Kemajuan Iran dan Kebanggaan Sebagai Muslim

Kemajuan Iran dan Kebanggaan Sebagai Muslim

Menceritakan apapun tentang Iran, cenderung dicurigai membawa misi tertentu. Namun saya merasa terpanggil untuk menceritakannya, terutama karena banyaknya hal yang bisa menjadi pelajaran bagi bangsa kita. Iran, sebuah negeri fenomenal yang mendapat simpatik, pujian, pembelaan dan hujatan sekaligus. Negeri yang lewat CNN, Amerika menyebutnya sebagai bangsa yang keras kepala, yang oleh sebagian kaum muslimin menjadikan Iran sebagai kebanggaan baru, kiblat alternatif pergerakan dan perlawanan terhadap hegemoni Amerika namun sebagiannya lagi tetap juga memasang wajah permusuhan dan kecurigaan. Iran dengan mazhab Syiah mayoritas rakyatnya, tetap dinilai sebagai musuh dan diluar Islam. Apapun yang berasal darinya dicurigai sebagai kedok semata untuk memberangus dan menghancurkan Islam dari dalam.

Apapun yang berasal darinya, fiqh, hadits, tradisi, teologi, filsafat bahkan penemuan-penemuan mutakhirnya diisolasikan dan dipinggirkan dari dunia Islam. Syiah sering mendapat tuduhan dan fitnah sebagai agama tersendiri dan bukan bagian dari Islam. Namun, bagai pepatah, anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu, Iran dengan masyarakatnya yang mayoritas Syiah menjawab segala tuduhan-tuduhan dan berbagai tudingan miring dengan kerja-kerja positif yang nyata. Iran menjadi negara terdepan dan paling aktif memberikan pembelaan atas penindasan yang masih juga dirasakan rakyat Palestina. Tidak sekedar melalui diplomasi politik, Pemerintah Iran juga memberikan bantuan secara nyata dengan menjadikan Palestina tidak ubahnya salah satu provinsi yang menjadi bagian negaranya,dengan menanggung gaji pegawai di tiga departemen. Menanggung hidup 1.000 pengangguran senilai 100 dolar setiap bulannya. Membiayai total pembangunan gedung kebudayaan, perpustakaan serta renovasi 1.000 rumah yang hancur dengan total biaya 20 juta dolar. Belum lagi bantuan lainnya yang diberikan tanpa persyaratan apapun. Pembelaan dan dukungan Iran atas perlawanan rakyat Gaza menghadapi agresi militer Israel akhir tahun 2012 kemarin, membuat pimpinan HAMAS mewakili rakyat Gaza menyampaikan rasa terimakasihnya secara terbuka kepada Iran.

Dengan keberhasilan meluncurkan roket pembawa satelit “ dan sebuah maket satelit percobaan di orbit bumi, Iran menjadi negara regional pertama yang mandiri tanpa bantuan asing, baik dalam membuat satelit maupun dalam meluncurkan dan mengontrolnya. Semakin diserang dengan propaganda negatif dari berbagai arah, ulama-ulama, ilmuan-ilmuan, olahragawan, sampai seniman mereka seakan berlomba-lomba untuk menunjukkan prestasi dan menampakkan kecemerlangan Islam. Lihat saja apa yang dilakukan ilmuan mereka, hampir dalam hitungan hari, ada yang mematenkan penemuan-penemuan baru mereka. Perkembangan sains di Iran dapat dilihat dari perkembangan publikasi ilmiah yang mereka hasilkan. Dalam penelitian ‘string teory’, kimia dan matematika, Iran merupakan nomor 15 di dunia, bersaing ketat dengan Amerika Serikat dan negara-negara eropa. Dalam artikel D. A. King yang dipublikasikan di Nature (15/7/2004) berjudul ‘The scientific impact of nations’ yang analisisnya menyatakan bahwa Iran merupakan satu-satunya negara Islam yang termasuk ke dalam negara memiliki ‘The scientific impact of nations’ tertinggi di dunia. Bahkan Jurnal Newscientist terbitan Kanada menyebutkan kemajuan ilmu pengetahuan di Negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan Negara-negara lainnya didunia. Daftar 100 orang jenius dunia yang masih hidup yang dikeluarkan oleh firma konsultan global Creators Synectics, Ali Javan pakar teknik (penemu gas laser) dan Pardis Sabeti ahli biologi anthropologi yang keduanya berkebangsaan Iran termasuk di antaranya.

Kaum perempuan Iran tidak ketinggalan dari saintis yang umumnya laki-laki. Dalam Festival Internasional Para Penemu Perempuan yang pertama kali digelar di Korea Selatan tahun 2008, Republik Islam Iran ikut bersaing dalam ajang kompetisi tersebut dan berhasil menggondol 12 medali emas, lima perak dan enam perunggu. Maryam Islami dari Iran menyandang gelar sebagai penemu perempuan terbaik tahun 2008, padahal saat itu Maryam Islami masih mahasiswa tingkat lima fakultas kedokteran. Lebih dari itu, kita juga mengenal Shirin Ebadi muslimah pertama peraih Nobel juga berasal dari Iran. Hal inilah yang ‘memaksa’ Rektor Universitas al Azhar Mesir, Syaikh Thantawi menyatakan, “Kemajuan ilmiah yang telah dicapai Republik Islam Iran merupakan kemajuan dunia Islam dan kebanggaan bagi seluruh umat muslim.”

Pada bidang seni kaligrafi, kaligrafer Iran Roin Abar Khanzadeh berhasil membuat Al-Qur’an terkecil yang memecahkan rekor dunia. Yang menarik Al Quran terkecil ini ditulis dengan mata telanjang oleh penulisnya dan bila dijejer hanya menempati ukuran kertas A3. Saat ini sudah ada 1000 pusat lembaga kegiatan berbasis Al Quran di seantero kota Iran yang sedang aktif dan ada seribu perpustakan dan Bank CD Qurani di pusat-pusat kegiatan AlQur’an di Iran. Telah berkali-kali Iran menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pameran Al-Qur’an Internasional. Dengan tingkat apresiasi yang tinggi terhadap Al-Qur’an wajar jika Iran menghasilkan banyak Mufassir terkemuka dalam dunia Islam, diantaranya Allamah Mohammad Husain Thabatabai, penulis tafsir Al Mizan.

