Pentingnya Memperingati Maulid Nabi Saw

Pentingnya Memperingati Maulid Nabi Saw

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa oleh penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan dan penyayang terhadap orang-orang mu’min. Qs. At-Taubah : 128)

Mencermati kondisi ummat Islam yang secara eksternal mendapatkan serangan dan permusuhan dari musuh-musuhnya dan secara internal teramat rapuh dengan jauhnya mereka dari cahaya risalah kenabian, Shalahuddin Al-Ayyubi (1138-1193 M) pahlawan legendaris Muslim dalam Perang Salib mencetuskan ide Peringatan Hari Kelahiran Nabi Saw. Hal itu menjadikannya sebagai wasilah yang dapat mengobarkan kembali kecintaan kepada agama, meneriakkan kebenaran Ilahi yang tampak senyap, menyulut api spritualitas yang sempat meredup sekaligus merajut kembali secara rapi tali ukhuwah yang  kusut dan bercerai berai.

Dengan mengingat kembali keteladanan yang dicontohkan Rasululullah Saw dalam berbagai aspek kehidupan. Dan hasilnya, ternyata memuaskan, semangat jihad berkobar,  api spritualitas menyala terang, ukhuwah terjalin dan ummat Islam yang diambang kehancuran berbalik arah ditaburi kemenangan dan sejarah keagungan yang tak terlupakan.

Lewat peringatan maulid yang berhasil menggelorakan kembali semangat pantang hina umat Islam, pasukan Shalahudin Al Ayyubi  berhasil memukul mundur tentara gabungan salib dari Eropa yang dikomandani  Raja Inggris Richard Lion Heart dan merebut kembali Palestina dan Masjidil Aqsha dari genggaman para penjajah.

Karenanya, jika kita di bulan ini memperingati Maulid Nabi Saw, hendaknya termotivasi sebagaimana Shalahuddin Al Ayyubi melakukannya, yaitu untuk  membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat ini.

Terlebih lagi, bumi Palestina dan Masjid al Aqsha kembali dalam penguasaan kaum kuffar. Momentum peringatan kelahiran Nabi mestinya menjadi media pemersatu ummat bukan malah menjadi ajang salih berselisih.

Hukum Maulid

Meskipun di negeri ini secara resmi hari Maulid Nabi ditetapkan sebagai hari besar keagamaan, kita tidak bisa memungkiri keberadaan kelompok Islam yang enggan untuk turut memperingatinya. Keengganan itu patut kita apresiasi sebagai bentuk kecintaan juga.

Sebab keengganan mereka dikhawatirkan bahwa perbuatan tersebut terkategorikan bid’ah yang dilarang Islam. Atau minimal menyerupai perayaan kelompok Nashrani yang memperingati kelahiran Yesus Kristus. Sebab Nabi Saw telah mewanti-wanti, “Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dalam golongan kaum itu” (Sunan abu Dawud Juz 4/78). Tentu pendapat tersebut patut dihargai, bukan dijadikan dalih untuk saling bermusuhan dan berpecah belah.

Namun tetap patut diketahui, setidaknya oleh dua ulama besar Islam, Syaikh Ibnu Hajar al Atsqalani dan Imam Jalaluddin as-Suyuti meskipun tetap menyebut peringatan Maulid Nabi sebagai amalan bid’ah namun tidak mengkategorikannya sebagai bid’ah yang terlarang melainkan bid’ah hasanah (inovasi yang baik).

Keduanya mengatakan bahwa status hukum maulid Nabi adalah bid’ah mahmudah (bid’ah terpuji). Karenanya bisa dikatakan, bahwa tidak semua yang tidak dilakukan Nabi itu tertolak dan dipastikan sebagai bid’ah sesat. Untuk menguatkan pendapatnya, Ibnu Hajar menukil hadits Nabi Saw, “Siapa saja yang membuat suatu tradisi yang baik (tidak bertentangan dengan syariat) maka dia mendapatkan pahala dan pahala orang yang mengerjakannya” (Shahih Bukhari).

Penghayatan dan Kesemarakan

Tidak ada seorang Muslimpun yang mengingkari wajibnya memberikan kecintaan kepada Nabi bahkan diharuskan melebihi dari kecintaan terhadap diri sendiri. Para sahabat mengapresiasikan kecintaannya kepada Nabi dengan mencintai apa saja yang datang dari beliau, hatta ludah sekalipun. Karena kecintaan kepada Nabi Saw, para sahabat berebutan mengambil lembaran rambut, tetesan air wudhu, keringat, atau apa saja yang ditinggalkan Rasul.

Salah satu ungkapan cinta ialah mengenang dan memuliakan atsar, yakni apa saja –waktu, peristiwa, tempat- yang berkaitan dengan yang kita cintai. Lihatlah, dinegara manapun selalu ada monumen-monumen besar untuk mengenang peristiwa besar, tempat-tempat bersejarah dan momen-momen penting dari pemimpin negara yang mereka cintai, setiap Negara bahkan termasuk Kerajaan Arab Saudi sekalipun setiap tahunnya memperingati ulang tahun negaranya.

