Hidup dan Batangan Rokok – Cerpen

Hidup dan Batangan Rokok – Cerpen

                Kerlip bintang menemani senyapnya malam, seorang pemuda tertunduk lesu di bawah sinar rembulan. Wajah yang tak bersemangat dan sorot mata yang penuh penyelasan tertera jelas. Hembusan nafasnya sesekali terdengar

                “My dear… maafkan aku karena tidak bisa melindungi dirimu.” Pelan terdengar sepatah kata dari mulut pemuda itu, diikuti dengan bulir air mata membasahi pipi. Pemuda itu kembali ke dalam bangsal rumah sakit sambil terseok.

_

                Sudah beberapa bulan berlalu, semenjak percekcokan antara Ayah dan Ibu berlangsung. Suasana rumah pun tak pernah sama lagi. Kepulangan Ayah kali ini pun juga tak disambut oleh Ibu. Hanya adikku saja yang masih antusias menyambut kedatangan Ayah.

“Ayah… bawa oleh-oleh apa hari ini?” Tangan mungil melingkari kaki Ayahku, segera Ayah menggendong Caca.

“Caca Sayang, iya Ayah bawa oleh-oleh. Sabar ya… nanti Ayah beri. Ayah mau istirahat dulu.” Sembari meletakkan Caca di kursi, Ayah menarik koper hendak ke kamar. Ibu berdiri tak jauh dari ambang pintu, wajahnya sama sekali tidak suka melihat Ayah menggendong Caca.

“Dari mana?” Pertanyaan tajam itu Ibu tujukan pada Ayah, kedua tangan Ibu menyilang di depan dada. Ayah menghembuskan nafas panjang sambil menatap mata Ibu.

“Bandung Ma… Ada proyek di sana.” Ayah sibuk mengeluarkan barang-barang dari koper.

“Jangan bohong, kamu!! Kamu main sama wanita lain kan!” Teriak Ibu dan menantang mata Ayah lekat-lekat. Oh no.. they fight sooner after meeting with each other again.

Tergesa, aku meraih Caca dalam dekapan dan menutup telinganya. Gadis kecil itu tidak perlu tahu apa yang sedang terjadi. Senyuman kecil ditujukannya padaku. “Kak Obi, main di taman yuk…” Panggilan kesayangannya untukku.

Aku mengusap pelan rambutnya dan kubalas ajakannya dengan anggukan. Adikku yang malang…

__

                Sejak insiden terakhir, Ayah dan Ibu memutuskan untuk berpisah. Aku sudah memperkirakan hal itulah yang bakal terjadi. Ayah memiliki hak asuhku dan Ibu memiliki hak asuh Caca. Waktu itu kulihat wajah mungil Caca yang tidak tahu apa-apa tersenyum ke arahku. Kudekap erat gadis mungil, adikku tercinta itu. Maafkan Kakak… kakak tidak bisa melindungi Caca dengan baik.

Sudah lima tahun berlalu semenjak perceraian kedua orang tuaku. Aku sama sekali belum pernah mendengar kabar tentang Ibu maupun Caca. Ayah memutus semua hubungan dengan Ibu. Tak hanya itu, Ayah juga melarangku menemui Caca dan Ibu. Sejak itu, aku juga tak peduli dengan Ayah. Nilai-nilaiku merosot, aku pun mulai bergaul dengan anak-anak nakal di sekolah. Hari itu, sepulang sekolah seperti biasanya aku dan teman-teman berkumpul di warung kopi dekat sekolah.

“Hei… temen-temen, lihat nih aku punya barang bagus!!” Andre melambaikan tangan yang menggenggam sebuah kotak berwarna merah. Sekilas, aku bisa melihat gambar gudang dan rel yang melintas dari sampul depan kotak tersebut.

Aku hanya melihat sekilas dan tahu pasti itu apa. Teman-teman yang lain tertarik dan ikut mengerubungi Andre. Dengan cepat, Andre membagikan satu-satu isi kotak tersebut ke dalam genggaman tangan teman-temanku. Seketika itu juga mereka menjejalkan batang rokok tersebut ke dalam mulut mereka. Bergaya layaknya sudah pernah menghisap rokok. Aku menyeringai, dengan cepat kuambil pemantik api dari dalam tas. Menyalakan ujung gulungan tembakau tersebut dengan luwes. Teman-temanku melongo.

“Abi, kamu sudah pernah pakai?” Aku mengedikkan bahu acuh tak acuh, malas membalas ucapan mereka. Kuhembuskan nafas perlahan, asap putih perlahan keluar dari mulutku. Aku menyelempangkan tas di bahu, mengangguk sedikit ke arah Andre sebagai ucapan terima kasih.

Aku pergi meninggalkan teman-teman menuju rumah. Tidak mengherankan jika aku tahu cara merokok. Semenjak bercerai, Ayah mulai merokok kembali. Kebiasaan lamanya sebelum bertemu dengan Ibu. Bagiku rokok bukanlah hal baru.

__

                Umurku sekarang 22 tahun. Aku hanya bisa diterima di universitas seni karena nilaiku yang pas-pasan semasa SMA. Hari itu, aku memutuskan untuk mengerjakan tugas kuliah di taman karena kepalaku mumet memikirkan ide apa yang bagus untuk lukisanku. Kuusap rambutku perlahan namun sama sekali belum ada ide yang muncul. Kukeluarkan sebatang rokok dari kotaknya. Rokok sudah menjadi teman karibku saat aku sedang stres.

Baru sekali kuhisap dan kuhembuskan asap dari batang rokok itu. Ketika jemari lentik dan cekatan mengambil rokok tersebut dari tanganku. Dengan cepat gadis itu menghentakkan rokok tersebut ke tanah dan menginjaknya dengan keras.