Dalam dunia perbukuan dan penerbitan, dibanding negara-negara Islam lainnya, Republik Islam Iran bisa ditetapkan sebagai yang terdepan. Pameran Buku Internasional Teheran merupakan program pemerintah Iran setiap tahunnya yang mendapat posisi istimewa dalam kalender para penerbit internasional. Berdasarkan data yang dirilis, Pameran Buku Internasional Tehran adalah pameran buku terbesar dunia Islam dan menjadi fenomena budaya terbesar negara-negara di Timur Tengah. Hasil-hasil karya dan apresiasi mereka menunjukkan minat mereka yang demikian tinggi terhadap ilmu pengetahuan, wajar jika kemudian Iran termasuk dalam deretan negara-negara maju. Inilah yang membuat Amerika gentar dan khawatir, lewat propaganda-propaganda negatif, melalui tekanan dan embargo ekonomi, mereka berusaha menghambat pertumbuhan dan kemajuan Iran. Sayang, hanya karena beda mazhab, di antara propaganda miring itu, juga disebar dan gencar dilakukan oleh sebagian kaum muslimin sendiri.

Kalau hanya karena mazhabnya berbeda, Syiah dianggap agama lain, dan Iran keluar dari Dunia Islam, kebanggaan apa yang dimiliki Dunia Islam hari ini? Negeri mana-selain Iran-yang dianggap paling mewakili semangat keilmuan dan kedigdayaan Islam?.

Selamat atas dirgahayu kemenangan Revolusi Islam Iran yang ke 40.

Ismail Amin
Kadep. Intelektual dan Kajian Strategis IPI Iran 2018-2019

Pesan Persatuan dari Persia untuk Indonesia dan Dunia

Pesan Persatuan dari Persia untuk Indonesia dan Dunia

Revolusi Islam di Iran tahun 1979 yang dipimpin Imam Khomeini meruntuhkan kebesaran kekaisaran Persia yang baru saja merayakan ulangtahunnya yang  ke 2500 tahun. Didukung 98,2 persen rakyat Iran, berdirilah sebuah Negara baru dengan nama Republik Islam Iran [Jumhuri_e Islami_e Iran]. Meskipun memiliki saham besar terhadap terbentuknya Negara baru tersebut, Imam Khomeini tidak membuat sistem pemerintahan yang menguntungkan buat keluarganya. Negara baru itu tidak dilabelinya dengan nama klannya, sebagaimana Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Sa’ud yang tahun 1932 memproklamasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi. Imam Khomeini tidak juga menonjolkan kebangsaan Persia sebagaimana Negara-negara Timur Tengah lainnya, yang memamerkan kesukuannya, dengan menyertakan “Arab” pada penyebutan nama Negara. Khomeini justru menonjolkan keislaman. Semboyannya, laa Sunni wa laa Syi’ih. Memang asas Negara Iran berdasarkan Islam pandangan mazhab Syiah, itu disebabkan karena mayoritas penduduknya memang bermazhab Syiah. Namun kelompok-kelompok minoritas tetap mendapatkan hak-haknya dan punya perwakilan di Parlemen. Sistem yang dibentuk sang Mullah, adalah demokrasi. Rakyat berhak menentukan nasib dan masa depannya sendiri dengan memilih siapa yang berhak memimpinnya dan mewakili suaranya di Parlemen. Inilah yang membedakan Iran dengan Negara-negara tetangga lainnya yang betah dengan sistem aristokrasi yang cenderung otoriter, memiliki kekuasaan mutlak dan bercorak dinasti.

Tidak sedikit yang memandang negatif penamaan Jumhuriyah Islamiyah tersebut dengan mengajukan argumen bahwa Imam Khomeini hendak menipu kaum muslimin. Umat Islam akan bangga dengan keberadaan Negara Islam tersebut, padahal hakikatnya, didalamnya bukan Islam. Analoginya seperti, mempromosikan kaleng sapi, tapi ternyata isinya daging babi. Harusnya, Iran gentle menyebut Negara mereka sebagai Republik Syiah, bukan Republik Islam, sebab Syiah bukan bagian dari Islam. Begitu kritik sebagian orang yang meyakini Syiah sebagai agama yang berdiri sendiri dan bukan mazhab dalam Islam.

Hakikatnya, Iran tdk pernah mendakwahkan Syiah, yang mereka usung adalah bendera Islam. Republik yang mereka bentuk diberi label Islam, bukan label mazhab, agar yang dikenal di dunia adalah Islam, apapun kemudian mazhabnya. Kalau ideologi kapitalis, sosialis, komunis, Kristen bahkan zionis bisa mendirikan Negara, maka dunia mengenal lewat Iran sebagai sebuah Negara demokrasi yang maju, Islam juga bisa melalukannya. Kalau AS, China, Rusia dan Korut bisa mengembangkan tekhnologi nuklir, maka dunia mengetahui lewat Iran, ilmuan-ilmuan Islam juga bisa melakukan hal yang sama. Kalau ditingkat Asia, Jepang, Korsel dan China merajai panggung olahraga, maka dunia jadi paham lewat Iran, atlit-atlit muslim juga bisa meraih prestasi yang membanggakan. Kalau perempuan-perempuan Barat bersaing dalam menemukan karya-karya dan prestasi yang mengagumkan, dunia melihat melalui Iran, muslimah-muslimah juga mampu mempersembahkan hal serupa. Kalau AS dan Eropa memiliki segudang negarawan dan politikus yang disegani di kancah percaturan politik internasional, dunia juga mengenal melalui Iran, Islam juga mampu mencetak negarawan-negarawan dan politikus yang mampu melakukan diplomasi tingkat tinggi. Kalau AS dan Negara-negara Barat memiliki kekuatan militer yang ditakuti, dunia mengenal melalui Iran, bahwa Islam juga bisa melakukan lebih dari itu.

