Sambut HUT RI, IPI Iran Gelar Webinar Kebangsaan

Sambut HUT RI, IPI Iran Gelar Webinar Kebangsaan

Berlangsung secara virtual melalui aplikasi Zoom, Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran menggelar Webinar Kebangsaan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-75, pada Jumat (7/8). Dengan menghadirkan tiga pembicara yang terdiri dari Kuasa Usaha Ad Interim RI – Tehran Priadji Soleiman, Atase Pertahanan RI – Tehran Kol. Mar. Harwin Dicky Wijanarko dan Dosen Filsafat Islam STFI Sadra Jakarta DR. Muhsin Labib, webinar yang mengangkat tema “Membangun Nasionalisme Memperkuat Keutuhan Bangsa menuju Indonesia Maju” dihadiri puluhan peserta. 

Ismail Amin selaku Presiden IPI Iran 2019-2020 dalam sambutannya menyebutkan, “Memang dalam kitab-kitab utama Islam, ucapan yang masyhur cinta tanah air adalah sebagian dari iman tidak kita temukan, namun ucapan ini diterima sebab cinta tanah air tidak bertentangan dengan keimanan. Bahkan dalam Alquran terdapat tidak sedikit ayat yang menganjurkan kita melakukan pembelaan pada tanah air.”

“Karenanya, kita tidak sepakat dengan kelompok, yang selama ini membentur-benturkan cinta kepada agama dengan cinta tanah air, bahwa nasionalisme itu tidak ada dalilnya, atau bertentangan dengan agama.” Tegasnya.

“Sebagai orang Indonesia, kecintaan kepada tanah air memiliki landasan yang sangat kuat. Diantaranya, Indonesia adalah negara muslim terbesar.” Tambahnya lagi. 

Pada salah satu bagian pemaparan materinya, Priadji Soelaiman menyampaikan peran generasi muda khususnya pelajar mahasiswa di luar negeri sangatlah besar. “Meski secara resmi bukan diplomat, namun adik-adik pelajar dan mahasiswa di luar negeri setidaknya telah menjalankan dua peran yaitu representasi dan promosi.” Ungkapnya. 

“Dengan keberhasilan studi, pelajar Indonesia di luar negeri telah memberikan peran representasinya dan dalam banyak hal juga telah sekaligus memperkenalkan budaya dan karakter bangsa Indonesia seperti toleransi dan bhineka tunggal ika pada masyarakat internasional.” Tambah alumnus Magister Hubungan Internasional Universitas Indonesia ini. 

Sementara pembicara kedua, Kol. Mar. Harwin Dicky Wijanarko mengawali penyampaiannya, dengan mengingatkan hadirin pada perjuangan para pahlawan terdahulu dalam memerdekakan Indonesia. Ia memesankan agar semangat nasionalisme harus terus dipupuk dan dibangun, sebab menjadi pondasi dasar dari bangunan besar Indonesia yang harus dijaga keutuhannya.

“Nasionalisme adalah suatu sikap menempatkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi. Dalam menjaga semangat kebangsaan, kita harus bisa menghilangkan ego pribadi. Sebab menjadi naluriah semua manusia, untuk hidup bersama. Karena itu untuk menjaga, semangat kebangsaan ini, dengan negara yang memiliki banyak suku, agama, ras, budaya dan kelompok yang beragam, toleransi dan keinginan untuk saling memahami harus dikedepankan.” Jelas Atase Pertahanan RI untuk Iran ini. 

DR. Muhsin Labib, ketika menyinggung semangat cinta tanah air, ia menyebut, mencintai tanah air mendahului teks agama. Sebab menurutnya, cinta tanah air telah menjadi bagian inhern dalam diri setiap manusia. “Karena menjadi bagian dari diri naluriah manusia, maka tidak seharusnya ada ada upaya mengharmonikan antara agama dengan nasionalisme, sebab jika ada upaya demikian, itu berarti dua hal ini adalah sesuatu yang berbeda.” Ungkap dosen Filsafat Islam ini. 

