Bertempat di Auditorium Shahid Sadr Universitas Imam Khomeini Qom Republik Islam Iran, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tehran menggelar Dialog Kebangsaan Memperingati Hari Bela Negara dengan tema “Membangun Revolusi Mental Menjaga NKRI”, Selasa (17/12). Hadir Kepala Duta Besar Indonesia untuk Iran merangkap Turkmenistan Octavino Alimuddin sebagai keynote speaker sekaligus membuka acara dialog secara resmi. 

Dalam pemaparannya, Dubes Octavino menyebutkan Hari Bela Negara dilandasi peristiwa tahun 1948 yang saat itu Indonesia dalam keadaan genting. Ia berkata, “Tahun 1948 saat itu kita nyaris diambang perpecahan. Kita nyaris kembali lagi menjadi negara jajahan. Saat itu kemerdekaan kita pertahankan dengan memindahkan ibukota supaya tidak terjadi kevakuman. Saat ini kita lihat ibukota juga hendak dipindahkan, tapi kita bukan karena dalam keadaan gawat, melainkan untuk memberi ruang lebih luas kepada aparatur sipil negara untuk lebih berkarya dan memberi tempat yang yang lebih kondusif.”

“Jadi tantangannya sudah berbeda namun kita tetap mengingat ada unsur bela negara. Rujukan bela negara jelas, pasal 30 UUD 1945 bahwa setiap warga negara berhak dalam usaha pertahanan keamanan. Di pasal 27 amandamen 3 secara khusus menyangkut kewajiban bela negara. Dengan adanya dua landasan hukum ini, bela negara tidak hanya berkaitan dengan upaya pertahanan keamanan, tapi juga dalam konteks yang lebih luas, sesuai dengan bidang masing-masing warga negara.” Lanjutnya. 

Lebih lanjut, Octavino Alimuddin menganjurkan agar warga negara Indonesia di Iran bisa belajar dari masyarakat Iran mengenai cara mereka melakukan bela negara. Ia berkata, “Iran 40 tahun sejak berdirinya, tidak satu tahunpun yang mereka lewati tanpa ada ancaman terhadap keutuhan wilayahnya. Kalau kita lihat, tahun 1978 diawali dengan jatuhnya rezim Syah Pahlevi kemudian 1979 secara resmi berdiri Republik Islam Iran dan sejak itu mulai tahun 1980 sampai 1988 terjadi perang Irak-Iran dan selanjutnya tidak ada hentinya keamanan Iran berada dalam ancaman.”

“Kita bisa belajar banyak dari Iran, bagaimana mereka membela negaranya. Pertanyaannya apakah bela negara yang dilakukan rakyat Iran semua dari militer?. Tidak, upaya bela negara juga berasal dari semua lapisan masyarakat mulai dari pelajar sampai ulama. Semua golongan dilibatkan dalam usaha bela negara sesuai dengan bidangnya masing-masing.” Tambahnya. 

“Sebagai perbandingan dengan Indonesia, apakah kita memiliki ancaman yang sama sebagaimana yang dihadapi Iran? Kalau dilihat dari wilayah Indonesia di kawasan Asia Tenggara, mungkin tidak sebanyak konfliknya di kawasan Timur Tengah, di Indonesia masuknya kekuatan asing mungkin lebih sedikit resikonya, namun kita juga memiliki ancaman yang tidak kalah pentingnya. Diantaranya masuknya ancaman-ancaman ideologi. Dulu kita bicaranya komunisme, sekarang radikalisme, dari ekstrim kiri ke ekstrim kanan. Begitupun ancaman yang bersumber dari isu SARA. Ini adalah semua masalah kita. Di alam demokrasi yang menjamin kebebasan berpendapat, ini masalah akan selalu muncul. Dan menjadi tantangan yang kita hadapi. Begitu juga ada ancaman dari luar. Ada ancaman dari utara yaitu RRT ataupun dari selatan yaitu Australia. Indonesia itu persimpangan antara kekuatan barat dan timur. Akan selalu ada tantangan dari luar. Bagaimana kita menyikapi secara konkrit. Apakah kita berpangku tangan melihat kondisi adanya gerakan-gerakan yang selalu berupaya mendorong adanya perpecahan, yang hanya akan meretakkan kesatuan kita. Kita melihat ancaman perang mungkin tidak ada, namun di satu sisi kekuatan militer tetap diperlukan untuk menjaga kesatuan, di sisi lain kita tetap harus memiliki mental sebagai negara, dengan tetap punya semangat untuk menjaga keutuhan negara ditengah-tengah banyaknya pihak yang menginginkan Indonesia berpecah.” 

Dibagian akhir penyampaiannya, Dubes KBRI Tehran menyampaikan pelibatan Indonesia dalam organisasi-organisasi internasional dan perannya dalam upaya perdamaian dunia menunjukkan Indonesia negara yang dipandang penting dalam kancah pergaulan internasional. Ia berharap bersama Iran, Indonesia bisa bersama-sama menciptakan dunia yang lebih damai. “Sekali lagi kita bisa belajar banyak dari Iran terutama dalam upaya mencegah masuknya ancaman militer asing. Kita lihat mereka mampu mendeteksi drone mata-mata musuh dan itu bisa dijatuhkan hanya dengan satu peluru. Dari segi ideologi, kita punya Pancasila dan Iran punya ajaran-ajaran Imam Khomeini, apakah kedua ideologi bisa dipadankan untuk bersama-sama menjadikan dunia menjadi lebih damai dan negara kita menjadi lebih kuat?. Ini sangat penting untuk kita diskusikan dan bicarakan bersama.” Tutupnya.

Dialog Kebangsaan Memperingati Hari Bela Negara yang dihadiri kurang lebih 70 mahasiswa dan WNI tersebut menghadirkan tujuh narasumber, yang terdiri dari Atase Pertahanan KBRI Tehran Kol. Harwin Dicky Wijanarko, Diplomat KBRI Tehran Fungsi Politik Priaji Soelaiman, perwakilan akademisi dan praktisi Iran masing-masing DR. Yahya Jahangiri, Prof. Muhammad Zargari dan Mustafa Nazarikia dan perwakilan dari mahasiswa Indonesia, Ali Zainal Abidin MA dan Kamaruddin  MA serta Abdul Latif MA sebagai moderator. Kegiatan KBRI Tehran ini berlangsung atas kerjasama dengan Universitas Internasional Almustafa Iran dengan dua organisasi pelajar Indonesia di Iran, Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) dan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran.