Turut Berjuang bagi Negeri

Turut Berjuang bagi Negeri

Tatkala kalbu terhubung kuat dalam satu visi

Dikala suara bersatu padu dalam satu misi

Dengarlah…

Derap langkah tegas para pemuda

Selalu bergerak tak berdiam barang sedetik

Lihatlah, para pemuda berjuang 

Ketika ikrar suci diucapkan dengan lantang

Satu tanah air, bangsa, bahasa, Indonesia

Satu mimpi telah tercapai hai Ibu Pertiwi

Tetapi kawanku… jangan lengah

Perjalanan kita masihlah panjang

Ibu pertiwi sedang kritis dan menjerit dalam duka

Ulurkan tangan kalian wahai pemuda

Renungkan kembali para pendiri negri

Ibu pertiwi merindukan para pemudanya

Dimanapun dan kapanpun kawan

Kembalilah dalam dekapan ibu pertiwi

Lanjutkan asa para pendahulu tuk bangsa

Salam kepada Pemuda Negeri !!!

Dian Islamiati

Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA: Sunni dan Syiah di Iran Hidup secara Harmonis

Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA: Sunni dan Syiah di Iran Hidup secara Harmonis

“Di Hari Santri Nasional ini, kita ucapkan selamat kepada para santri. Sudah menjadi kepatutan juga untuk kita mendoakan para pejuang-pejuang pesantren yang telah kembali ke rahmatullah. Mari kita membacakan Alfatihah, kepada mereka yang telah mempersembahkan jasa besar bagi negara maupun agama.” Ungkap Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA mengawali pembicaraannya dalam acara diskusi Hari Santri Nasional 2019 yang diselenggarakan oleh IPI Iran bekerjasama dengan Gusdurian Tehran pada Selasa (22/10). 

Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar tersebut lebih lanjut mengatakan, “Pesantren dan santri adalah ciri khas Indonesia yang tidak ditemukan negara lain. Kata santri bukan berasal dari bahasa Arab apalagi Persia, tapi dari ajaran umat Hindu dalam melaksanakan pendidikan agama. Ada lima ciri khas dari pesantren Islam Indonesia. Yaitu, ada santri, ada kyai yang tinggal bersama santrinya, ada pondok, ada masjid sebagai tempat mengaji selain ruangan belajar dan ada kitab kuning.”

“Keberadaan pesantren di Indonesia telah dirasakan besar manfaatnya. Misalnya disuatu wilayah yang sebelumnya dipenuhi aktivitas maksiat dan kejahatan dengan kemudian di tempat tersebut didirikan pesantren, wilayah tersebut akan berubah menjadi daerah yang religius. Di Jombang misalnya. Menurut informasi sebelumnya di Jombang adalah sarang kemaksiatan, namun sekarang dikenal sangat religius dan disucikan setelah didirikan pesantren di daerah tersebut.” Lanjut Wakil Rais PW NU Sul-Sel tersebut. 

“Mengapa pesantren dirasakan manfaatnya oleh masyarakat? karena fungsi pesantren adalah mendidik santri, selain dimensi intelektual juga akhlak dan karakter. Fungsi kedua adalah mendakwahkan ajaran agama dan yang ketiga adalah memperbaiki masyarakat.” Tambahnya lagi. 

“Salah satu ciri Islam Indonesia adalah datang dengan damai. Islam datang ke Nusantara tidak dengan senjata tetapi melalui dakwah muballigh dan pedagang. Islam yang didakwahkan diterima masyarakat setempat karena tidak dengan membabibuta menabrak tradisi-tradisi yang telah lama berlaku di masyarakat yang terpengaruh tradisi Hindu dan Budha. Melainkan tradisi-tradisi yang bisa diadaptasi akan dikembangkan, diperbaiki dan dilengkapi. Jadi dalam perkembangan agama di Indonesia ada kesinambungan. berlangsung secara damai, sebelum masuk Islam sudah ada Hindu dan Budha, dan itu berkembang secara damai. Begitupun kehadiran Konghucu dan Kristen pun datang dengan damai.” Papar pakar sejarah Islam tersebut. 

