Tochal Mountain : Surganya Para Pendaki dan Penggemar Ski Gunung

Tochal Mountain : Surganya Para Pendaki dan Penggemar Ski Gunung

Iran bukan hanya dipenuhi dengan situs-situs bersejarah dan tempat-tempat wisata

yang memukau. Tetapi, Iran juga punya keindahan alam yang gak kalah mempesona dan

memanjakan siapa saja yang datang. Salah satunya adalah Tochal Mountai ini. Mari,

sama-sama kita nikmati putih dan indahnya hamparan salju!

 

Puncak Gunung Tochal adalah puncak gunung tertinggi di Tehran, Iran. terletak di

sebelah selatan Tehran dengan ketinggian 3363 meter. Gunung ini merupakan bagian

dari pegunungan terkenal itu, Alborz. Gunung Tochal adalah surganya pendaki gunung

dan penikmat ski. Tidak heran jika gunung yang bergaunkan salju ini adalah tujuan

utama bagi mereka yang suka menikmati pemandangan langit. Dari atas sana, kita juga

bisa menghibur pemandangan dengan menikmati kota Tehran dari atas. Hiruk pikuknya

di siang hari dan kemilaunya di waktu malam.

Suasan tenang dan hening dari tempat ini, terutama ketika hari-hari biasa, benar-benar

menjadi penawar dan obat bagi jiwa-jiwa yang lelah akan kesibukan ibukota. Udara yang

bersih serta hawa yang menyegarkan seakan menghidupkanmu kembali.

Jangan khawatir. Buat kalian yang tidak ingin mendaki dan bermain ski, tersedia juga

tempat-tempat wisata dan hiburan. Bukanlah pilihan yang buruk bagi mereka yang

hanya ingin berjalan di sekitar pegunungan Tochal. Berjalan kaki menuju pemberhentian

pertama Telecabin sambil menikmati pesona alam yang disuguhkan. Disana juga

tersedia club memanah, wahana bermain ZipLine yang akan membawa kita terbang dan

memacu adrenalin, bioskop lima dimensi, Escape Room, dan tentu saja fasilitas

Telecabin. Telecabin di pegunungan Tochal merupakan telecabin dengan jarak tali

terpanjang di dunia loh!. Secara keseluruhan panjang talinya mencapai 7500 meter.

Setiap jamnya Telecabin ini mampu menampung 600 penumpang. Wow!

 

Di pemberhentian telecabin yang ketujuh alias yang paling atas, Hotel Tochal yang

bernuansa kayu seakan menjemput kita. Kita pun bisa menikmati hamparan salju putih,

pemandangan indah dari atas gunung, bermain ski, naik Car Snow, pokoknya seru-

seruan deh!

 

Kalau mau berkunjung kesini, jangan lupa baju hangat dan perlengkapan untuk musim

salju. Waktu yang tepat untuk berwisata kesini adalah har-hari biasa. Jadi bisa lebih

tenang dan puas menikmati.

 

Jadi, berhenti pikir-pikir buat traveling ke Iran! Biyo berim Iran!

Naqsh-e Jahan One of the Most Beautiful UNESCO Heritage Sites

Naqsh-e Jahan One of the Most Beautiful UNESCO Heritage Sites

Siapa sih yang gak tau Candi Borobudur dan Candi Prambanan? Ya, kedua tempat itu masuk dalam situs warisan dunia UNESCO di Indonesia. Nah, Negara Iran pun juga memiliki beberapa situs warisan dunia tersebut, kali ini kita akan membahas Naqsh-e Jahan yang merupakan salah satu situs warisan budaya UNESCO yang paling indah. Penasaran? Yuk simak ulasan singkatnya!

Pada tahun 1598, ketika Shah Abbas 1 (Raja Iran) memutuskan untuk memindahkan ibu kota kekaisarannya dari kota Qazvin ke pusat kota Isfahan, dia memulai apa yang akan menjadi salah satu program terbesar dalam sejarah Persia yaitu renovasi lengkap kota. Alun-alun ini dibatasi oleh gedung-gedung bertingkat dua dan berlabuh di setiap sisi oleh empat bangunan megah: ke timur, Masjid Sheikh Lotfallah; ke barat, paviliun Ali Qapu; ke utara, the portico of Qeyssariyeh; dan ke selatan, The Royal Mosque. Tempat ini dibangun dengan luas 160 meter, lebar 560 meter,  dan panjangnya seluas 89.600 meter. Ini adalah salah satu alun-alun kota terbesar di dunia dan contoh luar biasa arsitektur Iran dan Islam.

