Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day)

Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day)

Hari Tanpa Tembakau Sedunia  diperingati di seluruh dunia setiap tahun pada tanggal 31 Mei. Gerakan ini menyerukan para perokok agar tidak merokok (menghisap tembakau) selama 24 jam serentak di seluruh dunia. Hari ini bertujuan untuk menarik perhatian dunia mengenai menyebarluasnya kebiasaan merokok dan dampak buruknya terhadap kesehatan. Diperkirakan kebiasaan merokok setiap tahunnya menyebabkan kematian sebanyak 5,4 juta jiwa. Negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization- WHO) mencetuskan Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini pada tahun 1987. Dalam satu dasawarsa terakhir, gerakan ini menuai reaksi baik berupa dukungan dari pemerintah, aktivis kesehatan, dan organisasi kesehatan masyarakat, ataupun tentangan dari para perokok, petani tembakau, dan industri rokok.

Tembakau itu sendiri mengandung banyak komponen bioaktif yang bermanfaat untuk kesehatan seperti flavonoid dan phenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler, tembakau bisa juga di manfaatkan untuk kehidupan sehari-hari seperti melepas gigitan lintah dan membunuh serangga, obat diabetes dan antibody, anti radang, memelihara kesehatan ternak, penghilang embun, obat luka dan mengandung banyak manfaat lainnya. Tetapi kini, hampir seratus persen pemanfaatan tembakau dijadikan bahan untuk membuat rokok, yang di campur dengan beberapa bahan kimia berbahaya lainnya, malah mengurangi sisi positif tembakau itu sendiri.

Di dalam rokok, tidak hanya tembakau saja yang ada, tetapi juga zat kimia lainnya yang berdampak negative untuk tubuh, seperti :

  • Nikotin, kandungan yang menyebabkan perokok merasa rileks, zat ini juga dapat membuat perokok menjadi kecanduan. Nikotin berasal dari daun tembakau.
  • Tar, bahan kimia yang bersifat karsinogenik (zat pemicu kanker)
  • Benzene, juga dikenal sebagai bensol, senyawa kimia organik yang mudah terbakar dan tidak berwarna.
  • Cadmium, sebuah logam yang sangat beracun dan radioaktif.
  • Metanol(alkohol kayu), alkohol yang paling sederhana yang juga dikenal sebagai metil alkohol.
  • Amonia, dapat ditemukan di mana-mana, tetapi sangat beracun dalam kombinasi dengan unsur-unsur tertentu.
  • Formaldehida, cairan yang sangat beracun yang digunakan untuk mengawetkan mayat.
  • Hidrogen sianida, racun yang digunakan sebagai fumigan untuk membunuh semut. Zat ini juga digunakan sebagai zat pembuat plastik dan pestisida.
  • Arsenik, bahan yang terdapat dalam racun tikus.
  • Karbon monoksida, bahan kimia beracun yang ditemukan dalam asap buangan mobil dan motor.
  • Dan zat kimia lainnya.

Menurut para ahli kesehatan, sebanyak 25% zat berbahaya yang terkandung dalam rokok masuk ke tubuh perokok (di sebut perokok aktif) , sedangkan 75% nya beredar di udara yang bisa di hirup oleh orang-orang di sekitarnya (di sebut perokok pasif, yaitu orang yang tidak merokok tetapi menghirup dampak asap dari perokok aktif). Tentu nya perokok aktif berisiko paling tinggi untuk mengalami penyakit atau bahkan kematian dari dampak merokok di bandingkan peroko pasif karena mendapat efek bahaya dua kali lipat.

Kegiatan merokok atau menghisap tembakau ini, kebanyakan di lakukan oleh para lelaki, namun kini di kalangan perempuan pun banyak menjadi perokok aktif yang malah memiliki efek negative dua kali lipat dari pada laki-laki. Penelitian pada Fakultas Kedokteran Universitas Gajah mada menunjukkan bahwa ibu perokok aktif memiliki bayi yang paling ringan dan pendek dibandingkan ibu perokok pasif, apalagi jika dibandingkan dengan ibu bukan perokok dengan keluarga yang tidak merokok. Selain sebagai perokok pasif, bayi dan balita memiliki risiko terkena paparan Third-hand Smoke (THS) atau paparan tangan ketiga. THS adalah residu dari asap rokok yang menetap pada debu dan permukaan tubuh atau benda-benda lain setelah rokok dimatikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balita yang tinggal dengan perokok memiliki tingkat rasio perbandingan nikotin atau nicotine-derived nitrosamine ketone (NNK) yang lebih tinggi daripada orang dewasa. Dengan kondisi tersebut, bayi dan balita lebih banyak terpapar THS daripada orang dewasa. 100 juta kematian akibat tembakau telah terjadi sepanjang abad ke 20.Tembakau juga penyebab kematian bayi dan janin di seluruh dunia karena orang tua perokok.

Jumlah perokok secara umum berkurang dengan meningkatnya kesejahteraan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) suatu negara. Dengan kata lain, jumlah perokok berkurang seiring dengan bergeraknya suatu negara menjadi negara maju. Di Amerika Serikat, jumlah perokok telah berkurang setengahnya secara persentase sejak tahun 1965, dari 42% menjadi 20.8%. Sedangkan di negara miskin dan negara berkembang, jumlah perokok justru meningkat secara persentase per tahunnya. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization- WHO) memprediksi jumlah perokok di Indonesia sendiri akan meningkat sebanyak 24 juta jiwa dari 2015-2025 mendatang. India dan China, dengan penduduk yang sangat berlimpah dan IPM yang tidak terlalu tinggi menjadikan keduanya pasar bagi rokok dari seluruh dunia. China sendiri telah menjadi produsen rokok terbesar di dunia dengan memproduksi 2.4 triliun batang rokok per tahun atau setara dengan 40% produksi total dunia.

Dari segi sosial, politik, demografi dan kesehatan, tembakau memiliki porsi tersendiri yang sama negatifnya di masing-masing bidang, membuat WHO mencetuskan salah satu hari yang di tetapkan sebagai  hari tanpa tembakau sedunia, sebagai bentuk upaya meningkatkan kesadaran betapa bahayanya merokok.

Sebungkus kotak kecil yang berisi gintingan rokok berharga murah itu mempunyai ranah hubungan luas yang bisa membawa pelakunya pada sebuah tragedi loh! Tak apa bila kau punya uang banyak dan tidak risau membakar uang mu itu, tapi apa kau rela jika membakar hidup mu juga?

Banyak cara untuk melepas penat dan menghilangkan stress tanpa harus merokok. Kita bisa melakukan hal-hal yang kita sukai yang bisa membuat kita rileks dan nyaman. Mari melakukan hal-hal yang kita suka melakukannya tanpa menganggu atau memberi efek negative terhadap orang lain.

