu berlangsung. Suasana rumah pun tak pernah sama lagi. Kepulangan Ayah kali ini pun juga tak disambut oleh Ibu. Hanya adikku saja yang masih antusias menyambut kedatangan Ayah.

“Ayah… bawa oleh-oleh apa hari ini?” Tangan mungil melingkari kaki Ayahku, segera Ayah menggendong Caca.

“Caca Sayang, iya Ayah bawa oleh-oleh. Sabar ya… nanti Ayah beri. Ayah mau istirahat dulu.” Sembari meletakkan Caca di kursi, Ayah menarik koper hendak ke kamar. Ibu berdiri tak jauh dari ambang pintu, wajahnya sama sekali tidak suka melihat Ayah menggendong Caca.

“Dari mana?” Pertanyaan tajam itu Ibu tujukan pada Ayah, kedua tangan Ibu menyilang di depan dada. Ayah menghembuskan nafas panjang sambil menatap mata Ibu.

“Bandung Ma… Ada proyek di sana.” Ayah sibuk mengeluarkan barang-barang dari koper.

“Jangan bohong, kamu!! Kamu main sama wanita lain kan!” Teriak Ibu dan menantang mata Ayah lekat-lekat. Oh no.. they fight sooner after meeting with each other again.

Tergesa, aku meraih Caca dalam dekapan dan menutup telinganya. Gadis kecil itu tidak perlu tahu apa yang sedang terjadi. Senyuman kecil ditujukannya padaku. “Kak Obi, main di taman yuk…” Panggilan kesayangannya untukku.

Aku mengusap pelan rambutnya dan kubalas ajakannya dengan anggukan. Adikku yang malang…

__

                Sejak insiden terakhir, Ayah dan Ibu memutuskan untuk berpisah. Aku sudah memperkirakan hal itulah yang bakal terjadi. Ayah memiliki hak asuhku dan Ibu memiliki hak asuh Caca. Waktu itu kulihat wajah mungil Caca yang tidak tahu apa-apa tersenyum ke arahku. Kudekap erat gadis mungil, adikku tercinta itu. Maafkan Kakak… kakak tidak bisa melindungi Caca dengan baik.

Sudah lima tahun berlalu semenjak perceraian kedua orang tuaku. Aku sama sekali belum pernah mendengar kabar tentang Ibu maupun Caca. Ayah memutus semua hubungan dengan Ibu. Tak hanya itu, Ayah juga melarangku menemui Caca dan Ibu. Sejak itu, aku juga tak peduli dengan Ayah. Nilai-nilaiku merosot, aku pun mulai bergaul dengan anak-anak nakal di sekolah. Hari itu, sepulang sekolah seperti biasanya aku dan teman-teman berkumpul di warung kopi dekat sekolah.

“Hei… temen-temen, lihat nih aku punya barang bagus!!” Andre melambaikan tangan yang menggenggam sebuah kotak berwarna merah. Sekilas, aku bisa melihat gambar gudang dan rel yang melintas dari sampul depan kotak tersebut.

Aku hanya melihat sekilas dan tahu pasti itu apa. Teman-teman yang lain tertarik dan ikut mengerubungi Andre. Dengan cepat, Andre membagikan satu-satu isi kotak tersebut ke dalam genggaman tangan teman-temanku. Seketika itu juga mereka menjejalkan batang rokok tersebut ke dalam mulut mereka. Bergaya layaknya sudah pernah menghisap rokok. Aku menyeringai, dengan cepat kuambil pemantik api dari dalam tas. Menyalakan ujung gulungan tembakau tersebut dengan luwes. Teman-temanku melongo.

“Abi, kamu sudah pernah pakai?” Aku mengedikkan bahu acuh tak acuh, malas membalas ucapan mereka. Kuhembuskan nafas perlahan, asap putih perlahan keluar dari mulutku. Aku menyelempangkan tas di bahu, mengangguk sedikit ke arah Andre sebagai ucapan terima kasih.

Aku pergi meninggalkan teman-teman menuju rumah. Tidak mengherankan jika aku tahu cara merokok. Semenjak bercerai, Ayah mulai merokok kembali. Kebiasaan lamanya sebelum bertemu dengan Ibu. Bagiku rokok bukanlah hal baru.

