Iran dengan nama lengkap Republik Islam Iran jelas sangat mengagungkan Nabi Muhammad saw. Sebagai pembawa Islam dan penghulu para Nabi, Nabi Muhammad saw di mata orang-orang Iran begitu sangat istimewa. Muhammad adalah diantara nama yang sangat populer di Iran.

Bagi yang pernah ke Iran, akan dengan mudah melihat tulisan dan kaligrafi bertuliskan Muhammad dan tulisan salawat atasnya. Bukan hanya tertera di ornamen masjid, tapi juga di hotel, diperkantoran, dinding-dinding sekolah bahkan di halte bis maupun di tembok-tembok di jalan umum. Lantunan salawat dapat dengan mudah terdengar dari lisan orang-orang Iran. Supir yang membawa kendaraan umum sesaat sebelum berangkat akan meminta para penumpangnya bersalawat terlebih dahulu. Pembaca berita di tv dan radio-radio Iran mengawali berita yang dibacanya dengan bersalawat terlebih dulu. Murid-murid sekolah sebelum memulai pelajaran mengawalinya dengan salawat serentak, bahkan diarena olahraga sekalipun, pertandingan diawali dengan salawat lebih dulu. 

Kecintaan dan kerinduan pada Nabipun diekspresikan bangsa Iran dengan telah membuat film kolosal yang menceritakan biografi Nabi Muhammad saw di masa kecil. Produksi yang menghabiskan anggaran yang memecahkan rekor negaranya dan disutradarai oleh Majid Majidi, sutradara terbaik Iran dan nomine piala Oscar, film Mohammad, Messenger of God memecahkan rekor box office domestik. Belum ada film yang begitu sangat populer di Iran dan bertengger lama di box office domestik selama berbulan-bulan, kecuali film yang mengisahkan masa kecil Nabi Muhammad saw tersebut. 

Terus, bagaimana Iran memperingati Maulid Nabi Muhammad saw?. Berbeda dengan negara Islam lainnya, yang secara resmi memperingati Maulid Nabi hanya di hari 12 Rabiul Awal sebagaimana keyakinan mayoritas umat Islam, Nabi Muhammad saw lahir di tanggal tersebut, Iran memperingati maulid Nabi secara resmi selama sepekan. Peringatan Maulid dimulai dari 12 Rabiul Awal sampai 17 Rabiul Awal. Dalam keyakinan umat Islam Syiah -mazhab yang mayoritas di Iran- Nabi Muhammad saw lahir pada 17 Rabiul Awal. Sehingga dengan memberikan penghargaan pada dua pendapat ini, Pemerintah Iran secara resmi memperingati keduanya dan menamakan hari-hari peringatan maulid tersebut dengan nama Pekan Persatuan Islam, dalam bahasa setempat disebut Hafteh Wahdat

Selama sepekan tersebut jalan-jalan dan ruang-ruang publik terisi oleh kaligrafi bertuliskan Muhammad dan pesan-pesan persatuan Islam. Peringatan Maulid Nabi dijadikan bangsa Iran sebagai momentum menyerukan kampanye persatuan Islam. Bahwa semua umat Islam apapun mazhabnya, porosnya ada pada kecintaan kepada Nabiullah Muhammad saw.

Diantara agenda besar di Pekan Persatuan Islam, adalah diadakannya Konferensi Internasional Persatuan Islam. Konferensi yang mengundang ratusan ulama, tokoh politik, cendekiawan dan akademisi dari 90 negara dunia tersebut digelar setiap tahunnya di Iran, dan pada tahun ini telah terselenggara untuk yang ke-33 kalinya. Sepanjang penyelenggaraannya, Indonesia tiap tahunnya rutin mengirimkan delegasi. Konferensi Persatuan Islam tahun ini yang mengusung tema   “Persatuan Umat Islam untuk Membela Masjid Al-Aqsa” kembali dibuka oleh Presiden Republik Islam Iran pada Kamis, (14/11). Dalam pidato sambutannya Presiden Rouhani menyebut Palestina dan al-Quds sebagai prioritas utama dunia Muslim. Dia mengatakan, musuh-musuh dunia Islam ingin agar umat Islam  melupakan masalah Palestina.

Di sela-sela konferensi, diselenggarakan salat wajib berjamaah, yang bergantian, kadang ulama Sunni yang menjadi imam, kadang dari ulama Syiah.

Para peserta konferensi juga diagendakan untuk mengunjungi makam Imam Khomeini, untuk memberi penghormatan kepada pendiri Republik Islam Iran dan inspirator diadakannya Konferensi Internasional Persatuan Islam pada Pekan Persatuan Islam dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.

Melihat ulama-ulama Sunni dari berbagai negara Islam memberi penghormatan kepada makam Imam Khomeini yang merupakan ulama Syiah, menunjukkan hakekatnya Sunni dan Syiah saling menghargai. Konspirasi dan provokasi pihak musuhlah yang mencitrakan Sunni dan Syiah itu bermusuhan dan harus dibuatkan konflik antar keduanya.

Terlebih lagi pada puncak acara dari Konferensi Persatuan Islam, yaitu saat bertemunya tamu konferensi dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Sayid Ali Khamanei, kerap kali diwarnai suasana yang jauh lebih mengharukan, yaitu saling berangkulannya antara ulama Sunni dan ulama Syiah. Habib Ali Zainal Abidin al Jufri, ulama kharismatik kelahiran Jeddah Arab Saudi pernah berkata, “Musuh kalian yang sebenarnya adalah mereka yang meyakinkan kalian Sunni dan Syiah bermusuhan.”

Beginilah suasana memperingati Maulid Nabi di Iran, yang memberi kesejukan dan mengirimkan pesan kepenjuru dunia, bahwa kekuatan Islam sebenarnya terletak pada persatuan umatnya. Umat yang disatukan oleh kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad saw.

Selamat memperingati hari lahirnya manusia agung, Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Aaali Muhammad.