Salsabillah Ur Rachman

Ketua Departemen Kajian keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

 

Referensi :

Rasionalitas Puasa dan Refleksi Kemanusiaan Kita

Rasionalitas Puasa dan Refleksi Kemanusiaan Kita

Ritual dalam setiap agama memegang peranan penting, terkhusus Islam. Islam dan ritualitas tak bisa terpisahkan. Sistem ritual Islam terangkum dalam aturan fiqh yang terurai secara tekstualis. Begitu eratnya Islam dan fiqh membuat Seorang pemikir Islam garda depan dari Maroko, Dr. Muhammad Abid Al-Jabiri, menyebut peradaban Islam sebagai peradaban fikih. Pernyataan ini tentu ada benarnya. Setidaknya bila ditinjau dari tiga hal berikut; pertama, fikih sangat dekat dengan umat Islam. Dapat dipastikan di setiap rumah umat Islam terdapat kitab fikih. Kitab fikih dianggap menghidangkan suguhan siap saji. Kedua, fikih menjadi pedoman hidup. Dalam setiap permasalahan yang ada, umat Islam selalu menggunakan perspektif fikih. Ketiga, fikih merupakan salah satu warisan ilmu keislaman terkaya. Terdapat sekian ratus, atau bahkan ribuan, kitab fikih. Sebagaimana juga terdapat sekian banyak ulama fikih.

Hanya saja dalam perkembangan selanjutnya Ritual atau aturan fiqh dalam Islam lebih menampakkan wajah dogmatis ketimbang rasionalitasnya. Ada benarnya dalam kaidah hukum Islam (ushul fikih) disebutkan bahwa ibadah adalah cara manusia menghadap Tuhannya. Manusia tidak perlu bertanya kenapa Tuhan mewajibkan, termasuk melalukan kreativitas dan modifikasi tata cara ibadah dengan cara yang mereka inginkan sendiri. Ushul fikih menetapkan bahwa setiap hal yang berhubungan dengan ibadah, umat Islam tinggal mengikuti praktik yang telah dilakukan oleh Nabi Muhamad SAW. Sedangkan dalam bidang sosial (muamalah), kita bebas melakukan rasionalisasi, termasuk ijtihad.

Namun Islam pun harus mampu memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan dan kitikan zaman. Mengapa kita harus berpuasa misalnya, sampai saat ini jawaban yang diberikan cenderung dogmatis, terlalu melangit dan tidak memberi kepuasaan apalagi bagi seorang rasionalis tulen. Apa benar, puasa tidak memiliki sisi rasionalitas, sehingga pengkajian tentangnya melulu dengan pendekatan ketundukan kepada yang gaib? Bagaimana ajaran Islam menjawab tantangan rasionalitas modern ini?

Islam Agama Rasionalitas

Dari pengkajian tentang ritualitas ibadah, kaum agamawan kita cenderung menekankan pentingnya kepasrahan dan penyamanan, melestarikan ketaatan dan ketundukan total yang bersifat turun temurun. Dengan cara ini, orang-orang beriman diposisikan sebagai hamba-hamba, sebagai budak-budak dan Allah adalah majikan (bukan yang Maha Kasih dan Maha Bijaksana). Dan Rasul diposisikan sebagai pemimpin otoriter yang mengeluarkan perintah-perintah ihwal apa yang dilakukan dan mana yang tidak (bukan seorang manusia yang penuh wawasan pengetahuan dan pengalaman yang matang ataupun pemikir yang arif dan cerdas). Ketaatan adalah urusan yang dikerjakan untuk meraup pahala atau ganjaran sebanyak-banyaknya dan bukan sesuatu yang menyebabkan kelapangan hati, keterbukaan pikiran dan pengkhidmatan kepada sebanyak-banyaknya manusia.

Akibatnya, kitapun beribadah secara emosional dan terikat oleh identitas, manut pada kesemarakan ritual-ritual massa. Lihat saja, frekwensi pelaksanaan ibadah yang semakin menurun menjelang akhir-akhir Ramadhan. Sesuatu yang seharusnya dilakukan sebaliknya. Ini menurut hemat saya, disebabkan kurang atau tidak adanya sentuhan rasionalitas dalam ceramah-ceramah dan setiap nasehat keagamaan. Tidak benar manusia hanya perlu pada kenyataan akan adanya rasa manis, asam atau pahit. Manusia adalah makhluk yang punya kerinduan dan hasrat-hasrat terhadap kebenaran dan keyakinan tentang sesuatu. Karena itu kehadiran rasa manis atau apapun akan dibarengi dengan suasana penuh Tanya dan ragu. Semisal, mengapa ini manis? apa yang menyebabkan ia manis? apakah lidah orang lain juga merasakan manis? mengapa ada manis ada pahit? siapakah yang memberinya rasa manis? dan begitu seterusnya sampai datang keyakinan. “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.” (Qs. Al-Hijr :99).

Manusia rasional akan selalu mencari cahaya, menuntut bukti, merindukan keyakinan, mencintai pengetahuan dan kebenaran, senantiasa menggugat dan kritis terhadap keyakinan dia sebelumnya. Dan tuntutan Islam kepada kaum muslimin adalah menjadi manusia-manusia rasional. Bukankah Ibrahim As meminta Allah memberikan bukti kemahakuasaannya dengan menghidupkan burung yang telah mati di hadapannya, dan bukankah pengikut Isa As meminta hidangan dari langit untuk menambah keyakinan mereka bahwa menjadi pengikut agama adalah rasional (baca kisahnya dalam Qs. Al-Maidah : 112-115). Bagi kita ummat Muhammad tidaklah harus sebagaimana ummat-ummat sebelumnya mendapatkan keyakinan. Kita cukup memberikan sentuhan rasional, refleksi pemikiran dari setiap perbuatan-perbuatan yang kita lakukan yang hadir dari keyakinan dan kesadaran diri, bukan sekedar ikut-ikutan dan merasa bangga dengan ketidak tahuan.

Arti puasa bagi manusia rasional bukan sekedar menaati kewajiban ritual keislaman, melainkan lebih sebagai upaya umat Islam agar masuk ke dalam proses besar perbaikan kehidupan individu dan sosial secara revolusioner dan radikal.

