Jenderal Sudirman, Figur Pahlawan Nasional

Jenderal Sudirman, Figur Pahlawan Nasional

Serupa dengan Pekan Pertahanan Suci (Sacred Defense Week) yang dirayakan setiap tahun di  Iran setiap bulan September, publik Indonesia merayakan Hari Pahlawan Nasional pada setiap 10 November untuk mengenang pertempuran heroik di Surabaya (sekarang ibu kota Provinsi Jawa Timur) antara pasukan Indonesia dengan Sekutu, yang dipimpin oleh pasukan Inggris menjelang berakhirnya Perang Dunia Kedua pada tahun 1945. Pertempuran tersebut telah menjadi simbol perlawanan dan nasionalisme Indonesia. Dalam rangka merayakan perjuangan kemerdekaan Indonesia, suda sepatutnya pula bangsa Indonesia memberikan penghormatan kepada salah satu tokoh heroik, Jenderal Sudirman, panglima pertama Tentara Nasional Indonesia, yang dihormati secara luas di tanah air bahkan hingga saat ini.

Jenderal Sudirman tidak hanya dikenal sebagai bapak pendiri Tentara Nasional Indonesia (TNI), tetapi juga karena hidupnya yang sederhana dan rendah hati. Karenanya, artikel singkat ini akan menyoroti secara sederhana sosok Sudirman, gambaran gaya hidup sederhana serta bagaimana prinsip dan nilai hidup yang ia jalani serta bagaimana dirinya menilai penting kedekatan antara tentara dan rakyat.

Seperti yang telah disebutkan di atas, perayaan Hari Pahlawan Nasional Indonesia adalah serupa dengan Sacred Defense Week di Iran yang ditujukan untuk memperingati delapan tahun Perang Iran-Irak (1980-1988). Efek kedua peringatan tersebut identik dan layak menjadi lessons learned hingga kini. Sosok martir almarhum Jenderal Qaseem Soleimani di Iran juga dirayakan dan dikenang sebagai seorang Pahlawan Nasional oleh masyarakat Iran. Soedirman, lahir pada tanggal 24 Januari 1916 di desa Rembang, Pulau Jawa, memiliki karakter yang dipengaruhi oleh tiga subkultur yang berbeda: petani (wong cilik/rakyat biasa) dari ibunya, bangsawan (priyayi) dari ayahnya, dan budaya Islam (santri) dari para mentornya baik di lingkungan masyarakat maupun sekolah. Sejak usia muda, dia sudah memiliki pemahaman yang baik tentang prinsip dan ajaran Islam, ideologi dan keyakinan yang menyertai kehidupan dan perjuangannya. Tahun-tahun berikutnya menunjukkan sifat kepemimpinannya yang matang, ideal, dan menjadi teladan.

Pada tanggal 18 Desember 1945 Soedirman terpilih menjadi Panglima TKR (TKR/Tentara Keamanan Rakyat, kemudian diubah menjadi TNI/Tentara Nasional Indonesia) dengan tugas dan tanggung jawab menjaga dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sebagai Panglima TNI, Sudirman tetap rendah hati, menjaga kesopanan, lebih bisa dipercaya, dan peduli. Orang-orang di sekitarnya mengenalnya sebagai seorang jenderal yang hidup sederhana, pekerja keras dan disiplin. Karena gangguan kesehatan, Jenderal Soedirman harus dirawat di rumah sakit di Yogyakarta karena penyakit TBC dan salah satu paru-parunya harus diambil. Namun, dalam kondisi kesehatan yang begitu sulit dan serius, ia terus memimpin Tentara Indonesia melawan pasukan Belanda. Soedirman setelah selama beberapa hari terbaring di tempat tidur, secara mengejutkan dapat bangkit dan mengambil kembali tongkat kepemimpinan TNI. Hal tersebut tentu membangkitkan semangat juang ara pejuang kemerdekaan Indonesia.

Ketika pasukan Belanda menyerbu kota, Soedirman dan kontingen kecil melarikan diri dan meninggalkan kota, mendirikan markas di Sobo, dekat Gunung Lawu di mana ia memimpin opaerasi militer di seluruh Jawa, termasuk operasi militer mengejutkan “Serangan 1 Maret 1949” di Yogyakarta. Perang gerilya saat itu juga semakin membuktikan kedekatan antara TNI dan rakyat. Jenderal Soedirman meyakini bahwa kekuatan Angkatan Darat terletak pada dukungan rakyat seperti yang dia alami selama bergerilya, dengan penyakit yang semakin parah mendapat perlindungan dan rangkulan oleh rakyat yang ditemuinya selama bertempur melawan pasukan invasi Belanda. Baginya, rakyatlah yang  melahirkan TNI. Ketika Belanda mulai menarik diri, pada Juli 1949 Soedirman ditarik kembali ke Yogyakarta dan tidak dijinkan untuk bertempur.

Pada akhir 1949 penyakit TBC Soedirman kembali kambuh dan memburuk sehingga ia pensiun ke Magelang, di mana ia menghembuskan nafas terakhirnya satu bulan setelah pihak Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Kematian Soedirman pada 29 Januari 1950 pada usia 34 tahun, menjadi khabar menyedihkan di seluruh Indonesia, tampak dari pengibaran bendera setengah tiang dan ribuan orang yang berkumpul untuk menyaksikan konvoi dan prosesi pemakamannya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki di Yogyakarta. Operasi militer gerilya yang dilakukan Jenderal Sudirman kemudian ditetapkan sebagai tradisi militer dimana rute sepanjang 100 km (62 mil) saat Jenderal Sudirman bergerilya menjadi salah satu syarat bagi taruna Indonesia sebelum menyelesaikan  pendidikan militer.

