Keceriaan Hari Lebaran bersama KBRI Tehran

Keceriaan Hari Lebaran bersama KBRI Tehran

Meski jauh dari tanah air, dari kampung halaman dan jauh dari orangtua dan sanak saudara, sejumlah pelajar Indonesia di Iran tetap  semarak merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama dengan Pejabat KBRI dan WNI lainnya. Bertempat di halaman belakang Wisma Duta KBRI untuk Iran, KBRI Tehran menggelar salat Idul Fitri pada Rabu (5/5). Kesemarakan perayaan Idul Fitri bertambah dengan kehadiran sejumlah warga muslim dari negara-negara sahabat seperti dari Turki, beberapa negara di Afrika, UEA, Pakistan, Palestina, Mesir dan lain-lain, baik dari Duta Besar, diplomat dan warga biasa dari masing-masing negara sahabat tersebut.

Bertindak sebagai imam salat, Muhammad Nasrullah Hanafiiyah, Presiden IPI Iran 2017-2018. Sementara Muhammad Hilal Zain didaulat sebagai khatib dalam penyelenggaraan salat Idul Fitri tersebut. 

Mahasiswa S1 fikih Universitas Internasional Al-Mustafa cabang Esfahan tersebut dalam khutbah Id nya mengingatkan jamaah agar selalu menjaga ukhuwah Islamiyah dan menjalin tali persaudaraan antar sesama, baik terhadap sesama muslim maupun terhadap non muslim. Dalam lanjutan khutbahnya, mahasiswa asal Jepara tersebut menegaskan puasa dan amalan ibadah yang dilakukan sepanjang bulan Ramadhan sangat memberi efek dan pengaruh besar pada pembentukan pribadi yang berakhlak baik. “Terkikisnya sifat hasad, iri dan dengki kepada sesama manusia adalah diantara capaian-capaian yang harus kita rasakan sehabis menjalankan rangkaian amalan ibadah sepanjang Ramadhan.” Ungkapnya.

Mengaitkan dengan pesta demokrasi yang baru saja berlangsung dengan terselenggaranya Pemilu serentak pada April lalu dengan lancar dan aman, mahasiswa kelahiran 7 Agustus 1995 tersebut mengingatkan untuk menghindari perpecahan. “Namanya juga kontestasi, pasti ada yang menang, ada yang kalah, namun dengan itu, tidak boleh dijadikan alasan untuk berpecah belah. Memanfaatkan momen yang fitri ini, mari kita saling memaafkan . Dan keretakan-keretakan yang sempat muncul akibat dari panjangnya masa kampanye, semoga bisa direkatkan kembali dengan fokus pada pencapaian cita-cita bersama untuk kemajuan bangsa.” Pesannya.

Usai khutbah dibacakan, para jamaah serentak berdiri dan saling bersalaman satu sama lain dengan diiringi salawatan. Prosesi selanjutnya adalah menyantap makanan ala nusantara yang telah dipersiapkan KBRI, menambah suasana penuh kegembiraan terjadi. Acara ditutup dengan sesi foto bersama oleh Dubes, staff, masyarakat dan mahasiswa Indonesia yang berada di Iran. [FD]

 

Kajian Jelang Buka Puasa IPI Iran Peringati Haul Sayidah Khadijah sa

Kajian Jelang Buka Puasa IPI Iran Peringati Haul Sayidah Khadijah sa

Bertempat di Aula Pertemuan Masjid A’zham Haram Sayidah Maksumah sa di kota Qom Republik Islam Iran, Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran kembali menggelar acara buka puasa bersama pada Rabu (15/5). Bertepatan dengan malam ke sepuluh Ramadhan yang dalam literatur sejarah Islam disebutkan merupakan malam wafatnya Sayidah Khadijah al Kubra sa, istri Rasulullah saw kajian jelang buka puasa IPI Iran mengambil tema, “Menuai Hikmah Ramadhan: Belajar dari Ketegaran Sayidah Khadijah sa”. Kajian diantarkan oleh Ustad H. Hendar Yusuf MA.

Diawal penyampaiannya, Ustad Hendar mengatakan, “Empat perempuan yang agung, yang diprioritaskan Allah swt dari semua perempuan yang ada, yaitu Sayidah Maryam, Asiyah istri Firaun, Khadijah binti Khuwailid dan Sayidah Fatimah. Dengan masuknya Sayidah Khadijah dalam list perempuan-perempuan terbaik ini maka ketinggian derajat beliau tidak dapat dipungkiri.” Lebih lanjut, mahasiswa Doktoral program Tafsir Alquran Universitas Internasional al-Mustafa Qom tersebut menguruai alasan dibalik ketinggian derajat Sayidah Khadijah. Ia berkata, “Pertama, cukup bagi Khadijah Kubra satu kemuliaan, di atas kemuliaan sebagaimana yang terungkap dalam satu pernyataan, yaitu ketika Islam tidak akan tangguh di awal penyebarannya, kecuali melalui harta yang dimiliki Khadijah dan pedang Ali as.”