Aku terpana kaget. Gadis itu tinggi semampai, mengenakan baju kasual dan topi di kepalanya. Wajahnya manis namun terlihat agak kesal karena melihatku merokok. Wait, kenapa dia yang kesal harusnya yang kesal itu aku.

“Abang… merokok itu ndak baik lho, apalagi di tempat umum. Bikin polusi! Kasihan juga orang-orang yang tidak merokok bisa kena imbasnya juga karena menghirup asap rokok Abang. Lagian, apa bagusnya sih merokok. Padahal banyak efek buruknya untuk kesehatan diri sendiri.” Tegas dan sedikit ketus gadis itu menasehati tindakanku.

“Ohh… gitu ya..” Aku tergelitik untuk menggoda gadis itu. Ada rasa familiar ketika aku melihat gadis itu. Tapi aku sendiri juga tidak mengerti kenapa rasa itu muncul.

Gadis itu meraih kotak rokok yang terserak di antara barang-barangku. “Iyalah, rokok itu bisa menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dll. Padahal tertulis jelas lho di bungkusnya.”

“Well ok, aku tahu. Tapi aku punya alasan tersendiri untuk merokok.” Aku merebut kembali kotak tersebut dari tangannya. Gadis itu geleng-geleng kepala dan berjalan ke arah bangku di seberang bangku tempat aku duduk.

Gadis itu mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Ia mulai menuliskan sesuatu di bukunya. Sepertinya dia sedang mengerjakan tugas sekolah. Aku perhatikan gadis itu sekali lagi, sinar matahari senja menelisip dari balik dedaunan menerpa wajah manisnya. Aku tersenyum kecil dan segera bergerak mencoretkan kuasku di kanvas. Bergegas aku menyelesaikan gambar itu sebelum pemandangan di depanku lenyap.

Sesekali angin menyibak rambut gadis itu, memperlihatkan lehernya. Sekilas aku melihat tanda lahir di sana. Aku merampungkan gambarku ketika gadis itu melihat jam tangan yang melingkar di tangannya dan terkesiap. Gadis itu membereskan semua barangnya. Ia melirik ke arahku, otomatis aku melambaikan tangan ke arahnya. Gadis itu melengos dan berlari meninggalkan taman. Aku masih sempat melihat lagi tanda lahir di lehernya karena angin masih sempatnya bermain dengan rambut gadis itu.

Aku pun bergegas membereskan barang-barangku. Aku masih terkikik geli mengingat wajah marah gadis itu saat melihatku merokok. Namun tak lama kemudian badanku membeku karena menyadari sesuatu. Tanda lahir itu, tidak salah lagi.

Aku berlari ke arah luar taman, berusaha mencari sosok gadis itu. Jejaknya tidak dapat kutemukan di mana pun. Aku berlari kesana kemari dan hasilnya tetap nihil. Dengan badan lelah, aku kembali ke tempat di mana barang-barangku tertinggal. Kuambil kanvas yang baru saja kuselesaikan senja ini. Kupandangi lekat-lekat wajah gadis itu. Tidak salah lagi, gadis itu adalah Caca.

__

                Aku berlari cepat ke arah motorku, Ayah baru saja mengirim pesan yang membuat wajahku pucat pasi. Kuarahkan motorku ke arah Rumah Sakit Sanjaya. Tidak kugubris para perawat yang melarangku berlarian di koridor. Kubuka perlahan pintu bangsal 105, kulihat Ayah dan Ibu yang menangis sesenggukan di samping tempat tidur. Gadis yang sama kutemui di taman sekarang terbaring lemah di kasur. Kabel-kabel ventilator terhubung dengan tubuh gadis itu.

Ibu mendekapku erat, ini adalah pertemuan pertamaku dengan Ibu setelah kami berpisah lama. Mataku nanar menatap wajah gadis itu. Aku tersedu, tak percaya atas apa yang kulihat. “Apa yang terjadi?”

Ibu menjelaskan kehidupannya bersama Caca selama dua belas tahun ini. Setelah usaha Ibu bangkrut, awalnya Ibu hanya bekerja serabutan dari satu tempat ke tempat lain. Tidak mudah mencari pekerjaan dikarenakan persaingan yang ketat di ranah pekerjaan dan sertifikat pendidikan yang membatasi Ibu. Ketika ada lowongan pekerjaan sebagai karyawan pabrik rokok dengan gaji lebih besar maka gayung bersambut, Ibu mengambil pekerjaan tersebut. Ibu harus puas hanya tinggal di rumah kecil dengan lingkungan yang dipenuhi asap rokok. Kurangnya informasi, rendahnya kesadaran akan kesehatan, sekaligus karyawan pabrik banyak yang merokok pula sehingga tak mengherankan apabila lingkungan sekitar Caca sangat tidak sehat. Caca divonis kanker paru-paru dua tahun yang lalu. Keadaan Caca sekarang sedang kritis, kankernya sudah memasuki tahap akhir stadium 3.

Aku mendengarkan cerita Ibu hingga selesai, masih tak percaya dengan apa yang terjadi dengan adik kecilku itu. Kugenggam jemarinya yang kemarin merebut rokok dari tanganku. Aku menangis tertahan sembari mendekatkan mulut dan berbisik pelan, “Ca… kakak disini, lekas sembuh ya.”

Tidak ada reaksi apa-apa dari tubuhnya, tidak berbekas sedikitpun semangat yang kulihat saat ia menasehatiku di taman. Aku bermalam di rumah sakit, kusuruh Ayah dan Ibu pulang karena keduanya terlihat lelah. Tepat tengah malam, jemari Caca bergerak perlahan membuatku terbangun. Senyum kecil tersungging di bibirnya. “Hai, Kak Obi…” Ia masih memanggilku dengan panggilan yang sama.