Inilah tujuan Imam Khomeini membentuk Republik Islam Iran, inilah sasarannya menonjolkan pelabelan Islam pada nama Negara yang didirikannya. Membangkitkan kembali izzah Islam, sejak keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani. Inilah yang kemudian membuat musuh-musuh Islam menjadi panik. Kebangkitan Islam sudah di depan mata, jika tidak dihentikan akan menjadi air bah yang akan menenggelamkan mereka. Lihat bagaimana gerakan-gerakan Islam terinspirasi oleh kebangkitan revolusi Islam di Iran. Tengok sejarah terbentuknya gerakan intifadah. Syahid Dr. Fathi Ibrahim Shaqaqi, sekjen pertama Gerakan Jihad Islam Palestina mengakui, gerakan Intifadah terinspirasi oleh kebangkitan revolusi Islam di Iran. Sebagaimana rakyat Iran, rakyat Palestina juga pantang hina. Begitupula dengan perjuangan gerakan Hizbullah di Lebanon yang seringkali menyulitkan militer Israel. Bahkan pengaruh revolusi Islam itu sampai pula ke Indonesia. Tahun 80-an yang bersamaan dengan tahun awal-awal revolusi Islam Iran, kekuatan Islam di Indonesia mulai menggeliat dan mengkhawatirkan penguasa Orde Baru. Ditengah tindakan represif aparat keamanan yang phobia Islam, kajian-kajian Islam menjadi semakin marak. Buku-buku pemikir Iran diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan laku keras. Tidak ada satupun buku itu yang menonjolkan mazhab Syiah. Amin Rais muda bahkan menerjemahkan buku Ali Syariati, “Tugas Cendikiawan Muslim.” Dalam pengantarnya, Amin Rais menulis, “Dr. Ali Syariati adalah seorang muslim Syiah, sedangkan penerjemah adalah seorang muslim Sunni. Dorongan menerjemahkan buku ini bukan untuk menawarkan percikan-percikan pemikiran Syiah di Indonesia. Bagi penerjemah, perbedaan Syiah-Sunnah adalah warisan historis kuno yang telah menyebabkan lemahnya ummat Islam sebagai satu keseluruhan. Yang perlu kita kerjakan bukan membongkar-bongkar konflik politik masa silam yang jelas tidak akan ada manfaatnya.” [Amin Rais, 1987]

Pasca revolusi Islam di Iran, Islam menjadi lebih dikenal sebagai agama perlawanan dan perjuangan. Islam menjadi ancaman bagi penguasa yang otoriter dan zalim. Islam membawa pesan kematian bagi kerakusan dan kesewenang-wenangan. AS dan Zionis berkepentingan besar untuk menghentikan itu. Dengan gelontoran dana yang besar, dan kerja orang-orang dalam Islam yang mudah disuap, dimulailah pengrusakan citra itu. Lewat gerakan-gerakan ekstrimisme yang tidak pandang bulu dalam membunuhi dan menyembelih orang namun mengatasnamakan Islam, lewat bom-bom bunuh diri tapi yang kemudian menjadi korban justru rakyat sipil, duniapun mengenal Islam sebagai agama teror dan ajaran horor. Citra Islam yang dibangun bangsa Iran, bersama kelompok Islam yang anti kekerasan dan cinta perdamaian, dirusak dan diciderai oleh kelompok-kelompok yang mengklaim diri Islam namun menghalalkan aksi-aksi terorisme. Ada pula kelompok yang sampai hari ini tetap sibuk mempersoalkan mazhab yg dipeluk mayoritas warga Iran, yang berbeda dengan mazhabnya. Sunni-Syiah dikorek-korek titik bedanya untuk kemudian dipertengkarkan dan menjadi alasan untuk mengkafirkan dan saling membenci. Inilah yang justru menguntungkan musuh-musuh Islam. Untuk itulah, Iran kemudian memprakarsai pertemuan 350 ulama Islam Sunni-Syiah dari 80 negara yang telah berlangsung di kota Tehran, Iran 24-26 November 2018 dengan mengusung tema “al-Quds, Poros Persatuan Umat”. Ratusan ulama-ulama toleran lintas mazhab ini menyatukan tekad, bahwa persatuan Islam bukanlah hal yang bisa ditawar-tawar. Sifatnya segera dan mendesak untuk membangun kejayaan Islam dan peradaban manusia yang saling menyayangi bukan saling menguasai, saling merangkul, bukan saling memukul, yang lebih menempatkan keramahan diatas kemarahan.

Salam Persatuan dari Persia untuk Indonesia dan Dunia…

Ismail Amin 

Kadep. Kajian Strategis dan Intelektual IPI Iran 2018-2019

Pentingnya Memperingati Maulid Nabi Saw

Pentingnya Memperingati Maulid Nabi Saw

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa oleh penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan dan penyayang terhadap orang-orang mu’min. Qs. At-Taubah : 128)

Mencermati kondisi ummat Islam yang secara eksternal mendapatkan serangan dan permusuhan dari musuh-musuhnya dan secara internal teramat rapuh dengan jauhnya mereka dari cahaya risalah kenabian, Shalahuddin Al-Ayyubi (1138-1193 M) pahlawan legendaris Muslim dalam Perang Salib mencetuskan ide Peringatan Hari Kelahiran Nabi Saw. Hal itu menjadikannya sebagai wasilah yang dapat mengobarkan kembali kecintaan kepada agama, meneriakkan kebenaran Ilahi yang tampak senyap, menyulut api spritualitas yang sempat meredup sekaligus merajut kembali secara rapi tali ukhuwah yang  kusut dan bercerai berai.

Dengan mengingat kembali keteladanan yang dicontohkan Rasululullah Saw dalam berbagai aspek kehidupan. Dan hasilnya, ternyata memuaskan, semangat jihad berkobar,  api spritualitas menyala terang, ukhuwah terjalin dan ummat Islam yang diambang kehancuran berbalik arah ditaburi kemenangan dan sejarah keagungan yang tak terlupakan.

Lewat peringatan maulid yang berhasil menggelorakan kembali semangat pantang hina umat Islam, pasukan Shalahudin Al Ayyubi  berhasil memukul mundur tentara gabungan salib dari Eropa yang dikomandani  Raja Inggris Richard Lion Heart dan merebut kembali Palestina dan Masjidil Aqsha dari genggaman para penjajah.

Karenanya, jika kita di bulan ini memperingati Maulid Nabi Saw, hendaknya termotivasi sebagaimana Shalahuddin Al Ayyubi melakukannya, yaitu untuk  membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat ini.