“Dalam ayat ke 8 dari surah ad-Dhuha, dan kami dapati engkau ya Muhammad, sebagai orang tidak memiliki apa-apa, dan kemudian berikan kau kecukupan. Maksudnya disini, Allah swt kemudian memberikan kepada Nabi Muhammad saw yang papa sebuah dukungan finansial, berupa harta dari Sayidah Khadijah. Ini adalah peran yang sangat tinggi.” Tambahnya.  

“Peran kedua, Sayidah Khadijah adalah menjadi pendamping dan pendukung dakwah Nabi Muhammad saw. Ketika Nabi saw pulang dalam keadaan letih, Sayidah Khadijahlah yang kemudian menghilangkan keletihan itu, dengan kecintaan dan perhatiannya. Ialah yang pertama yang masuk Islam, ketika suaminya diangkat menjadi Nabi. Dan tidak cukup dengan itu, ia kerahkan seluruh perhatian, waktu, tenaga dan hartanya untuk membantu Nabi Muhammad saw dalam mendakwahkan Islam yang saat itu mendapat penolakan luar biasa dari penduduk Mekah.” Lanjutnya lagi.

Hendar Yusuf juga menyebutkan sejumlah poin lainnya yang menurutnya membuat Allah swt memberikan keistimewaan luar biasa kepada Sayidah Khadijah. “Diantara keistimewaan yang diberikan Allah adalah, kain kafan yang digunakan untuk membungkus jasad suci Sayidah Khadijah didatangkan dari surga. Ini menunjukkan ketinggian derajat Sayidah Khadijah sebagai balasan dari keistiqamahannya.”  

 

Di bagian akhir penyampaian nya, Ustad Hendar mengingatkan, “Dengan mengenang Sayidah Khadijah, maka kita seharusnya tidak mengeluh atau merasa telah banyak berjasa pada Islam. Sebab apa yang telah kita berikan kepada Islam belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang telah dipersembahkan Ummul Mukminin Sayidah Khadijah sa.” Ia lebih lanjut memesankan, untuk menjadikan Sayidah Khadijah sebagai figur teladan, bukan hanya bagi kaum perempuan, namun juga bagi kaum laki-laki.

Hadir kurang lebih 80 pelajar dan mahasiswa Indonesia dalam acara kajian jelang buka puasa bersama tersebut. Kajian yang diantarkan Ustad H. Hendar Yusuf, MA tersebut juga diikuti  puluhan netizen melalui siaran live di IG @ipiiran. Seusai pengajian, acara dilanjutkan dengan salat maghrib berjamaah dan buka puasa bersama.

Rasionalitas Puasa dan Refleksi Kemanusiaan Kita

Rasionalitas Puasa dan Refleksi Kemanusiaan Kita

Ritual dalam setiap agama memegang peranan penting, terkhusus Islam. Islam dan ritualitas tak bisa terpisahkan. Sistem ritual Islam terangkum dalam aturan fiqh yang terurai secara tekstualis. Begitu eratnya Islam dan fiqh membuat Seorang pemikir Islam garda depan dari Maroko, Dr. Muhammad Abid Al-Jabiri, menyebut peradaban Islam sebagai peradaban fikih. Pernyataan ini tentu ada benarnya. Setidaknya bila ditinjau dari tiga hal berikut; pertama, fikih sangat dekat dengan umat Islam. Dapat dipastikan di setiap rumah umat Islam terdapat kitab fikih. Kitab fikih dianggap menghidangkan suguhan siap saji. Kedua, fikih menjadi pedoman hidup. Dalam setiap permasalahan yang ada, umat Islam selalu menggunakan perspektif fikih. Ketiga, fikih merupakan salah satu warisan ilmu keislaman terkaya. Terdapat sekian ratus, atau bahkan ribuan, kitab fikih. Sebagaimana juga terdapat sekian banyak ulama fikih.

