Mempersembahkan Sembelihan di Hari Idul Qurban

Mempersembahkan Sembelihan di Hari Idul Qurban

Makna Idul Qurban

Idul Qurban berasal dari dua kata dalam bahasa Arab, Ied dan Qurban. “Ied” dari kata ‘aada – ya’uudu, bermakna ‘kembali’. Qurban, dari kata qaraba-yaqrabu, bermakna ‘mendekat’. ‘Qarib’ adalah ‘dekat’, dan ‘Al-Muqarrabuun’ adalah ‘(hamba) yang didekatkan’. Idul Qurban kemudian bisa kita maknai sebagai sebuah hari dimana kita berupaya kembali pada hakikat kemanusiaan kita yang mendambakan dekat dengan yang Maha Rahim. Banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mendekat kepada-Nya (taqarrub Ilallah), Jalaluddin Rumi menyebut, sebanyak helaan nafas manusia. Allah SWT pun memberi motivasi, “Wahai orang-orang yang beriman ! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung” (Qs. Al-Maidah : 35).

Salah satu cara hamba untuk lebih mendekat kepada-Nya adalah dengan menginfakkan harta, termasuk berqurban, “Ketahuilah, sesungguhnya infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah).” (Qs. At-Taubah : 99).

Tentu saja yang kita qurbankan adalah sesuatu yang kita cintai, sesuatu yang sebenarnya sangat berat untuk kita lepaskan. Sebab belumlah disebut berqurban jika yang kita keluarkan adalah sesuatu yang membuat kita tidak merasa kehilangan apa-apa, sesuatu yang ringan hati kita keluarkan. “Kamu sekali-kali tidak akan sampai pada kebajikan (Al-Birr), sebelum kamu menginfakkan (tunfiquu) bagian (harta) yang kamu cintai (mimma tuhibbuun). Dan apa saja yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali-Imran : 92). Artinya, seseorang yang misalnya bergaji sampai 60 juta per bulannya, dengan mengeluarkan dana sejuta untuk menyembelih kambing di hari ini, apakah bisa dianggap berqurban ? apakah itu sudah sampai pada tingkat ‘menginfakkan bagian harta yang dicintai’ ? apakah jiwa merasakan adanya rasa berqurban dibanding banyaknya sisa harta yang dimiliki ? sebagaimana ayat di atas, bisakah itu mencapai derajat al-Birr ?. Bisa kita bayangkan, bagaimana rasa taqarrub nabi Ibrahim as yang bersedia mengurbankan anak kesayangannya di altar persembahan atau sebagaimana Imam Ali as dan keluarganya yang memberikan makanan yang disukainya sehingga surah Al-Insan turun untuk menceritakan keutamaan mereka. Atau justru kaum paganisme  yang menyembelih yang tercantik di antara gadis-gadis mereka untuk bertaqarrub kepada tuhan-tuhan mereka.

Tentu kita butuh refleksi diri. Setiap tahun tidak sedikit dari kita yang menyisihkan dana untuk merayakan hari ini dengan penyembelihan hewan qurban. Namun adakah transformasi jiwa yang terjadi ?. Adakah saudara-saudara kita itu merasa lebih dekat kepada Allah yang Maha Besar ?. Ketika kedekatan dengan Allah tidak bertambah, jiwa tidak menjadi semakin halus dan lembut, jasad tidak semakin beramal shalih, pikiran tidak semakin cemerlang dan bijaksana tentu ada yang salah dari ritual pengorbanan mereka. Padahal sebenarnya lewat hari ini mereka dapat menemukan bukan saja amal terbaik, tetapi didekatkan oleh Allah sedekat-dekatnya sampai mencapai derajat ‘Al-Muqarrabuun’.

“Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (Qs. Al-Hajj : 37). Hewan ternak yang saudara-saudara qurbankan hari ini sesungguhnya, bukan dagingnya, bukan darahnya, bukan tulang belulangnya, bukan harganya melainkan ketaqwaanlah yang bisa mencapai-Nya. Semoga kita bisa berqurban dan berinfaq sampai pada titik kita benar-benar berat melakukannya, sebab adanya rasa cinta yang sangat pada yang kita qurbankanlah yang  bisa mendekatkan kita pada-Nya.

Idul Adha, Memaknai Penyembelihan

Nama lain Idul Qurban, adalah Idul Adha. Adha memiliki makna penyembelihan. Harus ada yang kita sembelih pada hari ini. Bukan persoalan apa kita memiliki harta atau tidak untuk menyembelih. Kita yang termasuk belum memiliki kemampuan untuk menyembelih hewan qurban, sesungguhnya telah diberi kemampuan untuk melakukan prosesi penyembelihan lain, menyembelih ‘kambing’, ’sapi’, maupun ‘hewan ternak’ lain yang berjubelan dan beranak pinak dalam diri kita. Hewan ternak sesungguhnya tamsil dari dominasi hawa nafsu dan syahwat kita. Tamsil segala kesesatan dan keburukan; kebodohan, kedengkian, ketakaburan, buruk sangka, kemalasan, kecintaan pada hal-hal material dan aspek lainnya yang harus kita sembelih dari diri kita. Allah SWT menyebut orang-orang yang buta hati, akal dan pikirannya lebih sesat dari hewan ternak. Pendidikan dan pergaulan yang salah bisa jadi telah merubah kita yang manusia menjadi hewan-hewan ternak tanpa sadar.

Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi-ye Ma’nawi menafsirkan empat ekor burung yang disembelih dan dicincang oleh nabi Ibrahim as dalam surah Al-Baqarah ayat 260 sebagai empat ekor unggas yang ada dalam diri kita. Keempat ekor unggas itu adalah bebek yang mencerminkan kerakusan, ayam jantan yang melambangkan nafsu, merak yang menggambarkan kesombongan dan gagak yang melukiskan keinginan. Dan menurut Rumi kita hanya bisa kembali hidup sebagaimana manusia ketika kita berani menyembelih keempat unggas ini, sebagaimana Ibrahim as mencincangnya. Di antara keempat unggas ini, bebeklah yang paling mewakili karakter kebanyakan kita. Tentang bebek Rumi bercerita :

Bebek itu kerakusan, karena paruhnya selalu di tanah                                                                       

Mengeruk apa saja yang terbenam, basah atau kering

Tenggorokannya tak pernah santai, sesaatpun                                                                     

Ia tak mendengar firman Tuhan, selain makan minumlah!

Seperti penjarah yang merangsek rumah-rumah

Dan memenuhi kantongnya dengan cepat                                                                          

Ia masukkan ke dalam kantongnya baik dan buruk                                                     

Permata atau kacang tiada beda                                                                                      

Ia jejalkan ke kantong basah dan kering                                                                             

Kuatir pesaing akan merebutnya                                                                                        

Waktu mendesak, kesempatan sempit, 

Ia ketakutan…..              

dengan segera di bawah tangannya                                                                            

Ia tumpukkan apapun….

Better late than never. Sudah waktunya sekarang, tidak harus selalu menunggu hari seperti ini untuk melakukan penyembelihan. Bermula hari ini, kita persembahkan diri kita yang telah tersembelih dari sifat-sifat yang sepantasnya hanya dimiliki hewan ternak kepada Allah Dzat yang Maha Suci, yang cinta kepada mereka yang senantiasa menyucikan dan menyembelih dirinya.

Idul Adha, Memaknai Kembali

 “Dan sekalipun telah Kami perintahkan kepada mereka, “Bunuhlah dirimu atau keluarlah dari kampung halamanmu,” ternyata mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka.” (Qs. An-Nisa : 66). Sudah waktunya pula kita belajar untuk ‘keluar dari kampung’ kita : belajar untuk keluar dari zona nyaman dan memerdekakan diri dari dominasi nafsu jasadiyah menuju jiwa kita yang sejati. Masih ada dunia lain di luar ‘kampung’ kita ini, yang bisa jadi selama ini kita anggap berbahaya. Juga harus ada upaya untuk keluar dari keegoisan diri kita dan belajar memahami orang lain. Memahami mereka yang selama ini kita kutuk karena berbeda.             

Dalam surah An-Nisa’ ayat 100 Allah SWT berfirman, “Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dalam syarah 40 hadits Imam Khomeini ra menafsirkan rumah pada ayat ini adalah ego kita. Ya, rumah yang paling berat kita tinggalkan adalah kepentingan-kepentingan keakuan kita. Setiap hari kita sibuk, kecapaian dan kelelahan hanya untuk mempromosikan citra kita dihadapan manusia, hanya untuk memenuhi kepentingan diri kita. Kita masih berputar-putar di area rumah dan kampung kita, tanpa selangkahpun keluar. Rumah dan kampung telah menjadi zona nyaman yang sayang untuk kita tinggalkan, sebab melangkah keluar selalu membutuhkan pengorbanan, butuh kepayahan dan keletihan. Dalam surah Ali Imran Allah SWT berfirman, “Segeralah kamu pada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasanya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang taqwa, yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya dalam suka dan duka, orang yang sanggup mengendalikan amarahnya, yang memaafkan orang lain dan sesungguhnya Allah suka dengan orang yang berbuat baik.” Bersegera menuju Allah SWT berarti melangkah menjauh dari rumah keakuan kita, meninggalkan kampung ego kita, kembali keharibaan-Nya yang penuh kasih. Kembali kepada-Nya tidaklah selalu berarti mati dan meninggalkan dunia ini. Rasulullah saww bersabda, “Mutu qabla antamutu, matilah sebelum kamu mati.” (Bihar Al-Anwar 66:317). Kematian pada kata perintah mutu adalah kematian mistikal, kematian ego atau kematian diri. Ibnu Arabi menyebutnya al mawt al-iradiy, kematian keinginan.

Adalah benar, bahwa kita adalah makhluk organis –begitu kata A.N. Whitehead– yang bebas menentukan hidup. Kita bebas menentukan atau merancang jenis hidup apa yang kita inginkan. Kita bebas untuk memilih, hidup sebagai manusia atau berkubang seperti hewan ternak. Tetap berleha-leha di dalam rumah dan kampung yang bukan negeri kita sebenarnya, atau berhijrah kembali menuju-Nya.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (Qs. Al-Fajr : 27-28)

Wallahu ‘alam bishshawwab

Selamat Idul Adha 1440 H.

Ismail Amin

Presiden IPI Iran 2019-2020

IPI Iran Meriahkan Acara Lomba Peringatan Kemerdekaan di Mellat Park Tehran

IPI Iran Meriahkan Acara Lomba Peringatan Kemerdekaan di Mellat Park Tehran

Bertempat di Mellat Park, sebuah taman kota di Tehran utara, KBRI Tehran bersama dengan pelajar dan diaspora Indonesia menggelar acara perlombaan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, Kamis (8/8). Duta Besar Indonesia untuk Iran Octavino Alimuddin dalam sambutannya mengawali rangkaian lomba mengatakan, momentum peringatan kemerdekaan RI adalah momen yang sangat spesial untuk dijadikan ajang buat memperat persaudaraan dan semangat kebangsaan. Ia berkata, “Dengan tersebarnya kita di banyak titik di Iran serta kesibukan dengan aktivitas masing-masing membuat kita tidak selalu bisa berkumpul bersama. Momen memperingati hari kemerdekaan ini, adalah momen yang sangat kita nanti untuk kita bisa bersilaturahmi dan berbagi keceriaan bersama.”

