Menjaga Silaturahim, Atase Pertahanan RI Kunjungi WNI di Esfahan

Menjaga Silaturahim, Atase Pertahanan RI Kunjungi WNI di Esfahan

Dalam rangka menguatkan hubungan silaturahim dan persaudaraan setanah air, Atase Pertahanan Republik Indonesia, Kol. Mar. Harwin Dicky Widjanarko melakukan kunjungan resmi ke kota Esfahan, Iran dengan bertemu diaspora Indonesia yang berada di kota tersebut, Jumat (20/9). Dengan menempuh jarak 448 km, berangkat dari Tehran, Atase Pertahanan RI beserta keluarga dan staff harus menghabiskan waktu kurang lebih empat jam di perjalanan untuk tiba di Esfahan. 

Di kota yang dikenal dengan julukan Nisf-e Jahan (separuh dunia), rombongan Atase Pertahanan RI disambut oleh 10 WNI yang kesemuanya adalah mahasiswa. Acara ramah tamah di gelar di Hotel Ali Qapu, tepat di jantung kota Esfahan. Dalam sambutannya,Harwin Dicky Widjanarko menyampaikan maksud kedatangannya yang disebutnya sebagai kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka mendukung keberhasilan tugas pokok perwakilan RI/KBRI di negara akreditasi Iran.  

Atase Pertahanan RI untuk Iran merangkap Azerbaijan, Turkmenistan, Uzbekistan, Irak, Kirgiztan, dan Qatar tersebut lebih lanjut menyebutkan tatap muka dan siltaruhami tersebut sangat penting dilaksanakan sebagai sarana komunikasi dan sharing informasi. “Secara spritual silaturahmi sebagaimana tuntunan agama dapat memanjangkan umur dan menjadi jalan dibukakan pintu rezeki oleh Allah swt.” Ungkapnya. 

Lebih lanjut pejabat militer yang pernah bertugas di Liberia tahun 2009 dan Sudan tahun 2013 tersebut menyebut pertemuan tatap muka secara langsung juga dapat menjadi wahana sharing, baik mengenai perkembangan terkini di tanah air, maupun perkembangan terbaru di luar negeri, terutama di Iran. 

Para mahasiswa Indonesia yang sedang studi di kota Esfahan tersebut menyambut hangat kedatangan Atase Pertahanan RI beserta keluarga dan rombongan. Dalam pertemuan yang diselingi makan malam bersama tersebut, satu demi satu mahasiswa berkesempatan untuk menjelaskan keadaan dan kondisi masing-masing. Para mahasiswa juga berterimakasih atas kedatangan dan perhatian Atase Pertahanan RI terhadap diaspora di Esfahan meskipun hanya berjumlah 10 orang.

Di penghujung pertemuan, Koloner Harwin memesankan, agar para mahasiswa menuntut ilmu sebaik-baiknya selama berada di Iran. “Keberhasilan ada di pundak kalian masing-masing, tetap semangat belajar untuk kejayaan tanah air tercinta.” Pesannya. 

Didampingi istri, Ny. Peltu TTU Osi Oktaviana, putri bungsunya Syakira Nabila, beserta kedua staff Syarif Hidayatullah dan Mulyani, Kolonel Harwin menyempatkan mengunjungi sejumlah destinasi wisata terkenal di Esfahan. Diantara yang dikunjungi selama seharian penuh adalah Naqshe Jahan, Se-o Se pol, Gereja Vank, Akuarium, dan Firetemple Zoroaster.

Menteri Kesehatan RI: Saya Kagum dengan Kemajuan Tekhnologi Iran

Menteri Kesehatan RI: Saya Kagum dengan Kemajuan Tekhnologi Iran

Bertempat di Wisma Indonesia di Tehran, Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. Nila Djuwita Moeloek dalam kunjungan resminya ke Iran menyempatkan untuk mengadakan pertemuan dan menyapa masyarakat dan diaspora Indonesia di Iran, Senin (16/9). Pada kesempatan tersebut, turut hadir Timnas Putra Bola Voli Indoor Indonesia yang sementara berlaga di ajang di ajang “The 20th Asian Senior Men’s Volleyball” di Tehran, 11-22 September 2019.

