Strategi Iran Berperang Melawan Corona

Strategi Iran Berperang Melawan Corona

Selasa 18 Februari 2020 Iran resmi mengkonfirmasi kasus infeksi Corona pertama di Iran yang diidap dua pasien lanjut usia di rumah sakit Kamkar Arabnia Qom, sekitar 120 km dari Tehran. Sehari kemudian dua pasien tersebut meninggal dunia. Berita kematian dua penderita Corona begitu cepat menyebar. Dikarenakan hanya berselang satu hari dari pelaksanaan Pemilu anggota parlemen yang ke-11, banyak yang percaya bahwa kematian dua pasien tersebut dengan sebab terinfeksi Corona adalah hoax untuk mengerus partisipasi publik di bilik-bilik pemungutan suara.

Kehadiran jutaan pemilih di tempat-tempat pemungutan suara, diklaim menjadi penyebab jumlah penderita infeksi Corona di Iran meningkat secara cepat. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamanei mengapresiasi parsipasi rakyat Iran dalam pemilu yang tidak menjadikan ketakutan terinfeksi Corona menjadi alasan tidak menggunakan hak pilih. Ia juga  meminta kepada pemerintah agar segera mengatasi penyebaran dan efek virus Corona agar tidak dimanfaatkan musuh-musuh politik Iran. 

Atas perintah tersebut, pemerintah Iran bergerak cepat. Dengan mengkampanyekan tagar “Corona akan kita kalahkan!”, pemerintah Iran membangun rasa optimis dan menjamin akan mengatasi masalah nasional oleh Corona dengan segera. Presiden Rouhani menunjuk Wakil Menkes Iran Iraj Harirchi mengepalai satuan tugas khusus mengatasi Corona, yang kemudian dikarenakan aktivitas padat, kenekatan terjun langsung ke lapangan dan disibukkan oleh agenda rapat yang tiada henti, Iraj Harirchi sendiri terpapar Corona dan harus diistrahatkan di rumah. 

Berikut langkah-langkah yang diambil pemerintah Iran dalam proyek bersama mengatasi penyebaran dan efek virus Corona:

Pertama, meliburkan sekolah-sekolah, hauzah ilmiah (pusat pendidikan keagamaan) dan kampus-kampus universitas. Mengurangi jam kerja kantor-kantor pelayanan publik. Kedua, menyediakan rumah sakit dan ambulance khusus untuk penanganan warga yang terjangkiti Corona. Di Tehran saja ditetapkan 18 rumah sakit khusus menangani pasien Corona dan 50 ambulance. 

Ketiga, Presiden Rouhani menandatangani dana khusus ‘perang melawan Corona’ sebanyak 2 Trilyun riyal. Keempat, dalam hitungan hari membangun pabrik yang mampu memproduksi 100.000 botol larutan dan 35.000 gel disinfektan pada setiap kerja. Melibatkan tentara dalam memproduksi masker dan Iran tercatat mampu memproduksi 300 ribu masker dalam setiap shift kerja. Yang kesemuanya (masker dan cairan disinfektan) dibagikan gratis ke masyarakat. Pemerintah juga mampu mengendalikan harga masker di pasaran, sehingga tidak terjadi lonjakan harga yang irasional untuk sebuah masker. 

Kelima, melibatkan tentara, polisi, dan sukarelawan dalam melakukan penyemprotan cairan disinfektan di tempat-tempat publik setiap harinya. Di stasiun, dalam kendaraan publik (bis, metro, kereta api), masjid, sekolah-sekolah, stadion olahraga dan jalan-jalan umum. 

Keenam, melakukan pemeriksaan kesehatan rutin di tempat-tempat publik dengan pelibatan santri dan mahasiswa dengan menggunakan alat khusus pendeteksi pengidap virus Corona. Ketujuh, aktif melakukan kampanye menjaga kebersihan dan kesehatan diri kepada masyarakat, melakui iklan layanan masyarakat, poster, himbauan dimedia cetak dan elektronik serta menyampaikan langsung ke masyarakat. 

Kedelapan, membuka diri menerima bantuan dan tawaran kerjasama dari negara lain dalam proyek nasional perang melawan Corona. Iran telah menerima kedatangan tim medis dari China beserta paket bantuan untuk turut menangani penyebaran dan efek mematikan virus Corona di Iran.

Kesembilan, pemerintah Iran sangat transparan terkait kasus virus Corona disaat beberapa negara lain memilih menutupi kasus dengan mengorbankan kesehatan warganya untuk keuntungan ekonomi dan tujuan politik. Penyelenggaraan Pemilu yang sisa dua hari bahkan tidak menghalangi pemerintah untuk mempublish kasus kematian pertama akibat Corona di Iran. Keterbukaan dan transparansi yang dilakukan Iran demi menjaga kesehatan warganya dimanfaatkan negara-negara luar dengan membesar-besarkan kasus Corona dengan maksud merusak perekonomian dan meningkatkan represi politik kepada Iran. Tidak terhitung berita hoax terkait virus Corona di Iran yang menjadi konsumsi publik internasional melalui  media-media mainstream dunia. 

Kesepuluh, ketersediaan informasi yang benar terkait efek virus Corona adalah kebutuhan penting masyarakat. Karena itu pemerintah Iran bertindak tegas terhadap penyebar hoax dan pihak-pihak yang sengaja menciptakan kekacauan dengan maksud mengerus kepercayaan publik kepada pemerintah. Puluhan penyebar hoax telah dijebloskan ke penjara, dan hukuman berat telah menanti. Diantara media-media anti Iran seperti BBC-Persia dan Iran International kerap memplintir dan mendistorsi berita untuk menggambarkan bahwa kondisi di Iran lebih parah dari Wuhan. Amerika Serikat sendiri memanfaatkan kasus Corona untuk lebih menghantam Iran. 