Rasionalitas Puasa

Melalui perspektif psikologi perkembangan (development psychology) kita bisa sedikit memberi jawaban rasional mengapa Tuhan menganjurkan kita berpuasa. Dalam psikologi perkembangan dijelaskan bahwa dalam perkembangan kepribadiannya, manusia mengubah-ubah kebutuhannya. Dengan kata lain, kenikmatan manusia berganti-ganti sesuai dengan perkembangan kepribadiannya. Pada tingkat yang masih awal sekali, kebutuhan manusia masih sebatas hal-hal yang konkret atau hal-hal yang berwujud dan kelihatan. Pada tingkat ini, kebutuhan itu memerlukan pemuasan yang segera (immediate grafitification). Mengutip pandangan Sigmund Freud, ada tiga tahap perkembangan kenikmatan dalam diri anak-anak. Semua tahap ini memiliki persamaan. Semuanya bersifat konkret, bisa dilihat, dan sifat pemenuhannya yang sesegera mungkin. Kalau orang itu lapar, ia makan. Ia sesegera memuaskan kebutuhannya pada makanan dan minuman. Di sini Freud melihat letak kenikmatan pada periode paling awal terletak pada mulut. Masa ini disebutnya periode oral. Perkembangan selanjutnya manusia mendapatkan kenikmatan ketika mengeluarkan sesuatu dari tubuh. Seperti ketika seorang anak buang air besar atau buang air kecil. Masa ini disebut periode anal. Pada periode ini seorang anak bisa berlama-lama di toilet. Dia senang melihat tumpukan kotorannya dan kadang-kadang mempermainkannya.

Periode selanjutnya adalah periode genital. Tanda-tandanya adalah kegemaran seorang anak mempermainkan alat kelaminnya dan memperlihatkan kepada orangtuanya. Di sini pandangan Freud ingin menyatakan bahwa pada masa kanak-kanak hanya bersifat fisik, tidak ada kebutuhan spiritual. Namun manusia tidak cukup dengan itu. Hal-hal yang bersifat abstrak setelah kebutuhan fisik terpenuhi pasti menjadi kebutuhan selanjutnya. Semakin dewasa, semakin abstrak kebutuhan manusia. Pada orang-orang tertentu, kepribadiannya itu terhambat dan tidak bisa berkembang. Hambatan kepribadian itu disebut fiksasi. Walaupun sudah masuk kategori dewasa, tetapi dia hanya mencukupkan diri pada kebutuhan makan dan minum. Perbedaannya, dia mengubah makan dan minum itu ke dalam bentuk simbol, misalnya dalam bentuk kepemilikan kekayaan dan jabatan. Dengan melihat gaya hidup manusia modern, kita diperhadapkan oleh banyaknya manusia yang terhambat kepribadiannya. Mereka seperti anak-anak, masih mencari kenikmatan dalam makan minum dan “bermain-main dengan kelaminnya”. Fenomena yang paling mencolok adalah melonjaknya keberadaan bisnis makanan, minuman dan seks, yang menyedot triliunan rupiah, untuk memenuhi kebutuhan anak-anak berusia lanjut.

Manusia yang tidak terhambat perkembangan kepribadiannya adalah mereka yang membutuhkan akan sisi abstrak dari kehidupannya: misalnya, kebutuhan intelektual, kebutuhan akan ilmu pengetahuan, dan informasi, termasuk kebutuhan spiritual. Merujuk pada pemikiran Abraham Moslow dengan konsep piramidanya. Kata Moslow, semakin tinggi bagian piramida, semakin abstrak pula kebutuhan-kebutuhannya.

Sejalan dengan ajaran Islam, kebutuhan abstrak tersebut oleh Dr. Jalaluddin Rahmat disebut al-takamul al-ruhani, proses penyempurnaan spiritual. Itulah tingkat yang paling tinggi dalam kebutuhan manusia. Jadi, puasa bukanlah sisi tradisional yang tidak relevan dengan kehidupan modernitas. Justru dengan memahami sisi fundamental dari kehidupan manusia, puasa memperkenalkan strategi yang baik guna menjawab problematika kehidupan modern yang telah terlalu jauh terjebak dalam kesemarakan bendawi. Inti dari perintah puasa adalah pengendalian diri (self control). Dan pengendalian diri adalah satu ciri dari jiwa yang sehat, jiwa yang dewasa.

Telah lewat beberapa hari  kita berpuasa di bulan ini, adakah tanda-tanda kedewasaan dalam diri kita? atau justru sebaliknya? Ramadhan bukan kita jadikan ruang penyucian jiwa melainkan ruang pemanjaan jiwa. Yang menjadikan masa kanak-kanak kita semakin panjang. Sehingga oleh Gus Dur, majelis di negeri ini yang seharusnya diisi orang yang memiliki kedewasaan matang disebutnya taman kanak-kanak.

Wallahu ‘alam.

Ismail Amin

Presiden IPI Iran 2019-2021

Ramadhan, Bulan Memperkuat Tekad

Ramadhan, Bulan Memperkuat Tekad

Dalam kitab Bihar al Anwar jilid 95, hal. 334 disebutkan, bulan Ramadhan adalah bulan pertama tahun peribadatan. Jika bulan Muharram adalah bulan pertama tahun Hijriah, Januari bulan pertama tahun Masehi, maka Ramadhan adalah bulan pertama tahun peribadatan. Karena itu ditradisikan oleh ulama-ulama untuk mendirikan shalat syukur begitu memasuki awal Ramadhan.

 

Di malam pertama Ramadhan, dalam kitab al Muraqabat disebutkan anjuran untuk membaca surah al Fatihah sementara dalam kitab Mafatihul Jinan disebutkan anjuran untuk mandi khusus menyambut datangnya Ramadhan. Karenanya sebagai awal tahun baru, seorang muslim selayaknya menjadikan awal Ramadhan sebagai waktu yang tepat untuk merencanakan agenda dan target-targetnya sampai satu tahun kemudian, khususnya agenda peribadatan dan targetnya untuk dimasukkan dalam golongan hamba-hamba yang muttaqin.

 

Diantara hikmahnya mengapa Ramadhan dijadikan sebagai awal tahun peribadatan, karena Ramadhan adalah momentum paling krusial untuk memulai segalanya dengan baik mengingat banyaknya fadhilah dan keutamaan-keutamaan yang terkandung di dalamnya. Lewat Ramadhan kita bisa memperkuat tekad dan keinginan untuk menjadi insan-insan yang bertaqwa.

 

Dari sekian masalah yang dihadapi masyarakat modern saat ini diantaranya yang paling pelik adalah lemahnya tekad dan keinginan. Kita sering mendengar ucapan-ucapan seperti: “Saya tahu bahwa akhlak saya kurang baik, namun saya tidak berdaya untuk mengubahnya.” Atau, “Saya tahu berdusta dan menipu itu tidak baik, namun saya tidak bisa juga menghindarinya.” Ataupun, “Saya tahu shalat awal waktu itu jauh lebih utama, namun saya tidak bisa juga melaksanakannya.” Dan ucapan-ucapan serupa lainnya yang menunjukkan betapa kita tidak berdaya dan lemah keinginan untuk menjalankan hal-hal yang kita sadari sendiri itu jauh lebih baik.

