Bagaimana Iran Memperingati Maulid Nabi Muhammad saw?

Bagaimana Iran Memperingati Maulid Nabi Muhammad saw?

Iran dengan nama lengkap Republik Islam Iran jelas sangat mengagungkan Nabi Muhammad saw. Sebagai pembawa Islam dan penghulu para Nabi, Nabi Muhammad saw di mata orang-orang Iran begitu sangat istimewa. Muhammad adalah diantara nama yang sangat populer di Iran.

Bagi yang pernah ke Iran, akan dengan mudah melihat tulisan dan kaligrafi bertuliskan Muhammad dan tulisan salawat atasnya. Bukan hanya tertera di ornamen masjid, tapi juga di hotel, diperkantoran, dinding-dinding sekolah bahkan di halte bis maupun di tembok-tembok di jalan umum. Lantunan salawat dapat dengan mudah terdengar dari lisan orang-orang Iran. Supir yang membawa kendaraan umum sesaat sebelum berangkat akan meminta para penumpangnya bersalawat terlebih dahulu. Pembaca berita di tv dan radio-radio Iran mengawali berita yang dibacanya dengan bersalawat terlebih dulu. Murid-murid sekolah sebelum memulai pelajaran mengawalinya dengan salawat serentak, bahkan diarena olahraga sekalipun, pertandingan diawali dengan salawat lebih dulu. 

Kecintaan dan kerinduan pada Nabipun diekspresikan bangsa Iran dengan telah membuat film kolosal yang menceritakan biografi Nabi Muhammad saw di masa kecil. Produksi yang menghabiskan anggaran yang memecahkan rekor negaranya dan disutradarai oleh Majid Majidi, sutradara terbaik Iran dan nomine piala Oscar, film Mohammad, Messenger of God memecahkan rekor box office domestik. Belum ada film yang begitu sangat populer di Iran dan bertengger lama di box office domestik selama berbulan-bulan, kecuali film yang mengisahkan masa kecil Nabi Muhammad saw tersebut. 

Terus, bagaimana Iran memperingati Maulid Nabi Muhammad saw?. Berbeda dengan negara Islam lainnya, yang secara resmi memperingati Maulid Nabi hanya di hari 12 Rabiul Awal sebagaimana keyakinan mayoritas umat Islam, Nabi Muhammad saw lahir di tanggal tersebut, Iran memperingati maulid Nabi secara resmi selama sepekan. Peringatan Maulid dimulai dari 12 Rabiul Awal sampai 17 Rabiul Awal. Dalam keyakinan umat Islam Syiah -mazhab yang mayoritas di Iran- Nabi Muhammad saw lahir pada 17 Rabiul Awal. Sehingga dengan memberikan penghargaan pada dua pendapat ini, Pemerintah Iran secara resmi memperingati keduanya dan menamakan hari-hari peringatan maulid tersebut dengan nama Pekan Persatuan Islam, dalam bahasa setempat disebut Hafteh Wahdat

Selama sepekan tersebut jalan-jalan dan ruang-ruang publik terisi oleh kaligrafi bertuliskan Muhammad dan pesan-pesan persatuan Islam. Peringatan Maulid Nabi dijadikan bangsa Iran sebagai momentum menyerukan kampanye persatuan Islam. Bahwa semua umat Islam apapun mazhabnya, porosnya ada pada kecintaan kepada Nabiullah Muhammad saw.

Diantara agenda besar di Pekan Persatuan Islam, adalah diadakannya Konferensi Internasional Persatuan Islam. Konferensi yang mengundang ratusan ulama, tokoh politik, cendekiawan dan akademisi dari 90 negara dunia tersebut digelar setiap tahunnya di Iran, dan pada tahun ini telah terselenggara untuk yang ke-33 kalinya. Sepanjang penyelenggaraannya, Indonesia tiap tahunnya rutin mengirimkan delegasi. Konferensi Persatuan Islam tahun ini yang mengusung tema   “Persatuan Umat Islam untuk Membela Masjid Al-Aqsa” kembali dibuka oleh Presiden Republik Islam Iran pada Kamis, (14/11). Dalam pidato sambutannya Presiden Rouhani menyebut Palestina dan al-Quds sebagai prioritas utama dunia Muslim. Dia mengatakan, musuh-musuh dunia Islam ingin agar umat Islam  melupakan masalah Palestina.

Di sela-sela konferensi, diselenggarakan salat wajib berjamaah, yang bergantian, kadang ulama Sunni yang menjadi imam, kadang dari ulama Syiah.

Para peserta konferensi juga diagendakan untuk mengunjungi makam Imam Khomeini, untuk memberi penghormatan kepada pendiri Republik Islam Iran dan inspirator diadakannya Konferensi Internasional Persatuan Islam pada Pekan Persatuan Islam dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.

Melihat ulama-ulama Sunni dari berbagai negara Islam memberi penghormatan kepada makam Imam Khomeini yang merupakan ulama Syiah, menunjukkan hakekatnya Sunni dan Syiah saling menghargai. Konspirasi dan provokasi pihak musuhlah yang mencitrakan Sunni dan Syiah itu bermusuhan dan harus dibuatkan konflik antar keduanya.

Terlebih lagi pada puncak acara dari Konferensi Persatuan Islam, yaitu saat bertemunya tamu konferensi dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Sayid Ali Khamanei, kerap kali diwarnai suasana yang jauh lebih mengharukan, yaitu saling berangkulannya antara ulama Sunni dan ulama Syiah. Habib Ali Zainal Abidin al Jufri, ulama kharismatik kelahiran Jeddah Arab Saudi pernah berkata, “Musuh kalian yang sebenarnya adalah mereka yang meyakinkan kalian Sunni dan Syiah bermusuhan.”

Beginilah suasana memperingati Maulid Nabi di Iran, yang memberi kesejukan dan mengirimkan pesan kepenjuru dunia, bahwa kekuatan Islam sebenarnya terletak pada persatuan umatnya. Umat yang disatukan oleh kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad saw.

Selamat memperingati hari lahirnya manusia agung, Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Aaali Muhammad. 

Belajar Nasionalisme dari Iran

Belajar Nasionalisme dari Iran

Imam Khomeini aslinya adalah seorang ulama Islam, namun melalui Republik Islam Iran yang didirikannya, ia bukan hanya membangun rasa cinta rakyat Iran pada Islam namun juga menumbuhkan semangat nasionalisme pada bangsanya. Republik Islam Iran berdiri lebih muda 34 tahun dari Republik Indonesia, namun laju percepatannya baik dari segi pembangunan infrastruktur maupun ketangguhan ekonomi dan tekhnologinya bisa dikatakan menyaingi Indonesia, belum lagi Iran sempat mengalami krisis dahsyat akibat perang 8 tahun menghadapi arogansi Irak dibawah Saddam Husain. 


Di bidang politik, di 40 tahun usianya Iran telah mengalami kematangan yang mencengangkan. Iran diakui kawan maupun lawan, memiliki pengaruh besar di Timur Tengah. Iran bahkan duduk sejajar dengan negara-negara besar Eropa maupun dengan Amerika Serikat dalam penentuan kebijakan-kebijakan internasional. Melalui langkah-langkah diplomasi yang elegan, Iran melenggang di panggung internasional sebagai salah satu kekuatan dunia yang diperhitungkan. 


Kesemua keberhasilan itu, bermula dari kepiawaian Imam Khomeini beserta murid-muridnya meramu Islam sebagai kekuatan pendobrak yang menghancurkan arogansi asing yang mendiktekan kemauannya pada bangsa Iran. Dan menjadi jauh lebih dasyhat setelah dicampurkan dengan semangat nasionalisme yang tinggi. Iran sejak ribuan tahun silam telah dikenal sebagai bangsa yang besar. Diantara bangsa yang memiliki peradaban yang mempengaruhi banyak bangsa-bangsa. Meski telah berubah menjadi negara bersistem Republik Islam dan meninggalkan sistem kekaisaran, nasionalisme bangsa Iran malah semakin menjadi-jadi. Tampak ada kecenderungan yang berbeda dengan yang diyakini sebagian aktivis Islam di Indonesia. Mereka mengkampanyekan Islam dan nasionalisme berada pada kutub yang berbeda sehingga sulit untuk disatukan. 


Iran membuktikan diri, semangat nasionalisme senafas dengan pesan dan prinsip Islam. Kita bisa banyak belajar dari Iran, khususnya metode menumbuhkan semangat patriotisme dan nasionalisme yang sedikit banyak belakangan ini tampak mulai memudar dikalangan generasi muda bangsa. 


Kepatuhan pada Pemimpin


Hal yang menakjubkan dari Iran dan diakui oleh dunia internasional, adalah kepatuhan rakyat pada pemimpinnya. Sejak berdirinya sampai saat ini, musuh-musuh Republik Islam Iran baik dari dalam maupun dari luar telah menjalankan banyak agenda dan melakukan berbagai bentuk propaganda untuk menimbulkan kebencian dan kejenuhan rakyat Iran pada pemimpinnya. Namun kesemua langkah yang telah ditempuh tidak ada yang berhasil. Rakyat Iran bukan hanya patuh, namun benar-benar mencintai bahkan mengidolakan pemimpinnya. Gambar dan foto Ayatullah Ali Khamanei sebagai pemimpin tertinggi di Iran saat ini bukan hanya terpasang di kantor-kantor, sekolah dan instansi-instansi pemerintahan namun juga di rumah-rumah warga. Bahkan dengan sangat mudah didapati poster besar Imam Khomeini yang disandingkan dengan Ayatullah Ali Khamanei di dinding-dinding kota, di tembok-tembok, di halte-halte bis dan diruang publik lainnya. Sebaliknya di Indonesia, telah berlalu sejumlah presiden, dan kesemuanya tidak luput dari hujatan publik. 


Semangat Bela Negara yang Tinggi


Nasionalisme dan semangat bela negara telah dibuktikan rakyat Iran saat perang Irak-Iran yang berlangsung selama 8 tahun. Dengan kekuatan senjata seadanya, rakyat Iran berhasil mempertahankan wilayahnya dari ekspansi rezim Saddam Husein. Tidak sedikit warga sipil yang turut membela negara gugur di medan perang. Iran menerapkan wajib militer bagi warganya selama 2 tahun. Saat pendidikan militer, peserta didik tidak hanya diajari tangkas dan militan, tetapi juga diberi wawasan kebangsaan secara komprehensif. Hal itu memberi pengaruh besar pada mindset setiap generasinya. Berbeda dengan di Indonesia, bendera merah putih terkadang baru bisa kita temui ramai berkibar hanya pada momentum Agustus, di Iran bendera nasionalnya hampir disetiap titik keramaian selalu ditemui berkibar. 


Mencintai dan Menghargai Jasa Pahlawan


Para pahlawan di Iran (khususnya yang gugur dalam perang Irak-Iran) memiliki tempat yang sangat istimewa, bagi yang masih hidup mendapat banyak peristimewaan dan kekhususan yang didapatkan. Bagi yang telah meninggal dunia, apalagi yang gugur di medan tempur, maka keluarganya yang mendapatkan keistimewaan itu. Anak-anak dari pahlawan yang gugur, dijamin pendidikannya oleh pemerintah dengan mendapat beasiswa sepenuhnya sampai jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Mereka juga akan mudah mendapatkan akses pekerjaan dipemerintahan. Keluarga yang ditinggalkan, akan mendapat jaminan pemerintah untuk tetap mendapatkan kehidupan yang layak. Gambar-gambar pahlawan Iran sangat mudah ditemui terpajang di titik-titik keramaian. Karenanya, tidak mengherankan, setiap anak-anak di Iran di tanya mengenai cita-citanya, mereka akan menjawab, bercita-cita menjadi pahlawan. 


Kemandirian Ekonomi 


Hal lain yang bisa dicontoh adalah cinta pada produk dalam negeri. Kesepakatan sejumlah negara besar menetapkan embargo ekonomi pada Iran sedikit banyaknya membawa keberuntungan. Iran dipaksa membuat produk dalam negeri sendiri. Hanya dalam kurun waktu 3 dasawarsa, perekonomian Iran bangkit dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Saat ini bukan hanya mampu memproduksi kendaraan sendiri, Iran bahkan telah memiliki satelit yang pengoperasiannya dilakukan secara mandiri, tanpa bantuan negara lain. 


Cinta Tanah Air


Cinta tanah air bagi rakyat Iran, bukan hanya diwujudkan dengan kesiapan untuk membela dan memperjuangkan kedaulatan tanah air dari ronrongan negara lain, namun juga bagaimana membuat prestasi yang dapat mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. Prestasi Iran didunia internasional telah mulai diukir mulai dari tingkat remaja, bukan hanya berprestasi ditingkat penemuan-penemuan ilmiah, namun juga di cabang olahraga. Laki-laki dan perempuan Iran haus akan prestasi. Mereka saling berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan memberikan kebanggaan pada negaranya. 


Meski demikian, sebaik-baiknya Iran dengan semua hal positif yang dimilikinya, Indonesia tetaplah negara dan tempat yang terbaik bagi kita sebagai warga negara Indonesia. Semua hal baik yang ada pada negara lain, bisa kita pelajari dan amalkan untuk juga menjadikan negara kita diperhitungkan posisinya. Tidak ada kata terlambat, mari tetap mencintai dan bangga sebagai bangsa Indonesia.