“Rangkaian lomba yang akan kita adakan ini juga adalah dalam rangka kesyukuran kita kepada Allah swt atas nikmat kemerdekaan yang kita rasakan dan sangat perlu kita jaga dengan mengawalinya dengan menjaga persatuan kita sebagai anak bangsa. Karenanya terimakasih kepada semua yang hadir, yang datang dari berbagai kota meski jaraknya tidak dekat untuk ikut memeriahkan acara yang kita adakan hari ini.” Tambahnya dihadapan puluhan orang yang hadir.

Seusai menyampaikan sambutan, Dubes Octavino secara resmi melepas peserta jalan sehat sebagai agenda pertama dari rangkaian lomba yang diadakan yang berjalan mengelilingi taman yang berada di kaki pegunungan Alborz tersebut. Senam dan jalan sehat berjalan lancar dibawah komando Atase Pertahanan KBRI Tehran, Kol. Harwin Dicky Wijanarko. Seusai sarapan, acara lomba yang terdiri dari kategori, dewasa dan anak-anak dimulai pukul 9.00. Diantara jenis lomba kategori anak-anak yang dipandu oleh Biogen Akbar adalah lomba memasukkan pensil ke dalam botol, lomba lari memasukkan bendera, music mat, memindahkan bola pingpong dan memindahkan karet dengan sedotan. Sementara jenis lomba kategori dewasa yang dipandu Ridwan Satriawan adalah balap karung, lomba bakiak, kereta balon dan lomba memindahkan pingpong. 

Teriakan penonton memberi semangat kepada peserta lomba termasuk tawa atas aksi lucu atau peserta yang melakukan kesalahan membuat acara lomba penuh keceriaan, termasuk ketika terjadi insiden celana melorot salah seorang peserta lomba lari karung. Dubes Octavino bersama dengan pejabat KBRI lainnya tidak terkecuali untuk ikut juga sebagai peserta lomba dan mengundang gelak tawa ketika melakukan kesalahan dalam lomba. 

Acara yang berlangsung 4 jam dan  berakhir pukul 13.00 siang tersebut ditutup makan siang bersama dengan menu ketoprak dan nasi campur. Rangkaian lomba masih terus berlanjut di hari Jumat (9/8) dan pada tanggal 17 Agustus 2019 seusai upacara peringatan kemerdekaan. Jenis lomba yang akan diperlombakan diantara lain tenis meja dan tarik tambang untuk kategori dewasa, lomba lari kelereng dan lomba makan krupuk untuk kategori anak-anak. 

Acara lomba dihadiri kurang lebih seratus orang yang datang dari berbagai kota, diantaranya dari Syiraz, Kish, Masyhad, Kerman, Qom, Ghorghan dan Tehran sendiri. Sejumlah pengurus dan anggota IPI Iran juga turut meramaikan acara yang diadakan KBRI Tehran tersebut. 

Berikut diantara foto-foto acara lomba dalam rangka memperingati kemerdekaan RI ke-74 yang penuh keseruan dan kegembiraan:

Credit photo by Tety Mudrika Hayati
Credit photo by Tety Mudrika Hayati
Credit photo by Tety Mudrika Hayati
Credit photo by Tety Mudrika Hayati
Credit photo by Tety Mudrika Hayati
Argumen Filosofis Pembuktian Kedudukan Perempuan Sebagai Manusia

Argumen Filosofis Pembuktian Kedudukan Perempuan Sebagai Manusia

Salah satu bentuk masalah sejarah pemikiran manusia adalah pemahaman kedudukan manusia, defenisi dan keutamaan kehadirannya. Ketika ingin menjelaskan kedudukan manusia, itu juga kembali kepada defenisinya serta keutamaan-keutamaannya. Bentuk peradaban-peradaban selalu berhubungan dengan penjelasan kedudukan ini. Seperti terjadinya perubahan pandangan tentang manusia di masa kaum Sofis (kelompok cendekiawan yang memandang manusia sebagai suatu hakikat atau kebenaran) sampai sebelum masa ini, dimana kaum filosof lebih banyak bergelut dengan pembahasan kosmologi.

Disini dipahami kaum filosof lebih cenderung berkutat pada pembahasan seperti bagaimana menemukan dunia, pembuktiannya dan yang lainnya. Namun dengan penemuan kaum Sofis, filosof lebih memusatkan diri lagi (manusia sentris). Dalam pandangan baru, ketika insan masyarakat ditempatkan di segala sesuatu harus diperhadapkan di kehidupan materi, kesejahteraan dan kesenangan-kesenangan lainnya.

Setelah penemuan kaum Sofis, peradaban baru dalam pandangan dunia Barat mulai terbangun dan pandangan pandangan kota-kota besar dan pemilik peradaban seperti Athena dengan cepat akan mengalami perubahan.

Pada akhirnya, lahir defenisi baru tentang manusia dan penjelasan kedudukannya, sumber perubahan masyarakat, ekonomi, akhlak dan terbentuknya pemikiran pemikiran baru dalam keilmuan dan peradaban.

Penjelasan kedudukan perempuan sebagai manusia juga merupakan pembahasan penting karna di zaman dahulu secara khusus memiliki pengaruh besar dalam kehidupan mereka dan secara umum dalam jenis kehidupan manusia. Pembahasan khusus kali ini, adalah berkenaan penjelasan pandangan-pandangan  pemahaman manusia mengenai perempuan. Pada akhirnya kita akan mengetahui pemikiran-pemikiran apa yang penting dalam pandangan kedudukan dan kondisi perempuan sebagai manusia dalam sejarah pemikiran.

