Setelah perjuangan panjang demi kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Jargon dapur, sumur dan kasur yang dinisbatkan untuk tugas perempuan pada masa Kartini, kini sudah tidak relevan lagi. Hari ini wilayah perempuan tidak hanya terbatas pada urusan rumah tangga, perempuan berhak menikmati pendidikan dan turut berkecimpung di berbagai ranah dalam masyarakat.

Berkat usaha bapak pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara, Dewi Sartika, R.A Kartini dan banyak tokoh lainnya dalam pemerataan pendidikan bagi anak bangsa di masa perjuangan. Akhirnya, aturan pendidikan kolonial yang hanya dapat dinikmati oleh kalangan terbatas berhasil diruntuhkan[1]. Sekarang ilmu pengetahuan bukan lagi barang mewah dan bisa dinikmati siapa saja. Terkhusus, bagi perempuan di bumi pertiwi yang sebelumnya tak hanya dibatasi oleh aturan kolonial tetapi juga adat istiadat.

Meningkatnya kesadaran peran perempuan sebagai tonggak masyarakat. Membuat perempuan bukan hanya berhak, tetapi juga dituntut untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Agar menjadi perempuan cerdas. Sebab perempuan memiliki tugas penting sebagai pendidik anak bangsa. Oleh karena itu, perempuan cerdas adalah kebutuhan bangsa untuk berkembang menjadi bangsa yang unggul. Pekerja seni Indonesia, Dian Sastrowardoyo mengatakan “Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu cerdas akan  melahirkan anak-anak cerdas[2]”.

Dalam literatur islam, pentingnya pendidikan bagi perempuan juga telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW telah mendidik putrinya sendiri, Sayyidah Fathimah  as dengan baik. Sehingga Sayyidah Fathimah as masih menjadi ikon perempuan teladan hingga hari ini. Ilmu pengetahuannya yang luas menjadikan Sayyidah Fathimah as tempat bertanya masyarakat kala itu. Berkat kecerdasannya Sayyidah Fathimah as juga sukses membina rumah tangga dan melahirkan putera-puteri emas yang komitmen membela Islam[3]. Selaras dengan pernyataan Bung Hatta bahwa barang siapa yang mendidik satu laki-laki berarti telah mendidik satu manusia, sedangkan siapa yang mendidik satu perempuan berarti mendidik satu generasi.

Sudah banyak kisah keberhasilan suatu kaum maupun bangsa karena kiprah perempuan cerdas yang bukan isapan jempol semata. Menengok ke Timur Tengah, ada Republik Islam Iran yang berhasil meraih revolusi atas dukungan dan sumbangsih para perempuannya[4]. Meskipun gerakan ini dimotori oleh Imam Khomeini, namun Imam Khomeini berhasil mengedepankan kiprah perempuan saat melakukan perlawanan terhadap tirani Syah. Para perempuan turut berjuang dengan memotivasi laki-laki, mereka turun ke jalan dan menyatakan dukungan. Di rumah-rumah mereka mendidik anak-anak dengan jiwa ksatria. Sehingga rakyat berbondong-bondong menjadi prajurit yang berani membela tanah air tanpa takut mati.

Sementara dalam sejarah Indonesia, ada kisah para penyortir lada perempuan yang tangguh di Kerajaan Banten tahun 1780. Jatuhnya Malaka ke Portugis membuat Kerajaan Banten yang menguasai Selat Sunda menjadi pusat perniagaan. Sebagai penghasil utama komoditi lada, permintaan lada dari Kerajaan Banten pun membludak. Namun berkat manajemen cerdas penyortir lada perempuan, penghasilan lada Banten pun berhasil meningkat. Padahal para penyortir lada ini memiliki tugas kompleks. Bukan hanya memilah lada yang bagus secara fisik, tetapi juga menakar harga, pendistribusian, dan memiliki kewenangan untuk berhubungan langsung dengan mandor juga pemerintahan Belanda[5].

