Perginya Jenderal Iran Pembela Alquds

Perginya Jenderal Iran Pembela Alquds

Jumat 3 Januari 2020, masyarakat dunia dihebohkan dengan meninggalnya seorang perwira senior Iran akibat serangan drone di dekat Bandara Internasional Baghdad Irak. Pentagon mengkonfirmasi serangan tersebut atas arahan langsung Presiden AS, Donald Trump. Usai terkonfirmasi Mayor Jendral Qasim Sulaemani yang menjadi target AS itu benar-benar termasuk korban jiwa dari insiden penyerangan tersebut yang dikenali dari cincin yang dikenakannya, Donald Trump mentweet foto bendera AS di akun twitternya, sebagai tanda kemenangan.

Berbeda dengan Chris Murpy, salah seorang Senator AS. Ia menilai menyerang Jenderal dari kesatuan militer resmi negara yang berdaulat adalah kesalahan fatal dan menjadi tanda ajakan untuk perang terbuka. Ia menulis di Twitternya, balasan Iran harus menjadi kekhawatiran utama AS sejak mulai hari itu. Jutaan warga AS memviralkan tagar #dearIran dengan memberi pesan kepada Iran agar wilayahnya tidak mendapat serangan balasan karena mereka tidak memilih Trump dalam Pilpres AS.

Siapa Qasim Sulaemani yang kematiannya membuat heboh warga dunia khususnya warga AS?. Qasim Sulaemani adalah perwira senior Iran yang ditunjuk langsung Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Sayid Ali Khamanei untuk mempimpin Korps Brigade Alquds, divisi khusus berisi pasukan elit yang bertanggung jawab untuk operasi ekstrateritorial dari Iran. Ia terlibat langsung di berbagai medan konflik di Timur Tengah, khususnya di Irak dan Suriah. Sesuai namanya, Brigade yang dipimpinnya bertugas menjaga Alquds termasuk situs-situs Islam di Suriah dan Irak dari ancaman penghancuran kelompok teroris. Ia membantu Hizbullah di Lebanon dalam mengatasi serangan Israil dan juga membantu HAMAS di Palestina baik bantuan militer maupun bantuan strategi untuk memenangkan pertempuran.

Ia lahir di Kerman tahun 1957 dari keluarga petani miskin. Mengawali karir kemiliterannya dengan mendaftarkan diri menjadi anggota Korps Pengawal Revolusi Islam yang di media-media Barat disebut  Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC) seusai kemenangan revolusi Islam Iran tahun 1979. Karena berperan penting dalam penanganan pemberontakan separatis Kurdi di Provinsi Azerbaijan Barat, ia naik pangkat secara cepat. Pada Perang Iran-Irak tahun 1980-1988, ia memimpin kompi militer dan karena kelihaiannya dalam meracik strategi, disetiap operasi yang dikomandoinya, ia berhasil merebut kembali wilayah yang diduduki Irak, dimana pada saat itu ia masih berusia 25 tahun. Oleh AS ia dipercaya terlibat dalam gagalnya ISIS di Syam dan Irak. Sulaemani diakui memberi bantuan strategi kepada Presiden Suriah Bashar Assad dalam melawan pasukan pemberontak dan merebut kembali kota yang sempat berada dalam cengkraman pemberontak. Dengan kelihaiannya dalam merancang strategi perang dan berhasil meloloskan diri dalam berbagai upaya pembunuhan dalam dua dekade terakhir, Pentagon menjulukinya, “shadow commander”.

Terus, mengapa Sulaemani dibunuh AS? Dennis Etler, seorang analis politik Amerika dalam wawancaranya dengan Press TV menjelaskan bahwa pembunuhan sang Jenderal merupakan langkah putus asa AS setelah gagal dalam semua upaya untuk mengisolasi Iran. Disebutnya, AS telah gagal berkali-kali dalam mengintimidasi Iran, mulai dari mengisolasi dengan memberlakukan embargo politik dan ekonomi, sampai pada upaya mengacaukan Iran secara internal.