“Ca… gimana perasaanmu? Apa ada yang sakit? Kalo ada yang sakit bilang yaa… Kakak panggilkan Dokter yang jaga.” Mataku bergerak memeriksa keadaan Caca. Kepalanya menggeleng perlahan, Caca mengisyaratkanku mendekat. Kudekatkan kepalaku supaya lebih mudah untuknya berbicara.

“Masih merokok?” Kudengar sayup pertanyaan itu bergulir. Aku terkesima, adikku mengenali diriku dari awal di mana pertemuan itu merupakan yang pertama sejak kita terpisah. Aku menggeleng berusaha meyakinkan dirinya, sejak bertemu dengannya di taman aku sudah berhenti merokok. Terlihat wajahnya yang lega. Caca  memejamkan mata karena lelah, kuusap keningnya perlahan. Caca membuka matanya sedikit dan kembali berbisik lirih, “Kak Obi, makasih untuk segalanya…”

Aku menggeleng pelan, mengisyaratkan padanya untuk beristirahat. Caca, kamu harus sembuh.

Aku memanggil dokter untuk mengecek Caca. Ketika aku kembali bersama dokter, aku menyadari garis lurus dari monitor. Jantungku berdegup kencang, dokter bergegas mengecek Caca. Aku terduduk di ruang tunggu sambil mengirim pesan kilat kepada orang tuaku. Melihat dari jauh, dokter dan suster yang berusaha menolong adikku. Tak lama dokter keluar dan menepuk bahuku. Dokter meminta maaf kepadaku, aku menggeleng dan mengucap terima kasih atas usahanya. Kuhampiri tubuh adikku dan kutatap wajahnya untuk terakhir kalinya. Hangat. Air mata bergulir membasahi pipiku.

               My Dear, maafkan aku karena gagal melindungimu lagi. Dik, akan Kakak perjuangkan supaya tidak ada lagi korban karena rokok sepertimu.

 

Dian Islamiati

Departemen Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

 

Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day)

Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day)

Hari Tanpa Tembakau Sedunia  diperingati di seluruh dunia setiap tahun pada tanggal 31 Mei. Gerakan ini menyerukan para perokok agar tidak merokok (menghisap tembakau) selama 24 jam serentak di seluruh dunia. Hari ini bertujuan untuk menarik perhatian dunia mengenai menyebarluasnya kebiasaan merokok dan dampak buruknya terhadap kesehatan. Diperkirakan kebiasaan merokok setiap tahunnya menyebabkan kematian sebanyak 5,4 juta jiwa. Negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization- WHO) mencetuskan Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini pada tahun 1987. Dalam satu dasawarsa terakhir, gerakan ini menuai reaksi baik berupa dukungan dari pemerintah, aktivis kesehatan, dan organisasi kesehatan masyarakat, ataupun tentangan dari para perokok, petani tembakau, dan industri rokok.

Tembakau itu sendiri mengandung banyak komponen bioaktif yang bermanfaat untuk kesehatan seperti flavonoid dan phenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler, tembakau bisa juga di manfaatkan untuk kehidupan sehari-hari seperti melepas gigitan lintah dan membunuh serangga, obat diabetes dan antibody, anti radang, memelihara kesehatan ternak, penghilang embun, obat luka dan mengandung banyak manfaat lainnya. Tetapi kini, hampir seratus persen pemanfaatan tembakau dijadikan bahan untuk membuat rokok, yang di campur dengan beberapa bahan kimia berbahaya lainnya, malah mengurangi sisi positif tembakau itu sendiri.

Di dalam rokok, tidak hanya tembakau saja yang ada, tetapi juga zat kimia lainnya yang berdampak negative untuk tubuh, seperti :

  • Nikotin, kandungan yang menyebabkan perokok merasa rileks, zat ini juga dapat membuat perokok menjadi kecanduan. Nikotin berasal dari daun tembakau.
  • Tar, bahan kimia yang bersifat karsinogenik (zat pemicu kanker)
  • Benzene, juga dikenal sebagai bensol, senyawa kimia organik yang mudah terbakar dan tidak berwarna.
  • Cadmium, sebuah logam yang sangat beracun dan radioaktif.
  • Metanol(alkohol kayu), alkohol yang paling sederhana yang juga dikenal sebagai metil alkohol.
  • Amonia, dapat ditemukan di mana-mana, tetapi sangat beracun dalam kombinasi dengan unsur-unsur tertentu.
  • Formaldehida, cairan yang sangat beracun yang digunakan untuk mengawetkan mayat.
  • Hidrogen sianida, racun yang digunakan sebagai fumigan untuk membunuh semut. Zat ini juga digunakan sebagai zat pembuat plastik dan pestisida.
  • Arsenik, bahan yang terdapat dalam racun tikus.
  • Karbon monoksida, bahan kimia beracun yang ditemukan dalam asap buangan mobil dan motor.
  • Dan zat kimia lainnya.

Menurut para ahli kesehatan, sebanyak 25% zat berbahaya yang terkandung dalam rokok masuk ke tubuh perokok (di sebut perokok aktif) , sedangkan 75% nya beredar di udara yang bisa di hirup oleh orang-orang di sekitarnya (di sebut perokok pasif, yaitu orang yang tidak merokok tetapi menghirup dampak asap dari perokok aktif). Tentu nya perokok aktif berisiko paling tinggi untuk mengalami penyakit atau bahkan kematian dari dampak merokok di bandingkan peroko pasif karena mendapat efek bahaya dua kali lipat.