“Itulah mengapa ulama-ulama kita tidak mempersoalkan ketika harus mengadaptasi tradisi nyantri milik umat Hindu ke dalam sistem pendidikan Islam. Pesantren sebagai lembaga tradisional yang mengembangkan Islam di Indonesia kemudian menjadi motor berkembangnya Islam yang damai dan sejuk.” Lanjutnya. 

Mantan Pembantu Rektor UIN Alauddin Makassar tersebut lebih lanjut menguraikan bahwa santri sangat berpotensi menjadi agen dan juru damai karena dalam tradisi pesantren dikembangkan sikap menghormati kyai. Penghormatan pada guru dengan sendirinya akan menciptakan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat. Menurutnya selain memberi penghormatan pada guru atau kyai, pada santri juga ditanamkan sikap menghormati pandangan yang berbeda.

“Dengan santri belajar dan mengenal ushul dan juga dibekali ilmu mantik, santri jadi tidak mudah terprovokasi membenci suatu kelompok hanya karena berbeda pandangan keagamaan. Mengapa ada mazhab-mazhab yang berbeda, itu karena ada perbedaan tempat, waktu dan kondisi. Misalnya Imam Malik yang tinggal di Madinah, lebih tekstual karena dengan berada di Madinah, banyak riwayat dan hadis yang ditemukan, sementara Imam Abu Hanifah yang menetap di Bagdad yang karena kurang pasokan riwayat sehingga fatwa dan hasil ijtihadnya lebih kontekstual. Semakin luas wawasan, maka akan fleksibel dalam menyikapi perbedaan, dan lebih bisa bersikap toleran karena mengetahui sumber perbedaan itu dalam ilmu ushul.” Jelasnya mendetail. 

Ketua Umum Forum Kerukunan Umat Beragama Sulawesi Selatan tersebut menyayangkan merebaknya paham-paham radikalisme yang muncul. Menurutnya itu lahir dari wawasan yang sempit. “Mereka yang terpapar radikalisme kebanyakan tidak mengetahui sumber-sumber perbedaan pendapat. Yang mereka ketahui dan pelajari hanya satu pendapat saja, sehingga menihilkan pendapat-pendapat yang lain.” Ungkapnya. 

“Munculnya radikalisme dan takfirisme adalah pengaruh dari luar, bukan bagian dari Islam yang dikembangkan di Indonesia. Takfirisme tidak sesuai dengan tradisi dan budaya Indonesia yang tepa selira terhadap perbedaan. Jumlah kelompok-kelompok takfiri sedikit, namun karena gaungnya besar, kemunculan mereka menjadi berbahaya. Terorisme yang lahir dari takfirisme bukan berasal dari pesantren, kalaupun ada santri yang melakukannya, itu memang berasal dari pesantren yang sengaja didirikan untuk menciptakan mesin-mesin pembunuh.” Tegas Anre Gurutta Rahim Yunus. 

Lebih lanjut, Prof. Rahim Yunus berkata, “Indonesia lahir dari konsep kenegaraan yang tidak melawan dengan konsep yang sudah berkembang sebelumnya. Yang umumnya tidak mau memahami, karena sudah digembleng dengan satu pemahaman. Mereka tidak paham dengan sejarah perbedaan-perbedaan yang ada. Sejarah harus dipelajari dengan baik, sehingga tidak gagap dalam mengenal dan memenuhi kebutuhan masa sekarang.” 

“Solusi yang harus dilakukan adalah, lembaga pendidikan Islam baik dari pesantren sampai perguruan tinggi  harus mengembangkan pendidikan moderasi beragama. Kepada peserta didik harus dibekali ilmu alat sehingga mengetahui proses lahirnya hasil ijtihad. Harus dipahamkan bahwa Indonesia lahir dari kebersamaan. Semua penganut agama berjuang, dan jasa-jasa mereka ada. Sehingga yang harus dikembangkan adalah sikap saling menghargai satu sama lain.” Tambahnya.

Lebih lanjut, akademisi yang keberadaannya di Iran karena mendapat tugas dari Kementerian Agama untuk melakukan riset mengenai toleransi beragama di Timur Tengah, mengatakan, “Di Iran antara Sunni dan Syiah hidup secara harmonis. Dan saya melihatnya langsung. Saya ke Ghurghan dan Mahad Hanafiyah dan berbincang langsung dengan komunitas Sunni yang menceritakan betapa mereka hidup aman, harmonis dan rukun ditengah-tengah masyarakat Syiah.”