__

                Umurku sekarang 22 tahun. Aku hanya bisa diterima di universitas seni karena nilaiku yang pas-pasan semasa SMA. Hari itu, aku memutuskan untuk mengerjakan tugas kuliah di taman karena kepalaku mumet memikirkan ide apa yang bagus untuk lukisanku. Kuusap rambutku perlahan namun sama sekali belum ada ide yang muncul. Kukeluarkan sebatang rokok dari kotaknya. Rokok sudah menjadi teman karibku saat aku sedang stres.

Baru sekali kuhisap dan kuhembuskan asap dari batang rokok itu. Ketika jemari lentik dan cekatan mengambil rokok tersebut dari tanganku. Dengan cepat gadis itu menghentakkan rokok tersebut ke tanah dan menginjaknya dengan keras.

Aku terpana kaget. Gadis itu tinggi semampai, mengenakan baju kasual dan topi di kepalanya. Wajahnya manis namun terlihat agak kesal karena melihatku merokok. Wait, kenapa dia yang kesal harusnya yang kesal itu aku.

“Abang… merokok itu ndak baik lho, apalagi di tempat umum. Bikin polusi! Kasihan juga orang-orang yang tidak merokok bisa kena imbasnya juga karena menghirup asap rokok Abang. Lagian, apa bagusnya sih merokok. Padahal banyak efek buruknya untuk kesehatan diri sendiri.” Tegas dan sedikit ketus gadis itu menasehati tindakanku.

“Ohh… gitu ya..” Aku tergelitik untuk menggoda gadis itu. Ada rasa familiar ketika aku melihat gadis itu. Tapi aku sendiri juga tidak mengerti kenapa rasa itu muncul.

Gadis itu meraih kotak rokok yang terserak di antara barang-barangku. “Iyalah, rokok itu bisa menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dll. Padahal tertulis jelas lho di bungkusnya.”

“Well ok, aku tahu. Tapi aku punya alasan tersendiri untuk merokok.” Aku merebut kembali kotak tersebut dari tangannya. Gadis itu geleng-geleng kepala dan berjalan ke arah bangku di seberang bangku tempat aku duduk.

Gadis itu mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Ia mulai menuliskan sesuatu di bukunya. Sepertinya dia sedang mengerjakan tugas sekolah. Aku perhatikan gadis itu sekali lagi, sinar matahari senja menelisip dari balik dedaunan menerpa wajah manisnya. Aku tersenyum kecil dan segera bergerak mencoretkan kuasku di kanvas. Bergegas aku menyelesaikan gambar itu sebelum pemandangan di depanku lenyap.

Sesekali angin menyibak rambut gadis itu, memperlihatkan lehernya. Sekilas aku melihat tanda lahir di sana. Aku merampungkan gambarku ketika gadis itu melihat jam tangan yang melingkar di tangannya dan terkesiap. Gadis itu membereskan semua barangnya. Ia melirik ke arahku, otomatis aku melambaikan tangan ke arahnya. Gadis itu melengos dan berlari meninggalkan taman. Aku masih sempat melihat lagi tanda lahir di lehernya karena angin masih sempatnya bermain dengan rambut gadis itu.

Aku pun bergegas membereskan barang-barangku. Aku masih terkikik geli mengingat wajah marah gadis itu saat melihatku merokok. Namun tak lama kemudian badanku membeku karena menyadari sesuatu. Tanda lahir itu, tidak salah lagi.

Aku berlari ke arah luar taman, berusaha mencari sosok gadis itu. Jejaknya tidak dapat kutemukan di mana pun. Aku berlari kesana kemari dan hasilnya tetap nihil. Dengan badan lelah, aku kembali ke tempat di mana barang-barangku tertinggal. Kuambil kanvas yang baru saja kuselesaikan senja ini. Kupandangi lekat-lekat wajah gadis itu. Tidak salah lagi, gadis itu adalah Caca.

