Pandemi atau wabah COVID-19 telah melanda hampir semua bagian dunia, sejak pertama diberitakan pada akhir tahun 2019 lalu. Secara global, kasusnya telah melampaui angka 8.5 juta sementara korban jiwa melampaui angka 450 ribu. COVID-19 adalah virus yang dapat menyebabkan penyakit bahkan kematian sehingga langkah penanganan awal umumnya secara medis termasuk kebijakan lock-down untuk membatasi penyebarannya. Kebijakan “ekstrim” lock-down kemudian tampak malah mengganggu perputaran roda ekonomi yang berkait langsung kehidupan/nasib banyak orang. Banyak negara kemudian menerapkan pendekatan gabungan antara kesehatan dan ketahanan ekonomi. Otoritas Iran juga tampak mengambil pola pendekatan ini dan terus mengupayakan cara terbaik untuk mengatasi COVID-19 yang diperkirakan terus mewabah hingga waktu panjang ke depan. Tulisan singkat ini mencoba mengulas perkembangan penanganan COVID-19 di Iran yaitu pertama saat mulai terjadi peningkatan kasus, kedua saat terlihat indikasi penurunan kasus dan ketiga yaitu gabungan bagian pertama dan kedua. Ulasan ini juga akan mengupas singkat karakter Iran dalam penanganan COVID-19 wabah ini, ditutup pandangan mengenai kunci utama penanganan.

Menyusul pengumuman resmi pada 19 Februari 2020 mengenai adanya kasus COVID-19 di Iran, pemerintah Iran mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mengatasi wabah penyakit tersebut antara lain pembatasan kegiatan di luar rumah serta pembatasan perjalanan antar kota. Penyebaran COVID-19 di bulan Maret 2020 semakin meningkat ditandai antara lain:  sejumlah pejabat tinggi Pemerintah Iran yang terpapar COVID-19 dan repratriasi warga negara asing di Iran oleh Pemerintah mereka (antara lain lain Qatar, India, Malaysia dan Korea Selatan). Pada PERIODE ini, otoritas Iran menerapkan “Pendekatan Kesehatan” yang bertujuan utama melawan COVID-19 sebagai satu penyakit/wabah, apalagi dengan trend penyebaran meningkat. Langkah kebijakan dalam periode ini antara lain pelibatan Angkatan Bersenjata Iran khususnya bantuan fasilitas kesehatan, penerapan kebijakan social distancing seperti penutupan sejumlah pusat keramaian/taman kota, puluhan juta warga Iran menjalani screening massal COVID-19 serta pengalokasian dana dari APBN Iran dan National Development Fund of Iran untuk subsidi pangan/obatan-obatan menghadapi COVID-19. Dalam periode ini, Presiden Rouhani menyatakan optimis dalam penanganan COVID-19 bahkan Supreme Leader Ali Khamenei memberikan gelar ‘Syuhada’ bagi para korban/pihak berjasa dalam penanganan wabah COVID-19 termasuk pekerja medis di Iran.

Memasuki bulan April 2020, jumlah kasus COVID-19 di Iran menurun sehingga diputuskan penyesuaian pendekatan Social Distancing menjadi Smart Distancing,yaitu ‘penormalan’ kembali kegiatan kemasyarakatan beresiko kecil/menengah mulai 11 April 2020 disusul kegiatan beresiko tinggi pada 19 April 2020. Melalui Smart Distancing ini, lalu lintas antar kota/provinsi dibuka kembali. Dalam PERIODE ini, nomalisasi kegiatan ekonomi masuk dan menjadi bagian dari kebijakan terkait penanganan COVID-19, tujuannya adalah untuk memulihkan roda perekonomian. Tantangan dalam periode ini tidak lagi hanya COVID-19 tapi juga pemulihan perekonomian dan lapangan pekerjaan. Pendekatan dalam periode ini mencakup antara lain normalisasi aktivitas ekonomi, pembukaan kembali hampir semua lintas batas Iran dengan negara tetangga, pembukaan kembali sejumlah mesjid di wilayah kategori putih (yaitu wilayah tanpa penambahan kasus/kematian dalam jangka waktu dua minggu berturut-turut) dimulai pada 4 Mei 2020, pembukaan universitas kedokteran pada pertengahan Mei 2020 disusul universitas lainnya pada awal Juni 2020, serta bantuan dana Bank Sentral Iran sebesar US$ 5 miliar kepada perusahaan UMKM yang tidak mem-phk karyawannya selama pandemik. Intinya, pendekatan periode ini lebih menitik-beratkan pada upaya pemulihan ketahanan ekonomi.     

Periode seputar akhir Mei hingga memasuki bulan Juni 2020 menunjukkan tanda-tanda gelombang kedua COVID-19 sehingga pendekatan kesehatan dan pemulihan ekonomi mulai dijalankan secara bersamaan (simultaneous), namun bisa kembali bersifat restrictive jika trend penyebaran kembali terus meningkat. Presiden Rouhani mengingatkan gelombang kedua dapat memuncak pada seputar musim gugur atau musim dingin mendatang dan menegaskan pentingnya kesadaran individu dalam berdealing dengan COVID-19. PERIODE ini tampak bercirikan kombinasi seimbang antara pendekatan kesehatan dan pemulihan /kelancaran perputaran roda ekonomi.    

Selain uraian penanganan wabah COVID-19 pada ketiga periode di atas, beberapa hal  berikut menggambarkan potret Iran dalam hal ini antara lain: pertama, penghargaan tinggi berupa gelar ‘Syuhada’ pada pihak yang berkorban/berjasa membantu penanganan wabah COVID-19, kedua, adanya kesediaan sejumlah pejabat tinggi negara termasuk anggota Parlemen dan Angkatan Bersenjata menyisihkan sebagian penghasilan guna membantu penanganan wabah COVID-19, ketiga, Iran dapat segera memenuhi dan memproduksi sebagian besar kebutuhan alat kesehatan menghadapi wabah COVID-19 karena telah terbiasa mandiri dalam situasi/kondisi di bawah sanksi ekonomi dan keempat, selain untuk kebutuhan dalam negeri, Iran juga mengekspor alat kesehatan termasuk test-kit ke sejumlah negara termasuk Jerman dan Turki. Kelima, pada tataran high politics, Presiden Rouhani gencar mengimbau kerjasama penanganan wabah COVID-19 antara sesama anggota masyarakat internasional dalam forum regional/multilteral atau secara bilateral dengan pemimpin negara-negara sahabat termasuk dengan Presiden RI Joko Widodo.     

Akhirnya tampak penanganan wabah COVID-19 umumnya dimulai melalui pendekatan ‘perlawanan’ terhadap penyakit berupa kebijakan pembatasan, lalu diikuti pelonggaran pembatasan tersebut sebagai langkah/upaya ‘penyelamatan’ ekonomi sebelum diputuskan dengan pola ‘kompromi’ berupa kombinasi kedua pendekatan tersebut, sesuai pandangan banyak pihak bahwa “mau tidak mau kita harus berdamai/hidup berdampingan dengan wabah COVID-19, tanpa harus terpapar COVID-19”. Untuk dapat menjalankan ini diperlukan kemauan/kesadaran semua pihak termasuk diri kita masing-masing untuk mematuhi berbagai protokol kesehatan. Inilah kunci keberhasilan dalam menghadapi wabah COVID-19, dan kita harus optimis untuk itu. 

(Ulasan singkat di atas merupakan pandangan pribadi penulis)

Priadji Soelaiman
Pemerhati Kebijakan dan Politik Luar Negeri, bekerja di KBRI Tehran sebagai Pejabat Fungsi Politik