Kegiatan merokok atau menghisap tembakau ini, kebanyakan di lakukan oleh para lelaki, namun kini di kalangan perempuan pun banyak menjadi perokok aktif yang malah memiliki efek negative dua kali lipat dari pada laki-laki. Penelitian pada Fakultas Kedokteran Universitas Gajah mada menunjukkan bahwa ibu perokok aktif memiliki bayi yang paling ringan dan pendek dibandingkan ibu perokok pasif, apalagi jika dibandingkan dengan ibu bukan perokok dengan keluarga yang tidak merokok. Selain sebagai perokok pasif, bayi dan balita memiliki risiko terkena paparan Third-hand Smoke (THS) atau paparan tangan ketiga. THS adalah residu dari asap rokok yang menetap pada debu dan permukaan tubuh atau benda-benda lain setelah rokok dimatikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balita yang tinggal dengan perokok memiliki tingkat rasio perbandingan nikotin atau nicotine-derived nitrosamine ketone (NNK) yang lebih tinggi daripada orang dewasa. Dengan kondisi tersebut, bayi dan balita lebih banyak terpapar THS daripada orang dewasa. 100 juta kematian akibat tembakau telah terjadi sepanjang abad ke 20.Tembakau juga penyebab kematian bayi dan janin di seluruh dunia karena orang tua perokok.

Jumlah perokok secara umum berkurang dengan meningkatnya kesejahteraan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) suatu negara. Dengan kata lain, jumlah perokok berkurang seiring dengan bergeraknya suatu negara menjadi negara maju. Di Amerika Serikat, jumlah perokok telah berkurang setengahnya secara persentase sejak tahun 1965, dari 42% menjadi 20.8%. Sedangkan di negara miskin dan negara berkembang, jumlah perokok justru meningkat secara persentase per tahunnya. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization- WHO) memprediksi jumlah perokok di Indonesia sendiri akan meningkat sebanyak 24 juta jiwa dari 2015-2025 mendatang. India dan China, dengan penduduk yang sangat berlimpah dan IPM yang tidak terlalu tinggi menjadikan keduanya pasar bagi rokok dari seluruh dunia. China sendiri telah menjadi produsen rokok terbesar di dunia dengan memproduksi 2.4 triliun batang rokok per tahun atau setara dengan 40% produksi total dunia.

Dari segi sosial, politik, demografi dan kesehatan, tembakau memiliki porsi tersendiri yang sama negatifnya di masing-masing bidang, membuat WHO mencetuskan salah satu hari yang di tetapkan sebagai  hari tanpa tembakau sedunia, sebagai bentuk upaya meningkatkan kesadaran betapa bahayanya merokok.

Sebungkus kotak kecil yang berisi gintingan rokok berharga murah itu mempunyai ranah hubungan luas yang bisa membawa pelakunya pada sebuah tragedi loh! Tak apa bila kau punya uang banyak dan tidak risau membakar uang mu itu, tapi apa kau rela jika membakar hidup mu juga?

Banyak cara untuk melepas penat dan menghilangkan stress tanpa harus merokok. Kita bisa melakukan hal-hal yang kita sukai yang bisa membuat kita rileks dan nyaman. Mari melakukan hal-hal yang kita suka melakukannya tanpa menganggu atau memberi efek negative terhadap orang lain.

Salsabillah Ur Rachman

Ketua Departemen Kajian keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021

 

Referensi :

Kajian Jelang Buka Puasa IPI Iran Peringati Haul Sayidah Khadijah sa

Kajian Jelang Buka Puasa IPI Iran Peringati Haul Sayidah Khadijah sa

Bertempat di Aula Pertemuan Masjid A’zham Haram Sayidah Maksumah sa di kota Qom Republik Islam Iran, Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran kembali menggelar acara buka puasa bersama pada Rabu (15/5). Bertepatan dengan malam ke sepuluh Ramadhan yang dalam literatur sejarah Islam disebutkan merupakan malam wafatnya Sayidah Khadijah al Kubra sa, istri Rasulullah saw kajian jelang buka puasa IPI Iran mengambil tema, “Menuai Hikmah Ramadhan: Belajar dari Ketegaran Sayidah Khadijah sa”. Kajian diantarkan oleh Ustad H. Hendar Yusuf MA.

Diawal penyampaiannya, Ustad Hendar mengatakan, “Empat perempuan yang agung, yang diprioritaskan Allah swt dari semua perempuan yang ada, yaitu Sayidah Maryam, Asiyah istri Firaun, Khadijah binti Khuwailid dan Sayidah Fatimah. Dengan masuknya Sayidah Khadijah dalam list perempuan-perempuan terbaik ini maka ketinggian derajat beliau tidak dapat dipungkiri.” Lebih lanjut, mahasiswa Doktoral program Tafsir Alquran Universitas Internasional al-Mustafa Qom tersebut menguruai alasan dibalik ketinggian derajat Sayidah Khadijah. Ia berkata, “Pertama, cukup bagi Khadijah Kubra satu kemuliaan, di atas kemuliaan sebagaimana yang terungkap dalam satu pernyataan, yaitu ketika Islam tidak akan tangguh di awal penyebarannya, kecuali melalui harta yang dimiliki Khadijah dan pedang Ali as.”

“Dalam ayat ke 8 dari surah ad-Dhuha, dan kami dapati engkau ya Muhammad, sebagai orang tidak memiliki apa-apa, dan kemudian berikan kau kecukupan. Maksudnya disini, Allah swt kemudian memberikan kepada Nabi Muhammad saw yang papa sebuah dukungan finansial, berupa harta dari Sayidah Khadijah. Ini adalah peran yang sangat tinggi.” Tambahnya.  

“Peran kedua, Sayidah Khadijah adalah menjadi pendamping dan pendukung dakwah Nabi Muhammad saw. Ketika Nabi saw pulang dalam keadaan letih, Sayidah Khadijahlah yang kemudian menghilangkan keletihan itu, dengan kecintaan dan perhatiannya. Ialah yang pertama yang masuk Islam, ketika suaminya diangkat menjadi Nabi. Dan tidak cukup dengan itu, ia kerahkan seluruh perhatian, waktu, tenaga dan hartanya untuk membantu Nabi Muhammad saw dalam mendakwahkan Islam yang saat itu mendapat penolakan luar biasa dari penduduk Mekah.” Lanjutnya lagi.