Trump sudah diujung tanduk. Ia sedang berusaha mencari simpatik warga AS ditengah ancaman pemakzulan dirinya. Ia mengira dengan membunuh Jenderal Iran yang banyak menggagalkan misi AS di Timur Tengah ia menjadi disegani dan diakui. Yang dilakukan Trump justru telah meningkatkan ketegangan di Timur Tengah ke tingkat yang lebih parah. Ia telah mengambil keputusan fatal dengan memerintahkan membunuh orang berpengaruh kedua di Iran setelah Ayatullah Ali Khamanei. Para pengamat menganalisa, perang dunia ketiga bisa saja terjadi, jika para pemimpin negara-negara besar tidak hati-hati bertindak.

Satu hal penting lainnya, kematian Mayor Jenderal Qasim Sulaemani atas perintah Trump membuka mata dunia. Bahwa kebencian dan permusuhan AS terhadap Iran bukan main-main, bukan sandiwara apalagi settingan sebagaimana sering dikampanyekan sebagian orang. Mungkin di dunia Islam namanya kurang dikenal, karena selain ia bekerja dalam senyap, juga karena kerja-kerja Amerika dan Israel berhasil merusak citra Iran melalui penguasaan media. Namun bagi rakyat Palestina, Irak dan Syam, dia adalah ksatria, dia adalah pembela dan pahlawan mereka. Kematiannya menggerakkan jutaan rakyat Irak menyerbu Kedutaan Besar AS di Baghdad. Gedung Putih segera memerintahkan warga AS untuk keluar dari Irak.

Sebagaimana jabatan yang diberikan Pemimpin Besar Iran padanya, sebagai Komandan Brigade Al Quds, Sulaemani telah menjaga Al Quds seperti menjaga nyawanya. Petinggi-petinggi HAMAS Palestina setiap mengelu-elukan dan berterimakasih pada Sulaemani, ia berkata, “Berterimakasihlah pada Sayid Ali Khamanei yang telah memberi tugas mulia ini padaku”. Tidak jarang, petinggi HAMAS ke Iran hanya untuk menyampaikan terimakasih langsung pada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamanei. Tidak banyak yang tahu ini, karena konsumsi beritanya hanyalah kantor-kantor berita yang berafiliasi pada kepentingan AS dan Zionis. Yang memang bertanggungjawab merusak citra Iran di dunia Islam.

Selamat jalan Jenderal Besar. Darahmu yang tertumpah akan membunyikan lonceng kematian bagi kepongahan Amerika Serikat.

Ismail Amin

Presiden Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran 2019-2021

KBRI Tehran Gelar Obrolan Santai untuk Peringati Hari Ibu

KBRI Tehran Gelar Obrolan Santai untuk Peringati Hari Ibu

Bertempat di ruang serbaguna KBRI Tehran, sejumlah pejabat-staff KBRI, pelajar dan diaspora Indonesia asyik menikmati pemaparan tiga orang pemantik diskusi memperingati Hari Ibu bertajuk “Dari Perempuan untuk Perempuan”, Sabtu (21/12) yang diselenggarakan oleh KBRI Tehran. Ketiga pembicara yang kesemua dari kaum ibu tersebut saling bergiliran menyampaikan pemaparannya. Dimulai oleh Afifah Ahmad, perempuan penulis yang menceritakan tiga kisah dari perempuan inspiratif dan dorongannya agar kaum laki-laki bisa memberikan keleluasan ruang untuk kaum perempuan berekspresi dan mengembangkan kreatifitasnya. Kemudian dilanjutkan oleh Hj. Ani Surya, MPd yang berbagi pengalaman dengan profesinya sebagai guru selama 40 tahun di Jambi dan Jakarta disamping tugasnya sebagai ibu yang tidak ditinggalkannya. 