 

Bulan Ramadhan adalah bulan untuk memperkuat tekad dan keinginan yang lemah itu. Ibarat base camp Ramadhan mentraining dan menggembleng jiwa kita untuk lebih mudah dan terbiasa melakukan amalan ibadah. Pikirkan, bagaimana bisa selama bulan Ramadhan kita bisa terbangun lebih cepat untuk sahur namun di bulan lain untuk bangun shalat subuh tepat waktu kita mengatakan tidak bisa?. Kalau anda mengatakan tidak bisa untuk tidak merokok sejam saja, lantas mengapa di bulan Ramadhan anda bisa menahan diri sampai 12-13 jam tidak menyentuh rokok sama sekali?. Kalau kita menyatakan sulit untuk shalat berjama’ah, lantas mengapa di malam Ramadhan kita bahkan bisa dengan rutin shalat taraweh berjama’ah?. Kalau dikatakan sulit untuk tidak makan makanan yang haram, lantas mengapa di siang hari bulan Ramadhan yang halal saja kita mampu menahan diri untuk tidak menyantapnya?. Kalau menyatakan diri tidak bisa betah mendengarkan ceramah agama, mengapa malah di bulan Ramadhan kita bisa duduk manis sampai sejam mendengarkan ceramah sang ustad? Kalau kita menyebut diri sangat sibuk sehingga tak sempat untuk bertadarrus, mengapa di bulan Ramadhan selalu saja kita bisa mencuri waktu untuk mengaji barang sejenak?. Kalau kita mengaku belum siap mengenakan busana sesuai syariat mengapa malah di bulan Ramadhan kita dengan bangga mengenakannya?. Kalau selama 30 hari di siang hari Ramadhan kita bisa meninggalkan hal-hal yang hakekatnya halal sekalipun, lantas apa alasan kita tidak bisa menjauhi yang haram setelah bulan Ramadhan?. Kalau di bulan Ramadhan hati kita mudah untuk simpatik dan tersentuh dengan penderitaan dhuafa, lantas apa yang membuat kita begitu saja egois dan enggan berbagi begitu Ramadhan usai?. Selama bulan Ramadhan kita begitu gigih dan seringkali menang atas godaan nafsu lalu mengapa setelah Ramadhan kita pasrah dan menyerah begitu saja dipermainkan nafsu dan syahwat?.

 

Bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi kita memperkuat tekad, mempertebal keinginan untuk menjadi insan yang bertaqwa dan mementahkan alasan-alasan kelemahan, kemalasan dan ketidak sanggupan kita melakukannya. Toh, ternyata Ramadhan menunjukkan dan memberi bukti kita bisa melakukan semua pribadatan itu. Mengapa pasca Ramadhan kita tiba-tiba menyatakan tidak bisa dan tidak mampu padahal kita hanya sekedar melanjutkan apa yang telah kita rintis di bulan Ramadhan?. Sangat naïf, jika kita telah berpayah-payah selama sebulan melakukan semua amalan yang mendekatkan kita kepada Tuhan, lantas setelahnya kita sendiri yang menghancurkannya. Ibarat sekumpulan itik yang berjam-jam mandi dan membersihkan diri di telaga namun setelah itu balik lagi ke comberan.

 

Keutamaan Ramadhan

 

Mengenal ahkam (hukum-hukum) Ramadhan dari awal sampai akhir dengan sedetail-detailnya sangat penting. Sebab keberhasilan dalam menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan bergantung pada pengenalan kita terhadap ahkam Ramadhan. Semisal, apa saja yang merupakan hal-hal yang dapat membatalkan puasa sehingga kita bisa menghindarinya, siapa saja yang diwajibkan berpuasa dan siapa pula yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa, ataupun mengenai tanda-tanda masuknya imsak maupun waktu berbuka puasa. Namun hal yang lebih penting dari itu adalah pengenalan terhadap fadhilah dan keutamaan Ramadhan.

 

Terkadang kita lebih sering merasa cukup dengan mengenal hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa di bulan Ramadhan untuk menjadi modal dan perbekalan kita memasuki Ramadhan dan mengabaikan pengkajian dan pengenalan mengenai keutamaannya. Hal inilah yang kemudian membuat kita bersemangat menjalani puasa dan ibadah-ibadah lainnya di pekan-pekan awal Ramadhan namun menjelang hari-hari Ramadhan kelesuan dan kejemuan sudah mulai menyerang dan akhirnya mencapai titik nadir, beribadah ala kadarnya sembari berharap Ramadhan segera berlalu. Itu karena kurangnya pengenalan terhadap fadhilah Ramadhan. Padahal semakin menjelang akhir Ramadhan keutamaan dan fadhilah beribadah pada hari-hari itu jauh lebih besar dari hari-hari sebelumnya. Terlebih lagi malam Lailatur Qadr diletakkan di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Imam Ali Zainal Abidin As Sajjad as diantara panjatan do’anya di bulan Ramadhan mengatakan, “Alhimnaa Ma’rifata fadhlihi wa ijlalaala hurmatihi, Ya Allah perkenalkanlah kepada kami fadhilah (keutamaan), kemuliaan dan kehormatan bulan ini”. (Doa 44 Sahifah Sajjadiyah hal. 186).

 

Mengapa mengenal keutamaan dan fadhilah bulan Ramadhan jauh lebih utama dan lebih penting?. Sebab dengan mengenal keutamaan-keutamaan yang dimiliki Ramadhan akan menjadi motivasi bagi kita untuk menjalani hari-hari didalamnya dengan penuh gairah dan semangat. Rasulullah Saw bersabda, “Huwa syahrun awwalahu rahmatun, wa austhuhu magfiratun, wa aakhiruhu ‘itqun minannar, bulan Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah maghfirah (pengampunan) dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” (Bihar al Anwar, jilid 93, hal. 342). Dengan mengetahui segala keutamaan itu, kitapun memperkuat tekad untuk tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Kita melakukan berbagai amalan kebajikan sebab kita meyakini Allah SWT memberi balasan kebaikan dan keberkahan berlipat ganda. Kita beristighfar dan memohon ampun sebanyak-banyaknya karena tahu Ramadhan adalah bulan dimana Allah SWT membuka pintu maaf selebar-lebarnya untuk semua hamba-Nya yang mendambakan kembali pada fitrah.

 

Inilah kesempatan emas yang tidak boleh kita biarkan lewat begitu saja. Dan sadarkah kita, mengapa sampai harus sebulan lamanya? Itu karena Allah SWT menghendaki agar amal-amal peribadatan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan itu menjadi kebiasaan dan tradisi kita selanjutnya dalam mengisi 11 bulan berikutnya. Sebulan waktu yang cukup untuk mengeliminasi kebiasaan-kebiasaan jelek kita dan menggantinya dengan kegiatan yang full ibadah, menggerogoti rasa malas kita dan mengisinya dengan ghirah dan semangat.