Ismail Amin 

Presiden IPI Iran 2019-2021

Turut Berjuang bagi Negeri

Turut Berjuang bagi Negeri

Tatkala kalbu terhubung kuat dalam satu visi

Dikala suara bersatu padu dalam satu misi

Dengarlah…

Derap langkah tegas para pemuda

Selalu bergerak tak berdiam barang sedetik

Lihatlah, para pemuda berjuang 

Ketika ikrar suci diucapkan dengan lantang

Satu tanah air, bangsa, bahasa, Indonesia

Satu mimpi telah tercapai hai Ibu Pertiwi

Tetapi kawanku… jangan lengah

Perjalanan kita masihlah panjang

Ibu pertiwi sedang kritis dan menjerit dalam duka

Ulurkan tangan kalian wahai pemuda

Renungkan kembali para pendiri negri

Ibu pertiwi merindukan para pemudanya

Dimanapun dan kapanpun kawan

Kembalilah dalam dekapan ibu pertiwi

Lanjutkan asa para pendahulu tuk bangsa

Salam kepada Pemuda Negeri !!!

Dian Islamiati

Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

Batik, Warisan Kebudayaan Indonesia dan Bercorak Seni Tinggi

Batik, Warisan Kebudayaan Indonesia dan Bercorak Seni Tinggi

Sepuluh tahun yang lalu, 2 Oktober 2009, batik diakui secara resmi dan dikukuhkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi UNESCO. Sejak pengukuhannya, bertepatan  pada tanggal 2 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Batik merupakan kain yang digambar secara khusus dengan menorehkan cairan lilin (malam) menggunakan alat yang bernama canting. Batik sendiri berasal dari bahasa jawa ‘ambhatik’ yang terdiri dari dua unsur kata, ambha bermakna luas kain yang lebar; dan thik bermakna titik. Sehingga, pengertian batik ialah menghubungkan titik-titik yang membentuk suatu gambar atau pola tertentu pada kain yang lebar.

Dibutuhkan keuletan dan kesabaran dalam proses pembuatan batik, prosesnya yang khas dimana penggambaran motif batik dengan cara menorehkan cairan lilin pada kain. Penggunaan dua jenis alat untuk menggambar motif pada batik yaitu canting digunakan untuk  motif halus/detail dan kuas digunakan untuk motif besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Setelah motif dilukis dengan lilin, kain siap untuk dicelup dengan warna yang diinginkan. Pada mulanya di awali dengan mencelupkan warna-warna muda kemudian di celup kedalam warna yang lebih gelap, misalnya motif dengan bunga bertangkai, pada motif bunga dicelipkan kepada warna muda dan pada tangkai dicelupkan kepada warna gelap. Setelah pewarnaan selesai, kain dicelup ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Seni pewarnaan kain menggunakan lilin merupakan salah satu bentuk seni kuno, teknik ini kemungkinan berasal dari Mesir Kuno atau Sumeria. Di Indonesia, kerajinan batik dipercaya sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit yang kemudian mulai dikenal ke berbagai daerah khususnya Pulau Jawa setelah akhir abad ke-18. Pada zaman dulu, batik hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan atau priyayi, tidak untuk masyarakat biasa.

Kesenian batik mulai ditiru oleh rakyat jelata yang dijadikan sebagai pekerjaan oleh perempuan untuk mengisi waktu senggang mereka. Pada masa lalu, pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif bagi perempuan sampai ditemukannya ‘Batik Cap’ sehingga laki-laki bisa turut andil dalam proses pembuatan batik. Beberapa pengecualian di mana di daerah pesisir membatik merupakan hal yang lumrah bagi laki-laki, hal ini dapat dilihat dari batik pesisir yang bergaris maskulin seperti corak mega mendung. Namun, saat ini membuat batik bisa dilakukan oleh siapa saja.

Pada awal kemunculannya, motif batik sarat dengan nuansa Jawa, Islamisme, Hinduisme dan Budhisme. Kemudian ragam dan corak batik mulai dipengaruhi oleh asing, terutama batik pesisr yang mana menerima berbagai pengaruh luar seperti para pedagang ataupun penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dan corak phoenix berasal dari Tionghoa. Motif bebungaan (seperti tulip), benda-benda (gedung dan kereta kuda) dan warna biru berasal dari penjajah Eropa. Namun, batik tradisioal masih tetap mempertahankan coraknya dan masih sering digunakan saat upacara adat, karena masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Batik mulai dikenal pada kancah internasional sejak diperkenalkan oleh Presiden Soeharto, dengan cara memberi batik sebagai cinderamata kepada tamu-tamu negara. Selain itu, Presiden Soeharto mengenakan batik saat menghadiri konferensi PBB sehingga batik semakin terkenal.