Sebagai pembicara terakhir, Haryati SPd mengawali pembicaraannya dengan menceritakan peristiwa yang melatarbelakangi ditetapkannya 22 Desember sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno. Menurutnya memperingati Hari Ibu tidak cukup hanya dengan seremonial saja, namun juga harus ada refleksi yang dilakukan kaum Ibu, diantaranya adalah dengan mengadakan diskusi dan kajian khusus memperingati Hari Ibu. “Kita sangat berterimakasih pada KBRI Tehran yang berinisiatif dan menyelenggarakan obrolan santai sore ini, sehingga untuk pertama kali tahun ini kita tidak hanya memperingati Hari Ibu dengan acara seremonial saja, tapi dibarengkan dengan dialog dan sharing untuk sesama ibu bisa saling mendukung dan saling menguatkan dalam menjalankan peran sebagai ibu.” Ungkapnya. 

Lebih lanjut, anggota Dep. Pengawasan dan Kontrol Internal IPI Iran 2019-2021 tersebut memaparkan alasan dibalik ditetapkannya 22 Desember sebagai Hari Ibu. Ia berkata, “Kaum Ibu terinspirasi dari Sumpah Pemuda yang dicetuskan 28 Oktober 1928 oleh kaum muda, dengan juga ingin memberikan kontribusi dalam upaya meraih kemerdekaan Indonesia. Hanya berselang dua bulan di tahun yang sama, 30 organisasi perempuan mengadakan Kongres Perempuan I di Yogyakarta. Mereka berkumpul untuk menyamakan visi misi bagaimana memajukan perempuan, yang juga berarti adalah juga kemajuan untuk bangsa.”

“Dari sini kita melihat, bahwa semangat kaum Ibu untuk memikirkan nasib bangsa sudah ada dari dulu. Pandangan mengenai Ibu atau istri yang kerap diidentikkan hanya di dapur, kasur dan sumur didobrak oleh kaum ibu masa itu dengan juga berbicara politik. Politik yang dilakukan ibu-ibu di zaman itu adalah anti kolonialisme dan penggeloraan semangat nasionalisme.” Tambahnya. 

Mahasiswi Jamiat-u al-Zahra Qom tersebut lebih lanjut mengatakan, “Kecerdasan berpolitik kaum Ibu dimasa itu bisa kita nilai dari cara mereka memilih nama organisasi. Mereka Membuat organisasi dengan nama Persatuan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII). Mereka sengaja menggunakan istilah istri untuk mengelabui Belanda agar tidak dicurigai. Istilah istri saat itu identik untuk kaum perempuan yang hanya mengurusi domestik rumah tangga saja. Dengan itu, gerakan-gerakan politik yang mereka lakukan tidak mendapat kecurigaan.”

Di bagian lain penyampaiannya, anggota Badan Penasehat Aliansi Keputrian Timur Tengah Afrika 2019-2020 tersebut menyebut perempuan bisa berkarir baik di ruang publik maupun dalam rumah tangga, yang menurutnya sangat sulit untuk dilakukan laki-laki yang lebih sering hanya mampu meniti karir di luar rumah. Ia berkata, “Menjadi ibu rumah tangga adalah karir yang luar biasa. Kalau seumpama menjadi guru, guru lebih mudah dari menjadi ibu rumah tangga. Guru ada masa pensiun. sementara ibu rumah tangga tidak ada masa pensiunnya. Ini adalah karir yang tinggi, karena juga dari Allah swt.”

“Karena itu saya bangga, ibu-ibu ada disini memperingati hari ibu, untuk meneruskan apa yang diinginkan para perempuan kita sebelumnya untuk negara kita. Mari memberikan kontribusi sesuai dengan bidang kita masing-masing, jangan sampai negara kita malah mengalami kemunduran. Seorang ibu tidak boleh berhenti belajar. Menyekolahkan anak meskipun itu disekolah favorit bukan berarti ibu bisa lepas tanggungjawab. Justru semakin tinggi tingkat pendidikan anak, justru orangtuanya juga harus mengimbangi. Sekarang revolusi industri 4.0 yang semuanya serba canggih. Jangan sampai ibu karena gaptek, kita tidak bisa mengimbangi dan memahami kecenderungan anak-anak yang dunianya memang berbeda dengan yang dulu kita alami.” Tanbahnya.

“Kalau ingin melihat negara itu maju, maka lihatlah kondisi kaum ibunya. Karena setiap generasi lahir dari ibu. Dari tangan yang welas asih dan pangkuannya lahir generasi yang kelak menentukan masa depan dan nasib suatu bangsa.” Tutupnya.

