Atase Pertahanan KBRI Tehran: Bela Negara Harus untuk Kepentingan Indonesia

Atase Pertahanan KBRI Tehran: Bela Negara Harus untuk Kepentingan Indonesia

“Jika diibaratkan sebuah rumah, negara kita didukung oleh empat pilar yang membuat negara kita tetap tegak sampai sekarang. Pilar utama adalah Pancasila, kemudian UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Kemudian ada dua elemen dalam bela negara yaitu ada elemen dasar yang sifatnya statis dan tetap yaitu Pancasila sebagai dasar negara. Kemudian elemen kedua yang sifatnya dinamis yaitu perkembangan lingkungan strategis baik nasional, regional dan internasional.” Hal ini diungkap Atase Pertahanan KBRI Tehran, Kol. Harwin Dicky Wijanarko pada Dialog Kebangsaan Memperingati Hari Bela Negara dengan tema “Membangun Revolusi Mental Menjaga NKRI”, Selasa (17/12) di Auditorium Shahid Sadr Universitas Imam Khomeini Qom Republik Islam Iran. 

Lebih lanjut, perwira TNI AL tersebut menguraikan sejumlah pertempuran yang pernah dilakukan TNI dan laskar rakyat dalam menghadapi musuh seperti Pertempuran Surabaya, Pertempuran Ambarawa, Puputan Margarana, Bandung Lautan Api dan Pertempuran Medan Area. Menurutnya pertempuran-pertempuran tersebut adalah implementasi dari bela negara. Namun tambahnya, pertempuran yang dihadapi sekarang bukan lagi perang fisik sebagaimana yang dialami pejuang di masa mempertahankan kemerdekaan.

Harwin Dicky berkata, “Kita memang saat ini sudah tidak mengalami perang militer, namun sampai sekarang kita masih dalam kondisi perang. Baik perang asimetri, perang cyber kemudian proxyber. Perang ini terjadi tidak secara langsung namun kehancuran yang ditimbulkannya bisa lebih besar. Pada perang ini pihak ketiga tidak akan berhadapan langsung, mereka menggunakan unsur yang berada di dalam sendiri. Yaitu dengan cara membuat gerakan separatis, memecahbelah antar golongan sehingga akan jatuh sendiri. Dari sisi tekhnologi yaitu berupa perang cyber. Masyarakat diprovokasi melalui penyebaran berita-berita hoax. Dan kita saat ini sadar atau tidak berada di tengah-tengah perang ini.”

Atase Pertahanan KBRI Tehran kemudian menegaskan pentingnya bela negara dengan menjelaskan mengenai kerangka dasar bela negara. Menurutnya, kerangka pertama dasar bela negara, adalah amanah Tuhan. “Negara yang kita punyai adalah amanah dari Tuhan, sehingga wajib bagi kita menjaga keutuhannya.” Jelasnya. 

“Yang kedua adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Seorang yang adil dan beradab, menjadi keniscayaan baginya untuk membela negaranya. Yang ketiga adalah persatuan. Tanpa persatuan, gotong royong dan kerjasama kehancuran itu akan terjadi. Dua dasar bela negara lainnya adalah manisfestasi hikmat dan keadilan sosial.” Tambahnya lagi.

Dalam penyampaiannya, Kolonel Harwin Dicky mengungkapkan rasa bangganya dengan mahasiswa Indonesia di Iran. Menurutnya Iran adalah negara yang harmonis dan kerukunan beragama terjalin dengan baik. Iapun meminta agar mahasiswa Indonesia di Iran bisa mempelajari kerukunan beragama tersebut untuk bisa diimplementasikan di Indonesia. “Kami bangga dengan saudara-saudara sekalian yang belajar di negara Iran dengan bermacam-macam paham namun ternyata disini kerukunan beragama sangat menjadi pembelajaran buat kita. Bahkan dari Kementerian Agama RI juga datang disini secara langsung meliput dan meneliti mengenai keharmonisan tersebut. Awalnya Iran itu bagi kami kesannya cenderung negatif, ternyata ketika berada disini, ternyata disini tempatnya belajar tentang kerukunan beragama. Kesan-kesan negatif itu muncul akibat propaganda pihak-pihak asing yang dari dulu berupaya menghambat kemajuan Iran.”