“Orang yang memiliki kesadaran spritual yang tinggi, otomatis ketika hendak menunjukkan sikap keberagamaanya adalah menjaga apa-apa yang Tuhan anugerahkan padanya, tanpa perlu ada teks hadis terlebih dahulu. Dan tanah air adalah properti kolektif yang harus kita jaga keamanan dan keberadaannya.” Tambahnya. 

Pada sesi kedua dari webinar  yang dimoderatori oleh Ali Asghar Muhammadi ini, ketiga panelis yang terdiri dari Presiden KKMI Libya Jogi Pangabean, Pengurus IPI Iran Kamaruddin, MA dan Ketua Umum PPMI Pakistan Firdaus Alfin Hudaya menyampaikan masing-masing tanggapan dan mengajukan pertanyaan kepada para pembicara. 

Webinar yang berlangsung selama 2 jam 30 menit tersebut mendapat respon positif dari netizen yang mengikuti dari awal hingga akhir acara. Peserta webinar tidak hanya dari kalangan mahasiswa, namun juga dari kalangan WNI baik diaspora maupun yang berada di Indonesia. Pejabat Fungsi Penerangan KBRI Tehran, Tety Mudrika Hayati juga termasuk diantara peserta yang hadir. Di akhir acara, Kadep Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran Salsabilah Kemangi Urrachman menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah menyukseskan webinar kebangsaan IPI Iran, termasuk kepada KKMI Libya dan PPMI Pakistan yang juga telah berkolaborasi dalam acara ini. 

Penanganan wabah COVID-19 di Iran: Perkembangan, Karakteristik dan Kunci Penyelesaian

Penanganan wabah COVID-19 di Iran: Perkembangan, Karakteristik dan Kunci Penyelesaian

Pandemi atau wabah COVID-19 telah melanda hampir semua bagian dunia, sejak pertama diberitakan pada akhir tahun 2019 lalu. Secara global, kasusnya telah melampaui angka 8.5 juta sementara korban jiwa melampaui angka 450 ribu. COVID-19 adalah virus yang dapat menyebabkan penyakit bahkan kematian sehingga langkah penanganan awal umumnya secara medis termasuk kebijakan lock-down untuk membatasi penyebarannya. Kebijakan “ekstrim” lock-down kemudian tampak malah mengganggu perputaran roda ekonomi yang berkait langsung kehidupan/nasib banyak orang. Banyak negara kemudian menerapkan pendekatan gabungan antara kesehatan dan ketahanan ekonomi. Otoritas Iran juga tampak mengambil pola pendekatan ini dan terus mengupayakan cara terbaik untuk mengatasi COVID-19 yang diperkirakan terus mewabah hingga waktu panjang ke depan. Tulisan singkat ini mencoba mengulas perkembangan penanganan COVID-19 di Iran yaitu pertama saat mulai terjadi peningkatan kasus, kedua saat terlihat indikasi penurunan kasus dan ketiga yaitu gabungan bagian pertama dan kedua. Ulasan ini juga akan mengupas singkat karakter Iran dalam penanganan COVID-19 wabah ini, ditutup pandangan mengenai kunci utama penanganan.

Menyusul pengumuman resmi pada 19 Februari 2020 mengenai adanya kasus COVID-19 di Iran, pemerintah Iran mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mengatasi wabah penyakit tersebut antara lain pembatasan kegiatan di luar rumah serta pembatasan perjalanan antar kota. Penyebaran COVID-19 di bulan Maret 2020 semakin meningkat ditandai antara lain:  sejumlah pejabat tinggi Pemerintah Iran yang terpapar COVID-19 dan repratriasi warga negara asing di Iran oleh Pemerintah mereka (antara lain lain Qatar, India, Malaysia dan Korea Selatan). Pada PERIODE ini, otoritas Iran menerapkan “Pendekatan Kesehatan” yang bertujuan utama melawan COVID-19 sebagai satu penyakit/wabah, apalagi dengan trend penyebaran meningkat. Langkah kebijakan dalam periode ini antara lain pelibatan Angkatan Bersenjata Iran khususnya bantuan fasilitas kesehatan, penerapan kebijakan social distancing seperti penutupan sejumlah pusat keramaian/taman kota, puluhan juta warga Iran menjalani screening massal COVID-19 serta pengalokasian dana dari APBN Iran dan National Development Fund of Iran untuk subsidi pangan/obatan-obatan menghadapi COVID-19. Dalam periode ini, Presiden Rouhani menyatakan optimis dalam penanganan COVID-19 bahkan Supreme Leader Ali Khamenei memberikan gelar ‘Syuhada’ bagi para korban/pihak berjasa dalam penanganan wabah COVID-19 termasuk pekerja medis di Iran.

