Kerlip bintang menemani senyapnya malam, seorang pemuda tertunduk lesu di bawah sinar rembulan. Wajah yang tak bersemangat dan sorot mata yang penuh penyelasan tertera jelas. Hembusan nafasnya sesekali terdengar

                “My dear… maafkan aku karena tidak bisa melindungi dirimu.” Pelan terdengar sepatah kata dari mulut pemuda itu, diikuti dengan bulir air mata membasahi pipi. Pemuda itu kembali ke dalam bangsal rumah sakit sambil terseok.

_

                Sudah beberapa bulan berlalu, semenjak percekcokan antara Ayah dan Ibu berlangsung. Suasana rumah pun tak pernah sama lagi. Kepulangan Ayah kali ini pun juga tak disambut oleh Ibu. Hanya adikku saja yang masih antusias menyambut kedatangan Ayah.

“Ayah… bawa oleh-oleh apa hari ini?” Tangan mungil melingkari kaki Ayahku, segera Ayah menggendong Caca.

“Caca Sayang, iya Ayah bawa oleh-oleh. Sabar ya… nanti Ayah beri. Ayah mau istirahat dulu.” Sembari meletakkan Caca di kursi, Ayah menarik koper hendak ke kamar. Ibu berdiri tak jauh dari ambang pintu, wajahnya sama sekali tidak suka melihat Ayah menggendong Caca.

“Dari mana?” Pertanyaan tajam itu Ibu tujukan pada Ayah, kedua tangan Ibu menyilang di depan dada. Ayah menghembuskan nafas panjang sambil menatap mata Ibu.

“Bandung Ma… Ada proyek di sana.” Ayah sibuk mengeluarkan barang-barang dari koper.

“Jangan bohong, kamu!! Kamu main sama wanita lain kan!” Teriak Ibu dan menantang mata Ayah lekat-lekat. Oh no.. they fight sooner after meeting with each other again.

Tergesa, aku meraih Caca dalam dekapan dan menutup telinganya. Gadis kecil itu tidak perlu tahu apa yang sedang terjadi. Senyuman kecil ditujukannya padaku. “Kak Obi, main di taman yuk…” Panggilan kesayangannya untukku.

Aku mengusap pelan rambutnya dan kubalas ajakannya dengan anggukan. Adikku yang malang…

__

                Sejak insiden terakhir, Ayah dan Ibu memutuskan untuk berpisah. Aku sudah memperkirakan hal itulah yang bakal terjadi. Ayah memiliki hak asuhku dan Ibu memiliki hak asuh Caca. Waktu itu kulihat wajah mungil Caca yang tidak tahu apa-apa tersenyum ke arahku. Kudekap erat gadis mungil, adikku tercinta itu. Maafkan Kakak… kakak tidak bisa melindungi Caca dengan baik.

Sudah lima tahun berlalu semenjak perceraian kedua orang tuaku. Aku sama sekali belum pernah mendengar kabar tentang Ibu maupun Caca. Ayah memutus semua hubungan dengan Ibu. Tak hanya itu, Ayah juga melarangku menemui Caca dan Ibu. Sejak itu, aku juga tak peduli dengan Ayah. Nilai-nilaiku merosot, aku pun mulai bergaul dengan anak-anak nakal di sekolah. Hari itu, sepulang sekolah seperti biasanya aku dan teman-teman berkumpul di warung kopi dekat sekolah.

“Hei… temen-temen, lihat nih aku punya barang bagus!!” Andre melambaikan tangan yang menggenggam sebuah kotak berwarna merah. Sekilas, aku bisa melihat gambar gudang dan rel yang melintas dari sampul depan kotak tersebut.

Aku hanya melihat sekilas dan tahu pasti itu apa. Teman-teman yang lain tertarik dan ikut mengerubungi Andre. Dengan cepat, Andre membagikan satu-satu isi kotak tersebut ke dalam genggaman tangan teman-temanku. Seketika itu juga mereka menjejalkan batang rokok tersebut ke dalam mulut mereka. Bergaya layaknya sudah pernah menghisap rokok. Aku menyeringai, dengan cepat kuambil pemantik api dari dalam tas. Menyalakan ujung gulungan tembakau tersebut dengan luwes. Teman-temanku melongo.

“Abi, kamu sudah pernah pakai?” Aku mengedikkan bahu acuh tak acuh, malas membalas ucapan mereka. Kuhembuskan nafas perlahan, asap putih perlahan keluar dari mulutku. Aku menyelempangkan tas di bahu, mengangguk sedikit ke arah Andre sebagai ucapan terima kasih.