“Namun perlu kami tekankan, bela negara itu untuk kepentingan Indonesia. Dimanapun kita berada, bela negara untuk kepentingan Indonesia. Kami dulu waktu bertugas di Liberia, di Sudan dan sekarang di Iran, adalah untuk kepentingan Indonesia. Buat saudara-saudara yang sementara di Iran, ingatlah apapun yang anda lakukan adalah untuk kepentingan Indonesia bukan untuk kepentingan negara dimana kita berada. Seperti bela negara yang terjadi di Iran itu adalah tanggungjawab warga Iran.  Tugas kita adalah memperhatikan dan mencermati perkembangan global dalam dan luar negeri, sehingga akan menjadi penguat wawasan kebangsaan. Tugas kita adalah memberikan kontribusi nyata untuk Indonesia dari negeri perantauan serta mampu memberikan output untuk NKRI dalam menyatukan keragaman. Apa yang kita dapat disini, outputnya untuk kepentingan negara kita. Kita tunjukkan kita membela negara dari sini dan tetap punya kepedulian atas nasib bangsa.” Pesannya.  

Pada bagian akhir penyampaiannya, Atase Pertahanan KBRI Tehran tersebut juga mengingatkan untuk menjaga semangat nasionalisme dalam rangka bela negara. Pesannya, meski tinggal di negara lain namun culture, karakter dan watak selaku WNI tetap harus dipertahankan. “Meski kita lama di negara orang, jangan sampai merubah karakter kita. Jangan sampai terjadi gesekan sesama WNI sendiri. Kita berada di negara asing kultur kita tetap kultur Indonesia. Ajarkan budaya Indonesia pada anak-anak meski terlahir di Iran. Dan yang penting, apapun profesi kita, bela negara harus menjadi karakter dan mental kita.” Tutupnya. 

Kol. Harwin Dicky Wijanarko adalah salah satu narasumber dalam Dialog Kebangsaan Memperingati Hari Bela Negara oleh KBRI Tehran yang berlangsung dari pukul 18.30 sampai 22.00 waktu setempat. Tampil juga sebagai narasumber Diplomat KBRI Tehran Fungsi Politik Priaji Soelaiman, perwakilan akademisi dan praktisi Iran masing-masing DR. Yahya Jahangiri, Prof. Muhammad Zargari dan Mustafa Nazarikia dan perwakilan dari mahasiswa Indonesia, Ali Zainal Abidin MA dan Kamaruddin  MA. Kegiatan KBRI Tehran ini diawali oleh sambutan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Iran merangkap Turkmenistan Octavino Alimudin sekaligus sebagai keynote speaker dan membuka acara secara resmi. Dialog yang dihadiri kurang lebih 70 peserta dari mahasiswa dan diaspora ini berlangsung atas kerjasama KBRI Tehran dengan Universitas Internasional Almustafa Iran dan dua organisasi pelajar Indonesia di Iran, Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) dan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran.

Duta Besar KBRI Tehran: Penting untuk Belajar Bela Negara dari Iran

Duta Besar KBRI Tehran: Penting untuk Belajar Bela Negara dari Iran

Bertempat di Auditorium Shahid Sadr Universitas Imam Khomeini Qom Republik Islam Iran, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tehran menggelar Dialog Kebangsaan Memperingati Hari Bela Negara dengan tema “Membangun Revolusi Mental Menjaga NKRI”, Selasa (17/12). Hadir Kepala Duta Besar Indonesia untuk Iran merangkap Turkmenistan Octavino Alimuddin sebagai keynote speaker sekaligus membuka acara dialog secara resmi. 

