Bagaimana Iran Memperingati Maulid Nabi Muhammad saw?

Bagaimana Iran Memperingati Maulid Nabi Muhammad saw?

Iran dengan nama lengkap Republik Islam Iran jelas sangat mengagungkan Nabi Muhammad saw. Sebagai pembawa Islam dan penghulu para Nabi, Nabi Muhammad saw di mata orang-orang Iran begitu sangat istimewa. Muhammad adalah diantara nama yang sangat populer di Iran.

Bagi yang pernah ke Iran, akan dengan mudah melihat tulisan dan kaligrafi bertuliskan Muhammad dan tulisan salawat atasnya. Bukan hanya tertera di ornamen masjid, tapi juga di hotel, diperkantoran, dinding-dinding sekolah bahkan di halte bis maupun di tembok-tembok di jalan umum. Lantunan salawat dapat dengan mudah terdengar dari lisan orang-orang Iran. Supir yang membawa kendaraan umum sesaat sebelum berangkat akan meminta para penumpangnya bersalawat terlebih dahulu. Pembaca berita di tv dan radio-radio Iran mengawali berita yang dibacanya dengan bersalawat terlebih dulu. Murid-murid sekolah sebelum memulai pelajaran mengawalinya dengan salawat serentak, bahkan diarena olahraga sekalipun, pertandingan diawali dengan salawat lebih dulu. 

Kecintaan dan kerinduan pada Nabipun diekspresikan bangsa Iran dengan telah membuat film kolosal yang menceritakan biografi Nabi Muhammad saw di masa kecil. Produksi yang menghabiskan anggaran yang memecahkan rekor negaranya dan disutradarai oleh Majid Majidi, sutradara terbaik Iran dan nomine piala Oscar, film Mohammad, Messenger of God memecahkan rekor box office domestik. Belum ada film yang begitu sangat populer di Iran dan bertengger lama di box office domestik selama berbulan-bulan, kecuali film yang mengisahkan masa kecil Nabi Muhammad saw tersebut. 

Terus, bagaimana Iran memperingati Maulid Nabi Muhammad saw?. Berbeda dengan negara Islam lainnya, yang secara resmi memperingati Maulid Nabi hanya di hari 12 Rabiul Awal sebagaimana keyakinan mayoritas umat Islam, Nabi Muhammad saw lahir di tanggal tersebut, Iran memperingati maulid Nabi secara resmi selama sepekan. Peringatan Maulid dimulai dari 12 Rabiul Awal sampai 17 Rabiul Awal. Dalam keyakinan umat Islam Syiah -mazhab yang mayoritas di Iran- Nabi Muhammad saw lahir pada 17 Rabiul Awal. Sehingga dengan memberikan penghargaan pada dua pendapat ini, Pemerintah Iran secara resmi memperingati keduanya dan menamakan hari-hari peringatan maulid tersebut dengan nama Pekan Persatuan Islam, dalam bahasa setempat disebut Hafteh Wahdat

Selama sepekan tersebut jalan-jalan dan ruang-ruang publik terisi oleh kaligrafi bertuliskan Muhammad dan pesan-pesan persatuan Islam. Peringatan Maulid Nabi dijadikan bangsa Iran sebagai momentum menyerukan kampanye persatuan Islam. Bahwa semua umat Islam apapun mazhabnya, porosnya ada pada kecintaan kepada Nabiullah Muhammad saw.

Diantara agenda besar di Pekan Persatuan Islam, adalah diadakannya Konferensi Internasional Persatuan Islam. Konferensi yang mengundang ratusan ulama, tokoh politik, cendekiawan dan akademisi dari 90 negara dunia tersebut digelar setiap tahunnya di Iran, dan pada tahun ini telah terselenggara untuk yang ke-33 kalinya. Sepanjang penyelenggaraannya, Indonesia tiap tahunnya rutin mengirimkan delegasi. Konferensi Persatuan Islam tahun ini yang mengusung tema   “Persatuan Umat Islam untuk Membela Masjid Al-Aqsa” kembali dibuka oleh Presiden Republik Islam Iran pada Kamis, (14/11). Dalam pidato sambutannya Presiden Rouhani menyebut Palestina dan al-Quds sebagai prioritas utama dunia Muslim. Dia mengatakan, musuh-musuh dunia Islam ingin agar umat Islam  melupakan masalah Palestina.

Di sela-sela konferensi, diselenggarakan salat wajib berjamaah, yang bergantian, kadang ulama Sunni yang menjadi imam, kadang dari ulama Syiah.

Para peserta konferensi juga diagendakan untuk mengunjungi makam Imam Khomeini, untuk memberi penghormatan kepada pendiri Republik Islam Iran dan inspirator diadakannya Konferensi Internasional Persatuan Islam pada Pekan Persatuan Islam dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.

Melihat ulama-ulama Sunni dari berbagai negara Islam memberi penghormatan kepada makam Imam Khomeini yang merupakan ulama Syiah, menunjukkan hakekatnya Sunni dan Syiah saling menghargai. Konspirasi dan provokasi pihak musuhlah yang mencitrakan Sunni dan Syiah itu bermusuhan dan harus dibuatkan konflik antar keduanya.

Terlebih lagi pada puncak acara dari Konferensi Persatuan Islam, yaitu saat bertemunya tamu konferensi dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Sayid Ali Khamanei, kerap kali diwarnai suasana yang jauh lebih mengharukan, yaitu saling berangkulannya antara ulama Sunni dan ulama Syiah. Habib Ali Zainal Abidin al Jufri, ulama kharismatik kelahiran Jeddah Arab Saudi pernah berkata, “Musuh kalian yang sebenarnya adalah mereka yang meyakinkan kalian Sunni dan Syiah bermusuhan.”

Beginilah suasana memperingati Maulid Nabi di Iran, yang memberi kesejukan dan mengirimkan pesan kepenjuru dunia, bahwa kekuatan Islam sebenarnya terletak pada persatuan umatnya. Umat yang disatukan oleh kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad saw.

Selamat memperingati hari lahirnya manusia agung, Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Aaali Muhammad. 

Selamat Jalan Bapak Demokrasi

Selamat Jalan Bapak Demokrasi

“Menjadi presiden, bukan segalanya bagi saya, tetapi yang penting apa yang terbaik bagi bangsa ini”

(Habibie dalam memoarnya, Detik-Detik yang Menentukan)

Menurut pengakuannya sendiri, Habibie tidak pernah berambisi untuk menduduki puncak tertinggi kekuasaan di Republik Indonesia, ia menjabat presiden melalui proses dramatis karena saat Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden RI, ia selaku wakil presiden. Sebagai presiden itupun dijalaninya hanya 1 tahun 5 bulan, menjadikan periode kepresidenannya tersingkat dari 7 presiden yang diakui di Indonesia. Ia mewariskan kondisi pemerintahan yang diistilahkannya layaknya pesawat yang mengalami super stall. Yaitu kondisi pesawat yang daya angkatnya sudah tidak ada dan menjelang jatuh. 