Sebagai generasi muda, kita perlu melestarikan batik sehingga tidak punah. Bagaimana caranya? Salah satu caranya yaitu memperingati Hari Batik Nasional setiap tanggal 2 Oktober dengan mengenakan batik pada hari tersebut atau hanya sekedar membuat tulisan “selamat hari batik nasional” di status sosial media atau bisa juga dengan mengupload foto kamu saat mengenakan baju batik.

Dian Islamiati

Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

Peringatan Asyura di Iran, antara Fakta dan Fitnah

Peringatan Asyura di Iran, antara Fakta dan Fitnah

Peringatan Asyura telah selesai, meski sebenarnya hawa kesedihan dan kedukaan rakyat Iran yang mayoritas Syiah atas gugurnya Imam Husain di Karbala terus berlanjut sampai bulan Safar. Tulisan ini perlu kami ketengahkan untuk menceritakan realita sesungguhnya suasana peringatan Asyura di Iran, yang tidak sedikit oleh media-media internasional dan nasional diceritakan jauh dari kenyataan. Atau secara serampangan menyebut peringatan Asyura di Irak, Pakistan atau di negara lainnya yang diperingati secara berlebihan dengan berdarah-darah juga dikaitkan dengan peringatan Asyura di Iran. 

Begitu memasuki bulan Muharram sejak malam pertama, mayoritas rakyat Iran melarutkan diri dalam majelis-majelis duka. Bulan Muharram bagi masyarakat Iran yang mayoritas bermazhab Syiah adalah bulan duka, bulan yang mengharu biru, bulan yang menggoreskan kenangan akan peristiwa paling pahit dalam sejarah Islam. Karena itu, bergantinya tahun hijriah yang seringkali dijadikan momen untuk bergembira dan saling mengucapkan selamat bagi umat Islam kebanyakan, tidak akan ditemukan dilakukan oleh warga Iran.

Rasa belasungkawa akan syahidnya Imam Husain as beserta keluarga dan sahabatnya yang terbantai di Karbala mereka tunjukkan bukan hanya dengan pakaian serba hitam yang mereka kenakan, namun juga pemasangan umbul-umbul bendera hitam, ornamen-ornamen yang dipasang di tepi-tepi jalan, masjid dan tempat-tempat umum yang berisi pesan duka Asyura, termasuk mencat mobil-mobil mereka dengan tulisan Husain, Zainab, Ali Asghar, Aba al-Fadhl Al Abbas dan nama tokoh-tokoh lainnya dalam peristiwa Karbala.Secara resmi, warga Iran memperingati peristiwa Asyura selama sepuluh hari berturut-turut, dari tanggal 1 sampai 10 Muharram.

Hari kesembilan dan hari kesepuluh dijadikan hari libur nasional. Selama kesepuluh hari tersebut, setiap sehabis shalat Isya berjama’ah, diadakan majelis-majelis duka. Ratusan warga berbondong-bondong memadati masjid-masjid dan Husainiyah tempat diadakannya majelis-majelis duka tersebut. Acara dibuka dengan tilawah Alquran dan  dilanjutkan dengan ceramah agama yang berisi pesan dan hikmah dari kisah-kisah kepahlawanan Imam Husain as beserta keluarga dan sahabatnya di padang Karbala. Disaat Khatib menyampaikan ceramahnya, tidak jarang terdengar suara isak tangis dari para jama’ah. Peristiwa kematian Imam Husain as meski sudah berlalu hampir 1400 tahun lalu, namun bagi mereka tampak seolah-olah baru terjadi kemarin sore. Setelah mendengarkan ceramah, lampu-lampu dipadamkan, dan hanya menyisakan sedikit cahaya.

Dalam suasana nyaris gelap itu, seseorang tampil untuk membacakan maqtal atau syair-syair duka. Pada prosesi ini, para jama’ah dilibatkan. Kesemuanya berdiri dan mengiringi kidung duka yang dinyanyikan sembari menepuk-nepuk dada. Suasana haru semakin menyeruak setiap disebutkan nama al Husain.

Diakhir acara, panitia akan membagikan kotak makanan dan disantap bersama. Majelis ini berlangsung selama sepuluh malam berturut-turut. Dalam majelis ini tidak adegan melukai diri, tidak ada aksi memukul badan dengan benda tajam hingga berdarah-darah. Ulama-ulama Iran memberikan fatwa akan keharaman melukai diri apalagi sampai berdarah-darah dalam memperingati hari Asyura. Fatwa itupun menjadi hukum postif bagi kepolisian Iran untuk membubarkan dan menangkapi mereka yang melakukan aksi melukai diri dalam majelis Husaini.