Acara ramah tamah diawali dengan sambutan Kepala Duta Besar RI untuk Iran merangkap Turkmenistan, Octavino Alimudin. Dalam sambutannya, Octavino memberikan informasi mengenai keberadaan WNI di Iran dan kebanyakan adalah pelajar dan mahasiswa yang tersebar disejumlah kota besar di Iran. Lebih lanjut ia menyambut baik kedatangan Menkes RI beserta rombongan dan berharap kerjasama bilateral Jakarta-Tehran terutama terkait kerjasama di bidang kesehatan bisa lebih meningkat.

Sementara, Menkes RI Prof. Dr. Nila Djuwita Moeloek dalam sambutannya menyampaikan kondisi kesehatan masyarakat Indonesia teraktual yakni terkait stunting. Ia menjelaskan, stunting merupakan kondisi dimana anak memiliki tinggi badan yang lebih rendah dari standar usianya, dan sangat disayangkan hal ini terjadi pada 4 dari 10 anak Indonesia. Hal ini diperburuk jika diikuti dengan perkembangan otak  anak yang ikut terhambat sehingga tidak dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.

Namun disela sambutannya, Djuwita Moeloek memuji salah satu anggota Timnas yang memiliki tinggi di atas rata-rata, yang menurutnya itu bisa dilakukan jika gizi anak sejak awal bisa terpenuhi dengan baik. Lebih lanjut Menkes RI menyinggung Forum Bisnis yang diadakan siang harinya yang dihadiri sejumlah perusahaan Indonesia seperti Biofarma, CV. Bartec, Phapros, Kalbe Farma, Kimia Farma, dan perusahaan Iran seperti Cinnagen, Sina Robotics dan medical innovators, dan Celltech pharmed.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia selanjutnya menyatakan kekagumannya terhadap perkembangan teknologi kesehatan di Iran khususnya di bidang nanoteknologi yang telah melahirkan beberapa inovasi berupa obat kanker, bernama Sinacurcumin, Sina Robotic Nano surgery, dan teknologi sel punca.

Dalam kesempatan tanya jawab, Ali Asghar Fadlullah Muhammadi, seorang mahasiswa Kedokteran di Shiraz University of medical Sciences bertanya terkait nasib mahasiswa kedokteran Indonesia di Iran setelah menyelesaikan studinya dan kembali ke Indonesia, serta kesediaan Kementerian Kesehataan dalam membantu biaya pendidikan mahasiswa Indonesia yang mempelajari ilmu kedokteran di Iran.

Terkait pertanyaan tersebut, Menkes menanggapi bahwa pihaknya menyediakan beasiswa spesialis jika mahasiswa telah menempuh jenjang sebelumnya dengan syarat diwajibkan untuk kembali ke daerah asalnya untuk mengabdi. Namun untuk membiayai perkuliahan di Iran ia menyarankan untuk merujuk ke Kemenristek Dikti dengan program LPDP dimana program ini juga mengevaluasi terlebih dahulu universitas tujuan dari pendaftar beasiswa. Kemudian, semua mahasiswa kedokteran yang menyelesaikan studinya di luar negeri memang harus menghadapi ujian adaptasi di Indonesia dan mempersilahkan penanya untuk menanyakan hal ini secara langsung kepada seorang bapak dari RS Cipto Mangunkusumo yang saat itu hadir dalam acara ramah tamah tersebut.

Sementara penanya kedua, Fatimah Mustafawi Muhammadi, yang saat ini sedang menempuh S-2 Nanoteknologi Medis dari Tehran University of Medical Sciences, bertanya terkait hasil Forum Bisnis Indonesia-Iran yang diadakan di Gedung Iran National Innovation Fund siang 15 September 2019 tadi serta produk atau teknologi apa saja yang sekiranya paling dibutuhkan dan menjanjikan bagi masyarakat Indonesia saat ini.

Nila Djuwita Moeloek pun menjawab, bahwa untuk pihaknya ingin mengevaluasi tiap perusahaan beserta produk yang ditawarkan sehingga dalam membuahkan kerjasama yang menguntungkan tidak akan dapat dihasilkan dalam waktu singkat. “Sementara produk yang menjanjikan dan dibutuhkan yakni pertama, Sinacurcumin yang merupakan obat kanker yang berbahan dasar kunyit ini menurut saya kita bisa manfaatkan celah kerjasama dengan menyuplai bahan dasarnya karena Indonesia kaya akan herbal ini.” Ungkapnya.

