Pemenang Lomba Artikel Kemerdekaan RI ke 74 oleh IPI Iran

Pemenang Lomba Artikel Kemerdekaan RI ke 74 oleh IPI Iran

Turut memeriahkan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74, Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021 telah menyelenggarakan lomba artikel kemerdekaan yang bertema “PERAN PEMUDA DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN MENUJU INDONESIA UNGGUL”

Lomba yang diikuti sejumlah pelajar Indonesia di Iran tersebut memperebutkan tiga titel juara serta hadiah menarik dari penyelenggara. Setelah mendapatkan penilaian dari Tim Juri yaitu Atase Pertahanan KBRI Tehran Bpk. Kol. Mar. Harwin Dicky Wijanarko, SE dan Afifah Ahmad, jurnalis dan penulis buku diumumkan empat artikel terbaik yang masing-masing mendapatkan apresiasi sebagai terbaik pertama, kedua dan ketiga.

Penyerahan sertifikat dan hadiah kepada para pemenang dilakukan oleh Kepala Duta Besar KBRI Tehran Bapak Octavino Alimuddin, Atas Pertahanan KBRI Tehran, Kol. Mar. Harwin Dicky Wijanarko, Presiden IPI Iran 2019-2021 yang diwakili oleh saudara Rahman Dahlan dan Kepala Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran Saudari Salsabila Urrachman.

Berikut daftar pemenang Lomba Artikel Kemerdekaan RI 74 IPI Iran 2019-2021:

Juara 1 : Aisyah Habrul Ilma Alfatin dengan judul Perempuan Cikal Bakal Lahirnya Revolusioner

Juara 2 : Haryati dengan judul Perempuan dan Tugasnya dalam Pembangunan Negeri

Juara 3 : Sutiawan dengan judul Urgensi Kecerdasan Pemuda Dalam Membangun Bangsa

dan Hendar Yusuf dengan judul Pola Pandang Alquran tentang Peran Pemuda dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Selamat kepada para pemenang!!!

Terima kasih kepada Bpk. Kol. Mar. Harwin Dicky Wijanarko, SE dan Afifah Ahmad (perwakilan) yang telah meluangkan waktunya untuk menjadi juri dalam lomba artikel kali ini, senang bekerja sama dengan anda sekalian. Sampai bertemu lagi di lomba-lomba selanjutnya
Mempersembahkan Sembelihan di Hari Idul Qurban

Mempersembahkan Sembelihan di Hari Idul Qurban

Makna Idul Qurban

Idul Qurban berasal dari dua kata dalam bahasa Arab, Ied dan Qurban. “Ied” dari kata ‘aada – ya’uudu, bermakna ‘kembali’. Qurban, dari kata qaraba-yaqrabu, bermakna ‘mendekat’. ‘Qarib’ adalah ‘dekat’, dan ‘Al-Muqarrabuun’ adalah ‘(hamba) yang didekatkan’. Idul Qurban kemudian bisa kita maknai sebagai sebuah hari dimana kita berupaya kembali pada hakikat kemanusiaan kita yang mendambakan dekat dengan yang Maha Rahim. Banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mendekat kepada-Nya (taqarrub Ilallah), Jalaluddin Rumi menyebut, sebanyak helaan nafas manusia. Allah SWT pun memberi motivasi, “Wahai orang-orang yang beriman ! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung” (Qs. Al-Maidah : 35).

Salah satu cara hamba untuk lebih mendekat kepada-Nya adalah dengan menginfakkan harta, termasuk berqurban, “Ketahuilah, sesungguhnya infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah).” (Qs. At-Taubah : 99).

