IPI Iran turut Salurkan Bantuan pada Aksi Kemanusiaan bagi Pengungsi Palestina

IPI Iran turut Salurkan Bantuan pada Aksi Kemanusiaan bagi Pengungsi Palestina

Masih dalam rangkaian kegiatan Simposium Amman 2019, PPI Timur Tengah dan Afrika melakukan aksi kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan langsung kesalah satu lembaga pendidikan tingkat dasar di kamp pengungsian warga Palestina di Jerash, Yordania, pada hari ketiga Simposium Sabtu, (23/6).

Disambut antusias murid-murid sekolah yang menampilkan tarian, nyanyian dan puisi, para peserta Simposium Amman 2019 termasuk dari delegasi IPI Iran turut merasakan keperihan anak-anak Palestina tersebut dibalik keceriaan dan senyum  mereka yang tersungging. Laila Rahmah, salah seorang dari delegasi IPI Iran tidak bisa menahan airmatanya saat salah seorang bocah perempuan  Palestina membacakan puisi yang mendambakan adanya perdamaian dan harmoni terwujud di Palestina, sehingga ia bisa turut merasakan kebahagiaan di masa kecil, sebagaimana anak-anak lainnya.

Setelah penyampaian sambutan oleh salah satu pengurus HPMI Yordania, pengajar sekolah dan salah seorang penyantun, selanjutnya diserahkan bantuan langsung berupa satu paket peralatan sekolah ke setiap murid. Delegasi IPI Iran turut menyerahkan bantuan langsung tersebut.

Agenda selanjutnya, sekitar pukul 11.00, para peserta dan panitia dengan mengendarai bis menuju Camp Gaza, salah satu kamp pengungsian ratusan ribu warga Palestina di Yordania.

Dinamakan Camp Gaza karena mayoritas warganya berasal dari Gaza. Di Camp Gaza, para peserta melihat langsung rumah-rumah sederhana para pengungsi dengan fasilitas yang sangat minim, bahkan memasuki dan melihat langsung kondisi dan fasilitas ala kadarnya yang tersedia dalam rumah. Anak-anak pengungsi menyambut antusias kedatangan para delegasi dari beberapa PPI Negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika.

Disebutkan, PPI Timur Tengah dan Afrika menggelar Simposium Kawasan 2019 dengan tema, “Dari Indonesia, untuk Palestina menuju Perdamaian Dunia” dari tanggal 21-23 Juni 2019. Hadir sejumlah delegasi dari PPI-PPI negara di kawasan seperti dari PPI Tunisia, PPMI Mesir, PPMI Arab Saudi, PPI Sudan, PPI Lebanon dan IPI Iran.

Mahasiswa Indonesia di Timur Tengah dan Afrika Keluarkan Deklarasi Amman 2019

Mahasiswa Indonesia di Timur Tengah dan Afrika Keluarkan Deklarasi Amman 2019

Pada hari kedua pelaksanaan Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika 2019 Jumat (22/6), dengan tema “Dari Indonesia untuk Palestina, menuju Perdamaian Dunia”, digelar diskusi panel secara khusus membahas isu terorisme dan radikalisme. Bertempat di Aula Gedung Pusat Bahasa Universitas Jordan di kota Amman Yordania, hadir sebagai panelis Fungsi Politik KBRI Amman Muhammad Zarkasih dan Direktur Yayasan Lingkar Perdamaian Ali Fauzi Manzi.

Dalam pemaparan materinya, Muhammad Zarkasih menjelaskan mengenai defenisi terorisme, radikalisme dan ekstrimisme dan dampak buruknya bagi kemanusiaan. Lebih lanjut, ia menyampaikan rentetan peristiwa teror yang pernah terjadi di tanah air, yang disebutnya bermula dari awal-awal masa kemerdekaan oleh pihak-pihak yang mengubah Pancasila sebagai ideologi negara. Ia juga menjelaskan rangkaian proses yang dialami seseorang sampai memutuskan diri sebagai teroris. “Diantara penyebabnya adalah, adanya pemahaman yang keliru mengenai penafsiran atas ayat-ayat jihad, yang diyakini sebagai perintah untuk membunuh, padahal tidak lantas demikian.” Terangnya.