Kesebelas, pemerintah meluncurkan tiga proyek baru untuk menciptakan vaksin dan obat ampuh Corona. Para peneliti, dokter dan ilmuan Iran telah berkali-kali mendulang kesuksesan dalam memproduksi sejumlah vaksin penyakit mematikan, termasuk influenza dan penangkal virus HIV-AIDS, karenanya Iran percaya dalam waktu yang tidak lama, vaksin dan obat ampuh penangkal Corona segera ditemukan dan diproduksi besar-besaran.

Iran memang setidaknya tercatat sebagai negara dengan angka kematian akibat virus COVID-19 tertinggi di luar Tiongkok, ini karena transparansi Iran mengenai jumlah warga yang terpapar Corona dan aktifnya tim medis melakukan pengecekan kesehatan bahkan sampai rumah ke rumah, namun tetap harus dicatat bahwa pasien pengidap Corona diluar Tiongkok yang berhasil disembuhkan tertinggi juga terdapat di Iran. Dengan berhasil memulihkan lebih dari 200 penderita, tingkat keberhasilan Iran 20% masih lebih tinggi dari Korea Selatan dan Italia yang tingkat pemulihan pasien hanya di angka 0,8% dan 4,4 % dari total kasus yang ada. Belajar dari Iran, penyebaran Corona tidak semestinya disikapi secara reaktif dan pharanoid namun juga memang jangan sampai meremehkan. Virus COVID-19 tetap virus mematikan dan berbahaya, namun bukan berarti tidak bisa diatasi. 

Aktivitas masyarakat Iran masih berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada kota yang di karantina. Mobilitas warga tetap tinggi. Tidak ada kepanikan warga sampai harus memborong bahan makanan seolah-olah negara menghadapi musim paceklik. Media-media asing yang berkepentingan merusak ekonomi dan mencitrakan Iran negatiflah yang sibuk menyebarkan informasi hoax bahwa terjadi kekacauan di Iran bahkan Iran sudah seperti kota mati. Kehidupan masih berjalan normal di Iran, karena rakyat percaya kepada pemerintah yang benar-benar bekerja dalam memerangi Corona. Pemerintah yang tidak hanya meminta rakyatnya mengencangkan doa, namun juga mengencangkan ikhtiar untuk bersama-sama memerangi keganasan Corona. 

Badai Corona, pasti berlalu….

Ismail Amin

Presiden Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran 2019-2021

Kemenangan Revolusi Islam Iran dan Proxy AS

Kemenangan Revolusi Islam Iran dan Proxy AS

Iran pada Selasa 11 Februari kemarin memperingati hari kemenangan revolusinya yang ke-41. 11 Februari 1979 silam adalah hari dimana rakyat Iran dibawah komando seorang ulama Ayatullah Sayid Ruhullah Khomenei, menjatuhkan penguasa depostik yg berusia 2500 tahun. Hari itu dunia menjadi saksi, kekuatan rakyat jelata ketika bersatu, mampu merontokkan pengaruh dan cecokan asing dinegara mereka. Hari itu oleh Imam Khomeini disebut sebagai hari kemenangan revolusi Islam Iran dan menjadi awal terbentuknya Republik Islam Iran. Semboyan mereka, kebebasan, kemerdekaan dan Republik Islam.

Setiap memperingati hari kemenangan revolusi Islam Iran, pemimpin-pemimpin Iran baik oleh Presiden maupun pemimpin terbesarnya, akan memamerkan keberhasilan dan pencapaian-pencapaian Iran pasca menjadi Republik Islam. Mereka juga dengan bangga menunjukkan ketidak berdayaan Amerika Serikat dan negara-negara digdaya lainnya dalam menghadapi kekeras kepalaan mereka. Iran saat ini tercatat, sebagai salah satu negara paling mandiri di dunia, dari segi politik, ekonomi dan pertahanan keamanan. 

Pasca revolusi Islam di Iran, Islam menjadi lebih dikenal sebagai agama perlawanan dan perjuangan. Islam menjadi ancaman bagi penguasa yang otoriter dan zalim. Islam membawa pesan kematian bagi kerakusan dan kesewenang-wenangan. Oleh karena itu, AS dan Zionis berkepentingan besar untuk menghentikan itu. Rentetan gerakan Islam Phobia dimulai dari berhasilnya revolusi Islam di Iran. Penguasa-penguasa zalim menjadi phobia terhadap Islam sejak saat itu, sehingga gerakan-gerakan Islam diwaspadai, diberangus dan dilawan. 

Hakikatnya, Iran tdk pernah mendakwahkan Syiah sebagai mazhab mayoritas penduduk di Iran. Yang mereka usung adalah bendera Islam. Republik yang mereka bentuk diberi label Islam, bukan label mazhab, agar yang dikenal di dunia adalah Islam, apapun kemudian mazhabnya. Kalau ideologi kapitalis, sosialis, komunis, Kristen bahkan zionis bisa mendirikan Negara, maka dunia mengenal lewat Iran sebagai sebuah Negara demokrasi yang maju, Islam juga bisa melalukannya.