Terlebih lagi, bumi Palestina dan Masjid al Aqsha kembali dalam penguasaan kaum kuffar. Momentum peringatan kelahiran Nabi mestinya menjadi media pemersatu ummat bukan malah menjadi ajang salih berselisih.

Hukum Maulid

Meskipun di negeri ini secara resmi hari Maulid Nabi ditetapkan sebagai hari besar keagamaan, kita tidak bisa memungkiri keberadaan kelompok Islam yang enggan untuk turut memperingatinya. Keengganan itu patut kita apresiasi sebagai bentuk kecintaan juga.

Sebab keengganan mereka dikhawatirkan bahwa perbuatan tersebut terkategorikan bid’ah yang dilarang Islam. Atau minimal menyerupai perayaan kelompok Nashrani yang memperingati kelahiran Yesus Kristus. Sebab Nabi Saw telah mewanti-wanti, “Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dalam golongan kaum itu” (Sunan abu Dawud Juz 4/78). Tentu pendapat tersebut patut dihargai, bukan dijadikan dalih untuk saling bermusuhan dan berpecah belah.

Namun tetap patut diketahui, setidaknya oleh dua ulama besar Islam, Syaikh Ibnu Hajar al Atsqalani dan Imam Jalaluddin as-Suyuti meskipun tetap menyebut peringatan Maulid Nabi sebagai amalan bid’ah namun tidak mengkategorikannya sebagai bid’ah yang terlarang melainkan bid’ah hasanah (inovasi yang baik).

Keduanya mengatakan bahwa status hukum maulid Nabi adalah bid’ah mahmudah (bid’ah terpuji). Karenanya bisa dikatakan, bahwa tidak semua yang tidak dilakukan Nabi itu tertolak dan dipastikan sebagai bid’ah sesat. Untuk menguatkan pendapatnya, Ibnu Hajar menukil hadits Nabi Saw, “Siapa saja yang membuat suatu tradisi yang baik (tidak bertentangan dengan syariat) maka dia mendapatkan pahala dan pahala orang yang mengerjakannya” (Shahih Bukhari).

Penghayatan dan Kesemarakan

Tidak ada seorang Muslimpun yang mengingkari wajibnya memberikan kecintaan kepada Nabi bahkan diharuskan melebihi dari kecintaan terhadap diri sendiri. Para sahabat mengapresiasikan kecintaannya kepada Nabi dengan mencintai apa saja yang datang dari beliau, hatta ludah sekalipun. Karena kecintaan kepada Nabi Saw, para sahabat berebutan mengambil lembaran rambut, tetesan air wudhu, keringat, atau apa saja yang ditinggalkan Rasul.

Salah satu ungkapan cinta ialah mengenang dan memuliakan atsar, yakni apa saja –waktu, peristiwa, tempat- yang berkaitan dengan yang kita cintai. Lihatlah, dinegara manapun selalu ada monumen-monumen besar untuk mengenang peristiwa besar, tempat-tempat bersejarah dan momen-momen penting dari pemimpin negara yang mereka cintai, setiap Negara bahkan termasuk Kerajaan Arab Saudi sekalipun setiap tahunnya memperingati ulang tahun negaranya.

Karena itulah, sangat sulit orang untuk melarang kaum muslimin untuk memperingati maulid nabi, peristiwa Hijrah, Isra’ Miraj, Nuzulul Quran dan momen-momen penting lainnya yang berkaitan dengan sang kekasih Muhammad Saw meskipun peringatan tersebut dikatakan bid’ah. Selama kaum muslimin mencintai Nabi, selama itu pula peringatan dan ziarah ke makam, gua Hira dan sebagainya akan terus berlangsung.

Imam As-Suyuti mengapresiasi peringatan maulid sebagai ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad Saw ke muka bumi. Penuturan ini dapat dilihat dalam Kitab Al-Ni’mah Al-Kubra Ala Al-Alam fi Maulid Sayyid Wuld Adam. Memperingati maulid Nabi adalah ungkapan kecintaan sekaligus kesyukuran atas kehadiran beliau di muka bumi menghidayai ummat manusia dan menyelematkannya dari lembah kesesatan.

Karenanya, peringatan ceremonial semacam maulid sangatlah dibutuhkan umat akhir-akhir ini, sebagai momentum untuk membincangkan keagungan dan kemuliaan nabi Muhammad Saw, untuk menyiarkan banyak dari sunnah-sunnah nabi yang terabaikan, untuk lebih memperkenalkan kemulian akhlak Rasulullah kepada mereka yang memendam dendam dan kebencian karena ketidak tahuan.

Saya rasa kita punya kaidah penetapan hukum untuk itu, bahwa setiap yang menjadi perantara pelaksanaan amalan yang wajib maka wajib pula pelaksanaannya. Membeli baju hukumnya mubah, namun menjadi wajib jika kita tidak memiliki baju untuk menutup aurat dalam pelaksanaan shalat. Mengenang apapun yang berkenaan dengan Rasulullah menjadi wajib hukumnya karena menjadi syarat untuk menimbulkan kecintaan kepada Rasulullah Saw yang merupakan kewajiban bagi kaum muslimin.

Hari kelahiran Nabi sesungguhnya termasuk hari-hari Allah tentangnya Allah berfirman, “Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” (Qs. Ibrahim: 5).

Mari kita jadikan Rabiul Awal (yang masyhur dikenal sebagai bulan lahir dan wafatnya Rasulullah Muhammad Saw) sebagai momentum untuk memperingatinya, sebagai ungkapan kecintaan kita kepada Rasulullah Saw, untuk menghidupkan ghirah keislaman kita, membina semangat profetis agar bulan-bulan selanjutnya sampai ke bulan Rabiul Awal selanjutnya yang kita lakukan adalah kerja-kerja kenabian.

Secara sosiologis, dengan asumsi kehidupan manusia di abad ini, dengan kecenderungan bergaya hidup konsumeristik, hedonistik, dan materialistik, punya andil cukup besar terhadap terkikisnya tingkat kesadaran seseorang termasuk kecenderungannya dalam beragama, maka peringatan maulid Nabi menjadi tuntutan religius yang penting.