Aku pergi meninggalkan teman-teman menuju rumah. Tidak mengherankan jika aku tahu cara merokok. Semenjak bercerai, Ayah mulai merokok kembali. Kebiasaan lamanya sebelum bertemu dengan Ibu. Bagiku rokok bukanlah hal baru.

__

                Umurku sekarang 22 tahun. Aku hanya bisa diterima di universitas seni karena nilaiku yang pas-pasan semasa SMA. Hari itu, aku memutuskan untuk mengerjakan tugas kuliah di taman karena kepalaku mumet memikirkan ide apa yang bagus untuk lukisanku. Kuusap rambutku perlahan namun sama sekali belum ada ide yang muncul. Kukeluarkan sebatang rokok dari kotaknya. Rokok sudah menjadi teman karibku saat aku sedang stres.

Baru sekali kuhisap dan kuhembuskan asap dari batang rokok itu. Ketika jemari lentik dan cekatan mengambil rokok tersebut dari tanganku. Dengan cepat gadis itu menghentakkan rokok tersebut ke tanah dan menginjaknya dengan keras.

Aku terpana kaget. Gadis itu tinggi semampai, mengenakan baju kasual dan topi di kepalanya. Wajahnya manis namun terlihat agak kesal karena melihatku merokok. Wait, kenapa dia yang kesal harusnya yang kesal itu aku.

“Abang… merokok itu ndak baik lho, apalagi di tempat umum. Bikin polusi! Kasihan juga orang-orang yang tidak merokok bisa kena imbasnya juga karena menghirup asap rokok Abang. Lagian, apa bagusnya sih merokok. Padahal banyak efek buruknya untuk kesehatan diri sendiri.” Tegas dan sedikit ketus gadis itu menasehati tindakanku.

“Ohh… gitu ya..” Aku tergelitik untuk menggoda gadis itu. Ada rasa familiar ketika aku melihat gadis itu. Tapi aku sendiri juga tidak mengerti kenapa rasa itu muncul.

Gadis itu meraih kotak rokok yang terserak di antara barang-barangku. “Iyalah, rokok itu bisa menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dll. Padahal tertulis jelas lho di bungkusnya.”

“Well ok, aku tahu. Tapi aku punya alasan tersendiri untuk merokok.” Aku merebut kembali kotak tersebut dari tangannya. Gadis itu geleng-geleng kepala dan berjalan ke arah bangku di seberang bangku tempat aku duduk.

Gadis itu mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Ia mulai menuliskan sesuatu di bukunya. Sepertinya dia sedang mengerjakan tugas sekolah. Aku perhatikan gadis itu sekali lagi, sinar matahari senja menelisip dari balik dedaunan menerpa wajah manisnya. Aku tersenyum kecil dan segera bergerak mencoretkan kuasku di kanvas. Bergegas aku menyelesaikan gambar itu sebelum pemandangan di depanku lenyap.

Sesekali angin menyibak rambut gadis itu, memperlihatkan lehernya. Sekilas aku melihat tanda lahir di sana. Aku merampungkan gambarku ketika gadis itu melihat jam tangan yang melingkar di tangannya dan terkesiap. Gadis itu membereskan semua barangnya. Ia melirik ke arahku, otomatis aku melambaikan tangan ke arahnya. Gadis itu melengos dan berlari meninggalkan taman. Aku masih sempat melihat lagi tanda lahir di lehernya karena angin masih sempatnya bermain dengan rambut gadis itu.

Aku pun bergegas membereskan barang-barangku. Aku masih terkikik geli mengingat wajah marah gadis itu saat melihatku merokok. Namun tak lama kemudian badanku membeku karena menyadari sesuatu. Tanda lahir itu, tidak salah lagi.

Aku berlari ke arah luar taman, berusaha mencari sosok gadis itu. Jejaknya tidak dapat kutemukan di mana pun. Aku berlari kesana kemari dan hasilnya tetap nihil. Dengan badan lelah, aku kembali ke tempat di mana barang-barangku tertinggal. Kuambil kanvas yang baru saja kuselesaikan senja ini. Kupandangi lekat-lekat wajah gadis itu. Tidak salah lagi, gadis itu adalah Caca.