Hendar Yusuf juga menyebutkan sejumlah poin lainnya yang menurutnya membuat Allah swt memberikan keistimewaan luar biasa kepada Sayidah Khadijah. “Diantara keistimewaan yang diberikan Allah adalah, kain kafan yang digunakan untuk membungkus jasad suci Sayidah Khadijah didatangkan dari surga. Ini menunjukkan ketinggian derajat Sayidah Khadijah sebagai balasan dari keistiqamahannya.”  

 

Di bagian akhir penyampaian nya, Ustad Hendar mengingatkan, “Dengan mengenang Sayidah Khadijah, maka kita seharusnya tidak mengeluh atau merasa telah banyak berjasa pada Islam. Sebab apa yang telah kita berikan kepada Islam belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang telah dipersembahkan Ummul Mukminin Sayidah Khadijah sa.” Ia lebih lanjut memesankan, untuk menjadikan Sayidah Khadijah sebagai figur teladan, bukan hanya bagi kaum perempuan, namun juga bagi kaum laki-laki.

Hadir kurang lebih 80 pelajar dan mahasiswa Indonesia dalam acara kajian jelang buka puasa bersama tersebut. Kajian yang diantarkan Ustad H. Hendar Yusuf, MA tersebut juga diikuti  puluhan netizen melalui siaran live di IG @ipiiran. Seusai pengajian, acara dilanjutkan dengan salat maghrib berjamaah dan buka puasa bersama.

Rasionalitas Puasa dan Refleksi Kemanusiaan Kita

Rasionalitas Puasa dan Refleksi Kemanusiaan Kita

Ritual dalam setiap agama memegang peranan penting, terkhusus Islam. Islam dan ritualitas tak bisa terpisahkan. Sistem ritual Islam terangkum dalam aturan fiqh yang terurai secara tekstualis. Begitu eratnya Islam dan fiqh membuat Seorang pemikir Islam garda depan dari Maroko, Dr. Muhammad Abid Al-Jabiri, menyebut peradaban Islam sebagai peradaban fikih. Pernyataan ini tentu ada benarnya. Setidaknya bila ditinjau dari tiga hal berikut; pertama, fikih sangat dekat dengan umat Islam. Dapat dipastikan di setiap rumah umat Islam terdapat kitab fikih. Kitab fikih dianggap menghidangkan suguhan siap saji. Kedua, fikih menjadi pedoman hidup. Dalam setiap permasalahan yang ada, umat Islam selalu menggunakan perspektif fikih. Ketiga, fikih merupakan salah satu warisan ilmu keislaman terkaya. Terdapat sekian ratus, atau bahkan ribuan, kitab fikih. Sebagaimana juga terdapat sekian banyak ulama fikih.

Hanya saja dalam perkembangan selanjutnya Ritual atau aturan fiqh dalam Islam lebih menampakkan wajah dogmatis ketimbang rasionalitasnya. Ada benarnya dalam kaidah hukum Islam (ushul fikih) disebutkan bahwa ibadah adalah cara manusia menghadap Tuhannya. Manusia tidak perlu bertanya kenapa Tuhan mewajibkan, termasuk melalukan kreativitas dan modifikasi tata cara ibadah dengan cara yang mereka inginkan sendiri. Ushul fikih menetapkan bahwa setiap hal yang berhubungan dengan ibadah, umat Islam tinggal mengikuti praktik yang telah dilakukan oleh Nabi Muhamad SAW. Sedangkan dalam bidang sosial (muamalah), kita bebas melakukan rasionalisasi, termasuk ijtihad.

Namun Islam pun harus mampu memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan dan kitikan zaman. Mengapa kita harus berpuasa misalnya, sampai saat ini jawaban yang diberikan cenderung dogmatis, terlalu melangit dan tidak memberi kepuasaan apalagi bagi seorang rasionalis tulen. Apa benar, puasa tidak memiliki sisi rasionalitas, sehingga pengkajian tentangnya melulu dengan pendekatan ketundukan kepada yang gaib? Bagaimana ajaran Islam menjawab tantangan rasionalitas modern ini?

Islam Agama Rasionalitas

Dari pengkajian tentang ritualitas ibadah, kaum agamawan kita cenderung menekankan pentingnya kepasrahan dan penyamanan, melestarikan ketaatan dan ketundukan total yang bersifat turun temurun. Dengan cara ini, orang-orang beriman diposisikan sebagai hamba-hamba, sebagai budak-budak dan Allah adalah majikan (bukan yang Maha Kasih dan Maha Bijaksana). Dan Rasul diposisikan sebagai pemimpin otoriter yang mengeluarkan perintah-perintah ihwal apa yang dilakukan dan mana yang tidak (bukan seorang manusia yang penuh wawasan pengetahuan dan pengalaman yang matang ataupun pemikir yang arif dan cerdas). Ketaatan adalah urusan yang dikerjakan untuk meraup pahala atau ganjaran sebanyak-banyaknya dan bukan sesuatu yang menyebabkan kelapangan hati, keterbukaan pikiran dan pengkhidmatan kepada sebanyak-banyaknya manusia.

Akibatnya, kitapun beribadah secara emosional dan terikat oleh identitas, manut pada kesemarakan ritual-ritual massa. Lihat saja, frekwensi pelaksanaan ibadah yang semakin menurun menjelang akhir-akhir Ramadhan. Sesuatu yang seharusnya dilakukan sebaliknya. Ini menurut hemat saya, disebabkan kurang atau tidak adanya sentuhan rasionalitas dalam ceramah-ceramah dan setiap nasehat keagamaan. Tidak benar manusia hanya perlu pada kenyataan akan adanya rasa manis, asam atau pahit. Manusia adalah makhluk yang punya kerinduan dan hasrat-hasrat terhadap kebenaran dan keyakinan tentang sesuatu. Karena itu kehadiran rasa manis atau apapun akan dibarengi dengan suasana penuh Tanya dan ragu. Semisal, mengapa ini manis? apa yang menyebabkan ia manis? apakah lidah orang lain juga merasakan manis? mengapa ada manis ada pahit? siapakah yang memberinya rasa manis? dan begitu seterusnya sampai datang keyakinan. “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.” (Qs. Al-Hijr :99).