Kalau AS, China, Rusia dan Korut bisa mengembangkan tekhnologi nuklir, maka dunia mengetahui lewat Iran, ilmuan- ilmuan Islam juga bisa melakukan hal yang sama. Kalau ditingkat Asia, Jepang, Korsel dan China merajai panggung olahraga, maka dunia jadi paham lewat Iran, atlit-atlit muslim juga bisa meraih prestasi yang membanggakan. Kalau perempuan- perempuan Barat bersaing dalam menemukan karya-karya dan prestasi yang mengagumkan, dunia melihat melalui Iran, muslimah-muslimah juga mampu mempersembahkan hal serupa.

Kalau AS dan Eropa memiliki segudang negarawan dan politikus yang disegani di kancah percaturan politik internasional, dunia juga mengenal melalui Iran, Islam juga mampu mencetak negarawan- negarawan dan politikus yang mampu melakukan diplomasi tingkat tinggi. Kalau AS dan Negara-negara Barat memiliki kekuatan militer yang ditakuti, dunia mengenal melalui Iran, bahwa Islam juga bisa melakukan lebih dari itu.

Inilah tujuan Imam Khomeini membentuk Republik Islam Iran, inilah sasarannya menonjolkan pelabelan Islam pada nama Negara yang didirikannya. Membangkitkan kembali izzah Islam, sejak keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani. Inilah yang kemudian membuat musuh-musuh Islam menjadi panik. Kebangkitan Islam dengan kemenangan revolusi Islam Iran sudah di depan mata, jika tidak dihentikan akan menjadi air bah yang akan menenggelamkan mereka.

Melalui media-media mainstream internasional dimulailah strategi pembusukan terhadap Iran. Iran dicitrakan sebagai negara teroris, radikal dan mengancam perdamaian dunia. Syiah melalui fatwa-fatwa ulama atas suruhan raja Arab Saudi -yang merupakan kaki tangan AS- disebut sesat, kafir dan bukan Islam. Fatwa-fatwa ulama klasik yang sudah terkubur lama, diangkat kembali meskipun tidak ada kaitannya dengan Syiah yang diyakini rakyat Iran. Fatwa Imam Syafi’i misalnya, yang dikecam adalah Rafidhi, namun teks fatwanya dipelintir untuk mengecam Syiah.

Iran dan Syiah difitnah sedemikian rupa melalui berita-berita hoax dan tuduhan-tuduhan tendensius untuk menghasut umat Islam terutama di Indonesia untuk memusuhi Iran. Jenderal Qassem Soleimani Komandan Korps Brigade Alquds yang mendapat perintah khusus dari pemimpin tertinggi Iran untuk membuka jalan demi pembebasan Alquds tidak dikenal di dunia Islam karena pengaruh AS yang mencitrakan sang Jenderal sebagai teroris nomor satu. Padahal Pemimpin HAMAS, Ismail Haniyah menggelarinya, Syahidul Alquds, yang syahid dalam membela Alquds, karena merasakan dari dekat peran perwira militer Iran tersebut dalam kemenangan-kemenangan yang dicapai HAMAS. 

Sejak keruntuhan Uni Soviet, AS merasa satu-satunya negara super power dan merasa bisa mendikte bahkan degan leluasa melanggar kedaulatan negara-negara lain. Namun ternyata tidak dengan Iran. Karena itu AS melakukan konspirasi dan ajakan untuk memusuhi Iran. Meski menderita berat dengan embargo ekonomi dan pengucilan politik, ternyata Iran masih tetap bisa survive. Kekuatan militer Iran bahkan menunjukkan tajinya dengan mampu meluluhlantakkan Ainul Assad, pangkalan militer terbesar AS di Irak, dan membuat Trump ngeri dan melunak dengan tidak ingin berkonrontasi langsung dengan Iran.

Intinya, Iran dengan Republik Islamnya bisa menunjukkan, Islam bisa menjadi kekuatan yang diperhitungkan.  Ulama-ulama Islam di Iran berhasil meyakinkan rakyatnya, bahwa Islam yang mereka usung adalah Islam yang memberi kekuatan pendorong untuk maju, bukan Islam yang sibuk dengan urusan iktilaf dan perbedaan yang akhirnya malah mengarahkan negara ke jurang kehancuran. 

Dirgahayu kemenangan revolusi Islam Iran ke-41, selamat untuk bangsa Iran.

Ismail Amin

Presiden IPI Iran 2019-2021

Perginya Jenderal Iran Pembela Alquds

Perginya Jenderal Iran Pembela Alquds

Jumat 3 Januari 2020, masyarakat dunia dihebohkan dengan meninggalnya seorang perwira senior Iran akibat serangan drone di dekat Bandara Internasional Baghdad Irak. Pentagon mengkonfirmasi serangan tersebut atas arahan langsung Presiden AS, Donald Trump. Usai terkonfirmasi Mayor Jendral Qasim Sulaemani yang menjadi target AS itu benar-benar termasuk korban jiwa dari insiden penyerangan tersebut yang dikenali dari cincin yang dikenakannya, Donald Trump mentweet foto bendera AS di akun twitternya, sebagai tanda kemenangan.

Berbeda dengan Chris Murpy, salah seorang Senator AS. Ia menilai menyerang Jenderal dari kesatuan militer resmi negara yang berdaulat adalah kesalahan fatal dan menjadi tanda ajakan untuk perang terbuka. Ia menulis di Twitternya, balasan Iran harus menjadi kekhawatiran utama AS sejak mulai hari itu. Jutaan warga AS memviralkan tagar #dearIran dengan memberi pesan kepada Iran agar wilayahnya tidak mendapat serangan balasan karena mereka tidak memilih Trump dalam Pilpres AS.