Kedudukan Perempuan sebagai Manusia secara Filosofis

Maksud dari penjelasan secara filosofis kedudukan perempuan sebagai manusia adalah dengan membuktikan atau membantah “perempuan sebagai manusia”. Dalam pandangan filsafat, apakah perempuan adalah manusia atau bukan, dan tidak bisa dikatakan bahwa perempuan adalah manusia tapi esensinya tidak sempurna (Pernyataan ini tidak sesuai dengan ashalah wujud yang membantah tasykik pada mahiyahnya). Dari sinilah lahir pernyataan-pernyataan dari sebagian sumber mengenai penciptaan perempuan seperti perempuan diciptakan sebagai pelayan  bagi kaum laki laki-terlepas ini benar atau tidaknya-, tapi ini menjelaskan tentang nilai kedudukan kaum perempuan, bukan penjelasan filosofis atau bantahan bahwa perempuan bukan manusia. Oleh karena itu, memungkinkan seseorang menggunakan pendefenisian ini “Perempuan adalah manusia yang memiliki nilai atau posisi kelas dua”, sebagaimana yang juga diberlakukan kepada warga kulit hitam, namun itu bukan berarti perempuan adalah manusia yang tidak sempurna (atau memiliki cacat).

Dengan hadirnya defenisi-defenisi yang ada tentang perempuan bukan manusia dalam pandangan filsafat yang kita dapati, ini tidak sesuai dengan sumber pembahasan wujud manusia. Dari sini memiliki kemungkinan bahwa mereka terpengaruh dari pandangan umum dimasa itu, begitu juga dengan berbagai pendefenisian lainnya.

Aristoteles memahami bahwa perempuan adalah ciptaan yang tidak sempurna, dari defenisi-defenisi yang dia kemukakan, dapat dikatakan menurutnya bahwa perempuan dari segi kedudukan manusia tidak sepadan terhadap laki-laki. Namun disebutkan pula, dalam pernyataan lainnya Aristoteles mengakui bahwa perempuan memiliki maqam manusia dimana ketika diperhadapkan dengan laki laki memiliki kewajiban khusus, begitu juga dengan laki laki ketika diperhadapakan dengan perempuan memiliki kewajiban. “Laki laki dan perempuan bekerjasama satu sama lain ketika menjalankan kewajibannya masing masing”.

Dari pandangan Aquinas (lengkapnya Santo Thomas Aquinas, seorang filsuf Kristen) juga menyatakan bahwa “Perempuan adalah Hewan yang tidak tenang, tidak tetap pendirian” akan tetapi ini juga tidak termasuk dalil filosofi.

Pada akhirnya, dari pembahasan ini menunjukkan bahwa ini bisa dijadikan dalil untuk membuktikan persamaan laki laki dan perempuan dalam kedudukan manusia. Penjelasan dan pembuktian kedudukan perempuan adalah manusia bersumber pada “kesejatian Eksistensi” atau bisa seperti ibarat dibawah ini : “Ashalah al-wujud (kemendasaran wujud/kesejatian eksistensi) dan Tasykik al-wujud (ambiguitas wujud yang sistematis) adalah pembahasan penting dalam filsafat islam. Dari sini, satu wujud hakiki tapi memiliki tingkatan. Kemudian dalam tingkatan itu, hadirlah kesamaan dan perbedaan. Tentang kemungkinan, dijelaskan persamaan pemahaman eksistensi Genus (Jins/Jenis) dan perbedan eksistensi pembeda (Fashl) kemudian dari sini difahami bahwa Genus dari sesuatu yang sama sedangkan dalam Pembeda dari hal hal yang khusus dari wujud.

Keistimewaan khusus  setiap wujud, membentuk satu spesies (Nau’) seperti spesies Manusia, spesies burung, spesies pohon dan lain-lain. Spesies manusia menjelaskan keseluruhan esensi afradnya dan diantara satu Spesies dengan yang lainnya dengan satu sama lain tidak memiliki perbedaan ambiguitas. Satu spesies akan terpahami dengan satu defenisi esensial (defenisi sempurna dari Genus (Jenis, Jins) dan Pembeda (Fashl) yang jelas). Dikatakan bahwa Spesies, menjelaskan keseluruhan hakikat yang sama diantara afrad. Sehingga satu jenis sesuatu itu satu spesies, satu genus dan pembedanya atau ibarat yang lain, memiliki arti dari hasil wujudnya dari persamaan wujud mereka yang sama.

Sekarang, jika perempuan dan laki laki dianggap dua jenis sesuatu dari satu spesies maka diartikan bahwa mereka berasal dalam satu tempat kedudukan. Dalam pandangan filsafat, tidak ditemukan bahwa perempuan bukan manusia atau perempuan dijelaskan didefenisi filsafat lain atau dia dari spesies berbeda. Akan tetapi, ternilai bahwa laki laki dan perempuan adalah dua posisi dari satu spesies.

Sudah jelas bahwa dari pandangan filsafat, hewan adalah genus dan genus mutlak tidak memiliki wujud luar. Dunia luar, tempat wujud esensi sempurna artinya satu spesies. Dengan kata lain yang lebih rinci bahwa dunia luar merupakan tempat terealisasinya wujud-wujud tersendiri. Dari situ, spesies ini (keseluruhan hakikat merupakan satu sesuatu) dapat menerima aksiden dan memperjelas.  Oleh karena itu, para filsuf yang berbeda yang menempatkan perempuan bukan merupakan spesies manusia harus memperjelas bahwa perempuan memiliki spesies apa atau dengan sendirinya pernyataan ini bahwa perempuan (misal) adalah hewan tidak cukup sebagai dalil filsafat.