Sekarang di umur Indonesia yang sedang menuju seabad pun tak luput dari peran perempuan cerdas yang mampu bersanding dengan laki-laki dalam membangun negeri. Banyak srikandi-srikandi yang telah lahir karena adanya kebebasan dan kemudahan dalam mengakses ilmu pengetahuan dari berbagai sarana. Utamanya karena fasilitas instansi-instansi pendidikan baik milik pemerintah atau swasta sudah tersebar luas di berbagai daerah.

Kini tugas Indonesia bukan lagi mendobrak batasan pendidikan, tetapi meneruskan perjuangan dengan meningkatkan kualitas di sektor pendidikan. Indonesia harus sadar bahwa persaingan untuk maju berproses menjadi bangsa yang unggul di era modern ini semakin ketat. Bangsa ini membutuhkan kehadiran mitra perempuan-perempuan cerdas, disamping adanya usaha kerja keras kaum laki-laki.

Sementara mengingat kompleksnya tanggung jawab perempuan dan peran krusialnya sebagai ibu maupun istri. Adalah sebuah keharusan negara untuk memperhatikan dan merangkul perempuan lebih hangat lagi. Negara harus melihat lewat kacamata psikologi dari hati ke hati, bahwa perempuan adalah bagian dari rakyat. Sudah saatnya pendidikan Indonesia meraih perempuan lebih akrab dengan membuat instansi-instansi pendidikan baik formal atau non-formal yang aturan, kebijakan, dan fasilitasnya ramah bagi perempuan, terutama bagi yang sudah berkeluarga. Agar perempuan dapat memanajemen peran multipelnya dengan baik. Seperti penyediaan daycare, ruang menyusui, jam pelajaran yang ringan, cuti haid, hamil, melahirkan dan lain-lain.

Akan ada lingkaran simbiosis mutualisme yang tercipta ketika perempuan mengabdi pada negara dan negara merangkul perempuan. Hubungan keserasian yang terwujud akan menghasilkan penerus berkualitas. Karena baik negara sebagai simbol tanah air maupun perempuan memiliki persamaan karakter sebagai pemangku kehidupan. Ketika generasi baru lahir dari cikal bakal buaian dan tanah kelahiran yang penuh cinta maka ia akan lahir menjadi pembela tanah air sejati. Seperti kata Che Guavara bahwa lahirnya revolusioner yang sesungguhnya dimotivasi oleh perasaan cinta yang luar biasa.

Sehingga menjadi suatu keharusan bagi perempuan untuk merenung, sejauh mana ia telah berkontribusi bagi bangsanya. Tidak perlu muluk-muluk, langkah awal kontribusi perempuan bisa dilakukan dengan berinvestasi menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan mencintai diri sendiri. Sudah saatnya perempuan saling mendukung dan menguatkan satu sama lain dalam hal positif. Demi berkibarnya terus sang Saka Merah Putih. Karena menjadi perempuan bukan hanya sebatas gender, tetapi juga sebuah  kebanggaan, kemuliaan sekaligus sebuah tanggung jawab.

Terakhir penulis ucapkan selamat Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-74 bagi seluruh rakyat Indonesia. Khususnya para perempuan hebat Indonesia,  NKRI tetap jaya karena kalian ada.


Aisyah Habrul Ilma Alfatin

Artikel ini meraih predikat terbaik I dalam Lomba Artikel Kemerdekaan RI 74 yang diadakan Departemen Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

[1] Musyafa,Haidar.2017.Ki Hadjar Sebuah Memoar. Cet 1.Tangerang Selatan: Pustaka Imania

[2] Bernas.id.Wanita Sekolah Tinggi Tapi Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga?.https://m.bernas.id/51308-wanita-sekolah-tinggi-tapi-cuma-jadi-ibu-rumah-tangga

[3] Makarim, Nasir Syirazi.2007.Wanita Agung Fathimah Az-Zahra. Diterjemahkan oleh: Najib Husain al-Idrus. Cet.3. Jakarta:Cahaya

[4] Khomeini,Imam. 2004.Kedudukan Wanita dalam Pandangan Imam Khomeini.Diterjemahkan oleh:. Muhammad Abdul Kadir Alcaff.Cet.1.Jakarta: Lentera.

[5] Sudarani,Tyanti.2012. “Emansipasi Perempuan Dalam Perdagangan Lada di Banten” Dalam ARSIP,September,59. Jakarta.