Karena itulah, sangat sulit orang untuk melarang kaum muslimin untuk memperingati maulid nabi, peristiwa Hijrah, Isra’ Miraj, Nuzulul Quran dan momen-momen penting lainnya yang berkaitan dengan sang kekasih Muhammad Saw meskipun peringatan tersebut dikatakan bid’ah. Selama kaum muslimin mencintai Nabi, selama itu pula peringatan dan ziarah ke makam, gua Hira dan sebagainya akan terus berlangsung.

Imam As-Suyuti mengapresiasi peringatan maulid sebagai ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad Saw ke muka bumi. Penuturan ini dapat dilihat dalam Kitab Al-Ni’mah Al-Kubra Ala Al-Alam fi Maulid Sayyid Wuld Adam. Memperingati maulid Nabi adalah ungkapan kecintaan sekaligus kesyukuran atas kehadiran beliau di muka bumi menghidayai ummat manusia dan menyelematkannya dari lembah kesesatan.

Karenanya, peringatan ceremonial semacam maulid sangatlah dibutuhkan umat akhir-akhir ini, sebagai momentum untuk membincangkan keagungan dan kemuliaan nabi Muhammad Saw, untuk menyiarkan banyak dari sunnah-sunnah nabi yang terabaikan, untuk lebih memperkenalkan kemulian akhlak Rasulullah kepada mereka yang memendam dendam dan kebencian karena ketidak tahuan.

Saya rasa kita punya kaidah penetapan hukum untuk itu, bahwa setiap yang menjadi perantara pelaksanaan amalan yang wajib maka wajib pula pelaksanaannya. Membeli baju hukumnya mubah, namun menjadi wajib jika kita tidak memiliki baju untuk menutup aurat dalam pelaksanaan shalat. Mengenang apapun yang berkenaan dengan Rasulullah menjadi wajib hukumnya karena menjadi syarat untuk menimbulkan kecintaan kepada Rasulullah Saw yang merupakan kewajiban bagi kaum muslimin.

Hari kelahiran Nabi sesungguhnya termasuk hari-hari Allah tentangnya Allah berfirman, “Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” (Qs. Ibrahim: 5).

Mari kita jadikan Rabiul Awal (yang masyhur dikenal sebagai bulan lahir dan wafatnya Rasulullah Muhammad Saw) sebagai momentum untuk memperingatinya, sebagai ungkapan kecintaan kita kepada Rasulullah Saw, untuk menghidupkan ghirah keislaman kita, membina semangat profetis agar bulan-bulan selanjutnya sampai ke bulan Rabiul Awal selanjutnya yang kita lakukan adalah kerja-kerja kenabian.

Secara sosiologis, dengan asumsi kehidupan manusia di abad ini, dengan kecenderungan bergaya hidup konsumeristik, hedonistik, dan materialistik, punya andil cukup besar terhadap terkikisnya tingkat kesadaran seseorang termasuk kecenderungannya dalam beragama, maka peringatan maulid Nabi menjadi tuntutan religius yang penting.

Kita berupaya menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah agar membuat takjub kaum muslimin dan pada saat yang sama membuat murka musuh-musuh Islam. Kesemarakan yang terjadi dalam setiap peringatan Maulid bukanlah untuk dilarang, tetapi untuk diluruskan penyimpangan yang terjadi di dalamnya, untuk diarahkan kepada penghayatan makna peringatan perjalanan nabi sesungguhnya. Kesemarakan adalah bagian dari syiar agama, sementara syiar sendiri bagian dari pendalaman agama. Dengan syiar para ulama atau tokoh agama bisa berperan dalam membina masyarakat.

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”  (Qs. Adz Dzazariyat : 55)

Selamat memperingati Hari Maulid Nabi Muhammad Saw

Ismail Amin Pasannai

Kadep. Kajian Strategis dan Intelektual IPI Iran 2018-2019

Rahman Dahlan: Pemerintah Harus lebih Serius Perhatikan Nasib Veteran

Rahman Dahlan: Pemerintah Harus lebih Serius Perhatikan Nasib Veteran

Memanfaatkan momen peringatan Hari Pahlawan, pada Jumat sore (16/11), IPI Iran gelar diskusi di kota Qom Republik Islam Iran dengan topik diskusi, pentingnya menghargai jasa para pahlawan. Rahman Dahlan, Kordinator IPI Iran wilayah Qom mengawali diskusi dengan menyampaikan keprihatinannya, pahlawan dan veteran kurang dihargai dan diperhatikan di Indonesia. “Keluarnya UU nomor 15 tahun 2012 tentang Veteran Republik Indonesia yang mengatur hak-hak veteran kita syukuri, sebab menunjukkan adanya kepedulian pemerintah terhadap nasib para veteran. Namun, jika kita membandingkan bagaimana pemerintah Iran menghargai jasa para pahlawannya, maka tentu kebijakan tersebut sangat terlambat.”