Memasuki bulan April 2020, jumlah kasus COVID-19 di Iran menurun sehingga diputuskan penyesuaian pendekatan Social Distancing menjadi Smart Distancing,yaitu ‘penormalan’ kembali kegiatan kemasyarakatan beresiko kecil/menengah mulai 11 April 2020 disusul kegiatan beresiko tinggi pada 19 April 2020. Melalui Smart Distancing ini, lalu lintas antar kota/provinsi dibuka kembali. Dalam PERIODE ini, nomalisasi kegiatan ekonomi masuk dan menjadi bagian dari kebijakan terkait penanganan COVID-19, tujuannya adalah untuk memulihkan roda perekonomian. Tantangan dalam periode ini tidak lagi hanya COVID-19 tapi juga pemulihan perekonomian dan lapangan pekerjaan. Pendekatan dalam periode ini mencakup antara lain normalisasi aktivitas ekonomi, pembukaan kembali hampir semua lintas batas Iran dengan negara tetangga, pembukaan kembali sejumlah mesjid di wilayah kategori putih (yaitu wilayah tanpa penambahan kasus/kematian dalam jangka waktu dua minggu berturut-turut) dimulai pada 4 Mei 2020, pembukaan universitas kedokteran pada pertengahan Mei 2020 disusul universitas lainnya pada awal Juni 2020, serta bantuan dana Bank Sentral Iran sebesar US$ 5 miliar kepada perusahaan UMKM yang tidak mem-phk karyawannya selama pandemik. Intinya, pendekatan periode ini lebih menitik-beratkan pada upaya pemulihan ketahanan ekonomi.     

Periode seputar akhir Mei hingga memasuki bulan Juni 2020 menunjukkan tanda-tanda gelombang kedua COVID-19 sehingga pendekatan kesehatan dan pemulihan ekonomi mulai dijalankan secara bersamaan (simultaneous), namun bisa kembali bersifat restrictive jika trend penyebaran kembali terus meningkat. Presiden Rouhani mengingatkan gelombang kedua dapat memuncak pada seputar musim gugur atau musim dingin mendatang dan menegaskan pentingnya kesadaran individu dalam berdealing dengan COVID-19. PERIODE ini tampak bercirikan kombinasi seimbang antara pendekatan kesehatan dan pemulihan /kelancaran perputaran roda ekonomi.    

Selain uraian penanganan wabah COVID-19 pada ketiga periode di atas, beberapa hal  berikut menggambarkan potret Iran dalam hal ini antara lain: pertama, penghargaan tinggi berupa gelar ‘Syuhada’ pada pihak yang berkorban/berjasa membantu penanganan wabah COVID-19, kedua, adanya kesediaan sejumlah pejabat tinggi negara termasuk anggota Parlemen dan Angkatan Bersenjata menyisihkan sebagian penghasilan guna membantu penanganan wabah COVID-19, ketiga, Iran dapat segera memenuhi dan memproduksi sebagian besar kebutuhan alat kesehatan menghadapi wabah COVID-19 karena telah terbiasa mandiri dalam situasi/kondisi di bawah sanksi ekonomi dan keempat, selain untuk kebutuhan dalam negeri, Iran juga mengekspor alat kesehatan termasuk test-kit ke sejumlah negara termasuk Jerman dan Turki. Kelima, pada tataran high politics, Presiden Rouhani gencar mengimbau kerjasama penanganan wabah COVID-19 antara sesama anggota masyarakat internasional dalam forum regional/multilteral atau secara bilateral dengan pemimpin negara-negara sahabat termasuk dengan Presiden RI Joko Widodo.     