Setelah penjelasan ini, poin-poinnya harus mengatakan bahwa sesuatu yang terbentuk dari spesies adalah satu jenis spesies, adalah pembeda dia. Pembeda manusia disini dengan pemahaman yang dalam dikatakan adalah berakal atau defenisi lainnya yang detail adalah jiwa berakal. Kadang mereka mendefinisikan jiwa berakal secara hakiki/hakikat dimana memiliki kekuatan pemahaman secara universal (Meski pembahasan Idrak kulliyat memiliki penjelasan yang berbeda setiap filsuf, misal Mulla sadra tidak menempatkan idrak kulliyat sebagai pembeda, Silahkan merujuk pembahasan Filsafat lebih lanjut). Lainnya, spesies hewan dengan sendirinya dapat memahami secara terperinci. Oleh karena itu, perempuan diperhadapkan terhadap kudrat pemahaman secara universal, dalil atau pembuktian secara gamblang sudah terbukti, bahwa perempuan adalah manusia.

Ibnu Sina juga mengatakan bahwa kelaki-lakian dan keperempuan seseorang adalah sebuah wujud asli yang artinya kelaki-lakiannya dan keperempuanannya adalah sebuah wujud dimana wujud ini memiliki jenis kelamin perempuan dan jenis kelamin laki-laki. Sehingganya, juga laki-laki dan juga perempuan dari jiwa berakal yang pembeda dan dzatinya manusia adalah sama.

Sebelumnya dari pembahasan falsafah, sebagian pendapat terkemuka menggunakan mujarradnya (non materi) ruh untuk membuktikan persamaan laki-laki dan perempuan dalam kedudukan manusia. Ruh dalam istilahnya adalah Jiwa. Dari sini dikatakan bahwa:

“Ruh manusia pada hakikatnya adalah non materi dari itu sendiri. Jenisnya adalah jasmani dan materi. Sehingga, perempuan dan laki-laki dari sisi ruh (jiwa) manusia adalah sama. Kadang, dari situ hakikat dan aslinya manusia ada pada ruh itu. Bukan pada jasmani sehingga perempuan dan laki-laki sebagai manusia, adalah sama”.

Seperti yang dikatakan oleh Jawadi Amuli dalam kitabnya;

Bentuk esensi dari sifat manusia adalah wujud mujarrad (non materi) tanpa memandang laki-laki dan perempuan. Perbedaan antara mereka terlepas dari bentuk fisik, jasmani merupakan alat dari ruh non materi manusia. Disebagian dari sesuatu itu jiwa non materi. Berdasarkan ini, Ruh mujarrad laki-laki sebagian dari sifat yang memiliki pandangan khusus dimana jiwa non materinya sesuai. Dan Ruh mujarrad perempuan juga sebagian dari sifat-sifat yang khusus dimana ruh itu dengan non materinya jiwa manusia tidak memiliki perbedaan.

Dikatakan bahwa persamaan laki-laki dan perempuan dalam kedudukan manusia diartikan satu atau samanya mereka tidak dalam semua hal. Begitu juga semua laki-laki dalam berbagai hal, tidak memiliki tingkatan yang sama tapi memiliki kesamaan. Perempuan dan laki-laki sebagai manusia juga memiliki kedudukan yang sama tapi dalam berbagai hal mereka satu sama lain juga tidak sama. Oleh karena itu, mempunyai kekuatan pemahaman secara universal diartikan tidak sama dalam semua hal. Permasalahan kita dalam pembahasan ini, pembuktian persamaan perempuan dan laki-laki dalam kedudukan manusia artinya persamaan mereka dalam kedudukan ini dan bukan kesamaan mereka dari berbagai hal.

[Haryati, mahasiswi Jamiah az Zahra Qom, Republik Islam Iran]

Rujukan Buku;

  1. Pengantar Ilmu-ilmu Islam, Murtadha Mutahari
  2. Zan dar Islam, Fariban
  3. Zan dar ayineh Jalal va Jamal, Javadi Amuli
Bahagia dan Celakanya Anak-Anak di Tangan Orangtuanya

Bahagia dan Celakanya Anak-Anak di Tangan Orangtuanya

-Refleksi Peringatan Hari Anak Nasional 2019-

Pada suatu hari Rasulullah Saw bersama sekelompok sahabatnya melewati sebuah tempat, lalu beliau menyaksikan sekumpulan anak sedang bermain. Beliau menghentikan langkah. Sambil memperhatikan anak-anak yang sedang asyik bermain, Nabi bersabda, “Celakalah anak-anak akhir zaman lantaran ulah ayah-ayah mereka.”

“Apakah karena ayah-ayah mereka musyrik?” sahabat-sahabat bertanya.

“Tidak. Mereka ayah-ayah yang mukmin, namun tidak sedikitpun mengajarkan kewajiban-kewajiban kepada mereka. Apabila anak-anak mereka mempelajarinya, maka mereka melarangnya. Dan mereka lebih senang dengan harta benda dunia yang hanya sedikit.”

Kemudian Rasulullah Saw menampakkan kebencian dan ketidakrelaannya terhadap ayah-ayah semacam itu. Beliau bersabda, “Aku berlepas diri dari mereka, dan merekapun berlepas diri dariku.”(1)

Riwayat diatas berisi nubuat nabi tentang kondisi anak-anak di akhir zaman. Mayoritas ulama menyebutkan, masa kita sekarang ini termasuk akhir zaman. Jadi yang diceritakan nabi, adalah kondisi anak-anak kita. Riwayat diatas mengajak kita sebagai ayah untuk intropeksi diri dan banyak bercermin. Nabi menyebut anak-anak kita celaka, lantaran ulah kita sendiri. Kita vonis anak kita nakal, malah bisa jadi kita justru melakukan kenakalan yang lebih besar. Kita sebut anak kita bandel dan pembangkang, padahal bisa jadi memang kita tidak punya kelayakan untuk dipatuhi dan didengar. Kita tuntut anak-anak untuk memahami kita, tanpa berupaya untuk memahami anak lebih dulu. Sebelum mengeluhkan anak-anak kita, mari bertanya dulu, apakah sebagai ayah (maupun ibu), kita telah memenuhi hak-hak mereka sebagai anak?.