__

                Aku berlari cepat ke arah motorku, Ayah baru saja mengirim pesan yang membuat wajahku pucat pasi. Kuarahkan motorku ke arah Rumah Sakit Sanjaya. Tidak kugubris para perawat yang melarangku berlarian di koridor. Kubuka perlahan pintu bangsal 105, kulihat Ayah dan Ibu yang menangis sesenggukan di samping tempat tidur. Gadis yang sama kutemui di taman sekarang terbaring lemah di kasur. Kabel-kabel ventilator terhubung dengan tubuh gadis itu.

Ibu mendekapku erat, ini adalah pertemuan pertamaku dengan Ibu setelah kami berpisah lama. Mataku nanar menatap wajah gadis itu. Aku tersedu, tak percaya atas apa yang kulihat. “Apa yang terjadi?”

Ibu menjelaskan kehidupannya bersama Caca selama dua belas tahun ini. Setelah usaha Ibu bangkrut, awalnya Ibu hanya bekerja serabutan dari satu tempat ke tempat lain. Tidak mudah mencari pekerjaan dikarenakan persaingan yang ketat di ranah pekerjaan dan sertifikat pendidikan yang membatasi Ibu. Ketika ada lowongan pekerjaan sebagai karyawan pabrik rokok dengan gaji lebih besar maka gayung bersambut, Ibu mengambil pekerjaan tersebut. Ibu harus puas hanya tinggal di rumah kecil dengan lingkungan yang dipenuhi asap rokok. Kurangnya informasi, rendahnya kesadaran akan kesehatan, sekaligus karyawan pabrik banyak yang merokok pula sehingga tak mengherankan apabila lingkungan sekitar Caca sangat tidak sehat. Caca divonis kanker paru-paru dua tahun yang lalu. Keadaan Caca sekarang sedang kritis, kankernya sudah memasuki tahap akhir stadium 3.

Aku mendengarkan cerita Ibu hingga selesai, masih tak percaya dengan apa yang terjadi dengan adik kecilku itu. Kugenggam jemarinya yang kemarin merebut rokok dari tanganku. Aku menangis tertahan sembari mendekatkan mulut dan berbisik pelan, “Ca… kakak disini, lekas sembuh ya.”

Tidak ada reaksi apa-apa dari tubuhnya, tidak berbekas sedikitpun semangat yang kulihat saat ia menasehatiku di taman. Aku bermalam di rumah sakit, kusuruh Ayah dan Ibu pulang karena keduanya terlihat lelah. Tepat tengah malam, jemari Caca bergerak perlahan membuatku terbangun. Senyum kecil tersungging di bibirnya. “Hai, Kak Obi…” Ia masih memanggilku dengan panggilan yang sama.

“Ca… gimana perasaanmu? Apa ada yang sakit? Kalo ada yang sakit bilang yaa… Kakak panggilkan Dokter yang jaga.” Mataku bergerak memeriksa keadaan Caca. Kepalanya menggeleng perlahan, Caca mengisyaratkanku mendekat. Kudekatkan kepalaku supaya lebih mudah untuknya berbicara.

“Masih merokok?” Kudengar sayup pertanyaan itu bergulir. Aku terkesima, adikku mengenali diriku dari awal di mana pertemuan itu merupakan yang pertama sejak kita terpisah. Aku menggeleng berusaha meyakinkan dirinya, sejak bertemu dengannya di taman aku sudah berhenti merokok. Terlihat wajahnya yang lega. Caca  memejamkan mata karena lelah, kuusap keningnya perlahan. Caca membuka matanya sedikit dan kembali berbisik lirih, “Kak Obi, makasih untuk segalanya…”

Aku menggeleng pelan, mengisyaratkan padanya untuk beristirahat. Caca, kamu harus sembuh.

Aku memanggil dokter untuk mengecek Caca. Ketika aku kembali bersama dokter, aku menyadari garis lurus dari monitor. Jantungku berdegup kencang, dokter bergegas mengecek Caca. Aku terduduk di ruang tunggu sambil mengirim pesan kilat kepada orang tuaku. Melihat dari jauh, dokter dan suster yang berusaha menolong adikku. Tak lama dokter keluar dan menepuk bahuku. Dokter meminta maaf kepadaku, aku menggeleng dan mengucap terima kasih atas usahanya. Kuhampiri tubuh adikku dan kutatap wajahnya untuk terakhir kalinya. Hangat. Air mata bergulir membasahi pipiku.