“Banyak informasi yang tidak benar mengenai Iran dan Syiah yang beredar di Indonesia. Saya diajak salah seorang dosen Sunni alumni Libiya yang memperlihatkan di perpustakaan-perpustakaan umum, literatur Sunni sangat mudah ditemukan. Tidak ada kebencian dan permusuhan pada Sunni dari rakyat Iran yang Syiah yang selama ini viral diberita-berita. Saya dengan bisa dengan tenang melakukan salat dengan tatacara Sunni NU tanpa ada gangguan dari mereka yang Syiah. Di Ghurghan saya salat dhuhur di salah satu masjid, dan Imamnya Sunni sementara jamaahnya dari Sunni dan Syiah.” Jelasnya. 

Diskusi Hari Santri Nasional 2019 IPI Iran bertempat di ruang seminar Al-Hikmah Institute Universitas Internasional Al-Mustafa Qom Iran. Selain menghadirkan Wakil Rais PW Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA sebagai pembicara juga hadir sebagai pembicara pertama, Mahasiswa kandidat Doktor Filsafat Islam Universitas Internasional Al-Mustafa, Abdul Latif, MA. Hadir sejumlah mahasiswa Indonesia di acara diskusi yang berlangsung dari pukul 14.30 sampai 17.00 waktu setempat tersebut.

Abdul Latif, MA: Tugas Terbesar Santri, Menjamin Nilai-Nilai Keislaman Dirasakan Masyarakat

Abdul Latif, MA: Tugas Terbesar Santri, Menjamin Nilai-Nilai Keislaman Dirasakan Masyarakat

Bekerjasama dengan Gusdurian Tehran, IPI Iran sukses menggelar acara diskusi dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. Bertempat di ruang seminar Al-Hikmah Institute Universitas Internasional Al-Mustafa Qom Iran, diskusi Hari Santri Nasional IPI Iran menghadirkan Wakil Rais PW Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA dan Mahasiswa kandidat Doktor Filsafat Islam Universitas Internasional Al-Mustafa, Abdul Latif, MA sebagai pembicara, Selasa (22/10)

Abdul Latif, MA sebagai pembicara pertama, dalam paparan materinya mengutarakan sebelum mengetahui tugas dan tanggungjawab santri, perlu diketahui dulu siapa yang dimaksud santri. 

“Ada kesesuaian antara sebab dan akibat. Sebelum mempelajari sebab kita akan buta pada akibat. Santri dan perdamaian adalah hubungan dan sebab. Jadi yang pertama kita lakukan adalah mengetahui santri itu, tugas dan tanggungjawabnya apa.” Ungkapnya. 

“Santri adalah sosok yang ingin mendalami dan mengkaji ilmu-ilmu suci yang tertera dalam Alquran dan Assunnah, yang karena benar-benar ingin fokus mendalaminya santri belajar pada pondok pesantren dengan bimbingan kyai atau ulama.” tambah alumnus Pondok Pesantren Al-Hadi Pekalongan tersebut. 

Lebih lanjut Abdul Latif menguraikan setidaknya 6 kewajiban santri yang dikutipnya dari pernyataan Ayatullah Sayid Ali Khamanei pada pidato sambutan masuknya tahun ajaran baru di hadapan ribuan santri Hauzah Ilmiah Iran. “Ada 12 pesan dari Ayatullah Sayid Ali Khamanei kepada para santri namun pada kesempatan ini, saya hanya akan menyampaikan 6 pesan saja yang menguraikan tugas terpenting seorang santri karena keterbatasan waktu yang ada

Pertama, memberi pencerahan dan arahan pemikiran agama. Yaitu seorang santri dengan ilmu-ilmu agama yang dipelajarinya secara mendalam, ia harus mampu meluruskan pemikiran ajaran yang salah dan menyimpang dari agama. 

Kedua, santri tidak boleh hanya aktif dalam bidang agama saja, bukan ceramah saja di mimbar-mimbar, namun santri juga harus punya andil untuk bisa menciptakan suasana politik yang adem. Santri berkewajiban mengenalkan pada masyarakat, mana kawan mana lawan. Bukan hanya hafal Alfiah saja, hanya sharaf saja, tapi mampu memberi pencerahan dalam semua dimensi kehidupan.

