IPI Iran dan PPI Dunia Gelar Webinar Kebangsaan Sumpah Pemuda

IPI Iran dan PPI Dunia Gelar Webinar Kebangsaan Sumpah Pemuda

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-92, Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran yang dikepalai Salsabilah Kemangi Urrahman bekerjasama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) menggelar Webinar Kebangsaan jilid III secara virtual dengan mengangkat tema, “Membangun Nalar Kritis Pemuda di Era Millenial”. Acara dibuka dengan sambutan Presiden IPI Iran 2019-2020, Ismail Amin, MA yang menyebutkan dalam sambutannya, “Saat ini kita sedang berada di era post truth yaitu di mana pilihan terhadap kebenaran tidak lagi di dasarkan pada fakta melainkan karena kecenderungan emosial, sehingga banyak yang membuat standar kebenarannya sendiri berdasarkan suka atau tidak suka.”

“Hal tersebut berbahaya bagi demokrasi, sebab politisi misalnya, bisa memainkan opini publik untuk meraih kekuasaan. Karena itu bagaimana sikap kritis itu penting saat ini.” Ungkap mahasiswa S3 Almustafa International University of Iran.

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Koordinator PPI Dunia, Choirul Anam, ME, AK, CA. Mahasiswa dari PPI Ceko ini menyebutkan, “PPI adalah bagian dari sejarah kongres sumpah pemuda, dimana pelajar-pelajar yang kembali dari Belandalah yang menggagas dan menggelar Kongres Pemuda tahun 1928, jadi ini adalah kebanggaan tersendiri bagi PPI yang telah menjadi bagian dari sejarah besar bangsa ini.”

“Namun dari kebangggaan tersebut, melekat sebuah tanggungjawab, dimana kita sebagai pelajar di luar negeri harus memberikan kontribusi nyata, berkontribusi dan turun tangan langsung. Pemuda di tahun 1928 berpikir bagaimana Indonesia bisa merdeka, pemuda di 2020 harus memikirkan bagaimana mengisi kemerdekaan dengan hal positif.” Jelas kandidat PhD of Public Policy, Charles University, Prague ini.

Sementara Ammar Fauzi, PhD sebagai narasumber pertama pada Webinar ini memberikan perbandingan pemuda dulu dengan sekarang, yang disebutnya pemuda dulu, dengan usia di bawah 25 tahun telah banyak memberi kontribusi besar bagi negara, sementara kita saat ini diusia yang jauh dari itu masih bingung ingin memberikan kontribusi apa pada negara. “Memperbandingkan usia ini bukan untuk menimbang mana yang baik dan buruk, namun untuk menjadi motivasi kita mengejar ketertinggalan kita, jangan sampai para pendahulu kita kecewa dengan apa yang dilihat sekarang. Sebab mereka tentu mengharapkan capaian-capaian kita itu jauh lebih baik dan bisa menyempurnakan hasil kerja-kerja mereka.” Tambah dosen Filsafat Islam di STFI Sadra Jakarta ini.

Lebih lanjut, Direktur Indonesia Berfilsafat ini menjelaskan makna kritik yang disebutnya secara etimologis berasal dari bahasa Yunani “criticos” yang artinya menyaring. Karena pada dasarnya fungsi kritik adalah menyaring, makanya tidak benar jika ada yang takut pada kritikan, sebutnya. “Kritik itu cuman menyaring kok, untuk mendapatkan mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga hasilnya bisa lebih maksimal. Sementara dalam bahasa Arab, kata kritik biasa digunakan ‘naqd’ yang arti aslinya adalah mengukur kadar emas atau perak suatu perhiasan. Jadi jika mengetahui fungsi dasar kritik, maka tidak ada yang perlu phobia terhadap kritikan.” Jelasnya.

Terkait karakter khas pemuda, Ammar Fauzi menyebutkan ada dua cirinya, yaitu idealis dan energik. “Idealis yang dimaksud adalah berdasarkan pengetahuan dan kemauan, dan yang dimaksud energik, adalah memiliki semangat dan keberanian. Jadi ada intelektualitas dan emosionalitas, dan pemuda yang diharapkan adalah yang mampu menyeimbangkan dua hal ini. Post truth muncul karena emosional lebih besar dari intelektualitas. ” Papar alumnus doktoral Filsafat Islam dari Universitas Almustafa Iran ini.

Jika Ammar Fauzi mendorong bangkitnya nalar kritis pemuda melalui pendekatan filsafat, Wahyudin Halim, PhD sebagai narasumber kedua melakukan pendekatan sosiologis. Di awal pemapatan materinya, Dosen Antropologi Agama di UIN Alaudidin Makassar ini menyebutkan, tiga karakter dan orientasi pemuda. “Ada tiga tipikal pemuda, yaitu teoritis, aktivis dan yang menggabungkan keduanya. Pemuda teoritis hanya merasa cukup dengan mengenal masyarakatnya, pemuda aktivis mau mengubah masyarakatnya dan teoritis-aktivis adalah mengenal dan sekaligus berusaha mengubah masyarakatnya.” Ungkapnya.