Tentu saja yang kita qurbankan adalah sesuatu yang kita cintai, sesuatu yang sebenarnya sangat berat untuk kita lepaskan. Sebab belumlah disebut berqurban jika yang kita keluarkan adalah sesuatu yang membuat kita tidak merasa kehilangan apa-apa, sesuatu yang ringan hati kita keluarkan. “Kamu sekali-kali tidak akan sampai pada kebajikan (Al-Birr), sebelum kamu menginfakkan (tunfiquu) bagian (harta) yang kamu cintai (mimma tuhibbuun). Dan apa saja yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali-Imran : 92). Artinya, seseorang yang misalnya bergaji sampai 60 juta per bulannya, dengan mengeluarkan dana sejuta untuk menyembelih kambing di hari ini, apakah bisa dianggap berqurban ? apakah itu sudah sampai pada tingkat ‘menginfakkan bagian harta yang dicintai’ ? apakah jiwa merasakan adanya rasa berqurban dibanding banyaknya sisa harta yang dimiliki ? sebagaimana ayat di atas, bisakah itu mencapai derajat al-Birr ?. Bisa kita bayangkan, bagaimana rasa taqarrub nabi Ibrahim as yang bersedia mengurbankan anak kesayangannya di altar persembahan atau sebagaimana Imam Ali as dan keluarganya yang memberikan makanan yang disukainya sehingga surah Al-Insan turun untuk menceritakan keutamaan mereka. Atau justru kaum paganisme  yang menyembelih yang tercantik di antara gadis-gadis mereka untuk bertaqarrub kepada tuhan-tuhan mereka.

Tentu kita butuh refleksi diri. Setiap tahun tidak sedikit dari kita yang menyisihkan dana untuk merayakan hari ini dengan penyembelihan hewan qurban. Namun adakah transformasi jiwa yang terjadi ?. Adakah saudara-saudara kita itu merasa lebih dekat kepada Allah yang Maha Besar ?. Ketika kedekatan dengan Allah tidak bertambah, jiwa tidak menjadi semakin halus dan lembut, jasad tidak semakin beramal shalih, pikiran tidak semakin cemerlang dan bijaksana tentu ada yang salah dari ritual pengorbanan mereka. Padahal sebenarnya lewat hari ini mereka dapat menemukan bukan saja amal terbaik, tetapi didekatkan oleh Allah sedekat-dekatnya sampai mencapai derajat ‘Al-Muqarrabuun’.

“Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (Qs. Al-Hajj : 37). Hewan ternak yang saudara-saudara qurbankan hari ini sesungguhnya, bukan dagingnya, bukan darahnya, bukan tulang belulangnya, bukan harganya melainkan ketaqwaanlah yang bisa mencapai-Nya. Semoga kita bisa berqurban dan berinfaq sampai pada titik kita benar-benar berat melakukannya, sebab adanya rasa cinta yang sangat pada yang kita qurbankanlah yang  bisa mendekatkan kita pada-Nya.

Idul Adha, Memaknai Penyembelihan

Nama lain Idul Qurban, adalah Idul Adha. Adha memiliki makna penyembelihan. Harus ada yang kita sembelih pada hari ini. Bukan persoalan apa kita memiliki harta atau tidak untuk menyembelih. Kita yang termasuk belum memiliki kemampuan untuk menyembelih hewan qurban, sesungguhnya telah diberi kemampuan untuk melakukan prosesi penyembelihan lain, menyembelih ‘kambing’, ’sapi’, maupun ‘hewan ternak’ lain yang berjubelan dan beranak pinak dalam diri kita. Hewan ternak sesungguhnya tamsil dari dominasi hawa nafsu dan syahwat kita. Tamsil segala kesesatan dan keburukan; kebodohan, kedengkian, ketakaburan, buruk sangka, kemalasan, kecintaan pada hal-hal material dan aspek lainnya yang harus kita sembelih dari diri kita. Allah SWT menyebut orang-orang yang buta hati, akal dan pikirannya lebih sesat dari hewan ternak. Pendidikan dan pergaulan yang salah bisa jadi telah merubah kita yang manusia menjadi hewan-hewan ternak tanpa sadar.

Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi-ye Ma’nawi menafsirkan empat ekor burung yang disembelih dan dicincang oleh nabi Ibrahim as dalam surah Al-Baqarah ayat 260 sebagai empat ekor unggas yang ada dalam diri kita. Keempat ekor unggas itu adalah bebek yang mencerminkan kerakusan, ayam jantan yang melambangkan nafsu, merak yang menggambarkan kesombongan dan gagak yang melukiskan keinginan. Dan menurut Rumi kita hanya bisa kembali hidup sebagaimana manusia ketika kita berani menyembelih keempat unggas ini, sebagaimana Ibrahim as mencincangnya. Di antara keempat unggas ini, bebeklah yang paling mewakili karakter kebanyakan kita. Tentang bebek Rumi bercerita :

Bebek itu kerakusan, karena paruhnya selalu di tanah                                                                       

Mengeruk apa saja yang terbenam, basah atau kering

Tenggorokannya tak pernah santai, sesaatpun                                                                     

Ia tak mendengar firman Tuhan, selain makan minumlah!