Sebagai kesimpulan, dapat dikatakan bahwa khususnya bagi bangsa Indonesia, Hari Pahlawan Nasional dan sosok Jenderal Soedirman mengingatkan kembali bagaimana negara didirikan dan diperjuangkan melalui darah, air mata, pengorbanan jiwa dan raga serta penderitaan yang tak terhitung lainnya. Sungguh melegakan bahwa Jenderal Sudirman tetap dapat menyaksikan kemenangan yang ia perjuangkan dengan begitu heroik. Dari tempat tidur di rumah sakit, sang Jenderal sempat menyaksikan kemerdekaan Indonesia yang akhirnya diakui oleh Belanda. Semua negara, termasuk Indonesia atau Iran, layak dan wajib memberi penghormatan kepada para patriotnya karena perjuangan heroik untuk memperebutkan kemerdekaan mengajarkan banyak hal.

Priadji, Pemerhati isu/masalah Kebijakan Luar Negeri

Working Experience:

1997-2001: ASEAN Cooperation Directorate General, Indonesian Foreign Ministry Jakarta

Oct 2001-March 2003: Indonesian Embassy in Baghdad, Iraq

March – Sept 2003: Indonesian Embassy in Damascus, Syria

Sept 2003-Jan 2004: Directorate of North America, Foreign Ministry of the Republic Indonesian, Jakarta

Jan 2004-Nov 2005: Indonesian Embassy in Kabul, Afghanistan

Nov 2005-July 2007: Indonesian Consulate General in Hamburg, Germany

July 2007-Feb 2010: Directorate of Middle East, Indonesia Foreign Ministry Jakarta

Feb 2010-Sept 2010: Indonesian Embassy in Kabul, Afghanistan

Oct 2010-Feb 2011: Directorate of Middle East, Indonesian Foreign Ministry Jakarta

March 2011-Oct 2014: Indonesian Embassy in Tashkent, Uzbekistan

Jan 2015-Jan 2018: Coordinating Ministry for Political, Security and Legal Affairs of the Republic Indonesian, Jakarta

Feb 2018-Currently: Indonesian Embassy in Tehran, Iran

Sinergi TNI dan Rakyat dalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa di Daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal)

Sinergi TNI dan Rakyat dalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa di Daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal)

Indonesia memiliki 34 provinsi dan 11 diantaranya memiliki kabupaten yang tergolong sebagai wilayah 3T sebesar 62 kabupaten. Hal ini berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 63 tentang penetapan daerah tertinggal tahun 2020-2024. Penilaian daerah tertinggal dilakukan berdasarkan enam aspek penilaian, yaitu: 1) perekonomian masyarakat; 2) keadaan sumber daya manusia (SDM); 3) ketersediaan sarana dan prasarana; 4) kemampuan daerah; 5) aksesibilitas dan 6) karakteristik daerah (Bidara, 2020). Dari aspek keadaan SDM, tampak bahwa persentase buta huruf di daerah tersebut terbilang cukup tinggi dibandingkan daerah-daerah lainnya. Hal ini terbukti dari data BPS tahun 2019 yang menyebut Provinsi Papua sebagai daerah dengan persentase buta aksara tertinggi sebesar 20,21% disusul oleh Nusa Tenggara Timur (2,51%) dan Nusa Tenggara Barat (2,46%) pada kategori umur 15-44 tahun (BPS, 2020). Padahal, kemampuan membaca merupakan kebutuhan fundamental tiap individu maupun negara secara keseluruhan untuk dapat berkembang. Untuk menanggulangi masalah ini diperlukan usaha yang serius dalam memberantas buta aksara di daerah-daerah tersebut.

Tentara Nasional Indonesia atau disingkat TNI memiliki peran vital dalam menjaga keamanan dan keselamatan nusa dan bangsa. Di samping tugas utamanya tersebut, TNI juga aktif berkontribusi di berbagai bidang di tengah masyarakat. Salah satu bidang yang menjadi pokok perhatian ialah pendidikan. Dikarenakan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945, Indonesia telah merumuskan ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ sebagai salah satu tujuan utama pembentukan negara ini. Untuk mewujudkan hal tersebut, seluruh elemen masyarakat termasuk TNI bersama rakyat sipil harus bahu-membahu.

Di antara manifestasi komitmen TNI dalam memberikan solusi pendidikan ialah melalui program Mobil Calistung (baca-tulis-hitung) keliling di beberapa distrik Kabupaten Merauke. Mobil calistung menyediakan buku-buku bacaan dan media elektronik yang diharapkan mampu meningkatkan semangat belajar serta kemampuan membaca, menulis dan berhitung anak-anak (Hermawan, 2019). Sebelum itu pun, yakni pada tahun 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggaet TNI Angkatan Darat untuk bekerja sama mengisi kekosongan guru di wilayah 3T. Sebelum diperbantukan di wilayah perbatasan, para personel TNI wajib diberi pembekalan terlebih dahulu sehingga dapat memenuhi standar pembelajaran nasional. Hal ini dinilai merupakan solusi ideal karena TNI bertugas di wilayah perbatasan dan sudah terlatih untuk melalui medan-medan yang sulit dan keterbatasan lainnya sebagaimana yang diungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang menjabat saat itu, Mohammad Nuh (Rachman, 2014).

Pada tahun 2019 lalu, program yang menggandeng TNI AD sebagai tenaga pengajar di daerah 3T pertama kali terlaksana. Berbekal bimbingan dan materi dari Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (P4TK) bidang bahasa, Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Timur, Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan dosen-dosen dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sebanyak 900 prajurit TNI AD siap ditugaskan di Kabupaten Nunukan dan Malinau, Kalimantan Utara (Seftiawan, 2019).

Di luar kepedulian dan langkah nyata TNI dalam pemerataan pendidikan di wilayah-wilayah tersebut, masyarakat umum pun memiliki gagasan yang sama. Dengan menjaring ratusan relawan dari putra-putri bangsa yang berkemauan kuat untuk memberantas kebodohan di bumi pertiwi, sejumlah gerakan berhasil digencarkan diantaranya ada Indonesia Mengajar (IM), Kelas Inspirasi, Ruang Berbagi Ilmu dan sebagainya. Namun sayangnya, baik TNI maupun gerakan-gerakan ini masih berjalan sendiri-sendiri.