Terkait tekhnologi robotic surgery yang telah dicapai Iran, menurutnya bisa sangat membantu dokter bedah dengan menyediakan posisi yang nyaman saat mengoperasi pasien dimana dokter dapat melakukan operasi dalam keadaan duduk maupun berdiri, serta dapat dilakukan di ruangan terpisah seingga tidak menuntut keadaan steril bagi dokter. Selain itu, robot ini dapat meningkatkan akurasi bedah dan mengurangi tremor pada dokter. Menariknya Iran menawarkan produk ini dalam harga 1 juta dolar Amerika Serikat yang 3 kali lipat lebih murah dibanding perusahaan kompetetitor dari Jerman. Namun ia menyatakan pihaknya masih perlu mengevaluasi apakah benar sesuai dengan klaim perusahaan asalnya.

Di akhir sambutannya, ahli mata Indonesia memberikan motivasi dan pesan kepada mahasiswa Indonesia di Iran terutama yang mengambil studi kedokteran. Menurutnya kemajuan tekhnologi medis yang dicapai Iran saat ini karena ketekunannya meraih target besar untuk mandiri.

“Saya sangat terkejut melihat tekhnologi Iran yang sangat maju, khususnya nano tekhnologi dan robotic surgery. Saya mengharapkan mahasiswa Indonesia bisa mempelajari tekhonologi-tekhnologi yang dimiliki Iran tersebut dan membawanya ke tanah air.” Pesannya.

Acara ramah tamah Menkes RI beserta rombongan dengan KBRI dan WNI di Iran kemudian diakhiri dengan makan malam bersama. Kedatangan Menteri Kesehatan Indonesia ke Iran yang menandatangani 11 bentuk kerjasama diharapkan dapat menjembatani transfer teknologi di bidang kesehatan antara kedua negara dan menjadi motivasi bagi mahasiswa-mahasiswa yang sedang memempuh studinya di Iran agar lebih giat dan menegaskan bahwa mereka telah berada di negara yang tepat untuk menimba ilmu.

Pernyataan Sikap IPI Iran terkait Situasi Tanah Air

Pernyataan Sikap IPI Iran terkait Situasi Tanah Air

Menyikapi peristiwa-peristiwa terkini yang sedang berkembang di tanah air, terutama terjadinya gelombang gerakan massa yang dipelopori organisasi-organisasi kemahasiswaan dari sejumlah perguruan tinggi yang menyampaikan poin-poin tuntutan kepada Parlemen dan Pemerintah RI namun sebagian besarnya berakhir ricuh dan terjadinya rangkaian aksi kekerasan baik kepada aparat keamanan maupun yang dilakukan aparat keamanan kepada para pengunjuk rasa, dengan ini Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran mengeluarkan pernyataan sikap sebagai bentuk tanggungjawab moral sebagai pelajar dan mahasiswa.

Berikut pernyataan sikap IPI Iran periode 2019-2021:

Surat Pernyataan Sikap IPI Iran 2019-2021

Nomor : 01/IPI/SPS/IX/2019

Terkait Situasi Terkini di Tanah Air

Bismilllahirrahmanirrahim

Bermula dari pengesahan revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU KPK) oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang dilakukan bagaikan operasi senyap pada Kamis (5/9) dan menuai kontroversi karena dinilai sejumlah pasal hasil revisi dapat melemahkan kinerja dan independensi KPK sebagai ujung tombak harapan rakyat dalam upaya melawan tindak pidana korupsi yang telah menjadi amanat dan agenda reformasi, menyusul kemudian pengesahan RKUHP, RUU Pertanahan, RUU Ketenagakerjaan, RUU Minerba serta revisi UU Pemasyarakatan disaat yang sama memperlambat proses legislasi UU Penghapusan Kekerasan Seksual, yang memicu bergeraknya berbagai elemen gerakan mahasiswa untuk menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran mengecam keputusan-keputusan kontroversial DPR RI dan pemerintah tersebut yang dinilai dapat merugikan kepentingan umum dan menodai kehidupan demokrasi di Indonesia.