Gagalnya kepemimpinan politik serta jenuhnya rakyat atas parahnya perilaku tak terpuji yang melumuri pemerintahan Orde Baru dalam kurun begitu lama berkuasa memicu lahirnya gerakan reformasi. Krisis moneter yang memicu kurs rupiah anjlok, banyak perusahaan yang gulung tikar memicu PHK dimana-mana dan dalam kondisi sedemikian kritis Habibie dituntut mengambil alih kendali dan menyelamatkan pesawat. 

Awal tahun 1998 Indonesia mengalami super stall dalam semua bidang, baik politik, ekonomi bahkan kepercayaan rakyat. Dalam upayanya memperbaiki keadaan pada situasi yang krusial, Habibie diserang tudingan tetap akan mempertahankan kekuasaan Orde Baru secara ia menjabat 20 tahun sebagai menteri di kabinet Soeharto. Ia tidak menggubris segala nyinyiran dan semua penilaian yang merendahkan dirinya. Meski pakar dalam pembuatan pesawat, ia diragukan bisa memperbaiki ekonomi yang sedang kolaps. Ia berkata, tidak ada waktu untuk menjawab semua nyinyiran dan upaya yang meremehkan perannya. Ia harus segera mengambil langkah tepat dalam detik-detik yang menentukan. Jika sampai September 1998 tidak terjadi perubahan signifikan, Indonesia akan mengalami balkanisasi, terpecah menjadi negara-negara kecil, ujarnya. 

Namun dari semua kebijakan dan langkah-langkah yang diambilnya, pada dasarnya ia telah berhasil menyelamatkan negara dari super stall. Hanya sehari pasca dilantik menjadi presiden, segera ia membentuk kabinet reformasi yang mencerminkan semua unsur kekuatan bangsa. Dalam berbagai pidato politiknya, ia menegaskan akan membasmi korupsi, kolusi dan nepotisme yang menggejala selamat pemerintahan orde baru. Ia memisahkan Bank Indonesia (BI) dari pemerintahan, dengan maksud agar BI bisa mengambil kebijakan logis tanpa intervensi politik. Dengan pemisahan tersebut, BI menjadi lembaga independen dan mendapatkan lagi kepercayaan. Akibatnya, meski sempat ada di jurang Rp 16.800 per dollar AS, nilai tukar rupiah secara perlahan merangkak naik hingga mampu menguat di angka Rp 6.500 per dollar AS. 

Kebijakan lainnya yang membuat tudingan kepadanya sebagai perpanjangan Orba tidak tepat adalah membebaskan semua tahahan politik, memberi kebebasan pers dan membuka kran demokrasi seluas-luasnya. Ia membentuk Komisi Pemilihan Umum dan memberi kebebasan kepada siapapun untuk membentuk partai politik selama masih sesuai asas Pancasila dan UUD 1945. Lebih dari itu, ia membubarkan keluarga besar Golkar dan menghapus kewajiban bagi PNS untuk memilih Golkar. Dengan semua kebijakan tersebut, Habibie mempermulus langkah terwujudnya Pemilu 1999 yang diikuti 48 partai politik dan dikenal sebagai pemilu paling demokratis yang pernah dilaksanakan di Indonesia. 

Agar Indonesia tidak lagi terjatuh dalam lubang yang sama yaitu kekuasaan otoriter, Habibie menetapkan aturan pembatasan masa jabatan presiden dan wakil presiden maksimal hanya dua kali periode. Ia juga mencabut Tap MPR No. II/MPR/1978 tentang Pancasila sebagai asas tunggal. 

Meski awalnya diragukan bisa menjalankan agenda reformasi, namun dari 512 hari menjabat sebagai presiden ia telah meletakkan dasar-dasar demokratisasi Indonesia. Karenanya wajar, jika kemudian ia mendapat julukan sebagai Bapak Demokrasi. Meski demikian, semua upaya yang dikerahkan menyelamatkan negara dan demokrasi tersebut tetap dianggap tidak bernilai apa-apa oleh orang-orang terhormat di MPR. Ketua MPR Amien Rais, menyatakan tidak menerima laporan pertanggungjawaban Habibie dalam Sidang Istimewa tanggal 14 Oktober 1999. Kebijakannya memberi referendum pada rakyat Timor Timur yang berakhir dengan terpisahnya provinsi termuda tersebut dari NKRI menjadi senjata pamungkas pihak oposisi untuk mengerdilkan keberhasilannya mampu membuat republik keluar dari keterpurukan ekonomi pasca lengsernya Soeharto. 

Pasca meletakkan jabatan sebagai Presiden, ia menepi dari hingar bingarnya dunia politik. Semua cemohan dan hinaan yang menerpanya tidak membuatnya kehilangan kecintaan pada negaranya. Cemohan yang ditujukan padanya dia nilai sebagai bagian dari demokrasi yang dia bangun. Menurutnya wajar jika rakyat mengalami efouria kebebasan setelah puluhan tahun dibelenggu dan dibungkam oleh popor senapan. Namun Habibie tidak benar-benar menyingkir, sebab ia tetap menjalankan perannya sebagai negarawan dan guru bangsa. Perannya sebagai Bapak Demokrasi tetap ia lanjutkan melalui yayasan The Habibie Center yang didirikannya. Melalui yayasan tersebut, ia berupaya memajukan modernisasi dan demokratisasi di Indonesia yang didasarkan pada moralitas, integritas budaya dan nilai-nilai agama.

Sebagai negarawan, Habibie hadir sebagai sosok pemimpin yang tidak punya ambisi untuk melanggengkan kekuasaan atau untuk kembali merebut pengaruh untuk berkuasa. Ia memberikan cinta yang tulus pada negerinya, melalui pengabdian yang tiada henti. Ia tidak memendam dendam pada musuh-musuh politiknya. Maut memang bisa membuat raganya tidak lagi mengabdi buat Indonesia, namun ide dan pemikiran-pemikirannya yang mencerahkan demokratisasi Indoneia akan terus hidup. 

Selamat jalan Bapak Demokrasi. 