               My Dear, maafkan aku karena gagal melindungimu lagi. Dik, akan Kakak perjuangkan supaya tidak ada lagi korban karena rokok sepertimu.

 

Dian Islamiati

Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

 

Semaraknya Peringatan Hari Alam di Iran bersama KBRI Tehran

Semaraknya Peringatan Hari Alam di Iran bersama KBRI Tehran

Iran dengan sejarah besar peradabannya dikenal memiliki banyak fitur budaya dan tradisi yang telah terjaga ribuan tahun dan tetap mereka rawat sampai hari ini. Diantara perayaan tradisi nasional dari masyarakat Iran yang sampai hari ini masih lestari adalah perayaan 13 Farvardin, yang oleh warga setempat disebut Sizdah Bedar.

Tradisi “Sizdah Bedar” ini telah berlangsung turun temurun selama ribuan tahun dan oleh Pemerintah Iran diadopsi menjadi hari nasional dengan sebutan Hari Alam. Pada hari tersebut, masyarakat Iran meninggalkan rumah dan melakukan piknik dan rekreasi di alam terbuka sampai menjelang sore.

Sizdah Bedar sendiri berasal dari bahasa Persia. Sizdah sendiri berarti tiga belas, dan Bedar artinya ke pintu atau rumah. Maksudnya, pada tanggal 13 Farvardin (Farvardin adalah bulan pertama dari Kalender Persia) orang-orang akan meninggalkan rumah menuju alam terbuka.

Menurut para sejarawan Iran, tanggal 13 dipilih sebagai penutup dan penyempurna dari dua belas hari pertama di awal tahun baru untuk mengawali hari-hari berikutnya. 13 Farvardin adalah penutup dari rangkaian peringatan Novrouz (tahun baru) yang kedua belas hari itu merupakan hari-hari libur di Iran.

Turut ikut menyemarakkan perayaan Hari Alam, KBRI Tehran mengundang masyarakat Indonesia di Iran untuk turut menikmati alam terbuka. Bertempat di Parvaz Park (Fly Land) di pinggiran kota Tehran yang berbatasan dengan pegunungan Alborz pada Selasa (2/4). Seratusan lebih WNI yang didominasi pelajar dan mahasiswa bersama dengan pejabat dan staff KBRI Tehran telah berkumpul di taman sejak pukul 9 pagi. Mereka berdatangan dari beberapa kota di Iran seperti dari Qom, Masyhad, Ghurghan, Kish dan Tehran sendiri.

Diawali dengan sambutan Kepala Duta Besar Indonesia untuk Iran Bapak Octavino Alimuddin. Dalam sambutannya, bapak Octavino memuji tradisi masyarakat Iran tersebut yang menurutnya bisa kita adopsi untuk juga turut mencintai dan menghargai alam. 

Rangkaian acara selanjutnya, doa yang dipimpin Syarif Hidayatullah (Presiden IPI Iran tahun 2016-2017), sarapan, senam yang dikomandoi Atase Pertahanan KBRI Tehran Kolonel Marinir Harwin Dicky Wijanarko serta jalan kaki bersama mengitari taman. Sepanjang taman, terlihat aktivitas orang-orang Iran yang menyiapkan peralatan masak dan bahan bakunya untuk dimasak di alam terbuka dan disantap bersama.

Setelah kurang lebih dua jam berjalan kaki mengitari dan menikmati keindahan kota Tehran dari ketinggian, pukul 12 siang dilanjutkan dengan makan siang bersama. Foto bersama menutup rangkaian acara KBRI Tehran bersama masyarakat Indonesia di Iran tersebut. Sementara masyakarat Iran sendiri masih tetap berada di taman sampai malam menjelang.

Mengutip dari Kantor Berita Parstoday, Peringatan Hari Alam di Iran adalah bagian dari penyadaran ekologis yang berpijak dari khazanah kebudayaan yang telah berusia ribuan tahun. Dan masyarakat Indonesia di Iran, juga turut efouria merasakan kesemarakannya.