Menyikapi keputusan-keputusan kontroversial DPR RI tersebut, kami Ikatan Pelajar Indonesia di Iran (IPI Iran) memberikan pernyataan sikap sebagai berikut:

  1. Mendesak Presiden RI  untuk segera menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti UU untuk membatalkan berlakunya UU KPK versi revisi oleh DPR RI yang memuat sejumlah pasal yang dapat mengurangi independensi dan melemahkan kinerja KPK dalam memberantas korupsi di Indonesia.
  2. Menuntut DPR RI untuk kembali melakukan pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU KPK) agar kembali pada prinsip-prinsip good governance yakni transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi.
  3. Menolak keputusan DPR terkait pasal-pasal bermasalah pada RKUHP, RUU Pemasyarakatan, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan dan RUU Minerba yang dapat memberi dampak buruk pada masyarakat luas dan menghambat kemajuan kehidupan demokrasi di Indonesia.
  4. Mendorong DPR RI untuk segera menyelesaikan pembahasan dan mengesahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Sampai saat ini angka kekerasan seksual terus meningkat karena belum ada landasan hukum komprehensif yang dapat menyelesaikan persoalan tersebut.
  5. Menuntut DPR RI untuk menjalankan fungsinya sebagai lembaga legislatif  dan perwakilan rakyat yang menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti aspirasi rakyat.
  6. Menuntut Presiden untuk segera merealisasikan janji-janji kampanye untuk menuntaskan peradilan kasus-kasus pelanggaran HAM, memperkuat KPK, mengatasi Karhutla, melindungi perempuan, memperluas lapangan kerja, mempermudah akses pendidikan, meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menuntaskan agenda-agenda reformasi. 
  7. Mengecam pendekatan represif pemerintah dan aparat keamanan terhadap aksi demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil yang menuntut penuntasan amanat reformasi dan penguatan demokrasi di Indonesia.
  8. Mendukung dan menyerukan seluruh elemen masyarakat, mahasiswa, pelajar dan diaspora Indonesia di luar negeri untuk menunjukkan aksi solidaritas menyelamatkan agenda dan tuntutan reformasi. 
  9. Mendorong aksi-aksi parlemen jalanan oleh organisasi pergerakan mahasiswa untuk dilakukan tanpa melakukan aksi kekerasan dan pengrusakan fasilitas umum, dilakukan secara damai, independen dan benar-benar mewakili suara rakyat dengan mendalami substansi tuntutan serta tidak ditunggangi pihak manapun yang hendak mengambil keuntungan sepihak.

Demikian pernyaatan sikap ini diambil atas dasar panggilan nurani dan tanggungjawab moral sebagai bagian dari elemen bangsa yang berkewajiban turut mengawal amanat konstitusi, cita-cita reformasi dan menjaga kehidupan demokrasi yang berkemanusiaan dan berkeadilan serta berdasar pada semangat persatuan Indonesa.

Salam Perhimpunan!

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

                                                                                            Qom, 26  September 2019

                                                                                                                                        
Peringatan Asyura di Iran, antara Fakta dan Fitnah

Peringatan Asyura di Iran, antara Fakta dan Fitnah

Peringatan Asyura telah selesai, meski sebenarnya hawa kesedihan dan kedukaan rakyat Iran yang mayoritas Syiah atas gugurnya Imam Husain di Karbala terus berlanjut sampai bulan Safar. Tulisan ini perlu kami ketengahkan untuk menceritakan realita sesungguhnya suasana peringatan Asyura di Iran, yang tidak sedikit oleh media-media internasional dan nasional diceritakan jauh dari kenyataan. Atau secara serampangan menyebut peringatan Asyura di Irak, Pakistan atau di negara lainnya yang diperingati secara berlebihan dengan berdarah-darah juga dikaitkan dengan peringatan Asyura di Iran. 

Begitu memasuki bulan Muharram sejak malam pertama, mayoritas rakyat Iran melarutkan diri dalam majelis-majelis duka. Bulan Muharram bagi masyarakat Iran yang mayoritas bermazhab Syiah adalah bulan duka, bulan yang mengharu biru, bulan yang menggoreskan kenangan akan peristiwa paling pahit dalam sejarah Islam. Karena itu, bergantinya tahun hijriah yang seringkali dijadikan momen untuk bergembira dan saling mengucapkan selamat bagi umat Islam kebanyakan, tidak akan ditemukan dilakukan oleh warga Iran.