Sesuai dengan tema diskusi, cendekiawan yang menyelesaikan doktoralnya di Australian National University, Canberra, Australia ini lebih lanjut menyampaikan, cara menyemaikan intelektualitas kritis. Ia menyebutkan, “Caranya adalah pertama, menumbuhkan dan merawat sikap keingintahuan dan keheranan. Kedua, tidak membatasi ruang dan obyek yang dipertanyakan walaupun dengan tetap dengan batasan moral tertentu. Ketiga, mendorong keleluasan untuk bereksprimen. Keempat, menyadari bahwa eksistensi seseorang adalah “penyempurna” bangunan masyarakat bangsanya, dan selanjutnya menyempurnakan bangunan peradaban umat manusia secara global. Dan yang keliman, adalah harus ada sistem pendidikan yang pemuda untuk menyadari fungsinya sebagai agen dan pemimpin perubahan.”

Di bagian akhir pemaparannya, Wahyudin Halim memberikan pesan, agar pemuda khususnya pelajar di luar negeri, selalu berusaha mengasah kepedulian terhadap isu-isu kritis global untuk mengatasi isu-isu lokal dan nasional sehingga meski sedang berada di luar negeri, namun bisa memberi kontribusi pemikiran dan ide untuk kemajuan negara.

Dalam webinar yang berlangsung tiga jam ini, turut hadir tiga panelis, masing-masing  Koordinator PPI DK Asia-Oseania 2020-2021 Adi Kusmayadi, MSc Mahasiswa S3 Tunghai University-Taiwan selaku, Ketua Umum PPI Ceko 2020-2021  Surya Gentha Akmal, S.Pi., M.Si Mahasiswa S3 CULS Prague-Czech Republic selaku dan personalia IPI Iran 2019-2021 Sultan Nur, MA Mahasiswa S3 Almustafa International University-Iran.

Bertindak selaku master of ceremony dan moderator masing-masing Pegiat Gusdurian Tehran 2020-2021 M. Thaha, S. sos Mahasiswa S2  Ahlulbayt International University-Iran dan Kepala Biro Hukum, SPI, dan Kelembagaan PPI Dunia 2020-2021  Achyar Al Rasyid Mahasiswa S3 Tianjin University-Tiongkok. Acara ini dihadiri lebih dari 70 peserta di Zoom dan disaksikan lebih dari 130 kali. 

Sinergi TNI dan Rakyat dalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa di Daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal)

Sinergi TNI dan Rakyat dalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa di Daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal)

Indonesia memiliki 34 provinsi dan 11 diantaranya memiliki kabupaten yang tergolong sebagai wilayah 3T sebesar 62 kabupaten. Hal ini berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 63 tentang penetapan daerah tertinggal tahun 2020-2024. Penilaian daerah tertinggal dilakukan berdasarkan enam aspek penilaian, yaitu: 1) perekonomian masyarakat; 2) keadaan sumber daya manusia (SDM); 3) ketersediaan sarana dan prasarana; 4) kemampuan daerah; 5) aksesibilitas dan 6) karakteristik daerah (Bidara, 2020). Dari aspek keadaan SDM, tampak bahwa persentase buta huruf di daerah tersebut terbilang cukup tinggi dibandingkan daerah-daerah lainnya. Hal ini terbukti dari data BPS tahun 2019 yang menyebut Provinsi Papua sebagai daerah dengan persentase buta aksara tertinggi sebesar 20,21% disusul oleh Nusa Tenggara Timur (2,51%) dan Nusa Tenggara Barat (2,46%) pada kategori umur 15-44 tahun (BPS, 2020). Padahal, kemampuan membaca merupakan kebutuhan fundamental tiap individu maupun negara secara keseluruhan untuk dapat berkembang. Untuk menanggulangi masalah ini diperlukan usaha yang serius dalam memberantas buta aksara di daerah-daerah tersebut.

Tentara Nasional Indonesia atau disingkat TNI memiliki peran vital dalam menjaga keamanan dan keselamatan nusa dan bangsa. Di samping tugas utamanya tersebut, TNI juga aktif berkontribusi di berbagai bidang di tengah masyarakat. Salah satu bidang yang menjadi pokok perhatian ialah pendidikan. Dikarenakan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945, Indonesia telah merumuskan ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ sebagai salah satu tujuan utama pembentukan negara ini. Untuk mewujudkan hal tersebut, seluruh elemen masyarakat termasuk TNI bersama rakyat sipil harus bahu-membahu.

