Belajar Nasionalisme dari Iran

Belajar Nasionalisme dari Iran

Imam Khomeini aslinya adalah seorang ulama Islam, namun melalui Republik Islam Iran yang didirikannya, ia bukan hanya membangun rasa cinta rakyat Iran pada Islam namun juga menumbuhkan semangat nasionalisme pada bangsanya. Republik Islam Iran berdiri lebih muda 34 tahun dari Republik Indonesia, namun laju percepatannya baik dari segi pembangunan infrastruktur maupun ketangguhan ekonomi dan tekhnologinya bisa dikatakan menyaingi Indonesia, belum lagi Iran sempat mengalami krisis dahsyat akibat perang 8 tahun menghadapi arogansi Irak dibawah Saddam Husain. 


Di bidang politik, di 40 tahun usianya Iran telah mengalami kematangan yang mencengangkan. Iran diakui kawan maupun lawan, memiliki pengaruh besar di Timur Tengah. Iran bahkan duduk sejajar dengan negara-negara besar Eropa maupun dengan Amerika Serikat dalam penentuan kebijakan-kebijakan internasional. Melalui langkah-langkah diplomasi yang elegan, Iran melenggang di panggung internasional sebagai salah satu kekuatan dunia yang diperhitungkan. 


Kesemua keberhasilan itu, bermula dari kepiawaian Imam Khomeini beserta murid-muridnya meramu Islam sebagai kekuatan pendobrak yang menghancurkan arogansi asing yang mendiktekan kemauannya pada bangsa Iran. Dan menjadi jauh lebih dasyhat setelah dicampurkan dengan semangat nasionalisme yang tinggi. Iran sejak ribuan tahun silam telah dikenal sebagai bangsa yang besar. Diantara bangsa yang memiliki peradaban yang mempengaruhi banyak bangsa-bangsa. Meski telah berubah menjadi negara bersistem Republik Islam dan meninggalkan sistem kekaisaran, nasionalisme bangsa Iran malah semakin menjadi-jadi. Tampak ada kecenderungan yang berbeda dengan yang diyakini sebagian aktivis Islam di Indonesia. Mereka mengkampanyekan Islam dan nasionalisme berada pada kutub yang berbeda sehingga sulit untuk disatukan. 


Iran membuktikan diri, semangat nasionalisme senafas dengan pesan dan prinsip Islam. Kita bisa banyak belajar dari Iran, khususnya metode menumbuhkan semangat patriotisme dan nasionalisme yang sedikit banyak belakangan ini tampak mulai memudar dikalangan generasi muda bangsa. 


Kepatuhan pada Pemimpin


Hal yang menakjubkan dari Iran dan diakui oleh dunia internasional, adalah kepatuhan rakyat pada pemimpinnya. Sejak berdirinya sampai saat ini, musuh-musuh Republik Islam Iran baik dari dalam maupun dari luar telah menjalankan banyak agenda dan melakukan berbagai bentuk propaganda untuk menimbulkan kebencian dan kejenuhan rakyat Iran pada pemimpinnya. Namun kesemua langkah yang telah ditempuh tidak ada yang berhasil. Rakyat Iran bukan hanya patuh, namun benar-benar mencintai bahkan mengidolakan pemimpinnya. Gambar dan foto Ayatullah Ali Khamanei sebagai pemimpin tertinggi di Iran saat ini bukan hanya terpasang di kantor-kantor, sekolah dan instansi-instansi pemerintahan namun juga di rumah-rumah warga. Bahkan dengan sangat mudah didapati poster besar Imam Khomeini yang disandingkan dengan Ayatullah Ali Khamanei di dinding-dinding kota, di tembok-tembok, di halte-halte bis dan diruang publik lainnya. Sebaliknya di Indonesia, telah berlalu sejumlah presiden, dan kesemuanya tidak luput dari hujatan publik. 


Semangat Bela Negara yang Tinggi


Nasionalisme dan semangat bela negara telah dibuktikan rakyat Iran saat perang Irak-Iran yang berlangsung selama 8 tahun. Dengan kekuatan senjata seadanya, rakyat Iran berhasil mempertahankan wilayahnya dari ekspansi rezim Saddam Husein. Tidak sedikit warga sipil yang turut membela negara gugur di medan perang. Iran menerapkan wajib militer bagi warganya selama 2 tahun. Saat pendidikan militer, peserta didik tidak hanya diajari tangkas dan militan, tetapi juga diberi wawasan kebangsaan secara komprehensif. Hal itu memberi pengaruh besar pada mindset setiap generasinya. Berbeda dengan di Indonesia, bendera merah putih terkadang baru bisa kita temui ramai berkibar hanya pada momentum Agustus, di Iran bendera nasionalnya hampir disetiap titik keramaian selalu ditemui berkibar. 