Siapa Qasim Sulaemani yang kematiannya membuat heboh warga dunia khususnya warga AS?. Qasim Sulaemani adalah perwira senior Iran yang ditunjuk langsung Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Sayid Ali Khamanei untuk mempimpin Korps Brigade Alquds, divisi khusus berisi pasukan elit yang bertanggung jawab untuk operasi ekstrateritorial dari Iran. Ia terlibat langsung di berbagai medan konflik di Timur Tengah, khususnya di Irak dan Suriah. Sesuai namanya, Brigade yang dipimpinnya bertugas menjaga Alquds termasuk situs-situs Islam di Suriah dan Irak dari ancaman penghancuran kelompok teroris. Ia membantu Hizbullah di Lebanon dalam mengatasi serangan Israil dan juga membantu HAMAS di Palestina baik bantuan militer maupun bantuan strategi untuk memenangkan pertempuran.

Ia lahir di Kerman tahun 1957 dari keluarga petani miskin. Mengawali karir kemiliterannya dengan mendaftarkan diri menjadi anggota Korps Pengawal Revolusi Islam yang di media-media Barat disebut  Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC) seusai kemenangan revolusi Islam Iran tahun 1979. Karena berperan penting dalam penanganan pemberontakan separatis Kurdi di Provinsi Azerbaijan Barat, ia naik pangkat secara cepat. Pada Perang Iran-Irak tahun 1980-1988, ia memimpin kompi militer dan karena kelihaiannya dalam meracik strategi, disetiap operasi yang dikomandoinya, ia berhasil merebut kembali wilayah yang diduduki Irak, dimana pada saat itu ia masih berusia 25 tahun. Oleh AS ia dipercaya terlibat dalam gagalnya ISIS di Syam dan Irak. Sulaemani diakui memberi bantuan strategi kepada Presiden Suriah Bashar Assad dalam melawan pasukan pemberontak dan merebut kembali kota yang sempat berada dalam cengkraman pemberontak. Dengan kelihaiannya dalam merancang strategi perang dan berhasil meloloskan diri dalam berbagai upaya pembunuhan dalam dua dekade terakhir, Pentagon menjulukinya, “shadow commander”.

Terus, mengapa Sulaemani dibunuh AS? Dennis Etler, seorang analis politik Amerika dalam wawancaranya dengan Press TV menjelaskan bahwa pembunuhan sang Jenderal merupakan langkah putus asa AS setelah gagal dalam semua upaya untuk mengisolasi Iran. Disebutnya, AS telah gagal berkali-kali dalam mengintimidasi Iran, mulai dari mengisolasi dengan memberlakukan embargo politik dan ekonomi, sampai pada upaya mengacaukan Iran secara internal.

Trump sudah diujung tanduk. Ia sedang berusaha mencari simpatik warga AS ditengah ancaman pemakzulan dirinya. Ia mengira dengan membunuh Jenderal Iran yang banyak menggagalkan misi AS di Timur Tengah ia menjadi disegani dan diakui. Yang dilakukan Trump justru telah meningkatkan ketegangan di Timur Tengah ke tingkat yang lebih parah. Ia telah mengambil keputusan fatal dengan memerintahkan membunuh orang berpengaruh kedua di Iran setelah Ayatullah Ali Khamanei. Para pengamat menganalisa, perang dunia ketiga bisa saja terjadi, jika para pemimpin negara-negara besar tidak hati-hati bertindak.

Satu hal penting lainnya, kematian Mayor Jenderal Qasim Sulaemani atas perintah Trump membuka mata dunia. Bahwa kebencian dan permusuhan AS terhadap Iran bukan main-main, bukan sandiwara apalagi settingan sebagaimana sering dikampanyekan sebagian orang. Mungkin di dunia Islam namanya kurang dikenal, karena selain ia bekerja dalam senyap, juga karena kerja-kerja Amerika dan Israel berhasil merusak citra Iran melalui penguasaan media. Namun bagi rakyat Palestina, Irak dan Syam, dia adalah ksatria, dia adalah pembela dan pahlawan mereka. Kematiannya menggerakkan jutaan rakyat Irak menyerbu Kedutaan Besar AS di Baghdad. Gedung Putih segera memerintahkan warga AS untuk keluar dari Irak.

Sebagaimana jabatan yang diberikan Pemimpin Besar Iran padanya, sebagai Komandan Brigade Al Quds, Sulaemani telah menjaga Al Quds seperti menjaga nyawanya. Petinggi-petinggi HAMAS Palestina setiap mengelu-elukan dan berterimakasih pada Sulaemani, ia berkata, “Berterimakasihlah pada Sayid Ali Khamanei yang telah memberi tugas mulia ini padaku”. Tidak jarang, petinggi HAMAS ke Iran hanya untuk menyampaikan terimakasih langsung pada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamanei. Tidak banyak yang tahu ini, karena konsumsi beritanya hanyalah kantor-kantor berita yang berafiliasi pada kepentingan AS dan Zionis. Yang memang bertanggungjawab merusak citra Iran di dunia Islam.

Selamat jalan Jenderal Besar. Darahmu yang tertumpah akan membunyikan lonceng kematian bagi kepongahan Amerika Serikat.

Ismail Amin

Presiden Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran 2019-2021

Bagaimana Iran Memperingati Maulid Nabi Muhammad saw?

Bagaimana Iran Memperingati Maulid Nabi Muhammad saw?

Iran dengan nama lengkap Republik Islam Iran jelas sangat mengagungkan Nabi Muhammad saw. Sebagai pembawa Islam dan penghulu para Nabi, Nabi Muhammad saw di mata orang-orang Iran begitu sangat istimewa. Muhammad adalah diantara nama yang sangat populer di Iran.