Seperti penjarah yang merangsek rumah-rumah

Dan memenuhi kantongnya dengan cepat                                                                          

Ia masukkan ke dalam kantongnya baik dan buruk                                                     

Permata atau kacang tiada beda                                                                                      

Ia jejalkan ke kantong basah dan kering                                                                             

Kuatir pesaing akan merebutnya                                                                                        

Waktu mendesak, kesempatan sempit, 

Ia ketakutan…..              

dengan segera di bawah tangannya                                                                            

Ia tumpukkan apapun….

Better late than never. Sudah waktunya sekarang, tidak harus selalu menunggu hari seperti ini untuk melakukan penyembelihan. Bermula hari ini, kita persembahkan diri kita yang telah tersembelih dari sifat-sifat yang sepantasnya hanya dimiliki hewan ternak kepada Allah Dzat yang Maha Suci, yang cinta kepada mereka yang senantiasa menyucikan dan menyembelih dirinya.

Idul Adha, Memaknai Kembali

 “Dan sekalipun telah Kami perintahkan kepada mereka, “Bunuhlah dirimu atau keluarlah dari kampung halamanmu,” ternyata mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka.” (Qs. An-Nisa : 66). Sudah waktunya pula kita belajar untuk ‘keluar dari kampung’ kita : belajar untuk keluar dari zona nyaman dan memerdekakan diri dari dominasi nafsu jasadiyah menuju jiwa kita yang sejati. Masih ada dunia lain di luar ‘kampung’ kita ini, yang bisa jadi selama ini kita anggap berbahaya. Juga harus ada upaya untuk keluar dari keegoisan diri kita dan belajar memahami orang lain. Memahami mereka yang selama ini kita kutuk karena berbeda.             

Dalam surah An-Nisa’ ayat 100 Allah SWT berfirman, “Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dalam syarah 40 hadits Imam Khomeini ra menafsirkan rumah pada ayat ini adalah ego kita. Ya, rumah yang paling berat kita tinggalkan adalah kepentingan-kepentingan keakuan kita. Setiap hari kita sibuk, kecapaian dan kelelahan hanya untuk mempromosikan citra kita dihadapan manusia, hanya untuk memenuhi kepentingan diri kita. Kita masih berputar-putar di area rumah dan kampung kita, tanpa selangkahpun keluar. Rumah dan kampung telah menjadi zona nyaman yang sayang untuk kita tinggalkan, sebab melangkah keluar selalu membutuhkan pengorbanan, butuh kepayahan dan keletihan. Dalam surah Ali Imran Allah SWT berfirman, “Segeralah kamu pada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasanya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang taqwa, yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya dalam suka dan duka, orang yang sanggup mengendalikan amarahnya, yang memaafkan orang lain dan sesungguhnya Allah suka dengan orang yang berbuat baik.” Bersegera menuju Allah SWT berarti melangkah menjauh dari rumah keakuan kita, meninggalkan kampung ego kita, kembali keharibaan-Nya yang penuh kasih. Kembali kepada-Nya tidaklah selalu berarti mati dan meninggalkan dunia ini. Rasulullah saww bersabda, “Mutu qabla antamutu, matilah sebelum kamu mati.” (Bihar Al-Anwar 66:317). Kematian pada kata perintah mutu adalah kematian mistikal, kematian ego atau kematian diri. Ibnu Arabi menyebutnya al mawt al-iradiy, kematian keinginan.

Adalah benar, bahwa kita adalah makhluk organis –begitu kata A.N. Whitehead– yang bebas menentukan hidup. Kita bebas menentukan atau merancang jenis hidup apa yang kita inginkan. Kita bebas untuk memilih, hidup sebagai manusia atau berkubang seperti hewan ternak. Tetap berleha-leha di dalam rumah dan kampung yang bukan negeri kita sebenarnya, atau berhijrah kembali menuju-Nya.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (Qs. Al-Fajr : 27-28)

Wallahu ‘alam bishshawwab

Selamat Idul Adha 1440 H.