Mencintai dan Menghargai Jasa Pahlawan


Para pahlawan di Iran (khususnya yang gugur dalam perang Irak-Iran) memiliki tempat yang sangat istimewa, bagi yang masih hidup mendapat banyak peristimewaan dan kekhususan yang didapatkan. Bagi yang telah meninggal dunia, apalagi yang gugur di medan tempur, maka keluarganya yang mendapatkan keistimewaan itu. Anak-anak dari pahlawan yang gugur, dijamin pendidikannya oleh pemerintah dengan mendapat beasiswa sepenuhnya sampai jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Mereka juga akan mudah mendapatkan akses pekerjaan dipemerintahan. Keluarga yang ditinggalkan, akan mendapat jaminan pemerintah untuk tetap mendapatkan kehidupan yang layak. Gambar-gambar pahlawan Iran sangat mudah ditemui terpajang di titik-titik keramaian. Karenanya, tidak mengherankan, setiap anak-anak di Iran di tanya mengenai cita-citanya, mereka akan menjawab, bercita-cita menjadi pahlawan. 


Kemandirian Ekonomi 


Hal lain yang bisa dicontoh adalah cinta pada produk dalam negeri. Kesepakatan sejumlah negara besar menetapkan embargo ekonomi pada Iran sedikit banyaknya membawa keberuntungan. Iran dipaksa membuat produk dalam negeri sendiri. Hanya dalam kurun waktu 3 dasawarsa, perekonomian Iran bangkit dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Saat ini bukan hanya mampu memproduksi kendaraan sendiri, Iran bahkan telah memiliki satelit yang pengoperasiannya dilakukan secara mandiri, tanpa bantuan negara lain. 


Cinta Tanah Air


Cinta tanah air bagi rakyat Iran, bukan hanya diwujudkan dengan kesiapan untuk membela dan memperjuangkan kedaulatan tanah air dari ronrongan negara lain, namun juga bagaimana membuat prestasi yang dapat mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. Prestasi Iran didunia internasional telah mulai diukir mulai dari tingkat remaja, bukan hanya berprestasi ditingkat penemuan-penemuan ilmiah, namun juga di cabang olahraga. Laki-laki dan perempuan Iran haus akan prestasi. Mereka saling berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan memberikan kebanggaan pada negaranya. 


Meski demikian, sebaik-baiknya Iran dengan semua hal positif yang dimilikinya, Indonesia tetaplah negara dan tempat yang terbaik bagi kita sebagai warga negara Indonesia. Semua hal baik yang ada pada negara lain, bisa kita pelajari dan amalkan untuk juga menjadikan negara kita diperhitungkan posisinya. Tidak ada kata terlambat, mari tetap mencintai dan bangga sebagai bangsa Indonesia.


Ismail Amin 

Presiden IPI Iran 2019-2021

Pahlawan Sepanjang Masa

Pahlawan Sepanjang Masa

Pah.la.wan

orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Begitu tertulis di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Beberapa ratus tahun yang lalu saat tanah ibu pertiwi tejadi pertumpahan, rakyat berjiwa nasional dengan gagah berani maju melawan penjajah. Sementara, rakyat lain memilih bersembunyi, mengamankan diri dari letusan dan bom-bom yang haus akan darah. Kemudian, mulai bermunculan harapan-harapan supaya mimpi buruk tersebut menghilang setelah terbangun di pagi hari. Sebagian yang lain merapat ke pihak lawan, alih-alih mencuri strategi lalu membagikan kepada kawan, malah membelot dengan sendirinya atas seribu macam alasan yang hanya mengatasnamakan kenyamanan pribadi. Tatkala peperangan telah usai, semua orang berteriak kepada rakyat berjiwa nasional itu “pahlawaaannn!!!!!!” entah yang gugur atau yang masih bertahan hidup bersama sisa-sia perjuangan yang menempel di tubuhnya.

         Konon katanya perang yang sesungguhnya adalah perang melawan diri sendiri.