Dikenal sebagai Naqsh-e Jahan(Gambar Dunia), tempat ini ramai dikunjungi turis. Disana mereka bisa melihat indahnya Arsitektur masjid Iran, megahnya Kerajaan Persia zaman dahulu, atau hanya sekedar duduk-duduk di taman. Berada di tempat ini rasanya seperti menjadi anggota Kerajaan Persia yang sedang berlibur di hari Jumat. Suasana yang damai tentram ditemani suara air mancur di tengah Alun-alun.

Ada tips nih buat kalian yang ingin berkunjung ke tempat ini. Musim semi adalah musim yang paling pas untuk jalan-jalan kesini,kenapa? Ya selain cuacanya yang hangat, pemandangan di taman pun semakin indah karena bunga-bunga mulai tumbuh cantik.

Nah terus kalo mau beli oleh-oleh dimana? Tenang aja, silahkan berkunjung ke Bazaar Isfahan. Tempat ini adalah pasar sejarah dan salah satu pasar tertua dan terbesar di Timur Tengah. Meskipun struktur masa kini berasal dari era Safawi, sebagian darinya berusia lebih dari seribu tahun!

 

 

 

 

Jadi tunggu apalagi? siapin kameramu dan saatnya berkunjung ke Iran!

Keindahan Masjid Pink di Iran

Keindahan Masjid Pink di Iran

Teman-teman pernah dengar tentang Masjid Pink? Pasti kebanyakan dari kalian masih ada yang belum tahu tentang apa, bagaimana dan dimana itu Masjid Pink. Yuk simak ulasan singkatnya!

Masjid Nasir al-Molk, merupakan salah satu masjid tua di kota Shiraz, Iran. Masjid yang juga terkenal dengan Masjid Pink ini terletak di suatu wilayah kuno bernama Goud-e Araban. Tepatnya di jalan Lotf Ali Khan. Kalau mau kesana, cukup tanyakan pada orang-orang sekitar, mereka akan auto menunjukkannya padamu.

Mari terbang ke Iran di 142 tahun yang lalu. Pada 1255 Syamsi (sama dengan tahun 1876 Masehi), Mirza Hasan Ali Khan yang juga bergelar Nasir al-Molk ingin membangun sebuah masjid agar terkenang. Maka dari itu, ia memerintahkan orang-orangnya untuk membangun masjid Nasir al-Molk. Design masjid ini diemban oleh dua orang arsitek tersohor di zamannya, Haj Muhammad Hasan Me’mar dan Mirza Reza Kashi Gar. Uniknya, biaya pembangunan masjid ini sepenuhnya tersalur dari khumus dan zakat masyarakat. Bayangin deh, betapa masjid ini penuh berkah dan dekat dengan hati penduduknya.

Bisa tebak berapa lama jangka waktu pembangunan masjid ini? 12 tahun!. 1304 Syamsi, Masjid Pink ini pun selesai dibangun. Namun, saat itu belum ada kabar tentang kaca warna-warni yang sekarang mempercantik masjid ini. Hingga pada akhirnya, tahun 1347 Syamsi, Ostad Haj Mirza Ayat menyulap masjid ini menjadi masjid indah, yang kental dengan keapikan arsitektur, seni, dan nuansa Islami. Sampai menjadi bangunan yang dilirik turis-turis dunia.

Ada tips nih buat kalian yang mau berkunjung ke Masjid Pink ini. Untuk para pemburu foto dan penikmat kemegahan bangunan yang ‘wah’ ini, sebaiknya datang ketika matahari bersinar ke arah kaca-kaca berwarna pada bangunan masjid. Dari luar memang nampak seperti masjid biasa, tapi saat kalian memasukinya, VOILA! Mata kita bagai disihir oleh indahnya warna-warni yang tercipta dari sinar matahari yang menembus kaca warna-warni. Warna pink yang mendominasi pun makin menambah keindahan dan cantiknya Masjid Nasir al-Molk. Bikin gak mau pulang pokoknya!.

Jadi, tunggu apalagi? Ayo ke Iran!

Pesan Persatuan dari Persia untuk Indonesia dan Dunia

Pesan Persatuan dari Persia untuk Indonesia dan Dunia

Revolusi Islam di Iran tahun 1979 yang dipimpin Imam Khomeini meruntuhkan kebesaran kekaisaran Persia yang baru saja merayakan ulangtahunnya yang  ke 2500 tahun. Didukung 98,2 persen rakyat Iran, berdirilah sebuah Negara baru dengan nama Republik Islam Iran [Jumhuri_e Islami_e Iran]. Meskipun memiliki saham besar terhadap terbentuknya Negara baru tersebut, Imam Khomeini tidak membuat sistem pemerintahan yang menguntungkan buat keluarganya. Negara baru itu tidak dilabelinya dengan nama klannya, sebagaimana Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Sa’ud yang tahun 1932 memproklamasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi. Imam Khomeini tidak juga menonjolkan kebangsaan Persia sebagaimana Negara-negara Timur Tengah lainnya, yang memamerkan kesukuannya, dengan menyertakan “Arab” pada penyebutan nama Negara. Khomeini justru menonjolkan keislaman. Semboyannya, laa Sunni wa laa Syi’ih. Memang asas Negara Iran berdasarkan Islam pandangan mazhab Syiah, itu disebabkan karena mayoritas penduduknya memang bermazhab Syiah. Namun kelompok-kelompok minoritas tetap mendapatkan hak-haknya dan punya perwakilan di Parlemen. Sistem yang dibentuk sang Mullah, adalah demokrasi. Rakyat berhak menentukan nasib dan masa depannya sendiri dengan memilih siapa yang berhak memimpinnya dan mewakili suaranya di Parlemen. Inilah yang membedakan Iran dengan Negara-negara tetangga lainnya yang betah dengan sistem aristokrasi yang cenderung otoriter, memiliki kekuasaan mutlak dan bercorak dinasti.

Tidak sedikit yang memandang negatif penamaan Jumhuriyah Islamiyah tersebut dengan mengajukan argumen bahwa Imam Khomeini hendak menipu kaum muslimin. Umat Islam akan bangga dengan keberadaan Negara Islam tersebut, padahal hakikatnya, didalamnya bukan Islam. Analoginya seperti, mempromosikan kaleng sapi, tapi ternyata isinya daging babi. Harusnya, Iran gentle menyebut Negara mereka sebagai Republik Syiah, bukan Republik Islam, sebab Syiah bukan bagian dari Islam. Begitu kritik sebagian orang yang meyakini Syiah sebagai agama yang berdiri sendiri dan bukan mazhab dalam Islam.

Hakikatnya, Iran tdk pernah mendakwahkan Syiah, yang mereka usung adalah bendera Islam. Republik yang mereka bentuk diberi label Islam, bukan label mazhab, agar yang dikenal di dunia adalah Islam, apapun kemudian mazhabnya. Kalau ideologi kapitalis, sosialis, komunis, Kristen bahkan zionis bisa mendirikan Negara, maka dunia mengenal lewat Iran sebagai sebuah Negara demokrasi yang maju, Islam juga bisa melalukannya. Kalau AS, China, Rusia dan Korut bisa mengembangkan tekhnologi nuklir, maka dunia mengetahui lewat Iran, ilmuan-ilmuan Islam juga bisa melakukan hal yang sama. Kalau ditingkat Asia, Jepang, Korsel dan China merajai panggung olahraga, maka dunia jadi paham lewat Iran, atlit-atlit muslim juga bisa meraih prestasi yang membanggakan. Kalau perempuan-perempuan Barat bersaing dalam menemukan karya-karya dan prestasi yang mengagumkan, dunia melihat melalui Iran, muslimah-muslimah juga mampu mempersembahkan hal serupa. Kalau AS dan Eropa memiliki segudang negarawan dan politikus yang disegani di kancah percaturan politik internasional, dunia juga mengenal melalui Iran, Islam juga mampu mencetak negarawan-negarawan dan politikus yang mampu melakukan diplomasi tingkat tinggi. Kalau AS dan Negara-negara Barat memiliki kekuatan militer yang ditakuti, dunia mengenal melalui Iran, bahwa Islam juga bisa melakukan lebih dari itu.

Inilah tujuan Imam Khomeini membentuk Republik Islam Iran, inilah sasarannya menonjolkan pelabelan Islam pada nama Negara yang didirikannya. Membangkitkan kembali izzah Islam, sejak keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani. Inilah yang kemudian membuat musuh-musuh Islam menjadi panik. Kebangkitan Islam sudah di depan mata, jika tidak dihentikan akan menjadi air bah yang akan menenggelamkan mereka. Lihat bagaimana gerakan-gerakan Islam terinspirasi oleh kebangkitan revolusi Islam di Iran. Tengok sejarah terbentuknya gerakan intifadah. Syahid Dr. Fathi Ibrahim Shaqaqi, sekjen pertama Gerakan Jihad Islam Palestina mengakui, gerakan Intifadah terinspirasi oleh kebangkitan revolusi Islam di Iran. Sebagaimana rakyat Iran, rakyat Palestina juga pantang hina. Begitupula dengan perjuangan gerakan Hizbullah di Lebanon yang seringkali menyulitkan militer Israel. Bahkan pengaruh revolusi Islam itu sampai pula ke Indonesia. Tahun 80-an yang bersamaan dengan tahun awal-awal revolusi Islam Iran, kekuatan Islam di Indonesia mulai menggeliat dan mengkhawatirkan penguasa Orde Baru. Ditengah tindakan represif aparat keamanan yang phobia Islam, kajian-kajian Islam menjadi semakin marak. Buku-buku pemikir Iran diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan laku keras. Tidak ada satupun buku itu yang menonjolkan mazhab Syiah. Amin Rais muda bahkan menerjemahkan buku Ali Syariati, “Tugas Cendikiawan Muslim.” Dalam pengantarnya, Amin Rais menulis, “Dr. Ali Syariati adalah seorang muslim Syiah, sedangkan penerjemah adalah seorang muslim Sunni. Dorongan menerjemahkan buku ini bukan untuk menawarkan percikan-percikan pemikiran Syiah di Indonesia. Bagi penerjemah, perbedaan Syiah-Sunnah adalah warisan historis kuno yang telah menyebabkan lemahnya ummat Islam sebagai satu keseluruhan. Yang perlu kita kerjakan bukan membongkar-bongkar konflik politik masa silam yang jelas tidak akan ada manfaatnya.” [Amin Rais, 1987]