Ismail Amin 

(Presiden IPI Iran 2019-2021)

Urgensi Kecerdasan Pemuda Dalam Membangun Bangsa

Urgensi Kecerdasan Pemuda Dalam Membangun Bangsa

Percayalah jika sebuah negara tidak terdapat begitu banyak permasalahan  maka negara tersebut akan menjadi negara yang unggul serta salah satu cara untuk mengantisipasi dan juga mengatasi  segala bentuk masalah adalah dengan mempunyai penduduk yang cerdas, baik itu cerdas dari sisi intelektualnya, emosionalnya, serta spiritualnya.

Apa Yang Dimaksud Dengan Mambangun Bangsa?

Adapun yang dimaksud dengan membangun Bangsa adalah para pemuda diharapkan mampu membawa bangsanya dalam setiap sisi ke arah positif. Dari sisi ekonominya, infrastrukturnya, sosialnya, ketentramannya, demokrasinya, dan sisi yang lainnya.

Mereka yang membangun Bangsa hakikatnya adalah para pahlawan di masa kini. Dalam artian bahwa para pahlawan di jaman dahulu berjuang untuk meraih kemerdekaan Bangsa dan hari ini, para pahlawan Bangsa hidup untuk mempertahankan kemerdekaan dan juga membangun Indonesia.

Semoga saja di Hut Republik Indonesia yang 74 ini banyak terlahir para pemuda yang cinta tanah air serta mempunyai itikad yang kuat dalam membangun Bangsa.

Siapa Saja Yang Dimaksud Dengan Istilah Pemuda?

Dulu penulis pernah membaca sebuah buku saku dari Syahid Muthahari perihal definisi Pemuda. Beliau punyai definisi yang sempurna mengenai hal ini. adapun definisi pemuda menurutnya yaitu tidak ada batasan usia mengenai pemuda. Pemuda adalah sesosok pribadi yang mempunyai semangat untuk bekerja dan membawa sesuatu ke arah positif.

Menurut definisi di atas bisa dipahami bahwasanya pemuda bukanlah mereka yang telah beranjak dari fase remaja menuju fase pemuda dan bukan pula mereka yang berada di antara usia 17 hingga 30. Akan tetapi pemuda menurut syahid Muthahari adalah mereka yang punya gairah untuk membangun ke arah positif  baik itu mereka yang berusia 17 hingga 30 atau yang lebih dari itu. Jadi menurut Syahid Muthahari pemuda tidak terbatas oleh usia.

Menurut penulis sendiri, definisi yang diangkat oleh Syahid Muthahari adalah definisi yang pas dan sempurna. Selain itu juga definisinya lebih umum dan mencakup banyak kalangan. Jadi sekarang kita sudah punyai definisi pemuda yaitu mereka yang punya gairah dan semangat untuk membawa sesuatu ke arah positif.  

Karakter Apa Yang Harus Dimiliki Oleh Seorang Pemuda Indonesia Jika Hendak Membawa Indonesia Menuju Indonesia Unggul?

Sudah penulis jelaskan di atas bahwa pemuda yang dimaksud oleh penulis di sini bukanlah penduduk Indonesia yang berusia 17 hingga 30 tahun saja melainkan mereka, entah itu usia 12 atau 69 tahun, yang punyai gairah untuk membawa Negeri tercinta Indonesia menuju Indonesia yang unggul serta menjadi sebuah bangsa yang bermartabat dan disegani oleh negara-negara dunia.

Menurut penulis salah satu hal yang mesti dimiliki oleh seorang pemuda untuk membawa Indonesia menjadi Indonesia unggul adalah pemuda-pemudi haruslah cerdas. Yakni pemuda-pemudi harus mempunyai kecerdasan intlektual, emosional, dan spiritual.

Macam-Macam Kecerdasan

Nabi Muhammad saw pernah bersabda , “Seorang mukmin tidak akan pernah jatuh pada lubang yang sama untuk yang kedua kalinya. Maka dari itu ia harus cerdas dan tidak mudah tertipu.”[1]

Seorang pemuda Indonesia yang hendak membangun dan membawa Bangsanya menjadi Negara yang unggul haruslah punyai karakter orang cerdas. Dalam artia bahwa ia harus punyai kecerdasan baik itu kecerdasan otak atau intelektual, kecerdasan emosional, dan juga kecerdasan spiritual.

Ketiga jenis kecerdasan ini sangat berperan penting dalam membawa Indonesia menjadi Indonesia yang unggul. Karena penulis sangat yakin bahwa jika dimiliki maka ia mampu mengatasi segala masalah yang ada di negara Indonesia.

Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan intelektual (bahasa Inggris: intelligence quotient, disingkat IQ) adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, daya tangkap, dan belajar.[2]

Dengan kecerdasan intelektual maka pemuda bisa menciptakan hal-hal baru. Menemukan penemuan-penemuan baru yang bisa digunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sehingga dengan segala penemuan yang bermanfaat, maka masyarakat akan menjadi sejahtera sehingga ketika masyarakat sejahtera maka negara pun akan sejahtera.

Rosalie Holian pernah berkata “Ketika seseorang dengan IQ tinggi juga memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi, yang dapat diperoleh dari pengalaman serta kualifikasi pendidikan formal, maka mereka cenderung memiliki berbagai keterampilan,”[3]

Lalu apakah kecerdasan intelektual saja cukup untuk membawa Indonesia menjadi Negara yang unggul? Tentu saja tidak. Mari kita bahas perkara ini di jenis kecerdasan kedua, kecerdasan emosional.

Adapun cara untuk meningkatkan kecerdasan intelektual tiada lain adalah dengan rajin belajar dan rajin bereskperimen.

Kecerdasan Emosional

Adapun tentang kecerdasan emosional penting dimiliki oleh pemuda Indonesia, karena banyak sekali sekarang orang yang cerdas otaknya atau katakan saja tinggi IQ-nya namun mereka mempunyai pribadi dan karakter yang buruk.

Definisi dari kecerdasan emosional (bahasa Inggris: emotional quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.[4]

Menurut Hordward Gardner (1983), terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.[5]

Tentu saja mereka yang mempunyai kecerdasan Intelektual akan mempunyai berbagai keterampilan sehingga mereka bisa dengan mudah mengatasi setiap masalah yang menimpa masyarakat khususnya dari masalah-masalah yang bersifat materi. Namun apakah ini cukup? Jawabannya adalah tidak cukup.

