Kolaborasi dengan Gusdurian Tehran, IPI Iran Gelar Diskusi Khazanah Nusantara

Kolaborasi dengan Gusdurian Tehran, IPI Iran Gelar Diskusi Khazanah Nusantara

Bertempat di Markaz Muqadam Tehran yang menjadi tempat perkumpulan WNI di Iran, Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran bekerjasama dengan Gusdurian Tehran menggelar Dikusi Khazah Nusantara dengan tema “Menggali Khazanah Nusantara, Memperkuat Kebangsaan” Kamis (13/2). 

Dengan menghadirkan tiga pembicara Waode Zainab Zilullah Toresano, Mahasiswa Doktoral Program Pemikiran Islam Kontemporer Almustafa International University Tehran, Idin Fasisaka, Dosen Hubungan Internasional Universitas Udayana Bali dan Purkon Hidayat, Koordinator Gusdurian Tehran  serta Octavino Alimuddin Duta Besar Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan sebagai keynote speaker, diskusi yang dipandu Rahman Dahlan tersebut dihadiri tidak kurang dari 30 mahasiswa Indonesia dari kota Tehran dan Qom. 

Turut hadir pula  Atase Pertahanan KBRI Tehran Kol. Harwin Dicky Wijanarko yang memberikan sambutan dan Pejabat Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Tehran Tety Mudrika Hayati beserta beberapa pejabat dan staff KBRI Tehran lainnya. 

Dalam sambutannya Presiden IPI Iran 2019-2021 Ismail Amin menyebut diskusi menyoal khazanah nusantara yang digali dari para pemikir Indonesia menjadi pemicu kebanggaan anak bangsa pada bangsa yang khazanah pemikirannya tidak kalah kaya dari bangsa lain.  Acara diskusi dibuka oleh Kepala Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran Salsabilah Kemangi Urrachman yang juga bertindak sebagai pembawa acara.

Diskusi santai yang kerap diwarnai gelak tawa tersebut berlangsung selama 4 jam dan berakhir pada pukul 22.30 waktu setempat. Oleh semua yang hadir bersepakat untuk menyelenggarakan diskusi yang berkelanjutan agar atmosfer intelektual yang bagus di antara para pelajar Indonesia di Iran khususnya, serta keakraban sesama warga negara Indonesia di Iran pada umumnya tetap terbangun.

Kemenangan Revolusi Islam Iran dan Proxy AS

Kemenangan Revolusi Islam Iran dan Proxy AS

Iran pada Selasa 11 Februari kemarin memperingati hari kemenangan revolusinya yang ke-41. 11 Februari 1979 silam adalah hari dimana rakyat Iran dibawah komando seorang ulama Ayatullah Sayid Ruhullah Khomenei, menjatuhkan penguasa depostik yg berusia 2500 tahun. Hari itu dunia menjadi saksi, kekuatan rakyat jelata ketika bersatu, mampu merontokkan pengaruh dan cecokan asing dinegara mereka. Hari itu oleh Imam Khomeini disebut sebagai hari kemenangan revolusi Islam Iran dan menjadi awal terbentuknya Republik Islam Iran. Semboyan mereka, kebebasan, kemerdekaan dan Republik Islam.

Setiap memperingati hari kemenangan revolusi Islam Iran, pemimpin-pemimpin Iran baik oleh Presiden maupun pemimpin terbesarnya, akan memamerkan keberhasilan dan pencapaian-pencapaian Iran pasca menjadi Republik Islam. Mereka juga dengan bangga menunjukkan ketidak berdayaan Amerika Serikat dan negara-negara digdaya lainnya dalam menghadapi kekeras kepalaan mereka. Iran saat ini tercatat, sebagai salah satu negara paling mandiri di dunia, dari segi politik, ekonomi dan pertahanan keamanan. 

Pasca revolusi Islam di Iran, Islam menjadi lebih dikenal sebagai agama perlawanan dan perjuangan. Islam menjadi ancaman bagi penguasa yang otoriter dan zalim. Islam membawa pesan kematian bagi kerakusan dan kesewenang-wenangan. Oleh karena itu, AS dan Zionis berkepentingan besar untuk menghentikan itu. Rentetan gerakan Islam Phobia dimulai dari berhasilnya revolusi Islam di Iran. Penguasa-penguasa zalim menjadi phobia terhadap Islam sejak saat itu, sehingga gerakan-gerakan Islam diwaspadai, diberangus dan dilawan. 

Hakikatnya, Iran tdk pernah mendakwahkan Syiah sebagai mazhab mayoritas penduduk di Iran. Yang mereka usung adalah bendera Islam. Republik yang mereka bentuk diberi label Islam, bukan label mazhab, agar yang dikenal di dunia adalah Islam, apapun kemudian mazhabnya. Kalau ideologi kapitalis, sosialis, komunis, Kristen bahkan zionis bisa mendirikan Negara, maka dunia mengenal lewat Iran sebagai sebuah Negara demokrasi yang maju, Islam juga bisa melalukannya.

