“Jika diibaratkan sebuah rumah, negara kita didukung oleh empat pilar yang membuat negara kita tetap tegak sampai sekarang. Pilar utama adalah Pancasila, kemudian UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Kemudian ada dua elemen dalam bela negara yaitu ada elemen dasar yang sifatnya statis dan tetap yaitu Pancasila sebagai dasar negara. Kemudian elemen kedua yang sifatnya dinamis yaitu perkembangan lingkungan strategis baik nasional, regional dan internasional.” Hal ini diungkap Atase Pertahanan KBRI Tehran, Kol. Harwin Dicky Wijanarko pada Dialog Kebangsaan Memperingati Hari Bela Negara dengan tema “Membangun Revolusi Mental Menjaga NKRI”, Selasa (17/12) di Auditorium Shahid Sadr Universitas Imam Khomeini Qom Republik Islam Iran. 

Lebih lanjut, perwira TNI AL tersebut menguraikan sejumlah pertempuran yang pernah dilakukan TNI dan laskar rakyat dalam menghadapi musuh seperti Pertempuran Surabaya, Pertempuran Ambarawa, Puputan Margarana, Bandung Lautan Api dan Pertempuran Medan Area. Menurutnya pertempuran-pertempuran tersebut adalah implementasi dari bela negara. Namun tambahnya, pertempuran yang dihadapi sekarang bukan lagi perang fisik sebagaimana yang dialami pejuang di masa mempertahankan kemerdekaan.

Harwin Dicky berkata, “Kita memang saat ini sudah tidak mengalami perang militer, namun sampai sekarang kita masih dalam kondisi perang. Baik perang asimetri, perang cyber kemudian proxyber. Perang ini terjadi tidak secara langsung namun kehancuran yang ditimbulkannya bisa lebih besar. Pada perang ini pihak ketiga tidak akan berhadapan langsung, mereka menggunakan unsur yang berada di dalam sendiri. Yaitu dengan cara membuat gerakan separatis, memecahbelah antar golongan sehingga akan jatuh sendiri. Dari sisi tekhnologi yaitu berupa perang cyber. Masyarakat diprovokasi melalui penyebaran berita-berita hoax. Dan kita saat ini sadar atau tidak berada di tengah-tengah perang ini.”

Atase Pertahanan KBRI Tehran kemudian menegaskan pentingnya bela negara dengan menjelaskan mengenai kerangka dasar bela negara. Menurutnya, kerangka pertama dasar bela negara, adalah amanah Tuhan. “Negara yang kita punyai adalah amanah dari Tuhan, sehingga wajib bagi kita menjaga keutuhannya.” Jelasnya. 

“Yang kedua adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Seorang yang adil dan beradab, menjadi keniscayaan baginya untuk membela negaranya. Yang ketiga adalah persatuan. Tanpa persatuan, gotong royong dan kerjasama kehancuran itu akan terjadi. Dua dasar bela negara lainnya adalah manisfestasi hikmat dan keadilan sosial.” Tambahnya lagi.

Dalam penyampaiannya, Kolonel Harwin Dicky mengungkapkan rasa bangganya dengan mahasiswa Indonesia di Iran. Menurutnya Iran adalah negara yang harmonis dan kerukunan beragama terjalin dengan baik. Iapun meminta agar mahasiswa Indonesia di Iran bisa mempelajari kerukunan beragama tersebut untuk bisa diimplementasikan di Indonesia. “Kami bangga dengan saudara-saudara sekalian yang belajar di negara Iran dengan bermacam-macam paham namun ternyata disini kerukunan beragama sangat menjadi pembelajaran buat kita. Bahkan dari Kementerian Agama RI juga datang disini secara langsung meliput dan meneliti mengenai keharmonisan tersebut. Awalnya Iran itu bagi kami kesannya cenderung negatif, ternyata ketika berada disini, ternyata disini tempatnya belajar tentang kerukunan beragama. Kesan-kesan negatif itu muncul akibat propaganda pihak-pihak asing yang dari dulu berupaya menghambat kemajuan Iran.”

“Namun perlu kami tekankan, bela negara itu untuk kepentingan Indonesia. Dimanapun kita berada, bela negara untuk kepentingan Indonesia. Kami dulu waktu bertugas di Liberia, di Sudan dan sekarang di Iran, adalah untuk kepentingan Indonesia. Buat saudara-saudara yang sementara di Iran, ingatlah apapun yang anda lakukan adalah untuk kepentingan Indonesia bukan untuk kepentingan negara dimana kita berada. Seperti bela negara yang terjadi di Iran itu adalah tanggungjawab warga Iran.  Tugas kita adalah memperhatikan dan mencermati perkembangan global dalam dan luar negeri, sehingga akan menjadi penguat wawasan kebangsaan. Tugas kita adalah memberikan kontribusi nyata untuk Indonesia dari negeri perantauan serta mampu memberikan output untuk NKRI dalam menyatukan keragaman. Apa yang kita dapat disini, outputnya untuk kepentingan negara kita. Kita tunjukkan kita membela negara dari sini dan tetap punya kepedulian atas nasib bangsa.” Pesannya.  

Pada bagian akhir penyampaiannya, Atase Pertahanan KBRI Tehran tersebut juga mengingatkan untuk menjaga semangat nasionalisme dalam rangka bela negara. Pesannya, meski tinggal di negara lain namun culture, karakter dan watak selaku WNI tetap harus dipertahankan. “Meski kita lama di negara orang, jangan sampai merubah karakter kita. Jangan sampai terjadi gesekan sesama WNI sendiri. Kita berada di negara asing kultur kita tetap kultur Indonesia. Ajarkan budaya Indonesia pada anak-anak meski terlahir di Iran. Dan yang penting, apapun profesi kita, bela negara harus menjadi karakter dan mental kita.” Tutupnya. 

Kol. Harwin Dicky Wijanarko adalah salah satu narasumber dalam Dialog Kebangsaan Memperingati Hari Bela Negara oleh KBRI Tehran yang berlangsung dari pukul 18.30 sampai 22.00 waktu setempat. Tampil juga sebagai narasumber Diplomat KBRI Tehran Fungsi Politik Priaji Soelaiman, perwakilan akademisi dan praktisi Iran masing-masing DR. Yahya Jahangiri, Prof. Muhammad Zargari dan Mustafa Nazarikia dan perwakilan dari mahasiswa Indonesia, Ali Zainal Abidin MA dan Kamaruddin  MA. Kegiatan KBRI Tehran ini diawali oleh sambutan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Iran merangkap Turkmenistan Octavino Alimudin sekaligus sebagai keynote speaker dan membuka acara secara resmi. Dialog yang dihadiri kurang lebih 70 peserta dari mahasiswa dan diaspora ini berlangsung atas kerjasama KBRI Tehran dengan Universitas Internasional Almustafa Iran dan dua organisasi pelajar Indonesia di Iran, Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) dan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran.