Bertempat di ruang serbaguna KBRI Tehran, sejumlah pejabat-staff KBRI, pelajar dan diaspora Indonesia asyik menikmati pemaparan tiga orang pemantik diskusi memperingati Hari Ibu bertajuk “Dari Perempuan untuk Perempuan”, Sabtu (21/12) yang diselenggarakan oleh KBRI Tehran. Ketiga pembicara yang kesemua dari kaum ibu tersebut saling bergiliran menyampaikan pemaparannya. Dimulai oleh Afifah Ahmad, perempuan penulis yang menceritakan tiga kisah dari perempuan inspiratif dan dorongannya agar kaum laki-laki bisa memberikan keleluasan ruang untuk kaum perempuan berekspresi dan mengembangkan kreatifitasnya. Kemudian dilanjutkan oleh Hj. Ani Surya, MPd yang berbagi pengalaman dengan profesinya sebagai guru selama 40 tahun di Jambi dan Jakarta disamping tugasnya sebagai ibu yang tidak ditinggalkannya. 

Sebagai pembicara terakhir, Haryati SPd mengawali pembicaraannya dengan menceritakan peristiwa yang melatarbelakangi ditetapkannya 22 Desember sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno. Menurutnya memperingati Hari Ibu tidak cukup hanya dengan seremonial saja, namun juga harus ada refleksi yang dilakukan kaum Ibu, diantaranya adalah dengan mengadakan diskusi dan kajian khusus memperingati Hari Ibu. “Kita sangat berterimakasih pada KBRI Tehran yang berinisiatif dan menyelenggarakan obrolan santai sore ini, sehingga untuk pertama kali tahun ini kita tidak hanya memperingati Hari Ibu dengan acara seremonial saja, tapi dibarengkan dengan dialog dan sharing untuk sesama ibu bisa saling mendukung dan saling menguatkan dalam menjalankan peran sebagai ibu.” Ungkapnya. 

Lebih lanjut, anggota Dep. Pengawasan dan Kontrol Internal IPI Iran 2019-2021 tersebut memaparkan alasan dibalik ditetapkannya 22 Desember sebagai Hari Ibu. Ia berkata, “Kaum Ibu terinspirasi dari Sumpah Pemuda yang dicetuskan 28 Oktober 1928 oleh kaum muda, dengan juga ingin memberikan kontribusi dalam upaya meraih kemerdekaan Indonesia. Hanya berselang dua bulan di tahun yang sama, 30 organisasi perempuan mengadakan Kongres Perempuan I di Yogyakarta. Mereka berkumpul untuk menyamakan visi misi bagaimana memajukan perempuan, yang juga berarti adalah juga kemajuan untuk bangsa.”

“Dari sini kita melihat, bahwa semangat kaum Ibu untuk memikirkan nasib bangsa sudah ada dari dulu. Pandangan mengenai Ibu atau istri yang kerap diidentikkan hanya di dapur, kasur dan sumur didobrak oleh kaum ibu masa itu dengan juga berbicara politik. Politik yang dilakukan ibu-ibu di zaman itu adalah anti kolonialisme dan penggeloraan semangat nasionalisme.” Tambahnya. 

Mahasiswi Jamiat-u al-Zahra Qom tersebut lebih lanjut mengatakan, “Kecerdasan berpolitik kaum Ibu dimasa itu bisa kita nilai dari cara mereka memilih nama organisasi. Mereka Membuat organisasi dengan nama Persatuan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII). Mereka sengaja menggunakan istilah istri untuk mengelabui Belanda agar tidak dicurigai. Istilah istri saat itu identik untuk kaum perempuan yang hanya mengurusi domestik rumah tangga saja. Dengan itu, gerakan-gerakan politik yang mereka lakukan tidak mendapat kecurigaan.”

Di bagian lain penyampaiannya, anggota Badan Penasehat Aliansi Keputrian Timur Tengah Afrika 2019-2020 tersebut menyebut perempuan bisa berkarir baik di ruang publik maupun dalam rumah tangga, yang menurutnya sangat sulit untuk dilakukan laki-laki yang lebih sering hanya mampu meniti karir di luar rumah. Ia berkata, “Menjadi ibu rumah tangga adalah karir yang luar biasa. Kalau seumpama menjadi guru, guru lebih mudah dari menjadi ibu rumah tangga. Guru ada masa pensiun. sementara ibu rumah tangga tidak ada masa pensiunnya. Ini adalah karir yang tinggi, karena juga dari Allah swt.”

“Karena itu saya bangga, ibu-ibu ada disini memperingati hari ibu, untuk meneruskan apa yang diinginkan para perempuan kita sebelumnya untuk negara kita. Mari memberikan kontribusi sesuai dengan bidang kita masing-masing, jangan sampai negara kita malah mengalami kemunduran. Seorang ibu tidak boleh berhenti belajar. Menyekolahkan anak meskipun itu disekolah favorit bukan berarti ibu bisa lepas tanggungjawab. Justru semakin tinggi tingkat pendidikan anak, justru orangtuanya juga harus mengimbangi. Sekarang revolusi industri 4.0 yang semuanya serba canggih. Jangan sampai ibu karena gaptek, kita tidak bisa mengimbangi dan memahami kecenderungan anak-anak yang dunianya memang berbeda dengan yang dulu kita alami.” Tanbahnya.

“Kalau ingin melihat negara itu maju, maka lihatlah kondisi kaum ibunya. Karena setiap generasi lahir dari ibu. Dari tangan yang welas asih dan pangkuannya lahir generasi yang kelak menentukan masa depan dan nasib suatu bangsa.” Tutupnya.

Obrolan santai memperingati Hari Ibu yang dimoderatori oleh Salsabila Kenangi Urrachman Kadep Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021 tersebut berlangsung mulai dari pukul 15.00 sampai 17.30 waktu setempat. Hadir memberikan sambutan di awal acara, pejabat Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Tehran Tety Mudrika Hayati dan pejabat Fungsi Politik KBRI Tehran Priaji Soelaiman yang mewakili Duta Besar Indonesia untuk Iran Octavinu Alimuddin yang sedang menjalankan ibadah umrah bersama keluarga.