Akhirnya tampak penanganan wabah COVID-19 umumnya dimulai melalui pendekatan ‘perlawanan’ terhadap penyakit berupa kebijakan pembatasan, lalu diikuti pelonggaran pembatasan tersebut sebagai langkah/upaya ‘penyelamatan’ ekonomi sebelum diputuskan dengan pola ‘kompromi’ berupa kombinasi kedua pendekatan tersebut, sesuai pandangan banyak pihak bahwa “mau tidak mau kita harus berdamai/hidup berdampingan dengan wabah COVID-19, tanpa harus terpapar COVID-19”. Untuk dapat menjalankan ini diperlukan kemauan/kesadaran semua pihak termasuk diri kita masing-masing untuk mematuhi berbagai protokol kesehatan. Inilah kunci keberhasilan dalam menghadapi wabah COVID-19, dan kita harus optimis untuk itu. 

(Ulasan singkat di atas merupakan pandangan pribadi penulis)

Priadji Soelaiman
Pemerhati Kebijakan dan Politik Luar Negeri, bekerja di KBRI Tehran sebagai Pejabat Fungsi Politik

Mengenang Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara

Mengenang Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara

Menurut KBBI, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Etimologi kata pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan.

Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) yang selalu diperingati setiap tanggal 2 Mei adalah sekaligus merupakan hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Sosoknya disematkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional dikarenakan beberapa gebrakan yang Beliau lakukan untuk Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Beliau merupakan tokoh pelopor pendidikan Indonesia dan pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa.  

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat adalah nama aslinya, pada tahun 1992, namanya berubah menjadi Ki Hadjar Dewantara. Beliau tumbuh dalam lingkungan lingkungan keluarga Kadipaten Pakualaman, putra dari GPH Soerjaningrat dan cucu Pakualam III. Beliau merupakan lulusan ELS, yakni Sekolah Dasar Eropa/Belanda dan sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tetapi tidak tamat karena sakit.

Pada zaman penjajahan Belanda – seperti yang kita semua ketahui – pendidikan adalah hal yang sangat langka, hanya untuk orang terpandang (keluarga priyayi) dan orang asli Belanda yang diperbolehkan untuk mendapatkan pendidikan. Mengingat sifat Ki Hadjar Dewantara yang independen, non-konfromis, dan merakyat; maka Beliau tidak tinggal diam dengan sikap yang ditunjukkan para penjajah. Ia aktif dalam berbagai organisasi pergerakan seperti Boedi Oetomo, Insulinde, dan Indische Partij. Beliau adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, politisi, kolumnis, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

Selain aktif dalam pergerakan, Ki Hadjar Dewantara adalah seorang penulis dan wartawan di beberapa surat kabar. Tulisan-tulisannya dikenal tajam dengan semangat antikolonialisme sehingga Beliau sering berurusan dengan Belanda. Pada tanggal 13 Juli 1913, salah satu tulisannya yang terkenal dan dimuat dalam surat kabar De Express  ialah Als Ik Eens Nederlander Was yang berarti Seandainya Saya Orang Belanda. Tulisan tersebut mengkritik pemerintah Belanda yang menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah dirampas sendiri kemerdekaannya di mana pesta tersebut bahkan dibiayai oleh bangsa yang telah dirampas kemerdekaannya. Karena berani menentang Belanda, maka Beliau pun diasingkan ke Belanda selama enam tahun.