Kita berupaya menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah agar membuat takjub kaum muslimin dan pada saat yang sama membuat murka musuh-musuh Islam. Kesemarakan yang terjadi dalam setiap peringatan Maulid bukanlah untuk dilarang, tetapi untuk diluruskan penyimpangan yang terjadi di dalamnya, untuk diarahkan kepada penghayatan makna peringatan perjalanan nabi sesungguhnya. Kesemarakan adalah bagian dari syiar agama, sementara syiar sendiri bagian dari pendalaman agama. Dengan syiar para ulama atau tokoh agama bisa berperan dalam membina masyarakat.

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”  (Qs. Adz Dzazariyat : 55)

Selamat memperingati Hari Maulid Nabi Muhammad Saw

Ismail Amin Pasannai

Kadep. Kajian Strategis dan Intelektual IPI Iran 2018-2019

Mem-Frame Perjumpaan Tuhan dengan Filsafat Islam

Mem-Frame Perjumpaan Tuhan dengan Filsafat Islam

“Al-Haq tidak bertajalli dalam bentuk yang sama kepada dua orang arif yang berbeda (Ibn Arabi, 3, 384)”

Oleh : Muhammad Ma’ruf

Keberhasilan mem-frame pengalaman mistisme dengan pengetahuan husuli (filsafat) terfokus pada pembahasan “ketakjuban menyaksikan al-haq”. Seorang pakar psikologi AS, William James menganalisa “keterpakuan (inefability)” sebagai pengalaman tak tergantikan dan karenanya tidak bisa dipindahkan ke orang lain.

Benarkah pengalaman mistis, dalam bahasa tasawuf-syuhud- tidak bisa terkatakan dengan perumpamaan apapun, benarkah untuk memahami dan menceritakan pengalaman, pelaku mistis atau “arif” persis seperti analogi eklusifnya rasa makanan oleh indera pengecap, dan pengalaman warna dengan indera mata.  Haruskah kita mengalami sendiri untuk bisa memahami?. Dengan kata lain dengan memakai bingkai Filsafat Islam kita bisa ajukan pertanyaan, bisakah kita memahami sebuah pengalaman huduri dengan pengetahuan hushuli?

Sebelum melakukan analisa, ada baiknya kita fokus memahami alur pikiran James seperti dalam makalah Seyyed Ahmad Fazelli “Argumentasi seputar Ineffability”. James berpendapat, kualitas pengalaman mistis tidak bisa dipindahkan secara eksistensial didasarkan sifat alaminya yang terperikan (inefability). Pendapat ini dikritik oleh Stace sebangun dengan David Hume, tidak mungkin suatu efek atau kualitas sederhana terbentuk dalam realitas mental (kognisi) tanpa diawali suatu pengalaman. Stace mengkritik James dua hal, pertama, pengalaman mistik tidak bisa dianalogikan sama dengan pengalaman rasa, warna dan penciuman  karena  kualitas pengalaman mistik itu spesifik pada satu orang, tidak mungkin diraih oleh pengalaman lain. Kedua pengalaman mistik sebenarnya bisa diekpresikan, namun subjek pendengarlah/pembaca yang tidak memiliki pengalaman penyingkapan.

Dengan demikian fokus pembahasanya adalah lebih kepada bahasa seorang arif (pelaku pengalaman mistik) dibanding subjek pendengar/pembacanya. Karena presepsi mistik (dzauq) saat menyaksikan al-haq tidak terwakili oleh istilah apapun karenanya diluar kontek teoritis dan presepsi inderawi.

Kemudian pertanyaanya, darimana peluang pengalaman mistik itu  itu bisa jelaskan dengan bahasa logis, diskursi (filsafat). Peluang itu dimungkinakan menurut Stace karena “segala sesuatu selain Tuhan memiliki sisi kesamaan dan keserupaan” artinya jika kita ingin membahasakan pengalaman mistik seorang “arif”, peluang itu ada karena antara “arif” dan kita karena sama-sama dalam frame selain Tuhan yang mempunyai keserupaan dalam bahasa dan pemahaman.

Dua orang arif yang sama-sama menyaksikan al-haq (tiada seusatupun yang serupa) masih ada peluang mempunyai keserupaan baik dalam ungkapan bentuk kalimat, metafor dan analogi, meskipun dua orang arif mendapatkan tajalli secara berbeda. Ibnu Arabi menjelaskan seperti dua orang yang awalnya sama-sama mempresepsi satu warna kemudian setelah mempresepsi lebih dalam, bisa saja memiliki presepsi yang berbeda. Hamadani menjelaskan perbedaan itu berakar dari perbedaan pemahaman keduanya. Sehingga bisa dikatakan pengalaman mistik bukan hanya perasaan biasa yang karena terlalu dalam tidak bisa diungkapkan akan tetapi pengalaman itu benar-benar tidak mungkin kosong dari muatan kognisi.

Jadi jika di telaah  lebih dalam, objek syuhud sebenarnya bukan faktor yang menghalangi, akan tetapi keadaan terpaku  yang menguasai si pelaku. Intinya konteknya bukan “inefability” akan tetapi faktor aksiden yang menghalangi untuk sementara waktu. Adapun keterpakuan (keagungan Al-Haq) merupkan attribut dari Al-Haq bukan dari sang penyaksi. Karena keagungan dan rasa terpaku maka menjadi penghalang proses merekam dan mengingat. Seperti yang kita ketahui kerja bahasa ekpresi diilhami oleh memori. Pertanyaan, bahasa apa yang bisa dipakai sebagai media ekspresi?

Jika harapanya bahasa itu konsep logis diskursif yang utuh maka takkan berhasil, karena sama saja mengatakan bagaimana mungkin menggantungkan prinsip rasionalitas  untuk memahami apa yang melampaui rasionalitas. Sehingga yang bisa dilakukan adalah penguraian dalam bentuk kata, membuat beragam analogi, penafian dan yang pasti bersifat paradoksal secara lahiriyah.

Selain itu persoalan keagungan menyaksikan “Al-Haq” tidak bisa terpisah dalam aspek epistemologi dan ontologinya, Qunawi dan Naraqi berpendapat, satu-satunya jalan memahami hal-hal mukasyafah adalah dengan mukasyafah.