Obrolan santai memperingati Hari Ibu yang dimoderatori oleh Salsabila Kenangi Urrachman Kadep Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021 tersebut berlangsung mulai dari pukul 15.00 sampai 17.30 waktu setempat. Hadir memberikan sambutan di awal acara, pejabat Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Tehran Tety Mudrika Hayati dan pejabat Fungsi Politik KBRI Tehran Priaji Soelaiman yang mewakili Duta Besar Indonesia untuk Iran Octavinu Alimuddin yang sedang menjalankan ibadah umrah bersama keluarga. 

Bagaimana Iran Memperingati Maulid Nabi Muhammad saw?

Bagaimana Iran Memperingati Maulid Nabi Muhammad saw?

Iran dengan nama lengkap Republik Islam Iran jelas sangat mengagungkan Nabi Muhammad saw. Sebagai pembawa Islam dan penghulu para Nabi, Nabi Muhammad saw di mata orang-orang Iran begitu sangat istimewa. Muhammad adalah diantara nama yang sangat populer di Iran.

Bagi yang pernah ke Iran, akan dengan mudah melihat tulisan dan kaligrafi bertuliskan Muhammad dan tulisan salawat atasnya. Bukan hanya tertera di ornamen masjid, tapi juga di hotel, diperkantoran, dinding-dinding sekolah bahkan di halte bis maupun di tembok-tembok di jalan umum. Lantunan salawat dapat dengan mudah terdengar dari lisan orang-orang Iran. Supir yang membawa kendaraan umum sesaat sebelum berangkat akan meminta para penumpangnya bersalawat terlebih dahulu. Pembaca berita di tv dan radio-radio Iran mengawali berita yang dibacanya dengan bersalawat terlebih dulu. Murid-murid sekolah sebelum memulai pelajaran mengawalinya dengan salawat serentak, bahkan diarena olahraga sekalipun, pertandingan diawali dengan salawat lebih dulu. 

Kecintaan dan kerinduan pada Nabipun diekspresikan bangsa Iran dengan telah membuat film kolosal yang menceritakan biografi Nabi Muhammad saw di masa kecil. Produksi yang menghabiskan anggaran yang memecahkan rekor negaranya dan disutradarai oleh Majid Majidi, sutradara terbaik Iran dan nomine piala Oscar, film Mohammad, Messenger of God memecahkan rekor box office domestik. Belum ada film yang begitu sangat populer di Iran dan bertengger lama di box office domestik selama berbulan-bulan, kecuali film yang mengisahkan masa kecil Nabi Muhammad saw tersebut. 

Terus, bagaimana Iran memperingati Maulid Nabi Muhammad saw?. Berbeda dengan negara Islam lainnya, yang secara resmi memperingati Maulid Nabi hanya di hari 12 Rabiul Awal sebagaimana keyakinan mayoritas umat Islam, Nabi Muhammad saw lahir di tanggal tersebut, Iran memperingati maulid Nabi secara resmi selama sepekan. Peringatan Maulid dimulai dari 12 Rabiul Awal sampai 17 Rabiul Awal. Dalam keyakinan umat Islam Syiah -mazhab yang mayoritas di Iran- Nabi Muhammad saw lahir pada 17 Rabiul Awal. Sehingga dengan memberikan penghargaan pada dua pendapat ini, Pemerintah Iran secara resmi memperingati keduanya dan menamakan hari-hari peringatan maulid tersebut dengan nama Pekan Persatuan Islam, dalam bahasa setempat disebut Hafteh Wahdat

Selama sepekan tersebut jalan-jalan dan ruang-ruang publik terisi oleh kaligrafi bertuliskan Muhammad dan pesan-pesan persatuan Islam. Peringatan Maulid Nabi dijadikan bangsa Iran sebagai momentum menyerukan kampanye persatuan Islam. Bahwa semua umat Islam apapun mazhabnya, porosnya ada pada kecintaan kepada Nabiullah Muhammad saw.