Bisa dikatakan untuk menyempurnakan keterampilan IQ yang dipunyai maka pemuda-pemudi Indonesia haruslah mampu mengontrol emosi diri mereka sendiri. Misalnya mereka haruslah tahu bagaimana cara mengontrol diri mereka ketika marah. Karena sepertinya akan ada yang kurang ketika mereka pintar tapi mereka pemarah.

Berhubungan dengan pemarah, Baginda Nabi saw pernah bersabda, “Wahai Ali! Sekali-kali janganlah engkau marah. Namun tatkala engkau marah, duduklah dan renungkanlah Kekuasan Tuhan serta bagaimana Dia bersabar dalam menghadapi mereka!”[6]

Menurut penulis, dengan membaca riwayat-riwayat tentang moral bisa menguatkan kecerdasan emosional kita. Maka dari itu bagi kalian yang ingin jadi pemuda-pemudi bangun Bangsa, harus lebih dekat dengan riwayat-riwayat yang bertemakan moralitas.

Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual (bahasa Inggris: spiritual quotient, disingkat SQ) adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif.[7]

Atau menurut Khalil A Khavari, kecerdasan spritual dapat diartikan sebagai fakultas dimensi yang non material atau dapat dikatakan sebagai jiwa manusia. Khalil mengibaratkannya dengan intan yang belum terasah sama sekali serta dimiliki oleh setiap manusia. Kita sebagai manusia harus mengenalinya seperti pada adanya, menggosoknya hingga terlihat mengkilap dengan adanya tekad yang besar, serta menggunakannya untuk menuju kearifan serta mencapai kebahagiaan abadi.[8]

Dengan menggunakan kecerdasan spritualnya diharapkan pemuda-pemudi Indonesia mampu menerpa dirinya dan mempersiapkan dirinya untuk menyebarkan hikmah dan kebijaksanaan pada sosial nantinya. Menilik peribahasa bahwa sebelum mendidik orang lain maka kita harus mendidik diri kita sendiri.

Diharapkan dengan kecerdasan spiritual yang dimiliki setiap pemuda-pemudi Indonesia, mereka tidak akan menciptakan permasalahan. Karena diri mereka telah dididik untuk selalu menjadi pribadi yang baik.

Kesimpulan

Dari pembahasan kali ini, penulis mendapatkan bahwa memiliki pemuda-pemudi yang cerdas dari sisi intelektualnya, emosionalnya, serta intelektualnya adalah sesuatu yang urgen dan penting. Karena dengan memiliki kecerdasan, dari setiap pemuda-pemudi akan lahir penemuan-penemuan, jalan keluar yang bermacam-macam untuk mengatasi masalah selain itu juga mereka akan mampu menyebarkan hikmah dan kebijaksanaan melalu kecerdasan spiritual mereka. 


-Sutiawan-

Artikel ini meraih predikat terbaik III dalam Lomba Artikel Kemerdekaan RI 74 yang diadakan Departemen Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

[1] Kitabul Mawaidz, hal 52.

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_intelektual

[3] https://tirto.id/kecerdasan-emosional-itu-penting-kenali-cara-melatihnya-c6qG

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_emosional

[5] https://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_emosional

[6] Tuhaful Uqul, hal 21.

[7] https://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_spiritual

[8] https://dosenpsikologi.com/kecerdasan-spiritual

Perempuan dan Tugasnya dalam Pembangunan Negeri

Perempuan dan Tugasnya dalam Pembangunan Negeri

Perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang dianugrahi akal dan potensi yang sama dengan laki-laki, sehingga memiliki tanggung jawab yang sama dalam ber-amar ma’ruf nahi mungkar. Masing-masing memiliki kewajiban yang sama terhadap Tuhan, diri, dan masyarakat. Dari sinilah, perempuan juga merasa sadar akan tanggungjawabnya terkhusus sebagai bagian dari masyarakat, abdi negara Indonesia sehingga perlu dengan maksimal memberikan yang terbaik untuk kejayaan negerinya.

Untuk mengkaji perkembangan pertumbuhan peran perempuan untuk masa sekarang, kita membutuhkan sejarah otentik tentang kehadiran perempuan dalam meraih, mempertahankan dan menjaga kemerdekaan Republik tercinta dari masa ke masa. Sebab sebagaimana patut diketahui, tingkat kemajuan suatu masyarakat ditetapkan oleh tinggi rendahnya tingkat kedudukan perempuan didalam masyarakat tersebut.

Pada masa kolonial, kita tidak asing lagi dengan deretan nama pejuang perempuan Indonesia yang turut andil baik dalam dunia pendidikan, politik bahkan militer yang turut berperan sebagai gerilyawan melawan penjajah. Ada Hadjah Rangkayo Rasuna Said (1910-1965), perempuan dari Minangkabau, seorang orator pejuang kemerdekaan Indonesia dan melalui organisasi Sarekat Rakyat, dan Persatuan Muslim Indonesia (PMI), dia sering mengecam kekejaman dan ketidakadilan pemerintah Belanda. Dia pernah dipenjara pada 1932 di Semarang oleh pemerintah Belanda dan stelah Indonesia merdeka aktif berjuang kembali menyuarakan cita-citanya melalui parlemen. Perempuan yang mengangkat senjata diantaranya adalah Martha Christina Tiahahu (1800-1818) dari Maluku yang berjuang melawan agresi Belanda sejak diusia yang terhitung muda, 17 tahun. Dalam dunia pendidikan, Dewi Sartika (1884-1947) tokoh perempuan asal Sunda mendirikan sekolah perempuan dimasanya, berjuang bersama kedua saudarinya mencerdaskan kaum perempuan pribumi. Dan masih banyak tokoh-tokoh lainnya yang memainkan perannya masing-masing dalam meraih kemerdekaan tanah lahirnya, Indonesia.

Pasca kolonial pada tahun 1945-1966, gerakan-gerakan perempuan dengan perannya memberikan warna kemerdekaan bangsa Indonesia. Ada gerakan Wanita Marhaen, sayap perempuan partai Nasionalis yang menolak perbedaan laki-laki dan perempuan. Wanita Marhaen ini menginginkan perempuan dan laki-laki dalam satu barisan, satu wadah organisasi mengobarkan massa aksi, bersama-sama terjun kedalam satu kawah, yang nanti akan meleburkan stelsel kapitalisme dan stelsel imperialisme.