“Meski UU mengatur adanya dana bantuan kesehatan dan tunjangan buat para veteran dan keluarganya, namun dengan banyaknya syarat yang harus dipenuhi dan rumitnya jalur bikrorasi yang harus ditempuh, banyak veteran yang akhirnya tidak mendapatkan haknya. Kita harus akui, tidak sedikit veteran sampai saat ini hidupnya terlantar dan memprihatinkan. Sementara para veteran pejuang tersebut harus dihargai dan mendapatkan hak-haknya dari negara ini.” Ungkap mahasiswa S2 Universitas al-Mustafa program studi Tafsir Alquran tersebut.

Lebih lanjut, ia mengatakan, “Para pejuang telah mengorbankan harta, tenaga bahkan nyawanya demi kemerdekaan negeri ini, maka sudah sepantasnya mereka yang masih hidup atau keluarganya, layak mendapatkan hak-haknya. Selain menghargai jasa pahlawan dengan mewajibkan negara menunjang kehidupan mereka dan keluarganya, bentuk penghargaan lainnya adalah kita mengisi kemerdekaan dengan memberikan kontribusi positif pada kemajuan negara ini, supaya perjuangan mereka tidak sia-sia.”

“Kemerdekaan harus diisi setiap anak bangsa dengan menjalankan profesinya masing-masing, sebaik-baiknya. Sebagai pelajar, harus belajar dengan baik. Sebagai PNS harus bekerja dengan baik. Kita sayangkan, tidak sedikit PNS yang belum maksimal menjalankan tugasnya. Bagi saya itu adalah bentuk pengkhianatan pada pahlawan.” Tambahnya.

Mahasiswa asal Palu Sulawesi Tengah tersebut selanjutnya menegaskan peran pelajar yang berada di luar negeri. “Kita yang menuntut ilmu di luar negeri, harus belajar dengan sebaik-baiknya, agar kelak bisa menggunakan ilmu yang telah dituntut tersebut untuk membangun bangsa kita, bukan hanya fisiknya, tapi juga jiwa dan mentalnya. Membangun mental dan ruh masyarakat kita untuk tidak jadi pengkhianat bangsa.” Tegasnya.

Rahman Dahlan melanjutkan, “Sampai hari ini, masih banyak rakyat yang belum bisa terbebas dari jeratan kemiskinan. Bukan karena mereka malas, melainkan karena ada yang mengambil uang rakyat untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Sistem yang belum berjalan dengan baik. Tidak tegaknya hukum, korupsi masih merajalela dan masih banyak bentuk pengkhianatan lainnya.”

“Kita bisa belajar banyak dari Iran. Dengan sumber daya alam yang terbatas bahkan sempat porak poranda oleh perang selama 8 tahun, namun bisa mengelola negara dengan baik. Meski belum sampai pada tahap sempurna, namun di Iran setidaknya kita tidak melihat ada dari mantan pejuang mereka yang hidupnya memprihatinkan dan terabaikan nasibnya oleh negara.” Jelasnya.

Dibagian akhir penyampaiannya, Rahman Dahlan mengatakan, “Momen peringatan Hari Pahlawan harus kita jadikan pengingat untuk kita mewarisi sifat-sifat kepahlawanan para pahlawan. Diantaranya adalah berani. Panggilan zaman saat ini, bukan lagi berani menghadapi penjajah di front terdepan, tapi berani mengatakan tidak pada korupsi. Berani mengatakan tidak pada kolusi dan praktik-praktik hitam yang berpotensi membangkrutkan negeri ini.”

Pada sesi selanjutnya, Kamaruddin Dg Pati, salah satu peserta diskusi menyampaikan pendapatnya, “Salah satu faktor yang berpengaruh dalam membangun mental keterjajahan pada bangsa kita adalah dipercayainya mitos bangsa kita dijajah selama 350 tahun. Mengapa itu saya katakan mitos? karena sebenarnya kita tidak dijajah sampai selama itu. Namun sayangnya, versi resmi sejarah bangsa kita menuliskan itu. Akibatnya, mental yang terbentukpun mental pecundang, mental terjajah sehingga gagal membangun nilai-nilai kemerdekaan pada dirinya.”

“Seperti pada dunia pendidikan misalnya. Sampai hari ini dunia pendidikan kita belum terbebas sepenuhnya dari praktik-praktik kekerasan. Baru masuk saja, anak didik telah diperkenalkan dengan praktik perpeloncoan. Jadi mental yang lahirpun hanya ada dua. Kalau bukan diperas, ya memeras. Kalau bukan mempecundangi, ya dipecundangi. Padahal itu semua keluar dari nilai-nilai fitrah kemanusiaan, fitrah kebebasan yang merupakan ajaran luhur dari para pahlawan. Mental pecundang tersebut terus terbawa bahkan ketika menjadi pejabat. Membuat aturan dan UU yang justru meraup kepentingan pribadi.” Tambahnya.

