Diskursus mengenai perempuan apakah manusia atau bukan telah tuntas, dengan kesimpulan perempuan sama halnya laki-laki adalah juga golongan manusia. Di masa lalu, perempuan memang terakui sebagai bagian dari umat manusia, hanya saja dipandang tidak sesempurna kaum laki-laki. Aristoteles mewakili filsuf Yunani bahkan berpendapat, perempuan tidak sepenuhnya manusia. Kaum Gereja abad pertengahan juga tidak lebih baik dalam memandang perempuan, dengan doktrin agama diyakini, perempuan adalah perangkap setan. Hawa (perempuan  pertama), dianggap sebagai penyebab jatuhnya manusia pertama dari surga dan dosa pertama manusia dipercaya diawali oleh perempuan. 

Kedatangan Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw dipercaya telah mengangkat harkat dan martabat perempuan pada posisi dan kedudukan yang sesungguhnya. Melalui ayat-ayat suci Alquran dijelaskan, kedudukan perempuan tidak ada bedanya dengan laki-laki, yang membedakan derajat dan tingkatan keduanya di sisi Tuhan adalah ketakwaannya. 

Beberapa ayat dalam kitab suci Alquran, digunakan dalam menjelaskan persamaan perempuan dan laki-laki dalam kedudukan manusia dan dapat diuraikan sebagai berikut :

Persamaan perempuan dan laki-laki dalam pencapaian kebahagiaan

Keistimewaan-keistimewaan penting manusia adalah pemahaman secara universal, kekuatan berargumentasi, pemamahan yang kuat dalam mengenal antara baik dan buruk, penerimaan tanggungjawab dan kemampuan yang sempurna. Dalam Alquran, ada ayat-ayat persamaan laki-laki dan perempuan dalam berbagai kewajiban, tanggungjawab dalam amal, kesamaan dalam pahala dan azab dalam amal perbuatan, persamaan mereka dalam hal ini, pahaman Ushuluddin, persamaan mereka dalam jalur akal perbuatan, kekhususan unsur-unsur aslinya seperti ikhtiar, pemahaman baik dan buruk dan kecendrungan menuju sisi baik dan buruk, dan memiliki petunjuk yang sama untuk sampai pada kekehidupan yang baik. 

Begitu juga dijelaskan bahwa perempuan seperti laki-laki dalam proses pertumbuhan dan dalam pencapaian kemajuan. Semua hal tentang ini, adalah kelebihan manusia tanpa memandang perbedaan jenis kelamin.

Allah swt dalam Alquranul Karim berfirman:

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar dihadapan dan disebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): ”Pada hari ini ada berita gembira untukmu. Yaitu surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal didalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”. (Qs. Al-Hadid: 12)

Dari ayat di atas terang dan sangat gamblang dijelaskan bahwa kaum mukmin dari kalangan laki-laki dan perempuan punya potensi yang sama untuk mencapai kebahagiaan yang kekal dan abadi di surga. Islam melalui penjelasan Alquran tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan dalam pencapaian kebahagiaan. Kebahagiaan yang bisa dipereloh laki-laki juga sangat bisa untuk dicapai oleh perempuan. 

Penciptaan perempuan dan laki-laki dari hakikat yang satu (jiwa)

Tentang pembahasan “dari diri yang satu” Nabi Adam as dan ayat yang menjelaskan bahwa pasangannya juga diciptakan berasal dari “diri yang satu itu” juga, sebagaimana disebutkan dalam ayat surah An-Nisa ayat 1:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ 

الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.”

Ayat ini,  menjelaskan sumber penciptaan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Dan penjelasannya sebagai berikut : 

Maksud dari dari nafs (jiwa) disini tidak lain dari segala sesuatu itu dan nafs (jiwa) adalah sesuatu dimana manusia dengan itu menjadi manusia. Artinya; di alam dunia ada ikatan “ruh dan jasmani” sedangkan ruh dengan sendirinya berada dalam alam barzakh. Tentang “nafs wahidah (jiwa yang satu)” juga hakikat yang satu yakni sumber penciptaan semua manusia adalah satu hakikat. Dan dalam hal ini, tidak ada perbedaan sama sekali antara laki-laki dan perempuan. 

Dalam pembahasan kedua,  dalam ayat ini berfirman : “خلق منها زوجها” para ahli tafsir dalam pembahasan ayat ini, berhubungan dengan penciptaan Hawa dan dengan memperhatikan dua kemungkinan dalam memaknai “من” juga dalam surah Ar Rum ayat 21 dijelaskan “Sebagian”, “jenis”, dan ayat ini juga ditafsirkan : dan Tuhan menciptakan pasangan Adam as dari jenis Adam as itu sendiri. Oleh karena itu, kesimpulan dari ayat ini: “Adam dan Hawa adalah simbol jenis muzakkar (laki-laki) dan muannats (perempuan). Dalam keistimewaan manusia dan bahan pembentukan unsur-unsur mereka adalah sama. Dengan penafsiran ini, maka  sebagaimana yang selama ini diyakini bahwa penciptaan perempuan berasal dari bagian tubuh laki-laki, tidak tepat. 

Dalam Surah Ar-Rum ayat 21 juga mempertegas pandangan tersebut. Disebutkan:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan diantara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar cenderung dan merasa tentram dengannya.” 