Hanya saja dalam perkembangan selanjutnya Ritual atau aturan fiqh dalam Islam lebih menampakkan wajah dogmatis ketimbang rasionalitasnya. Ada benarnya dalam kaidah hukum Islam (ushul fikih) disebutkan bahwa ibadah adalah cara manusia menghadap Tuhannya. Manusia tidak perlu bertanya kenapa Tuhan mewajibkan, termasuk melalukan kreativitas dan modifikasi tata cara ibadah dengan cara yang mereka inginkan sendiri. Ushul fikih menetapkan bahwa setiap hal yang berhubungan dengan ibadah, umat Islam tinggal mengikuti praktik yang telah dilakukan oleh Nabi Muhamad SAW. Sedangkan dalam bidang sosial (muamalah), kita bebas melakukan rasionalisasi, termasuk ijtihad.

Namun Islam pun harus mampu memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan dan kitikan zaman. Mengapa kita harus berpuasa misalnya, sampai saat ini jawaban yang diberikan cenderung dogmatis, terlalu melangit dan tidak memberi kepuasaan apalagi bagi seorang rasionalis tulen. Apa benar, puasa tidak memiliki sisi rasionalitas, sehingga pengkajian tentangnya melulu dengan pendekatan ketundukan kepada yang gaib? Bagaimana ajaran Islam menjawab tantangan rasionalitas modern ini?

Islam Agama Rasionalitas

Dari pengkajian tentang ritualitas ibadah, kaum agamawan kita cenderung menekankan pentingnya kepasrahan dan penyamanan, melestarikan ketaatan dan ketundukan total yang bersifat turun temurun. Dengan cara ini, orang-orang beriman diposisikan sebagai hamba-hamba, sebagai budak-budak dan Allah adalah majikan (bukan yang Maha Kasih dan Maha Bijaksana). Dan Rasul diposisikan sebagai pemimpin otoriter yang mengeluarkan perintah-perintah ihwal apa yang dilakukan dan mana yang tidak (bukan seorang manusia yang penuh wawasan pengetahuan dan pengalaman yang matang ataupun pemikir yang arif dan cerdas). Ketaatan adalah urusan yang dikerjakan untuk meraup pahala atau ganjaran sebanyak-banyaknya dan bukan sesuatu yang menyebabkan kelapangan hati, keterbukaan pikiran dan pengkhidmatan kepada sebanyak-banyaknya manusia.

Akibatnya, kitapun beribadah secara emosional dan terikat oleh identitas, manut pada kesemarakan ritual-ritual massa. Lihat saja, frekwensi pelaksanaan ibadah yang semakin menurun menjelang akhir-akhir Ramadhan. Sesuatu yang seharusnya dilakukan sebaliknya. Ini menurut hemat saya, disebabkan kurang atau tidak adanya sentuhan rasionalitas dalam ceramah-ceramah dan setiap nasehat keagamaan. Tidak benar manusia hanya perlu pada kenyataan akan adanya rasa manis, asam atau pahit. Manusia adalah makhluk yang punya kerinduan dan hasrat-hasrat terhadap kebenaran dan keyakinan tentang sesuatu. Karena itu kehadiran rasa manis atau apapun akan dibarengi dengan suasana penuh Tanya dan ragu. Semisal, mengapa ini manis? apa yang menyebabkan ia manis? apakah lidah orang lain juga merasakan manis? mengapa ada manis ada pahit? siapakah yang memberinya rasa manis? dan begitu seterusnya sampai datang keyakinan. “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.” (Qs. Al-Hijr :99).

Manusia rasional akan selalu mencari cahaya, menuntut bukti, merindukan keyakinan, mencintai pengetahuan dan kebenaran, senantiasa menggugat dan kritis terhadap keyakinan dia sebelumnya. Dan tuntutan Islam kepada kaum muslimin adalah menjadi manusia-manusia rasional. Bukankah Ibrahim As meminta Allah memberikan bukti kemahakuasaannya dengan menghidupkan burung yang telah mati di hadapannya, dan bukankah pengikut Isa As meminta hidangan dari langit untuk menambah keyakinan mereka bahwa menjadi pengikut agama adalah rasional (baca kisahnya dalam Qs. Al-Maidah : 112-115). Bagi kita ummat Muhammad tidaklah harus sebagaimana ummat-ummat sebelumnya mendapatkan keyakinan. Kita cukup memberikan sentuhan rasional, refleksi pemikiran dari setiap perbuatan-perbuatan yang kita lakukan yang hadir dari keyakinan dan kesadaran diri, bukan sekedar ikut-ikutan dan merasa bangga dengan ketidak tahuan.

Arti puasa bagi manusia rasional bukan sekedar menaati kewajiban ritual keislaman, melainkan lebih sebagai upaya umat Islam agar masuk ke dalam proses besar perbaikan kehidupan individu dan sosial secara revolusioner dan radikal.