Bagi yang pernah ke Iran, akan dengan mudah melihat tulisan dan kaligrafi bertuliskan Muhammad dan tulisan salawat atasnya. Bukan hanya tertera di ornamen masjid, tapi juga di hotel, diperkantoran, dinding-dinding sekolah bahkan di halte bis maupun di tembok-tembok di jalan umum. Lantunan salawat dapat dengan mudah terdengar dari lisan orang-orang Iran. Supir yang membawa kendaraan umum sesaat sebelum berangkat akan meminta para penumpangnya bersalawat terlebih dahulu. Pembaca berita di tv dan radio-radio Iran mengawali berita yang dibacanya dengan bersalawat terlebih dulu. Murid-murid sekolah sebelum memulai pelajaran mengawalinya dengan salawat serentak, bahkan diarena olahraga sekalipun, pertandingan diawali dengan salawat lebih dulu. 

Kecintaan dan kerinduan pada Nabipun diekspresikan bangsa Iran dengan telah membuat film kolosal yang menceritakan biografi Nabi Muhammad saw di masa kecil. Produksi yang menghabiskan anggaran yang memecahkan rekor negaranya dan disutradarai oleh Majid Majidi, sutradara terbaik Iran dan nomine piala Oscar, film Mohammad, Messenger of God memecahkan rekor box office domestik. Belum ada film yang begitu sangat populer di Iran dan bertengger lama di box office domestik selama berbulan-bulan, kecuali film yang mengisahkan masa kecil Nabi Muhammad saw tersebut. 

Terus, bagaimana Iran memperingati Maulid Nabi Muhammad saw?. Berbeda dengan negara Islam lainnya, yang secara resmi memperingati Maulid Nabi hanya di hari 12 Rabiul Awal sebagaimana keyakinan mayoritas umat Islam, Nabi Muhammad saw lahir di tanggal tersebut, Iran memperingati maulid Nabi secara resmi selama sepekan. Peringatan Maulid dimulai dari 12 Rabiul Awal sampai 17 Rabiul Awal. Dalam keyakinan umat Islam Syiah -mazhab yang mayoritas di Iran- Nabi Muhammad saw lahir pada 17 Rabiul Awal. Sehingga dengan memberikan penghargaan pada dua pendapat ini, Pemerintah Iran secara resmi memperingati keduanya dan menamakan hari-hari peringatan maulid tersebut dengan nama Pekan Persatuan Islam, dalam bahasa setempat disebut Hafteh Wahdat

Selama sepekan tersebut jalan-jalan dan ruang-ruang publik terisi oleh kaligrafi bertuliskan Muhammad dan pesan-pesan persatuan Islam. Peringatan Maulid Nabi dijadikan bangsa Iran sebagai momentum menyerukan kampanye persatuan Islam. Bahwa semua umat Islam apapun mazhabnya, porosnya ada pada kecintaan kepada Nabiullah Muhammad saw.

Diantara agenda besar di Pekan Persatuan Islam, adalah diadakannya Konferensi Internasional Persatuan Islam. Konferensi yang mengundang ratusan ulama, tokoh politik, cendekiawan dan akademisi dari 90 negara dunia tersebut digelar setiap tahunnya di Iran, dan pada tahun ini telah terselenggara untuk yang ke-33 kalinya. Sepanjang penyelenggaraannya, Indonesia tiap tahunnya rutin mengirimkan delegasi. Konferensi Persatuan Islam tahun ini yang mengusung tema   “Persatuan Umat Islam untuk Membela Masjid Al-Aqsa” kembali dibuka oleh Presiden Republik Islam Iran pada Kamis, (14/11). Dalam pidato sambutannya Presiden Rouhani menyebut Palestina dan al-Quds sebagai prioritas utama dunia Muslim. Dia mengatakan, musuh-musuh dunia Islam ingin agar umat Islam  melupakan masalah Palestina.

Di sela-sela konferensi, diselenggarakan salat wajib berjamaah, yang bergantian, kadang ulama Sunni yang menjadi imam, kadang dari ulama Syiah.

Para peserta konferensi juga diagendakan untuk mengunjungi makam Imam Khomeini, untuk memberi penghormatan kepada pendiri Republik Islam Iran dan inspirator diadakannya Konferensi Internasional Persatuan Islam pada Pekan Persatuan Islam dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.

Melihat ulama-ulama Sunni dari berbagai negara Islam memberi penghormatan kepada makam Imam Khomeini yang merupakan ulama Syiah, menunjukkan hakekatnya Sunni dan Syiah saling menghargai. Konspirasi dan provokasi pihak musuhlah yang mencitrakan Sunni dan Syiah itu bermusuhan dan harus dibuatkan konflik antar keduanya.

Terlebih lagi pada puncak acara dari Konferensi Persatuan Islam, yaitu saat bertemunya tamu konferensi dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Sayid Ali Khamanei, kerap kali diwarnai suasana yang jauh lebih mengharukan, yaitu saling berangkulannya antara ulama Sunni dan ulama Syiah. Habib Ali Zainal Abidin al Jufri, ulama kharismatik kelahiran Jeddah Arab Saudi pernah berkata, “Musuh kalian yang sebenarnya adalah mereka yang meyakinkan kalian Sunni dan Syiah bermusuhan.”

Beginilah suasana memperingati Maulid Nabi di Iran, yang memberi kesejukan dan mengirimkan pesan kepenjuru dunia, bahwa kekuatan Islam sebenarnya terletak pada persatuan umatnya. Umat yang disatukan oleh kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad saw.

Selamat memperingati hari lahirnya manusia agung, Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Aaali Muhammad. 