Juga ada PERWARI (Persatuan Wanita Republik Indonesia) berdiri tanggal 17 Desember 1945. Disaat berlangsungnya perang, PERWARI yang merupakan kegiatan “homefront”, beraktifitas di bagian dapur umum untuk para tentara dan membantu kegitaan-kegiatan Palang Merah Indonesia. Setelah kemerdekaan diraih, PERWARI menggiatkan diri dalam mengisi kemerdekaan dengan memfokuskan diri dalam bidang pendidikan. Selain wanita Marhaen dan PERWARI, indonesia juga diwarnai dengan kelihaian dan kecerdasan kaum perempuan dalam memajukan bangsa, GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) yang dulunya adalah GERWIS (Gerakan Wanita Sadar) yang aktif di tahun 1954. Gerwani merupakan gerakan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah sehingga sering dikait-kaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), gerakan yang memiliki anggota paling banyak diantara organisasi perempuan revolusioner, 1,5 juta perempuan. Sebuah angka fantastis dalam sebuah organisasi. Organisasi independen ini, menyentuh seluruh lapisan masyarakat dengan memberikan perhatian pada reformasi sistem hukum di Indonesia untuk membuat perempuan dan laki-laki sama di mata hukum termasuk hukum perkawinan, hak-hak buruh, dan nasionalisme Indonesia.

Gerwani juga memberikan dukungan individu untuk perempuan dan anak yang telah disalahgunakan atau ditinggalkan oleh suami mereka.

Sementara pada masa orde baru (1967-1998), awal dari sejarah kelam gerakan perempuan, sejarah mengalami distorsi dimana perempuan yang bergabung di Gerwani adalah perempuan tanpa peri kemanusiaan dan dengan tari-tarian bugilnya melakukan penyiksaan terhadap jendral dilobang buaya. Dimasa ini, masa 32 tahun lamanya, kaum perempuan tercerai berai tanpa wadah dan gerakan yang signifikan, gerakan perempuan seolah-olah mati bahkan dimatikan dengan munculnya organisasi-organisasi bentukan pemerintah, seperti Dharma Wanita yang isinya istri-istri PNS, kemudian ada PKK yang isinya istri-istri pejabat. Organisasi-organisasi tersebut memainkan perannya bahwa kewajiban perempuan itu adalah mengerjakan urusan-urusan domestik semata dalam istilah yang saat ini populer adalah 3-ur: kasur, dapur dan sumur.

Pelabelan-pelabelan ini dengan begitu mudahnya diterima secara langsung oleh perempuan-perempuan pada masa itu, dan ketika peran perempuan berada dalam ranah publik itu dianggap sebuah ke-abnormalan dan juga perempuan bahkan cenderung dijadikan alat komoditas politik oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya.

Setiap penindasan, akan lahir sebuah kesadaran, inilah yang muncul dipermukaan masa orde baru, dikala sebagian perempuan dinina bobokan dengan kegiatan-kegiatan 3 UR, lahir perempuan-perempuan kritis dan sadar akan hak-haknya, tidak bisa diam dengan ketertindasan yang dirasakan meski nyawa menjadi taruhannya, seperti tokoh yang memperjuangkan hak-hak buruh, Marsinah. Juga LSM Perempuan yang memiliki berbagai macam agenda kegiatannya, dari pengembangan ekonomi, advokasi kekerasan terhadap perempuan, hingga mengangkat kembali hak dipilih bagi perempuan untuk terwakilkan di parlemen. Begitu juga dilingkungan mahasiswa, lahir jiwa-jiwa sadar untuk mengkaji persoalan perempuan meski dalam tahap realita masih sulit bergerak, tetapi ini sudah menjadi nilai lebih.

Perjuangan terus berlanjut oleh Masyarakat Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang kemudian lahir Kepres nomor 181 tahun 1998 yang merumuskan terbentuknya sebuah lembaga yang bernama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang disingkat Komnas Perempuan. Adanya Komnas Perempuan yang menjadi inspirasi sebagian organisasi perempuan maka lahir gerakan-gerakan perempuan lain seperti Jurnal Perempuan, JARPUK, Fahmina, PEKKA, FAMM dan lain-lain. Meski demikian, masih banyak pekerjaan rumah bagi gerakan perempuan di Indonesia untuk memperjuangkan hak-haknya khususnya hak-hak kaum perempuan yang termarginalkan.

Dari sini perlu kembali ditegaskan bahwa kaum perempuan adalah aset, potensi dan investasi yang penting bagi Indonesia, yang dapat berkontribusi secara signifikan, sesuai kapabilitas dan kemampuannya. Setiap masa yang sudah digambarkan, bahwa perempuan memiliki kekuatan dalam mengubah kondisi, perempuan memiliki kegigihan dalam memperjuangkan dan mempertahakan sesuatu. Dalam konteks pembangunan, perempuan bisa memberikan perannya dalam memperbaiki kualitas generasi berikutnya, mengingat perempuan adalah pendidik pertama di keluarga. Dalam bidang perekonomian, peran perempuan juga tidak bisa dikecilkan. 35% usaha kecil dan menengah dikelola langsung oleh perempuan dan sebagian besar dari rumah sendiri, yang jenis usaha ini banyak memajukan perekonomian Indonesia. Dari partisipasi politik, proporsi perempuan yang berada di parlemen Indonesia mencapai angka 19,8%. Namun belum tercapainya kuota 30% perempuan dilegislatif, belum terpenuhinya semua hak, masih adanya perlakuan diskriminatif, masih adanya perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual dan perdagangan manusia termasuk kekerasan dalam rumah tangga, menunjukkan masih banyak tantangan yang harus dihadapi dalam upaya pemberdayaan perempuan untuk mencapai kesetaraan gender di Indonesia.

Benar adanya bahwa kita Indonesia sudah merdeka 74 tahun lamanya dari keterjajahan penjajah, namun merdeka secara manusiawi dan seratus persen, tetap perlu diperjuangkan agar penjajah-penjajah tidak datang baik itu secara materi atau penjajah secara pikiran.  Kita tahu bersama bahwa perempuan adalah tonggak bagi keluarga dan masyarakat, jadi perempuan secara mental harus berdaya dan memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas dan perannya tersebut. Disini perlu kerjasama semua pihak untuk mewujudkan hal tersebut. Sebagaimana yang dikatakan Presiden Soekarno, perempuan adalah tiang negara, artinya tegak dan kokohnya sebuah negara sangat bergantung pada peran dan kehadiran perempuan, karena itu potensi perempuan harus mendapat perhatian penuh dan terkelola dengan baik. Menurut penulis ada tiga langkah yang harus dilakukan segera dan secepatnya serta ditangani serius, yaitu akhiri kekerasan pada perempuan, baik verbal maupun fisik. Hentikan perdagangan manusia utamanya perempuan, serta akhiri kesenjangan ekonomi yang menjebak kaum perempuan termaginalkan dan tereksploitasi. Semangat kesadaran gender harus menjadi fokus utama pemerintah untuk memperjuangkan perubahan positif bagi kaum perempuan, khususnya yang menyangkut akses, partisipasi, kontrol dan peran perempuan dalam pembangunan.