Diantara agenda besar di Pekan Persatuan Islam, adalah diadakannya Konferensi Internasional Persatuan Islam. Konferensi yang mengundang ratusan ulama, tokoh politik, cendekiawan dan akademisi dari 90 negara dunia tersebut digelar setiap tahunnya di Iran, dan pada tahun ini telah terselenggara untuk yang ke-33 kalinya. Sepanjang penyelenggaraannya, Indonesia tiap tahunnya rutin mengirimkan delegasi. Konferensi Persatuan Islam tahun ini yang mengusung tema   “Persatuan Umat Islam untuk Membela Masjid Al-Aqsa” kembali dibuka oleh Presiden Republik Islam Iran pada Kamis, (14/11). Dalam pidato sambutannya Presiden Rouhani menyebut Palestina dan al-Quds sebagai prioritas utama dunia Muslim. Dia mengatakan, musuh-musuh dunia Islam ingin agar umat Islam  melupakan masalah Palestina.

Di sela-sela konferensi, diselenggarakan salat wajib berjamaah, yang bergantian, kadang ulama Sunni yang menjadi imam, kadang dari ulama Syiah.

Para peserta konferensi juga diagendakan untuk mengunjungi makam Imam Khomeini, untuk memberi penghormatan kepada pendiri Republik Islam Iran dan inspirator diadakannya Konferensi Internasional Persatuan Islam pada Pekan Persatuan Islam dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.

Melihat ulama-ulama Sunni dari berbagai negara Islam memberi penghormatan kepada makam Imam Khomeini yang merupakan ulama Syiah, menunjukkan hakekatnya Sunni dan Syiah saling menghargai. Konspirasi dan provokasi pihak musuhlah yang mencitrakan Sunni dan Syiah itu bermusuhan dan harus dibuatkan konflik antar keduanya.

Terlebih lagi pada puncak acara dari Konferensi Persatuan Islam, yaitu saat bertemunya tamu konferensi dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Sayid Ali Khamanei, kerap kali diwarnai suasana yang jauh lebih mengharukan, yaitu saling berangkulannya antara ulama Sunni dan ulama Syiah. Habib Ali Zainal Abidin al Jufri, ulama kharismatik kelahiran Jeddah Arab Saudi pernah berkata, “Musuh kalian yang sebenarnya adalah mereka yang meyakinkan kalian Sunni dan Syiah bermusuhan.”

Beginilah suasana memperingati Maulid Nabi di Iran, yang memberi kesejukan dan mengirimkan pesan kepenjuru dunia, bahwa kekuatan Islam sebenarnya terletak pada persatuan umatnya. Umat yang disatukan oleh kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad saw.

Selamat memperingati hari lahirnya manusia agung, Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Aaali Muhammad. 

Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA: Sunni dan Syiah di Iran Hidup secara Harmonis

Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA: Sunni dan Syiah di Iran Hidup secara Harmonis

“Di Hari Santri Nasional ini, kita ucapkan selamat kepada para santri. Sudah menjadi kepatutan juga untuk kita mendoakan para pejuang-pejuang pesantren yang telah kembali ke rahmatullah. Mari kita membacakan Alfatihah, kepada mereka yang telah mempersembahkan jasa besar bagi negara maupun agama.” Ungkap Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA mengawali pembicaraannya dalam acara diskusi Hari Santri Nasional 2019 yang diselenggarakan oleh IPI Iran bekerjasama dengan Gusdurian Tehran pada Selasa (22/10). 

Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar tersebut lebih lanjut mengatakan, “Pesantren dan santri adalah ciri khas Indonesia yang tidak ditemukan negara lain. Kata santri bukan berasal dari bahasa Arab apalagi Persia, tapi dari ajaran umat Hindu dalam melaksanakan pendidikan agama. Ada lima ciri khas dari pesantren Islam Indonesia. Yaitu, ada santri, ada kyai yang tinggal bersama santrinya, ada pondok, ada masjid sebagai tempat mengaji selain ruangan belajar dan ada kitab kuning.”