Namun pengasingan bukanlah hambatan, Beliau tidak menyerah dan belajar banyak hal dalam bidang politik dan pendidikan. Beliau tergugah dengan gagasan tokoh-tokoh pendidikan dari negara lain, seperti Friederich Wilhelm August Frobel yang menjadikan permainan sebagai media pembelajaran dan Maria Montessori yang memberikan kemerdekaan kepada anak-anak. Sekembalinya dari pengasingan, Beliau mendirikan Taman Siswa pada tahun 1992 yang diperuntukkan bagi para pribumi agar dapat memperoleh hak pendidikan seperti kaum priyayi dan orang-orang Belanda.

Tujuan didirikannya Taman Siswa adalah untuk mewujudkan Indonesia yang tertib dan damai. Beliau mendirikan Taman Siswa untuk mematahkan sistem pendidikan Belanda yang mengutamakan intelektualistis, individualistis, dan materialistis. Kehadiran Taman Siswa membuka peluang bagi semua orang untuk mengenyam pendidikan secara mudah dan murah tanpa terkendala status sosial. Prinsip dasar Taman Siswa adalah pendoman bagi guru yang dikenal dengan Patrap Triloka yang memiliki unsur-unsur.

  1. ing ngarsa sung tulada “(yang) di depan memberi teladan”,
  2. ing madya mangun karsa “(yang) di tengah membangun kemauan/inisiatif”,
  3. tut wuri handayani  “dari belakang mendukung”.

Sudah semestinya kita meneladani semangat juang Ki Hadjar Dewantara. Zaman sekarang di mana pendidikan merupakan hal yang mudah untuk didapat dan diakses, peluang inilah yang harus kita manfaatkan dengan menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Selain itu, pendidikan sendiri tidak mesti hanya dengan menjadi salah satu siswa di sebuah sekolah atau duduk manis mendengarkan penjelasan guru di kelas. Banyak pelajaran yang bisa kita peroleh dari terjun langsung ke masyarakat, masih banyak hal yang belum kita ketahui hanya dengan duduk di kelas. Selama ini, pendidikan Indonesia berat sebelah hanya memfokuskan pada pengetahuan para siswanya. Apabila pendidikan di Indonesia lebih fleksibel dengan menyeimbangkan antara skill pengetahuan dan keterampilan siswa, maka pendidikan Indonesia bisa berkembang dengan pesat.

Ada yang berbeda dengan peringatan pada tahun ini dikarenakan pandemi Covid-19 yang sudah merebak di Indonesia. Hardiknas 2020 yang mengusung tema “Belajar dari Covid-19” akan diselenggarakan dengan meniadakan upacara bendera untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Kemendikbud akan menyelenggarakan upacara bendera secara virtual melalui siaran langsung di kanal youtube KEMENDIKBUD RI pukul 08.00 WIB.

Akhir kata IPI Iran mengucapkan pantun penutup, “Soto babat sate rusa. Hari senja merah merona. Alangkah hebat anak Indonesia. Tetap belajar walau sedang Corona”

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020

Dian Islamiati

Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan
  2. https://sejarahlengkap.com/indonesia/sejarah-hari-pendidikan-nasional
  3. https://geotimes.co.id/kolom/pendidikan/tamansiswa-ki-hadjar-dewantara-dan-sistem-pendidikan-kolonial/
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Taman_Siswa
  5. https://www.kalderanews.com/2020/05/7-cara-baru-milenialis-rayakan-hardiknas-saat-pandemi-covid-19/

Belajar dari Kasus Iran, IPI Iran Imbau Warga Patuhi Pemerintah

Belajar dari Kasus Iran, IPI Iran Imbau Warga Patuhi Pemerintah

Sejak kasus pertama COVID 19 ditemukan pemerintah Iran di kota Qom pada 19 Februari 2020 selama sebulan peningkatan kasus melonjak sedemikian cepat dan saat ini (pertanggal 21 Maret 2020) Kementerian Kesehatan Iran menyebutkan ada total 20.610 kasus, 1.556 meninggal dunia dan 7.635 yang berhasil dipulihkan. Dengan data ini, Iran tercatat sebagai salah satu negara dengan kasus kematian tertinggi di luar Tiongkok.