DIbagian akhir penjelasannya, pejabat KBRI Amman tersebut menyampaikan upaya-upaya dan langkah-langkah taktis yang telah dilakukan pemerintah dalam upaya penanggulangan terorisme dan radikalisme.

Sebagai pembicara kedua, Ali Fauzi Manzi yang mantan kombatan membagikan pengalaman hidupnya yang telah terpapar pemahaman radikalisme sejak usia 18 tahun. Adik kandung terpidana seumur hidup Ali Imron dan terpidana mati Muklas alias Ali Gufron dan Amrozi dalam kasus bom Bali I tersebut menyampaikan pertaubatannya bahwa apa yang dia pahami sebagai Islam yang menjadikannya sebagai teroris adalah sesuatu yang keliru. Sebagai bentuk penyelasan dan memperbaiki kesalahan masa silam, Ali Fauzi Manzi mendirikan yayasan yang secara khusus berupaya merangkul dan mengajak para mantan narapidana terorisme (Napiter) untuk kembali ke pangkuan NKRI.

“Akar terorisme tidak tunggal dan bahkan saling berkaitan, oleh karenanya penanganannya tidak boleh tunggal, harus banyak aspek, perspektif dan metodologi.” Jelas Ali Fauzi Manzi. “Diantaranya adalah secara konsisten melakukan penjaringan dan konsolidasi dengan teroris.” Tambahnya.

Usai penyampaian materi oleh kedua panelis, dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Diantara pertanyaan yang muncul dari peserta, adalah apa upaya pemerintah khususnya kementerian pendidikan menyikapi fenomena tersusupinya pemahaman-pemahaman radikal di lembaga-lembaga pendidikan tinggi, sehingga tidak sedikit yang terpapar paham radikalisme justru mahasiswa dan dosen. Pertanyaan yang lain, bagaimana meredam isu adanya bisnis senjata dibalik bermunculannya kelompok-kelompok yang berpaham ekstrim dan menjadi bagian dari jaringan teroris.

Usai diskusi panel sesi ketiga, mewakili Kepala Duta Besar Indonesia untuk Yordania merangkap Palestina, Nico Adam menyampaikan sambutannya dan secara resmi menutup rangkaian Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika yang berlangsung selama dua hari, dari 20-21 Juni 2019.

Disebutkan, pada hari pertama Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika 2019 yang diselenggarakan oleh HPMI Yordania tersebut membahas isu Palestina dan Kemanusiaan dengan menghadirkan pembicara internasional dan nasional. Simposium yang dibuka oleh Kepala Duta Besar Indonesia untuk Yordania merangkap Palestina, Andy Rachmianto dihadiri seratusan lebih mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa Indonesia di Yordania, delegasi dari sejumlah PPI Negara di kawasan seperti dari IPI Iran, PPI Tunisia, PPI Lebanon, PPI Sudan, PPMI Mesir dan PPMI Arab Saudi, serta delegasi dari perhimpunan mahasiswa Asia Tenggara.

Dibagian akhir Simposium dilkeluarkan Deklarasi Amman 2019 dengan poin-poin sebagai berikut:

1) Menegaskan kembali bahwa Baitul Maqdis (Al-Quds atau Yerusalem) adalah ibu kota abadi Palestina dan setiap langkah untuk mengubah status ini sama sekali tidak dapat diterima.

2) Kami Mahasiswa Indonesia berdiri dalam solidaritas dengan Palestina dan perjuangan mereka, yang menjadi garda terdepan dalam perjuangan membebasan Al Aqsa, Al-Quds dan rakyat Palestina dari belenggu penjajahan sebagai kewajiban kolektif umat Islam di seluruh dunia yang digariskan oleh Allah Subhanahu wataala.