Selamat Jalan Bapak Demokrasi

Selamat Jalan Bapak Demokrasi

“Menjadi presiden, bukan segalanya bagi saya, tetapi yang penting apa yang terbaik bagi bangsa ini”

(Habibie dalam memoarnya, Detik-Detik yang Menentukan)

Menurut pengakuannya sendiri, Habibie tidak pernah berambisi untuk menduduki puncak tertinggi kekuasaan di Republik Indonesia, ia menjabat presiden melalui proses dramatis karena saat Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden RI, ia selaku wakil presiden. Sebagai presiden itupun dijalaninya hanya 1 tahun 5 bulan, menjadikan periode kepresidenannya tersingkat dari 7 presiden yang diakui di Indonesia. Ia mewariskan kondisi pemerintahan yang diistilahkannya layaknya pesawat yang mengalami super stall. Yaitu kondisi pesawat yang daya angkatnya sudah tidak ada dan menjelang jatuh. 

Gagalnya kepemimpinan politik serta jenuhnya rakyat atas parahnya perilaku tak terpuji yang melumuri pemerintahan Orde Baru dalam kurun begitu lama berkuasa memicu lahirnya gerakan reformasi. Krisis moneter yang memicu kurs rupiah anjlok, banyak perusahaan yang gulung tikar memicu PHK dimana-mana dan dalam kondisi sedemikian kritis Habibie dituntut mengambil alih kendali dan menyelamatkan pesawat. 

Awal tahun 1998 Indonesia mengalami super stall dalam semua bidang, baik politik, ekonomi bahkan kepercayaan rakyat. Dalam upayanya memperbaiki keadaan pada situasi yang krusial, Habibie diserang tudingan tetap akan mempertahankan kekuasaan Orde Baru secara ia menjabat 20 tahun sebagai menteri di kabinet Soeharto. Ia tidak menggubris segala nyinyiran dan semua penilaian yang merendahkan dirinya. Meski pakar dalam pembuatan pesawat, ia diragukan bisa memperbaiki ekonomi yang sedang kolaps. Ia berkata, tidak ada waktu untuk menjawab semua nyinyiran dan upaya yang meremehkan perannya. Ia harus segera mengambil langkah tepat dalam detik-detik yang menentukan. Jika sampai September 1998 tidak terjadi perubahan signifikan, Indonesia akan mengalami balkanisasi, terpecah menjadi negara-negara kecil, ujarnya. 

Namun dari semua kebijakan dan langkah-langkah yang diambilnya, pada dasarnya ia telah berhasil menyelamatkan negara dari super stall. Hanya sehari pasca dilantik menjadi presiden, segera ia membentuk kabinet reformasi yang mencerminkan semua unsur kekuatan bangsa. Dalam berbagai pidato politiknya, ia menegaskan akan membasmi korupsi, kolusi dan nepotisme yang menggejala selamat pemerintahan orde baru. Ia memisahkan Bank Indonesia (BI) dari pemerintahan, dengan maksud agar BI bisa mengambil kebijakan logis tanpa intervensi politik. Dengan pemisahan tersebut, BI menjadi lembaga independen dan mendapatkan lagi kepercayaan. Akibatnya, meski sempat ada di jurang Rp 16.800 per dollar AS, nilai tukar rupiah secara perlahan merangkak naik hingga mampu menguat di angka Rp 6.500 per dollar AS. 

Kebijakan lainnya yang membuat tudingan kepadanya sebagai perpanjangan Orba tidak tepat adalah membebaskan semua tahahan politik, memberi kebebasan pers dan membuka kran demokrasi seluas-luasnya. Ia membentuk Komisi Pemilihan Umum dan memberi kebebasan kepada siapapun untuk membentuk partai politik selama masih sesuai asas Pancasila dan UUD 1945. Lebih dari itu, ia membubarkan keluarga besar Golkar dan menghapus kewajiban bagi PNS untuk memilih Golkar. Dengan semua kebijakan tersebut, Habibie mempermulus langkah terwujudnya Pemilu 1999 yang diikuti 48 partai politik dan dikenal sebagai pemilu paling demokratis yang pernah dilaksanakan di Indonesia. 

Agar Indonesia tidak lagi terjatuh dalam lubang yang sama yaitu kekuasaan otoriter, Habibie menetapkan aturan pembatasan masa jabatan presiden dan wakil presiden maksimal hanya dua kali periode. Ia juga mencabut Tap MPR No. II/MPR/1978 tentang Pancasila sebagai asas tunggal. 

Meski awalnya diragukan bisa menjalankan agenda reformasi, namun dari 512 hari menjabat sebagai presiden ia telah meletakkan dasar-dasar demokratisasi Indonesia. Karenanya wajar, jika kemudian ia mendapat julukan sebagai Bapak Demokrasi. Meski demikian, semua upaya yang dikerahkan menyelamatkan negara dan demokrasi tersebut tetap dianggap tidak bernilai apa-apa oleh orang-orang terhormat di MPR. Ketua MPR Amien Rais, menyatakan tidak menerima laporan pertanggungjawaban Habibie dalam Sidang Istimewa tanggal 14 Oktober 1999. Kebijakannya memberi referendum pada rakyat Timor Timur yang berakhir dengan terpisahnya provinsi termuda tersebut dari NKRI menjadi senjata pamungkas pihak oposisi untuk mengerdilkan keberhasilannya mampu membuat republik keluar dari keterpurukan ekonomi pasca lengsernya Soeharto. 