__

                Aku berlari cepat ke arah motorku, Ayah baru saja mengirim pesan yang membuat wajahku pucat pasi. Kuarahkan motorku ke arah Rumah Sakit Sanjaya. Tidak kugubris para perawat yang melarangku berlarian di koridor. Kubuka perlahan pintu bangsal 105, kulihat Ayah dan Ibu yang menangis sesenggukan di samping tempat tidur. Gadis yang sama kutemui di taman sekarang terbaring lemah di kasur. Kabel-kabel ventilator terhubung dengan tubuh gadis itu.

Ibu mendekapku erat, ini adalah pertemuan pertamaku dengan Ibu setelah kami berpisah lama. Mataku nanar menatap wajah gadis itu. Aku tersedu, tak percaya atas apa yang kulihat. “Apa yang terjadi?”

Ibu menjelaskan kehidupannya bersama Caca selama dua belas tahun ini. Setelah usaha Ibu bangkrut, awalnya Ibu hanya bekerja serabutan dari satu tempat ke tempat lain. Tidak mudah mencari pekerjaan dikarenakan persaingan yang ketat di ranah pekerjaan dan sertifikat pendidikan yang membatasi Ibu. Ketika ada lowongan pekerjaan sebagai karyawan pabrik rokok dengan gaji lebih besar maka gayung bersambut, Ibu mengambil pekerjaan tersebut. Ibu harus puas hanya tinggal di rumah kecil dengan lingkungan yang dipenuhi asap rokok. Kurangnya informasi, rendahnya kesadaran akan kesehatan, sekaligus karyawan pabrik banyak yang merokok pula sehingga tak mengherankan apabila lingkungan sekitar Caca sangat tidak sehat. Caca divonis kanker paru-paru dua tahun yang lalu. Keadaan Caca sekarang sedang kritis, kankernya sudah memasuki tahap akhir stadium 3.

Aku mendengarkan cerita Ibu hingga selesai, masih tak percaya dengan apa yang terjadi dengan adik kecilku itu. Kugenggam jemarinya yang kemarin merebut rokok dari tanganku. Aku menangis tertahan sembari mendekatkan mulut dan berbisik pelan, “Ca… kakak disini, lekas sembuh ya.”

Tidak ada reaksi apa-apa dari tubuhnya, tidak berbekas sedikitpun semangat yang kulihat saat ia menasehatiku di taman. Aku bermalam di rumah sakit, kusuruh Ayah dan Ibu pulang karena keduanya terlihat lelah. Tepat tengah malam, jemari Caca bergerak perlahan membuatku terbangun. Senyum kecil tersungging di bibirnya. “Hai, Kak Obi…” Ia masih memanggilku dengan panggilan yang sama.

“Ca… gimana perasaanmu? Apa ada yang sakit? Kalo ada yang sakit bilang yaa… Kakak panggilkan Dokter yang jaga.” Mataku bergerak memeriksa keadaan Caca. Kepalanya menggeleng perlahan, Caca mengisyaratkanku mendekat. Kudekatkan kepalaku supaya lebih mudah untuknya berbicara.

“Masih merokok?” Kudengar sayup pertanyaan itu bergulir. Aku terkesima, adikku mengenali diriku dari awal di mana pertemuan itu merupakan yang pertama sejak kita terpisah. Aku menggeleng berusaha meyakinkan dirinya, sejak bertemu dengannya di taman aku sudah berhenti merokok. Terlihat wajahnya yang lega. Caca  memejamkan mata karena lelah, kuusap keningnya perlahan. Caca membuka matanya sedikit dan kembali berbisik lirih, “Kak Obi, makasih untuk segalanya…”

Aku menggeleng pelan, mengisyaratkan padanya untuk beristirahat. Caca, kamu harus sembuh.

Aku memanggil dokter untuk mengecek Caca. Ketika aku kembali bersama dokter, aku menyadari garis lurus dari monitor. Jantungku berdegup kencang, dokter bergegas mengecek Caca. Aku terduduk di ruang tunggu sambil mengirim pesan kilat kepada orang tuaku. Melihat dari jauh, dokter dan suster yang berusaha menolong adikku. Tak lama dokter keluar dan menepuk bahuku. Dokter meminta maaf kepadaku, aku menggeleng dan mengucap terima kasih atas usahanya. Kuhampiri tubuh adikku dan kutatap wajahnya untuk terakhir kalinya. Hangat. Air mata bergulir membasahi pipiku.

               My Dear, maafkan aku karena gagal melindungimu lagi. Dik, akan Kakak perjuangkan supaya tidak ada lagi korban karena rokok sepertimu.

 

Dian Islamiati

Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021