Berikut foto-foto selengkapnya: 

 

 

Yuk Kenal Menu Sarapan Pagi Orang Iran!

Yuk Kenal Menu Sarapan Pagi Orang Iran!

Artikel singkat ini akan membahas tentang menu sarapan orang Iran dan juga akan ada tips buat kalian yang ingin sarapan seperti layaknya orang Iran! penasaran apa aja menunya? Yuk kita bahas!

Siapa bilang menu sarapan itu harus ribet? Ngga ko! Misalnya nih salah satu menu favorit yaitu Persian Cheese and Herb Platter. Menu ini tediri dari roti sanggak (roti yang dipanggang di atas batu dan berbentuk persegi panjang), selai keju dan berbagai macam sayuran. menu sarapan yang simple dan segar ini disukai orang Iran karena tidak membuat ngantuk dan cukup untuk memberi energi di pagi hari. Selain itu, teh hangat (Chai) juga selalu menjadi teman favorit untuk menemani sarapan. Pemanis tehnya bisa dari gula batu, kurma, dan bisa juga dengan kismis.

Menu sarapan kedua yang ngga kalah simple yaitu Persian Tomato Omelette. Omelette ini sangat mirip dengan shakshuka, hidangan popular Timur Tengah yang berasal dari Afrika Utara, tapi tidak pedas dan tidak ada sayurannya. Resep sarapan ini sederhana dan berbeda dari jenis omelett lainnya. Sangat lezat dan akan sempurna jika disajikan dengan roti Lavash ( roti yang tipis dan lembut). Di Iran, kamu dapat menemukan menu sarapan ini hampir di setiap restoran, kafe, dan bahkan di kedai teh!

Nah sekarang mari kita simak tips-tips untuk sarapan simple dan sehat ala orang Iran!

Roti
Yes! Ini dia tips pertamanya. Pokok utama sarapan orang Iran adalah roti. Ada beberapa macam roti yang menjadi favorit waktu sarapan yaitu Barbari, Sanggak dan Lavash. Selain rasanya yang enak dan teksturnya yang lembut, roti dapat menahan rasa laparmu sampai siang hari datang.

Pendamping Roti
Selain 2 menu diatas, orang Iran juga suka mencampur roti dengan bahan lainnya seperti mentega, selai (terutama ceri asam, wortel, atau quince), clotted cream, madu, dan juga makanan gurih seperti keju feta, mentimun iris dan tomat, dan kacang kenari.

Teh
Teh adalah minuman wajib orang Iran saat sarapan. mereka minum teh sepanjang hari, dimulai saat sarapan pagi hari. Sama seperti orang Italia minum c

appuccino di pagi hari, orang Iran memiliki chai shirin, teh dengan gula pasir saat sarapan. Teh dapat membuatmu merasa hangat dan menjadi lebih segar di pagi hari.

Sofreh
Sofreh adalah taplak meja tradisional yang tersedia dalam berbagai bahan dan pola. Di Iran, semua anggota keluarga berkumpul di sekitar Sofreh baik di atas meja atau di lantai saat makan. Ada cerita rakyat dalam bahasa Persia di mana sofreh disebut-sebut sebagai unsur yang sehat dan sopan.

Nah setelah membaca artikel ini, mari kita mulai hari dengan lebih bersemangat!

Nikmatnya Kebab Kubide dari Iran

Nikmatnya Kebab Kubide dari Iran

Hai pembaca setia serba-serbi IPI selamat ber hari Senin dan mengawali aktifitas. Di tulisan-tulisan sebelumnya kita sudah lumayan banyak membahas tentang beberapa tempat sejarah dan wisata yang ada di Iran. Di segmen selanjutnya, kami akan membuat perut teman-teman keroncongan dan kelaparan. Sudah tahu kan apa yang mau kami bahas? Yap betul sekali, kuliner Iran. Sudah lapar? Ayo langsung kita makan! Eh, baca tulisan maksudnya. Hihihi…

Teman-teman pasti sudah tidak asing dengan kebab. Sajian daging panggang, bawang bombay, sayur mayur, serta saus khas yang dibungkus dengan roti tortilla. Makanan ini sudah sangat mudah ditemukan di Indonesia.