Ketiga, santri harus hadir di tengah-tengah masyarakat, harus peka kepada sosial, harus mampu melihat apa yang sedang dihadapi masyarakat. Tidak hanya menghafal Alquran dan Hadis saja, melainkan bagaimana ia dengan ilmu yang dimiliki mampu mengetahui mana yang dibutuhkan masyarakat.

Keempat, membangun masyarakat yang islami. Tugas terbesar santri adalah menjamin nilai-nilai keislaman harus dirasakan masyarakat. 

Kelima, santri harus mengikuti perkembangan zaman dan harus mampu membaca pemikiran-pemikiran yang berkembang saat ini. Setiap isu miring yang melenceng dan menyimpang dari Islam, santri harus sigap memberikan bantahan. Karenanya santri harus bisa turut aktif di media sosial. Sebab di dunia maya saat ini, penyesatan, penyelewengan terhadap aqidah dan ajaran-ajaran islam yang murni sangat massif dilakukan, dalam hal ini santri harus membenahi. 

Keenam, santri bertugas untuk menjaga aqidah masyarakat dengan cara yang terbaik. Ketika ingin membenahi aqidah masyarakat, harus memahami terlebih dahulu budaya dalam masyarakat, secara garis besarnya perlu mengetahui medan. Metode yang kerapkali diajarkan belum tentu dapat diterapkan. Karenanya, bagaimana kita menggunakan budaya lokal, untuk mentransfer yang kita ilmui. Bagaimana menjelaskan materi yang rumit dengan contoh yang gamblang sehingga mudah dipahami dan diterapkan masyarakat.”

Seusai mahasiswa Filsafat Islam Universitas Internasional Al-Mustafa Iran tersebut menguraikan materinya, Guru Besar UIN Alauddin Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA menyampaikan materinya. Hadir sejumlah mahasiswa Indonesia dalam diskusi yang berlangsung kurang lebih 2,5 jam tersebut. 

Presiden IPI Iran: Santri Dituntut Menyampaikan Pesan Perdamaian Islam

Presiden IPI Iran: Santri Dituntut Menyampaikan Pesan Perdamaian Islam

Hari Santri Nasional 2019 turut diperingati mahasiswa Indonesia di Iran yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran. Bertempat di ruang seminar Al-Hikmah Institute Universitas Internasional Al-Mustafa Qom Iran, bekerjasama dengan Gusdurian Tehran, IPI Iran menggelar diskusi dan silaturahmi bersama yang menghadirkan Wakil Rais PW Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Prof. Dr. KH. Abd. Rahim Yunus, MA dan Mahasiswa kandidait Doktor Filsafat Islam Universitas Internasional Al-Mustafa, Abdul Latif, MA sebagai pembicara, Selasa (22/10) . 

Acara dimulai dengan ucapan basmalah oleh Sultan Nur sebagai moderator yang dilanjutkan dengan bacaan ayat suci Alquran oleh Kamaruddin Dg. Pati. Presiden IPI Iran 2019-2021 Ismail Amin  dalam sambutannya menyebutkan penetapan Hari Santri Nasional menunjukkan penghargaan  pemerintah atas jasa yang ditorehkan kaum santri baik dalam berdirinya republik maupun dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. 

“22 Oktober yang ditetapkan Presiden Jokowi sebagai Hari Santri Nasional berlatar belakang keluarnya fatwa dan resolusi jihad yang dikeluarkan oleh Hadratus Syaikh KH. Muh. Hasyim Asy’ari yang kemudian disambut kaum santri dengan menggelorakan semangat perjuangan melawan pasukan sekutu yang hendak kembali menjajah Indonesia.” 

“Tema santri tahun ini melanjutkan tema santri tahun sebelumnya, yaitu berkaitan dengan peran santri Indonesia dalam menciptakan perdamaian, baik skala nasional maupun sampai tingkat dunia. Santri yang setiap harinya bergelut dengan literatur keislaman memang sudah semestinya tampil menjalankan perannya sebagai juru damai sebagaimana pesan dan tuntutan Islam.” Tambah mahasiswa jurusan Tafsir Universitas Internasional Al-Mustafa Iran tersebut.