3) Menegaskan bahwa masjid adalah pusat pergerakan pemuda dan mihrab sebagai titik awal kebangkitan sehingga mengutuk pelanggaran terus-menerus oleh pasukan polisi Israel yang secara teratur mengganggu status quo dan mengizinkan pengunjung Yahudi untuk memasuki Masjidil Aqsa di bawah penjagaan bersenjata, sementara membatasi akses bagi warga Palestina.

4) Menyesali kelambanan organisasi-organisasi internasional atas agresi berkelanjutan di Gaza dan aksi penangkapan di Yerusalem dan Tepi Barat oleh pasukan pendudukan Israel yang melanggar hukum internasional dalam the holy Noble Sanctuary dan Perjanjian Oslo.

5) Kami menyeru untuk membentuk kerjasama internasional pemuda Muslim internasional di bawah OKI sebagai wadah gerakan pemuda untuk membebaskan Al Quds dan Palestina, yang secara aktif membangun komunikasi dan kerjasama antara pemuda Muslim secara individu atau organisasi dan menghimpun berbagai potensi kepemudaan sebagai kekuatan utama untuk menghapuskan penjajahan di dunia.

6) Mendukung dan mengapresiasi sikap tegas Pemerintah Indonesia yang menolak Yahudisasi di Palestina melalui jalur DK-PBB, dan mendesak pemerintah Indonesia untuk menolak normalisasi hubungan apapun dengan Israel dan menolak perjanjian Abad ini (The Deal Of Century).

7) Menyerukan kepada seluruh elemen umat dan bangsa Indonesia untuk mengesampingkan perbedaan demi menunaikan kewajiban persatuan dalam membantu Rakyat Palestina melalui Lembaga-lembaga resmi Dunia dan Negara.

Prof. Aqil Al Munawar: Walaupun Kita Berbeda Pola Pikir, pada Dasarnya Kita Satu

Prof. Aqil Al Munawar: Walaupun Kita Berbeda Pola Pikir, pada Dasarnya Kita Satu

Bertempat di Plaza Wisma Duta, Amman Yordania, KBRI Amman menggelar Gala Dinner dengan mengundang para panelis dan peserta Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika 2019 untuk menyantap makan malam bersama, malam Jumat (20/6). Dalam sambutannya, Kepala Duta Besar Indonesia untuk Yordania merangkap Palestina, Andy Rachmianto menyampaikan rasa bangganya pada mahasiswa-mahasiswa Indonesia di luar negeri khususnya yang berada di negara-negara kawasan.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya cukup yang didapatkan di universitas dan di bangku kuliah, namun juga mahasiswa harus memiliki kemampuan berorganisasi yang baik dan kepedulian pada isu-isu sosial dan kemanusiaan. “Keintelektualan yang matang tidak pernah cukup hanya dengan berpuas diri pada apa yang didapat di bangku perkuliahan formal namun harus diasah dengan kemampuan-kemampuan manajemen yang bisa didapatkan dalam aktivitas-aktivitas keorganisasian. Karena itu, saya mendorong mahasiswa Indonesia di Yordania untuk bisa aktif di organisasi diluar aktivitas perkuliahan. Alhamdulillah HPMI Yordania, bisa mengadakan Simposium Kawasan yang saya kira bakal memberi banyak manfaat, terutama terjalinnya hubungan yang lebih erat antar mahasiswa-mahasiswa Indonesia dari berbagai negara yang berbeda sekaligus menunjukkan peran mahasiswa yang turut menyikapi isu internasional.” Ungkapnya.

Sejalan dengan yang disampaikan Dubes Andy, Prof. Dr. Haji Said Agil Husin Al Munawar, MA yang turut hadir sebagai tamu istimewa dalam sambutannya, mengingatkan peran besar PPI dalam membentuk pola pikir mahasiswa yang lebih moderat dan lebih bisa menerima perbedaan. Mantan Menteri Agama RI tahun 2001-2004 tersebut berbagi pengalaman ketika menjabat sebagai ketua umum PPI Arab Saudi.