Manusia rasional akan selalu mencari cahaya, menuntut bukti, merindukan keyakinan, mencintai pengetahuan dan kebenaran, senantiasa menggugat dan kritis terhadap keyakinan dia sebelumnya. Dan tuntutan Islam kepada kaum muslimin adalah menjadi manusia-manusia rasional. Bukankah Ibrahim As meminta Allah memberikan bukti kemahakuasaannya dengan menghidupkan burung yang telah mati di hadapannya, dan bukankah pengikut Isa As meminta hidangan dari langit untuk menambah keyakinan mereka bahwa menjadi pengikut agama adalah rasional (baca kisahnya dalam Qs. Al-Maidah : 112-115). Bagi kita ummat Muhammad tidaklah harus sebagaimana ummat-ummat sebelumnya mendapatkan keyakinan. Kita cukup memberikan sentuhan rasional, refleksi pemikiran dari setiap perbuatan-perbuatan yang kita lakukan yang hadir dari keyakinan dan kesadaran diri, bukan sekedar ikut-ikutan dan merasa bangga dengan ketidak tahuan.

Arti puasa bagi manusia rasional bukan sekedar menaati kewajiban ritual keislaman, melainkan lebih sebagai upaya umat Islam agar masuk ke dalam proses besar perbaikan kehidupan individu dan sosial secara revolusioner dan radikal.

Rasionalitas Puasa

Melalui perspektif psikologi perkembangan (development psychology) kita bisa sedikit memberi jawaban rasional mengapa Tuhan menganjurkan kita berpuasa. Dalam psikologi perkembangan dijelaskan bahwa dalam perkembangan kepribadiannya, manusia mengubah-ubah kebutuhannya. Dengan kata lain, kenikmatan manusia berganti-ganti sesuai dengan perkembangan kepribadiannya. Pada tingkat yang masih awal sekali, kebutuhan manusia masih sebatas hal-hal yang konkret atau hal-hal yang berwujud dan kelihatan. Pada tingkat ini, kebutuhan itu memerlukan pemuasan yang segera (immediate grafitification). Mengutip pandangan Sigmund Freud, ada tiga tahap perkembangan kenikmatan dalam diri anak-anak. Semua tahap ini memiliki persamaan. Semuanya bersifat konkret, bisa dilihat, dan sifat pemenuhannya yang sesegera mungkin. Kalau orang itu lapar, ia makan. Ia sesegera memuaskan kebutuhannya pada makanan dan minuman. Di sini Freud melihat letak kenikmatan pada periode paling awal terletak pada mulut. Masa ini disebutnya periode oral. Perkembangan selanjutnya manusia mendapatkan kenikmatan ketika mengeluarkan sesuatu dari tubuh. Seperti ketika seorang anak buang air besar atau buang air kecil. Masa ini disebut periode anal. Pada periode ini seorang anak bisa berlama-lama di toilet. Dia senang melihat tumpukan kotorannya dan kadang-kadang mempermainkannya.

Periode selanjutnya adalah periode genital. Tanda-tandanya adalah kegemaran seorang anak mempermainkan alat kelaminnya dan memperlihatkan kepada orangtuanya. Di sini pandangan Freud ingin menyatakan bahwa pada masa kanak-kanak hanya bersifat fisik, tidak ada kebutuhan spiritual. Namun manusia tidak cukup dengan itu. Hal-hal yang bersifat abstrak setelah kebutuhan fisik terpenuhi pasti menjadi kebutuhan selanjutnya. Semakin dewasa, semakin abstrak kebutuhan manusia. Pada orang-orang tertentu, kepribadiannya itu terhambat dan tidak bisa berkembang. Hambatan kepribadian itu disebut fiksasi. Walaupun sudah masuk kategori dewasa, tetapi dia hanya mencukupkan diri pada kebutuhan makan dan minum. Perbedaannya, dia mengubah makan dan minum itu ke dalam bentuk simbol, misalnya dalam bentuk kepemilikan kekayaan dan jabatan. Dengan melihat gaya hidup manusia modern, kita diperhadapkan oleh banyaknya manusia yang terhambat kepribadiannya. Mereka seperti anak-anak, masih mencari kenikmatan dalam makan minum dan “bermain-main dengan kelaminnya”. Fenomena yang paling mencolok adalah melonjaknya keberadaan bisnis makanan, minuman dan seks, yang menyedot triliunan rupiah, untuk memenuhi kebutuhan anak-anak berusia lanjut.

Manusia yang tidak terhambat perkembangan kepribadiannya adalah mereka yang membutuhkan akan sisi abstrak dari kehidupannya: misalnya, kebutuhan intelektual, kebutuhan akan ilmu pengetahuan, dan informasi, termasuk kebutuhan spiritual. Merujuk pada pemikiran Abraham Moslow dengan konsep piramidanya. Kata Moslow, semakin tinggi bagian piramida, semakin abstrak pula kebutuhan-kebutuhannya.

Sejalan dengan ajaran Islam, kebutuhan abstrak tersebut oleh Dr. Jalaluddin Rahmat disebut al-takamul al-ruhani, proses penyempurnaan spiritual. Itulah tingkat yang paling tinggi dalam kebutuhan manusia. Jadi, puasa bukanlah sisi tradisional yang tidak relevan dengan kehidupan modernitas. Justru dengan memahami sisi fundamental dari kehidupan manusia, puasa memperkenalkan strategi yang baik guna menjawab problematika kehidupan modern yang telah terlalu jauh terjebak dalam kesemarakan bendawi. Inti dari perintah puasa adalah pengendalian diri (self control). Dan pengendalian diri adalah satu ciri dari jiwa yang sehat, jiwa yang dewasa.