Inisiatif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam melibatkan TNI AD merupakan sebuah gebrakan yang cemerlang dimana infrastruktur belum tersedia secara merata di seluruh pelosok negeri. Akibatnya, relawan akan sangat kesulitan jika hendak mengajar di daerah-daerah tersebut dan keadaan ini dapat diatasi dengan mudah oleh personel TNI AD yang telah terlatih di medan-medan yang sulit. Sayangnya, jika dibanding rasio anggota TNI AD dengan jumlah relawan yang dibutuhkan untuk diperbantukan di daerah-daerah 3T cukup timpang. Selain itu, TNI AD juga mengemban amanat yang tidak kalah penting untuk dilaksanakan yakni menjaga keamanan dengan menjaga perbatasan misalnya, sehingga sulit bagi TNI untuk bekerja secara independen dalam menunaikan tugas mulia sebagai pengajar. Oleh karena itu, mereka perlu bersinergi dengan yayasan maupun gerakangerakan masyarakat yang memiliki tujuan yang sama. Dengan adanya sinergi dan kolaborasi dari kedua belah pihak, baik relawan dari TNI maupun masyarakat sipil dapat bergotong-royong memutus rantai kebodohan di daerah pelosok Indonesia dengan lebih efisien. Jumlah buta huruf dapat berkurang secara signifikan. Penurunan angka buta huruf pun berdampak pada peningkatan kualitas SDM Indonesia sehingga dalam waktu dekat dapat bersaing di kancah global.

Fatimah Mustafawi Muhammadi

Mahasiswa pascasarjana Medical Nanotechnology, Tehran University of Medical Sciences

Bendahara Umum Ikatan Pelajar Indonesia (IPI Iran) 2019-2021

(Artikel ini meraih juara III pada lomba menulis karya ilmiah oleh KBRI Tehran dan Atase Pertahanan RI-Tehran dalam rangka memperingati HUT TNI ke 75)

Referensi

Bidara, P. (2020). Jokowi tetapkan 62 kabupaten ini sebagai daerah tertinggal periode 20202024. Kontan.co.id. Retrieved from https://nasional.kontan.co.id/news/jokowitetapkan-62-kabupaten-ini-sebagai-daerah-tertinggal-periode-2020-2024?page=1

BPS. (2020). Persentase Penduduk Buta Huruf (Persen), 2017-2019. September, from Badan Pusat Retrieved 14 Statistik https://www.bps.go.id/indicator/28/102/1/persentase-penduduk-buta-huruf.html

Hermawan, N. (2019). Mobil Calistung Yonmek 521/DY Disambut Antusias di SD YPK Sota. Retrieved from sd-ypk/ https://tniad.mil.id/mobil-calistung-yonmek-521dy-disambut-antusias-

Rachman, T. (2014). Republika.co.id. Mendikbud: TNI Menjadi Pengajar Retrieved di Daerah Terpencil. from https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/06/12/pendidikan/eduaction/14/10/11/nd970l-mendikbud-tni-menjadi-pengajar-di-daerah-terpencil

Seftiawan, D. (2019). TNI AD Mengajar di Daerah 3T. PikiranRakyatcom. Retrieved from https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-01307068/tni-ad-mengajar-di-daerah-3t

Perempuan Merdeka tanpa Kekerasan Seksual

Perempuan Merdeka tanpa Kekerasan Seksual

Perempuan merupakan ibu kehidupan. Dari rahim perempuan, kehidupan juga dilahirkan, kehidupan diperjuangkan dan kehidupan mendapat hakikat dan martabat.

-Siti Muyassaroh Hafidzoh1

Tidak ada satupun peradaban yang lahir di dunia tanpa peran perempuan. Lewat kelembutan insting dan kehalusan sentuhan, ia memberi warna dan kehidupan pada dunia. Namun tidak bisa dipungkiri, perempuan masih saja dianggap the second class. Paradigma yang terbangun mengenai perempuan masih berangkat dari perspektif yang patriarkisme. Ia dipuji di satu waktu dan direndahkan di waktu yang lain. Tubuhnya dielu-elukan tapi disaat yang sama tubuh itu pula yang dieksploitasi dengan berbagai kepentingan.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara yang berdiri juga tidak lepas dari peran perempuan. Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia dalam bukunya, “Sarinah; Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia” mengakui hal ini dengan menulis, “Jika tiada peran wanita tak mungkin kita mencapai kemenangan sosial.” Karena itu NKRI kemudian didirikan dengan bertujuan melindungi seluruh warganya, tanpa membedakan laki-laki dan perempuan.

Tujuan nasional melindungi seluruh warga tersebut, termaktub dalam pembukaan Undangundang Dasar 1945 (UUD 1945) yang kemudian dijabarkan dalam pasal-pasal di dalam batang UUD 1945. Pasal ini dikenal sebagai hak konstitusional yang dibagi menjadi 14 bagian, diantaranya hak atas kewarganegaraan, hak atas hidup, hak untuk mengembangkan diri, hak atas kemerdekaan pikiran dan kebebasan memilih, hak atas informasi, hak atas kerja dan penghidupan yang layak, hak atas kepemilikan dan perumahan, hak atas Kesehatan dan lingkungan sehat, hak berkeluarga, hak atas kepastian hukum dan keadilan, hak bebas dari ancaman, diskriminasi dan kekerasan, hak atas perlindungan, hak memperjuangkan hak, dan hak atas pemerintahan.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan tujuan ini, NKRI wajib memberikan perlindungan kepada seluruh warganya termasuk kepada kelompok rentan, perempuan, anak, ataupun kelompok yang berkebutuhan khusus (disabilitas). Sayangnya, kita melihat kenyataan sampai hari ini masih saja terjadi kasus kekerasan terhadap perempuan. Catatan dari hasil data CATAHU 2020 Komnas Perempuan dari rentang tahun 2008-2019 terdapat kasus kekerasan sebanyak 431.471 yang tahun sebelumnya sebanyak 406.178. 

