Hari Santri Nasional 2019 turut diperingati mahasiswa Indonesia di Iran yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran. Bertempat di ruang seminar Al-Hikmah Institute Universitas Internasional Al-Mustafa Qom Iran, bekerjasama dengan Gusdurian Tehran, IPI Iran menggelar diskusi dan silaturahmi bersama yang menghadirkan Wakil Rais PW Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA dan Mahasiswa kandidait Doktor Filsafat Islam Universitas Internasional Al-Mustafa, Abdul Latif, MA sebagai pembicara, Selasa (22/10) . 

Acara dimulai dengan ucapan basmalah oleh Sultan Nur sebagai moderator yang dilanjutkan dengan bacaan ayat suci Alquran oleh Kamaruddin Dg. Pati. Presiden IPI Iran 2019-2021 Ismail Amin  dalam sambutannya menyebutkan penetapan Hari Santri Nasional menunjukkan penghargaan  pemerintah atas jasa yang ditorehkan kaum santri baik dalam berdirinya republik maupun dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. 

“22 Oktober yang ditetapkan Presiden Jokowi sebagai Hari Santri Nasional berlatar belakang keluarnya fatwa dan resolusi jihad yang dikeluarkan oleh Hadratus Syaikh KH. Muh. Hasyim Asy’ari yang kemudian disambut kaum santri dengan menggelorakan semangat perjuangan melawan pasukan sekutu yang hendak kembali menjajah Indonesia.” 

“Tema santri tahun ini melanjutkan tema santri tahun sebelumnya, yaitu berkaitan dengan peran santri Indonesia dalam menciptakan perdamaian, baik skala nasional maupun sampai tingkat dunia. Santri yang setiap harinya bergelut dengan literatur keislaman memang sudah semestinya tampil menjalankan perannya sebagai juru damai sebagaimana pesan dan tuntutan Islam.” Tambah mahasiswa jurusan Tafsir Universitas Internasional Al-Mustafa Iran tersebut.

Presiden IPI Iran lebih lanjut mengatakan, “Sebelumnya di masa ORBA, peran santri dan ulama dalam upaya mencapai kemerdekaan dan perjuangan mempertahankannya tidak banyak dibicarakan, bahkan terkesan tidak ada dengan literatur sejarah perjuangan bangsa didominasi oleh peran dan kisah perlawanan dari kelompok militer. Dengan ditetapkannya Hari Santri sebagai hari nasional oleh Presiden Jokowi, kita jadi tahu, perjuangan heroik bangsa Indonesia pada 10 November 1945 didahului oleh resolusi jihad ulama yang disambut meluas oleh kaum santri.”

“Jadi kemerdekaan Indonesia tercapai dan dipertahankan oleh perjuangan bersama semua lapisan masyarakat. Kelompok nasionalis, agamis, militer dan rakyat jelata bersatu padu mempertahankan kemerdekaan, karenanya tidak ada satu kelompok yang berhak mengklaim negara adalah milik kelompok tertentu yang melahirkan dominasi terhadap kelompok minoritas. Santri sebagai bagian dari kaum agamawan harus berada di garda terdepan untuk menjamin terwujudnya kehidupan yang rukun di negeri ini, sehingga dengan sendirinya menular dan memberi efek yang lebih luas dengan terciptanya perdamaian dunia.” Tambahnya. 

Usai memberikan sambutan, kedua pembicara menyampaikan materinya yang dilanjutkan dengan sesi dialog dan tanya jawab. Hadir sejumlah mahasiswa Indonesia dalam dialog dalam rangka memperingati hari santri tersebut. Aktivis Gusdurian Tehran, Purkon Hidayat turut menyampaikan tanggapan dalam sesi tanya jawab.