Telah lewat beberapa hari  kita berpuasa di bulan ini, adakah tanda-tanda kedewasaan dalam diri kita? atau justru sebaliknya? Ramadhan bukan kita jadikan ruang penyucian jiwa melainkan ruang pemanjaan jiwa. Yang menjadikan masa kanak-kanak kita semakin panjang. Sehingga oleh Gus Dur, majelis di negeri ini yang seharusnya diisi orang yang memiliki kedewasaan matang disebutnya taman kanak-kanak.

Wallahu ‘alam.

Ismail Amin

Presiden IPI Iran 2019-2021

Ramadhan, Bulan Memperkuat Tekad

Ramadhan, Bulan Memperkuat Tekad

Dalam kitab Bihar al Anwar jilid 95, hal. 334 disebutkan, bulan Ramadhan adalah bulan pertama tahun peribadatan. Jika bulan Muharram adalah bulan pertama tahun Hijriah, Januari bulan pertama tahun Masehi, maka Ramadhan adalah bulan pertama tahun peribadatan. Karena itu ditradisikan oleh ulama-ulama untuk mendirikan shalat syukur begitu memasuki awal Ramadhan.

 

Di malam pertama Ramadhan, dalam kitab al Muraqabat disebutkan anjuran untuk membaca surah al Fatihah sementara dalam kitab Mafatihul Jinan disebutkan anjuran untuk mandi khusus menyambut datangnya Ramadhan. Karenanya sebagai awal tahun baru, seorang muslim selayaknya menjadikan awal Ramadhan sebagai waktu yang tepat untuk merencanakan agenda dan target-targetnya sampai satu tahun kemudian, khususnya agenda peribadatan dan targetnya untuk dimasukkan dalam golongan hamba-hamba yang muttaqin.

 

Diantara hikmahnya mengapa Ramadhan dijadikan sebagai awal tahun peribadatan, karena Ramadhan adalah momentum paling krusial untuk memulai segalanya dengan baik mengingat banyaknya fadhilah dan keutamaan-keutamaan yang terkandung di dalamnya. Lewat Ramadhan kita bisa memperkuat tekad dan keinginan untuk menjadi insan-insan yang bertaqwa.

 

Dari sekian masalah yang dihadapi masyarakat modern saat ini diantaranya yang paling pelik adalah lemahnya tekad dan keinginan. Kita sering mendengar ucapan-ucapan seperti: “Saya tahu bahwa akhlak saya kurang baik, namun saya tidak berdaya untuk mengubahnya.” Atau, “Saya tahu berdusta dan menipu itu tidak baik, namun saya tidak bisa juga menghindarinya.” Ataupun, “Saya tahu shalat awal waktu itu jauh lebih utama, namun saya tidak bisa juga melaksanakannya.” Dan ucapan-ucapan serupa lainnya yang menunjukkan betapa kita tidak berdaya dan lemah keinginan untuk menjalankan hal-hal yang kita sadari sendiri itu jauh lebih baik.

 

Bulan Ramadhan adalah bulan untuk memperkuat tekad dan keinginan yang lemah itu. Ibarat base camp Ramadhan mentraining dan menggembleng jiwa kita untuk lebih mudah dan terbiasa melakukan amalan ibadah. Pikirkan, bagaimana bisa selama bulan Ramadhan kita bisa terbangun lebih cepat untuk sahur namun di bulan lain untuk bangun shalat subuh tepat waktu kita mengatakan tidak bisa?. Kalau anda mengatakan tidak bisa untuk tidak merokok sejam saja, lantas mengapa di bulan Ramadhan anda bisa menahan diri sampai 12-13 jam tidak menyentuh rokok sama sekali?. Kalau kita menyatakan sulit untuk shalat berjama’ah, lantas mengapa di malam Ramadhan kita bahkan bisa dengan rutin shalat taraweh berjama’ah?. Kalau dikatakan sulit untuk tidak makan makanan yang haram, lantas mengapa di siang hari bulan Ramadhan yang halal saja kita mampu menahan diri untuk tidak menyantapnya?. Kalau menyatakan diri tidak bisa betah mendengarkan ceramah agama, mengapa malah di bulan Ramadhan kita bisa duduk manis sampai sejam mendengarkan ceramah sang ustad? Kalau kita menyebut diri sangat sibuk sehingga tak sempat untuk bertadarrus, mengapa di bulan Ramadhan selalu saja kita bisa mencuri waktu untuk mengaji barang sejenak?. Kalau kita mengaku belum siap mengenakan busana sesuai syariat mengapa malah di bulan Ramadhan kita dengan bangga mengenakannya?. Kalau selama 30 hari di siang hari Ramadhan kita bisa meninggalkan hal-hal yang hakekatnya halal sekalipun, lantas apa alasan kita tidak bisa menjauhi yang haram setelah bulan Ramadhan?. Kalau di bulan Ramadhan hati kita mudah untuk simpatik dan tersentuh dengan penderitaan dhuafa, lantas apa yang membuat kita begitu saja egois dan enggan berbagi begitu Ramadhan usai?. Selama bulan Ramadhan kita begitu gigih dan seringkali menang atas godaan nafsu lalu mengapa setelah Ramadhan kita pasrah dan menyerah begitu saja dipermainkan nafsu dan syahwat?.