Pasca revolusi Islam di Iran, Islam menjadi lebih dikenal sebagai agama perlawanan dan perjuangan. Islam menjadi ancaman bagi penguasa yang otoriter dan zalim. Islam membawa pesan kematian bagi kerakusan dan kesewenang-wenangan. AS dan Zionis berkepentingan besar untuk menghentikan itu. Dengan gelontoran dana yang besar, dan kerja orang-orang dalam Islam yang mudah disuap, dimulailah pengrusakan citra itu. Lewat gerakan-gerakan ekstrimisme yang tidak pandang bulu dalam membunuhi dan menyembelih orang namun mengatasnamakan Islam, lewat bom-bom bunuh diri tapi yang kemudian menjadi korban justru rakyat sipil, duniapun mengenal Islam sebagai agama teror dan ajaran horor. Citra Islam yang dibangun bangsa Iran, bersama kelompok Islam yang anti kekerasan dan cinta perdamaian, dirusak dan diciderai oleh kelompok-kelompok yang mengklaim diri Islam namun menghalalkan aksi-aksi terorisme. Ada pula kelompok yang sampai hari ini tetap sibuk mempersoalkan mazhab yg dipeluk mayoritas warga Iran, yang berbeda dengan mazhabnya. Sunni-Syiah dikorek-korek titik bedanya untuk kemudian dipertengkarkan dan menjadi alasan untuk mengkafirkan dan saling membenci. Inilah yang justru menguntungkan musuh-musuh Islam. Untuk itulah, Iran kemudian memprakarsai pertemuan 350 ulama Islam Sunni-Syiah dari 80 negara yang telah berlangsung di kota Tehran, Iran 24-26 November 2018 dengan mengusung tema “al-Quds, Poros Persatuan Umat”. Ratusan ulama-ulama toleran lintas mazhab ini menyatukan tekad, bahwa persatuan Islam bukanlah hal yang bisa ditawar-tawar. Sifatnya segera dan mendesak untuk membangun kejayaan Islam dan peradaban manusia yang saling menyayangi bukan saling menguasai, saling merangkul, bukan saling memukul, yang lebih menempatkan keramahan diatas kemarahan.

Salam Persatuan dari Persia untuk Indonesia dan Dunia…

Ismail Amin 

Kadep. Kajian Strategis dan Intelektual IPI Iran 2018-2019

Siosepol, Jembatan Indah di Jantung Kota Esfahan

Siosepol, Jembatan Indah di Jantung Kota Esfahan

Siosepol (33 Jembatan) adalah jembatan yang paling populer di Esfahan dan telah menjadi maskot kota tersebut. Jembatan ini dibangun oleh raja Safavid Persia, Shah Abbas. Mahakarya ini adalah keindahan arsitektur Iran dan merupakan tempat di mana banyak digunakan untuk upacara Kerajaan Safavid.

Dibangun antara tahun 1599 dan 1602, jembatan ini memiliki panjang total 297,76 meter (976,9 kaki) dan lebar total 14,75 meter (48,4 kaki). Terletak di pusat kota, Siosepol adalah salah satu tempat paling ramai dan populer di Isfahan, terutama di malam hari. Setiap tahun, pada peringatan Nowrouz (liburan tahun baru tradisional Iran), jembatan ini dihiasi dengan lampu dan bunga. Lampu-lampu di atas jembatan memberikan pemandangan yang menakjubkan karena setiap lengkungan tunggal memiliki kilatan cahaya sendiri untuk menjadikan situs itu tempat yang bersinar dan lebih menarik banyak pengunjung pada malam hari daripada di siang hari.