Peningkatan data kekerasan terhadap perempuan yang tiap tahun terjadi, mesti menjadi perhatian besar bagi negara. Sebab kita  tahu bahwa perempuan merupakan sumber didik bagi anak bangsa, sumber kemajuan bagi bangsa dan Negara, seperti yang disampaikan oleh Presiden Soekarno bahwa perempuan adalah tiang negara. Karenanya, ketika ingin melihat sebuah negara maju, maka lihatlah kondisi kaum perempuannya. Saat ini, Indonesia telah mencapai usia kemerdekan yang ke-75 tahun.

Kemerdekaan diraih tidak luput dari peran kaum perempuan baik itu secara moril ataupun terjun secara langsung dengan mengangkat senjata. Namun sayangnya sampai detik inikaum perempuan masih harus berjuang untuk bisa merdeka secara intelektual, ekonomi ataupun di ranah lain. Berjuang agar tidak terjadi diskriminasi, marginalisasi ataupun subordinasi terhadap kedudukan perempuan, bergerak memperjuangkan sendiri suarasuaranya untuk diperhatikan oleh negara agar hak-haknya untuk hidup merdeka lebih terjamin.

Pemerintah ataupun negara yang merupakan lembaga besar seharusnya memberikan perhatian besar kepada kehidupan kaum perempuan dan menegakkan hukum konstitusional yang telah disahkan secara kelembagaan. Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) harus segera dituntaskan dan disahkan kemudian diterapkan dalam masyarakat agar penanganan pencegahan kekerasan seksual segera terlaksana. Pemerintah juga harus aktif dan responsif memberikan keadilan bagi korban kejahatan seksual melalui pidana dan tindakan yang tegas bagi pelaku kekerasan seksual. RUU PKS ini merupakan terobosan agar hukum mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan perempuan korban kekerasan sehingga kasus-kasus kekerasan ataupun pelecehan seksual diproses secara adil. Dengan ini, perempuan bisa menikmati udara kemerdekaan Indonesia yang telah berumur 75 Tahun.

Agama juga turut berperan dalam membantu negara dengan meluruskan pandangan masyarakat yang keliru. Teks-teks agama menegaskan, perempuan merupakan manusia layaknya kemanusiaan laki-laki, tidak memberikan perbedaan dan ataupun menjadikan perempuan sebagai subjek sekunder dalam ranah kehidupan karna dimata semua agama, mereka sama-sama makhluk Tuhan diciptakan di muka bumi yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Memberikan kesempatan kepada kaum perempuan sebagaimana kaum laki-laki untuk mengembangkan potensi dirinya. Bukan agama yang justru sebagai pemicu tersudutnya kaum perempuan, dengan mengangkat ayat-ayat misogini untuk menjatuhkan atau mendiskreditkan kaum perempuan. Agamalah yang harus mengangkat dan memberikan nilai kedudukan dan kemanusiaan perempuan.

Bukan cuman itu, media juga memiliki peranan yang tidak kalah penting dalam mendidik warga negara. Selama ini media masih menyajikan citra perempuan secara arbitrer atau sewenang-wenang tanpa memikirkan dampaknya. Disinilah pemerintah mesti menjalankan fungsi kontrol agar media memberikan tontonan yang sehat, mencerdaskan dan berperikemanusiaan.

Terkait dengan perempuan, stigma yang terbentuk dimasyarakat mengenai perempuan sebagiannya dibentuk oleh media. Kebanyakan juga media menjadi pelaku kekerasan terhadap kaum perempuan, dengan menampilkan kaum perempuan sebagai objek eksploitasi seperti perempuan dijadikan objek iklan TV yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan perempuan atau industri perfilman yang menvisualisasikan tubuh perempuan secara sensual dan menjadi bahan tontonan gratis. Bahkan termasuk di dunia gaming, perempuan tereksploitasi tidak kalah dasyhatnya. Kesemuanya itu, tujuannya adalah mengejar rating, yang memberi keuntungan pada industri hiburan. Padahal hakikatnya, eksploitasi lekuk tubuh perempuan adalah sumber penindasan dan kekerasan terhadap perempuan itu sendiri.

Selain hukum, agama dan media yang harus menjadi perhatian bagi pemerintah dalam menghapus tindak kekerasan terhadap perempuan adalah melalui institisi pendidikan. Pemerintah wajib memberikan layanan edukatif dan advokasi kepada masyarakat mengenai keperempuanan. Diantaranya mencakup pengajaran agar perempuan mengenal identitasnya agar stigma atau stereotip yang terbentuk dalam masyarakat mengenai derajat kekuasaan (degree of power), laki-laki superior pemegang kekuasaan terhadap perempuan dan perempuan The Second Sex yang didominasi oleh laki-laki bisa terkikis sedikit demi sedikit.

Juga mendidik kaum perempuan secara ekonomi, agar mampu hidup mandiri. Karena realita sekarang, kekerasan terhadap perempuan juga berada pada ekonomi atau bertahan dalam kekerasan rumah tangga karna ketidakmampuannya dalam ranah ekonomi (masokhism) sehingga hidupnya dipasrahkan sepenuhnya di bawah ketiak suami. Jika seluruh aspek ditegakkan dengan adil oleh Negara sebagai lembaga pengayom masyarakat, maka tidak akan ada penindasan atau ketidakseimbangan kehidupan antara lakilaki dan perempuan. Kehidupan akan menjadi seimbang dan harmonis. Jika perempuan menjalankan semua fungsinya sebagai anggota masyarakat yang memberikan pengajaran dan pendidikan dari lingkup paling kecil yaitu keluarga dengan pandangan dan ideologi sehat terhadap sesama manusia, maka terjadi hubungan yang sinergis antara laki-laki dan perempuan dalam membangun kehidupan berbangsa yang beradab.  Indonesia tidak mustahil untuk menegakkan hukum disetiap ranah kehidupan.