Ketika semua isu yang telah dipaparkan diatas terkendali dan teratasi, maka menjadi keniscayaan perempuan akan punya ruang dan akses untuk bisa lebih memaksimalkan potensinya untuk memberikan manfaat besar bagi negara, bukan hanya kemajuan bagi pembangunan fisik namun juga dalam pembanguan manusia seutuhnya.

________

Haryati

Artikel ini meraih predikat terbaik II dalam Lomba Artikel Kemerdekaan RI 74 yang diadakan Departemen Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

Perempuan Cikal Bakal Lahirnya Revolusioner

Perempuan Cikal Bakal Lahirnya Revolusioner

Setelah perjuangan panjang demi kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Jargon dapur, sumur dan kasur yang dinisbatkan untuk tugas perempuan pada masa Kartini, kini sudah tidak relevan lagi. Hari ini wilayah perempuan tidak hanya terbatas pada urusan rumah tangga, perempuan berhak menikmati pendidikan dan turut berkecimpung di berbagai ranah dalam masyarakat.

Berkat usaha bapak pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara, Dewi Sartika, R.A Kartini dan banyak tokoh lainnya dalam pemerataan pendidikan bagi anak bangsa di masa perjuangan. Akhirnya, aturan pendidikan kolonial yang hanya dapat dinikmati oleh kalangan terbatas berhasil diruntuhkan[1]. Sekarang ilmu pengetahuan bukan lagi barang mewah dan bisa dinikmati siapa saja. Terkhusus, bagi perempuan di bumi pertiwi yang sebelumnya tak hanya dibatasi oleh aturan kolonial tetapi juga adat istiadat.

Meningkatnya kesadaran peran perempuan sebagai tonggak masyarakat. Membuat perempuan bukan hanya berhak, tetapi juga dituntut untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Agar menjadi perempuan cerdas. Sebab perempuan memiliki tugas penting sebagai pendidik anak bangsa. Oleh karena itu, perempuan cerdas adalah kebutuhan bangsa untuk berkembang menjadi bangsa yang unggul. Pekerja seni Indonesia, Dian Sastrowardoyo mengatakan “Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu cerdas akan  melahirkan anak-anak cerdas[2]”.

Dalam literatur islam, pentingnya pendidikan bagi perempuan juga telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW telah mendidik putrinya sendiri, Sayyidah Fathimah  as dengan baik. Sehingga Sayyidah Fathimah as masih menjadi ikon perempuan teladan hingga hari ini. Ilmu pengetahuannya yang luas menjadikan Sayyidah Fathimah as tempat bertanya masyarakat kala itu. Berkat kecerdasannya Sayyidah Fathimah as juga sukses membina rumah tangga dan melahirkan putera-puteri emas yang komitmen membela Islam[3]. Selaras dengan pernyataan Bung Hatta bahwa barang siapa yang mendidik satu laki-laki berarti telah mendidik satu manusia, sedangkan siapa yang mendidik satu perempuan berarti mendidik satu generasi.

Sudah banyak kisah keberhasilan suatu kaum maupun bangsa karena kiprah perempuan cerdas yang bukan isapan jempol semata. Menengok ke Timur Tengah, ada Republik Islam Iran yang berhasil meraih revolusi atas dukungan dan sumbangsih para perempuannya[4]. Meskipun gerakan ini dimotori oleh Imam Khomeini, namun Imam Khomeini berhasil mengedepankan kiprah perempuan saat melakukan perlawanan terhadap tirani Syah. Para perempuan turut berjuang dengan memotivasi laki-laki, mereka turun ke jalan dan menyatakan dukungan. Di rumah-rumah mereka mendidik anak-anak dengan jiwa ksatria. Sehingga rakyat berbondong-bondong menjadi prajurit yang berani membela tanah air tanpa takut mati.

Sementara dalam sejarah Indonesia, ada kisah para penyortir lada perempuan yang tangguh di Kerajaan Banten tahun 1780. Jatuhnya Malaka ke Portugis membuat Kerajaan Banten yang menguasai Selat Sunda menjadi pusat perniagaan. Sebagai penghasil utama komoditi lada, permintaan lada dari Kerajaan Banten pun membludak. Namun berkat manajemen cerdas penyortir lada perempuan, penghasilan lada Banten pun berhasil meningkat. Padahal para penyortir lada ini memiliki tugas kompleks. Bukan hanya memilah lada yang bagus secara fisik, tetapi juga menakar harga, pendistribusian, dan memiliki kewenangan untuk berhubungan langsung dengan mandor juga pemerintahan Belanda[5].

Sekarang di umur Indonesia yang sedang menuju seabad pun tak luput dari peran perempuan cerdas yang mampu bersanding dengan laki-laki dalam membangun negeri. Banyak srikandi-srikandi yang telah lahir karena adanya kebebasan dan kemudahan dalam mengakses ilmu pengetahuan dari berbagai sarana. Utamanya karena fasilitas instansi-instansi pendidikan baik milik pemerintah atau swasta sudah tersebar luas di berbagai daerah.

Kini tugas Indonesia bukan lagi mendobrak batasan pendidikan, tetapi meneruskan perjuangan dengan meningkatkan kualitas di sektor pendidikan. Indonesia harus sadar bahwa persaingan untuk maju berproses menjadi bangsa yang unggul di era modern ini semakin ketat. Bangsa ini membutuhkan kehadiran mitra perempuan-perempuan cerdas, disamping adanya usaha kerja keras kaum laki-laki.

Sementara mengingat kompleksnya tanggung jawab perempuan dan peran krusialnya sebagai ibu maupun istri. Adalah sebuah keharusan negara untuk memperhatikan dan merangkul perempuan lebih hangat lagi. Negara harus melihat lewat kacamata psikologi dari hati ke hati, bahwa perempuan adalah bagian dari rakyat. Sudah saatnya pendidikan Indonesia meraih perempuan lebih akrab dengan membuat instansi-instansi pendidikan baik formal atau non-formal yang aturan, kebijakan, dan fasilitasnya ramah bagi perempuan, terutama bagi yang sudah berkeluarga. Agar perempuan dapat memanajemen peran multipelnya dengan baik. Seperti penyediaan daycare, ruang menyusui, jam pelajaran yang ringan, cuti haid, hamil, melahirkan dan lain-lain.

