Bertempat di Wisma Indonesia di Tehran, Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. Nila Djuwita Moeloek dalam kunjungan resminya ke Iran menyempatkan untuk mengadakan pertemuan dan menyapa masyarakat dan diaspora Indonesia di Iran, Senin (16/9). Pada kesempatan tersebut, turut hadir Timnas Putra Bola Voli Indoor Indonesia yang sementara berlaga di ajang di ajang “The 20th Asian Senior Men’s Volleyball” di Tehran, 11-22 September 2019.

Acara ramah tamah diawali dengan sambutan Kepala Duta Besar RI untuk Iran merangkap Turkmenistan, Octavino Alimudin. Dalam sambutannya, Octavino memberikan informasi mengenai keberadaan WNI di Iran dan kebanyakan adalah pelajar dan mahasiswa yang tersebar disejumlah kota besar di Iran. Lebih lanjut ia menyambut baik kedatangan Menkes RI beserta rombongan dan berharap kerjasama bilateral Jakarta-Tehran terutama terkait kerjasama di bidang kesehatan bisa lebih meningkat.

Sementara, Menkes RI Prof. Dr. Nila Djuwita Moeloek dalam sambutannya menyampaikan kondisi kesehatan masyarakat Indonesia teraktual yakni terkait stunting. Ia menjelaskan, stunting merupakan kondisi dimana anak memiliki tinggi badan yang lebih rendah dari standar usianya, dan sangat disayangkan hal ini terjadi pada 4 dari 10 anak Indonesia. Hal ini diperburuk jika diikuti dengan perkembangan otak  anak yang ikut terhambat sehingga tidak dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.

Namun disela sambutannya, Djuwita Moeloek memuji salah satu anggota Timnas yang memiliki tinggi di atas rata-rata, yang menurutnya itu bisa dilakukan jika gizi anak sejak awal bisa terpenuhi dengan baik. Lebih lanjut Menkes RI menyinggung Forum Bisnis yang diadakan siang harinya yang dihadiri sejumlah perusahaan Indonesia seperti Biofarma, CV. Bartec, Phapros, Kalbe Farma, Kimia Farma, dan perusahaan Iran seperti Cinnagen, Sina Robotics dan medical innovators, dan Celltech pharmed.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia selanjutnya menyatakan kekagumannya terhadap perkembangan teknologi kesehatan di Iran khususnya di bidang nanoteknologi yang telah melahirkan beberapa inovasi berupa obat kanker, bernama Sinacurcumin, Sina Robotic Nano surgery, dan teknologi sel punca.

Dalam kesempatan tanya jawab, Ali Asghar Fadlullah Muhammadi, seorang mahasiswa Kedokteran di Shiraz University of medical Sciences bertanya terkait nasib mahasiswa kedokteran Indonesia di Iran setelah menyelesaikan studinya dan kembali ke Indonesia, serta kesediaan Kementerian Kesehataan dalam membantu biaya pendidikan mahasiswa Indonesia yang mempelajari ilmu kedokteran di Iran.

Terkait pertanyaan tersebut, Menkes menanggapi bahwa pihaknya menyediakan beasiswa spesialis jika mahasiswa telah menempuh jenjang sebelumnya dengan syarat diwajibkan untuk kembali ke daerah asalnya untuk mengabdi. Namun untuk membiayai perkuliahan di Iran ia menyarankan untuk merujuk ke Kemenristek Dikti dengan program LPDP dimana program ini juga mengevaluasi terlebih dahulu universitas tujuan dari pendaftar beasiswa. Kemudian, semua mahasiswa kedokteran yang menyelesaikan studinya di luar negeri memang harus menghadapi ujian adaptasi di Indonesia dan mempersilahkan penanya untuk menanyakan hal ini secara langsung kepada seorang bapak dari RS Cipto Mangunkusumo yang saat itu hadir dalam acara ramah tamah tersebut.

Sementara penanya kedua, Fatimah Mustafawi Muhammadi, yang saat ini sedang menempuh S-2 Nanoteknologi Medis dari Tehran University of Medical Sciences, bertanya terkait hasil Forum Bisnis Indonesia-Iran yang diadakan di Gedung Iran National Innovation Fund siang 15 September 2019 tadi serta produk atau teknologi apa saja yang sekiranya paling dibutuhkan dan menjanjikan bagi masyarakat Indonesia saat ini.

Nila Djuwita Moeloek pun menjawab, bahwa untuk pihaknya ingin mengevaluasi tiap perusahaan beserta produk yang ditawarkan sehingga dalam membuahkan kerjasama yang menguntungkan tidak akan dapat dihasilkan dalam waktu singkat. “Sementara produk yang menjanjikan dan dibutuhkan yakni pertama, Sinacurcumin yang merupakan obat kanker yang berbahan dasar kunyit ini menurut saya kita bisa manfaatkan celah kerjasama dengan menyuplai bahan dasarnya karena Indonesia kaya akan herbal ini.” Ungkapnya.

Terkait tekhnologi robotic surgery yang telah dicapai Iran, menurutnya bisa sangat membantu dokter bedah dengan menyediakan posisi yang nyaman saat mengoperasi pasien dimana dokter dapat melakukan operasi dalam keadaan duduk maupun berdiri, serta dapat dilakukan di ruangan terpisah seingga tidak menuntut keadaan steril bagi dokter. Selain itu, robot ini dapat meningkatkan akurasi bedah dan mengurangi tremor pada dokter. Menariknya Iran menawarkan produk ini dalam harga 1 juta dolar Amerika Serikat yang 3 kali lipat lebih murah dibanding perusahaan kompetetitor dari Jerman. Namun ia menyatakan pihaknya masih perlu mengevaluasi apakah benar sesuai dengan klaim perusahaan asalnya.

Di akhir sambutannya, ahli mata Indonesia memberikan motivasi dan pesan kepada mahasiswa Indonesia di Iran terutama yang mengambil studi kedokteran. Menurutnya kemajuan tekhnologi medis yang dicapai Iran saat ini karena ketekunannya meraih target besar untuk mandiri.

“Saya sangat terkejut melihat tekhnologi Iran yang sangat maju, khususnya nano tekhnologi dan robotic surgery. Saya mengharapkan mahasiswa Indonesia bisa mempelajari tekhonologi-tekhnologi yang dimiliki Iran tersebut dan membawanya ke tanah air.” Pesannya.

Acara ramah tamah Menkes RI beserta rombongan dengan KBRI dan WNI di Iran kemudian diakhiri dengan makan malam bersama. Kedatangan Menteri Kesehatan Indonesia ke Iran yang menandatangani 11 bentuk kerjasama diharapkan dapat menjembatani transfer teknologi di bidang kesehatan antara kedua negara dan menjadi motivasi bagi mahasiswa-mahasiswa yang sedang memempuh studinya di Iran agar lebih giat dan menegaskan bahwa mereka telah berada di negara yang tepat untuk menimba ilmu.