Rasionalitas Puasa

Melalui perspektif psikologi perkembangan (development psychology) kita bisa sedikit memberi jawaban rasional mengapa Tuhan menganjurkan kita berpuasa. Dalam psikologi perkembangan dijelaskan bahwa dalam perkembangan kepribadiannya, manusia mengubah-ubah kebutuhannya. Dengan kata lain, kenikmatan manusia berganti-ganti sesuai dengan perkembangan kepribadiannya. Pada tingkat yang masih awal sekali, kebutuhan manusia masih sebatas hal-hal yang konkret atau hal-hal yang berwujud dan kelihatan. Pada tingkat ini, kebutuhan itu memerlukan pemuasan yang segera (immediate grafitification). Mengutip pandangan Sigmund Freud, ada tiga tahap perkembangan kenikmatan dalam diri anak-anak. Semua tahap ini memiliki persamaan. Semuanya bersifat konkret, bisa dilihat, dan sifat pemenuhannya yang sesegera mungkin. Kalau orang itu lapar, ia makan. Ia sesegera memuaskan kebutuhannya pada makanan dan minuman. Di sini Freud melihat letak kenikmatan pada periode paling awal terletak pada mulut. Masa ini disebutnya periode oral. Perkembangan selanjutnya manusia mendapatkan kenikmatan ketika mengeluarkan sesuatu dari tubuh. Seperti ketika seorang anak buang air besar atau buang air kecil. Masa ini disebut periode anal. Pada periode ini seorang anak bisa berlama-lama di toilet. Dia senang melihat tumpukan kotorannya dan kadang-kadang mempermainkannya.

Periode selanjutnya adalah periode genital. Tanda-tandanya adalah kegemaran seorang anak mempermainkan alat kelaminnya dan memperlihatkan kepada orangtuanya. Di sini pandangan Freud ingin menyatakan bahwa pada masa kanak-kanak hanya bersifat fisik, tidak ada kebutuhan spiritual. Namun manusia tidak cukup dengan itu. Hal-hal yang bersifat abstrak setelah kebutuhan fisik terpenuhi pasti menjadi kebutuhan selanjutnya. Semakin dewasa, semakin abstrak kebutuhan manusia. Pada orang-orang tertentu, kepribadiannya itu terhambat dan tidak bisa berkembang. Hambatan kepribadian itu disebut fiksasi. Walaupun sudah masuk kategori dewasa, tetapi dia hanya mencukupkan diri pada kebutuhan makan dan minum. Perbedaannya, dia mengubah makan dan minum itu ke dalam bentuk simbol, misalnya dalam bentuk kepemilikan kekayaan dan jabatan. Dengan melihat gaya hidup manusia modern, kita diperhadapkan oleh banyaknya manusia yang terhambat kepribadiannya. Mereka seperti anak-anak, masih mencari kenikmatan dalam makan minum dan “bermain-main dengan kelaminnya”. Fenomena yang paling mencolok adalah melonjaknya keberadaan bisnis makanan, minuman dan seks, yang menyedot triliunan rupiah, untuk memenuhi kebutuhan anak-anak berusia lanjut.

Manusia yang tidak terhambat perkembangan kepribadiannya adalah mereka yang membutuhkan akan sisi abstrak dari kehidupannya: misalnya, kebutuhan intelektual, kebutuhan akan ilmu pengetahuan, dan informasi, termasuk kebutuhan spiritual. Merujuk pada pemikiran Abraham Moslow dengan konsep piramidanya. Kata Moslow, semakin tinggi bagian piramida, semakin abstrak pula kebutuhan-kebutuhannya.

Sejalan dengan ajaran Islam, kebutuhan abstrak tersebut oleh Dr. Jalaluddin Rahmat disebut al-takamul al-ruhani, proses penyempurnaan spiritual. Itulah tingkat yang paling tinggi dalam kebutuhan manusia. Jadi, puasa bukanlah sisi tradisional yang tidak relevan dengan kehidupan modernitas. Justru dengan memahami sisi fundamental dari kehidupan manusia, puasa memperkenalkan strategi yang baik guna menjawab problematika kehidupan modern yang telah terlalu jauh terjebak dalam kesemarakan bendawi. Inti dari perintah puasa adalah pengendalian diri (self control). Dan pengendalian diri adalah satu ciri dari jiwa yang sehat, jiwa yang dewasa.

Telah lewat beberapa hari  kita berpuasa di bulan ini, adakah tanda-tanda kedewasaan dalam diri kita? atau justru sebaliknya? Ramadhan bukan kita jadikan ruang penyucian jiwa melainkan ruang pemanjaan jiwa. Yang menjadikan masa kanak-kanak kita semakin panjang. Sehingga oleh Gus Dur, majelis di negeri ini yang seharusnya diisi orang yang memiliki kedewasaan matang disebutnya taman kanak-kanak.