“Kondisi dulu ketika saya menjadi mahasiswa dan sekarang, mungkin tidak jauh berbeda. Di Saudi kita temukan teman-teman yang keras cara berpikirnya, selalu melawan dan seterusnya. Maka PPI membina mereka, kita adakan dialog, kita adakan diskusi supaya kita menyadari, bahwa walaupun kita berbeda dalam pola pikir, pada dasarnya kita satu. Karena itu kita ikat dalam wadah organisasi. Secara rutin kita kumpul, seminar, tukar pikiran dengan berbagai topik untuk menyikapi berbagai permasalahan kebangsaan yang kita hadapi.” Ungkapnya.

Alumni Doktoral Fakultas Syari’ah Unversitas Ummu AI Quro Makkah Saudi Arabia tahun 1987 tersebut lebih lanjut berkata, “Indonesia ini unik, bentangannya sangat luas, jika kita naik pesawat dari ujung Sumatera menuju ujung Papua, maka lamanya sama dengan kita naik pesawat ke Jeddah. Dan dari 18 ribu pulau yang ada itu didiami ribuan etnis dan suku dengan beragam budaya dan bahasa. Semua ini adalah kekayaan. Dan dengan keragaman itu, pasti terjadi perbedaan, dan itu sudah menjadi sunnahtullah. Di dalam Alquran sudah menyebutkan sendiri, bahwa kita berbeda dan beragam tapi sebetulnya kita satu.”

“Jangan karena perbedaan pilihan politik misalnya, antara suami dan istri ribut. Antara anak dan orangtuanya tidak akur. Dan keributan yang timbul karena persolan perbedaan itu, hanya akan merugikan kita semuanya, dan tidak akan ada selesainya, terus kapan kita akan membangun negara?”. Tambahnya.

“Kita juga berangkat dari Indonesia berbeda latar belakangnya. Ada yang dari pondok pesantren, ada yang dari sekolah umum dan seterusnya. Dan setiba disini kita juga berbeda pilihan fakultas, berbeda keilmuan, namun semua itu, meski berangkat dari yang berbeda bukan berarti kita harus berbeda seterusnya, tidak. Kita satu, kita adalah pemuda hari ini, dan pemimpin di masa depan, yang akan kembali membangun tanah air kita tercinta.” Pesannya.

Pada bagian akhir penyampaiannya, Guru Besar UIN Syarif Hidayullah tersebut memesankan, “Saya pesan, jangan merasa cukup dengan keilmuan yang didapat di kampus, cari sampai dimana saja. Alquran dan Hadis adalah sumber dari ilmu agama. Berapa banyak ilmu Alquran, berapa banyak ilmu hadis, seberapa besar luasnya, jangan batasi dan persempit dengan pikiran dan kelakuan kita yang berhenti belajar. Jika kita habiskan umur kita, kita meninggal dunia dulu, satu cabang ilmupun belum bisa kita tuntaskan. Maka jika ada yang berkata, saya baru menyelesaikan pelajaran ulumul Quran, maka itu adalah pembohong besar. Sebab tidak akan pernah selesai dipelajari. Karenanya jangan berhenti belajar.”

Turut memberikan sambutan M. Haikal Mahdi sebagai perwakilan dari panitia Simposium Kawasan 2019 yang mengucapkan terimakasih atas dukungan KBRI Amman dan semua pihak yang telah membantu terselenggaranya Simposium PPI Timur Tengah dan Afrika.

Dipenghujung gala dinner, dipersembahkan hiburan dalam bentuk pembacaan puisi, musikal drama dan live musik, diiringi rangkaian sesi foto bersama. Gala dinner bersama KBRI Amman adalah rangkaian dari acara Simposium Kawasan PPI TImur Tengah dan Afrika 2019 yang terselenggara dari 20-24 Juni di Universitas Jordan, Amman Yordania oleh HPMI Yordania sebagai tuan rumah dan penyelenggara. Hadir delegasi dari IPI Iran, PPI Tunisia, PPI Lebanon, PPMI Mesir, PPMI Arab Saudi dan PPI Sudan dalam Simposium yang menjadi agenda tahunan PPI Timur Tengah dan Afrika tersebut.

PPI Timur Tengah dan Afrika Gelar Simposium Kawasan Bahas Isu Palestina

PPI Timur Tengah dan Afrika Gelar Simposium Kawasan Bahas Isu Palestina

Bertempat di Aula Gedung Pusat Bahasa Universitas Jordan di kota Amman Yordania Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Timur Tengah dan Afrika menggelar Simposium Kawasan dengan tema “Dari Indonesia untuk Palestina menuju Perdamaian Dunia”, Kamis (20/6). Dibuka oleh Kepala Duta Besar Indonesia untuk Yordania merangkap Palestina, Andy Rachmianto yang sebelumnya memberikan sambutan dengan mengatakan digelarnya simposium tersebut memang telah semestinya dan pada waktu yang tepat. Menurutnya kepedulian dan pembelaan pada Palestina bukan sesuatu yang bisa ditawar oleh bangsa Indonesia sebab telah menjadi amanat UUD 1945.

“Indonesia selalu berada di garda terdepan jika terjadi krisis di Palestina dan terus bersuara keras menentang pendudukan Israel. Dukungan Indonesia kepada Palestina merupakan panggilan dan mandat konstitusi.” Tegasnya.

Andy Rachmianto selanjutnya menjelaskan dukungan yang telah diberikan dan akan terus diberikan mencakup politik, ekonomi, kemanusiaan dan penguatan kapasitas. “Secara ekonomi, Indonesia telah mengeluarkan kebijakan bebas tarif bagi dua produk asal Palestina yaitu minyak zaitun dan kurma, dan akan menyusul produk-produk lainnya. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong peningkatan ekspor Palestina ke Indonesia yang akan berdampak pada perekonomian Palestina.” Jelasnya.

Di bagian lain sambutannya, Duta Besar Andy memberikan apresiasi tinggi kepada HPMI Yordania atas penyelenggaraan simposium yang tidak secara khusus membicarakan Palestina saja namun juga membahas mengenai radikalisme yang telah menjadi ancaman laten bagi keutuhan NKRI. Ia berkata, “Radikalisme, terorisme dan ekstrimisme telah menjadi masalah bagi semua negara. Keterlibatan pelajar dan mahasiswa dalam upaya mencegah berkembangnya paham ini sangat kami apresiasi dan dukung sepenuhnya.”

Turut memberikan sambutan, Direktur Mesjid Al-Aqsa Kementerian Wakaf Yordania, Dr. Abdullah Abbady yang menceritakan mengenai sejarah Masjid Al-Aqsa dan kewajiban untuk menjaganya. Opening ceremony juga diwarnai aksi teatrikal dari anak-anak Palestina yang mengibarkan bendera Indonesia Yordania dan Palestina, serta  persembahan tarian Aceh dari mahasiswa Indonesia di Yordania.  

Hadir sebagai pembicara pada diskusi panel pertama yang secara khusus membahas isu mengenai Palestina dengan tema “Palestina dan Perdamaian Dunia”, Sekretaris Jenderal Kementerian Wakaf dan Situs-situs Suci Kerajaan Yordania, Dr. Abdul Sattar al-Qudah. Dalam pemaparan materinya, secara umum al-Qudah menyampaikan berbagai langkah kongkret  yang telah dilakukan Kerajaan dan Pemerintah Yordania di tengah situasi yang semakin tidak berpihak untuk Palestina, yang diperparah oleh keputusan-keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang membuat Palestina semakin terpojok. Pembicara berikutnya, Aktivis dan pejuang Palestina Mrs. Abeer Zayad yang membagikan pengalamannya telah keluar masuk penjara bersama suaminya sebab terus menyuarakan pembelaan pada Palestina dan tidak berhenti menentang kesewenang-wenangan Rezim Zionis. Pembicara ketiga, Kepala Duta Besar Indonesia untuk Yordania merangkap Palestina, Andy Rachmianto yang secara khusus menyampaikan langkah-langkah konkrit Pemerintah RI dalam upaya mewujudkan perdamaian dan kemerdekaan di Palestina.