Faktor yang menyebabkan kasus terinfeksi COVID 19 di Iran begitu tinggi, diantaranya penyelenggaraan Pemilihan Umum dua hari setelah kasus pertama COVID 19 diumumkan, kebijakan pemerintah yang menolak melakukan lockdown sebagaimana di negara lain yang berhasil menekan laju penyebaran wabah, mobilitas warga yang tetap tinggi dengan tetap beraktivitas di luar rumah dan perayaan tahun baru Persia yang membuat warga tetap cenderung melakukan kerumunan. 

Dalam melakukan pencegahan, pemerintah Iran tidak mengambil kebijakan lockdown dengan alasan ekonomi. Dengan diberlakukannya embargo dan sanksi ekonomi dari Amerika Serikat, perekonomian Iran menjadi bergantung pada pergerakan ekonomi warganya. Pemberlakuan lockdown menurut pemerintah Iran akan menimbulkan efek baru yang jauh lebih parah, karena itu pemerintah berharap pada ketaatan warganya untuk menerapkan program social distancing dan isolasi secara mandiri. Pemerintah Iran meliburkan sekolah dan mengurangi jam kerja, untuk menghindarkan masyarakat banyak melakukan aktivitas di luar rumah. 

Untuk melakukan pencegahan, Iran juga memproduksi masker dan hand sanitizer secara massal dan membagikannya secara gratis. Dengan pelibatan militer dan kepolisian, penyemprotan cairan disinfektan rutin dilakukan setiap hari di tempat-tempat publik yang tetap aktif. Pemerintah juga aktif melakukan pengontrolan dan pemeriksaan kesehatan termasuk melakukan test corona sampai 12 ribu setiap harinya. Sementara untuk penanganan, pemerintah Iran membangun dan membuka rumah sakit darurat khusus penanganan penderita Corona. Melakukan isolasi kepada warga yang tersuspect Corona dan memproduksi obat yang disebut mampu menyembuhkan pasien terinfeksi Corona. Disebutkan obat tersebut telah menjalani proses ujicoba dan telah digunakan kepada sejumlah pasien. Pasien terinfeksi disebutkan mengalami peningkatan kondisi kesehatan dalam 2-3 hari setelah sebelumnya mengalami kondisi kritis. Bahkan disebutkan, salah seorang warga Iran, seorang nenek tua yang berusia 104 tahun dinyatakan sembuh total setelah mengkonsumsi obat tersebut dan bisa kembali ke rumah.

Dengan penanganan yang serius, Iran berhasil menyembuhkan 7.635 pasien dengan tingkat keberhasilan penyembuhan mencapai lebih dari 30%, tertinggi bahkan dari negara yang jauh lebih maju seperti Italia dan Amerika Serikat. 

Hanya saja, patut disayangkan, setiap harinya dengan kasus baru hampir selalu mencapai 1000 kasus, lebih dari 100 warga setiap 24 jam yang tidak bisa diselamatkan nyawanya. Penyebabnya adalah kekurangan layanan kesehatan seperti peralatan medis dan obat-obatan dikarenakan Iran tidak mampu melakukan belanja peralatan medis dan obat-obatan di luar negeri karena sanksi berat yang diterapkan Amerika Serikat atas Iran. Keterbatasan yang dimiliki membuat Iran tidak mampu memberikan pelayanan maksimal pada ribuan pasien yang terinfeksi Corona secara bersamaan. Karena itu, yang diharap oleh pemerintah Iran untuk menahan laju penyebaran wabah adalah ketaatan warga terhadap imbauan pemerintah, untuk tetap berdiam di rumah atau menerapkan social discanting secara ketat dan menggunakan pelindung kesehatan ketika harus ke luar rumah. Sehingga penularan lebih parah bisa dicegah. 

Belajar dari kondisi dan situasi berat yang dihadapi Iran, IPI Iran mengimbau kepada masyarakat Indonesia di tanah air untuk mengikuti arahan dan imbauan pemerintah dan otoritas kesehatan sepenuhnya. Berdiam di rumah atau menerapkan sosial distancing secara ketat ketika harus keluar rumah adalah cara terbaik untuk menghindarkan diri tertular wabah Corona dan menjadi medium tertularnya virus kepada orang lain.

