(Catatan dari Simposium PPI Timur Tengah dan Afrika 2019 di Amman Yordania)

Tuhan menciptakan manusia dan membuatnya tinggal di muka bumi untuk hidup berdampingan satu sama lain secara damai dalam persaudaraan, ketenangan dan cinta. Sebab tanpa perdamaian dan persaudaraan maka manusia akan hidup dalam perang dan permusuhan. Kunci terciptanya perdamaian adalah tegaknya keadilan, sebab yang membuat satu sama lain berdamai adalah ketika kedua pihak merasakan keadilan dan tidak ada yang terzalimi. Dan faktor utama tegaknya keadilan adalah adanya kepercayaan pada monoteisme atau Ketuhanan yang Esa. Oleh karena itu, semua Nabi-Nabi yang diutus Tuhan adalah untuk menyeru kepada tauhid, penyembahan kepada Tuhan dengan meninggalkan penyembahan-penyembahan selain kepada Tuhan. Dengan terciptanya masyarakat yang bertauhid, maka dengan sendirinya keadilan dengan lebih mudah ditegakkan, dan ketika keadilan tegak, maka terciptalah perdamaian dunia.

Yang menjadi masalah, sepanjang sejarah manusia, selalu saja ada manusia yang rakus, serakah, egois dan memaksakan kehendak. Kelompok manusia ini berhasrat pada kekuasaan dan superioritas, yang meski itu dicapainya dengan cara merampas hak-hak orang lain. Merekalah musuh terberat para Nabi dan manusia-manusia pendamba keadilan sepanjang masa. Mereka berdiri menentang ajaran para nabi Ilahi. Kelakuan dan kerakusan merekalah yang menjadi sumber kesengsaraan umat manusia. Dengan tidak peduli pada keadilan, mereka dengan sengaja melakukan pelanggaran-pelanggaran HAM hanya agar mereka memiliki hak istimewa yang tidak dimiliki manusia lain. Hanya agar mereka bisa mendominasi dunia. Padahal Tuhan menciptakan manusia dalam kesetaraan, memberikan hak kehidupan yang terhormat dan merdeka kepada setiap manusia, tanpa pengecualian.

Diera terakhir ini, kebrutalan manusia yang rakus dan egois semakin terang-terangan dan lebih meluas dibandingkan era-era sebelumnya, Kecanggihan tekhnologi digunakan untuk memproduksi senjata mutakhir yang telah menjadi penyebab terbunuhnya 100 juta manusia hanya dalam 2 perang. Dan yang paling mendapatkan dampak paling parah dari terpicunya perang adalah rakyat biasa. Mereka harus terusir dari rumah dan lahan penghidupan mereka dan tinggal di kamp-kamp pengungsian yang serba terbatas. Mereka harus kehilangan harapan akan masa depan yang bahagia dan menyenangkan. Keriangan masa kecil anak-anak terampas paksa, dan yang tersisa adalah kenangan atas derita dan kegetiran. Dan diantara kejadian tersebut adalah masalah Palestina. Palestina sampai hari ini menjadi saksi hidup kebrutalan dari ambisi kekuatan opresor untuk mendominasi bangsa-bangsa di muka bumi. Kejahatan yang terjadi di Palestina sampai hari ini, tidak pernah terjadi sebelumnya di sepanjang sejarah. Mereka jadi sasaran serangan tanpa kenal waktu, pagi, siang, malam. Anak-anak yang pagi keluar rumah buat bersekolah belum tentu bisa kembali lagi sorenya ke pelukan orangtua karena ditembak tentara Israel, dengan alasan dicurigai ransel sekolahnya berisi bom. Pembunuhan yang tanpa dituntut pertanggungjawaban dan pengadilan, dan itu hanya terjadi di Palestina. Pemerintahan pilihan rakyat diboikot ekonomi dan secara politik. Semua teror itu dilakukan supaya rezim Zionis bisa memaksakan  ambisinya kepada rakyat Palestina.