“Solusinya, harus dibuat sistem dan program yang sistematis yang diterapkan dari usia dini generasi bangsa untuk ditanamkan nilai-nilai kepahlawanan dan rela berkorban. Di Iran, kita melihat sistem itu diterapkan dan hasilnya, negara ini jadi besar, karena penghargaannya yang besar pada para pahlawannya.” Ungkapnya. 

Mengenai veteran, mahasiswa asal Makassar tersebut turut menyampaikan kritikannya. Ia berkata, “Veteran lebih diidentikkan dengan mereka yang dulu memanggul senjata menghadapi penjajah. Sementara mereka yang dulu berjuang memperjuangan kemerdekaan negara ini bukan hanya dari kalangan militer namun juga dari rakyat sipil. Dalam peperangan, tanpa bantuan dari kalangan sipil, militer kita tidak akan bisa berbuat banyak. Rakyat sipil membantu membuat benteng, membuat markas, membuat parit, menyediakan makanan bahkan turut berperang dengan bambu runcing. Mereka membantu pejuang dengan menjadi mata-mata, yang tidak sedikit dari mereka sampai harus disiksa dan cacat fisiknya disiksa penjajah.”

“Lembaga dan yayasan-yayasan veteran yang dibuat harus benar-benar ditujukan buat mensejahterahkan para veteran, bukan hanya mensejahterahkan para pengelolanya saja.” Ungkapnya mengakhiri diskusi.

Moh. Zaki Amami: Menghargai Jasa Pahlawan adalah Kewajiban Agama

Moh. Zaki Amami: Menghargai Jasa Pahlawan adalah Kewajiban Agama

Memperingati Hari Pahlawan, IPI Iran menggelar diskusi pada Selasa (13/11) di kota Esfahan, Republik Islam Iran. Mengambil tema, “Mengingat Sejarah Pahlawan adalah Perintah Islam dan Bukti Kecintaan pada NKRI”, Mohammad Zaki Amami sebagai pembicara mengawali materinya dengan memberikan defenisi kata Pahlawan.

“Melihat defenisi pahlawan dari KBBI, kamus Persia dan Oxford Dictionary, bisa kita simpulkan pahlawan adalah individu yang dinilai memiliki sifat berani, rela berkorban dan menepati janjinya. Dalam konteks hari Pahlawan maka kita memahami bahwa semua yang telah mengorbankan jiwa, raga, harta, umur dan keluarga untuk mencapai kemerdekaan NKRI adalah pahlawan Nasional. Contohnya adalah Ir. Sukarno, Bung Hatta, Pangeran Diponegoro, R.A. Kartini, Cut. Nyak Dien, Imam Bonjol, dan lain-lain” Ungkap Mahasiswa S2 Bahasa dan Sastra Arab Universitas Internasional al-Mustafa Esfahan tersebut.

Lebih lanjut, mahasiswa kelahiran Jember Jawa Timur tersebut bercerita singkat mengenai kronologis peristiwa 10 November 1945 yang kemudian melatarbelakangi hari itu dijadikan sebagai Hari Pahlawan. “Perang terbuka yang terjadi pada 10 November 1945 di Surabaya sangat dasyhat, meski arek-arek Suroboyo bersenjata apa adanya, namun mereka tidak mau tunduk pada kemauan Inggris yang memiliki kekuatan senjata yang lebih canggih. Hal itu terungkapkan dalam pidato Bung Tomo, yang berkata, ….selama banteng-banteng Indonesia masih punya darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga”.

“Pertempuran tidak berimbang tersebut berimbas banyaknya korban jiwa jatuh dari pihak pejuang. Menurut Merle Calvin Ricklefs, dalam A History of Modern Indonesia Since c.1300, tercatat setidaknya 6.000-16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya sebagai imbas dari pertempuran tersebut. Sementara itu, taksiran Woodburn Kirby dalam The War Against Japan (1965), korban dari pihak sekutu sejumlah 600- 2.000 tentara.” Paparnya.

Lebih lanjut, menukil tafsir Allamah Thabathabai mengenai ayat 169 dan 170 dari surah Ali Imran, Zaki Amami mengatakan, “Dalam kitab Tafsir al-Mizan disebutkan, orang-orang mukmin yang kehilangan nyawa di jalan Allah tidaklah mengalami kematian, bahkan masih tetap diberi rezeki dari Allah berupa kebahagiaan di sisi-Nya. ”

“Kebahagiaan yang dimaksud adalah tidak adanya rasa sedih dan takut ketika menghadapi kematian dan hari pengadilan. Ini merupakan rejeki luar biasa bagi mereka yang meninggal dalam keadaan Syahid. Kenikmatan dan rejeki yg lain adalah keberadaan mereka disisi Allah. Mereka mencintai Allah dan Allah mencintainya. Mereka telah dijamin untuk tidak diazab dan disiksa.” Jelasnya.