Wallahu ‘alam.

Ismail Amin

Presiden IPI Iran 2019-2021

Ramadhan, Bulan Memperkuat Tekad

Ramadhan, Bulan Memperkuat Tekad

Dalam kitab Bihar al Anwar jilid 95, hal. 334 disebutkan, bulan Ramadhan adalah bulan pertama tahun peribadatan. Jika bulan Muharram adalah bulan pertama tahun Hijriah, Januari bulan pertama tahun Masehi, maka Ramadhan adalah bulan pertama tahun peribadatan. Karena itu ditradisikan oleh ulama-ulama untuk mendirikan shalat syukur begitu memasuki awal Ramadhan.

 

Di malam pertama Ramadhan, dalam kitab al Muraqabat disebutkan anjuran untuk membaca surah al Fatihah sementara dalam kitab Mafatihul Jinan disebutkan anjuran untuk mandi khusus menyambut datangnya Ramadhan. Karenanya sebagai awal tahun baru, seorang muslim selayaknya menjadikan awal Ramadhan sebagai waktu yang tepat untuk merencanakan agenda dan target-targetnya sampai satu tahun kemudian, khususnya agenda peribadatan dan targetnya untuk dimasukkan dalam golongan hamba-hamba yang muttaqin.

 

Diantara hikmahnya mengapa Ramadhan dijadikan sebagai awal tahun peribadatan, karena Ramadhan adalah momentum paling krusial untuk memulai segalanya dengan baik mengingat banyaknya fadhilah dan keutamaan-keutamaan yang terkandung di dalamnya. Lewat Ramadhan kita bisa memperkuat tekad dan keinginan untuk menjadi insan-insan yang bertaqwa.

 

Dari sekian masalah yang dihadapi masyarakat modern saat ini diantaranya yang paling pelik adalah lemahnya tekad dan keinginan. Kita sering mendengar ucapan-ucapan seperti: “Saya tahu bahwa akhlak saya kurang baik, namun saya tidak berdaya untuk mengubahnya.” Atau, “Saya tahu berdusta dan menipu itu tidak baik, namun saya tidak bisa juga menghindarinya.” Ataupun, “Saya tahu shalat awal waktu itu jauh lebih utama, namun saya tidak bisa juga melaksanakannya.” Dan ucapan-ucapan serupa lainnya yang menunjukkan betapa kita tidak berdaya dan lemah keinginan untuk menjalankan hal-hal yang kita sadari sendiri itu jauh lebih baik.

 

Bulan Ramadhan adalah bulan untuk memperkuat tekad dan keinginan yang lemah itu. Ibarat base camp Ramadhan mentraining dan menggembleng jiwa kita untuk lebih mudah dan terbiasa melakukan amalan ibadah. Pikirkan, bagaimana bisa selama bulan Ramadhan kita bisa terbangun lebih cepat untuk sahur namun di bulan lain untuk bangun shalat subuh tepat waktu kita mengatakan tidak bisa?. Kalau anda mengatakan tidak bisa untuk tidak merokok sejam saja, lantas mengapa di bulan Ramadhan anda bisa menahan diri sampai 12-13 jam tidak menyentuh rokok sama sekali?. Kalau kita menyatakan sulit untuk shalat berjama’ah, lantas mengapa di malam Ramadhan kita bahkan bisa dengan rutin shalat taraweh berjama’ah?. Kalau dikatakan sulit untuk tidak makan makanan yang haram, lantas mengapa di siang hari bulan Ramadhan yang halal saja kita mampu menahan diri untuk tidak menyantapnya?. Kalau menyatakan diri tidak bisa betah mendengarkan ceramah agama, mengapa malah di bulan Ramadhan kita bisa duduk manis sampai sejam mendengarkan ceramah sang ustad? Kalau kita menyebut diri sangat sibuk sehingga tak sempat untuk bertadarrus, mengapa di bulan Ramadhan selalu saja kita bisa mencuri waktu untuk mengaji barang sejenak?. Kalau kita mengaku belum siap mengenakan busana sesuai syariat mengapa malah di bulan Ramadhan kita dengan bangga mengenakannya?. Kalau selama 30 hari di siang hari Ramadhan kita bisa meninggalkan hal-hal yang hakekatnya halal sekalipun, lantas apa alasan kita tidak bisa menjauhi yang haram setelah bulan Ramadhan?. Kalau di bulan Ramadhan hati kita mudah untuk simpatik dan tersentuh dengan penderitaan dhuafa, lantas apa yang membuat kita begitu saja egois dan enggan berbagi begitu Ramadhan usai?. Selama bulan Ramadhan kita begitu gigih dan seringkali menang atas godaan nafsu lalu mengapa setelah Ramadhan kita pasrah dan menyerah begitu saja dipermainkan nafsu dan syahwat?.