Rasa belasungkawa akan syahidnya Imam Husain as beserta keluarga dan sahabatnya yang terbantai di Karbala mereka tunjukkan bukan hanya dengan pakaian serba hitam yang mereka kenakan, namun juga pemasangan umbul-umbul bendera hitam, ornamen-ornamen yang dipasang di tepi-tepi jalan, masjid dan tempat-tempat umum yang berisi pesan duka Asyura, termasuk mencat mobil-mobil mereka dengan tulisan Husain, Zainab, Ali Asghar, Aba al-Fadhl Al Abbas dan nama tokoh-tokoh lainnya dalam peristiwa Karbala.Secara resmi, warga Iran memperingati peristiwa Asyura selama sepuluh hari berturut-turut, dari tanggal 1 sampai 10 Muharram.

Hari kesembilan dan hari kesepuluh dijadikan hari libur nasional. Selama kesepuluh hari tersebut, setiap sehabis shalat Isya berjama’ah, diadakan majelis-majelis duka. Ratusan warga berbondong-bondong memadati masjid-masjid dan Husainiyah tempat diadakannya majelis-majelis duka tersebut. Acara dibuka dengan tilawah Alquran dan  dilanjutkan dengan ceramah agama yang berisi pesan dan hikmah dari kisah-kisah kepahlawanan Imam Husain as beserta keluarga dan sahabatnya di padang Karbala. Disaat Khatib menyampaikan ceramahnya, tidak jarang terdengar suara isak tangis dari para jama’ah. Peristiwa kematian Imam Husain as meski sudah berlalu hampir 1400 tahun lalu, namun bagi mereka tampak seolah-olah baru terjadi kemarin sore. Setelah mendengarkan ceramah, lampu-lampu dipadamkan, dan hanya menyisakan sedikit cahaya.

Dalam suasana nyaris gelap itu, seseorang tampil untuk membacakan maqtal atau syair-syair duka. Pada prosesi ini, para jama’ah dilibatkan. Kesemuanya berdiri dan mengiringi kidung duka yang dinyanyikan sembari menepuk-nepuk dada. Suasana haru semakin menyeruak setiap disebutkan nama al Husain.

Diakhir acara, panitia akan membagikan kotak makanan dan disantap bersama. Majelis ini berlangsung selama sepuluh malam berturut-turut. Dalam majelis ini tidak adegan melukai diri, tidak ada aksi memukul badan dengan benda tajam hingga berdarah-darah. Ulama-ulama Iran memberikan fatwa akan keharaman melukai diri apalagi sampai berdarah-darah dalam memperingati hari Asyura. Fatwa itupun menjadi hukum postif bagi kepolisian Iran untuk membubarkan dan menangkapi mereka yang melakukan aksi melukai diri dalam majelis Husaini.

Sayang, karena perbuatan segelintir Syiah di Irak, Afghanistan dan Pakistan yang masih juga memperingati Asyura dengan tradisi melukai diri, Syiah pun diidentikkan dengan perbuatan irasional tersebut. Patut diketahui, kalau memang melukai diri dianggap ibadah yang afdhal dilakukan pada peringatan Asyura, maka yang paling pertama melakukannya adalah ulama-ulama dan kaum terpelajar dari kalangan Syiah, dan itu harusnya bermula dari Iran, sebagai sentral keilmuan penganut Syiah. Faktanya, tidak satupun ulama Syiah yang melakukannya, yang ada justru memfatwakan keharamannya. Dan kalau memang itu sudah menjadi bagian dari tradisi Syiah, maka tentu jumlah orang-orang Syiah yang melakukannya jauh lebih banyak dari yang tidak. Faktanya, yang melakukannya tidak seberapa, dan itu hanya ada diluar Iran, tidak di Iran.

Mengenang Ali Asghar

Pada hari Jum’at pagi, dari kesepuluh hari awal Muharram itu, diperingati secara khusus kesyahidan Ali Asghar, putra Imam Husain as yang masih berusia beberapa bulan namun turut menjadi korban kebengisan tentara-tentara Yazid. Dikisahkan, bayi Imam Husain As tersebut dalam kondisi kehausan, sebab sumber mata air berada dalam penguasaan tentara Yazid dan tidak mengizinkan kafilah Imam Husain untuk mengambil airnya barang setetes pun. Kasihan dengan bayinya yang merengek kehausan, Imam Husain as pun memeluk dan menggedongnya.