Kita beri mereka pendidikan, tapi justru fokus pada kepuasan diri kita sendiri. Tanpa mau tahu apa kemauan anak, kita stir mereka sesuai kehendak kita. Hobi, kesukaan dan minat mereka kita yang atur. Untuk disebut orangtua agamis dan saleh, kita tuntut anak kita bisa hafal Al-Qur’an, sementara diri kita sendiri jauh dari Al-Qur’an. Kita tuntut mereka berjama’ah di masjid, kita sendiri masih terlalu asyik untuk meninggalkan kesibukan kerja. Dengan perintah-perintah dan larangan yang kita buat, kita seolah telah melaksanakan kewajiban. Padahal yang dituntut adalah bagaimana memahamkan anak, sehingga melaksanakan kewajiban-kewajiban agamanya dengan penuh kesadaran. Malah, kita kadang begitu terburu-buru hendak memasukkannya ke lembaga pendidikan formal, hanya agar bisa sedikit bernapas lega dari kesumpekan melayani dan bermain dengan mereka. Dulu hanya ada TK (pra SD), sekarang sudah ada pra TK, Play group, tempat penitipan anak atau apapun namanya. Padahal memiliki anak bukan hanya berurusan bagaimana membesarkannya, namun yang lebih penting adalah bagaimana mempertanggungjawabkannya. Anak adalah amanah, ujian sekaligus sebagai lumbung pahala bagi orangtuanya. Nabi bersabda, “Orangtua yang menyenangkan hati anak-anaknya, akan disenangkan hatinya oleh Allah di akhirat nanti.” Sayang, kebanyakan kita malah menganggap anak itu adalah beban, bahkan sebelum mereka lahir. Tidak sedikit yang bilang, “Punya dua anak yang masih kecil-kecil, duh tidak kebayang repotnya. Hadapi sikecil yang sendiri saja repotnya bukan main. Sulit diatur…”

Banyak orang disebut orang tua hanya karena dia sudah punya anak, bukan lagi berbicara mengenai kematangan dan kedewasaan berpikir. Bukan lagi berbicara mengenai luapan kasih sayang, perhatian dan baluran pengharapan-pengharapan yang bijak. Kita menghindari memiliki banyak anak karena takut dililit dengan persoalan ekonomi yang makin sulit. Iran pun tidak terkecuali dalam hal ini. Slogan masyarakat yang populer, “Farzande kamtar, Zendeghi behtar“, semakin sedikit anak, kehidupan semakin lebih baik, ditantang banyak ulama.

Dalam ceramah-ceramah agama mereka, tidak luput mereka memesankan masalah ini. Bahwa khawatir miskin akan keberadaan anak adalah ciri-ciri masyarakat jahiliyah. Kalau masa jahiliyah dulu, mereka membunuh anak-anak mereka setelah lahir karena khawatir miskin, sekarang, anak-anak itu sudah dibunuh sebelum terlahir kedunia.

Ayatullah Ibrahim Amini, ulama besar Iran, ahli irfan dan tasawuf, sampai harus turun tangan. Beliau yang ulama besar, karena menganggap masalah ini sedemikian penting sampai harus pula menjadi ahli parenting dan konsultan masalah anak. Beliau tidak lagi hanya melayani konsultasi bagaimana menjadi ahli suluk, namun melayani pertanyaan bagaimana menghadapi anak. Ceramah-ceramahnya tidak hanya menjelaskan istilah-istilah irfan dan tasawuf yang rumit dan pelik namun menjelaskan juga bagaimana agar tidak salah mendidik anak. Buku-buku parentingnya telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, disampul buku terjemahan itu kadang hanya ditulis Ibrahim Amini, kadang DR. Ibrahim Amini. Padahal beliau ulama besar yang termasuk dalam Majelis Khubregan, Dewan Ahli yang bertugas menjaga Wilayah Faqih dan juga penasehat ahli Lembaga Internasional Ahlul Bait yang beranggotakan 500 cendekiawan Islam yang tersebar di banyak negara. Beliau penulis buku Islam and Western Civilization yang didiskusikan dan dikaji di universitas-universitas Barat. Mengapa sekarang kesibukannya malah lebih banyak tersita melayani konsultasi pendidikan anak?. Karena besarnya masalah ini. Karena semakin banyaknya orangtua yang melalaikan pendidikan anaknya. Sebagaimana nubuat Nabi, banyak anak menjadi celaka karena orangtuanya.

Rasulullah Saw berkata kepada Imam Ali as, “Wahai Ali, Allah melaknat orangtua yang mengakibatkan anak mereka tidak taat pada mereka berdua dengan melaknat mereka.”(2)

Orangtua kita dulu, memeluk kita sambil memikirkan bagaimana kelak setelah dewasa dan mereka telah tiada, apakah kita masih menjalankan agama dengan baik, sekarang, kita juga mendekap anak kita, namun dengan kekhawatiran yang berbeda. Kita diliputi kecemasan jangan sampai karir kita terhambat karena kesibukan mengurusi mereka.

Kalau dulu, orangtua kita berdo’a demi kesuksesan kita dunia akherat, kita setelah menjadi orangtua, meminta anak agar mendo’akan kemulusan karier kita. Sebelum semuanya terlambat, sebagai pendidik pertama dan utama bagi tumbuh kembangnya anak-anak, sebagai orangtua mari menyadari pentingnya peran orangtua dalam pendidikan anak yang sedikit banyaknya akan berpengaruh pada kebahagiaan atau kesuraman masa depan mereka.