 

Namun mengapa kebanyakan kita begitu berakhirnya Ramadhan maka petanda usai pula semua aktivitas ibadah itu?. Idul Fitripun kita maknai sebagai hari perayaan terbebas dari tuntutan-tuntutan ibadah. Kitapun total istrahat dari puasa, shalat berjama’ah, tadarrus Al-Qur’an, saling berbagi dan simbol-simbol Islam yang sebelumnya begitu bangga kita kenakan.  Itu karena hakekatnya kita belum menjadi hamba-hamba Allah yang tulus. Kita tanpa sadar malah menjadi hamba Ramadhan. Yang kita sembah bukan Allah melainkan Ramadhan, yang kita semarakkan bukan syiar-syiar Allah melainkan gegap gempita Ramadhan.

 

Kalau benar kita hamba Allah, maka akan terpatri dalam jiwa dan kesadaran kita, bahwa Allah SWT adalah Rabbnya semua bulan-bulan, tanpa terkecuali. “Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Dialah yang kamu hendak sembah.” (Qs. Fushshilat: 37).

 

Ramadhan mendidik kita untuk menjadi hamba Allah SWT, puasa menggembleng kita untuk menjadi manusia yang bertakwa yang maksudnya adalah menyembah dan beribadah hanya padaNya sampai bulan-bulan selanjutnya, sepanjang tahun, sampai habis umur kita.

 

Marhaban ya Syahru Ramadhan…

 

Ismail Amin

Presiden IPI Iran 2019-2021

Kemajuan Iran dan Kebanggaan Sebagai Muslim

Kemajuan Iran dan Kebanggaan Sebagai Muslim

Menceritakan apapun tentang Iran, cenderung dicurigai membawa misi tertentu. Namun saya merasa terpanggil untuk menceritakannya, terutama karena banyaknya hal yang bisa menjadi pelajaran bagi bangsa kita. Iran, sebuah negeri fenomenal yang mendapat simpatik, pujian, pembelaan dan hujatan sekaligus. Negeri yang lewat CNN, Amerika menyebutnya sebagai bangsa yang keras kepala, yang oleh sebagian kaum muslimin menjadikan Iran sebagai kebanggaan baru, kiblat alternatif pergerakan dan perlawanan terhadap hegemoni Amerika namun sebagiannya lagi tetap juga memasang wajah permusuhan dan kecurigaan. Iran dengan mazhab Syiah mayoritas rakyatnya, tetap dinilai sebagai musuh dan diluar Islam. Apapun yang berasal darinya dicurigai sebagai kedok semata untuk memberangus dan menghancurkan Islam dari dalam.

Apapun yang berasal darinya, fiqh, hadits, tradisi, teologi, filsafat bahkan penemuan-penemuan mutakhirnya diisolasikan dan dipinggirkan dari dunia Islam. Syiah sering mendapat tuduhan dan fitnah sebagai agama tersendiri dan bukan bagian dari Islam. Namun, bagai pepatah, anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu, Iran dengan masyarakatnya yang mayoritas Syiah menjawab segala tuduhan-tuduhan dan berbagai tudingan miring dengan kerja-kerja positif yang nyata. Iran menjadi negara terdepan dan paling aktif memberikan pembelaan atas penindasan yang masih juga dirasakan rakyat Palestina. Tidak sekedar melalui diplomasi politik, Pemerintah Iran juga memberikan bantuan secara nyata dengan menjadikan Palestina tidak ubahnya salah satu provinsi yang menjadi bagian negaranya,dengan menanggung gaji pegawai di tiga departemen. Menanggung hidup 1.000 pengangguran senilai 100 dolar setiap bulannya. Membiayai total pembangunan gedung kebudayaan, perpustakaan serta renovasi 1.000 rumah yang hancur dengan total biaya 20 juta dolar. Belum lagi bantuan lainnya yang diberikan tanpa persyaratan apapun. Pembelaan dan dukungan Iran atas perlawanan rakyat Gaza menghadapi agresi militer Israel akhir tahun 2012 kemarin, membuat pimpinan HAMAS mewakili rakyat Gaza menyampaikan rasa terimakasihnya secara terbuka kepada Iran.

Dengan keberhasilan meluncurkan roket pembawa satelit “ dan sebuah maket satelit percobaan di orbit bumi, Iran menjadi negara regional pertama yang mandiri tanpa bantuan asing, baik dalam membuat satelit maupun dalam meluncurkan dan mengontrolnya. Semakin diserang dengan propaganda negatif dari berbagai arah, ulama-ulama, ilmuan-ilmuan, olahragawan, sampai seniman mereka seakan berlomba-lomba untuk menunjukkan prestasi dan menampakkan kecemerlangan Islam. Lihat saja apa yang dilakukan ilmuan mereka, hampir dalam hitungan hari, ada yang mematenkan penemuan-penemuan baru mereka. Perkembangan sains di Iran dapat dilihat dari perkembangan publikasi ilmiah yang mereka hasilkan. Dalam penelitian ‘string teory’, kimia dan matematika, Iran merupakan nomor 15 di dunia, bersaing ketat dengan Amerika Serikat dan negara-negara eropa. Dalam artikel D. A. King yang dipublikasikan di Nature (15/7/2004) berjudul ‘The scientific impact of nations’ yang analisisnya menyatakan bahwa Iran merupakan satu-satunya negara Islam yang termasuk ke dalam negara memiliki ‘The scientific impact of nations’ tertinggi di dunia. Bahkan Jurnal Newscientist terbitan Kanada menyebutkan kemajuan ilmu pengetahuan di Negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan Negara-negara lainnya didunia. Daftar 100 orang jenius dunia yang masih hidup yang dikeluarkan oleh firma konsultan global Creators Synectics, Ali Javan pakar teknik (penemu gas laser) dan Pardis Sabeti ahli biologi anthropologi yang keduanya berkebangsaan Iran termasuk di antaranya.

Kaum perempuan Iran tidak ketinggalan dari saintis yang umumnya laki-laki. Dalam Festival Internasional Para Penemu Perempuan yang pertama kali digelar di Korea Selatan tahun 2008, Republik Islam Iran ikut bersaing dalam ajang kompetisi tersebut dan berhasil menggondol 12 medali emas, lima perak dan enam perunggu. Maryam Islami dari Iran menyandang gelar sebagai penemu perempuan terbaik tahun 2008, padahal saat itu Maryam Islami masih mahasiswa tingkat lima fakultas kedokteran. Lebih dari itu, kita juga mengenal Shirin Ebadi muslimah pertama peraih Nobel juga berasal dari Iran. Hal inilah yang ‘memaksa’ Rektor Universitas al Azhar Mesir, Syaikh Thantawi menyatakan, “Kemajuan ilmiah yang telah dicapai Republik Islam Iran merupakan kemajuan dunia Islam dan kebanggaan bagi seluruh umat muslim.”