“Keberadaan pesantren di Indonesia telah dirasakan besar manfaatnya. Misalnya disuatu wilayah yang sebelumnya dipenuhi aktivitas maksiat dan kejahatan dengan kemudian di tempat tersebut didirikan pesantren, wilayah tersebut akan berubah menjadi daerah yang religius. Di Jombang misalnya. Menurut informasi sebelumnya di Jombang adalah sarang kemaksiatan, namun sekarang dikenal sangat religius dan disucikan setelah didirikan pesantren di daerah tersebut.” Lanjut Wakil Rais PW NU Sul-Sel tersebut. 

“Mengapa pesantren dirasakan manfaatnya oleh masyarakat? karena fungsi pesantren adalah mendidik santri, selain dimensi intelektual juga akhlak dan karakter. Fungsi kedua adalah mendakwahkan ajaran agama dan yang ketiga adalah memperbaiki masyarakat.” Tambahnya lagi. 

“Salah satu ciri Islam Indonesia adalah datang dengan damai. Islam datang ke Nusantara tidak dengan senjata tetapi melalui dakwah muballigh dan pedagang. Islam yang didakwahkan diterima masyarakat setempat karena tidak dengan membabibuta menabrak tradisi-tradisi yang telah lama berlaku di masyarakat yang terpengaruh tradisi Hindu dan Budha. Melainkan tradisi-tradisi yang bisa diadaptasi akan dikembangkan, diperbaiki dan dilengkapi. Jadi dalam perkembangan agama di Indonesia ada kesinambungan. berlangsung secara damai, sebelum masuk Islam sudah ada Hindu dan Budha, dan itu berkembang secara damai. Begitupun kehadiran Konghucu dan Kristen pun datang dengan damai.” Papar pakar sejarah Islam tersebut. 

“Itulah mengapa ulama-ulama kita tidak mempersoalkan ketika harus mengadaptasi tradisi nyantri milik umat Hindu ke dalam sistem pendidikan Islam. Pesantren sebagai lembaga tradisional yang mengembangkan Islam di Indonesia kemudian menjadi motor berkembangnya Islam yang damai dan sejuk.” Lanjutnya. 

Mantan Pembantu Rektor UIN Alauddin Makassar tersebut lebih lanjut menguraikan bahwa santri sangat berpotensi menjadi agen dan juru damai karena dalam tradisi pesantren dikembangkan sikap menghormati kyai. Penghormatan pada guru dengan sendirinya akan menciptakan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat. Menurutnya selain memberi penghormatan pada guru atau kyai, pada santri juga ditanamkan sikap menghormati pandangan yang berbeda.

“Dengan santri belajar dan mengenal ushul dan juga dibekali ilmu mantik, santri jadi tidak mudah terprovokasi membenci suatu kelompok hanya karena berbeda pandangan keagamaan. Mengapa ada mazhab-mazhab yang berbeda, itu karena ada perbedaan tempat, waktu dan kondisi. Misalnya Imam Malik yang tinggal di Madinah, lebih tekstual karena dengan berada di Madinah, banyak riwayat dan hadis yang ditemukan, sementara Imam Abu Hanifah yang menetap di Bagdad yang karena kurang pasokan riwayat sehingga fatwa dan hasil ijtihadnya lebih kontekstual. Semakin luas wawasan, maka akan fleksibel dalam menyikapi perbedaan, dan lebih bisa bersikap toleran karena mengetahui sumber perbedaan itu dalam ilmu ushul.” Jelasnya mendetail. 

Ketua Umum Forum Kerukunan Umat Beragama Sulawesi Selatan tersebut menyayangkan merebaknya paham-paham radikalisme yang muncul. Menurutnya itu lahir dari wawasan yang sempit. “Mereka yang terpapar radikalisme kebanyakan tidak mengetahui sumber-sumber perbedaan pendapat. Yang mereka ketahui dan pelajari hanya satu pendapat saja, sehingga menihilkan pendapat-pendapat yang lain.” Ungkapnya. 