Di antara manifestasi komitmen TNI dalam memberikan solusi pendidikan ialah melalui program Mobil Calistung (baca-tulis-hitung) keliling di beberapa distrik Kabupaten Merauke. Mobil calistung menyediakan buku-buku bacaan dan media elektronik yang diharapkan mampu meningkatkan semangat belajar serta kemampuan membaca, menulis dan berhitung anak-anak (Hermawan, 2019). Sebelum itu pun, yakni pada tahun 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggaet TNI Angkatan Darat untuk bekerja sama mengisi kekosongan guru di wilayah 3T. Sebelum diperbantukan di wilayah perbatasan, para personel TNI wajib diberi pembekalan terlebih dahulu sehingga dapat memenuhi standar pembelajaran nasional. Hal ini dinilai merupakan solusi ideal karena TNI bertugas di wilayah perbatasan dan sudah terlatih untuk melalui medan-medan yang sulit dan keterbatasan lainnya sebagaimana yang diungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang menjabat saat itu, Mohammad Nuh (Rachman, 2014).

Pada tahun 2019 lalu, program yang menggandeng TNI AD sebagai tenaga pengajar di daerah 3T pertama kali terlaksana. Berbekal bimbingan dan materi dari Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (P4TK) bidang bahasa, Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Timur, Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan dosen-dosen dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sebanyak 900 prajurit TNI AD siap ditugaskan di Kabupaten Nunukan dan Malinau, Kalimantan Utara (Seftiawan, 2019).

Di luar kepedulian dan langkah nyata TNI dalam pemerataan pendidikan di wilayah-wilayah tersebut, masyarakat umum pun memiliki gagasan yang sama. Dengan menjaring ratusan relawan dari putra-putri bangsa yang berkemauan kuat untuk memberantas kebodohan di bumi pertiwi, sejumlah gerakan berhasil digencarkan diantaranya ada Indonesia Mengajar (IM), Kelas Inspirasi, Ruang Berbagi Ilmu dan sebagainya. Namun sayangnya, baik TNI maupun gerakan-gerakan ini masih berjalan sendiri-sendiri.

Inisiatif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam melibatkan TNI AD merupakan sebuah gebrakan yang cemerlang dimana infrastruktur belum tersedia secara merata di seluruh pelosok negeri. Akibatnya, relawan akan sangat kesulitan jika hendak mengajar di daerah-daerah tersebut dan keadaan ini dapat diatasi dengan mudah oleh personel TNI AD yang telah terlatih di medan-medan yang sulit. Sayangnya, jika dibanding rasio anggota TNI AD dengan jumlah relawan yang dibutuhkan untuk diperbantukan di daerah-daerah 3T cukup timpang. Selain itu, TNI AD juga mengemban amanat yang tidak kalah penting untuk dilaksanakan yakni menjaga keamanan dengan menjaga perbatasan misalnya, sehingga sulit bagi TNI untuk bekerja secara independen dalam menunaikan tugas mulia sebagai pengajar. Oleh karena itu, mereka perlu bersinergi dengan yayasan maupun gerakangerakan masyarakat yang memiliki tujuan yang sama. Dengan adanya sinergi dan kolaborasi dari kedua belah pihak, baik relawan dari TNI maupun masyarakat sipil dapat bergotong-royong memutus rantai kebodohan di daerah pelosok Indonesia dengan lebih efisien. Jumlah buta huruf dapat berkurang secara signifikan. Penurunan angka buta huruf pun berdampak pada peningkatan kualitas SDM Indonesia sehingga dalam waktu dekat dapat bersaing di kancah global.

Fatimah Mustafawi Muhammadi

Mahasiswa pascasarjana Medical Nanotechnology, Tehran University of Medical Sciences

Bendahara Umum Ikatan Pelajar Indonesia (IPI Iran) 2019-2021

(Artikel ini meraih juara III pada lomba menulis karya ilmiah oleh KBRI Tehran dan Atase Pertahanan RI-Tehran dalam rangka memperingati HUT TNI ke 75)

Referensi

Bidara, P. (2020). Jokowi tetapkan 62 kabupaten ini sebagai daerah tertinggal periode 20202024. Kontan.co.id. Retrieved from https://nasional.kontan.co.id/news/jokowitetapkan-62-kabupaten-ini-sebagai-daerah-tertinggal-periode-2020-2024?page=1

BPS. (2020). Persentase Penduduk Buta Huruf (Persen), 2017-2019. September, from Badan Pusat Retrieved 14 Statistik https://www.bps.go.id/indicator/28/102/1/persentase-penduduk-buta-huruf.html

Hermawan, N. (2019). Mobil Calistung Yonmek 521/DY Disambut Antusias di SD YPK Sota. Retrieved from sd-ypk/ https://tniad.mil.id/mobil-calistung-yonmek-521dy-disambut-antusias-

Rachman, T. (2014). Republika.co.id. Mendikbud: TNI Menjadi Pengajar Retrieved di Daerah Terpencil. from https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/06/12/pendidikan/eduaction/14/10/11/nd970l-mendikbud-tni-menjadi-pengajar-di-daerah-terpencil

Seftiawan, D. (2019). TNI AD Mengajar di Daerah 3T. PikiranRakyatcom. Retrieved from https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-01307068/tni-ad-mengajar-di-daerah-3t