Pada bidang seni kaligrafi, kaligrafer Iran Roin Abar Khanzadeh berhasil membuat Al-Qur’an terkecil yang memecahkan rekor dunia. Yang menarik Al Quran terkecil ini ditulis dengan mata telanjang oleh penulisnya dan bila dijejer hanya menempati ukuran kertas A3. Saat ini sudah ada 1000 pusat lembaga kegiatan berbasis Al Quran di seantero kota Iran yang sedang aktif dan ada seribu perpustakan dan Bank CD Qurani di pusat-pusat kegiatan AlQur’an di Iran. Telah berkali-kali Iran menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pameran Al-Qur’an Internasional. Dengan tingkat apresiasi yang tinggi terhadap Al-Qur’an wajar jika Iran menghasilkan banyak Mufassir terkemuka dalam dunia Islam, diantaranya Allamah Mohammad Husain Thabatabai, penulis tafsir Al Mizan.

Dalam dunia perbukuan dan penerbitan, dibanding negara-negara Islam lainnya, Republik Islam Iran bisa ditetapkan sebagai yang terdepan. Pameran Buku Internasional Teheran merupakan program pemerintah Iran setiap tahunnya yang mendapat posisi istimewa dalam kalender para penerbit internasional. Berdasarkan data yang dirilis, Pameran Buku Internasional Tehran adalah pameran buku terbesar dunia Islam dan menjadi fenomena budaya terbesar negara-negara di Timur Tengah. Hasil-hasil karya dan apresiasi mereka menunjukkan minat mereka yang demikian tinggi terhadap ilmu pengetahuan, wajar jika kemudian Iran termasuk dalam deretan negara-negara maju. Inilah yang membuat Amerika gentar dan khawatir, lewat propaganda-propaganda negatif, melalui tekanan dan embargo ekonomi, mereka berusaha menghambat pertumbuhan dan kemajuan Iran. Sayang, hanya karena beda mazhab, di antara propaganda miring itu, juga disebar dan gencar dilakukan oleh sebagian kaum muslimin sendiri.

Kalau hanya karena mazhabnya berbeda, Syiah dianggap agama lain, dan Iran keluar dari Dunia Islam, kebanggaan apa yang dimiliki Dunia Islam hari ini? Negeri mana-selain Iran-yang dianggap paling mewakili semangat keilmuan dan kedigdayaan Islam?.

Selamat atas dirgahayu kemenangan Revolusi Islam Iran yang ke 40.

Ismail Amin
Kadep. Intelektual dan Kajian Strategis IPI Iran 2018-2019

Pesan Persatuan dari Persia untuk Indonesia dan Dunia

Pesan Persatuan dari Persia untuk Indonesia dan Dunia

Revolusi Islam di Iran tahun 1979 yang dipimpin Imam Khomeini meruntuhkan kebesaran kekaisaran Persia yang baru saja merayakan ulangtahunnya yang  ke 2500 tahun. Didukung 98,2 persen rakyat Iran, berdirilah sebuah Negara baru dengan nama Republik Islam Iran [Jumhuri_e Islami_e Iran]. Meskipun memiliki saham besar terhadap terbentuknya Negara baru tersebut, Imam Khomeini tidak membuat sistem pemerintahan yang menguntungkan buat keluarganya. Negara baru itu tidak dilabelinya dengan nama klannya, sebagaimana Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Sa’ud yang tahun 1932 memproklamasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi. Imam Khomeini tidak juga menonjolkan kebangsaan Persia sebagaimana Negara-negara Timur Tengah lainnya, yang memamerkan kesukuannya, dengan menyertakan “Arab” pada penyebutan nama Negara. Khomeini justru menonjolkan keislaman. Semboyannya, laa Sunni wa laa Syi’ih. Memang asas Negara Iran berdasarkan Islam pandangan mazhab Syiah, itu disebabkan karena mayoritas penduduknya memang bermazhab Syiah. Namun kelompok-kelompok minoritas tetap mendapatkan hak-haknya dan punya perwakilan di Parlemen. Sistem yang dibentuk sang Mullah, adalah demokrasi. Rakyat berhak menentukan nasib dan masa depannya sendiri dengan memilih siapa yang berhak memimpinnya dan mewakili suaranya di Parlemen. Inilah yang membedakan Iran dengan Negara-negara tetangga lainnya yang betah dengan sistem aristokrasi yang cenderung otoriter, memiliki kekuasaan mutlak dan bercorak dinasti.

Tidak sedikit yang memandang negatif penamaan Jumhuriyah Islamiyah tersebut dengan mengajukan argumen bahwa Imam Khomeini hendak menipu kaum muslimin. Umat Islam akan bangga dengan keberadaan Negara Islam tersebut, padahal hakikatnya, didalamnya bukan Islam. Analoginya seperti, mempromosikan kaleng sapi, tapi ternyata isinya daging babi. Harusnya, Iran gentle menyebut Negara mereka sebagai Republik Syiah, bukan Republik Islam, sebab Syiah bukan bagian dari Islam. Begitu kritik sebagian orang yang meyakini Syiah sebagai agama yang berdiri sendiri dan bukan mazhab dalam Islam.

Hakikatnya, Iran tdk pernah mendakwahkan Syiah, yang mereka usung adalah bendera Islam. Republik yang mereka bentuk diberi label Islam, bukan label mazhab, agar yang dikenal di dunia adalah Islam, apapun kemudian mazhabnya. Kalau ideologi kapitalis, sosialis, komunis, Kristen bahkan zionis bisa mendirikan Negara, maka dunia mengenal lewat Iran sebagai sebuah Negara demokrasi yang maju, Islam juga bisa melalukannya. Kalau AS, China, Rusia dan Korut bisa mengembangkan tekhnologi nuklir, maka dunia mengetahui lewat Iran, ilmuan-ilmuan Islam juga bisa melakukan hal yang sama. Kalau ditingkat Asia, Jepang, Korsel dan China merajai panggung olahraga, maka dunia jadi paham lewat Iran, atlit-atlit muslim juga bisa meraih prestasi yang membanggakan. Kalau perempuan-perempuan Barat bersaing dalam menemukan karya-karya dan prestasi yang mengagumkan, dunia melihat melalui Iran, muslimah-muslimah juga mampu mempersembahkan hal serupa. Kalau AS dan Eropa memiliki segudang negarawan dan politikus yang disegani di kancah percaturan politik internasional, dunia juga mengenal melalui Iran, Islam juga mampu mencetak negarawan-negarawan dan politikus yang mampu melakukan diplomasi tingkat tinggi. Kalau AS dan Negara-negara Barat memiliki kekuatan militer yang ditakuti, dunia mengenal melalui Iran, bahwa Islam juga bisa melakukan lebih dari itu.