Pasca meletakkan jabatan sebagai Presiden, ia menepi dari hingar bingarnya dunia politik. Semua cemohan dan hinaan yang menerpanya tidak membuatnya kehilangan kecintaan pada negaranya. Cemohan yang ditujukan padanya dia nilai sebagai bagian dari demokrasi yang dia bangun. Menurutnya wajar jika rakyat mengalami efouria kebebasan setelah puluhan tahun dibelenggu dan dibungkam oleh popor senapan. Namun Habibie tidak benar-benar menyingkir, sebab ia tetap menjalankan perannya sebagai negarawan dan guru bangsa. Perannya sebagai Bapak Demokrasi tetap ia lanjutkan melalui yayasan The Habibie Center yang didirikannya. Melalui yayasan tersebut, ia berupaya memajukan modernisasi dan demokratisasi di Indonesia yang didasarkan pada moralitas, integritas budaya dan nilai-nilai agama.

Sebagai negarawan, Habibie hadir sebagai sosok pemimpin yang tidak punya ambisi untuk melanggengkan kekuasaan atau untuk kembali merebut pengaruh untuk berkuasa. Ia memberikan cinta yang tulus pada negerinya, melalui pengabdian yang tiada henti. Ia tidak memendam dendam pada musuh-musuh politiknya. Maut memang bisa membuat raganya tidak lagi mengabdi buat Indonesia, namun ide dan pemikiran-pemikirannya yang mencerahkan demokratisasi Indoneia akan terus hidup. 

Selamat jalan Bapak Demokrasi. 

Ismail Amin 

(Presiden IPI Iran 2019-2021)

Urgensi Kecerdasan Pemuda Dalam Membangun Bangsa

Urgensi Kecerdasan Pemuda Dalam Membangun Bangsa

Percayalah jika sebuah negara tidak terdapat begitu banyak permasalahan  maka negara tersebut akan menjadi negara yang unggul serta salah satu cara untuk mengantisipasi dan juga mengatasi  segala bentuk masalah adalah dengan mempunyai penduduk yang cerdas, baik itu cerdas dari sisi intelektualnya, emosionalnya, serta spiritualnya.

Apa Yang Dimaksud Dengan Mambangun Bangsa?

Adapun yang dimaksud dengan membangun Bangsa adalah para pemuda diharapkan mampu membawa bangsanya dalam setiap sisi ke arah positif. Dari sisi ekonominya, infrastrukturnya, sosialnya, ketentramannya, demokrasinya, dan sisi yang lainnya.

Mereka yang membangun Bangsa hakikatnya adalah para pahlawan di masa kini. Dalam artian bahwa para pahlawan di jaman dahulu berjuang untuk meraih kemerdekaan Bangsa dan hari ini, para pahlawan Bangsa hidup untuk mempertahankan kemerdekaan dan juga membangun Indonesia.

Semoga saja di Hut Republik Indonesia yang 74 ini banyak terlahir para pemuda yang cinta tanah air serta mempunyai itikad yang kuat dalam membangun Bangsa.

Siapa Saja Yang Dimaksud Dengan Istilah Pemuda?

Dulu penulis pernah membaca sebuah buku saku dari Syahid Muthahari perihal definisi Pemuda. Beliau punyai definisi yang sempurna mengenai hal ini. adapun definisi pemuda menurutnya yaitu tidak ada batasan usia mengenai pemuda. Pemuda adalah sesosok pribadi yang mempunyai semangat untuk bekerja dan membawa sesuatu ke arah positif.

Menurut definisi di atas bisa dipahami bahwasanya pemuda bukanlah mereka yang telah beranjak dari fase remaja menuju fase pemuda dan bukan pula mereka yang berada di antara usia 17 hingga 30. Akan tetapi pemuda menurut syahid Muthahari adalah mereka yang punya gairah untuk membangun ke arah positif  baik itu mereka yang berusia 17 hingga 30 atau yang lebih dari itu. Jadi menurut Syahid Muthahari pemuda tidak terbatas oleh usia.

Menurut penulis sendiri, definisi yang diangkat oleh Syahid Muthahari adalah definisi yang pas dan sempurna. Selain itu juga definisinya lebih umum dan mencakup banyak kalangan. Jadi sekarang kita sudah punyai definisi pemuda yaitu mereka yang punya gairah dan semangat untuk membawa sesuatu ke arah positif.  

Karakter Apa Yang Harus Dimiliki Oleh Seorang Pemuda Indonesia Jika Hendak Membawa Indonesia Menuju Indonesia Unggul?

Sudah penulis jelaskan di atas bahwa pemuda yang dimaksud oleh penulis di sini bukanlah penduduk Indonesia yang berusia 17 hingga 30 tahun saja melainkan mereka, entah itu usia 12 atau 69 tahun, yang punyai gairah untuk membawa Negeri tercinta Indonesia menuju Indonesia yang unggul serta menjadi sebuah bangsa yang bermartabat dan disegani oleh negara-negara dunia.

Menurut penulis salah satu hal yang mesti dimiliki oleh seorang pemuda untuk membawa Indonesia menjadi Indonesia unggul adalah pemuda-pemudi haruslah cerdas. Yakni pemuda-pemudi harus mempunyai kecerdasan intlektual, emosional, dan spiritual.

Macam-Macam Kecerdasan

Nabi Muhammad saw pernah bersabda , “Seorang mukmin tidak akan pernah jatuh pada lubang yang sama untuk yang kedua kalinya. Maka dari itu ia harus cerdas dan tidak mudah tertipu.”[1]

Seorang pemuda Indonesia yang hendak membangun dan membawa Bangsanya menjadi Negara yang unggul haruslah punyai karakter orang cerdas. Dalam artia bahwa ia harus punyai kecerdasan baik itu kecerdasan otak atau intelektual, kecerdasan emosional, dan juga kecerdasan spiritual.