Ismail Amin

Presiden IPI Iran 2019-2020

IPI Iran Meriahkan Acara Lomba Peringatan Kemerdekaan di Mellat Park Tehran

IPI Iran Meriahkan Acara Lomba Peringatan Kemerdekaan di Mellat Park Tehran

Bertempat di Mellat Park, sebuah taman kota di Tehran utara, KBRI Tehran bersama dengan pelajar dan diaspora Indonesia menggelar acara perlombaan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, Kamis (8/8). Duta Besar Indonesia untuk Iran Octavino Alimuddin dalam sambutannya mengawali rangkaian lomba mengatakan, momentum peringatan kemerdekaan RI adalah momen yang sangat spesial untuk dijadikan ajang buat memperat persaudaraan dan semangat kebangsaan. Ia berkata, “Dengan tersebarnya kita di banyak titik di Iran serta kesibukan dengan aktivitas masing-masing membuat kita tidak selalu bisa berkumpul bersama. Momen memperingati hari kemerdekaan ini, adalah momen yang sangat kita nanti untuk kita bisa bersilaturahmi dan berbagi keceriaan bersama.”

“Rangkaian lomba yang akan kita adakan ini juga adalah dalam rangka kesyukuran kita kepada Allah swt atas nikmat kemerdekaan yang kita rasakan dan sangat perlu kita jaga dengan mengawalinya dengan menjaga persatuan kita sebagai anak bangsa. Karenanya terimakasih kepada semua yang hadir, yang datang dari berbagai kota meski jaraknya tidak dekat untuk ikut memeriahkan acara yang kita adakan hari ini.” Tambahnya dihadapan puluhan orang yang hadir.

Seusai menyampaikan sambutan, Dubes Octavino secara resmi melepas peserta jalan sehat sebagai agenda pertama dari rangkaian lomba yang diadakan yang berjalan mengelilingi taman yang berada di kaki pegunungan Alborz tersebut. Senam dan jalan sehat berjalan lancar dibawah komando Atase Pertahanan KBRI Tehran, Kol. Harwin Dicky Wijanarko. Seusai sarapan, acara lomba yang terdiri dari kategori, dewasa dan anak-anak dimulai pukul 9.00. Diantara jenis lomba kategori anak-anak yang dipandu oleh Biogen Akbar adalah lomba memasukkan pensil ke dalam botol, lomba lari memasukkan bendera, music mat, memindahkan bola pingpong dan memindahkan karet dengan sedotan. Sementara jenis lomba kategori dewasa yang dipandu Ridwan Satriawan adalah balap karung, lomba bakiak, kereta balon dan lomba memindahkan pingpong. 

Teriakan penonton memberi semangat kepada peserta lomba termasuk tawa atas aksi lucu atau peserta yang melakukan kesalahan membuat acara lomba penuh keceriaan, termasuk ketika terjadi insiden celana melorot salah seorang peserta lomba lari karung. Dubes Octavino bersama dengan pejabat KBRI lainnya tidak terkecuali untuk ikut juga sebagai peserta lomba dan mengundang gelak tawa ketika melakukan kesalahan dalam lomba. 

Acara yang berlangsung 4 jam dan  berakhir pukul 13.00 siang tersebut ditutup makan siang bersama dengan menu ketoprak dan nasi campur. Rangkaian lomba masih terus berlanjut di hari Jumat (9/8) dan pada tanggal 17 Agustus 2019 seusai upacara peringatan kemerdekaan. Jenis lomba yang akan diperlombakan diantara lain tenis meja dan tarik tambang untuk kategori dewasa, lomba lari kelereng dan lomba makan krupuk untuk kategori anak-anak. 

Acara lomba dihadiri kurang lebih seratus orang yang datang dari berbagai kota, diantaranya dari Syiraz, Kish, Masyhad, Kerman, Qom, Ghorghan dan Tehran sendiri. Sejumlah pengurus dan anggota IPI Iran juga turut meramaikan acara yang diadakan KBRI Tehran tersebut. 

Berikut diantara foto-foto acara lomba dalam rangka memperingati kemerdekaan RI ke-74 yang penuh keseruan dan kegembiraan:

Credit photo by Tety Mudrika Hayati
Credit photo by Tety Mudrika Hayati
Credit photo by Tety Mudrika Hayati
Credit photo by Tety Mudrika Hayati
Credit photo by Tety Mudrika Hayati