Inilah tujuan Imam Khomeini membentuk Republik Islam Iran, inilah sasarannya menonjolkan pelabelan Islam pada nama Negara yang didirikannya. Membangkitkan kembali izzah Islam, sejak keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani. Inilah yang kemudian membuat musuh-musuh Islam menjadi panik. Kebangkitan Islam sudah di depan mata, jika tidak dihentikan akan menjadi air bah yang akan menenggelamkan mereka. Lihat bagaimana gerakan-gerakan Islam terinspirasi oleh kebangkitan revolusi Islam di Iran. Tengok sejarah terbentuknya gerakan intifadah. Syahid Dr. Fathi Ibrahim Shaqaqi, sekjen pertama Gerakan Jihad Islam Palestina mengakui, gerakan Intifadah terinspirasi oleh kebangkitan revolusi Islam di Iran. Sebagaimana rakyat Iran, rakyat Palestina juga pantang hina. Begitupula dengan perjuangan gerakan Hizbullah di Lebanon yang seringkali menyulitkan militer Israel. Bahkan pengaruh revolusi Islam itu sampai pula ke Indonesia. Tahun 80-an yang bersamaan dengan tahun awal-awal revolusi Islam Iran, kekuatan Islam di Indonesia mulai menggeliat dan mengkhawatirkan penguasa Orde Baru. Ditengah tindakan represif aparat keamanan yang phobia Islam, kajian-kajian Islam menjadi semakin marak. Buku-buku pemikir Iran diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan laku keras. Tidak ada satupun buku itu yang menonjolkan mazhab Syiah. Amin Rais muda bahkan menerjemahkan buku Ali Syariati, “Tugas Cendikiawan Muslim.” Dalam pengantarnya, Amin Rais menulis, “Dr. Ali Syariati adalah seorang muslim Syiah, sedangkan penerjemah adalah seorang muslim Sunni. Dorongan menerjemahkan buku ini bukan untuk menawarkan percikan-percikan pemikiran Syiah di Indonesia. Bagi penerjemah, perbedaan Syiah-Sunnah adalah warisan historis kuno yang telah menyebabkan lemahnya ummat Islam sebagai satu keseluruhan. Yang perlu kita kerjakan bukan membongkar-bongkar konflik politik masa silam yang jelas tidak akan ada manfaatnya.” [Amin Rais, 1987]

Pasca revolusi Islam di Iran, Islam menjadi lebih dikenal sebagai agama perlawanan dan perjuangan. Islam menjadi ancaman bagi penguasa yang otoriter dan zalim. Islam membawa pesan kematian bagi kerakusan dan kesewenang-wenangan. AS dan Zionis berkepentingan besar untuk menghentikan itu. Dengan gelontoran dana yang besar, dan kerja orang-orang dalam Islam yang mudah disuap, dimulailah pengrusakan citra itu. Lewat gerakan-gerakan ekstrimisme yang tidak pandang bulu dalam membunuhi dan menyembelih orang namun mengatasnamakan Islam, lewat bom-bom bunuh diri tapi yang kemudian menjadi korban justru rakyat sipil, duniapun mengenal Islam sebagai agama teror dan ajaran horor. Citra Islam yang dibangun bangsa Iran, bersama kelompok Islam yang anti kekerasan dan cinta perdamaian, dirusak dan diciderai oleh kelompok-kelompok yang mengklaim diri Islam namun menghalalkan aksi-aksi terorisme. Ada pula kelompok yang sampai hari ini tetap sibuk mempersoalkan mazhab yg dipeluk mayoritas warga Iran, yang berbeda dengan mazhabnya. Sunni-Syiah dikorek-korek titik bedanya untuk kemudian dipertengkarkan dan menjadi alasan untuk mengkafirkan dan saling membenci. Inilah yang justru menguntungkan musuh-musuh Islam. Untuk itulah, Iran kemudian memprakarsai pertemuan 350 ulama Islam Sunni-Syiah dari 80 negara yang telah berlangsung di kota Tehran, Iran 24-26 November 2018 dengan mengusung tema “al-Quds, Poros Persatuan Umat”. Ratusan ulama-ulama toleran lintas mazhab ini menyatukan tekad, bahwa persatuan Islam bukanlah hal yang bisa ditawar-tawar. Sifatnya segera dan mendesak untuk membangun kejayaan Islam dan peradaban manusia yang saling menyayangi bukan saling menguasai, saling merangkul, bukan saling memukul, yang lebih menempatkan keramahan diatas kemarahan.

Salam Persatuan dari Persia untuk Indonesia dan Dunia…

Ismail Amin 

Kadep. Kajian Strategis dan Intelektual IPI Iran 2018-2019

Pentingnya Memperingati Maulid Nabi Saw

Pentingnya Memperingati Maulid Nabi Saw

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa oleh penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan dan penyayang terhadap orang-orang mu’min. Qs. At-Taubah : 128)

Mencermati kondisi ummat Islam yang secara eksternal mendapatkan serangan dan permusuhan dari musuh-musuhnya dan secara internal teramat rapuh dengan jauhnya mereka dari cahaya risalah kenabian, Shalahuddin Al-Ayyubi (1138-1193 M) pahlawan legendaris Muslim dalam Perang Salib mencetuskan ide Peringatan Hari Kelahiran Nabi Saw. Hal itu menjadikannya sebagai wasilah yang dapat mengobarkan kembali kecintaan kepada agama, meneriakkan kebenaran Ilahi yang tampak senyap, menyulut api spritualitas yang sempat meredup sekaligus merajut kembali secara rapi tali ukhuwah yang  kusut dan bercerai berai.

Dengan mengingat kembali keteladanan yang dicontohkan Rasululullah Saw dalam berbagai aspek kehidupan. Dan hasilnya, ternyata memuaskan, semangat jihad berkobar,  api spritualitas menyala terang, ukhuwah terjalin dan ummat Islam yang diambang kehancuran berbalik arah ditaburi kemenangan dan sejarah keagungan yang tak terlupakan.

Lewat peringatan maulid yang berhasil menggelorakan kembali semangat pantang hina umat Islam, pasukan Shalahudin Al Ayyubi  berhasil memukul mundur tentara gabungan salib dari Eropa yang dikomandani  Raja Inggris Richard Lion Heart dan merebut kembali Palestina dan Masjidil Aqsha dari genggaman para penjajah.

Karenanya, jika kita di bulan ini memperingati Maulid Nabi Saw, hendaknya termotivasi sebagaimana Shalahuddin Al Ayyubi melakukannya, yaitu untuk  membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat ini.

Terlebih lagi, bumi Palestina dan Masjid al Aqsha kembali dalam penguasaan kaum kuffar. Momentum peringatan kelahiran Nabi mestinya menjadi media pemersatu ummat bukan malah menjadi ajang salih berselisih.