Iran juga punya kuliner satu ini. namanya Kebab Kubide. Sama-sama terbuat dari daging domba atau sapi, tapi Kebab Kubide menggunakan daging giling yang dicampur dengan bawang bombay dan bawang putih cincang serta daun peterseli. Di adonan daging juga ditambahkan telur untuk merekatkan semua komposisi kebab. Tidak lupa garam dan lada hitam sebagai penyedapnya. Sebelum dipanggang, Kebab Kubide disimpan di lemari pendingin selama kurang lebih 4 jam. Fungsinya agar bumbu meresap ke daging dengan sempurna.
Kebab Kubide dibentuk memanjang di tusukan yang umumnya terbuat dari besi. Setelah itu dipanggang diatas batubara panas. Saat dipanggang, aromanya akan menari-nari di hidung dan memancing nafsu makan.

Kebab Kubide biasa disajikan dengan nasi hangat yang sudah ditaburi dengan Zeresh (buah barberry kering, rasanya masam) dan saffron atau roti Sanggak (roti yang dipanggang di atas batu kerikil panas). Tidak lupa tomat panggang, potongan kecil mentega, Sabzi (lalapan versi Iran), dan bawang bombay mentah yang sudah dimarinate dengan air lemon.

Jika teman-teman traveling ke Iran, kalian wajib mencicipi menu spesial khas Persia ini. Konon menu ini sudah ada sejak zaman kekuasaan Safavi. Alias 500 tahun lalu!

The Shrine of Imam Ridho (a.s)

The Shrine of Imam Ridho (a.s)

Haram Imam Ridha

Kemilau dan megah kubah emas menarik hati para peziarahnya. Ketenangan yang disuguhkan sungguh bukan main mampu membuat hati senantiasa merindu. Siapapun kamu, pintu gerbang tempat ini terbuka luas untuk masuk. Beribadah, berbagi rahasia dengan Tuhan, atau semata-mata ingin menenangkan jiwa dan pikiran yang lelah, tidak diragukan, Holy Shrine Imam Ridha ini adalah salah satu tempat yang tepat.

Pada tahun 2017, kota Mashhad terpilih sebagai Ibukota Kebudayaan Islam untuk region Asia oleh ISESCO. Mengingat di kota ini terdapat Haram Suci Imam Ridha, yang merupakan cucu Nabi Allah terakhir Muhammad saw, yang tidak pernah sepi dari peziarah seluruh dunia. Angka peziarah pun kian bertambah. Setiap tahunnya jumlah peziarah yang datang, mencapai 27 juta orang. Sampai sekarang terhitung ada 9 halaman (sahn), yang jika digabungkan luasnya mencapai 225.223 m2. Begitu juga ada beranda (ravaq) yang merupakan aula tertutup. Jumlahnya ada 26, yang juga menjadi tempat-tempat terselenggaranya kegiatan-kegiatan kebudayaan dan pendidikan, baik untuk umum, ataupun khusus wanita.

Haram ini tidak pernah kosong dari acara dan kegiatan spiritual, budaya, dan pendidikan Islami.

Di dalam wilayah Haram Suci ini juga terbangun masjid yang megah dan bersejarah yang sudah dibangun sejak awal abad ke 9 tahun hijriyah. Namanya Masjid Goharshad Pembangunan masjid ini memakan waktu selama 12 tahun. Halaman masjid berbentuk persegi yang dikelilingi 4 beranda yang luas. Diantara 4 beranda tersebut, ada 7 tempat tinggal berupa aula tertutup (shabestan) yang biasa digunakan untuk melaksanakan ibadah I’tikaf dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya.