Kini perang pun sudah tidak lagi ada di atas tanah ibu pertiwi, arti pahlawan itu bergeser, adalah semua orang yang memiliki jiwa membela, menegakkan dan mempertahankan kebenaran sejati. Tapi kebenaran yang mereka junjung itu bukan kebenaran yang hanya menurut mereka benar dan menganggap orang lain salah apalagi membenarkan sesuatu yang memang salah.

bukan lagi orang yang mengangkat senjata, membunuh lawan, adanya ledakan bom, suara-suara helikopter atau tank baja menderu melancarkan peluru, miris yang terjadi.

Aku selalu senang memperhatikan keadaan sekitar, hati terasa tenang tatkala melihat bagaimana harmoni kehidupan menyenandungkan kisahnya. Sungguh, jika kita mau melihat barang sejenak. Membuang segala tetek bengek bernama kemewahan, banyak sekali hal yang bisa dipelajari dari Sang kehidupan.

Senja mulai menyapa, kulihat seorang bapak dengan gerobak baksonya berpeluh tanpa kesah terus mendorong gerobaknya. Gerobak tersebut berhenti di sebuah tanah lapang dimana anak-anak sd bermain sepakbola. Dalam sekejap, bapak dan gerobaknya sudah dikerubungi bak semut berebutan gula. Senyum tersungging dari bibir tipis bapak itu, menggumamkan syukur sembari melayani pelanggan-pelanggan kecil yang heboh berteriak minta didahulukan.

Tak jauh dari tanah lapang tersebut, ada sebuah mushola kecil yang selalu dipenuhi suara anak-anak belajar mengaji. Ustazah yang selalu sabar mengajari apabila ada pelafalan yang salah. Mushola itu penuh dengan anak-anak yang ingin menunjukkan bahwa mereka mampu membaca dengan baik. Ustazah tersenyum mengucap hamdalah melihat gayung yang bersambut itu.

Dari seberang jalan terlihat seorang gadis yang tampak gelisah menunggu, yang kemudian segera terlonjak setelah melihat yang ditunggu datang. Gadis itu menggandeng seorang ibu berperut besar. Ibu tersebut tersenyum kecil menyambut uluran tangan si gadis. Tampak tongkat di tangan kirinya. Keduanya berjalan beriringan, sesekali si gadis mengingatkan apabila ada aral di setapak yang mereka lalui.

Deru mesin terdengar, sang pengendara memberhentikan motornya di depan sebuah rumah. Setelah membuka helm dan mengambil pesanan dari pelanggan. Pria itu memencet bel, terlihat sedikit interaksi dan selembar ribuan yang diselipkan diantara tangan. Mulanya pria tersebut menggeleng namun ibu tersebut bersikeras, sambil membungkuk dan mengucap terimakasih pria itu pamit. Sebelum kembali berkendara, pria tersebut menengadah ke arah langit dan berdoa pelan.

Aku menatap takjub, puas dengan pengamatanku sore itu. Sambil menenteng beberapa barang di tangan, aku kembali ke studio. Ada banyak persiapan untuk hari esok. Tanganku sibuk bekerja sambil memutar apa saja yang kulihat. Tengah malam ketika aku merampungkan sapuan terakhir.

Pelajaran sore itu mengajarkanku banyak hal, bahwa kata pahlawan tidak lagi hanya berkaitan dengan orang yang menenteng senjata, menembakkan bedhilnya di tangan, badan yang berlumuran darah dengan bendera yang masih tegak berdiri. Semua definisi tersebut sudah mulai bergeser. Pahlawan dapat diartikan sebagai orang yang peduli dengan orang lain, kesadaran untuk tolong menolong, punya keberanian untuk membela kebenaran, melindungi kaum yang tertindas. Dalam lingkup yang lebih kecil, pahlawan bisa diartikan ketika diri kita mampu melawan dan mengendalikan hawa nafsu. Pahlawan itu, bisa jadi ibu, ayah, guru, teman atau orang lain yang tidak dikenal, bahkan dirimu sendiri adalah pahlawan. 