Hukum Maulid

Meskipun di negeri ini secara resmi hari Maulid Nabi ditetapkan sebagai hari besar keagamaan, kita tidak bisa memungkiri keberadaan kelompok Islam yang enggan untuk turut memperingatinya. Keengganan itu patut kita apresiasi sebagai bentuk kecintaan juga.

Sebab keengganan mereka dikhawatirkan bahwa perbuatan tersebut terkategorikan bid’ah yang dilarang Islam. Atau minimal menyerupai perayaan kelompok Nashrani yang memperingati kelahiran Yesus Kristus. Sebab Nabi Saw telah mewanti-wanti, “Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dalam golongan kaum itu” (Sunan abu Dawud Juz 4/78). Tentu pendapat tersebut patut dihargai, bukan dijadikan dalih untuk saling bermusuhan dan berpecah belah.

Namun tetap patut diketahui, setidaknya oleh dua ulama besar Islam, Syaikh Ibnu Hajar al Atsqalani dan Imam Jalaluddin as-Suyuti meskipun tetap menyebut peringatan Maulid Nabi sebagai amalan bid’ah namun tidak mengkategorikannya sebagai bid’ah yang terlarang melainkan bid’ah hasanah (inovasi yang baik).

Keduanya mengatakan bahwa status hukum maulid Nabi adalah bid’ah mahmudah (bid’ah terpuji). Karenanya bisa dikatakan, bahwa tidak semua yang tidak dilakukan Nabi itu tertolak dan dipastikan sebagai bid’ah sesat. Untuk menguatkan pendapatnya, Ibnu Hajar menukil hadits Nabi Saw, “Siapa saja yang membuat suatu tradisi yang baik (tidak bertentangan dengan syariat) maka dia mendapatkan pahala dan pahala orang yang mengerjakannya” (Shahih Bukhari).

Penghayatan dan Kesemarakan

Tidak ada seorang Muslimpun yang mengingkari wajibnya memberikan kecintaan kepada Nabi bahkan diharuskan melebihi dari kecintaan terhadap diri sendiri. Para sahabat mengapresiasikan kecintaannya kepada Nabi dengan mencintai apa saja yang datang dari beliau, hatta ludah sekalipun. Karena kecintaan kepada Nabi Saw, para sahabat berebutan mengambil lembaran rambut, tetesan air wudhu, keringat, atau apa saja yang ditinggalkan Rasul.

Salah satu ungkapan cinta ialah mengenang dan memuliakan atsar, yakni apa saja –waktu, peristiwa, tempat- yang berkaitan dengan yang kita cintai. Lihatlah, dinegara manapun selalu ada monumen-monumen besar untuk mengenang peristiwa besar, tempat-tempat bersejarah dan momen-momen penting dari pemimpin negara yang mereka cintai, setiap Negara bahkan termasuk Kerajaan Arab Saudi sekalipun setiap tahunnya memperingati ulang tahun negaranya.

Karena itulah, sangat sulit orang untuk melarang kaum muslimin untuk memperingati maulid nabi, peristiwa Hijrah, Isra’ Miraj, Nuzulul Quran dan momen-momen penting lainnya yang berkaitan dengan sang kekasih Muhammad Saw meskipun peringatan tersebut dikatakan bid’ah. Selama kaum muslimin mencintai Nabi, selama itu pula peringatan dan ziarah ke makam, gua Hira dan sebagainya akan terus berlangsung.

Imam As-Suyuti mengapresiasi peringatan maulid sebagai ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad Saw ke muka bumi. Penuturan ini dapat dilihat dalam Kitab Al-Ni’mah Al-Kubra Ala Al-Alam fi Maulid Sayyid Wuld Adam. Memperingati maulid Nabi adalah ungkapan kecintaan sekaligus kesyukuran atas kehadiran beliau di muka bumi menghidayai ummat manusia dan menyelematkannya dari lembah kesesatan.

Karenanya, peringatan ceremonial semacam maulid sangatlah dibutuhkan umat akhir-akhir ini, sebagai momentum untuk membincangkan keagungan dan kemuliaan nabi Muhammad Saw, untuk menyiarkan banyak dari sunnah-sunnah nabi yang terabaikan, untuk lebih memperkenalkan kemulian akhlak Rasulullah kepada mereka yang memendam dendam dan kebencian karena ketidak tahuan.

Saya rasa kita punya kaidah penetapan hukum untuk itu, bahwa setiap yang menjadi perantara pelaksanaan amalan yang wajib maka wajib pula pelaksanaannya. Membeli baju hukumnya mubah, namun menjadi wajib jika kita tidak memiliki baju untuk menutup aurat dalam pelaksanaan shalat. Mengenang apapun yang berkenaan dengan Rasulullah menjadi wajib hukumnya karena menjadi syarat untuk menimbulkan kecintaan kepada Rasulullah Saw yang merupakan kewajiban bagi kaum muslimin.

Hari kelahiran Nabi sesungguhnya termasuk hari-hari Allah tentangnya Allah berfirman, “Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” (Qs. Ibrahim: 5).

Mari kita jadikan Rabiul Awal (yang masyhur dikenal sebagai bulan lahir dan wafatnya Rasulullah Muhammad Saw) sebagai momentum untuk memperingatinya, sebagai ungkapan kecintaan kita kepada Rasulullah Saw, untuk menghidupkan ghirah keislaman kita, membina semangat profetis agar bulan-bulan selanjutnya sampai ke bulan Rabiul Awal selanjutnya yang kita lakukan adalah kerja-kerja kenabian.

Secara sosiologis, dengan asumsi kehidupan manusia di abad ini, dengan kecenderungan bergaya hidup konsumeristik, hedonistik, dan materialistik, punya andil cukup besar terhadap terkikisnya tingkat kesadaran seseorang termasuk kecenderungannya dalam beragama, maka peringatan maulid Nabi menjadi tuntutan religius yang penting.

Kita berupaya menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah agar membuat takjub kaum muslimin dan pada saat yang sama membuat murka musuh-musuh Islam. Kesemarakan yang terjadi dalam setiap peringatan Maulid bukanlah untuk dilarang, tetapi untuk diluruskan penyimpangan yang terjadi di dalamnya, untuk diarahkan kepada penghayatan makna peringatan perjalanan nabi sesungguhnya. Kesemarakan adalah bagian dari syiar agama, sementara syiar sendiri bagian dari pendalaman agama. Dengan syiar para ulama atau tokoh agama bisa berperan dalam membina masyarakat.

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”  (Qs. Adz Dzazariyat : 55)

Selamat memperingati Hari Maulid Nabi Muhammad Saw

Ismail Amin Pasannai

Kadep. Kajian Strategis dan Intelektual IPI Iran 2018-2019