Sayang, karena perbuatan segelintir Syiah di Irak, Afghanistan dan Pakistan yang masih juga memperingati Asyura dengan tradisi melukai diri, Syiah pun diidentikkan dengan perbuatan irasional tersebut. Patut diketahui, kalau memang melukai diri dianggap ibadah yang afdhal dilakukan pada peringatan Asyura, maka yang paling pertama melakukannya adalah ulama-ulama dan kaum terpelajar dari kalangan Syiah, dan itu harusnya bermula dari Iran, sebagai sentral keilmuan penganut Syiah. Faktanya, tidak satupun ulama Syiah yang melakukannya, yang ada justru memfatwakan keharamannya. Dan kalau memang itu sudah menjadi bagian dari tradisi Syiah, maka tentu jumlah orang-orang Syiah yang melakukannya jauh lebih banyak dari yang tidak. Faktanya, yang melakukannya tidak seberapa, dan itu hanya ada diluar Iran, tidak di Iran.

Mengenang Ali Asghar

Pada hari Jum’at pagi, dari kesepuluh hari awal Muharram itu, diperingati secara khusus kesyahidan Ali Asghar, putra Imam Husain as yang masih berusia beberapa bulan namun turut menjadi korban kebengisan tentara-tentara Yazid. Dikisahkan, bayi Imam Husain As tersebut dalam kondisi kehausan, sebab sumber mata air berada dalam penguasaan tentara Yazid dan tidak mengizinkan kafilah Imam Husain untuk mengambil airnya barang setetes pun. Kasihan dengan bayinya yang merengek kehausan, Imam Husain as pun memeluk dan menggedongnya.

Beliau menghadap pasukan Yazid untuk diizinkan mengambil air, setidaknya untuk menghilangkan dahaga bayinya tersebut, sembari memperlihatkan kondisi Ali Asghar yang dicekik kehausan. Bukannya iba, seorang tentara Yazid malah melezatkan anak panah yang tepat mengenai leher bayi Imam Husain As tersebut, yang kemudian mati seketika dipelukan ayahnya. Kejadian tragis ini secara khusus diperingati pada hari Jum’at pertama bulan Muharram.

Ribuan ibu dengan bayi-bayinya yang berkostum pakaian Arab paduan warna hijau dan putih lengkap dengan surban dan ikat kepala yang bertuliskan Ali Asghar, memadati masjid-masjid dan tanah-tanah lapang. Ditempat itu mereka mendengarkan ceramah khusus mengenai kisah kesyahidan Ali Asghar dan betapa pedihnya hati Imam Husain As melihat kematian bayinya yang tragis di pelukan sendiri, justru oleh mereka yang mengaku sebagai muslim dan pengikut Nabi Muhammad saw.

Suasana haru dan emosional tidak terhindarkan ketika kisah yang menyayat hati itu kembali disuguhkan. Ibu-ibu tersebut menangis sambil mendekap bayi mereka masing-masing sembari membayangkan kesedihan dan kepiluan hati Imam Husain melihat bayinya tergeletak tanpa nyawa. Dalam acara ini tidak ada adegan orangtua mengiris bayinya dengan pedang hingga berdarah, hanya sekedar untuk merasakan kepedihan Imam Husain. Foto yang beredar di media sosial yang menggambarkan kepala seorang anak yang berdarah-darah karena dilukai oleh orangtuanya sendiri, kejadiannya bukan di Iran. Itu adalah kelakuan orang-orang yang ekstrim yang justru mendapat kecaman dari ulama Syiah sendiri, yang tidak bisa menjadi representatif semua Syiah pasti melakukan itu.  

Pada hari kesembilan Muharram -yang dikenal juga dengan sebutan Tasu’a Husaini- dan pada hari kesepuluh –dikenal dengan sebutan hari Asyura- karena menjadi hari libur nasional, jalan-jalan raya dipadati oleh ribuan warga dengan pakaian serba hitam yang berjalan kaki. Disepanjang jalan, terdapat posko-posko yang menyediakan minuman panas dan makanan ringan secara gratis. Satu-dua jam menjelang shalat dhuhur masjid-masjid dan juga kantor-kantor resmi ulama-ulama Marja dipadati lautan manusia. Ditempat-tempat itu mereka berkumpul untuk menumpahkan rasa haru dan kesedihan yang sama. Suara isak tangis yang tak tertahan terdengar dimana-mana disaat khatib menyampaikan detik demi detik proses terbantainya Imam Husain As di Karbala. Bagaimana saat dadanya yang telah penuh dengan sayatan pedang ditindih dan kemudian kepalanya dengan tebasan pedang dipisahkan dari tubuhnya.