Beliau menghadap pasukan Yazid untuk diizinkan mengambil air, setidaknya untuk menghilangkan dahaga bayinya tersebut, sembari memperlihatkan kondisi Ali Asghar yang dicekik kehausan. Bukannya iba, seorang tentara Yazid malah melezatkan anak panah yang tepat mengenai leher bayi Imam Husain As tersebut, yang kemudian mati seketika dipelukan ayahnya. Kejadian tragis ini secara khusus diperingati pada hari Jum’at pertama bulan Muharram.

Ribuan ibu dengan bayi-bayinya yang berkostum pakaian Arab paduan warna hijau dan putih lengkap dengan surban dan ikat kepala yang bertuliskan Ali Asghar, memadati masjid-masjid dan tanah-tanah lapang. Ditempat itu mereka mendengarkan ceramah khusus mengenai kisah kesyahidan Ali Asghar dan betapa pedihnya hati Imam Husain As melihat kematian bayinya yang tragis di pelukan sendiri, justru oleh mereka yang mengaku sebagai muslim dan pengikut Nabi Muhammad saw.

Suasana haru dan emosional tidak terhindarkan ketika kisah yang menyayat hati itu kembali disuguhkan. Ibu-ibu tersebut menangis sambil mendekap bayi mereka masing-masing sembari membayangkan kesedihan dan kepiluan hati Imam Husain melihat bayinya tergeletak tanpa nyawa. Dalam acara ini tidak ada adegan orangtua mengiris bayinya dengan pedang hingga berdarah, hanya sekedar untuk merasakan kepedihan Imam Husain. Foto yang beredar di media sosial yang menggambarkan kepala seorang anak yang berdarah-darah karena dilukai oleh orangtuanya sendiri, kejadiannya bukan di Iran. Itu adalah kelakuan orang-orang yang ekstrim yang justru mendapat kecaman dari ulama Syiah sendiri, yang tidak bisa menjadi representatif semua Syiah pasti melakukan itu.  

Pada hari kesembilan Muharram -yang dikenal juga dengan sebutan Tasu’a Husaini- dan pada hari kesepuluh –dikenal dengan sebutan hari Asyura- karena menjadi hari libur nasional, jalan-jalan raya dipadati oleh ribuan warga dengan pakaian serba hitam yang berjalan kaki. Disepanjang jalan, terdapat posko-posko yang menyediakan minuman panas dan makanan ringan secara gratis. Satu-dua jam menjelang shalat dhuhur masjid-masjid dan juga kantor-kantor resmi ulama-ulama Marja dipadati lautan manusia. Ditempat-tempat itu mereka berkumpul untuk menumpahkan rasa haru dan kesedihan yang sama. Suara isak tangis yang tak tertahan terdengar dimana-mana disaat khatib menyampaikan detik demi detik proses terbantainya Imam Husain As di Karbala. Bagaimana saat dadanya yang telah penuh dengan sayatan pedang ditindih dan kemudian kepalanya dengan tebasan pedang dipisahkan dari tubuhnya.

Tangisan mereka dengan tragedi memilukan yang menimpa cucu Nabi Muhammad saw tersebut bukan untuk menyesal atas apa yg telah terjadi melainkan upaya merawat dan menjaga ingatan dan kenangan atas perjuangan dan pengorbanan keluarga Nabi dalam menjaga eksistensi agama ini.

Bangsa kita juga punya tradisi yg sama dalam mengenang pengorbanan para pahlawan bangsa? ada upacara bendera, ada hening cipta, ada ziarah kemakam pahlawan, ada pembuatan film perang melawan penjajah, ada pementasan drama, ada pembacaan puisi dan seterusnya. Yang tentu tujuannya bukan untuk mengorek luka sejarah, bukan pula untuk menyimpan dendam, melainkan untuk menghidupkan semangat kepahlawanan, patriotisme dan pengorbanan para pejuang terdahulu supaya generasi sekarang juga punya semangat yang sama. Begitu juga dengan yang diadakan rakyat Iran pada peringatan Asyura. Pawai yang diadakan tidak ubahnya pawai-pawai yang diadakan banyak negara-negara lain saat memperingati hari-hari yang dianggap penting. Ada rombongan drum band, pembawa bendera dan arak-arakan yang menjadi tontonan masyarakat banyak, termasuk wisatawan asing.  