Berikut imbauan IPI Iran 2019-2021 secara lengkap terkait kasus pandemi COVID 19. 

World Poetry Day – Merangkai Kata dalam Puisi

World Poetry Day – Merangkai Kata dalam Puisi

Banyak hal yang berseliweran dalam pikiran kita namun tidak cukup hanya diungkapkan secara lisan. Sedangkan pikiran atau pun rasa tersebut terasa ganjil apabila hanya dengan berbicara. Masih banyak hal yang belum dapat terungkap karena beragam ihwal. Keberanian yang lenyap seketika sebelum kita sempat mengutarakannya dan ada kemungkinan apa yang kita sampaikan tidak dapat dijangkau dalam waktu, jarak atau pun rasa.

Ada metode lain yang bisa kita gunakan dalam mengungkapkan hal yang tak dapat terungkap yakni melalui tulisan, merangkai kata-kata dalam bait yang terikat oleh irama dan rima menjadi sebuah puisi indah dan penuh makna. Tutur kata dalam puisi mampu mencakup banyak makna, suara hati sarat semantis. Banyak pujangga dunia maupun negeri yang telah menorehkan banyak karya dan puisi mereka yang tetap dinikmati hingga saat ini.

Taman

Chairil Anwar, Maret 1943

Taman punya kita berdua

tak lebar luas, kecil saja

satu tak kehilangan lain dalamnya.

Bagi kau dan aku cukuplah

Taman kembangnya tak berpuluh warna

Padang rumputnya tak berbanding permadani

halus lembut dipijak kaki.

Bagi kita bukan halangan.

Karena

dalam taman punya berdua

Kau kembang, aku kumbang

aku kumbang, kau kembang.

Kecil, penuh surya taman kita

tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini

Taufik Ismail, 1966

Tidak ada pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

Duli Tuanku ?

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus.