Pada bagian akhir pemaparannya, Kepala Departemen SDM dan Kelembagaan IPI Iran 2018-2019 tersebut menyimpulkan, “Pertama, kita wajib mendoakan, meniru dan meneladani jejak para pahlawan, karena merupakan ajaran Islam yang hakiki. Kedua, generasi muda wajib menjaga dan mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawian dengan berbagai kegiatan positif. Ketiga, seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada harus menjaga nasionalisme dan rela berkorban demi kejayaan NKRI.

Diskusi selanjutnya dilanjutkan dengan sharing session, dengan masing-masing dari peserta menceritakan mengenai pahlawan di daerah masing-masing dan bagaimana cara mengisi kemerdekaan. Diskusi yang diakhiri dengan makan malam bersama tersebut, tidak hanya dihadiri mahasiswa Indonesia yang berada di kota Esfahan namun juga dari mahasiswa negeri Jiran, Malaysia dan Thailand.

Mem-Frame Perjumpaan Tuhan dengan Filsafat Islam

Mem-Frame Perjumpaan Tuhan dengan Filsafat Islam

“Al-Haq tidak bertajalli dalam bentuk yang sama kepada dua orang arif yang berbeda (Ibn Arabi, 3, 384)”

Oleh : Muhammad Ma’ruf

Keberhasilan mem-frame pengalaman mistisme dengan pengetahuan husuli (filsafat) terfokus pada pembahasan “ketakjuban menyaksikan al-haq”. Seorang pakar psikologi AS, William James menganalisa “keterpakuan (inefability)” sebagai pengalaman tak tergantikan dan karenanya tidak bisa dipindahkan ke orang lain.

Benarkah pengalaman mistis, dalam bahasa tasawuf-syuhud- tidak bisa terkatakan dengan perumpamaan apapun, benarkah untuk memahami dan menceritakan pengalaman, pelaku mistis atau “arif” persis seperti analogi eklusifnya rasa makanan oleh indera pengecap, dan pengalaman warna dengan indera mata.  Haruskah kita mengalami sendiri untuk bisa memahami?. Dengan kata lain dengan memakai bingkai Filsafat Islam kita bisa ajukan pertanyaan, bisakah kita memahami sebuah pengalaman huduri dengan pengetahuan hushuli?

Sebelum melakukan analisa, ada baiknya kita fokus memahami alur pikiran James seperti dalam makalah Seyyed Ahmad Fazelli “Argumentasi seputar Ineffability”. James berpendapat, kualitas pengalaman mistis tidak bisa dipindahkan secara eksistensial didasarkan sifat alaminya yang terperikan (inefability). Pendapat ini dikritik oleh Stace sebangun dengan David Hume, tidak mungkin suatu efek atau kualitas sederhana terbentuk dalam realitas mental (kognisi) tanpa diawali suatu pengalaman. Stace mengkritik James dua hal, pertama, pengalaman mistik tidak bisa dianalogikan sama dengan pengalaman rasa, warna dan penciuman  karena  kualitas pengalaman mistik itu spesifik pada satu orang, tidak mungkin diraih oleh pengalaman lain. Kedua pengalaman mistik sebenarnya bisa diekpresikan, namun subjek pendengarlah/pembaca yang tidak memiliki pengalaman penyingkapan.

Dengan demikian fokus pembahasanya adalah lebih kepada bahasa seorang arif (pelaku pengalaman mistik) dibanding subjek pendengar/pembacanya. Karena presepsi mistik (dzauq) saat menyaksikan al-haq tidak terwakili oleh istilah apapun karenanya diluar kontek teoritis dan presepsi inderawi.

Kemudian pertanyaanya, darimana peluang pengalaman mistik itu  itu bisa jelaskan dengan bahasa logis, diskursi (filsafat). Peluang itu dimungkinakan menurut Stace karena “segala sesuatu selain Tuhan memiliki sisi kesamaan dan keserupaan” artinya jika kita ingin membahasakan pengalaman mistik seorang “arif”, peluang itu ada karena antara “arif” dan kita karena sama-sama dalam frame selain Tuhan yang mempunyai keserupaan dalam bahasa dan pemahaman.

Dua orang arif yang sama-sama menyaksikan al-haq (tiada seusatupun yang serupa) masih ada peluang mempunyai keserupaan baik dalam ungkapan bentuk kalimat, metafor dan analogi, meskipun dua orang arif mendapatkan tajalli secara berbeda. Ibnu Arabi menjelaskan seperti dua orang yang awalnya sama-sama mempresepsi satu warna kemudian setelah mempresepsi lebih dalam, bisa saja memiliki presepsi yang berbeda. Hamadani menjelaskan perbedaan itu berakar dari perbedaan pemahaman keduanya. Sehingga bisa dikatakan pengalaman mistik bukan hanya perasaan biasa yang karena terlalu dalam tidak bisa diungkapkan akan tetapi pengalaman itu benar-benar tidak mungkin kosong dari muatan kognisi.