Bagi rakyat Iran, tangisan mengenang al Husain pada peringatan Asyura bukanlah tangisan cengeng. Melainkan tangisan yang justru membakar semangat perlawanan terhadap penindasan dan kesewenang-wenangan sebagaimana yang diwariskan Imam Husain as melalui tragedi Karbala. Rakyat Iran menyodorkan bukti, bahwa bermula dari tangisan itulah, revolusi besar yang mengubah takdir Iran dengan menjungkalkan rezim Shah Pahlevi telah mereka rancang dan ledakkan. Imperium Persia yang berusia 2.500 tahun beralih menjadi Republik Islam, dimulai dari tangisan mengenang al Husain. Dikarenakan peringatan Asyura membawa kabar buruk bagi penguasa zalim dan mereka yang menindas rakyat secara sewenang-wenang, karenanya penguasa-penguasa zalim itu sepanjang sejarah merasa perlu memberikan citra buruk pada peringatan Asyura untuk dihindari dan dijauhi.

Liputan: IPI Iran

Selamat Jalan Bapak Demokrasi

Selamat Jalan Bapak Demokrasi

“Menjadi presiden, bukan segalanya bagi saya, tetapi yang penting apa yang terbaik bagi bangsa ini”

(Habibie dalam memoarnya, Detik-Detik yang Menentukan)

Menurut pengakuannya sendiri, Habibie tidak pernah berambisi untuk menduduki puncak tertinggi kekuasaan di Republik Indonesia, ia menjabat presiden melalui proses dramatis karena saat Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden RI, ia selaku wakil presiden. Sebagai presiden itupun dijalaninya hanya 1 tahun 5 bulan, menjadikan periode kepresidenannya tersingkat dari 7 presiden yang diakui di Indonesia. Ia mewariskan kondisi pemerintahan yang diistilahkannya layaknya pesawat yang mengalami super stall. Yaitu kondisi pesawat yang daya angkatnya sudah tidak ada dan menjelang jatuh. 

Gagalnya kepemimpinan politik serta jenuhnya rakyat atas parahnya perilaku tak terpuji yang melumuri pemerintahan Orde Baru dalam kurun begitu lama berkuasa memicu lahirnya gerakan reformasi. Krisis moneter yang memicu kurs rupiah anjlok, banyak perusahaan yang gulung tikar memicu PHK dimana-mana dan dalam kondisi sedemikian kritis Habibie dituntut mengambil alih kendali dan menyelamatkan pesawat. 

Awal tahun 1998 Indonesia mengalami super stall dalam semua bidang, baik politik, ekonomi bahkan kepercayaan rakyat. Dalam upayanya memperbaiki keadaan pada situasi yang krusial, Habibie diserang tudingan tetap akan mempertahankan kekuasaan Orde Baru secara ia menjabat 20 tahun sebagai menteri di kabinet Soeharto. Ia tidak menggubris segala nyinyiran dan semua penilaian yang merendahkan dirinya. Meski pakar dalam pembuatan pesawat, ia diragukan bisa memperbaiki ekonomi yang sedang kolaps. Ia berkata, tidak ada waktu untuk menjawab semua nyinyiran dan upaya yang meremehkan perannya. Ia harus segera mengambil langkah tepat dalam detik-detik yang menentukan. Jika sampai September 1998 tidak terjadi perubahan signifikan, Indonesia akan mengalami balkanisasi, terpecah menjadi negara-negara kecil, ujarnya. 

