Pada hari kedua pelaksanaan Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika 2019 Jumat (22/6), dengan tema “Dari Indonesia untuk Palestina, menuju Perdamaian Dunia”, digelar diskusi panel secara khusus membahas isu terorisme dan radikalisme. Bertempat di Aula Gedung Pusat Bahasa Universitas Jordan di kota Amman Yordania, hadir sebagai panelis Fungsi Politik KBRI Amman Muhammad Zarkasih dan Direktur Yayasan Lingkar Perdamaian Ali Fauzi Manzi.

Dalam pemaparan materinya, Muhammad Zarkasih menjelaskan mengenai defenisi terorisme, radikalisme dan ekstrimisme dan dampak buruknya bagi kemanusiaan. Lebih lanjut, ia menyampaikan rentetan peristiwa teror yang pernah terjadi di tanah air, yang disebutnya bermula dari awal-awal masa kemerdekaan oleh pihak-pihak yang mengubah Pancasila sebagai ideologi negara. Ia juga menjelaskan rangkaian proses yang dialami seseorang sampai memutuskan diri sebagai teroris. “Diantara penyebabnya adalah, adanya pemahaman yang keliru mengenai penafsiran atas ayat-ayat jihad, yang diyakini sebagai perintah untuk membunuh, padahal tidak lantas demikian.” Terangnya.

DIbagian akhir penjelasannya, pejabat KBRI Amman tersebut menyampaikan upaya-upaya dan langkah-langkah taktis yang telah dilakukan pemerintah dalam upaya penanggulangan terorisme dan radikalisme.

Sebagai pembicara kedua, Ali Fauzi Manzi yang mantan kombatan membagikan pengalaman hidupnya yang telah terpapar pemahaman radikalisme sejak usia 18 tahun. Adik kandung terpidana seumur hidup Ali Imron dan terpidana mati Muklas alias Ali Gufron dan Amrozi dalam kasus bom Bali I tersebut menyampaikan pertaubatannya bahwa apa yang dia pahami sebagai Islam yang menjadikannya sebagai teroris adalah sesuatu yang keliru. Sebagai bentuk penyelasan dan memperbaiki kesalahan masa silam, Ali Fauzi Manzi mendirikan yayasan yang secara khusus berupaya merangkul dan mengajak para mantan narapidana terorisme (Napiter) untuk kembali ke pangkuan NKRI.

“Akar terorisme tidak tunggal dan bahkan saling berkaitan, oleh karenanya penanganannya tidak boleh tunggal, harus banyak aspek, perspektif dan metodologi.” Jelas Ali Fauzi Manzi. “Diantaranya adalah secara konsisten melakukan penjaringan dan konsolidasi dengan teroris.” Tambahnya.

Usai penyampaian materi oleh kedua panelis, dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Diantara pertanyaan yang muncul dari peserta, adalah apa upaya pemerintah khususnya kementerian pendidikan menyikapi fenomena tersusupinya pemahaman-pemahaman radikal di lembaga-lembaga pendidikan tinggi, sehingga tidak sedikit yang terpapar paham radikalisme justru mahasiswa dan dosen. Pertanyaan yang lain, bagaimana meredam isu adanya bisnis senjata dibalik bermunculannya kelompok-kelompok yang berpaham ekstrim dan menjadi bagian dari jaringan teroris.

Usai diskusi panel sesi ketiga, mewakili Kepala Duta Besar Indonesia untuk Yordania merangkap Palestina, Nico Adam menyampaikan sambutannya dan secara resmi menutup rangkaian Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika yang berlangsung selama dua hari, dari 20-21 Juni 2019.

Disebutkan, pada hari pertama Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika 2019 yang diselenggarakan oleh HPMI Yordania tersebut membahas isu Palestina dan Kemanusiaan dengan menghadirkan pembicara internasional dan nasional. Simposium yang dibuka oleh Kepala Duta Besar Indonesia untuk Yordania merangkap Palestina, Andy Rachmianto dihadiri seratusan lebih mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa Indonesia di Yordania, delegasi dari sejumlah PPI Negara di kawasan seperti dari IPI Iran, PPI Tunisia, PPI Lebanon, PPI Sudan, PPMI Mesir dan PPMI Arab Saudi, serta delegasi dari perhimpunan mahasiswa Asia Tenggara.

Dibagian akhir Simposium dilkeluarkan Deklarasi Amman 2019 dengan poin-poin sebagai berikut:

1) Menegaskan kembali bahwa Baitul Maqdis (Al-Quds atau Yerusalem) adalah ibu kota abadi Palestina dan setiap langkah untuk mengubah status ini sama sekali tidak dapat diterima.

2) Kami Mahasiswa Indonesia berdiri dalam solidaritas dengan Palestina dan perjuangan mereka, yang menjadi garda terdepan dalam perjuangan membebasan Al Aqsa, Al-Quds dan rakyat Palestina dari belenggu penjajahan sebagai kewajiban kolektif umat Islam di seluruh dunia yang digariskan oleh Allah Subhanahu wataala.

3) Menegaskan bahwa masjid adalah pusat pergerakan pemuda dan mihrab sebagai titik awal kebangkitan sehingga mengutuk pelanggaran terus-menerus oleh pasukan polisi Israel yang secara teratur mengganggu status quo dan mengizinkan pengunjung Yahudi untuk memasuki Masjidil Aqsa di bawah penjagaan bersenjata, sementara membatasi akses bagi warga Palestina.

4) Menyesali kelambanan organisasi-organisasi internasional atas agresi berkelanjutan di Gaza dan aksi penangkapan di Yerusalem dan Tepi Barat oleh pasukan pendudukan Israel yang melanggar hukum internasional dalam the holy Noble Sanctuary dan Perjanjian Oslo.

5) Kami menyeru untuk membentuk kerjasama internasional pemuda Muslim internasional di bawah OKI sebagai wadah gerakan pemuda untuk membebaskan Al Quds dan Palestina, yang secara aktif membangun komunikasi dan kerjasama antara pemuda Muslim secara individu atau organisasi dan menghimpun berbagai potensi kepemudaan sebagai kekuatan utama untuk menghapuskan penjajahan di dunia.

6) Mendukung dan mengapresiasi sikap tegas Pemerintah Indonesia yang menolak Yahudisasi di Palestina melalui jalur DK-PBB, dan mendesak pemerintah Indonesia untuk menolak normalisasi hubungan apapun dengan Israel dan menolak perjanjian Abad ini (The Deal Of Century).

7) Menyerukan kepada seluruh elemen umat dan bangsa Indonesia untuk mengesampingkan perbedaan demi menunaikan kewajiban persatuan dalam membantu Rakyat Palestina melalui Lembaga-lembaga resmi Dunia dan Negara.