“Mengenai ibarat-ibarat dilontarkan kaum arif—bisa jadi makna yang mereka maksudkan berbeda dengan makna yang kita pahami. Demi memperoleh pada makna yang dimaksud arif, tak ada jalan lain kecuali mukasyafah.”(Naraqi, 585)

“Saya menyaksikan dalam maqam ini hasil dari rahasia amal perbuatan termasuk konsekuensinya, yaitu kebaikan dan keburukan, baik di dunia dan alam barzah dan akherat, baik dalam bentuk niat dan kehadiran secara ilmu, syuhud dan kontemplasi. Namun karena keagungan dirin-Nya, segalanya tak mungkin dijelaskan. Meskipun mencoba menjelaskan, tiada ibarat yang mewakil-Nya. Karena ekpresi tak pernah memadai (Qunawi, 182, 1375).

Seperti yang kita ketahui, kondisi “arif” pada tahap awal tingkatan adalah kehadiran illahi ta’ayyun awwal (entifikasi pertama). Sang arif akan menyaksikan dominasi kesatuan keserbameliputan (ahadiyah aljam’) yang menyatukan karakter prinsip logis dan kotradiktif. Pada titik ini proses husuli lenyap. Karenanya keterpakuan tidak hanya masalah psikologis tetapi memilik sifat objektif.

Dari uraian diatas, bisa dirangkum dengan satu paragraf berikut, “Pengalaman syuhud bersifat tak terlukiskan, hal ini karena wadah pengalaman tersebut dalam kerangka kesatuan (unity). Sedang konsep akan terjadi hanya dalam kemajemukan(multiplisity), klasifikasi dan komparasi. Setiap kata mewakili makna tertentu, akan tetapi saat shuhud terjadi, yang ada hanya kesatuan mutlak tanpa pemahaman. Kemudian setelah syuhud, subjek kembali ke alam keragaman, kemudian memori membantu terciptanya suatu pemahaman (konsep). Karena sandaran keterpakuan (ketakjuban)  bersifat metafisis maka ekpresinya kontradiktif sehingga proposisi yang dihasilkan paradoksal husuli.”

Mehdi Hairi Yazdi dalam bukunya The Principles of Epistemology in Islamic Philosophy; Knowledge by Presence, yang diterjemahkan menjadi Menghadirkan Cahaya Tuhan; Epistemologi Iluminasionis dalam Filsafat Islam oleh Ahsin Muhammad, Mizan, 2003 halaman 282 mengatakan;

“Penyelidikan metamistik adalah kontemplasi dengan merenungi bahasa objek pengalaman mistik.  Sementara pengalaman mistik itu sendiri tetap berada dalam lingkup ilmu hudhuri, irfan dan metamistisisme termasuk tatanan pengetahuan dengan representasi dan karena itu keduanya termasuk pengetahuan dengan korespondensi .”

“Syuhud”, Khas Tasawuf

Pengalaman syuhud dalam irfan berbeda dengan pengalaman mistis agama lain. Syuhud dalam Islam harus sebangun dengan makna pemahaman bunyi ayat dalam nash dan riwayat.  Dengan demikian kita bisa memperoleh beberapa poin:

Pertama, pengalaman mistik bertingkat-tingkat (tingkatan fana), dalam konteks irfan, pengalaman langsung itu dinamai pengalaman syuhud, menyaksikan dengan batin “Al-Haq”. Pada saat mengalami, prosesnya adalah huduri (kebersatuan subjek dengan objek) dan tidak mungkin kosong dari ilmu, pada saat syuhud terjadi bisa jadi subjek menulis pengalamanya secara huduri, persis seperti Ibn Arabi, bisa pula paska syuhud baru menulis pengalamanya dengan cara mengingat pengalaman syuhudnya dengan cara hushuli.

Kedua, sehebat apapun penjelasan filosofis dalam memframe sebuah pengalaman syuhud pasti masih ada celah untuk dikitrik. Karena pakem ungkapan, “tiada yang serupa denganya” bisa dipamahi secara persis dari dua orang arif . Al-Haq tidak bertajalli dalam bentuk yang sama kepada dua orang arif yang berbeda (Ibn Arabi, 3, 384).

Ketiga, meski demikian penjelasan filosofis tingkat tinggi tetap diperlukan untuk menangkap pengalaman syuhud agar pemahaman makna yang terungkap dalam nash Al-Quran dan riwayat tidak keluar terlalu jauh dari makna batinya. Misalnya dalam soal pembuktian Tuhan dengan Burhan Shidiqien Mulla Sadra tanpa melalui mahluk (ciptaan) akan tetapi melalui Tuhan sendiri, yanag dikenal dengan  burhan limmi (a posteriori argument; argumen dari sebab ke akibat). Burhan ini biasanya dipakai oleh kaum mukasyafah setingkat dibawah nabi. Burhan ini dikenal diakui  paling mendekati penjelasan para imam seperti;

Dalam sebuah riwayat, Jatsliq bertanya kepada Imam Ali As, beritahulah kepadaku apakah engkau mengenal Tuhan melalui Muhammad atau mengenal Muhammad melalui Tuhan? Amirul Mukminin Ali As menjawab pertanyaan ini, “Aku tidak mengenal Tuhan dengan perantara Muhammad Saw, Aku mengenal Muhammad dengan perantara Tuhan. Sebagaimana Tuhan, mengilhamkan kepada malaikat ihwal ketaatan kepada-Nya, aku mengenal nabi buatan yang berada di bawah pemeliharaan Tuhan.”  Imam Ali As pada kesempatan lain bersabda, “Aku melihat Tuhan sebelum melihat segala sesuatu.”

(Sebelumnya telah dimuat di IRIB Indonesia)

 

Peringati Hari Pahlawan: Belajar Nasionalisme dari Iran

Peringati Hari Pahlawan: Belajar Nasionalisme dari Iran

Imam Khomeini rahimahullah aslinya adalah seorang ulama Islam, namun melalui Republik Islam Iran yang didirikannya, ia bukan hanya membangun rasa cinta rakyat Iran pada Islam namun juga menumbuhkan semangat nasionalisme pada bangsanya. Republik Islam Iran berdiri lebih muda 34 tahun dari Republik Indonesia, namun laju percepatannya baik dari segi pembangunan infrastruktur maupun ketangguhan ekonomi dan tekhnologinya bisa dikatakan menyaingi Indonesia, belum lagi Iran sempat mengalami krisis dahsyat akibat perang 8 tahun menghadapi arogansi Irak dibawah Saddam Husain.

Di bidang politik, di hampir 40 tahun usianya Iran telah mengalami kematangan yang mencengangkan. Iran diakui kawan maupun lawan, memiliki pengaruh besar di Timur Tengah. Iran bahkan duduk sejajar dengan negara-negara besar Eropa maupun dengan Amerika Serikat dalam penentuan kebijakan-kebijakan internasional. Melalui langkah-langkah diplomasi yang elegan, Iran melenggang di panggung internasional sebagai salah satu kekuatan dunia yang diperhitungkan.

Kesemua keberhasilan itu, bermula dari kepiawaian Imam Khomeini beserta murid-muridnya meramu Islam sebagai kekuatan pendobrak yang menghancurkan arogansi asing yang mendiktekan kemauannya pada bangsa Iran. Dan menjadi jauh lebih dasyhat setelah dicampurkan dengan semangat nasionalisme yang tinggi. Iran sejak ribuan tahun silam telah dikenal sebagai bangsa yang besar. Diantara bangsa yang memiliki peradaban yang mempengaruhi banyak bangsa-bangsa. Meski telah berubah menjadi negara bersistem Republik Islam dan meninggalkan sistem kekaisaran, nasionalisme bangsa Iran malah semakin menjadi-jadi. Tampak ada kecenderungan yang berbeda dengan yang diyakini sebagian aktivis Islam di Indonesia. Mereka mengkampanyekan Islam dan nasionalisme berada pada kutub yang berbeda sehingga sulit untuk disatukan.

Iran membuktikan diri, semangat nasionalisme senafas dengan pesan dan prinsip Islam. Kita bisa banyak belajar dari Iran, khususnya metode menumbuhkan semangat patriotisme dan nasionalisme yang sedikit banyak belakangan ini tampak mulai memudar dikalangan generasi muda bangsa.

Kepatuhan pada Pemimpin

Hal yang menakjubkan dari Iran dan diakui oleh dunia internasional, adalah kepatuhan rakyat pada pemimpinnya. Sejak berdirinya sampai saat ini, musuh-musuh Republik Islam Iran baik dari dalam maupun dari luar telah menjalankan banyak agenda dan melakukan berbagai bentuk propaganda untuk menimbulkan kebencian dan kejenuhan rakyat Iran pada pemimpinnya. Namun kesemua langkah yang telah ditempuh tidak ada yang berhasil. Rakyat Iran bukan hanya patuh, namun benar-benar mencintai bahkan mengidolakan pemimpinnya. Gambar dan foto Ayatullah Ali Khamanei sebagai pemimpin tertinggi di Iran saat ini bukan hanya terpasang di kantor-kantor, sekolah dan instansi-instansi pemerintahan namun juga di rumah-rumah warga. Bahkan dengan sangat mudah didapati poster besar Imam Khomeini yang disandingkan dengan Ayatullah Ali Khamanei di dinding-dinding kota, di tembok-tembok, di halte-halte bis dan diruang publik lainnya. Sebaliknya di Indonesia, telah berlalu sejumlah presiden, dan kesemuanya tidak luput dari hujatan publik.

Semangat Bela Negara yang Tinggi

Nasionalisme dan semangat bela negara telah dibuktikan rakyat Iran saat perang Irak-Iran yang berlangsung selama 8 tahun. Dengan kekuatan senjata seadanya, rakyat Iran berhasil mempertahankan wilayahnya dari ekspansi rezim Saddam Husein. Tidak sedikit warga sipil yang turut membela negara gugur di medan perang. Iran menerapkan wajib militer bagi warganya selama 2 tahun. Saat pendidikan militer, peserta didik tidak hanya diajari tangkas dan militan, tetapi juga diberi wawasan kebangsaan secara komprehensif. Hal itu memberi pengaruh besar pada mindset setiap generasinya. Berbeda dengan di Indonesia, bendera merah putih terkadang baru bisa kita temui ramai berkibar hanya pada momentum Agustus, di Iran bendera nasionalnya hampir disetiap titik keramaian selalu ditemui berkibar.

Mencintai dan Menghargai Jasa Pahlawan

Para pahlawan di Iran (khususnya yang gugur dalam perang Irak-Iran) memiliki tempat yang sangat istimewa, bagi yang masih hidup mendapat banyak peristimewaan dan kekhususan yang didapatkan. Bagi yang telah meninggal dunia, apalagi yang gugur di medan tempur, maka keluarganya yang mendapatkan keistimewaan itu. Anak-anak dari pahlawan yang gugur, dijamin pendidikannya oleh pemerintah dengan mendapat beasiswa sepenuhnya sampai jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Mereka juga akan mudah mendapatkan akses pekerjaan dipemerintahan. Keluarga yang ditinggalkan, akan mendapat jaminan pemerintah untuk tetap mendapatkan kehidupan yang layak. Gambar-gambar pahlawan Iran sangat mudah ditemui terpajang di titik-titik keramaian. Karenanya, tidak mengherankan, setiap anak-anak di Iran di tanya mengenai cita-citanya, mereka akan menjawab, bercita-cita menjadi pahlawan.

Kemandirian Ekonomi

Hal lain yang bisa dicontoh adalah cinta pada produk dalam negeri. Kesepakatan sejumlah negara besar menetapkan embargo ekonomi pada Iran sedikit banyaknya membawa keberuntungan. Iran dipaksa membuat produk dalam negeri sendiri. Hanya dalam kurun waktu 3 dasawarsa, perekonomian Iran bangkit dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Saat ini bukan hanya mampu memproduksi kendaraan sendiri, Iran bahkan telah memiliki satelit yang pengoperasiannya dilakukan secara mandiri, tanpa bantuan negara lain.

Cinta Tanah Air

Cinta tanah air bagi rakyat Iran, bukan hanya diwujudkan dengan kesiapan untuk membela dan memperjuangkan kedaulatan tanah air dari ronrongan negara lain, namun juga bagaimana membuat prestasi yang dapat mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. Prestasi Iran didunia internasional telah mulai diukir mulai dari tingkat remaja, bukan hanya berprestasi ditingkat penemuan-penemuan ilmiah, namun juga di cabang olahraga. Laki-laki dan perempuan Iran haus akan prestasi. Mereka saling berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan memberikan kebanggaan pada negaranya.