Tangisan mereka dengan tragedi memilukan yang menimpa cucu Nabi Muhammad saw tersebut bukan untuk menyesal atas apa yg telah terjadi melainkan upaya merawat dan menjaga ingatan dan kenangan atas perjuangan dan pengorbanan keluarga Nabi dalam menjaga eksistensi agama ini.

Bangsa kita juga punya tradisi yg sama dalam mengenang pengorbanan para pahlawan bangsa? ada upacara bendera, ada hening cipta, ada ziarah kemakam pahlawan, ada pembuatan film perang melawan penjajah, ada pementasan drama, ada pembacaan puisi dan seterusnya. Yang tentu tujuannya bukan untuk mengorek luka sejarah, bukan pula untuk menyimpan dendam, melainkan untuk menghidupkan semangat kepahlawanan, patriotisme dan pengorbanan para pejuang terdahulu supaya generasi sekarang juga punya semangat yang sama. Begitu juga dengan yang diadakan rakyat Iran pada peringatan Asyura. Pawai yang diadakan tidak ubahnya pawai-pawai yang diadakan banyak negara-negara lain saat memperingati hari-hari yang dianggap penting. Ada rombongan drum band, pembawa bendera dan arak-arakan yang menjadi tontonan masyarakat banyak, termasuk wisatawan asing.  

Bagi rakyat Iran, tangisan mengenang al Husain pada peringatan Asyura bukanlah tangisan cengeng. Melainkan tangisan yang justru membakar semangat perlawanan terhadap penindasan dan kesewenang-wenangan sebagaimana yang diwariskan Imam Husain as melalui tragedi Karbala. Rakyat Iran menyodorkan bukti, bahwa bermula dari tangisan itulah, revolusi besar yang mengubah takdir Iran dengan menjungkalkan rezim Shah Pahlevi telah mereka rancang dan ledakkan. Imperium Persia yang berusia 2.500 tahun beralih menjadi Republik Islam, dimulai dari tangisan mengenang al Husain. Dikarenakan peringatan Asyura membawa kabar buruk bagi penguasa zalim dan mereka yang menindas rakyat secara sewenang-wenang, karenanya penguasa-penguasa zalim itu sepanjang sejarah merasa perlu memberikan citra buruk pada peringatan Asyura untuk dihindari dan dijauhi.

Liputan: IPI Iran

Selamat Jalan Bapak Demokrasi

Selamat Jalan Bapak Demokrasi

“Menjadi presiden, bukan segalanya bagi saya, tetapi yang penting apa yang terbaik bagi bangsa ini”

(Habibie dalam memoarnya, Detik-Detik yang Menentukan)

Menurut pengakuannya sendiri, Habibie tidak pernah berambisi untuk menduduki puncak tertinggi kekuasaan di Republik Indonesia, ia menjabat presiden melalui proses dramatis karena saat Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden RI, ia selaku wakil presiden. Sebagai presiden itupun dijalaninya hanya 1 tahun 5 bulan, menjadikan periode kepresidenannya tersingkat dari 7 presiden yang diakui di Indonesia. Ia mewariskan kondisi pemerintahan yang diistilahkannya layaknya pesawat yang mengalami super stall. Yaitu kondisi pesawat yang daya angkatnya sudah tidak ada dan menjelang jatuh. 

Gagalnya kepemimpinan politik serta jenuhnya rakyat atas parahnya perilaku tak terpuji yang melumuri pemerintahan Orde Baru dalam kurun begitu lama berkuasa memicu lahirnya gerakan reformasi. Krisis moneter yang memicu kurs rupiah anjlok, banyak perusahaan yang gulung tikar memicu PHK dimana-mana dan dalam kondisi sedemikian kritis Habibie dituntut mengambil alih kendali dan menyelamatkan pesawat. 

Awal tahun 1998 Indonesia mengalami super stall dalam semua bidang, baik politik, ekonomi bahkan kepercayaan rakyat. Dalam upayanya memperbaiki keadaan pada situasi yang krusial, Habibie diserang tudingan tetap akan mempertahankan kekuasaan Orde Baru secara ia menjabat 20 tahun sebagai menteri di kabinet Soeharto. Ia tidak menggubris segala nyinyiran dan semua penilaian yang merendahkan dirinya. Meski pakar dalam pembuatan pesawat, ia diragukan bisa memperbaiki ekonomi yang sedang kolaps. Ia berkata, tidak ada waktu untuk menjawab semua nyinyiran dan upaya yang meremehkan perannya. Ia harus segera mengambil langkah tepat dalam detik-detik yang menentukan. Jika sampai September 1998 tidak terjadi perubahan signifikan, Indonesia akan mengalami balkanisasi, terpecah menjadi negara-negara kecil, ujarnya. 