Jadi jika di telaah  lebih dalam, objek syuhud sebenarnya bukan faktor yang menghalangi, akan tetapi keadaan terpaku  yang menguasai si pelaku. Intinya konteknya bukan “inefability” akan tetapi faktor aksiden yang menghalangi untuk sementara waktu. Adapun keterpakuan (keagungan Al-Haq) merupkan attribut dari Al-Haq bukan dari sang penyaksi. Karena keagungan dan rasa terpaku maka menjadi penghalang proses merekam dan mengingat. Seperti yang kita ketahui kerja bahasa ekpresi diilhami oleh memori. Pertanyaan, bahasa apa yang bisa dipakai sebagai media ekspresi?

Jika harapanya bahasa itu konsep logis diskursif yang utuh maka takkan berhasil, karena sama saja mengatakan bagaimana mungkin menggantungkan prinsip rasionalitas  untuk memahami apa yang melampaui rasionalitas. Sehingga yang bisa dilakukan adalah penguraian dalam bentuk kata, membuat beragam analogi, penafian dan yang pasti bersifat paradoksal secara lahiriyah.

Selain itu persoalan keagungan menyaksikan “Al-Haq” tidak bisa terpisah dalam aspek epistemologi dan ontologinya, Qunawi dan Naraqi berpendapat, satu-satunya jalan memahami hal-hal mukasyafah adalah dengan mukasyafah.

“Mengenai ibarat-ibarat dilontarkan kaum arif—bisa jadi makna yang mereka maksudkan berbeda dengan makna yang kita pahami. Demi memperoleh pada makna yang dimaksud arif, tak ada jalan lain kecuali mukasyafah.”(Naraqi, 585)

“Saya menyaksikan dalam maqam ini hasil dari rahasia amal perbuatan termasuk konsekuensinya, yaitu kebaikan dan keburukan, baik di dunia dan alam barzah dan akherat, baik dalam bentuk niat dan kehadiran secara ilmu, syuhud dan kontemplasi. Namun karena keagungan dirin-Nya, segalanya tak mungkin dijelaskan. Meskipun mencoba menjelaskan, tiada ibarat yang mewakil-Nya. Karena ekpresi tak pernah memadai (Qunawi, 182, 1375).

Seperti yang kita ketahui, kondisi “arif” pada tahap awal tingkatan adalah kehadiran illahi ta’ayyun awwal (entifikasi pertama). Sang arif akan menyaksikan dominasi kesatuan keserbameliputan (ahadiyah aljam’) yang menyatukan karakter prinsip logis dan kotradiktif. Pada titik ini proses husuli lenyap. Karenanya keterpakuan tidak hanya masalah psikologis tetapi memilik sifat objektif.

Dari uraian diatas, bisa dirangkum dengan satu paragraf berikut, “Pengalaman syuhud bersifat tak terlukiskan, hal ini karena wadah pengalaman tersebut dalam kerangka kesatuan (unity). Sedang konsep akan terjadi hanya dalam kemajemukan(multiplisity), klasifikasi dan komparasi. Setiap kata mewakili makna tertentu, akan tetapi saat shuhud terjadi, yang ada hanya kesatuan mutlak tanpa pemahaman. Kemudian setelah syuhud, subjek kembali ke alam keragaman, kemudian memori membantu terciptanya suatu pemahaman (konsep). Karena sandaran keterpakuan (ketakjuban)  bersifat metafisis maka ekpresinya kontradiktif sehingga proposisi yang dihasilkan paradoksal husuli.”

Mehdi Hairi Yazdi dalam bukunya The Principles of Epistemology in Islamic Philosophy; Knowledge by Presence, yang diterjemahkan menjadi Menghadirkan Cahaya Tuhan; Epistemologi Iluminasionis dalam Filsafat Islam oleh Ahsin Muhammad, Mizan, 2003 halaman 282 mengatakan;

“Penyelidikan metamistik adalah kontemplasi dengan merenungi bahasa objek pengalaman mistik.  Sementara pengalaman mistik itu sendiri tetap berada dalam lingkup ilmu hudhuri, irfan dan metamistisisme termasuk tatanan pengetahuan dengan representasi dan karena itu keduanya termasuk pengetahuan dengan korespondensi .”

“Syuhud”, Khas Tasawuf

Pengalaman syuhud dalam irfan berbeda dengan pengalaman mistis agama lain. Syuhud dalam Islam harus sebangun dengan makna pemahaman bunyi ayat dalam nash dan riwayat.  Dengan demikian kita bisa memperoleh beberapa poin:

Pertama, pengalaman mistik bertingkat-tingkat (tingkatan fana), dalam konteks irfan, pengalaman langsung itu dinamai pengalaman syuhud, menyaksikan dengan batin “Al-Haq”. Pada saat mengalami, prosesnya adalah huduri (kebersatuan subjek dengan objek) dan tidak mungkin kosong dari ilmu, pada saat syuhud terjadi bisa jadi subjek menulis pengalamanya secara huduri, persis seperti Ibn Arabi, bisa pula paska syuhud baru menulis pengalamanya dengan cara mengingat pengalaman syuhudnya dengan cara hushuli.