Dalam pemaparannya, Dubes Octavino menyebutkan Hari Bela Negara dilandasi peristiwa tahun 1948 yang saat itu Indonesia dalam keadaan genting. Ia berkata, “Tahun 1948 saat itu kita nyaris diambang perpecahan. Kita nyaris kembali lagi menjadi negara jajahan. Saat itu kemerdekaan kita pertahankan dengan memindahkan ibukota supaya tidak terjadi kevakuman. Saat ini kita lihat ibukota juga hendak dipindahkan, tapi kita bukan karena dalam keadaan gawat, melainkan untuk memberi ruang lebih luas kepada aparatur sipil negara untuk lebih berkarya dan memberi tempat yang yang lebih kondusif.”

“Jadi tantangannya sudah berbeda namun kita tetap mengingat ada unsur bela negara. Rujukan bela negara jelas, pasal 30 UUD 1945 bahwa setiap warga negara berhak dalam usaha pertahanan keamanan. Di pasal 27 amandamen 3 secara khusus menyangkut kewajiban bela negara. Dengan adanya dua landasan hukum ini, bela negara tidak hanya berkaitan dengan upaya pertahanan keamanan, tapi juga dalam konteks yang lebih luas, sesuai dengan bidang masing-masing warga negara.” Lanjutnya. 

Lebih lanjut, Octavino Alimuddin menganjurkan agar warga negara Indonesia di Iran bisa belajar dari masyarakat Iran mengenai cara mereka melakukan bela negara. Ia berkata, “Iran 40 tahun sejak berdirinya, tidak satu tahunpun yang mereka lewati tanpa ada ancaman terhadap keutuhan wilayahnya. Kalau kita lihat, tahun 1978 diawali dengan jatuhnya rezim Syah Pahlevi kemudian 1979 secara resmi berdiri Republik Islam Iran dan sejak itu mulai tahun 1980 sampai 1988 terjadi perang Irak-Iran dan selanjutnya tidak ada hentinya keamanan Iran berada dalam ancaman.”

“Kita bisa belajar banyak dari Iran, bagaimana mereka membela negaranya. Pertanyaannya apakah bela negara yang dilakukan rakyat Iran semua dari militer?. Tidak, upaya bela negara juga berasal dari semua lapisan masyarakat mulai dari pelajar sampai ulama. Semua golongan dilibatkan dalam usaha bela negara sesuai dengan bidangnya masing-masing.” Tambahnya. 

“Sebagai perbandingan dengan Indonesia, apakah kita memiliki ancaman yang sama sebagaimana yang dihadapi Iran? Kalau dilihat dari wilayah Indonesia di kawasan Asia Tenggara, mungkin tidak sebanyak konfliknya di kawasan Timur Tengah, di Indonesia masuknya kekuatan asing mungkin lebih sedikit resikonya, namun kita juga memiliki ancaman yang tidak kalah pentingnya. Diantaranya masuknya ancaman-ancaman ideologi. Dulu kita bicaranya komunisme, sekarang radikalisme, dari ekstrim kiri ke ekstrim kanan. Begitupun ancaman yang bersumber dari isu SARA. Ini adalah semua masalah kita. Di alam demokrasi yang menjamin kebebasan berpendapat, ini masalah akan selalu muncul. Dan menjadi tantangan yang kita hadapi. Begitu juga ada ancaman dari luar. Ada ancaman dari utara yaitu RRT ataupun dari selatan yaitu Australia. Indonesia itu persimpangan antara kekuatan barat dan timur. Akan selalu ada tantangan dari luar. Bagaimana kita menyikapi secara konkrit. Apakah kita berpangku tangan melihat kondisi adanya gerakan-gerakan yang selalu berupaya mendorong adanya perpecahan, yang hanya akan meretakkan kesatuan kita. Kita melihat ancaman perang mungkin tidak ada, namun di satu sisi kekuatan militer tetap diperlukan untuk menjaga kesatuan, di sisi lain kita tetap harus memiliki mental sebagai negara, dengan tetap punya semangat untuk menjaga keutuhan negara ditengah-tengah banyaknya pihak yang menginginkan Indonesia berpecah.” 

Dibagian akhir penyampaiannya, Dubes KBRI Tehran menyampaikan pelibatan Indonesia dalam organisasi-organisasi internasional dan perannya dalam upaya perdamaian dunia menunjukkan Indonesia negara yang dipandang penting dalam kancah pergaulan internasional. Ia berharap bersama Iran, Indonesia bisa bersama-sama menciptakan dunia yang lebih damai. “Sekali lagi kita bisa belajar banyak dari Iran terutama dalam upaya mencegah masuknya ancaman militer asing. Kita lihat mereka mampu mendeteksi drone mata-mata musuh dan itu bisa dijatuhkan hanya dengan satu peluru. Dari segi ideologi, kita punya Pancasila dan Iran punya ajaran-ajaran Imam Khomeini, apakah kedua ideologi bisa dipadankan untuk bersama-sama menjadikan dunia menjadi lebih damai dan negara kita menjadi lebih kuat?. Ini sangat penting untuk kita diskusikan dan bicarakan bersama.” Tutupnya.

Dialog Kebangsaan Memperingati Hari Bela Negara yang dihadiri kurang lebih 70 mahasiswa dan WNI tersebut menghadirkan tujuh narasumber, yang terdiri dari Atase Pertahanan KBRI Tehran Kol. Harwin Dicky Wijanarko, Diplomat KBRI Tehran Fungsi Politik Priaji Soelaiman, perwakilan akademisi dan praktisi Iran masing-masing DR. Yahya Jahangiri, Prof. Muhammad Zargari dan Mustafa Nazarikia dan perwakilan dari mahasiswa Indonesia, Ali Zainal Abidin MA dan Kamaruddin  MA serta Abdul Latif MA sebagai moderator. Kegiatan KBRI Tehran ini berlangsung atas kerjasama dengan Universitas Internasional Almustafa Iran dengan dua organisasi pelajar Indonesia di Iran, Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) dan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran.

Belajar Nasionalisme dari Iran

Belajar Nasionalisme dari Iran

Imam Khomeini aslinya adalah seorang ulama Islam, namun melalui Republik Islam Iran yang didirikannya, ia bukan hanya membangun rasa cinta rakyat Iran pada Islam namun juga menumbuhkan semangat nasionalisme pada bangsanya. Republik Islam Iran berdiri lebih muda 34 tahun dari Republik Indonesia, namun laju percepatannya baik dari segi pembangunan infrastruktur maupun ketangguhan ekonomi dan tekhnologinya bisa dikatakan menyaingi Indonesia, belum lagi Iran sempat mengalami krisis dahsyat akibat perang 8 tahun menghadapi arogansi Irak dibawah Saddam Husain. 


Di bidang politik, di 40 tahun usianya Iran telah mengalami kematangan yang mencengangkan. Iran diakui kawan maupun lawan, memiliki pengaruh besar di Timur Tengah. Iran bahkan duduk sejajar dengan negara-negara besar Eropa maupun dengan Amerika Serikat dalam penentuan kebijakan-kebijakan internasional. Melalui langkah-langkah diplomasi yang elegan, Iran melenggang di panggung internasional sebagai salah satu kekuatan dunia yang diperhitungkan. 


Kesemua keberhasilan itu, bermula dari kepiawaian Imam Khomeini beserta murid-muridnya meramu Islam sebagai kekuatan pendobrak yang menghancurkan arogansi asing yang mendiktekan kemauannya pada bangsa Iran. Dan menjadi jauh lebih dasyhat setelah dicampurkan dengan semangat nasionalisme yang tinggi. Iran sejak ribuan tahun silam telah dikenal sebagai bangsa yang besar. Diantara bangsa yang memiliki peradaban yang mempengaruhi banyak bangsa-bangsa. Meski telah berubah menjadi negara bersistem Republik Islam dan meninggalkan sistem kekaisaran, nasionalisme bangsa Iran malah semakin menjadi-jadi. Tampak ada kecenderungan yang berbeda dengan yang diyakini sebagian aktivis Islam di Indonesia. Mereka mengkampanyekan Islam dan nasionalisme berada pada kutub yang berbeda sehingga sulit untuk disatukan. 