 

Bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi kita memperkuat tekad, mempertebal keinginan untuk menjadi insan yang bertaqwa dan mementahkan alasan-alasan kelemahan, kemalasan dan ketidak sanggupan kita melakukannya. Toh, ternyata Ramadhan menunjukkan dan memberi bukti kita bisa melakukan semua pribadatan itu. Mengapa pasca Ramadhan kita tiba-tiba menyatakan tidak bisa dan tidak mampu padahal kita hanya sekedar melanjutkan apa yang telah kita rintis di bulan Ramadhan?. Sangat naïf, jika kita telah berpayah-payah selama sebulan melakukan semua amalan yang mendekatkan kita kepada Tuhan, lantas setelahnya kita sendiri yang menghancurkannya. Ibarat sekumpulan itik yang berjam-jam mandi dan membersihkan diri di telaga namun setelah itu balik lagi ke comberan.

 

Keutamaan Ramadhan

 

Mengenal ahkam (hukum-hukum) Ramadhan dari awal sampai akhir dengan sedetail-detailnya sangat penting. Sebab keberhasilan dalam menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan bergantung pada pengenalan kita terhadap ahkam Ramadhan. Semisal, apa saja yang merupakan hal-hal yang dapat membatalkan puasa sehingga kita bisa menghindarinya, siapa saja yang diwajibkan berpuasa dan siapa pula yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa, ataupun mengenai tanda-tanda masuknya imsak maupun waktu berbuka puasa. Namun hal yang lebih penting dari itu adalah pengenalan terhadap fadhilah dan keutamaan Ramadhan.

 

Terkadang kita lebih sering merasa cukup dengan mengenal hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa di bulan Ramadhan untuk menjadi modal dan perbekalan kita memasuki Ramadhan dan mengabaikan pengkajian dan pengenalan mengenai keutamaannya. Hal inilah yang kemudian membuat kita bersemangat menjalani puasa dan ibadah-ibadah lainnya di pekan-pekan awal Ramadhan namun menjelang hari-hari Ramadhan kelesuan dan kejemuan sudah mulai menyerang dan akhirnya mencapai titik nadir, beribadah ala kadarnya sembari berharap Ramadhan segera berlalu. Itu karena kurangnya pengenalan terhadap fadhilah Ramadhan. Padahal semakin menjelang akhir Ramadhan keutamaan dan fadhilah beribadah pada hari-hari itu jauh lebih besar dari hari-hari sebelumnya. Terlebih lagi malam Lailatur Qadr diletakkan di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Imam Ali Zainal Abidin As Sajjad as diantara panjatan do’anya di bulan Ramadhan mengatakan, “Alhimnaa Ma’rifata fadhlihi wa ijlalaala hurmatihi, Ya Allah perkenalkanlah kepada kami fadhilah (keutamaan), kemuliaan dan kehormatan bulan ini”. (Doa 44 Sahifah Sajjadiyah hal. 186).

 

Mengapa mengenal keutamaan dan fadhilah bulan Ramadhan jauh lebih utama dan lebih penting?. Sebab dengan mengenal keutamaan-keutamaan yang dimiliki Ramadhan akan menjadi motivasi bagi kita untuk menjalani hari-hari didalamnya dengan penuh gairah dan semangat. Rasulullah Saw bersabda, “Huwa syahrun awwalahu rahmatun, wa austhuhu magfiratun, wa aakhiruhu ‘itqun minannar, bulan Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah maghfirah (pengampunan) dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” (Bihar al Anwar, jilid 93, hal. 342). Dengan mengetahui segala keutamaan itu, kitapun memperkuat tekad untuk tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Kita melakukan berbagai amalan kebajikan sebab kita meyakini Allah SWT memberi balasan kebaikan dan keberkahan berlipat ganda. Kita beristighfar dan memohon ampun sebanyak-banyaknya karena tahu Ramadhan adalah bulan dimana Allah SWT membuka pintu maaf selebar-lebarnya untuk semua hamba-Nya yang mendambakan kembali pada fitrah.

 

Inilah kesempatan emas yang tidak boleh kita biarkan lewat begitu saja. Dan sadarkah kita, mengapa sampai harus sebulan lamanya? Itu karena Allah SWT menghendaki agar amal-amal peribadatan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan itu menjadi kebiasaan dan tradisi kita selanjutnya dalam mengisi 11 bulan berikutnya. Sebulan waktu yang cukup untuk mengeliminasi kebiasaan-kebiasaan jelek kita dan menggantinya dengan kegiatan yang full ibadah, menggerogoti rasa malas kita dan mengisinya dengan ghirah dan semangat.