Pada diskusi panel kedua, dengan tema “Dukungan kemanusiaan untuk Palestina dan Yerusalem”, pembicara yang hadir dari kalangan pemerintah, LSM dan organisasi internasional. Direktur Program Pendidikan UNRWA Yordania, Dr. Oroba Labadi; Perwakilan LSM Kemanusiaan Indonesia Aksi Cepat Tanggap, Syuhelmaidi Syukur dan Direktur Pelaksana Nusantara Palestina Centre (NPC) Ihsan Zainuddin, serta dari pihak KBRI Amman Nico Adam mewakili pemerintah RI yang masing-masing mempresentasekan kegiatan-kegiatan yang telah dan yang akan dilakukan untuk membantu menyelesaikan persoalan kemanusiaan di Palestina.

Simposium yang akan berlangsung selama dua hari tersebut dihadiri lebih dari 100 mahasiswa Indonesia yang terdiri dari mahasiswa Indonesia di Yordania, delegasi sejumlah PPI Negara di kawasan seperti PPI Tunisia, IPI Iran, PPMI Arab Saudi, PPMI Mesir, PPI Lebanon dan PPI Sudan, serta diikuti perwakilan mahasiswa dari negara-negara ASEAN. Pada hari ketiga, para peserta Simposium Kawasan berencana melakukan kunjungan ke penampungan pengungsi untuk memberikan secara langsung bantuan kemanusiaan yang dilakukan melalui Jordan Hashimite Charity Organization (JHCO), sebagai otoritas resmi penyaluran bantuan kemanusiaan yang ditunjuk Kerajaan Yordania.

Sebagaimana Simposium Kawasan sebelumnya yang terselenggara di Pakistan tahun 2018, pada Simposium 2019 ini, atas dukungan penuh dari KBRI Tehran, IPI Iran kembali mengirimkan delegasi. Ismail Amin, Laila Rahmah dan Dzikry al-Jihad hadir pada Simposium Kawasan di Amman Yordania ini sebagai delegasi IPI Iran. Pada hari kedua, Jumat (21/6) akan dilanjutkan diskusi panel ketiga yang membahas mengenai isu radikalisme yang dilanjutkan oleh rapat internal PPI Timur Tengah dan Afrika yang meminta laporan pertanggungjawaban pengurus PPI Timur Tengah dan Afrika tahun 2018-2019 sekaligus mengangkat kordinator PPI Timur Tengah dan Afrika untuk periode kepengurusan 2019-2020. Perwakilan dari PPI Tunisia dan PPI Lebanon disebut sebagai kandidat koordinator yang baru. 

Jalan Keluar bagi Perdamaian Dunia dan Terwujudnya Kedamaian di Palestina

Jalan Keluar bagi Perdamaian Dunia dan Terwujudnya Kedamaian di Palestina

(Catatan dari Simposium PPI Timur Tengah dan Afrika 2019 di Amman Yordania)

Tuhan menciptakan manusia dan membuatnya tinggal di muka bumi untuk hidup berdampingan satu sama lain secara damai dalam persaudaraan, ketenangan dan cinta. Sebab tanpa perdamaian dan persaudaraan maka manusia akan hidup dalam perang dan permusuhan. Kunci terciptanya perdamaian adalah tegaknya keadilan, sebab yang membuat satu sama lain berdamai adalah ketika kedua pihak merasakan keadilan dan tidak ada yang terzalimi. Dan faktor utama tegaknya keadilan adalah adanya kepercayaan pada monoteisme atau Ketuhanan yang Esa. Oleh karena itu, semua Nabi-Nabi yang diutus Tuhan adalah untuk menyeru kepada tauhid, penyembahan kepada Tuhan dengan meninggalkan penyembahan-penyembahan selain kepada Tuhan. Dengan terciptanya masyarakat yang bertauhid, maka dengan sendirinya keadilan dengan lebih mudah ditegakkan, dan ketika keadilan tegak, maka terciptalah perdamaian dunia.