Perjuangan pemberdayaan kaum perempuan pada dasarnya adalah merupakan perjuangan umat dan bangsa secara keseluruhan, bukan perjuangan perempuan an-sich. Demikian pula masa depan perempuan adalah hakikat masa depan bangsa. Oleh karena itu, perjuangan ini seharusnya tidak disalah artikan sebagai perjuangan disposisi laki-laki atau menggugat sistem yang sudah ada, melainkan sebuah perjuangan untuk menciptakan sebuah sistem hubungan laki-laki dan perempuan yang adil dan equal dalam hubungan ekonomi, politik, budaya, ideologi lingkungan serta hubungan suami istri. Alangkah damainya Indonesia di 100 tahunnya, menjadi negara berkembang dan maju karena adanya dua sayap, laki-laki dan perempuan, yang saling mengokohkan.

Haryati

Mahasiswi S1 Madrasah Jamiatuzzahra Qom Iran

Anggota Dep. Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

Catatan Kaki:

1. Penyunting buku “Psikologi Perempuan dalam Berbagai Perspektif” yang ditulis oleh Dr. Hj. Eti

Nurhayati, M.Si diterbitkan Pustaka Pelajar tahun 2012

2. Terdapat dalam halaman 326, diterbitkan oleh Panitia Penerbit Buku-Buku Karangan Presiden

Soekarno, tahun 1963, cetakan ketiga.

3. Data ini bersumber dari https://www.komnasperempuan.go.id/read-news-lembar-fakta-dan-poinkunci-catatan-tahunan-komnas-perempuan-tahun-2019 diakses pada Jumat 7 Agustus 2020

Mengenang Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara

Mengenang Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara

Menurut KBBI, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Etimologi kata pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan.

Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) yang selalu diperingati setiap tanggal 2 Mei adalah sekaligus merupakan hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Sosoknya disematkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional dikarenakan beberapa gebrakan yang Beliau lakukan untuk Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Beliau merupakan tokoh pelopor pendidikan Indonesia dan pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa.  

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat adalah nama aslinya, pada tahun 1992, namanya berubah menjadi Ki Hadjar Dewantara. Beliau tumbuh dalam lingkungan lingkungan keluarga Kadipaten Pakualaman, putra dari GPH Soerjaningrat dan cucu Pakualam III. Beliau merupakan lulusan ELS, yakni Sekolah Dasar Eropa/Belanda dan sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tetapi tidak tamat karena sakit.

Pada zaman penjajahan Belanda – seperti yang kita semua ketahui – pendidikan adalah hal yang sangat langka, hanya untuk orang terpandang (keluarga priyayi) dan orang asli Belanda yang diperbolehkan untuk mendapatkan pendidikan. Mengingat sifat Ki Hadjar Dewantara yang independen, non-konfromis, dan merakyat; maka Beliau tidak tinggal diam dengan sikap yang ditunjukkan para penjajah. Ia aktif dalam berbagai organisasi pergerakan seperti Boedi Oetomo, Insulinde, dan Indische Partij. Beliau adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, politisi, kolumnis, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

Selain aktif dalam pergerakan, Ki Hadjar Dewantara adalah seorang penulis dan wartawan di beberapa surat kabar. Tulisan-tulisannya dikenal tajam dengan semangat antikolonialisme sehingga Beliau sering berurusan dengan Belanda. Pada tanggal 13 Juli 1913, salah satu tulisannya yang terkenal dan dimuat dalam surat kabar De Express  ialah Als Ik Eens Nederlander Was yang berarti Seandainya Saya Orang Belanda. Tulisan tersebut mengkritik pemerintah Belanda yang menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah dirampas sendiri kemerdekaannya di mana pesta tersebut bahkan dibiayai oleh bangsa yang telah dirampas kemerdekaannya. Karena berani menentang Belanda, maka Beliau pun diasingkan ke Belanda selama enam tahun.

Namun pengasingan bukanlah hambatan, Beliau tidak menyerah dan belajar banyak hal dalam bidang politik dan pendidikan. Beliau tergugah dengan gagasan tokoh-tokoh pendidikan dari negara lain, seperti Friederich Wilhelm August Frobel yang menjadikan permainan sebagai media pembelajaran dan Maria Montessori yang memberikan kemerdekaan kepada anak-anak. Sekembalinya dari pengasingan, Beliau mendirikan Taman Siswa pada tahun 1992 yang diperuntukkan bagi para pribumi agar dapat memperoleh hak pendidikan seperti kaum priyayi dan orang-orang Belanda.

Tujuan didirikannya Taman Siswa adalah untuk mewujudkan Indonesia yang tertib dan damai. Beliau mendirikan Taman Siswa untuk mematahkan sistem pendidikan Belanda yang mengutamakan intelektualistis, individualistis, dan materialistis. Kehadiran Taman Siswa membuka peluang bagi semua orang untuk mengenyam pendidikan secara mudah dan murah tanpa terkendala status sosial. Prinsip dasar Taman Siswa adalah pendoman bagi guru yang dikenal dengan Patrap Triloka yang memiliki unsur-unsur.

  1. ing ngarsa sung tulada “(yang) di depan memberi teladan”,
  2. ing madya mangun karsa “(yang) di tengah membangun kemauan/inisiatif”,
  3. tut wuri handayani  “dari belakang mendukung”.