Namun dari semua kebijakan dan langkah-langkah yang diambilnya, pada dasarnya ia telah berhasil menyelamatkan negara dari super stall. Hanya sehari pasca dilantik menjadi presiden, segera ia membentuk kabinet reformasi yang mencerminkan semua unsur kekuatan bangsa. Dalam berbagai pidato politiknya, ia menegaskan akan membasmi korupsi, kolusi dan nepotisme yang menggejala selamat pemerintahan orde baru. Ia memisahkan Bank Indonesia (BI) dari pemerintahan, dengan maksud agar BI bisa mengambil kebijakan logis tanpa intervensi politik. Dengan pemisahan tersebut, BI menjadi lembaga independen dan mendapatkan lagi kepercayaan. Akibatnya, meski sempat ada di jurang Rp 16.800 per dollar AS, nilai tukar rupiah secara perlahan merangkak naik hingga mampu menguat di angka Rp 6.500 per dollar AS. 

Kebijakan lainnya yang membuat tudingan kepadanya sebagai perpanjangan Orba tidak tepat adalah membebaskan semua tahahan politik, memberi kebebasan pers dan membuka kran demokrasi seluas-luasnya. Ia membentuk Komisi Pemilihan Umum dan memberi kebebasan kepada siapapun untuk membentuk partai politik selama masih sesuai asas Pancasila dan UUD 1945. Lebih dari itu, ia membubarkan keluarga besar Golkar dan menghapus kewajiban bagi PNS untuk memilih Golkar. Dengan semua kebijakan tersebut, Habibie mempermulus langkah terwujudnya Pemilu 1999 yang diikuti 48 partai politik dan dikenal sebagai pemilu paling demokratis yang pernah dilaksanakan di Indonesia. 

Agar Indonesia tidak lagi terjatuh dalam lubang yang sama yaitu kekuasaan otoriter, Habibie menetapkan aturan pembatasan masa jabatan presiden dan wakil presiden maksimal hanya dua kali periode. Ia juga mencabut Tap MPR No. II/MPR/1978 tentang Pancasila sebagai asas tunggal. 

Meski awalnya diragukan bisa menjalankan agenda reformasi, namun dari 512 hari menjabat sebagai presiden ia telah meletakkan dasar-dasar demokratisasi Indonesia. Karenanya wajar, jika kemudian ia mendapat julukan sebagai Bapak Demokrasi. Meski demikian, semua upaya yang dikerahkan menyelamatkan negara dan demokrasi tersebut tetap dianggap tidak bernilai apa-apa oleh orang-orang terhormat di MPR. Ketua MPR Amien Rais, menyatakan tidak menerima laporan pertanggungjawaban Habibie dalam Sidang Istimewa tanggal 14 Oktober 1999. Kebijakannya memberi referendum pada rakyat Timor Timur yang berakhir dengan terpisahnya provinsi termuda tersebut dari NKRI menjadi senjata pamungkas pihak oposisi untuk mengerdilkan keberhasilannya mampu membuat republik keluar dari keterpurukan ekonomi pasca lengsernya Soeharto. 

Pasca meletakkan jabatan sebagai Presiden, ia menepi dari hingar bingarnya dunia politik. Semua cemohan dan hinaan yang menerpanya tidak membuatnya kehilangan kecintaan pada negaranya. Cemohan yang ditujukan padanya dia nilai sebagai bagian dari demokrasi yang dia bangun. Menurutnya wajar jika rakyat mengalami efouria kebebasan setelah puluhan tahun dibelenggu dan dibungkam oleh popor senapan. Namun Habibie tidak benar-benar menyingkir, sebab ia tetap menjalankan perannya sebagai negarawan dan guru bangsa. Perannya sebagai Bapak Demokrasi tetap ia lanjutkan melalui yayasan The Habibie Center yang didirikannya. Melalui yayasan tersebut, ia berupaya memajukan modernisasi dan demokratisasi di Indonesia yang didasarkan pada moralitas, integritas budaya dan nilai-nilai agama.

Sebagai negarawan, Habibie hadir sebagai sosok pemimpin yang tidak punya ambisi untuk melanggengkan kekuasaan atau untuk kembali merebut pengaruh untuk berkuasa. Ia memberikan cinta yang tulus pada negerinya, melalui pengabdian yang tiada henti. Ia tidak memendam dendam pada musuh-musuh politiknya. Maut memang bisa membuat raganya tidak lagi mengabdi buat Indonesia, namun ide dan pemikiran-pemikirannya yang mencerahkan demokratisasi Indoneia akan terus hidup. 

Selamat jalan Bapak Demokrasi. 

Ismail Amin 

(Presiden IPI Iran 2019-2021)