Yang menjadi masalah, sepanjang sejarah manusia, selalu saja ada manusia yang rakus, serakah, egois dan memaksakan kehendak. Kelompok manusia ini berhasrat pada kekuasaan dan superioritas, yang meski itu dicapainya dengan cara merampas hak-hak orang lain. Merekalah musuh terberat para Nabi dan manusia-manusia pendamba keadilan sepanjang masa. Mereka berdiri menentang ajaran para nabi Ilahi. Kelakuan dan kerakusan merekalah yang menjadi sumber kesengsaraan umat manusia. Dengan tidak peduli pada keadilan, mereka dengan sengaja melakukan pelanggaran-pelanggaran HAM hanya agar mereka memiliki hak istimewa yang tidak dimiliki manusia lain. Hanya agar mereka bisa mendominasi dunia. Padahal Tuhan menciptakan manusia dalam kesetaraan, memberikan hak kehidupan yang terhormat dan merdeka kepada setiap manusia, tanpa pengecualian.

Diera terakhir ini, kebrutalan manusia yang rakus dan egois semakin terang-terangan dan lebih meluas dibandingkan era-era sebelumnya, Kecanggihan tekhnologi digunakan untuk memproduksi senjata mutakhir yang telah menjadi penyebab terbunuhnya 100 juta manusia hanya dalam 2 perang. Dan yang paling mendapatkan dampak paling parah dari terpicunya perang adalah rakyat biasa. Mereka harus terusir dari rumah dan lahan penghidupan mereka dan tinggal di kamp-kamp pengungsian yang serba terbatas. Mereka harus kehilangan harapan akan masa depan yang bahagia dan menyenangkan. Keriangan masa kecil anak-anak terampas paksa, dan yang tersisa adalah kenangan atas derita dan kegetiran. Dan diantara kejadian tersebut adalah masalah Palestina. Palestina sampai hari ini menjadi saksi hidup kebrutalan dari ambisi kekuatan opresor untuk mendominasi bangsa-bangsa di muka bumi. Kejahatan yang terjadi di Palestina sampai hari ini, tidak pernah terjadi sebelumnya di sepanjang sejarah. Mereka jadi sasaran serangan tanpa kenal waktu, pagi, siang, malam. Anak-anak yang pagi keluar rumah buat bersekolah belum tentu bisa kembali lagi sorenya ke pelukan orangtua karena ditembak tentara Israel, dengan alasan dicurigai ransel sekolahnya berisi bom. Pembunuhan yang tanpa dituntut pertanggungjawaban dan pengadilan, dan itu hanya terjadi di Palestina. Pemerintahan pilihan rakyat diboikot ekonomi dan secara politik. Semua teror itu dilakukan supaya rezim Zionis bisa memaksakan  ambisinya kepada rakyat Palestina.

Harus diketahui, bahwa kehadiran Rezim Zionis di jantung Timur Tengah memang sengaja diciptakan kekuatan opresor dunia terutama Amerika Serikat dan Inggris sebagai alat untuk menguasai dunia. Lihat saja, keberadaan Rezim Zionis menjadi ancaman keamanan bagi negara-negara Timur Tengah sehingga negara-negara yang harusnya menggunakan devisa meraka untuk kemajuan pembangunan dan kesejahteraan rakyat harus digunakan untuk membeli senjata. Belum lagi dengan taktik pecah belah negara-negara Arab harus saling menyerang satu sama lain. Yaman yang miskin harus jadi obyek serangan puluhan jet tempur Arab Saudi yang super kaya. Keamanan masih juga belum tercipta di Irak dan Suriah. Bangsa Palestina sendiri telah merasakan ancaman dan teror selama puluhan tahun tanpa seharipun bisa merasakan kedamaian dan ketenangan. Keberadaan Rezim Zionis telah menyebabkan pemborosan sumber daya umat manusia. Disaat semestinya negara-negara kawasan satu sama lain sibuk saling mentransfer ilmu dan tekhnologi yang terjadi justru saling mencurigai satu sama lain. Setiap negara yang sedang aktif melakukan penelitian ilmiah dan sedang mengembangkan tekhnologi lokal, maka akan mendapat penentangan dari Rezim Zionis dan kekuatan opresor dunia. Sebut saja Iran yang sedang mengembangkan tekhnologi nuklir untuk pemanfaan kemanusian, diembargo dan dikucilkan secara politik.