Presiden IPI Iran lebih lanjut mengatakan, “Sebelumnya di masa ORBA, peran santri dan ulama dalam upaya mencapai kemerdekaan dan perjuangan mempertahankannya tidak banyak dibicarakan, bahkan terkesan tidak ada dengan literatur sejarah perjuangan bangsa didominasi oleh peran dan kisah perlawanan dari kelompok militer. Dengan ditetapkannya Hari Santri sebagai hari nasional oleh Presiden Jokowi, kita jadi tahu, perjuangan heroik bangsa Indonesia pada 10 November 1945 didahului oleh resolusi jihad ulama yang disambut meluas oleh kaum santri.”

“Jadi kemerdekaan Indonesia tercapai dan dipertahankan oleh perjuangan bersama semua lapisan masyarakat. Kelompok nasionalis, agamis, militer dan rakyat jelata bersatu padu mempertahankan kemerdekaan, karenanya tidak ada satu kelompok yang berhak mengklaim negara adalah milik kelompok tertentu yang melahirkan dominasi terhadap kelompok minoritas. Santri sebagai bagian dari kaum agamawan harus berada di garda terdepan untuk menjamin terwujudnya kehidupan yang rukun di negeri ini, sehingga dengan sendirinya menular dan memberi efek yang lebih luas dengan terciptanya perdamaian dunia.” Tambahnya. 

Usai memberikan sambutan, kedua pembicara menyampaikan materinya yang dilanjutkan dengan sesi dialog dan tanya jawab. Hadir sejumlah mahasiswa Indonesia dalam dialog dalam rangka memperingati hari santri tersebut. Aktivis Gusdurian Tehran, Purkon Hidayat turut menyampaikan tanggapan dalam sesi tanya jawab. 

Beragam Lomba dan Doa Bersama Warnai Peringatan HUT TNI di Iran

Beragam Lomba dan Doa Bersama Warnai Peringatan HUT TNI di Iran

Dalam rangka memperingati HUT TNI yang ke-74, selain upacara resmi, pihak Atase Pertahanan RI mengadakan beragam kegiatan, diantaranya menggelar acara lomba dan doa bersama. Rangkaian kegiatan dibuka pada Rabu (2/10) di gedung KBRI Tehran, pukul 15.30 waktu setempat. Dalam acara pembukaan, Atase Pertahanan (Athan) Republik Indonesia (RI) Kolonel Marinir Harwin Dicky Wijanarko, SE memberikan sambutannya disusul sambutan oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Iran merangkap Turkmenistan Octavino Alimudin sekaligus membuka acara secara resmi. 

Di antara perlombaan dan pertandingan yang digelar untuk menyambut HUT TNI bertema “TNI Profesional Kebanggaan Rakyat” ini adalah lomba Dart, pertandingan catur, lomba mewarnai dan Fun Bike. Beragam lomba dan pertandingan menarik tersebut diikuti oleh Warga Negara Indonesia yang berada di Republik Islam Iran, baik dari kalangan diplomat, staf KBRI, mahasiswa, maupun diaspora. 

Sementara doa bersama digelar Atase Pertahanan RI dengan mahasiswa Indonesia di kota Qom Malam Jumat (3/10) pukul 19.00 waktu setempat. Bertempat di Sekretariat HPI Iran, acara doa bersama seusai salat Isya berjamaah  yang dimoderatori oleh Sayid Mahdi Alatas diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars TNI disusul dengan membaca surah Yasin dan doa bersama untuk keselamatan negeri yang dipimpin oleh Muhammad Haidir. 

Seusai doa dan dzikir bersama, Atase Pertahanan RI untuk Iran Kolonel Marinir Harwin Dicky Wijanarko, SE menyampaikan sejumlah pesan dalam pengantarnya untuk mengawali dialog dan diskusi yang dipandu oleh Yopi Dani Saputra. Kolonel Harwin dalam pengantarnya mengatakan upaya TNI sejak awal berdirinya sampai saat ini adalah menjaga kedekatan dengan rakyat. “Alhamdulillah sampai saat ini TNI masih tetap menjaga netralitas dan tidak memiliki kepentingan politik. Dengan netralitas tersebut, TNI tetap memberikan pengabdiannya pada rakyat. Sebab TNI aslinya berasal dari rakyat dan sebisa mungkin memberikan yang terbaik untuk rakyat.”