 

Namun mengapa kebanyakan kita begitu berakhirnya Ramadhan maka petanda usai pula semua aktivitas ibadah itu?. Idul Fitripun kita maknai sebagai hari perayaan terbebas dari tuntutan-tuntutan ibadah. Kitapun total istrahat dari puasa, shalat berjama’ah, tadarrus Al-Qur’an, saling berbagi dan simbol-simbol Islam yang sebelumnya begitu bangga kita kenakan.  Itu karena hakekatnya kita belum menjadi hamba-hamba Allah yang tulus. Kita tanpa sadar malah menjadi hamba Ramadhan. Yang kita sembah bukan Allah melainkan Ramadhan, yang kita semarakkan bukan syiar-syiar Allah melainkan gegap gempita Ramadhan.

 

Kalau benar kita hamba Allah, maka akan terpatri dalam jiwa dan kesadaran kita, bahwa Allah SWT adalah Rabbnya semua bulan-bulan, tanpa terkecuali. “Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Dialah yang kamu hendak sembah.” (Qs. Fushshilat: 37).

 

Ramadhan mendidik kita untuk menjadi hamba Allah SWT, puasa menggembleng kita untuk menjadi manusia yang bertakwa yang maksudnya adalah menyembah dan beribadah hanya padaNya sampai bulan-bulan selanjutnya, sepanjang tahun, sampai habis umur kita.

 

Marhaban ya Syahru Ramadhan…

 

Ismail Amin

Presiden IPI Iran 2019-2021

Jelang Buka Puasa, IPI Iran Kaji Tips Memaksimalkan Amalan di Bulan Ramadhan

Jelang Buka Puasa, IPI Iran Kaji Tips Memaksimalkan Amalan di Bulan Ramadhan

“Bulan suci Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keutamaan, karena pada bulan ini, kita semua menjadi tamu-tamu Allah. Tentu saja, sejak kita lahir, kita sudah menjadi tamu Allah dan menerima banyak keutamaan yang tidak terhitung jumlahnya setiap harinya, namun ketika memasuki bulan suci Ramadhan rahmat Allah menjadi berlipat ganda, ampunan-Nya dibuka selebar-lebarnya, bahkan pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup bahkan syaitan-syaitan dirantai atau dibelenggu.”

Demikian penyampaian Dr. Marzuki Amin, MA mengawali Kajian Menjelang Buka Puasa yang diadakan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran, Selasa (7/5) di kota Qom, Iran.

Lebih lanjut, alumni Universitas Internasional al-Mustafa Iran yang baru saja menyelesaikan studi S3 nya dibidang Tafsir Alquran tersebut mengatakan, “Bulan Ramadhan juga disebut dengan Syahrul Rabi’ul Qur’an karena Alquran diturunkan pada bulan Ramadhan. Disebut Rabi’ul Qur’an, yaitu bulan seminya Alquran, sebab sebagaimana kita melihat dibanyak negara-negara muslim, dan disetiap tempat yang ada muslimnya, ramai mereka membaca dan mengkaji Alquran, yang pemandangan-pemandangan sesemarak seperti itu tidak kita ketemui diluar bulan Ramadhan.”

“Juga disebut Syahrul Ibadah, yaitu ibadah dibulan Ramadhan ini harus kita tingkatkan baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Dan disebut juga bulan Tarbiyaturruh atau tarbiyatunnafs,atau bulan tazkiyatunnafs, yaitu menjadi kesempatan bagi kita untuk membersihkan jiwa kita. Karena pada bulan ini, kesempatan lebih banyak dan lebih besar dari bulan-bulan lainnya.” Tambahnya lagi.

Lebih lanjut Marzuki Amin menjelaskan mengenai tazkiyah. “Tazkiyah memiliki dua dimensi makna. Yaitu Takhalli,  mengosongkan. Yaitu hati kita kosongkan dari sifat-sifat buruk, seperti hasud, takabur dan sebagainya. Kemudian dimensi lainnya adalah tahalli, menghiasi. Yaitu setelah hati kita kosong dari karakter dan sifat yang buruk, kita mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji. Takhalli dan tahalli ini terkandung dalam kalimat at-Tazkiyah.” Jelasnya.