Wallahu ‘alam bishshawwab

[Ismail Amin, Presiden IPI Iran 2019-2021]

(1) [Jami’ul Akhbar, hal. 124]

(2) [Wasa’il Syiah, jilid 21, hal. 290]

Perempuan sebagai Manusia dalam Pandangan Alquran

Perempuan sebagai Manusia dalam Pandangan Alquran

Diskursus mengenai perempuan apakah manusia atau bukan telah tuntas, dengan kesimpulan perempuan sama halnya laki-laki adalah juga golongan manusia. Di masa lalu, perempuan memang terakui sebagai bagian dari umat manusia, hanya saja dipandang tidak sesempurna kaum laki-laki. Aristoteles mewakili filsuf Yunani bahkan berpendapat, perempuan tidak sepenuhnya manusia. Kaum Gereja abad pertengahan juga tidak lebih baik dalam memandang perempuan, dengan doktrin agama diyakini, perempuan adalah perangkap setan. Hawa (perempuan  pertama), dianggap sebagai penyebab jatuhnya manusia pertama dari surga dan dosa pertama manusia dipercaya diawali oleh perempuan. 

Kedatangan Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw dipercaya telah mengangkat harkat dan martabat perempuan pada posisi dan kedudukan yang sesungguhnya. Melalui ayat-ayat suci Alquran dijelaskan, kedudukan perempuan tidak ada bedanya dengan laki-laki, yang membedakan derajat dan tingkatan keduanya di sisi Tuhan adalah ketakwaannya. 

Beberapa ayat dalam kitab suci Alquran, digunakan dalam menjelaskan persamaan perempuan dan laki-laki dalam kedudukan manusia dan dapat diuraikan sebagai berikut :

Persamaan perempuan dan laki-laki dalam pencapaian kebahagiaan

Keistimewaan-keistimewaan penting manusia adalah pemahaman secara universal, kekuatan berargumentasi, pemamahan yang kuat dalam mengenal antara baik dan buruk, penerimaan tanggungjawab dan kemampuan yang sempurna. Dalam Alquran, ada ayat-ayat persamaan laki-laki dan perempuan dalam berbagai kewajiban, tanggungjawab dalam amal, kesamaan dalam pahala dan azab dalam amal perbuatan, persamaan mereka dalam hal ini, pahaman Ushuluddin, persamaan mereka dalam jalur akal perbuatan, kekhususan unsur-unsur aslinya seperti ikhtiar, pemahaman baik dan buruk dan kecendrungan menuju sisi baik dan buruk, dan memiliki petunjuk yang sama untuk sampai pada kekehidupan yang baik. 

Begitu juga dijelaskan bahwa perempuan seperti laki-laki dalam proses pertumbuhan dan dalam pencapaian kemajuan. Semua hal tentang ini, adalah kelebihan manusia tanpa memandang perbedaan jenis kelamin.

Allah swt dalam Alquranul Karim berfirman:

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar dihadapan dan disebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): ”Pada hari ini ada berita gembira untukmu. Yaitu surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal didalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”. (Qs. Al-Hadid: 12)

Dari ayat di atas terang dan sangat gamblang dijelaskan bahwa kaum mukmin dari kalangan laki-laki dan perempuan punya potensi yang sama untuk mencapai kebahagiaan yang kekal dan abadi di surga. Islam melalui penjelasan Alquran tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan dalam pencapaian kebahagiaan. Kebahagiaan yang bisa dipereloh laki-laki juga sangat bisa untuk dicapai oleh perempuan. 

Penciptaan perempuan dan laki-laki dari hakikat yang satu (jiwa)

Tentang pembahasan “dari diri yang satu” Nabi Adam as dan ayat yang menjelaskan bahwa pasangannya juga diciptakan berasal dari “diri yang satu itu” juga, sebagaimana disebutkan dalam ayat surah An-Nisa ayat 1:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ 

الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.”

Ayat ini,  menjelaskan sumber penciptaan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Dan penjelasannya sebagai berikut : 

Maksud dari dari nafs (jiwa) disini tidak lain dari segala sesuatu itu dan nafs (jiwa) adalah sesuatu dimana manusia dengan itu menjadi manusia. Artinya; di alam dunia ada ikatan “ruh dan jasmani” sedangkan ruh dengan sendirinya berada dalam alam barzakh. Tentang “nafs wahidah (jiwa yang satu)” juga hakikat yang satu yakni sumber penciptaan semua manusia adalah satu hakikat. Dan dalam hal ini, tidak ada perbedaan sama sekali antara laki-laki dan perempuan. 

Dalam pembahasan kedua,  dalam ayat ini berfirman : “خلق منها زوجها” para ahli tafsir dalam pembahasan ayat ini, berhubungan dengan penciptaan Hawa dan dengan memperhatikan dua kemungkinan dalam memaknai “من” juga dalam surah Ar Rum ayat 21 dijelaskan “Sebagian”, “jenis”, dan ayat ini juga ditafsirkan : dan Tuhan menciptakan pasangan Adam as dari jenis Adam as itu sendiri. Oleh karena itu, kesimpulan dari ayat ini: “Adam dan Hawa adalah simbol jenis muzakkar (laki-laki) dan muannats (perempuan). Dalam keistimewaan manusia dan bahan pembentukan unsur-unsur mereka adalah sama. Dengan penafsiran ini, maka  sebagaimana yang selama ini diyakini bahwa penciptaan perempuan berasal dari bagian tubuh laki-laki, tidak tepat. 

Dalam Surah Ar-Rum ayat 21 juga mempertegas pandangan tersebut. Disebutkan:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan diantara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar cenderung dan merasa tentram dengannya.” 

Berdasarkan ayat Alquran ini, pasangan manusia diciptakan berasal dari satu jenis. Para ahli tafsir menjelaskan tentang ayat ini dan ayat yang sama bahwa kemungkinan memiliki dua makna dari kata “من” yang maknanya bahwa diciptakan pasangan dari sebagian bagian tubuh laki-laki. Sehingga dari penafsiran ini muncullah pandangan bahwa kedudukan laki-laki lebih tinggi dari kaum perempuan, sebab asal mula penciptaan perempuan dari anggota tubuh laki-laki (sebutlah dari tulang rusuk laki-laki sebagaimana keyakinan yang banyak berkembang berdasarkan hadis Israiliyat).  Kelompok kedua menjelaskan bahwa “من” diartikan sebagai jenis dan ayat juga diterjemahkan sebagai berikut “dan diantara tanda-tanda kekuasaanya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari ‘jenis’mu sendiri” (baca lebih lengkap dalam Tafsir mizan jilid 4 hal 136). Maksudnya dari jenismu sendiri adalah, bahan baku penciptaan laki-laki dan perempuan dari jenis yang sama, sehingga dengan berasal dari bahan yang sama, laki-laki dan perempuan bisa saling menyukai dan saling merasa tentram satu sama lain.

Pendapat kedua dari kata  “من” dijelaskan untuk jenis, sebagaimana juga yang terdapat dalam surah At-Taubah ayat 128:

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ

Yang diterjemahkan:

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri”

مِّنْ أَنفُسِكُمْ pada ayat di atas diterjemahkan dari kaummu sendiri, yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw yang diutus adalah juga berasal dari jenis yang sama, yaitu manusia. Yang dimaksud “anfusakum” bukanlah bahwa Nabi Muhamamd saw berasal dari bagian tubuh kalian, sebagaimana yang dipahami mayoritas ketika menafsirkan “anfusakum” pada Ar-Rum ayat 21 bahwa perempuan diciptakan dari bagian tubuh laki-laki.

Dari penjelasan ayat-ayat diatas disebutkan, persamaan laki-laki dan perempuan sebagai manusia yang tercipta dari bahan dan jenis yang sama, yaitu dari nafs wahidah (jiwa yang satu). 

Kemudian dari bahan dan jenis yang sama tersebut, ruh ditempatkan dalam wadah yang memiliki sedikit perbedaan yang kemudian dikenal dengan adanya muzakkar (laki-laki) dan muannats (perempuan). 

Dalam surah Al-Qiyamah: 37-39 disebutkan: 

أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةً۬ مِّن مَّنِىٍّ۬ يُمۡنَىٰ  ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً۬ فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ  فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ

“Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan.”

Ayat diatas yang menjelaskan Muzakkar dan muannats, “منی یمنی” artinya kembali kepada pembahasan jasmani.  Setelah itu, ayat yang menjelaskan tentang penciptaan (sesuatu) ruh atau menunjukkan ruh itu berhubungan dengan tubuh. Sehingganya, jika asli manusia adalah kepada hakikat ruh, perempuan dan laki-laki diantara satu sama lain sama, dan setiap keduanya berasal dari satu hakikat, yang membedakannya hanya pada sifat biologis keduanya dikarenakan faktor fisik/jasmani yang memiliki sejumlah perbedaan. 

Adanya kesamaan dalam kekuatan-kekuatan maknawi

Tingkatan paling tinggi dari makna pahaman intuisi adalah pahaman tanpa perantara. Kekuatan instuisi manusia terhadap kesucian perbuatan/amal artinya “kehati-hatian” dan “taqwa”. Manusia mukmin melalui perbuatan yang suci (amal saleh) akan mencapai pada tingkat derajat yang dapat dilakukan tanpa perantara lainnya. 

Dari pemahaman ini, tempat pembentukan pahaman dalam pikiran, sistem-sistem otak, dari terbatasnya kata jasmani, intuisi tidak tersentuh. Sekarang, jika intuisi, pahaman mendalam manusia baik laki-laki maupun perempuan terhadap itu dan melakukan itu adalah semua sama. Sehingga,  perempuan dan laki-laki memiliki potensi yang sama dalam memiliki dan mencapai kekuatan-kekuatan maknawi. 

Dalam Alquran banyak dijelaskan mengenai laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang sama dalam mencapai derajat taqwa, khusyu’, takut, cinta terhadap Tuhan dari hasil amal dan perbutaan mereka tanpa memandang jenis kelamin. Dalil-dalil tentang pembahasan ini diantaranya, adalah: 

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kau saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (Qs. Al-Hujurat: 13)

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surgalah tempat kembalinya.”(Qs. An-Naziat: 40-41)

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu, dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Qs. Ali Imran: 31)

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka…” (Qs. Al-Hadid: 16)

Dari ayat-ayat di atas sangat jelas, bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki maupun perempuan dalam kekuatan-kekuatan spritual. Ketika laki-laki bisa mencapai derajat takwa dan kekhusyukan, maka perempuanpun memiliki peluang yang sama untuk mencapainya, tinggal bergantung pada usaha dan kesungguhan dalam mencapai kedudukan spritual dan maknawi tersebut. 

[Haryati, mahasiswi Jamiah Az-Zahra Qom Republik Islam Iran, anggota Dep. Pengawasan dan Kontrol Internal IPI Iran 2019-2021]

Bahan Bacaan: 

  1. Nezam-e Hoghogh-e Zan dar Islam (Sistem Hak-Hak Perempuan dalam Islam), Morteza Motahhari
  2. Jaighah-e Zan dar Islam (Kedudukan Perempuan dalam Islam), Bint al-Hudah Shadr