salsa,dian

Departemen kajian dan intelektual IPI Iran 2019-2021

Turut Berjuang bagi Negeri

Turut Berjuang bagi Negeri

Tatkala kalbu terhubung kuat dalam satu visi

Dikala suara bersatu padu dalam satu misi

Dengarlah…

Derap langkah tegas para pemuda

Selalu bergerak tak berdiam barang sedetik

Lihatlah, para pemuda berjuang 

Ketika ikrar suci diucapkan dengan lantang

Satu tanah air, bangsa, bahasa, Indonesia

Satu mimpi telah tercapai hai Ibu Pertiwi

Tetapi kawanku… jangan lengah

Perjalanan kita masihlah panjang

Ibu pertiwi sedang kritis dan menjerit dalam duka

Ulurkan tangan kalian wahai pemuda

Renungkan kembali para pendiri negri

Ibu pertiwi merindukan para pemudanya

Dimanapun dan kapanpun kawan

Kembalilah dalam dekapan ibu pertiwi

Lanjutkan asa para pendahulu tuk bangsa

Salam kepada Pemuda Negeri !!!

Dian Islamiati

Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

Presiden IPI Iran: Santri Dituntut Menyampaikan Pesan Perdamaian Islam

Presiden IPI Iran: Santri Dituntut Menyampaikan Pesan Perdamaian Islam

Hari Santri Nasional 2019 turut diperingati mahasiswa Indonesia di Iran yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran. Bertempat di ruang seminar Al-Hikmah Institute Universitas Internasional Al-Mustafa Qom Iran, bekerjasama dengan Gusdurian Tehran, IPI Iran menggelar diskusi dan silaturahmi bersama yang menghadirkan Wakil Rais PW Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA dan Mahasiswa kandidait Doktor Filsafat Islam Universitas Internasional Al-Mustafa, Abdul Latif, MA sebagai pembicara, Selasa (22/10) . 

Acara dimulai dengan ucapan basmalah oleh Sultan Nur sebagai moderator yang dilanjutkan dengan bacaan ayat suci Alquran oleh Kamaruddin Dg. Pati. Presiden IPI Iran 2019-2021 Ismail Amin  dalam sambutannya menyebutkan penetapan Hari Santri Nasional menunjukkan penghargaan  pemerintah atas jasa yang ditorehkan kaum santri baik dalam berdirinya republik maupun dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. 

“22 Oktober yang ditetapkan Presiden Jokowi sebagai Hari Santri Nasional berlatar belakang keluarnya fatwa dan resolusi jihad yang dikeluarkan oleh Hadratus Syaikh KH. Muh. Hasyim Asy’ari yang kemudian disambut kaum santri dengan menggelorakan semangat perjuangan melawan pasukan sekutu yang hendak kembali menjajah Indonesia.” 

“Tema santri tahun ini melanjutkan tema santri tahun sebelumnya, yaitu berkaitan dengan peran santri Indonesia dalam menciptakan perdamaian, baik skala nasional maupun sampai tingkat dunia. Santri yang setiap harinya bergelut dengan literatur keislaman memang sudah semestinya tampil menjalankan perannya sebagai juru damai sebagaimana pesan dan tuntutan Islam.” Tambah mahasiswa jurusan Tafsir Universitas Internasional Al-Mustafa Iran tersebut.

Presiden IPI Iran lebih lanjut mengatakan, “Sebelumnya di masa ORBA, peran santri dan ulama dalam upaya mencapai kemerdekaan dan perjuangan mempertahankannya tidak banyak dibicarakan, bahkan terkesan tidak ada dengan literatur sejarah perjuangan bangsa didominasi oleh peran dan kisah perlawanan dari kelompok militer. Dengan ditetapkannya Hari Santri sebagai hari nasional oleh Presiden Jokowi, kita jadi tahu, perjuangan heroik bangsa Indonesia pada 10 November 1945 didahului oleh resolusi jihad ulama yang disambut meluas oleh kaum santri.”

“Jadi kemerdekaan Indonesia tercapai dan dipertahankan oleh perjuangan bersama semua lapisan masyarakat. Kelompok nasionalis, agamis, militer dan rakyat jelata bersatu padu mempertahankan kemerdekaan, karenanya tidak ada satu kelompok yang berhak mengklaim negara adalah milik kelompok tertentu yang melahirkan dominasi terhadap kelompok minoritas. Santri sebagai bagian dari kaum agamawan harus berada di garda terdepan untuk menjamin terwujudnya kehidupan yang rukun di negeri ini, sehingga dengan sendirinya menular dan memberi efek yang lebih luas dengan terciptanya perdamaian dunia.” Tambahnya. 