Meski demikian, sebaik-baiknya Iran dengan semua hal positif yang dimilikinya, Indonesia tetaplah negara dan tempat yang terbaik bagi kita sebagai warga negara Indonesia. Semua hal baik yang ada pada negara lain, bisa kita pelajari dan amalkan untuk juga menjadikan negara kita diperhitungkan posisinya. Tidak ada kata terlambat, mari tetap mencintai dan bangga sebagai bangsa Indonesia.

Ismail Amin
Kadep. Kajian Strategis dan Intelektual IPI Iran (2018-2019)

Bagaimana Seharusnya Memperlakukan Bendera “Tauhid”?

Bagaimana Seharusnya Memperlakukan Bendera “Tauhid”?

Setiap muslim sejatinya mencintai kalimat tauhid, sebab kalimat itulah yang diyakini akan menjadi penyelamat di akhirat kelak. Tidak sekedar dicintai yang diungkapkan secara lisan, bahkan menaruh penghormatan yang besar, walau sekedar pada tulisan kalimat tauhid sekalipun. Betapa banyak dari kita yang bangga menjadikan tulisan kalimat tauhid, Asmaul Husna, kaligrafi bertuliskan nama Nabi Muhammmad saw, maupun penggalan dari ayat-ayat suci Alquran sebagai hiasan didinding rumah dan ditempatkan di posisi yang paling terhormat dari rumah, kantor dan lain-lain. Bahkan ketika ditempatkan dalam bendera sekalipun, kalimat tauhid tidak tereduksi nilai dan derajatnya dalam pandangan seorang muslim.

Memang sangat disayangkan, ketika terdapat kelompok yang mengklaim diri muslim dan membawa simbol-simbol Islam termasuk menjadikan tulisan kalimat tauhid sebagai bagian dari bendera dan ciri khas kelompoknya, namun aktivitas mereka justru bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Kelompok teroris ISIS misalnya. Mereka menggunakan bendera yang bertuliskan kalimat tauhid, nama Allah dan Nabi-Nya. Yang dengan bendera itu mereka menebar teror dibanyak negara-negara muslim, yang korbannya justru banyak berjatuhan dari kaum muslim sendiri.

Sudah bukan rahasia lagi, ISIS adalah bentukan korporasi-korporasi anti Islam, yang lewat ISIS mereka ingin menciptakan image buruk mengenai Islam di mata dunia. ISIS menciptakan prahara dibanyak negara muslim, dan yang paling parah mendapatkan dampaknya adalah Suriah dan Irak. Kita bisa belajar banyak dari tentara-tentara Suriah dan Irak. Meski ISIS telah menimbulkan kerusakan besar di negeri mereka, tidak lantas kalimat yang dijadikan fitur bendera ISIS turut dimusuhi dan dibenci. Membakar bendera musuh adalah cara mengungkapkan ekspresi kebencian dan penolakan, sebagaimana aksi-aksi demonstrasi membela Palestina oleh kaum muslimin dibanyak negara kerap diwarnai dengan aksi membakar bendera Zionis dan Amerika Serikat, namun tentara Suriah dan Irak tidak kita lihat mereka melakukan hal tersebut pada bendera ISIS.

Disetiap wilayah yang berhasil dibebaskan kembali dari cengkraman ISIS, tentara Irak maupun Suriah cukup menurunkan bendera ISIS dan menggantinya dengan bendera nasional mereka dan sebagai selebrasi kemenangan dan sebagai simbol kalahnya ISIS di wilayah tersebut, mereka cukup membalik bendera ISIS.

Tulisan kalimat tauhid dalam keyakinan setiap muslim adalah tulisan yang tidak bisa diperlakukan seenaknya dan tidak bisa ditulis disembarang tempat. Menulis kalimat tauhid dibendera sebuah kelompok yang justru perbuatan mereka merusak citra Islam, itu pada hakekatnya tidak ada ubahnya dengan menulis kalimat tauhid di dinding WC yang tidak semestinya di tulis di tempat tersebut. Karena itu setiap muslim harusnya menolak, simbol teragung dari Islam tersebut disalah gunakan dan disalah tempatkan. Herannya, banyak dari kita diam saja, ketika organisasi teroris seperti ISIS dan organisasi yang akhirnya terlarang di Indonesia seperti HTI menggunakan tulisan kalimat tauhid tersebut sebagai fitur dari bendera dan simbol organisasi mereka namun ketika ada upaya untuk meluruskan agar tulisan kalimat tauhid diperlakukan dan ditempatkan sebagaimana mestinya, mereka malah berteriak lantang dan baru merasa terhina. Membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid, memang tidak semestinya dilakukan, namun semestinya sejak awal dan harus lebih dasyhat penolakannya adalah menentang keras tulisan kalimat tauhid dan simbol-simbol Islam dijadikan ornamen kelompok-kelompok yang memang tujuan pendiriannya adalah untuk merusak citra Islam.

Saya pribadi tidak sepakat dengan pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid atau memuat simbol-simbol Islam meski itu bendera dari kelompok atau organisasi teroris sekalipun, sebab masih ada alternatif lain menunjukkan penolakan pada bendera dan organisasi tersebut sambil tetap menaruh hormat pada tulisan kalimat tauhid yang ada pada bendera. Seperti yang dilakukan tentara Irak dan Suriah misalnya. Betapapun besarnya kebencian dan kemurkaan  mereka pada ISIS yang telah membawa perang dan petaka yang tak berkesudahan bagi mereka, namun tidak lantas memperlakukan bendera ISIS yang memuat tulisan kalimat tauhid secara senonoh. Mereka merasa tidak perlu sampai membakar bendera untuk mengungkapkan kemarahan, untuk membuat ISIS merasa terhina karena kalah, mereka cukup membalik bendera ISIS saja. Bendera ISIS dibalik sekalipun, tulisan kalimat tauhid tidak kehilangan esensinya, tapi itu telah membuat sensi pemilik bendera tersebut.

Ismail Amin

Kadep. Kajian Strategis dan Intelektual IPI Iran 2018-2019