Akan ada lingkaran simbiosis mutualisme yang tercipta ketika perempuan mengabdi pada negara dan negara merangkul perempuan. Hubungan keserasian yang terwujud akan menghasilkan penerus berkualitas. Karena baik negara sebagai simbol tanah air maupun perempuan memiliki persamaan karakter sebagai pemangku kehidupan. Ketika generasi baru lahir dari cikal bakal buaian dan tanah kelahiran yang penuh cinta maka ia akan lahir menjadi pembela tanah air sejati. Seperti kata Che Guavara bahwa lahirnya revolusioner yang sesungguhnya dimotivasi oleh perasaan cinta yang luar biasa.

Sehingga menjadi suatu keharusan bagi perempuan untuk merenung, sejauh mana ia telah berkontribusi bagi bangsanya. Tidak perlu muluk-muluk, langkah awal kontribusi perempuan bisa dilakukan dengan berinvestasi menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan mencintai diri sendiri. Sudah saatnya perempuan saling mendukung dan menguatkan satu sama lain dalam hal positif. Demi berkibarnya terus sang Saka Merah Putih. Karena menjadi perempuan bukan hanya sebatas gender, tetapi juga sebuah  kebanggaan, kemuliaan sekaligus sebuah tanggung jawab.

Terakhir penulis ucapkan selamat Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-74 bagi seluruh rakyat Indonesia. Khususnya para perempuan hebat Indonesia,  NKRI tetap jaya karena kalian ada.


Aisyah Habrul Ilma Alfatin

Artikel ini meraih predikat terbaik I dalam Lomba Artikel Kemerdekaan RI 74 yang diadakan Departemen Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

[1] Musyafa,Haidar.2017.Ki Hadjar Sebuah Memoar. Cet 1.Tangerang Selatan: Pustaka Imania

[2] Bernas.id.Wanita Sekolah Tinggi Tapi Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga?.https://m.bernas.id/51308-wanita-sekolah-tinggi-tapi-cuma-jadi-ibu-rumah-tangga

[3] Makarim, Nasir Syirazi.2007.Wanita Agung Fathimah Az-Zahra. Diterjemahkan oleh: Najib Husain al-Idrus. Cet.3. Jakarta:Cahaya

[4] Khomeini,Imam. 2004.Kedudukan Wanita dalam Pandangan Imam Khomeini.Diterjemahkan oleh:. Muhammad Abdul Kadir Alcaff.Cet.1.Jakarta: Lentera.

[5] Sudarani,Tyanti.2012. “Emansipasi Perempuan Dalam Perdagangan Lada di Banten” Dalam ARSIP,September,59. Jakarta.

Mempersembahkan Sembelihan di Hari Idul Qurban

Mempersembahkan Sembelihan di Hari Idul Qurban

Makna Idul Qurban

Idul Qurban berasal dari dua kata dalam bahasa Arab, Ied dan Qurban. “Ied” dari kata ‘aada – ya’uudu, bermakna ‘kembali’. Qurban, dari kata qaraba-yaqrabu, bermakna ‘mendekat’. ‘Qarib’ adalah ‘dekat’, dan ‘Al-Muqarrabuun’ adalah ‘(hamba) yang didekatkan’. Idul Qurban kemudian bisa kita maknai sebagai sebuah hari dimana kita berupaya kembali pada hakikat kemanusiaan kita yang mendambakan dekat dengan yang Maha Rahim. Banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mendekat kepada-Nya (taqarrub Ilallah), Jalaluddin Rumi menyebut, sebanyak helaan nafas manusia. Allah SWT pun memberi motivasi, “Wahai orang-orang yang beriman ! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung” (Qs. Al-Maidah : 35).

Salah satu cara hamba untuk lebih mendekat kepada-Nya adalah dengan menginfakkan harta, termasuk berqurban, “Ketahuilah, sesungguhnya infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah).” (Qs. At-Taubah : 99).

Tentu saja yang kita qurbankan adalah sesuatu yang kita cintai, sesuatu yang sebenarnya sangat berat untuk kita lepaskan. Sebab belumlah disebut berqurban jika yang kita keluarkan adalah sesuatu yang membuat kita tidak merasa kehilangan apa-apa, sesuatu yang ringan hati kita keluarkan. “Kamu sekali-kali tidak akan sampai pada kebajikan (Al-Birr), sebelum kamu menginfakkan (tunfiquu) bagian (harta) yang kamu cintai (mimma tuhibbuun). Dan apa saja yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali-Imran : 92). Artinya, seseorang yang misalnya bergaji sampai 60 juta per bulannya, dengan mengeluarkan dana sejuta untuk menyembelih kambing di hari ini, apakah bisa dianggap berqurban ? apakah itu sudah sampai pada tingkat ‘menginfakkan bagian harta yang dicintai’ ? apakah jiwa merasakan adanya rasa berqurban dibanding banyaknya sisa harta yang dimiliki ? sebagaimana ayat di atas, bisakah itu mencapai derajat al-Birr ?. Bisa kita bayangkan, bagaimana rasa taqarrub nabi Ibrahim as yang bersedia mengurbankan anak kesayangannya di altar persembahan atau sebagaimana Imam Ali as dan keluarganya yang memberikan makanan yang disukainya sehingga surah Al-Insan turun untuk menceritakan keutamaan mereka. Atau justru kaum paganisme  yang menyembelih yang tercantik di antara gadis-gadis mereka untuk bertaqarrub kepada tuhan-tuhan mereka.

Tentu kita butuh refleksi diri. Setiap tahun tidak sedikit dari kita yang menyisihkan dana untuk merayakan hari ini dengan penyembelihan hewan qurban. Namun adakah transformasi jiwa yang terjadi ?. Adakah saudara-saudara kita itu merasa lebih dekat kepada Allah yang Maha Besar ?. Ketika kedekatan dengan Allah tidak bertambah, jiwa tidak menjadi semakin halus dan lembut, jasad tidak semakin beramal shalih, pikiran tidak semakin cemerlang dan bijaksana tentu ada yang salah dari ritual pengorbanan mereka. Padahal sebenarnya lewat hari ini mereka dapat menemukan bukan saja amal terbaik, tetapi didekatkan oleh Allah sedekat-dekatnya sampai mencapai derajat ‘Al-Muqarrabuun’.

“Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (Qs. Al-Hajj : 37). Hewan ternak yang saudara-saudara qurbankan hari ini sesungguhnya, bukan dagingnya, bukan darahnya, bukan tulang belulangnya, bukan harganya melainkan ketaqwaanlah yang bisa mencapai-Nya. Semoga kita bisa berqurban dan berinfaq sampai pada titik kita benar-benar berat melakukannya, sebab adanya rasa cinta yang sangat pada yang kita qurbankanlah yang  bisa mendekatkan kita pada-Nya.

Idul Adha, Memaknai Penyembelihan

Nama lain Idul Qurban, adalah Idul Adha. Adha memiliki makna penyembelihan. Harus ada yang kita sembelih pada hari ini. Bukan persoalan apa kita memiliki harta atau tidak untuk menyembelih. Kita yang termasuk belum memiliki kemampuan untuk menyembelih hewan qurban, sesungguhnya telah diberi kemampuan untuk melakukan prosesi penyembelihan lain, menyembelih ‘kambing’, ’sapi’, maupun ‘hewan ternak’ lain yang berjubelan dan beranak pinak dalam diri kita. Hewan ternak sesungguhnya tamsil dari dominasi hawa nafsu dan syahwat kita. Tamsil segala kesesatan dan keburukan; kebodohan, kedengkian, ketakaburan, buruk sangka, kemalasan, kecintaan pada hal-hal material dan aspek lainnya yang harus kita sembelih dari diri kita. Allah SWT menyebut orang-orang yang buta hati, akal dan pikirannya lebih sesat dari hewan ternak. Pendidikan dan pergaulan yang salah bisa jadi telah merubah kita yang manusia menjadi hewan-hewan ternak tanpa sadar.

Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi-ye Ma’nawi menafsirkan empat ekor burung yang disembelih dan dicincang oleh nabi Ibrahim as dalam surah Al-Baqarah ayat 260 sebagai empat ekor unggas yang ada dalam diri kita. Keempat ekor unggas itu adalah bebek yang mencerminkan kerakusan, ayam jantan yang melambangkan nafsu, merak yang menggambarkan kesombongan dan gagak yang melukiskan keinginan. Dan menurut Rumi kita hanya bisa kembali hidup sebagaimana manusia ketika kita berani menyembelih keempat unggas ini, sebagaimana Ibrahim as mencincangnya. Di antara keempat unggas ini, bebeklah yang paling mewakili karakter kebanyakan kita. Tentang bebek Rumi bercerita :

Bebek itu kerakusan, karena paruhnya selalu di tanah                                                                       

Mengeruk apa saja yang terbenam, basah atau kering

Tenggorokannya tak pernah santai, sesaatpun                                                                     

Ia tak mendengar firman Tuhan, selain makan minumlah!

Seperti penjarah yang merangsek rumah-rumah

Dan memenuhi kantongnya dengan cepat                                                                          

Ia masukkan ke dalam kantongnya baik dan buruk                                                     

Permata atau kacang tiada beda                                                                                      

Ia jejalkan ke kantong basah dan kering                                                                             

Kuatir pesaing akan merebutnya                                                                                        

Waktu mendesak, kesempatan sempit, 

Ia ketakutan…..              

dengan segera di bawah tangannya                                                                            

Ia tumpukkan apapun….

Better late than never. Sudah waktunya sekarang, tidak harus selalu menunggu hari seperti ini untuk melakukan penyembelihan. Bermula hari ini, kita persembahkan diri kita yang telah tersembelih dari sifat-sifat yang sepantasnya hanya dimiliki hewan ternak kepada Allah Dzat yang Maha Suci, yang cinta kepada mereka yang senantiasa menyucikan dan menyembelih dirinya.

Idul Adha, Memaknai Kembali

 “Dan sekalipun telah Kami perintahkan kepada mereka, “Bunuhlah dirimu atau keluarlah dari kampung halamanmu,” ternyata mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka.” (Qs. An-Nisa : 66). Sudah waktunya pula kita belajar untuk ‘keluar dari kampung’ kita : belajar untuk keluar dari zona nyaman dan memerdekakan diri dari dominasi nafsu jasadiyah menuju jiwa kita yang sejati. Masih ada dunia lain di luar ‘kampung’ kita ini, yang bisa jadi selama ini kita anggap berbahaya. Juga harus ada upaya untuk keluar dari keegoisan diri kita dan belajar memahami orang lain. Memahami mereka yang selama ini kita kutuk karena berbeda.             

Dalam surah An-Nisa’ ayat 100 Allah SWT berfirman, “Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dalam syarah 40 hadits Imam Khomeini ra menafsirkan rumah pada ayat ini adalah ego kita. Ya, rumah yang paling berat kita tinggalkan adalah kepentingan-kepentingan keakuan kita. Setiap hari kita sibuk, kecapaian dan kelelahan hanya untuk mempromosikan citra kita dihadapan manusia, hanya untuk memenuhi kepentingan diri kita. Kita masih berputar-putar di area rumah dan kampung kita, tanpa selangkahpun keluar. Rumah dan kampung telah menjadi zona nyaman yang sayang untuk kita tinggalkan, sebab melangkah keluar selalu membutuhkan pengorbanan, butuh kepayahan dan keletihan. Dalam surah Ali Imran Allah SWT berfirman, “Segeralah kamu pada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasanya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang taqwa, yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya dalam suka dan duka, orang yang sanggup mengendalikan amarahnya, yang memaafkan orang lain dan sesungguhnya Allah suka dengan orang yang berbuat baik.” Bersegera menuju Allah SWT berarti melangkah menjauh dari rumah keakuan kita, meninggalkan kampung ego kita, kembali keharibaan-Nya yang penuh kasih. Kembali kepada-Nya tidaklah selalu berarti mati dan meninggalkan dunia ini. Rasulullah saww bersabda, “Mutu qabla antamutu, matilah sebelum kamu mati.” (Bihar Al-Anwar 66:317). Kematian pada kata perintah mutu adalah kematian mistikal, kematian ego atau kematian diri. Ibnu Arabi menyebutnya al mawt al-iradiy, kematian keinginan.

Adalah benar, bahwa kita adalah makhluk organis –begitu kata A.N. Whitehead– yang bebas menentukan hidup. Kita bebas menentukan atau merancang jenis hidup apa yang kita inginkan. Kita bebas untuk memilih, hidup sebagai manusia atau berkubang seperti hewan ternak. Tetap berleha-leha di dalam rumah dan kampung yang bukan negeri kita sebenarnya, atau berhijrah kembali menuju-Nya.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (Qs. Al-Fajr : 27-28)

Wallahu ‘alam bishshawwab

Selamat Idul Adha 1440 H.

Ismail Amin

Presiden IPI Iran 2019-2020