Proyek terbesar juga dibalik keberadaan Rezim Zionis adalah proyek penghilangan dan pemusnahan situs-situs bersejarah dan warisan budaya. Mengapa situs bersejarah dan warisan budaya penting? sebab kebesaran sebuah bangsa ditentukan oleh versi sejarah yang diyakini rakyatnya. Kalau rakyat sebuah bangsa tidak memiliki ingatan sejarah dan memori mengenai kebesaran masa silam bangsanya, maka bisa dipastikan bangsa itu akan mudah dijajah dan diperalat. Diantara dampak terburuk dari proyek ini adalah rusaknya Alquds dan Masdjil Aqsha yang mengandung nilai sejarah yang sangat tinggi bukan hanya bagi umat Islam namun juga bagi agama-agama Samawi lainnya.

Karena itu, jika masih perlu membicarakan perdamaian dan terciptanya ketertiban dunia, maka tidak akan ada solusi yang lebih ampuh selain, Rezim Zionis memang harus dihapuskan. Seharusnya perang dunia tidak perlu lagi memiliki dampak sampai hari ini. Namun keberadaan Rezim Zionis, sampai hari ini negara-negara harus berpecah belah dan saling memusuhi satu sama lain. Sumber daya baik sumber daya manusia dan sumber daya alam harus terkuras hanya untuk mempersoalkan keberadaan Rezim Zionis ini. Ribuan seminar dan pertemuan internaslonal diadakan, namun tidak satupun yang membuahkan hasil, dan memang tidak akan membuahkan hasil selama Rezim Zionis masih eksis.

Cara yang paling ampuh menghapus Rezim Zionis yang tanpa perang, tanpa pertumpahan darah dan tanpa harus menguras dan menghamburkan dana besar adalah metode demokrasi. Metode ini diterima semua orang, termasuk oleh Amerika Serikat sendiri yang mengklaim diri sebagai kampiunnya demokrasi. Izinkan bangsa Palestina menentukan nasibnya sendiri. Izinkan bangsa Palestina yang terdiri dari Muslim, Yahudi dan Kristen menentukan sendiri bentuk pemerintahan yang mereka kehendaki melalui referendum yang bebas. Dan mereka yang baru berdatangan di Palestina baik dimasa persiapan maupun setelah Rezim Zionis terbentuk harus kembali ke negara asal mereka masing-masing.

Telah tiba waktunya untuk menciptakan kehidupan dunia yang lebih baik, dalam ikatan persaudaraan, perdamaian dan saling menghormati satu sama lain. Semua pihak harus bergandengan tangan dalam melakukan usaha global untuk menegakkan perdamaian dunia dan mengikis akar ketidak amanan dan ketidak adilan dunia. Rezim Zionis lahir dari pemikiran dan sikap pembangkangan pada titah Tuhan, pada ajaran para Nabi. Karena itu harus dihentikan.

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kawasan Timur Tengah dan Afrika yang terdiri dari PPI-PPI negara di kawasan, dalam rangka mengupayakan perdamaian dunia inilah saat ini menggelar Simposium dengan tema, “Dari Indonesia, untuk Palestina, menuju Perdamaian Dunia.” Seminar yang terselenggara dari 20-24 Juni 2019 di Universitas Jordan kota Amman Yordania dengan dihadiri delegasi diantaranya dari PPI Lebanon, IPI Iran, HPMI Yordania, PPI Tunisia, PPMI Mesir, PPI Sudan dan PPMI Arab Saudi sebagaimana amanat UUD 1945 bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan  menyuarakan suara bersama, bahwa Palestina tidak akan pernah sendiri. Membela dan mendukung kemerdekaan Palestina bukan hanya amanat UUD 1945 namun juga panggilan kemanusiaan serta perintah Tuhan yang menciptakan manusia setara dan tidak boleh saling menzalimi satu sama lain.

Ismail Amin

[Presiden IPI Iran 2019-2021]