Iran membuktikan diri, semangat nasionalisme senafas dengan pesan dan prinsip Islam. Kita bisa banyak belajar dari Iran, khususnya metode menumbuhkan semangat patriotisme dan nasionalisme yang sedikit banyak belakangan ini tampak mulai memudar dikalangan generasi muda bangsa. 


Kepatuhan pada Pemimpin


Hal yang menakjubkan dari Iran dan diakui oleh dunia internasional, adalah kepatuhan rakyat pada pemimpinnya. Sejak berdirinya sampai saat ini, musuh-musuh Republik Islam Iran baik dari dalam maupun dari luar telah menjalankan banyak agenda dan melakukan berbagai bentuk propaganda untuk menimbulkan kebencian dan kejenuhan rakyat Iran pada pemimpinnya. Namun kesemua langkah yang telah ditempuh tidak ada yang berhasil. Rakyat Iran bukan hanya patuh, namun benar-benar mencintai bahkan mengidolakan pemimpinnya. Gambar dan foto Ayatullah Ali Khamanei sebagai pemimpin tertinggi di Iran saat ini bukan hanya terpasang di kantor-kantor, sekolah dan instansi-instansi pemerintahan namun juga di rumah-rumah warga. Bahkan dengan sangat mudah didapati poster besar Imam Khomeini yang disandingkan dengan Ayatullah Ali Khamanei di dinding-dinding kota, di tembok-tembok, di halte-halte bis dan diruang publik lainnya. Sebaliknya di Indonesia, telah berlalu sejumlah presiden, dan kesemuanya tidak luput dari hujatan publik. 


Semangat Bela Negara yang Tinggi


Nasionalisme dan semangat bela negara telah dibuktikan rakyat Iran saat perang Irak-Iran yang berlangsung selama 8 tahun. Dengan kekuatan senjata seadanya, rakyat Iran berhasil mempertahankan wilayahnya dari ekspansi rezim Saddam Husein. Tidak sedikit warga sipil yang turut membela negara gugur di medan perang. Iran menerapkan wajib militer bagi warganya selama 2 tahun. Saat pendidikan militer, peserta didik tidak hanya diajari tangkas dan militan, tetapi juga diberi wawasan kebangsaan secara komprehensif. Hal itu memberi pengaruh besar pada mindset setiap generasinya. Berbeda dengan di Indonesia, bendera merah putih terkadang baru bisa kita temui ramai berkibar hanya pada momentum Agustus, di Iran bendera nasionalnya hampir disetiap titik keramaian selalu ditemui berkibar. 


Mencintai dan Menghargai Jasa Pahlawan


Para pahlawan di Iran (khususnya yang gugur dalam perang Irak-Iran) memiliki tempat yang sangat istimewa, bagi yang masih hidup mendapat banyak peristimewaan dan kekhususan yang didapatkan. Bagi yang telah meninggal dunia, apalagi yang gugur di medan tempur, maka keluarganya yang mendapatkan keistimewaan itu. Anak-anak dari pahlawan yang gugur, dijamin pendidikannya oleh pemerintah dengan mendapat beasiswa sepenuhnya sampai jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Mereka juga akan mudah mendapatkan akses pekerjaan dipemerintahan. Keluarga yang ditinggalkan, akan mendapat jaminan pemerintah untuk tetap mendapatkan kehidupan yang layak. Gambar-gambar pahlawan Iran sangat mudah ditemui terpajang di titik-titik keramaian. Karenanya, tidak mengherankan, setiap anak-anak di Iran di tanya mengenai cita-citanya, mereka akan menjawab, bercita-cita menjadi pahlawan. 