Kedua, sehebat apapun penjelasan filosofis dalam memframe sebuah pengalaman syuhud pasti masih ada celah untuk dikitrik. Karena pakem ungkapan, “tiada yang serupa denganya” bisa dipamahi secara persis dari dua orang arif . Al-Haq tidak bertajalli dalam bentuk yang sama kepada dua orang arif yang berbeda (Ibn Arabi, 3, 384).

Ketiga, meski demikian penjelasan filosofis tingkat tinggi tetap diperlukan untuk menangkap pengalaman syuhud agar pemahaman makna yang terungkap dalam nash Al-Quran dan riwayat tidak keluar terlalu jauh dari makna batinya. Misalnya dalam soal pembuktian Tuhan dengan Burhan Shidiqien Mulla Sadra tanpa melalui mahluk (ciptaan) akan tetapi melalui Tuhan sendiri, yanag dikenal dengan  burhan limmi (a posteriori argument; argumen dari sebab ke akibat). Burhan ini biasanya dipakai oleh kaum mukasyafah setingkat dibawah nabi. Burhan ini dikenal diakui  paling mendekati penjelasan para imam seperti;

Dalam sebuah riwayat, Jatsliq bertanya kepada Imam Ali As, beritahulah kepadaku apakah engkau mengenal Tuhan melalui Muhammad atau mengenal Muhammad melalui Tuhan? Amirul Mukminin Ali As menjawab pertanyaan ini, “Aku tidak mengenal Tuhan dengan perantara Muhammad Saw, Aku mengenal Muhammad dengan perantara Tuhan. Sebagaimana Tuhan, mengilhamkan kepada malaikat ihwal ketaatan kepada-Nya, aku mengenal nabi buatan yang berada di bawah pemeliharaan Tuhan.”  Imam Ali As pada kesempatan lain bersabda, “Aku melihat Tuhan sebelum melihat segala sesuatu.”

(Sebelumnya telah dimuat di IRIB Indonesia)

 

Peringati Hari Pahlawan: Belajar Nasionalisme dari Iran

Peringati Hari Pahlawan: Belajar Nasionalisme dari Iran

Imam Khomeini rahimahullah aslinya adalah seorang ulama Islam, namun melalui Republik Islam Iran yang didirikannya, ia bukan hanya membangun rasa cinta rakyat Iran pada Islam namun juga menumbuhkan semangat nasionalisme pada bangsanya. Republik Islam Iran berdiri lebih muda 34 tahun dari Republik Indonesia, namun laju percepatannya baik dari segi pembangunan infrastruktur maupun ketangguhan ekonomi dan tekhnologinya bisa dikatakan menyaingi Indonesia, belum lagi Iran sempat mengalami krisis dahsyat akibat perang 8 tahun menghadapi arogansi Irak dibawah Saddam Husain.

Di bidang politik, di hampir 40 tahun usianya Iran telah mengalami kematangan yang mencengangkan. Iran diakui kawan maupun lawan, memiliki pengaruh besar di Timur Tengah. Iran bahkan duduk sejajar dengan negara-negara besar Eropa maupun dengan Amerika Serikat dalam penentuan kebijakan-kebijakan internasional. Melalui langkah-langkah diplomasi yang elegan, Iran melenggang di panggung internasional sebagai salah satu kekuatan dunia yang diperhitungkan.

Kesemua keberhasilan itu, bermula dari kepiawaian Imam Khomeini beserta murid-muridnya meramu Islam sebagai kekuatan pendobrak yang menghancurkan arogansi asing yang mendiktekan kemauannya pada bangsa Iran. Dan menjadi jauh lebih dasyhat setelah dicampurkan dengan semangat nasionalisme yang tinggi. Iran sejak ribuan tahun silam telah dikenal sebagai bangsa yang besar. Diantara bangsa yang memiliki peradaban yang mempengaruhi banyak bangsa-bangsa. Meski telah berubah menjadi negara bersistem Republik Islam dan meninggalkan sistem kekaisaran, nasionalisme bangsa Iran malah semakin menjadi-jadi. Tampak ada kecenderungan yang berbeda dengan yang diyakini sebagian aktivis Islam di Indonesia. Mereka mengkampanyekan Islam dan nasionalisme berada pada kutub yang berbeda sehingga sulit untuk disatukan.

Iran membuktikan diri, semangat nasionalisme senafas dengan pesan dan prinsip Islam. Kita bisa banyak belajar dari Iran, khususnya metode menumbuhkan semangat patriotisme dan nasionalisme yang sedikit banyak belakangan ini tampak mulai memudar dikalangan generasi muda bangsa.