 

Bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi kita memperkuat tekad, mempertebal keinginan untuk menjadi insan yang bertaqwa dan mementahkan alasan-alasan kelemahan, kemalasan dan ketidak sanggupan kita melakukannya. Toh, ternyata Ramadhan menunjukkan dan memberi bukti kita bisa melakukan semua pribadatan itu. Mengapa pasca Ramadhan kita tiba-tiba menyatakan tidak bisa dan tidak mampu padahal kita hanya sekedar melanjutkan apa yang telah kita rintis di bulan Ramadhan?. Sangat naïf, jika kita telah berpayah-payah selama sebulan melakukan semua amalan yang mendekatkan kita kepada Tuhan, lantas setelahnya kita sendiri yang menghancurkannya. Ibarat sekumpulan itik yang berjam-jam mandi dan membersihkan diri di telaga namun setelah itu balik lagi ke comberan.

 

Keutamaan Ramadhan

 

Mengenal ahkam (hukum-hukum) Ramadhan dari awal sampai akhir dengan sedetail-detailnya sangat penting. Sebab keberhasilan dalam menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan bergantung pada pengenalan kita terhadap ahkam Ramadhan. Semisal, apa saja yang merupakan hal-hal yang dapat membatalkan puasa sehingga kita bisa menghindarinya, siapa saja yang diwajibkan berpuasa dan siapa pula yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa, ataupun mengenai tanda-tanda masuknya imsak maupun waktu berbuka puasa. Namun hal yang lebih penting dari itu adalah pengenalan terhadap fadhilah dan keutamaan Ramadhan.

 

Terkadang kita lebih sering merasa cukup dengan mengenal hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa di bulan Ramadhan untuk menjadi modal dan perbekalan kita memasuki Ramadhan dan mengabaikan pengkajian dan pengenalan mengenai keutamaannya. Hal inilah yang kemudian membuat kita bersemangat menjalani puasa dan ibadah-ibadah lainnya di pekan-pekan awal Ramadhan namun menjelang hari-hari Ramadhan kelesuan dan kejemuan sudah mulai menyerang dan akhirnya mencapai titik nadir, beribadah ala kadarnya sembari berharap Ramadhan segera berlalu. Itu karena kurangnya pengenalan terhadap fadhilah Ramadhan. Padahal semakin menjelang akhir Ramadhan keutamaan dan fadhilah beribadah pada hari-hari itu jauh lebih besar dari hari-hari sebelumnya. Terlebih lagi malam Lailatur Qadr diletakkan di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Imam Ali Zainal Abidin As Sajjad as diantara panjatan do’anya di bulan Ramadhan mengatakan, “Alhimnaa Ma’rifata fadhlihi wa ijlalaala hurmatihi, Ya Allah perkenalkanlah kepada kami fadhilah (keutamaan), kemuliaan dan kehormatan bulan ini”. (Doa 44 Sahifah Sajjadiyah hal. 186).

 

Mengapa mengenal keutamaan dan fadhilah bulan Ramadhan jauh lebih utama dan lebih penting?. Sebab dengan mengenal keutamaan-keutamaan yang dimiliki Ramadhan akan menjadi motivasi bagi kita untuk menjalani hari-hari didalamnya dengan penuh gairah dan semangat. Rasulullah Saw bersabda, “Huwa syahrun awwalahu rahmatun, wa austhuhu magfiratun, wa aakhiruhu ‘itqun minannar, bulan Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah maghfirah (pengampunan) dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” (Bihar al Anwar, jilid 93, hal. 342). Dengan mengetahui segala keutamaan itu, kitapun memperkuat tekad untuk tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Kita melakukan berbagai amalan kebajikan sebab kita meyakini Allah SWT memberi balasan kebaikan dan keberkahan berlipat ganda. Kita beristighfar dan memohon ampun sebanyak-banyaknya karena tahu Ramadhan adalah bulan dimana Allah SWT membuka pintu maaf selebar-lebarnya untuk semua hamba-Nya yang mendambakan kembali pada fitrah.

 

Inilah kesempatan emas yang tidak boleh kita biarkan lewat begitu saja. Dan sadarkah kita, mengapa sampai harus sebulan lamanya? Itu karena Allah SWT menghendaki agar amal-amal peribadatan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan itu menjadi kebiasaan dan tradisi kita selanjutnya dalam mengisi 11 bulan berikutnya. Sebulan waktu yang cukup untuk mengeliminasi kebiasaan-kebiasaan jelek kita dan menggantinya dengan kegiatan yang full ibadah, menggerogoti rasa malas kita dan mengisinya dengan ghirah dan semangat.

 

Namun mengapa kebanyakan kita begitu berakhirnya Ramadhan maka petanda usai pula semua aktivitas ibadah itu?. Idul Fitripun kita maknai sebagai hari perayaan terbebas dari tuntutan-tuntutan ibadah. Kitapun total istrahat dari puasa, shalat berjama’ah, tadarrus Al-Qur’an, saling berbagi dan simbol-simbol Islam yang sebelumnya begitu bangga kita kenakan.  Itu karena hakekatnya kita belum menjadi hamba-hamba Allah yang tulus. Kita tanpa sadar malah menjadi hamba Ramadhan. Yang kita sembah bukan Allah melainkan Ramadhan, yang kita semarakkan bukan syiar-syiar Allah melainkan gegap gempita Ramadhan.

 

Kalau benar kita hamba Allah, maka akan terpatri dalam jiwa dan kesadaran kita, bahwa Allah SWT adalah Rabbnya semua bulan-bulan, tanpa terkecuali. “Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Dialah yang kamu hendak sembah.” (Qs. Fushshilat: 37).

 

Ramadhan mendidik kita untuk menjadi hamba Allah SWT, puasa menggembleng kita untuk menjadi manusia yang bertakwa yang maksudnya adalah menyembah dan beribadah hanya padaNya sampai bulan-bulan selanjutnya, sepanjang tahun, sampai habis umur kita.

 

Marhaban ya Syahru Ramadhan…

 

Ismail Amin

Presiden IPI Iran 2019-2021