Namun dari semua kebijakan dan langkah-langkah yang diambilnya, pada dasarnya ia telah berhasil menyelamatkan negara dari super stall. Hanya sehari pasca dilantik menjadi presiden, segera ia membentuk kabinet reformasi yang mencerminkan semua unsur kekuatan bangsa. Dalam berbagai pidato politiknya, ia menegaskan akan membasmi korupsi, kolusi dan nepotisme yang menggejala selamat pemerintahan orde baru. Ia memisahkan Bank Indonesia (BI) dari pemerintahan, dengan maksud agar BI bisa mengambil kebijakan logis tanpa intervensi politik. Dengan pemisahan tersebut, BI menjadi lembaga independen dan mendapatkan lagi kepercayaan. Akibatnya, meski sempat ada di jurang Rp 16.800 per dollar AS, nilai tukar rupiah secara perlahan merangkak naik hingga mampu menguat di angka Rp 6.500 per dollar AS. 

Kebijakan lainnya yang membuat tudingan kepadanya sebagai perpanjangan Orba tidak tepat adalah membebaskan semua tahahan politik, memberi kebebasan pers dan membuka kran demokrasi seluas-luasnya. Ia membentuk Komisi Pemilihan Umum dan memberi kebebasan kepada siapapun untuk membentuk partai politik selama masih sesuai asas Pancasila dan UUD 1945. Lebih dari itu, ia membubarkan keluarga besar Golkar dan menghapus kewajiban bagi PNS untuk memilih Golkar. Dengan semua kebijakan tersebut, Habibie mempermulus langkah terwujudnya Pemilu 1999 yang diikuti 48 partai politik dan dikenal sebagai pemilu paling demokratis yang pernah dilaksanakan di Indonesia. 

Agar Indonesia tidak lagi terjatuh dalam lubang yang sama yaitu kekuasaan otoriter, Habibie menetapkan aturan pembatasan masa jabatan presiden dan wakil presiden maksimal hanya dua kali periode. Ia juga mencabut Tap MPR No. II/MPR/1978 tentang Pancasila sebagai asas tunggal. 

Meski awalnya diragukan bisa menjalankan agenda reformasi, namun dari 512 hari menjabat sebagai presiden ia telah meletakkan dasar-dasar demokratisasi Indonesia. Karenanya wajar, jika kemudian ia mendapat julukan sebagai Bapak Demokrasi. Meski demikian, semua upaya yang dikerahkan menyelamatkan negara dan demokrasi tersebut tetap dianggap tidak bernilai apa-apa oleh orang-orang terhormat di MPR. Ketua MPR Amien Rais, menyatakan tidak menerima laporan pertanggungjawaban Habibie dalam Sidang Istimewa tanggal 14 Oktober 1999. Kebijakannya memberi referendum pada rakyat Timor Timur yang berakhir dengan terpisahnya provinsi termuda tersebut dari NKRI menjadi senjata pamungkas pihak oposisi untuk mengerdilkan keberhasilannya mampu membuat republik keluar dari keterpurukan ekonomi pasca lengsernya Soeharto. 

Pasca meletakkan jabatan sebagai Presiden, ia menepi dari hingar bingarnya dunia politik. Semua cemohan dan hinaan yang menerpanya tidak membuatnya kehilangan kecintaan pada negaranya. Cemohan yang ditujukan padanya dia nilai sebagai bagian dari demokrasi yang dia bangun. Menurutnya wajar jika rakyat mengalami efouria kebebasan setelah puluhan tahun dibelenggu dan dibungkam oleh popor senapan. Namun Habibie tidak benar-benar menyingkir, sebab ia tetap menjalankan perannya sebagai negarawan dan guru bangsa. Perannya sebagai Bapak Demokrasi tetap ia lanjutkan melalui yayasan The Habibie Center yang didirikannya. Melalui yayasan tersebut, ia berupaya memajukan modernisasi dan demokratisasi di Indonesia yang didasarkan pada moralitas, integritas budaya dan nilai-nilai agama.

Sebagai negarawan, Habibie hadir sebagai sosok pemimpin yang tidak punya ambisi untuk melanggengkan kekuasaan atau untuk kembali merebut pengaruh untuk berkuasa. Ia memberikan cinta yang tulus pada negerinya, melalui pengabdian yang tiada henti. Ia tidak memendam dendam pada musuh-musuh politiknya. Maut memang bisa membuat raganya tidak lagi mengabdi buat Indonesia, namun ide dan pemikiran-pemikirannya yang mencerahkan demokratisasi Indoneia akan terus hidup. 

Selamat jalan Bapak Demokrasi. 

Ismail Amin 

(Presiden IPI Iran 2019-2021)