“Bulan suci Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keutamaan, karena pada bulan ini, kita semua menjadi tamu-tamu Allah. Tentu saja, sejak kita lahir, kita sudah menjadi tamu Allah dan menerima banyak keutamaan yang tidak terhitung jumlahnya setiap harinya, namun ketika memasuki bulan suci Ramadhan rahmat Allah menjadi berlipat ganda, ampunan-Nya dibuka selebar-lebarnya, bahkan pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup bahkan syaitan-syaitan dirantai atau dibelenggu.”

Demikian penyampaian Dr. Marzuki Amin, MA mengawali Kajian Menjelang Buka Puasa yang diadakan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran, Selasa (7/5) di kota Qom, Iran.

Lebih lanjut, alumni Universitas Internasional al-Mustafa Iran yang baru saja menyelesaikan studi S3 nya dibidang Tafsir Alquran tersebut mengatakan, “Bulan Ramadhan juga disebut dengan Syahrul Rabi’ul Qur’an karena Alquran diturunkan pada bulan Ramadhan. Disebut Rabi’ul Qur’an, yaitu bulan seminya Alquran, sebab sebagaimana kita melihat dibanyak negara-negara muslim, dan disetiap tempat yang ada muslimnya, ramai mereka membaca dan mengkaji Alquran, yang pemandangan-pemandangan sesemarak seperti itu tidak kita ketemui diluar bulan Ramadhan.”

“Juga disebut Syahrul Ibadah, yaitu ibadah dibulan Ramadhan ini harus kita tingkatkan baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Dan disebut juga bulan Tarbiyaturruh atau tarbiyatunnafs,atau bulan tazkiyatunnafs, yaitu menjadi kesempatan bagi kita untuk membersihkan jiwa kita. Karena pada bulan ini, kesempatan lebih banyak dan lebih besar dari bulan-bulan lainnya.” Tambahnya lagi.

Lebih lanjut Marzuki Amin menjelaskan mengenai tazkiyah. “Tazkiyah memiliki dua dimensi makna. Yaitu Takhalli,  mengosongkan. Yaitu hati kita kosongkan dari sifat-sifat buruk, seperti hasud, takabur dan sebagainya. Kemudian dimensi lainnya adalah tahalli, menghiasi. Yaitu setelah hati kita kosong dari karakter dan sifat yang buruk, kita mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji. Takhalli dan tahalli ini terkandung dalam kalimat at-Tazkiyah.” Jelasnya.

Terkait bagaimana memaksimalkan amalan agar meraih pahala sebanyak-banyaknya di bulan Ramadhan, Dengan menukil riwayat dari Imam Jakfar Shadiq, Ustad Marzuki mengatakan, “Jika engkau hendak berpuasa, berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu, kulitmu, kakimu, tannganmu dan seluruh anggota tubuhmu, bahkan juga hatimu. Jangan sampai apa yang kau lakukan di bulan Ramahdan sama dengan di hari-hari biasa.”

“Jadi maksudnya, hati, tangan, pendengaran semuanya harus ikut berpuasa. Pendengaran juga harus berpuasa maksudnya menghindarkan diri dari mendengarkan hal-hal yang diharamkan dan yang dimakruhkan. Menahan diri dari melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.” Tambahnya.

Pada bagian lain penyampaiannya, Ustad Marzuki Amin menjelaskan lebih detail mengenai puasa. Ia mengatakan, “Puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Hal yang membatalkan ada dua hal, yaitu yang bersifat materi atau terkait dengan perbuatan anggota tubuh. seperti makan, minum dan jima’. Dan ada pula yang membatalkan yang bersifat maknawiah, yaitu terkait dengan perbuatan hati, contohnya seperti riya. Yaitu melakukan amalan puasanya bukan karena Allah, tapi karena ingin mendapatkan pujian dan sanjungan manusia.”

“Karena itu, untuk dapat terkabulnya suatu amalan, harus memenuhi dua syarat. Yaitu husnul fi’li, yaitu baik perbuatannya. Yang kedua, husnul fa’il, yaitu baik pelakunya.  Husnul fi’li, terkait dengan fikih dan ahkam. Bahwa amalan yang dilakukan harus sesuai dengan syariat, sementara husnul fa’il terkait dengan pelakunya harus baik, misalnya tidak riya. JIka suatu amalan seperti puasa memenuhi husnul fi’li, yaitu puasanya dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan fikih dan memenuhi husnul fa’il, yaitu pelakunya baik dengan memiliki kelurusan niat karena Allah Ta’ala, maka amalan puasanya akan diterima. Namun jika sebaliknya tidak memiliki satu-satunya apalagi keduanya, maka amalan yang dilakukan akan tertolak.” Jelasnya.

“Maka untuk memaksimalkan amalan di bulan Ramadhan untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya maka harus memperhatikan kedua hal tersebut. Karena itu pula dikenal dua syarat dalam ibadah, yaitu syartu shihah, dan syartu qabul. Setiap syartu qabul terpenuhi maka pasti syartu shihah sebelumnya telah terpenuhi, namun tidak semua syartu shihah akan berarti syartu qabul terpenuhi. Syartu shihah adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dikatakan amalan itu sah, seperti berpuasa syaratnya harus dilakukan oleh yang telah baligh, memiliki qudrah (kemampuan), mengilmui hal-hal yang membatalkan puasa dan menghindarinya dan seterusnya. Sementara Syartu qabul, syarat dikabulkan atau diterimanya sebuah amalan, seperti puasa baru diterima jika dilakukan sesuai kaidah fikih dan yang melakukannya niat hanya karena Allah swt.” Jelasnya lebih lanjut.

Dibagian akhir penyampaiannya, ustad Marzuki menyampaikan ada tiga tingkatan berpuasa, yaitu shaumul umum, puasanya orang awam yaitu hanya dapat mengekang syahwat tapi tidak meninggalkan dosa, sekedar mengugurkan kewajiban. Yang kedua, shaumul khusus, puasanya orang khusus, mengekang syahwat sambil meninggalkan maksiat pandangan mata, pendengaran,llisan, kaki, tangan sampai maksiat hati, ini dapat meningkatkan takwa dan dapat mencapai pahala. Dan yang ketiga, Shaumul khususil khusus, yaitu puasanya orang khusus, yaitu dilakukan dengan mengosongkan semua kehendak dan khayalan kecuali zikir kepada Allah.

“Pada tingkatan ketiga ini, sama sekali tidak memikirkan materi. Yang membatalkan puasa bukan makan minum, tapi yang membatalkan adalah ketika ia lalai dari mengingat Allah. Hasil dari puasa ini, kehendaknya ambisinya hanya karena Allah, selain Allah dia tolak semuanya.” Ungkap Ustad Marzuki mengakhiri kajiannya.

Hadir kurang lebih 30 mahasiswa dalam kajian dengan materi “Tips Memaksimalkan Meraih Pahala di Bulan Suci” yang berlangsung selama 45 menit menjelang buka puasa tersebut. Acara yang dimoderatori oleh Sayid Muhammad Mahdi Alatas tersebut juga disiarkan secara live melalui akun instagram @ipiiran. Rangkaian acara selanjutnya adalah buka puasa bersama dan salat maghrib berjamaah.