Sudah semestinya kita meneladani semangat juang Ki Hadjar Dewantara. Zaman sekarang di mana pendidikan merupakan hal yang mudah untuk didapat dan diakses, peluang inilah yang harus kita manfaatkan dengan menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Selain itu, pendidikan sendiri tidak mesti hanya dengan menjadi salah satu siswa di sebuah sekolah atau duduk manis mendengarkan penjelasan guru di kelas. Banyak pelajaran yang bisa kita peroleh dari terjun langsung ke masyarakat, masih banyak hal yang belum kita ketahui hanya dengan duduk di kelas. Selama ini, pendidikan Indonesia berat sebelah hanya memfokuskan pada pengetahuan para siswanya. Apabila pendidikan di Indonesia lebih fleksibel dengan menyeimbangkan antara skill pengetahuan dan keterampilan siswa, maka pendidikan Indonesia bisa berkembang dengan pesat.

Ada yang berbeda dengan peringatan pada tahun ini dikarenakan pandemi Covid-19 yang sudah merebak di Indonesia. Hardiknas 2020 yang mengusung tema “Belajar dari Covid-19” akan diselenggarakan dengan meniadakan upacara bendera untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Kemendikbud akan menyelenggarakan upacara bendera secara virtual melalui siaran langsung di kanal youtube KEMENDIKBUD RI pukul 08.00 WIB.

Akhir kata IPI Iran mengucapkan pantun penutup, “Soto babat sate rusa. Hari senja merah merona. Alangkah hebat anak Indonesia. Tetap belajar walau sedang Corona”

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020

Dian Islamiati

Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan
  2. https://sejarahlengkap.com/indonesia/sejarah-hari-pendidikan-nasional
  3. https://geotimes.co.id/kolom/pendidikan/tamansiswa-ki-hadjar-dewantara-dan-sistem-pendidikan-kolonial/
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Taman_Siswa
  5. https://www.kalderanews.com/2020/05/7-cara-baru-milenialis-rayakan-hardiknas-saat-pandemi-covid-19/

World Poetry Day – Merangkai Kata dalam Puisi

World Poetry Day – Merangkai Kata dalam Puisi

Banyak hal yang berseliweran dalam pikiran kita namun tidak cukup hanya diungkapkan secara lisan. Sedangkan pikiran atau pun rasa tersebut terasa ganjil apabila hanya dengan berbicara. Masih banyak hal yang belum dapat terungkap karena beragam ihwal. Keberanian yang lenyap seketika sebelum kita sempat mengutarakannya dan ada kemungkinan apa yang kita sampaikan tidak dapat dijangkau dalam waktu, jarak atau pun rasa.

Ada metode lain yang bisa kita gunakan dalam mengungkapkan hal yang tak dapat terungkap yakni melalui tulisan, merangkai kata-kata dalam bait yang terikat oleh irama dan rima menjadi sebuah puisi indah dan penuh makna. Tutur kata dalam puisi mampu mencakup banyak makna, suara hati sarat semantis. Banyak pujangga dunia maupun negeri yang telah menorehkan banyak karya dan puisi mereka yang tetap dinikmati hingga saat ini.

Taman

Chairil Anwar, Maret 1943

Taman punya kita berdua

tak lebar luas, kecil saja

satu tak kehilangan lain dalamnya.

Bagi kau dan aku cukuplah

Taman kembangnya tak berpuluh warna

Padang rumputnya tak berbanding permadani

halus lembut dipijak kaki.

Bagi kita bukan halangan.

Karena

dalam taman punya berdua

Kau kembang, aku kumbang

aku kumbang, kau kembang.

Kecil, penuh surya taman kita

tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini

Taufik Ismail, 1966

Tidak ada pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

Duli Tuanku ?

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus.

Oh Maula-Ku

karya : Yusuf Ali Agustin 

Tak ada gelap…

Tak sekelam jauh darimu

Tak ada terang

Tak secemerlang kasihmu…

Tak ada riang, di relung sukma ku…

Ketika santiranmu, mulai memudar

nan lenyap…

Kau buatku rindu, seraya

Mengobral kesemrungahan ini…

Ku berharap,

Kau tetap menjadi senja…

yang menenggelamkan semua,

termasuk nafas ini…

Kini… yang tersisa…

hanya aroma do’a tawa…

dan semerbak harum air mata… 

Ku mencari suaramu… 

Dalam keterenyuhan, penuh sanjungan…

lalu ku mencari wujudmu… 

Tetapi bukan sekedar celoteh ‘wujud’ yang mereka rundungkan… 

dan amat terus ku mencarimu… 

sehingga kuasa,merangkul

keabadian bersamamu

Oh Maula-Ku

Puisi untuk Dare

karya : sz

Serpihan lara

Inilah ketika cinta tak berpenghujung

Menggurat luka dalam sekeping hati yg kemarin sempat berangan

Membuat langkah lunglai tak bertenaga  

Membuat udara tak lagi terasa dan tatapan hambar tak bertujuan

Haruskah aku teriak merobek malam

Haruskah ku bangunkan setan-setan yg malas menggangu selembar iman

Namamu tak lagi jadi puisi dalam roman ku

Sebaliknya telah menjadi ilalang tajam yang membelah keinginan

Menunggumu rasanya membuang umur yang tersisa

Tapi jauh meninggalkan mu rasanya membuang cerita indah yang telah ada

Inilah dilema cinta yang kini jadi teman setia

Wahai malam, temanilah aku bernyanyi

Wahai udara

Koyaklah hatiku yg telah lantak

Biar sakitku semakin kentara

Matipun sambil memeluk lara

Silaturahim

karya: haidareljihad

Aku Indonesia

Kamu pun Indonesia

Begitu juga mereka, Indonesia

Kita tidak saling mengenal

Namun, di kala itu kita saling

berbagi dan memahami

Tawa-tiwi telah tergambarkan

Sedih patah hati telah terukir di hati

Saat itu, di Amman

Silaturahim itu terjadi saat itu

Silaturahim terikat kuat kala itu

Silaturahim itu menjadikan keluarga yang satu

Dan di Amman-lah

Sekeping hatiku tertinggal

Siapa Kamu

karya : haidareljihad

Tersadar langit begitu biru

Berasa dalam hati ada kamu

Tersentuh angin hari biru

Ternyata hari ini pun ada kamu

Tersedu malu aku merasakanmu

Gundahku hilang, ada kamu

Tidurku tenang, ada kamu

Setiap langkah aku pergi, ada kamu

Susah nikmatku, selalu ada kamu

Ada kamu, aku malu

Tiada kamu, aku rindu

Kamu… Akankah kita bertemu??