“Munculnya radikalisme dan takfirisme adalah pengaruh dari luar, bukan bagian dari Islam yang dikembangkan di Indonesia. Takfirisme tidak sesuai dengan tradisi dan budaya Indonesia yang tepa selira terhadap perbedaan. Jumlah kelompok-kelompok takfiri sedikit, namun karena gaungnya besar, kemunculan mereka menjadi berbahaya. Terorisme yang lahir dari takfirisme bukan berasal dari pesantren, kalaupun ada santri yang melakukannya, itu memang berasal dari pesantren yang sengaja didirikan untuk menciptakan mesin-mesin pembunuh.” Tegas Anre Gurutta Rahim Yunus. 

Lebih lanjut, Prof. Rahim Yunus berkata, “Indonesia lahir dari konsep kenegaraan yang tidak melawan dengan konsep yang sudah berkembang sebelumnya. Yang umumnya tidak mau memahami, karena sudah digembleng dengan satu pemahaman. Mereka tidak paham dengan sejarah perbedaan-perbedaan yang ada. Sejarah harus dipelajari dengan baik, sehingga tidak gagap dalam mengenal dan memenuhi kebutuhan masa sekarang.” 

“Solusi yang harus dilakukan adalah, lembaga pendidikan Islam baik dari pesantren sampai perguruan tinggi  harus mengembangkan pendidikan moderasi beragama. Kepada peserta didik harus dibekali ilmu alat sehingga mengetahui proses lahirnya hasil ijtihad. Harus dipahamkan bahwa Indonesia lahir dari kebersamaan. Semua penganut agama berjuang, dan jasa-jasa mereka ada. Sehingga yang harus dikembangkan adalah sikap saling menghargai satu sama lain.” Tambahnya.

Lebih lanjut, akademisi yang keberadaannya di Iran karena mendapat tugas dari Kementerian Agama untuk melakukan riset mengenai toleransi beragama di Timur Tengah, mengatakan, “Di Iran antara Sunni dan Syiah hidup secara harmonis. Dan saya melihatnya langsung. Saya ke Ghurghan dan Mahad Hanafiyah dan berbincang langsung dengan komunitas Sunni yang menceritakan betapa mereka hidup aman, harmonis dan rukun ditengah-tengah masyarakat Syiah.”

“Banyak informasi yang tidak benar mengenai Iran dan Syiah yang beredar di Indonesia. Saya diajak salah seorang dosen Sunni alumni Libiya yang memperlihatkan di perpustakaan-perpustakaan umum, literatur Sunni sangat mudah ditemukan. Tidak ada kebencian dan permusuhan pada Sunni dari rakyat Iran yang Syiah yang selama ini viral diberita-berita. Saya dengan bisa dengan tenang melakukan salat dengan tatacara Sunni NU tanpa ada gangguan dari mereka yang Syiah. Di Ghurghan saya salat dhuhur di salah satu masjid, dan Imamnya Sunni sementara jamaahnya dari Sunni dan Syiah.” Jelasnya. 

Diskusi Hari Santri Nasional 2019 IPI Iran bertempat di ruang seminar Al-Hikmah Institute Universitas Internasional Al-Mustafa Qom Iran. Selain menghadirkan Wakil Rais PW Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA sebagai pembicara juga hadir sebagai pembicara pertama, Mahasiswa kandidat Doktor Filsafat Islam Universitas Internasional Al-Mustafa, Abdul Latif, MA. Hadir sejumlah mahasiswa Indonesia di acara diskusi yang berlangsung dari pukul 14.30 sampai 17.00 waktu setempat tersebut.

Abdul Latif, MA: Tugas Terbesar Santri, Menjamin Nilai-Nilai Keislaman Dirasakan Masyarakat

Abdul Latif, MA: Tugas Terbesar Santri, Menjamin Nilai-Nilai Keislaman Dirasakan Masyarakat

Bekerjasama dengan Gusdurian Tehran, IPI Iran sukses menggelar acara diskusi dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. Bertempat di ruang seminar Al-Hikmah Institute Universitas Internasional Al-Mustafa Qom Iran, diskusi Hari Santri Nasional IPI Iran menghadirkan Wakil Rais PW Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA dan Mahasiswa kandidat Doktor Filsafat Islam Universitas Internasional Al-Mustafa, Abdul Latif, MA sebagai pembicara, Selasa (22/10)

Abdul Latif, MA sebagai pembicara pertama, dalam paparan materinya mengutarakan sebelum mengetahui tugas dan tanggungjawab santri, perlu diketahui dulu siapa yang dimaksud santri. 