Ketiga jenis kecerdasan ini sangat berperan penting dalam membawa Indonesia menjadi Indonesia yang unggul. Karena penulis sangat yakin bahwa jika dimiliki maka ia mampu mengatasi segala masalah yang ada di negara Indonesia.

Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan intelektual (bahasa Inggris: intelligence quotient, disingkat IQ) adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, daya tangkap, dan belajar.[2]

Dengan kecerdasan intelektual maka pemuda bisa menciptakan hal-hal baru. Menemukan penemuan-penemuan baru yang bisa digunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sehingga dengan segala penemuan yang bermanfaat, maka masyarakat akan menjadi sejahtera sehingga ketika masyarakat sejahtera maka negara pun akan sejahtera.

Rosalie Holian pernah berkata “Ketika seseorang dengan IQ tinggi juga memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi, yang dapat diperoleh dari pengalaman serta kualifikasi pendidikan formal, maka mereka cenderung memiliki berbagai keterampilan,”[3]

Lalu apakah kecerdasan intelektual saja cukup untuk membawa Indonesia menjadi Negara yang unggul? Tentu saja tidak. Mari kita bahas perkara ini di jenis kecerdasan kedua, kecerdasan emosional.

Adapun cara untuk meningkatkan kecerdasan intelektual tiada lain adalah dengan rajin belajar dan rajin bereskperimen.

Kecerdasan Emosional

Adapun tentang kecerdasan emosional penting dimiliki oleh pemuda Indonesia, karena banyak sekali sekarang orang yang cerdas otaknya atau katakan saja tinggi IQ-nya namun mereka mempunyai pribadi dan karakter yang buruk.

Definisi dari kecerdasan emosional (bahasa Inggris: emotional quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.[4]

Menurut Hordward Gardner (1983), terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.[5]

Tentu saja mereka yang mempunyai kecerdasan Intelektual akan mempunyai berbagai keterampilan sehingga mereka bisa dengan mudah mengatasi setiap masalah yang menimpa masyarakat khususnya dari masalah-masalah yang bersifat materi. Namun apakah ini cukup? Jawabannya adalah tidak cukup.

Bisa dikatakan untuk menyempurnakan keterampilan IQ yang dipunyai maka pemuda-pemudi Indonesia haruslah mampu mengontrol emosi diri mereka sendiri. Misalnya mereka haruslah tahu bagaimana cara mengontrol diri mereka ketika marah. Karena sepertinya akan ada yang kurang ketika mereka pintar tapi mereka pemarah.

Berhubungan dengan pemarah, Baginda Nabi saw pernah bersabda, “Wahai Ali! Sekali-kali janganlah engkau marah. Namun tatkala engkau marah, duduklah dan renungkanlah Kekuasan Tuhan serta bagaimana Dia bersabar dalam menghadapi mereka!”[6]

Menurut penulis, dengan membaca riwayat-riwayat tentang moral bisa menguatkan kecerdasan emosional kita. Maka dari itu bagi kalian yang ingin jadi pemuda-pemudi bangun Bangsa, harus lebih dekat dengan riwayat-riwayat yang bertemakan moralitas.

Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual (bahasa Inggris: spiritual quotient, disingkat SQ) adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif.[7]

Atau menurut Khalil A Khavari, kecerdasan spritual dapat diartikan sebagai fakultas dimensi yang non material atau dapat dikatakan sebagai jiwa manusia. Khalil mengibaratkannya dengan intan yang belum terasah sama sekali serta dimiliki oleh setiap manusia. Kita sebagai manusia harus mengenalinya seperti pada adanya, menggosoknya hingga terlihat mengkilap dengan adanya tekad yang besar, serta menggunakannya untuk menuju kearifan serta mencapai kebahagiaan abadi.[8]

Dengan menggunakan kecerdasan spritualnya diharapkan pemuda-pemudi Indonesia mampu menerpa dirinya dan mempersiapkan dirinya untuk menyebarkan hikmah dan kebijaksanaan pada sosial nantinya. Menilik peribahasa bahwa sebelum mendidik orang lain maka kita harus mendidik diri kita sendiri.

Diharapkan dengan kecerdasan spiritual yang dimiliki setiap pemuda-pemudi Indonesia, mereka tidak akan menciptakan permasalahan. Karena diri mereka telah dididik untuk selalu menjadi pribadi yang baik.

Kesimpulan

Dari pembahasan kali ini, penulis mendapatkan bahwa memiliki pemuda-pemudi yang cerdas dari sisi intelektualnya, emosionalnya, serta intelektualnya adalah sesuatu yang urgen dan penting. Karena dengan memiliki kecerdasan, dari setiap pemuda-pemudi akan lahir penemuan-penemuan, jalan keluar yang bermacam-macam untuk mengatasi masalah selain itu juga mereka akan mampu menyebarkan hikmah dan kebijaksanaan melalu kecerdasan spiritual mereka. 


-Sutiawan-

Artikel ini meraih predikat terbaik III dalam Lomba Artikel Kemerdekaan RI 74 yang diadakan Departemen Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

[1] Kitabul Mawaidz, hal 52.

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_intelektual

[3] https://tirto.id/kecerdasan-emosional-itu-penting-kenali-cara-melatihnya-c6qG

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_emosional

[5] https://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_emosional

[6] Tuhaful Uqul, hal 21.

[7] https://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_spiritual

[8] https://dosenpsikologi.com/kecerdasan-spiritual