Kemandirian Ekonomi 


Hal lain yang bisa dicontoh adalah cinta pada produk dalam negeri. Kesepakatan sejumlah negara besar menetapkan embargo ekonomi pada Iran sedikit banyaknya membawa keberuntungan. Iran dipaksa membuat produk dalam negeri sendiri. Hanya dalam kurun waktu 3 dasawarsa, perekonomian Iran bangkit dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Saat ini bukan hanya mampu memproduksi kendaraan sendiri, Iran bahkan telah memiliki satelit yang pengoperasiannya dilakukan secara mandiri, tanpa bantuan negara lain. 


Cinta Tanah Air


Cinta tanah air bagi rakyat Iran, bukan hanya diwujudkan dengan kesiapan untuk membela dan memperjuangkan kedaulatan tanah air dari ronrongan negara lain, namun juga bagaimana membuat prestasi yang dapat mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. Prestasi Iran didunia internasional telah mulai diukir mulai dari tingkat remaja, bukan hanya berprestasi ditingkat penemuan-penemuan ilmiah, namun juga di cabang olahraga. Laki-laki dan perempuan Iran haus akan prestasi. Mereka saling berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan memberikan kebanggaan pada negaranya. 


Meski demikian, sebaik-baiknya Iran dengan semua hal positif yang dimilikinya, Indonesia tetaplah negara dan tempat yang terbaik bagi kita sebagai warga negara Indonesia. Semua hal baik yang ada pada negara lain, bisa kita pelajari dan amalkan untuk juga menjadikan negara kita diperhitungkan posisinya. Tidak ada kata terlambat, mari tetap mencintai dan bangga sebagai bangsa Indonesia.


Ismail Amin 

Presiden IPI Iran 2019-2021

Pahlawan Sepanjang Masa

Pahlawan Sepanjang Masa

Pah.la.wan

orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Begitu tertulis di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Beberapa ratus tahun yang lalu saat tanah ibu pertiwi tejadi pertumpahan, rakyat berjiwa nasional dengan gagah berani maju melawan penjajah. Sementara, rakyat lain memilih bersembunyi, mengamankan diri dari letusan dan bom-bom yang haus akan darah. Kemudian, mulai bermunculan harapan-harapan supaya mimpi buruk tersebut menghilang setelah terbangun di pagi hari. Sebagian yang lain merapat ke pihak lawan, alih-alih mencuri strategi lalu membagikan kepada kawan, malah membelot dengan sendirinya atas seribu macam alasan yang hanya mengatasnamakan kenyamanan pribadi. Tatkala peperangan telah usai, semua orang berteriak kepada rakyat berjiwa nasional itu “pahlawaaannn!!!!!!” entah yang gugur atau yang masih bertahan hidup bersama sisa-sia perjuangan yang menempel di tubuhnya.

         Konon katanya perang yang sesungguhnya adalah perang melawan diri sendiri.

Kini perang pun sudah tidak lagi ada di atas tanah ibu pertiwi, arti pahlawan itu bergeser, adalah semua orang yang memiliki jiwa membela, menegakkan dan mempertahankan kebenaran sejati. Tapi kebenaran yang mereka junjung itu bukan kebenaran yang hanya menurut mereka benar dan menganggap orang lain salah apalagi membenarkan sesuatu yang memang salah.

bukan lagi orang yang mengangkat senjata, membunuh lawan, adanya ledakan bom, suara-suara helikopter atau tank baja menderu melancarkan peluru, miris yang terjadi.

Aku selalu senang memperhatikan keadaan sekitar, hati terasa tenang tatkala melihat bagaimana harmoni kehidupan menyenandungkan kisahnya. Sungguh, jika kita mau melihat barang sejenak. Membuang segala tetek bengek bernama kemewahan, banyak sekali hal yang bisa dipelajari dari Sang kehidupan.