Terkait bagaimana memaksimalkan amalan agar meraih pahala sebanyak-banyaknya di bulan Ramadhan, Dengan menukil riwayat dari Imam Jakfar Shadiq, Ustad Marzuki mengatakan, “Jika engkau hendak berpuasa, berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu, kulitmu, kakimu, tannganmu dan seluruh anggota tubuhmu, bahkan juga hatimu. Jangan sampai apa yang kau lakukan di bulan Ramahdan sama dengan di hari-hari biasa.”

“Jadi maksudnya, hati, tangan, pendengaran semuanya harus ikut berpuasa. Pendengaran juga harus berpuasa maksudnya menghindarkan diri dari mendengarkan hal-hal yang diharamkan dan yang dimakruhkan. Menahan diri dari melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.” Tambahnya.

Pada bagian lain penyampaiannya, Ustad Marzuki Amin menjelaskan lebih detail mengenai puasa. Ia mengatakan, “Puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Hal yang membatalkan ada dua hal, yaitu yang bersifat materi atau terkait dengan perbuatan anggota tubuh. seperti makan, minum dan jima’. Dan ada pula yang membatalkan yang bersifat maknawiah, yaitu terkait dengan perbuatan hati, contohnya seperti riya. Yaitu melakukan amalan puasanya bukan karena Allah, tapi karena ingin mendapatkan pujian dan sanjungan manusia.”

“Karena itu, untuk dapat terkabulnya suatu amalan, harus memenuhi dua syarat. Yaitu husnul fi’li, yaitu baik perbuatannya. Yang kedua, husnul fa’il, yaitu baik pelakunya.  Husnul fi’li, terkait dengan fikih dan ahkam. Bahwa amalan yang dilakukan harus sesuai dengan syariat, sementara husnul fa’il terkait dengan pelakunya harus baik, misalnya tidak riya. JIka suatu amalan seperti puasa memenuhi husnul fi’li, yaitu puasanya dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan fikih dan memenuhi husnul fa’il, yaitu pelakunya baik dengan memiliki kelurusan niat karena Allah Ta’ala, maka amalan puasanya akan diterima. Namun jika sebaliknya tidak memiliki satu-satunya apalagi keduanya, maka amalan yang dilakukan akan tertolak.” Jelasnya.

“Maka untuk memaksimalkan amalan di bulan Ramadhan untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya maka harus memperhatikan kedua hal tersebut. Karena itu pula dikenal dua syarat dalam ibadah, yaitu syartu shihah, dan syartu qabul. Setiap syartu qabul terpenuhi maka pasti syartu shihah sebelumnya telah terpenuhi, namun tidak semua syartu shihah akan berarti syartu qabul terpenuhi. Syartu shihah adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dikatakan amalan itu sah, seperti berpuasa syaratnya harus dilakukan oleh yang telah baligh, memiliki qudrah (kemampuan), mengilmui hal-hal yang membatalkan puasa dan menghindarinya dan seterusnya. Sementara Syartu qabul, syarat dikabulkan atau diterimanya sebuah amalan, seperti puasa baru diterima jika dilakukan sesuai kaidah fikih dan yang melakukannya niat hanya karena Allah swt.” Jelasnya lebih lanjut.

Dibagian akhir penyampaiannya, ustad Marzuki menyampaikan ada tiga tingkatan berpuasa, yaitu shaumul umum, puasanya orang awam yaitu hanya dapat mengekang syahwat tapi tidak meninggalkan dosa, sekedar mengugurkan kewajiban. Yang kedua, shaumul khusus, puasanya orang khusus, mengekang syahwat sambil meninggalkan maksiat pandangan mata, pendengaran,llisan, kaki, tangan sampai maksiat hati, ini dapat meningkatkan takwa dan dapat mencapai pahala. Dan yang ketiga, Shaumul khususil khusus, yaitu puasanya orang khusus, yaitu dilakukan dengan mengosongkan semua kehendak dan khayalan kecuali zikir kepada Allah.

“Pada tingkatan ketiga ini, sama sekali tidak memikirkan materi. Yang membatalkan puasa bukan makan minum, tapi yang membatalkan adalah ketika ia lalai dari mengingat Allah. Hasil dari puasa ini, kehendaknya ambisinya hanya karena Allah, selain Allah dia tolak semuanya.” Ungkap Ustad Marzuki mengakhiri kajiannya.

Hadir kurang lebih 30 mahasiswa dalam kajian dengan materi “Tips Memaksimalkan Meraih Pahala di Bulan Suci” yang berlangsung selama 45 menit menjelang buka puasa tersebut. Acara yang dimoderatori oleh Sayid Muhammad Mahdi Alatas tersebut juga disiarkan secara live melalui akun instagram @ipiiran. Rangkaian acara selanjutnya adalah buka puasa bersama dan salat maghrib berjamaah.