Bertempat di Aula Pertemuan Masjid A’zham Haram Sayidah Maksumah sa di kota Qom Republik Islam Iran, Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran kembali menggelar acara buka puasa bersama pada Rabu (15/5). Bertepatan dengan malam ke sepuluh Ramadhan yang dalam literatur sejarah Islam disebutkan merupakan malam wafatnya Sayidah Khadijah al Kubra sa, istri Rasulullah saw kajian jelang buka puasa IPI Iran mengambil tema, “Menuai Hikmah Ramadhan: Belajar dari Ketegaran Sayidah Khadijah sa”. Kajian diantarkan oleh Ustad H. Hendar Yusuf MA.

Diawal penyampaiannya, Ustad Hendar mengatakan, “Empat perempuan yang agung, yang diprioritaskan Allah swt dari semua perempuan yang ada, yaitu Sayidah Maryam, Asiyah istri Firaun, Khadijah binti Khuwailid dan Sayidah Fatimah. Dengan masuknya Sayidah Khadijah dalam list perempuan-perempuan terbaik ini maka ketinggian derajat beliau tidak dapat dipungkiri.” Lebih lanjut, mahasiswa Doktoral program Tafsir Alquran Universitas Internasional al-Mustafa Qom tersebut menguruai alasan dibalik ketinggian derajat Sayidah Khadijah. Ia berkata, “Pertama, cukup bagi Khadijah Kubra satu kemuliaan, di atas kemuliaan sebagaimana yang terungkap dalam satu pernyataan, yaitu ketika Islam tidak akan tangguh di awal penyebarannya, kecuali melalui harta yang dimiliki Khadijah dan pedang Ali as.”

“Dalam ayat ke 8 dari surah ad-Dhuha, dan kami dapati engkau ya Muhammad, sebagai orang tidak memiliki apa-apa, dan kemudian berikan kau kecukupan. Maksudnya disini, Allah swt kemudian memberikan kepada Nabi Muhammad saw yang papa sebuah dukungan finansial, berupa harta dari Sayidah Khadijah. Ini adalah peran yang sangat tinggi.” Tambahnya.  

“Peran kedua, Sayidah Khadijah adalah menjadi pendamping dan pendukung dakwah Nabi Muhammad saw. Ketika Nabi saw pulang dalam keadaan letih, Sayidah Khadijahlah yang kemudian menghilangkan keletihan itu, dengan kecintaan dan perhatiannya. Ialah yang pertama yang masuk Islam, ketika suaminya diangkat menjadi Nabi. Dan tidak cukup dengan itu, ia kerahkan seluruh perhatian, waktu, tenaga dan hartanya untuk membantu Nabi Muhammad saw dalam mendakwahkan Islam yang saat itu mendapat penolakan luar biasa dari penduduk Mekah.” Lanjutnya lagi.

Hendar Yusuf juga menyebutkan sejumlah poin lainnya yang menurutnya membuat Allah swt memberikan keistimewaan luar biasa kepada Sayidah Khadijah. “Diantara keistimewaan yang diberikan Allah adalah, kain kafan yang digunakan untuk membungkus jasad suci Sayidah Khadijah didatangkan dari surga. Ini menunjukkan ketinggian derajat Sayidah Khadijah sebagai balasan dari keistiqamahannya.”  

 

Di bagian akhir penyampaian nya, Ustad Hendar mengingatkan, “Dengan mengenang Sayidah Khadijah, maka kita seharusnya tidak mengeluh atau merasa telah banyak berjasa pada Islam. Sebab apa yang telah kita berikan kepada Islam belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang telah dipersembahkan Ummul Mukminin Sayidah Khadijah sa.” Ia lebih lanjut memesankan, untuk menjadikan Sayidah Khadijah sebagai figur teladan, bukan hanya bagi kaum perempuan, namun juga bagi kaum laki-laki.

Hadir kurang lebih 80 pelajar dan mahasiswa Indonesia dalam acara kajian jelang buka puasa bersama tersebut. Kajian yang diantarkan Ustad H. Hendar Yusuf, MA tersebut juga diikuti  puluhan netizen melalui siaran live di IG @ipiiran. Seusai pengajian, acara dilanjutkan dengan salat maghrib berjamaah dan buka puasa bersama.