Senja mulai menyapa, kulihat seorang bapak dengan gerobak baksonya berpeluh tanpa kesah terus mendorong gerobaknya. Gerobak tersebut berhenti di sebuah tanah lapang dimana anak-anak sd bermain sepakbola. Dalam sekejap, bapak dan gerobaknya sudah dikerubungi bak semut berebutan gula. Senyum tersungging dari bibir tipis bapak itu, menggumamkan syukur sembari melayani pelanggan-pelanggan kecil yang heboh berteriak minta didahulukan.

Tak jauh dari tanah lapang tersebut, ada sebuah mushola kecil yang selalu dipenuhi suara anak-anak belajar mengaji. Ustazah yang selalu sabar mengajari apabila ada pelafalan yang salah. Mushola itu penuh dengan anak-anak yang ingin menunjukkan bahwa mereka mampu membaca dengan baik. Ustazah tersenyum mengucap hamdalah melihat gayung yang bersambut itu.

Dari seberang jalan terlihat seorang gadis yang tampak gelisah menunggu, yang kemudian segera terlonjak setelah melihat yang ditunggu datang. Gadis itu menggandeng seorang ibu berperut besar. Ibu tersebut tersenyum kecil menyambut uluran tangan si gadis. Tampak tongkat di tangan kirinya. Keduanya berjalan beriringan, sesekali si gadis mengingatkan apabila ada aral di setapak yang mereka lalui.

Deru mesin terdengar, sang pengendara memberhentikan motornya di depan sebuah rumah. Setelah membuka helm dan mengambil pesanan dari pelanggan. Pria itu memencet bel, terlihat sedikit interaksi dan selembar ribuan yang diselipkan diantara tangan. Mulanya pria tersebut menggeleng namun ibu tersebut bersikeras, sambil membungkuk dan mengucap terimakasih pria itu pamit. Sebelum kembali berkendara, pria tersebut menengadah ke arah langit dan berdoa pelan.

Aku menatap takjub, puas dengan pengamatanku sore itu. Sambil menenteng beberapa barang di tangan, aku kembali ke studio. Ada banyak persiapan untuk hari esok. Tanganku sibuk bekerja sambil memutar apa saja yang kulihat. Tengah malam ketika aku merampungkan sapuan terakhir.

Pelajaran sore itu mengajarkanku banyak hal, bahwa kata pahlawan tidak lagi hanya berkaitan dengan orang yang menenteng senjata, menembakkan bedhilnya di tangan, badan yang berlumuran darah dengan bendera yang masih tegak berdiri. Semua definisi tersebut sudah mulai bergeser. Pahlawan dapat diartikan sebagai orang yang peduli dengan orang lain, kesadaran untuk tolong menolong, punya keberanian untuk membela kebenaran, melindungi kaum yang tertindas. Dalam lingkup yang lebih kecil, pahlawan bisa diartikan ketika diri kita mampu melawan dan mengendalikan hawa nafsu. Pahlawan itu, bisa jadi ibu, ayah, guru, teman atau orang lain yang tidak dikenal, bahkan dirimu sendiri adalah pahlawan. 

salsa,dian

Departemen kajian dan intelektual IPI Iran 2019-2021

Turut Berjuang bagi Negeri

Turut Berjuang bagi Negeri

Tatkala kalbu terhubung kuat dalam satu visi

Dikala suara bersatu padu dalam satu misi

Dengarlah…

Derap langkah tegas para pemuda

Selalu bergerak tak berdiam barang sedetik

Lihatlah, para pemuda berjuang 

Ketika ikrar suci diucapkan dengan lantang

Satu tanah air, bangsa, bahasa, Indonesia

Satu mimpi telah tercapai hai Ibu Pertiwi

Tetapi kawanku… jangan lengah

Perjalanan kita masihlah panjang

Ibu pertiwi sedang kritis dan menjerit dalam duka

Ulurkan tangan kalian wahai pemuda

Renungkan kembali para pendiri negri

Ibu pertiwi merindukan para pemudanya

Dimanapun dan kapanpun kawan

Kembalilah dalam dekapan ibu pertiwi

Lanjutkan asa para pendahulu tuk bangsa

Salam kepada Pemuda Negeri !!!

Dian Islamiati

Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021