Indonesia,Cerdikiawan

Karya : Hamba Allah

Banyak ragam terbilang

Semua bersatu padu katanya

Indonesia memang kuat

Kuat dilawan bangsa sendiri

Bisakah kita tetap mengasihi walau membiru?

Sempatkan tuk pulang ke beranda

Kabarkan kepada siapa saja yang berkuasa

Di tanah air ini

Sebarkan tafsir pluralisme yang hakiki

Indonesia, Cerdikiawan

Menggarungi Jalan Menyatakan Mimpi

Karya : salsa

Kabut yang pekat membungkus suasana

Menutupi jalan menuju mimpi

Aku menengok kebelakang

Sadar bahwa aku telah melangkah sejauh ini

Jalanan penuh bebatuan tajam

Tanjakan terjal

Ditemani hujan es, badai, angin dan kekhawatiran

Setimbun rasa ingin tahu ku mencapai puncak impian

Membuatku lupa rasa sakit diotot ku

Lupa rasa sakit setelah ku tengok sepatu kesayangan hasil tabunganku telah berlubang hingga bisa kulihat ibu jari kaki ku berdarah

Mungkin perjalanan ini butuh istirahat

Ku telaah kehidupan bersama jujurnya kopi yang pahit

Embun itu mereda dan kulihat jalan

Hanya ada satu jalan

Hanya ada satu pilihan

Tetap ku garungi jalan itu menuju nyata nya mimpi

Kamu

Karya : unknown

Sinaran surya, hangat dirimu

Malam yang indah, langit yang megah

Mata yang binar, dihiasi bintang-bintang

Angin yang syahdu, menerbangkanku

Mengantarkan ku padamu puan

Semesta raya, merayakan dirimu

Bersemarak dekat dan penuh

Semoga riuhnya bergemuru di udara

Bertanya-tanyalah kau curiga

Dari mana asal suara

Dari sini, dari aku

Hanya itu

Karya : salsa

Ketika senja mulai menyemburatkan warnanya

Jiwa-jiwa tertunduk merenung atas apa yang sudah ia lakukan

Memikirkan hal apa yang harus mereka berikan untuk sebuah pertanggung jawaban

Langit mulai menyerap pandangan-pandangan

Dan perasaan campur aduk

Yang tak sanggup di ucap oleh bibir

Para makhluk bertekuk lutut

Tersungkur

Terbata-bata mengingat perih

Pada akhirnya, tidak ada yang tersisa

Pada akhirnya, hanya Tuhan lah itu sendiri, dengan kemurnian

Hanya itu untuk mengimani-MU yang tersimpan dalam kalbu

Puisi adalah karya sastra sarat semantik, kamu bisa membacanya berulang-ulang untuk memahami maknanya, bisa jadi ketika pertama kali kamu memembacanya dengan yang kedua kali memiliki arti berbeda. Puisi bisa dimaknai dengan berbeda tergantung ilmu pengetahuan, pengalaman ataupun pola pikir.

SELAMAT HARI PUISI INTERNASIONAL, SELAMAT BERPUISI.

Strategi Iran Berperang Melawan Corona

Strategi Iran Berperang Melawan Corona

Selasa 18 Februari 2020 Iran resmi mengkonfirmasi kasus infeksi Corona pertama di Iran yang diidap dua pasien lanjut usia di rumah sakit Kamkar Arabnia Qom, sekitar 120 km dari Tehran. Sehari kemudian dua pasien tersebut meninggal dunia. Berita kematian dua penderita Corona begitu cepat menyebar. Dikarenakan hanya berselang satu hari dari pelaksanaan Pemilu anggota parlemen yang ke-11, banyak yang percaya bahwa kematian dua pasien tersebut dengan sebab terinfeksi Corona adalah hoax untuk mengerus partisipasi publik di bilik-bilik pemungutan suara.

Kehadiran jutaan pemilih di tempat-tempat pemungutan suara, diklaim menjadi penyebab jumlah penderita infeksi Corona di Iran meningkat secara cepat. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamanei mengapresiasi parsipasi rakyat Iran dalam pemilu yang tidak menjadikan ketakutan terinfeksi Corona menjadi alasan tidak menggunakan hak pilih. Ia juga  meminta kepada pemerintah agar segera mengatasi penyebaran dan efek virus Corona agar tidak dimanfaatkan musuh-musuh politik Iran. 

Atas perintah tersebut, pemerintah Iran bergerak cepat. Dengan mengkampanyekan tagar “Corona akan kita kalahkan!”, pemerintah Iran membangun rasa optimis dan menjamin akan mengatasi masalah nasional oleh Corona dengan segera. Presiden Rouhani menunjuk Wakil Menkes Iran Iraj Harirchi mengepalai satuan tugas khusus mengatasi Corona, yang kemudian dikarenakan aktivitas padat, kenekatan terjun langsung ke lapangan dan disibukkan oleh agenda rapat yang tiada henti, Iraj Harirchi sendiri terpapar Corona dan harus diistrahatkan di rumah. 

Berikut langkah-langkah yang diambil pemerintah Iran dalam proyek bersama mengatasi penyebaran dan efek virus Corona:

Pertama, meliburkan sekolah-sekolah, hauzah ilmiah (pusat pendidikan keagamaan) dan kampus-kampus universitas. Mengurangi jam kerja kantor-kantor pelayanan publik. Kedua, menyediakan rumah sakit dan ambulance khusus untuk penanganan warga yang terjangkiti Corona. Di Tehran saja ditetapkan 18 rumah sakit khusus menangani pasien Corona dan 50 ambulance. 

Ketiga, Presiden Rouhani menandatangani dana khusus ‘perang melawan Corona’ sebanyak 2 Trilyun riyal. Keempat, dalam hitungan hari membangun pabrik yang mampu memproduksi 100.000 botol larutan dan 35.000 gel disinfektan pada setiap kerja. Melibatkan tentara dalam memproduksi masker dan Iran tercatat mampu memproduksi 300 ribu masker dalam setiap shift kerja. Yang kesemuanya (masker dan cairan disinfektan) dibagikan gratis ke masyarakat. Pemerintah juga mampu mengendalikan harga masker di pasaran, sehingga tidak terjadi lonjakan harga yang irasional untuk sebuah masker. 

Kelima, melibatkan tentara, polisi, dan sukarelawan dalam melakukan penyemprotan cairan disinfektan di tempat-tempat publik setiap harinya. Di stasiun, dalam kendaraan publik (bis, metro, kereta api), masjid, sekolah-sekolah, stadion olahraga dan jalan-jalan umum. 

Keenam, melakukan pemeriksaan kesehatan rutin di tempat-tempat publik dengan pelibatan santri dan mahasiswa dengan menggunakan alat khusus pendeteksi pengidap virus Corona. Ketujuh, aktif melakukan kampanye menjaga kebersihan dan kesehatan diri kepada masyarakat, melakui iklan layanan masyarakat, poster, himbauan dimedia cetak dan elektronik serta menyampaikan langsung ke masyarakat. 

Kedelapan, membuka diri menerima bantuan dan tawaran kerjasama dari negara lain dalam proyek nasional perang melawan Corona. Iran telah menerima kedatangan tim medis dari China beserta paket bantuan untuk turut menangani penyebaran dan efek mematikan virus Corona di Iran.

Kesembilan, pemerintah Iran sangat transparan terkait kasus virus Corona disaat beberapa negara lain memilih menutupi kasus dengan mengorbankan kesehatan warganya untuk keuntungan ekonomi dan tujuan politik. Penyelenggaraan Pemilu yang sisa dua hari bahkan tidak menghalangi pemerintah untuk mempublish kasus kematian pertama akibat Corona di Iran. Keterbukaan dan transparansi yang dilakukan Iran demi menjaga kesehatan warganya dimanfaatkan negara-negara luar dengan membesar-besarkan kasus Corona dengan maksud merusak perekonomian dan meningkatkan represi politik kepada Iran. Tidak terhitung berita hoax terkait virus Corona di Iran yang menjadi konsumsi publik internasional melalui  media-media mainstream dunia. 

Kesepuluh, ketersediaan informasi yang benar terkait efek virus Corona adalah kebutuhan penting masyarakat. Karena itu pemerintah Iran bertindak tegas terhadap penyebar hoax dan pihak-pihak yang sengaja menciptakan kekacauan dengan maksud mengerus kepercayaan publik kepada pemerintah. Puluhan penyebar hoax telah dijebloskan ke penjara, dan hukuman berat telah menanti. Diantara media-media anti Iran seperti BBC-Persia dan Iran International kerap memplintir dan mendistorsi berita untuk menggambarkan bahwa kondisi di Iran lebih parah dari Wuhan. Amerika Serikat sendiri memanfaatkan kasus Corona untuk lebih menghantam Iran. 

Kesebelas, pemerintah meluncurkan tiga proyek baru untuk menciptakan vaksin dan obat ampuh Corona. Para peneliti, dokter dan ilmuan Iran telah berkali-kali mendulang kesuksesan dalam memproduksi sejumlah vaksin penyakit mematikan, termasuk influenza dan penangkal virus HIV-AIDS, karenanya Iran percaya dalam waktu yang tidak lama, vaksin dan obat ampuh penangkal Corona segera ditemukan dan diproduksi besar-besaran.

Iran memang setidaknya tercatat sebagai negara dengan angka kematian akibat virus COVID-19 tertinggi di luar Tiongkok, ini karena transparansi Iran mengenai jumlah warga yang terpapar Corona dan aktifnya tim medis melakukan pengecekan kesehatan bahkan sampai rumah ke rumah, namun tetap harus dicatat bahwa pasien pengidap Corona diluar Tiongkok yang berhasil disembuhkan tertinggi juga terdapat di Iran. Dengan berhasil memulihkan lebih dari 200 penderita, tingkat keberhasilan Iran 20% masih lebih tinggi dari Korea Selatan dan Italia yang tingkat pemulihan pasien hanya di angka 0,8% dan 4,4 % dari total kasus yang ada. Belajar dari Iran, penyebaran Corona tidak semestinya disikapi secara reaktif dan pharanoid namun juga memang jangan sampai meremehkan. Virus COVID-19 tetap virus mematikan dan berbahaya, namun bukan berarti tidak bisa diatasi. 

Aktivitas masyarakat Iran masih berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada kota yang di karantina. Mobilitas warga tetap tinggi. Tidak ada kepanikan warga sampai harus memborong bahan makanan seolah-olah negara menghadapi musim paceklik. Media-media asing yang berkepentingan merusak ekonomi dan mencitrakan Iran negatiflah yang sibuk menyebarkan informasi hoax bahwa terjadi kekacauan di Iran bahkan Iran sudah seperti kota mati. Kehidupan masih berjalan normal di Iran, karena rakyat percaya kepada pemerintah yang benar-benar bekerja dalam memerangi Corona. Pemerintah yang tidak hanya meminta rakyatnya mengencangkan doa, namun juga mengencangkan ikhtiar untuk bersama-sama memerangi keganasan Corona. 

Badai Corona, pasti berlalu….

Ismail Amin

Presiden Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran 2019-2021