Berdasarkan ayat Alquran ini, pasangan manusia diciptakan berasal dari satu jenis. Para ahli tafsir menjelaskan tentang ayat ini dan ayat yang sama bahwa kemungkinan memiliki dua makna dari kata “من” yang maknanya bahwa diciptakan pasangan dari sebagian bagian tubuh laki-laki. Sehingga dari penafsiran ini muncullah pandangan bahwa kedudukan laki-laki lebih tinggi dari kaum perempuan, sebab asal mula penciptaan perempuan dari anggota tubuh laki-laki (sebutlah dari tulang rusuk laki-laki sebagaimana keyakinan yang banyak berkembang berdasarkan hadis Israiliyat).  Kelompok kedua menjelaskan bahwa “من” diartikan sebagai jenis dan ayat juga diterjemahkan sebagai berikut “dan diantara tanda-tanda kekuasaanya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari ‘jenis’mu sendiri” (baca lebih lengkap dalam Tafsir mizan jilid 4 hal 136). Maksudnya dari jenismu sendiri adalah, bahan baku penciptaan laki-laki dan perempuan dari jenis yang sama, sehingga dengan berasal dari bahan yang sama, laki-laki dan perempuan bisa saling menyukai dan saling merasa tentram satu sama lain.

Pendapat kedua dari kata  “من” dijelaskan untuk jenis, sebagaimana juga yang terdapat dalam surah At-Taubah ayat 128:

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ

Yang diterjemahkan:

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri”

مِّنْ أَنفُسِكُمْ pada ayat di atas diterjemahkan dari kaummu sendiri, yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw yang diutus adalah juga berasal dari jenis yang sama, yaitu manusia. Yang dimaksud “anfusakum” bukanlah bahwa Nabi Muhamamd saw berasal dari bagian tubuh kalian, sebagaimana yang dipahami mayoritas ketika menafsirkan “anfusakum” pada Ar-Rum ayat 21 bahwa perempuan diciptakan dari bagian tubuh laki-laki.

Dari penjelasan ayat-ayat diatas disebutkan, persamaan laki-laki dan perempuan sebagai manusia yang tercipta dari bahan dan jenis yang sama, yaitu dari nafs wahidah (jiwa yang satu). 

Kemudian dari bahan dan jenis yang sama tersebut, ruh ditempatkan dalam wadah yang memiliki sedikit perbedaan yang kemudian dikenal dengan adanya muzakkar (laki-laki) dan muannats (perempuan). 

Dalam surah Al-Qiyamah: 37-39 disebutkan: 

أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةً۬ مِّن مَّنِىٍّ۬ يُمۡنَىٰ  ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً۬ فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ  فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ

“Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan.”

Ayat diatas yang menjelaskan Muzakkar dan muannats, “منی یمنی” artinya kembali kepada pembahasan jasmani.  Setelah itu, ayat yang menjelaskan tentang penciptaan (sesuatu) ruh atau menunjukkan ruh itu berhubungan dengan tubuh. Sehingganya, jika asli manusia adalah kepada hakikat ruh, perempuan dan laki-laki diantara satu sama lain sama, dan setiap keduanya berasal dari satu hakikat, yang membedakannya hanya pada sifat biologis keduanya dikarenakan faktor fisik/jasmani yang memiliki sejumlah perbedaan. 

Adanya kesamaan dalam kekuatan-kekuatan maknawi

Tingkatan paling tinggi dari makna pahaman intuisi adalah pahaman tanpa perantara. Kekuatan instuisi manusia terhadap kesucian perbuatan/amal artinya “kehati-hatian” dan “taqwa”. Manusia mukmin melalui perbuatan yang suci (amal saleh) akan mencapai pada tingkat derajat yang dapat dilakukan tanpa perantara lainnya. 

Dari pemahaman ini, tempat pembentukan pahaman dalam pikiran, sistem-sistem otak, dari terbatasnya kata jasmani, intuisi tidak tersentuh. Sekarang, jika intuisi, pahaman mendalam manusia baik laki-laki maupun perempuan terhadap itu dan melakukan itu adalah semua sama. Sehingga,  perempuan dan laki-laki memiliki potensi yang sama dalam memiliki dan mencapai kekuatan-kekuatan maknawi. 

Dalam Alquran banyak dijelaskan mengenai laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang sama dalam mencapai derajat taqwa, khusyu’, takut, cinta terhadap Tuhan dari hasil amal dan perbutaan mereka tanpa memandang jenis kelamin. Dalil-dalil tentang pembahasan ini diantaranya, adalah: 

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kau saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (Qs. Al-Hujurat: 13)

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surgalah tempat kembalinya.”(Qs. An-Naziat: 40-41)

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu, dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Qs. Ali Imran: 31)

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka…” (Qs. Al-Hadid: 16)

Dari ayat-ayat di atas sangat jelas, bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki maupun perempuan dalam kekuatan-kekuatan spritual. Ketika laki-laki bisa mencapai derajat takwa dan kekhusyukan, maka perempuanpun memiliki peluang yang sama untuk mencapainya, tinggal bergantung pada usaha dan kesungguhan dalam mencapai kedudukan spritual dan maknawi tersebut. 

[Haryati, mahasiswi Jamiah Az-Zahra Qom Republik Islam Iran, anggota Dep. Pengawasan dan Kontrol Internal IPI Iran 2019-2021]

Bahan Bacaan: 

  1. Nezam-e Hoghogh-e Zan dar Islam (Sistem Hak-Hak Perempuan dalam Islam), Morteza Motahhari
  2. Jaighah-e Zan dar Islam (Kedudukan Perempuan dalam Islam), Bint al-Hudah Shadr