“Ada kesesuaian antara sebab dan akibat. Sebelum mempelajari sebab kita akan buta pada akibat. Santri dan perdamaian adalah hubungan dan sebab. Jadi yang pertama kita lakukan adalah mengetahui santri itu, tugas dan tanggungjawabnya apa.” Ungkapnya. 

“Santri adalah sosok yang ingin mendalami dan mengkaji ilmu-ilmu suci yang tertera dalam Alquran dan Assunnah, yang karena benar-benar ingin fokus mendalaminya santri belajar pada pondok pesantren dengan bimbingan kyai atau ulama.” tambah alumnus Pondok Pesantren Al-Hadi Pekalongan tersebut. 

Lebih lanjut Abdul Latif menguraikan setidaknya 6 kewajiban santri yang dikutipnya dari pernyataan Ayatullah Sayid Ali Khamanei pada pidato sambutan masuknya tahun ajaran baru di hadapan ribuan santri Hauzah Ilmiah Iran. “Ada 12 pesan dari Ayatullah Sayid Ali Khamanei kepada para santri namun pada kesempatan ini, saya hanya akan menyampaikan 6 pesan saja yang menguraikan tugas terpenting seorang santri karena keterbatasan waktu yang ada

Pertama, memberi pencerahan dan arahan pemikiran agama. Yaitu seorang santri dengan ilmu-ilmu agama yang dipelajarinya secara mendalam, ia harus mampu meluruskan pemikiran ajaran yang salah dan menyimpang dari agama. 

Kedua, santri tidak boleh hanya aktif dalam bidang agama saja, bukan ceramah saja di mimbar-mimbar, namun santri juga harus punya andil untuk bisa menciptakan suasana politik yang adem. Santri berkewajiban mengenalkan pada masyarakat, mana kawan mana lawan. Bukan hanya hafal Alfiah saja, hanya sharaf saja, tapi mampu memberi pencerahan dalam semua dimensi kehidupan.

Ketiga, santri harus hadir di tengah-tengah masyarakat, harus peka kepada sosial, harus mampu melihat apa yang sedang dihadapi masyarakat. Tidak hanya menghafal Alquran dan Hadis saja, melainkan bagaimana ia dengan ilmu yang dimiliki mampu mengetahui mana yang dibutuhkan masyarakat.

Keempat, membangun masyarakat yang islami. Tugas terbesar santri adalah menjamin nilai-nilai keislaman harus dirasakan masyarakat. 

Kelima, santri harus mengikuti perkembangan zaman dan harus mampu membaca pemikiran-pemikiran yang berkembang saat ini. Setiap isu miring yang melenceng dan menyimpang dari Islam, santri harus sigap memberikan bantahan. Karenanya santri harus bisa turut aktif di media sosial. Sebab di dunia maya saat ini, penyesatan, penyelewengan terhadap aqidah dan ajaran-ajaran islam yang murni sangat massif dilakukan, dalam hal ini santri harus membenahi. 

Keenam, santri bertugas untuk menjaga aqidah masyarakat dengan cara yang terbaik. Ketika ingin membenahi aqidah masyarakat, harus memahami terlebih dahulu budaya dalam masyarakat, secara garis besarnya perlu mengetahui medan. Metode yang kerapkali diajarkan belum tentu dapat diterapkan. Karenanya, bagaimana kita menggunakan budaya lokal, untuk mentransfer yang kita ilmui. Bagaimana menjelaskan materi yang rumit dengan contoh yang gamblang sehingga mudah dipahami dan diterapkan masyarakat.”

Seusai mahasiswa Filsafat Islam Universitas Internasional Al-Mustafa Iran tersebut menguraikan materinya, Guru Besar UIN Alauddin Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA menyampaikan materinya. Hadir sejumlah mahasiswa Indonesia dalam diskusi yang berlangsung kurang lebih 2,5 jam tersebut.