“Profesional TNI menurut kami baru bisa terbangun dengan menjalin kedekatan yang sangat intens dengan rakyat. Karena itu Panglima TNI mengintruksikan agar dalam peringatan HUT TNI tahun ini harus sebanyak mungkin melibatkan rakyat khususnya rekan-rekan mahasiswa bahkan Pramuka sebagai komponen cadangan. Jadi bersatu dengan rakyat, berdoa bersama, kita silaturahim, adalah bagian dari kegiatan upacara memperingati HUT TNI.”

Ia juga menyebutkan, menjadi kebahagiaan setelah kurang lebih 10 bulan bertugas di Iran bisa bersilaturahmi dengan warga negara Indonesia dalam jumlah yang lumayan banyak, sebab sebelumnya saat bertugas di Liberia dan Nigeria, kolonel Harwin menyebut sangat minim bisa melakukan banyak interaksi dengan WNI karena jumlah WNI di kedua negara tersebut memang terhitung sangat sedikit. “Yang sangat membahagiakan juga, dengan keberadaan kami di Iran, ternyata banyak hal yang bisa kami pelajari. Dalam bidang militer setidaknya kami berupaya melakukan tiga bentuk kerjasama soft power militer dengan Iran yaitu, yang pertama dalam bentuk saling mengunjungi antara pejabat-pejabat militer. Yang kedua, kerjasama pendidikan. Dan yang ketiga, transfer of technology tentang industri pertahanan kita. Semoga dalam waktu dekat kita bisa banyak menimba ilmu dari Iran terutama dari sisi tekhnologinya yang mengalami kemajuan pesat.”

“Yang memudahkan kita bekerjasama dengan negara lain karena tidak pernah punya masalah dengan negara manapun. Alhamdulillah dengan Amerika Serikat, ayo. Sama Iran, ayo. Sama Korea Utara, ayo. Sama Korea Selatan, ayo. Karena negara kita negara nonblok. Dan ini adalah salah satu kekuatan bagi negara kita. Jadi dengan keberadaan kami di Iran, semoga kerjasama militer dengan Iran bisa jadi lebih intens dan memberi manfaat bagi negara khususnya bagi TNI.” Tambahnya perwira dari Angkatan Laut tersebut. 

Pada sesi dialog dan tanya jawab, Kolonel Marinir Harwin memberikan jawaban dari berbagai pertanyaan yang diajukan beberapa mahasiswa. Diantaranya memberi penjelasan mengenai mungkin tidaknya terjadinya perang Amerika Serikat dan Iran dari sudut pandang militer, menyebut berbagai kemajuan yang berhasil dicapai TNI termasuk mampu memproduksi sendiri berbagai jenis alutsista di tengah keterbatasan anggaran pertahanan Indonesia serta menjawab pertanyaan mengenai bagaimana kemampuan kekuatan militer Indonesia dalam menjaga keamanan dan keutuhan NKRI dari ancaman musuh baik dari dalam maupun dari luar. 

Pada bagian penutup, Atase Pertahanan RI memberikan pesan dan nasehat kepada semua mahasiswa yang hadir untuk memanfaatkan waktu di Iran untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. “Saudara-saudara sekalian, belajarlah sebaik-baiknya, karena menuntut ilmu adalah juga bagian dari upaya memperjuangkan tanah air.” Pesannya. 

Acara doa bersama yang dihadiri lebih dari seratus WNI di Qom tersebut ditutup dengan membaca Doa Wahdat sambil bergandengan satu sama lain membentuk lingkaran, sebagai simbol persatuan dan kesatuan. Acara kemudian dilanjutkan dengan makan malam bersama. Pada saat yang sama, di kota Esfahan, juga diadakan doa bersama dalam rangka memperingati HUT TNI oleh 10 mahasiswa Indonesia di kota tersebut. 

Sementara upacara resmi memperingati HUT TNI ke74, berlangsung di gedung KBRI Tehran pada Jumat (4/10) pukul 15.00 waktu setempat. Upacara HUT TNI tersebut dihadiri oleh diplomat, staf KBRI, mahasiswa, maupun diaspora di Iran.