Usai memberikan sambutan, kedua pembicara menyampaikan materinya yang dilanjutkan dengan sesi dialog dan tanya jawab. Hadir sejumlah mahasiswa Indonesia dalam dialog dalam rangka memperingati hari santri tersebut. Aktivis Gusdurian Tehran, Purkon Hidayat turut menyampaikan tanggapan dalam sesi tanya jawab. 

Batik, Warisan Kebudayaan Indonesia dan Bercorak Seni Tinggi

Batik, Warisan Kebudayaan Indonesia dan Bercorak Seni Tinggi

Sepuluh tahun yang lalu, 2 Oktober 2009, batik diakui secara resmi dan dikukuhkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi UNESCO. Sejak pengukuhannya, bertepatan  pada tanggal 2 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Batik merupakan kain yang digambar secara khusus dengan menorehkan cairan lilin (malam) menggunakan alat yang bernama canting. Batik sendiri berasal dari bahasa jawa ‘ambhatik’ yang terdiri dari dua unsur kata, ambha bermakna luas kain yang lebar; dan thik bermakna titik. Sehingga, pengertian batik ialah menghubungkan titik-titik yang membentuk suatu gambar atau pola tertentu pada kain yang lebar.

Dibutuhkan keuletan dan kesabaran dalam proses pembuatan batik, prosesnya yang khas dimana penggambaran motif batik dengan cara menorehkan cairan lilin pada kain. Penggunaan dua jenis alat untuk menggambar motif pada batik yaitu canting digunakan untuk  motif halus/detail dan kuas digunakan untuk motif besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Setelah motif dilukis dengan lilin, kain siap untuk dicelup dengan warna yang diinginkan. Pada mulanya di awali dengan mencelupkan warna-warna muda kemudian di celup kedalam warna yang lebih gelap, misalnya motif dengan bunga bertangkai, pada motif bunga dicelipkan kepada warna muda dan pada tangkai dicelupkan kepada warna gelap. Setelah pewarnaan selesai, kain dicelup ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Seni pewarnaan kain menggunakan lilin merupakan salah satu bentuk seni kuno, teknik ini kemungkinan berasal dari Mesir Kuno atau Sumeria. Di Indonesia, kerajinan batik dipercaya sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit yang kemudian mulai dikenal ke berbagai daerah khususnya Pulau Jawa setelah akhir abad ke-18. Pada zaman dulu, batik hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan atau priyayi, tidak untuk masyarakat biasa.

Kesenian batik mulai ditiru oleh rakyat jelata yang dijadikan sebagai pekerjaan oleh perempuan untuk mengisi waktu senggang mereka. Pada masa lalu, pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif bagi perempuan sampai ditemukannya ‘Batik Cap’ sehingga laki-laki bisa turut andil dalam proses pembuatan batik. Beberapa pengecualian di mana di daerah pesisir membatik merupakan hal yang lumrah bagi laki-laki, hal ini dapat dilihat dari batik pesisir yang bergaris maskulin seperti corak mega mendung. Namun, saat ini membuat batik bisa dilakukan oleh siapa saja.

Pada awal kemunculannya, motif batik sarat dengan nuansa Jawa, Islamisme, Hinduisme dan Budhisme. Kemudian ragam dan corak batik mulai dipengaruhi oleh asing, terutama batik pesisr yang mana menerima berbagai pengaruh luar seperti para pedagang ataupun penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dan corak phoenix berasal dari Tionghoa. Motif bebungaan (seperti tulip), benda-benda (gedung dan kereta kuda) dan warna biru berasal dari penjajah Eropa. Namun, batik tradisioal masih tetap mempertahankan coraknya dan masih sering digunakan saat upacara adat, karena masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Batik mulai dikenal pada kancah internasional sejak diperkenalkan oleh Presiden Soeharto, dengan cara memberi batik sebagai cinderamata kepada tamu-tamu negara. Selain itu, Presiden Soeharto mengenakan batik saat menghadiri konferensi PBB sehingga batik semakin terkenal.

Sebagai generasi muda, kita perlu melestarikan batik sehingga tidak punah. Bagaimana caranya? Salah satu caranya yaitu memperingati Hari Batik Nasional setiap tanggal 2 Oktober dengan mengenakan batik pada hari tersebut atau hanya sekedar membuat tulisan “selamat hari batik nasional” di status sosial media atau bisa juga dengan mengupload foto kamu saat mengenakan baju batik.

Dian Islamiati

Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021