Di Haram ini, bisa dikatakan memiliki fasilitas yang melimpah. Terdiri dari Rumah Sakit Subspesialis Razavi, yang berdiri di atas tanah seluas 4.000.000 m2, dengan 5 tingkat dan 320 kamar. Selain itu, untuk menyokong pendidikan para pemuda, Haram Imam Ridha pun membangun Universitas Imam Ridha yang sudah bertaraf internasional. Begitu pula tempat suci ini juga mempunyai Dewan Tinggi Kebudayaan yang memperkuat pondasi kegiatan budaya dan dakwah.

Perpustakaan Razavi yang merupakan bagian dari lembaga pendidikan Haram Suci ini, memiliki jutaan buku dan ratusan ribu anggota. Dinobatkan sebagai salah satu perpustakaan dan pusat dokumen Iran serta dunia yang terkaya dan terbesar.

Tidak berhenti sampai disitu saja, Haram Imam Ridha juga memiliki 3 museum yang selalu ramai oleh pengunjung. Terdiri dari museum Al-Quran, karpet, dan museum pusat Astan Qods Razavi (Mashhad) yang siap menyuguhkan kita dengan barang-barang bersejarah dan bernilai.

Jadi, yakin tidak mau ke Iran dan rasakan sejuknya hawa maknawi di Haram Suci ini?

Tochal Mountain : Surganya Para Pendaki dan Penggemar Ski Gunung

Tochal Mountain : Surganya Para Pendaki dan Penggemar Ski Gunung

Iran bukan hanya dipenuhi dengan situs-situs bersejarah dan tempat-tempat wisata

yang memukau. Tetapi, Iran juga punya keindahan alam yang gak kalah mempesona dan

memanjakan siapa saja yang datang. Salah satunya adalah Tochal Mountai ini. Mari,

sama-sama kita nikmati putih dan indahnya hamparan salju!

 

Puncak Gunung Tochal adalah puncak gunung tertinggi di Tehran, Iran. terletak di

sebelah selatan Tehran dengan ketinggian 3363 meter. Gunung ini merupakan bagian

dari pegunungan terkenal itu, Alborz. Gunung Tochal adalah surganya pendaki gunung

dan penikmat ski. Tidak heran jika gunung yang bergaunkan salju ini adalah tujuan

utama bagi mereka yang suka menikmati pemandangan langit. Dari atas sana, kita juga

bisa menghibur pemandangan dengan menikmati kota Tehran dari atas. Hiruk pikuknya

di siang hari dan kemilaunya di waktu malam.

Suasan tenang dan hening dari tempat ini, terutama ketika hari-hari biasa, benar-benar

menjadi penawar dan obat bagi jiwa-jiwa yang lelah akan kesibukan ibukota. Udara yang

bersih serta hawa yang menyegarkan seakan menghidupkanmu kembali.

Jangan khawatir. Buat kalian yang tidak ingin mendaki dan bermain ski, tersedia juga

tempat-tempat wisata dan hiburan. Bukanlah pilihan yang buruk bagi mereka yang

hanya ingin berjalan di sekitar pegunungan Tochal. Berjalan kaki menuju pemberhentian

pertama Telecabin sambil menikmati pesona alam yang disuguhkan. Disana juga

tersedia club memanah, wahana bermain ZipLine yang akan membawa kita terbang dan

memacu adrenalin, bioskop lima dimensi, Escape Room, dan tentu saja fasilitas

Telecabin. Telecabin di pegunungan Tochal merupakan telecabin dengan jarak tali

terpanjang di dunia loh!. Secara keseluruhan panjang talinya mencapai 7500 meter.

Setiap jamnya Telecabin ini mampu menampung 600 penumpang. Wow!

 

Di pemberhentian telecabin yang ketujuh alias yang paling atas, Hotel Tochal yang

bernuansa kayu seakan menjemput kita. Kita pun bisa menikmati hamparan salju putih,

pemandangan indah dari atas gunung, bermain ski, naik Car Snow, pokoknya seru-

seruan deh!

 

Kalau mau berkunjung kesini, jangan lupa baju hangat dan perlengkapan untuk musim

salju. Waktu yang tepat untuk berwisata kesini adalah har-hari biasa. Jadi bisa lebih

tenang dan puas menikmati.

 

Jadi, berhenti pikir-pikir buat traveling ke Iran! Biyo berim Iran!