Kalau AS, China, Rusia dan Korut bisa mengembangkan tekhnologi nuklir, maka dunia mengetahui lewat Iran, ilmuan- ilmuan Islam juga bisa melakukan hal yang sama. Kalau ditingkat Asia, Jepang, Korsel dan China merajai panggung olahraga, maka dunia jadi paham lewat Iran, atlit-atlit muslim juga bisa meraih prestasi yang membanggakan. Kalau perempuan- perempuan Barat bersaing dalam menemukan karya-karya dan prestasi yang mengagumkan, dunia melihat melalui Iran, muslimah-muslimah juga mampu mempersembahkan hal serupa.

Kalau AS dan Eropa memiliki segudang negarawan dan politikus yang disegani di kancah percaturan politik internasional, dunia juga mengenal melalui Iran, Islam juga mampu mencetak negarawan- negarawan dan politikus yang mampu melakukan diplomasi tingkat tinggi. Kalau AS dan Negara-negara Barat memiliki kekuatan militer yang ditakuti, dunia mengenal melalui Iran, bahwa Islam juga bisa melakukan lebih dari itu.

Inilah tujuan Imam Khomeini membentuk Republik Islam Iran, inilah sasarannya menonjolkan pelabelan Islam pada nama Negara yang didirikannya. Membangkitkan kembali izzah Islam, sejak keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani. Inilah yang kemudian membuat musuh-musuh Islam menjadi panik. Kebangkitan Islam dengan kemenangan revolusi Islam Iran sudah di depan mata, jika tidak dihentikan akan menjadi air bah yang akan menenggelamkan mereka.

Melalui media-media mainstream internasional dimulailah strategi pembusukan terhadap Iran. Iran dicitrakan sebagai negara teroris, radikal dan mengancam perdamaian dunia. Syiah melalui fatwa-fatwa ulama atas suruhan raja Arab Saudi -yang merupakan kaki tangan AS- disebut sesat, kafir dan bukan Islam. Fatwa-fatwa ulama klasik yang sudah terkubur lama, diangkat kembali meskipun tidak ada kaitannya dengan Syiah yang diyakini rakyat Iran. Fatwa Imam Syafi’i misalnya, yang dikecam adalah Rafidhi, namun teks fatwanya dipelintir untuk mengecam Syiah.

Iran dan Syiah difitnah sedemikian rupa melalui berita-berita hoax dan tuduhan-tuduhan tendensius untuk menghasut umat Islam terutama di Indonesia untuk memusuhi Iran. Jenderal Qassem Soleimani Komandan Korps Brigade Alquds yang mendapat perintah khusus dari pemimpin tertinggi Iran untuk membuka jalan demi pembebasan Alquds tidak dikenal di dunia Islam karena pengaruh AS yang mencitrakan sang Jenderal sebagai teroris nomor satu. Padahal Pemimpin HAMAS, Ismail Haniyah menggelarinya, Syahidul Alquds, yang syahid dalam membela Alquds, karena merasakan dari dekat peran perwira militer Iran tersebut dalam kemenangan-kemenangan yang dicapai HAMAS. 

Sejak keruntuhan Uni Soviet, AS merasa satu-satunya negara super power dan merasa bisa mendikte bahkan degan leluasa melanggar kedaulatan negara-negara lain. Namun ternyata tidak dengan Iran. Karena itu AS melakukan konspirasi dan ajakan untuk memusuhi Iran. Meski menderita berat dengan embargo ekonomi dan pengucilan politik, ternyata Iran masih tetap bisa survive. Kekuatan militer Iran bahkan menunjukkan tajinya dengan mampu meluluhlantakkan Ainul Assad, pangkalan militer terbesar AS di Irak, dan membuat Trump ngeri dan melunak dengan tidak ingin berkonrontasi langsung dengan Iran.

Intinya, Iran dengan Republik Islamnya bisa menunjukkan, Islam bisa menjadi kekuatan yang diperhitungkan.  Ulama-ulama Islam di Iran berhasil meyakinkan rakyatnya, bahwa Islam yang mereka usung adalah Islam yang memberi kekuatan pendorong untuk maju, bukan Islam yang sibuk dengan urusan iktilaf dan perbedaan yang akhirnya malah mengarahkan negara ke jurang kehancuran. 

Dirgahayu kemenangan revolusi Islam Iran ke-41, selamat untuk bangsa Iran.

Ismail Amin

Presiden IPI Iran 2019-2021