Oh Maula-Ku

karya : Yusuf Ali Agustin 

Tak ada gelap…

Tak sekelam jauh darimu

Tak ada terang

Tak secemerlang kasihmu…

Tak ada riang, di relung sukma ku…

Ketika santiranmu, mulai memudar

nan lenyap…

Kau buatku rindu, seraya

Mengobral kesemrungahan ini…

Ku berharap,

Kau tetap menjadi senja…

yang menenggelamkan semua,

termasuk nafas ini…

Kini… yang tersisa…

hanya aroma do’a tawa…

dan semerbak harum air mata… 

Ku mencari suaramu… 

Dalam keterenyuhan, penuh sanjungan…

lalu ku mencari wujudmu… 

Tetapi bukan sekedar celoteh ‘wujud’ yang mereka rundungkan… 

dan amat terus ku mencarimu… 

sehingga kuasa,merangkul

keabadian bersamamu

Oh Maula-Ku

Puisi untuk Dare

karya : sz

Serpihan lara

Inilah ketika cinta tak berpenghujung

Menggurat luka dalam sekeping hati yg kemarin sempat berangan

Membuat langkah lunglai tak bertenaga  

Membuat udara tak lagi terasa dan tatapan hambar tak bertujuan

Haruskah aku teriak merobek malam

Haruskah ku bangunkan setan-setan yg malas menggangu selembar iman

Namamu tak lagi jadi puisi dalam roman ku

Sebaliknya telah menjadi ilalang tajam yang membelah keinginan

Menunggumu rasanya membuang umur yang tersisa

Tapi jauh meninggalkan mu rasanya membuang cerita indah yang telah ada

Inilah dilema cinta yang kini jadi teman setia

Wahai malam, temanilah aku bernyanyi

Wahai udara

Koyaklah hatiku yg telah lantak

Biar sakitku semakin kentara

Matipun sambil memeluk lara

Silaturahim

karya: haidareljihad

Aku Indonesia

Kamu pun Indonesia

Begitu juga mereka, Indonesia

Kita tidak saling mengenal

Namun, di kala itu kita saling

berbagi dan memahami

Tawa-tiwi telah tergambarkan

Sedih patah hati telah terukir di hati

Saat itu, di Amman

Silaturahim itu terjadi saat itu

Silaturahim terikat kuat kala itu

Silaturahim itu menjadikan keluarga yang satu

Dan di Amman-lah

Sekeping hatiku tertinggal

Siapa Kamu

karya : haidareljihad

Tersadar langit begitu biru

Berasa dalam hati ada kamu

Tersentuh angin hari biru

Ternyata hari ini pun ada kamu

Tersedu malu aku merasakanmu

Gundahku hilang, ada kamu

Tidurku tenang, ada kamu

Setiap langkah aku pergi, ada kamu

Susah nikmatku, selalu ada kamu

Ada kamu, aku malu

Tiada kamu, aku rindu

Kamu… Akankah kita bertemu??

Indonesia,Cerdikiawan

Karya : Hamba Allah

Banyak ragam terbilang

Semua bersatu padu katanya

Indonesia memang kuat

Kuat dilawan bangsa sendiri

Bisakah kita tetap mengasihi walau membiru?

Sempatkan tuk pulang ke beranda

Kabarkan kepada siapa saja yang berkuasa

Di tanah air ini

Sebarkan tafsir pluralisme yang hakiki

Indonesia, Cerdikiawan

Menggarungi Jalan Menyatakan Mimpi

Karya : salsa

Kabut yang pekat membungkus suasana

Menutupi jalan menuju mimpi

Aku menengok kebelakang

Sadar bahwa aku telah melangkah sejauh ini

Jalanan penuh bebatuan tajam

Tanjakan terjal

Ditemani hujan es, badai, angin dan kekhawatiran

Setimbun rasa ingin tahu ku mencapai puncak impian

Membuatku lupa rasa sakit diotot ku

Lupa rasa sakit setelah ku tengok sepatu kesayangan hasil tabunganku telah berlubang hingga bisa kulihat ibu jari kaki ku berdarah

Mungkin perjalanan ini butuh istirahat

Ku telaah kehidupan bersama jujurnya kopi yang pahit

Embun itu mereda dan kulihat jalan

Hanya ada satu jalan

Hanya ada satu pilihan

Tetap ku garungi jalan itu menuju nyata nya mimpi

Kamu

Karya : unknown

Sinaran surya, hangat dirimu

Malam yang indah, langit yang megah

Mata yang binar, dihiasi bintang-bintang

Angin yang syahdu, menerbangkanku

Mengantarkan ku padamu puan

Semesta raya, merayakan dirimu

Bersemarak dekat dan penuh

Semoga riuhnya bergemuru di udara

Bertanya-tanyalah kau curiga

Dari mana asal suara

Dari sini, dari aku

Hanya itu

Karya : salsa

Ketika senja mulai menyemburatkan warnanya

Jiwa-jiwa tertunduk merenung atas apa yang sudah ia lakukan

Memikirkan hal apa yang harus mereka berikan untuk sebuah pertanggung jawaban

Langit mulai menyerap pandangan-pandangan

Dan perasaan campur aduk

Yang tak sanggup di ucap oleh bibir

Para makhluk bertekuk lutut

Tersungkur

Terbata-bata mengingat perih

Pada akhirnya, tidak ada yang tersisa

Pada akhirnya, hanya Tuhan lah itu sendiri, dengan kemurnian

Hanya itu untuk mengimani-MU yang tersimpan dalam kalbu

Puisi adalah karya sastra sarat semantik, kamu bisa membacanya berulang-ulang untuk memahami maknanya, bisa jadi ketika pertama kali kamu memembacanya dengan yang kedua kali memiliki arti berbeda. Puisi bisa dimaknai dengan berbeda tergantung ilmu pengetahuan, pengalaman ataupun pola pikir.

SELAMAT HARI PUISI INTERNASIONAL, SELAMAT BERPUISI.