Harus diketahui, bahwa kehadiran Rezim Zionis di jantung Timur Tengah memang sengaja diciptakan kekuatan opresor dunia terutama Amerika Serikat dan Inggris sebagai alat untuk menguasai dunia. Lihat saja, keberadaan Rezim Zionis menjadi ancaman keamanan bagi negara-negara Timur Tengah sehingga negara-negara yang harusnya menggunakan devisa meraka untuk kemajuan pembangunan dan kesejahteraan rakyat harus digunakan untuk membeli senjata. Belum lagi dengan taktik pecah belah negara-negara Arab harus saling menyerang satu sama lain. Yaman yang miskin harus jadi obyek serangan puluhan jet tempur Arab Saudi yang super kaya. Keamanan masih juga belum tercipta di Irak dan Suriah. Bangsa Palestina sendiri telah merasakan ancaman dan teror selama puluhan tahun tanpa seharipun bisa merasakan kedamaian dan ketenangan. Keberadaan Rezim Zionis telah menyebabkan pemborosan sumber daya umat manusia. Disaat semestinya negara-negara kawasan satu sama lain sibuk saling mentransfer ilmu dan tekhnologi yang terjadi justru saling mencurigai satu sama lain. Setiap negara yang sedang aktif melakukan penelitian ilmiah dan sedang mengembangkan tekhnologi lokal, maka akan mendapat penentangan dari Rezim Zionis dan kekuatan opresor dunia. Sebut saja Iran yang sedang mengembangkan tekhnologi nuklir untuk pemanfaan kemanusian, diembargo dan dikucilkan secara politik.

Proyek terbesar juga dibalik keberadaan Rezim Zionis adalah proyek penghilangan dan pemusnahan situs-situs bersejarah dan warisan budaya. Mengapa situs bersejarah dan warisan budaya penting? sebab kebesaran sebuah bangsa ditentukan oleh versi sejarah yang diyakini rakyatnya. Kalau rakyat sebuah bangsa tidak memiliki ingatan sejarah dan memori mengenai kebesaran masa silam bangsanya, maka bisa dipastikan bangsa itu akan mudah dijajah dan diperalat. Diantara dampak terburuk dari proyek ini adalah rusaknya Alquds dan Masdjil Aqsha yang mengandung nilai sejarah yang sangat tinggi bukan hanya bagi umat Islam namun juga bagi agama-agama Samawi lainnya.

Karena itu, jika masih perlu membicarakan perdamaian dan terciptanya ketertiban dunia, maka tidak akan ada solusi yang lebih ampuh selain, Rezim Zionis memang harus dihapuskan. Seharusnya perang dunia tidak perlu lagi memiliki dampak sampai hari ini. Namun keberadaan Rezim Zionis, sampai hari ini negara-negara harus berpecah belah dan saling memusuhi satu sama lain. Sumber daya baik sumber daya manusia dan sumber daya alam harus terkuras hanya untuk mempersoalkan keberadaan Rezim Zionis ini. Ribuan seminar dan pertemuan internaslonal diadakan, namun tidak satupun yang membuahkan hasil, dan memang tidak akan membuahkan hasil selama Rezim Zionis masih eksis.

Cara yang paling ampuh menghapus Rezim Zionis yang tanpa perang, tanpa pertumpahan darah dan tanpa harus menguras dan menghamburkan dana besar adalah metode demokrasi. Metode ini diterima semua orang, termasuk oleh Amerika Serikat sendiri yang mengklaim diri sebagai kampiunnya demokrasi. Izinkan bangsa Palestina menentukan nasibnya sendiri. Izinkan bangsa Palestina yang terdiri dari Muslim, Yahudi dan Kristen menentukan sendiri bentuk pemerintahan yang mereka kehendaki melalui referendum yang bebas. Dan mereka yang baru berdatangan di Palestina baik dimasa persiapan maupun setelah Rezim Zionis terbentuk harus kembali ke negara asal mereka masing-masing.

Telah tiba waktunya untuk menciptakan kehidupan dunia yang lebih baik, dalam ikatan persaudaraan, perdamaian dan saling menghormati satu sama lain. Semua pihak harus bergandengan tangan dalam melakukan usaha global untuk menegakkan perdamaian dunia dan mengikis akar ketidak amanan dan ketidak adilan dunia. Rezim Zionis lahir dari pemikiran dan sikap pembangkangan pada titah Tuhan, pada ajaran para Nabi. Karena itu harus dihentikan.

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kawasan Timur Tengah dan Afrika yang terdiri dari PPI-PPI negara di kawasan, dalam rangka mengupayakan perdamaian dunia inilah saat ini menggelar Simposium dengan tema, “Dari Indonesia, untuk Palestina, menuju Perdamaian Dunia.” Seminar yang terselenggara dari 20-24 Juni 2019 di Universitas Jordan kota Amman Yordania dengan dihadiri delegasi diantaranya dari PPI Lebanon, IPI Iran, HPMI Yordania, PPI Tunisia, PPMI Mesir, PPI Sudan dan PPMI Arab Saudi sebagaimana amanat UUD 1945 bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan  menyuarakan suara bersama, bahwa Palestina tidak akan pernah sendiri. Membela dan mendukung kemerdekaan Palestina bukan hanya amanat UUD 1945 namun juga panggilan kemanusiaan serta perintah Tuhan yang menciptakan manusia setara dan tidak boleh saling menzalimi satu sama lain.

Ismail Amin

[Presiden IPI Iran 2019-2021]