Kepatuhan pada Pemimpin

Hal yang menakjubkan dari Iran dan diakui oleh dunia internasional, adalah kepatuhan rakyat pada pemimpinnya. Sejak berdirinya sampai saat ini, musuh-musuh Republik Islam Iran baik dari dalam maupun dari luar telah menjalankan banyak agenda dan melakukan berbagai bentuk propaganda untuk menimbulkan kebencian dan kejenuhan rakyat Iran pada pemimpinnya. Namun kesemua langkah yang telah ditempuh tidak ada yang berhasil. Rakyat Iran bukan hanya patuh, namun benar-benar mencintai bahkan mengidolakan pemimpinnya. Gambar dan foto Ayatullah Ali Khamanei sebagai pemimpin tertinggi di Iran saat ini bukan hanya terpasang di kantor-kantor, sekolah dan instansi-instansi pemerintahan namun juga di rumah-rumah warga. Bahkan dengan sangat mudah didapati poster besar Imam Khomeini yang disandingkan dengan Ayatullah Ali Khamanei di dinding-dinding kota, di tembok-tembok, di halte-halte bis dan diruang publik lainnya. Sebaliknya di Indonesia, telah berlalu sejumlah presiden, dan kesemuanya tidak luput dari hujatan publik.

Semangat Bela Negara yang Tinggi

Nasionalisme dan semangat bela negara telah dibuktikan rakyat Iran saat perang Irak-Iran yang berlangsung selama 8 tahun. Dengan kekuatan senjata seadanya, rakyat Iran berhasil mempertahankan wilayahnya dari ekspansi rezim Saddam Husein. Tidak sedikit warga sipil yang turut membela negara gugur di medan perang. Iran menerapkan wajib militer bagi warganya selama 2 tahun. Saat pendidikan militer, peserta didik tidak hanya diajari tangkas dan militan, tetapi juga diberi wawasan kebangsaan secara komprehensif. Hal itu memberi pengaruh besar pada mindset setiap generasinya. Berbeda dengan di Indonesia, bendera merah putih terkadang baru bisa kita temui ramai berkibar hanya pada momentum Agustus, di Iran bendera nasionalnya hampir disetiap titik keramaian selalu ditemui berkibar.

Mencintai dan Menghargai Jasa Pahlawan

Para pahlawan di Iran (khususnya yang gugur dalam perang Irak-Iran) memiliki tempat yang sangat istimewa, bagi yang masih hidup mendapat banyak peristimewaan dan kekhususan yang didapatkan. Bagi yang telah meninggal dunia, apalagi yang gugur di medan tempur, maka keluarganya yang mendapatkan keistimewaan itu. Anak-anak dari pahlawan yang gugur, dijamin pendidikannya oleh pemerintah dengan mendapat beasiswa sepenuhnya sampai jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Mereka juga akan mudah mendapatkan akses pekerjaan dipemerintahan. Keluarga yang ditinggalkan, akan mendapat jaminan pemerintah untuk tetap mendapatkan kehidupan yang layak. Gambar-gambar pahlawan Iran sangat mudah ditemui terpajang di titik-titik keramaian. Karenanya, tidak mengherankan, setiap anak-anak di Iran di tanya mengenai cita-citanya, mereka akan menjawab, bercita-cita menjadi pahlawan.

Kemandirian Ekonomi

Hal lain yang bisa dicontoh adalah cinta pada produk dalam negeri. Kesepakatan sejumlah negara besar menetapkan embargo ekonomi pada Iran sedikit banyaknya membawa keberuntungan. Iran dipaksa membuat produk dalam negeri sendiri. Hanya dalam kurun waktu 3 dasawarsa, perekonomian Iran bangkit dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Saat ini bukan hanya mampu memproduksi kendaraan sendiri, Iran bahkan telah memiliki satelit yang pengoperasiannya dilakukan secara mandiri, tanpa bantuan negara lain.

Cinta Tanah Air

Cinta tanah air bagi rakyat Iran, bukan hanya diwujudkan dengan kesiapan untuk membela dan memperjuangkan kedaulatan tanah air dari ronrongan negara lain, namun juga bagaimana membuat prestasi yang dapat mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. Prestasi Iran didunia internasional telah mulai diukir mulai dari tingkat remaja, bukan hanya berprestasi ditingkat penemuan-penemuan ilmiah, namun juga di cabang olahraga. Laki-laki dan perempuan Iran haus akan prestasi. Mereka saling berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan memberikan kebanggaan pada negaranya.

Meski demikian, sebaik-baiknya Iran dengan semua hal positif yang dimilikinya, Indonesia tetaplah negara dan tempat yang terbaik bagi kita sebagai warga negara Indonesia. Semua hal baik yang ada pada negara lain, bisa kita pelajari dan amalkan untuk juga menjadikan negara kita diperhitungkan posisinya. Tidak ada kata terlambat, mari tetap mencintai dan bangga sebagai bangsa Indonesia.

Ismail Amin
Kadep. Kajian Strategis dan Intelektual IPI Iran (2018-2019)