Revolusi Islam di Iran tahun 1979 yang dipimpin Imam Khomeini meruntuhkan kebesaran kekaisaran Persia yang baru saja merayakan ulangtahunnya yang  ke 2500 tahun. Didukung 98,2 persen rakyat Iran, berdirilah sebuah Negara baru dengan nama Republik Islam Iran [Jumhuri_e Islami_e Iran]. Meskipun memiliki saham besar terhadap terbentuknya Negara baru tersebut, Imam Khomeini tidak membuat sistem pemerintahan yang menguntungkan buat keluarganya. Negara baru itu tidak dilabelinya dengan nama klannya, sebagaimana Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Sa’ud yang tahun 1932 memproklamasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi. Imam Khomeini tidak juga menonjolkan kebangsaan Persia sebagaimana Negara-negara Timur Tengah lainnya, yang memamerkan kesukuannya, dengan menyertakan “Arab” pada penyebutan nama Negara. Khomeini justru menonjolkan keislaman. Semboyannya, laa Sunni wa laa Syi’ih. Memang asas Negara Iran berdasarkan Islam pandangan mazhab Syiah, itu disebabkan karena mayoritas penduduknya memang bermazhab Syiah. Namun kelompok-kelompok minoritas tetap mendapatkan hak-haknya dan punya perwakilan di Parlemen. Sistem yang dibentuk sang Mullah, adalah demokrasi. Rakyat berhak menentukan nasib dan masa depannya sendiri dengan memilih siapa yang berhak memimpinnya dan mewakili suaranya di Parlemen. Inilah yang membedakan Iran dengan Negara-negara tetangga lainnya yang betah dengan sistem aristokrasi yang cenderung otoriter, memiliki kekuasaan mutlak dan bercorak dinasti.

Tidak sedikit yang memandang negatif penamaan Jumhuriyah Islamiyah tersebut dengan mengajukan argumen bahwa Imam Khomeini hendak menipu kaum muslimin. Umat Islam akan bangga dengan keberadaan Negara Islam tersebut, padahal hakikatnya, didalamnya bukan Islam. Analoginya seperti, mempromosikan kaleng sapi, tapi ternyata isinya daging babi. Harusnya, Iran gentle menyebut Negara mereka sebagai Republik Syiah, bukan Republik Islam, sebab Syiah bukan bagian dari Islam. Begitu kritik sebagian orang yang meyakini Syiah sebagai agama yang berdiri sendiri dan bukan mazhab dalam Islam.

Hakikatnya, Iran tdk pernah mendakwahkan Syiah, yang mereka usung adalah bendera Islam. Republik yang mereka bentuk diberi label Islam, bukan label mazhab, agar yang dikenal di dunia adalah Islam, apapun kemudian mazhabnya. Kalau ideologi kapitalis, sosialis, komunis, Kristen bahkan zionis bisa mendirikan Negara, maka dunia mengenal lewat Iran sebagai sebuah Negara demokrasi yang maju, Islam juga bisa melalukannya. Kalau AS, China, Rusia dan Korut bisa mengembangkan tekhnologi nuklir, maka dunia mengetahui lewat Iran, ilmuan-ilmuan Islam juga bisa melakukan hal yang sama. Kalau ditingkat Asia, Jepang, Korsel dan China merajai panggung olahraga, maka dunia jadi paham lewat Iran, atlit-atlit muslim juga bisa meraih prestasi yang membanggakan. Kalau perempuan-perempuan Barat bersaing dalam menemukan karya-karya dan prestasi yang mengagumkan, dunia melihat melalui Iran, muslimah-muslimah juga mampu mempersembahkan hal serupa. Kalau AS dan Eropa memiliki segudang negarawan dan politikus yang disegani di kancah percaturan politik internasional, dunia juga mengenal melalui Iran, Islam juga mampu mencetak negarawan-negarawan dan politikus yang mampu melakukan diplomasi tingkat tinggi. Kalau AS dan Negara-negara Barat memiliki kekuatan militer yang ditakuti, dunia mengenal melalui Iran, bahwa Islam juga bisa melakukan lebih dari itu.

Inilah tujuan Imam Khomeini membentuk Republik Islam Iran, inilah sasarannya menonjolkan pelabelan Islam pada nama Negara yang didirikannya. Membangkitkan kembali izzah Islam, sejak keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani. Inilah yang kemudian membuat musuh-musuh Islam menjadi panik. Kebangkitan Islam sudah di depan mata, jika tidak dihentikan akan menjadi air bah yang akan menenggelamkan mereka. Lihat bagaimana gerakan-gerakan Islam terinspirasi oleh kebangkitan revolusi Islam di Iran. Tengok sejarah terbentuknya gerakan intifadah. Syahid Dr. Fathi Ibrahim Shaqaqi, sekjen pertama Gerakan Jihad Islam Palestina mengakui, gerakan Intifadah terinspirasi oleh kebangkitan revolusi Islam di Iran. Sebagaimana rakyat Iran, rakyat Palestina juga pantang hina. Begitupula dengan perjuangan gerakan Hizbullah di Lebanon yang seringkali menyulitkan militer Israel. Bahkan pengaruh revolusi Islam itu sampai pula ke Indonesia. Tahun 80-an yang bersamaan dengan tahun awal-awal revolusi Islam Iran, kekuatan Islam di Indonesia mulai menggeliat dan mengkhawatirkan penguasa Orde Baru. Ditengah tindakan represif aparat keamanan yang phobia Islam, kajian-kajian Islam menjadi semakin marak. Buku-buku pemikir Iran diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan laku keras. Tidak ada satupun buku itu yang menonjolkan mazhab Syiah. Amin Rais muda bahkan menerjemahkan buku Ali Syariati, “Tugas Cendikiawan Muslim.” Dalam pengantarnya, Amin Rais menulis, “Dr. Ali Syariati adalah seorang muslim Syiah, sedangkan penerjemah adalah seorang muslim Sunni. Dorongan menerjemahkan buku ini bukan untuk menawarkan percikan-percikan pemikiran Syiah di Indonesia. Bagi penerjemah, perbedaan Syiah-Sunnah adalah warisan historis kuno yang telah menyebabkan lemahnya ummat Islam sebagai satu keseluruhan. Yang perlu kita kerjakan bukan membongkar-bongkar konflik politik masa silam yang jelas tidak akan ada manfaatnya.” [Amin Rais, 1987]

Pasca revolusi Islam di Iran, Islam menjadi lebih dikenal sebagai agama perlawanan dan perjuangan. Islam menjadi ancaman bagi penguasa yang otoriter dan zalim. Islam membawa pesan kematian bagi kerakusan dan kesewenang-wenangan. AS dan Zionis berkepentingan besar untuk menghentikan itu. Dengan gelontoran dana yang besar, dan kerja orang-orang dalam Islam yang mudah disuap, dimulailah pengrusakan citra itu. Lewat gerakan-gerakan ekstrimisme yang tidak pandang bulu dalam membunuhi dan menyembelih orang namun mengatasnamakan Islam, lewat bom-bom bunuh diri tapi yang kemudian menjadi korban justru rakyat sipil, duniapun mengenal Islam sebagai agama teror dan ajaran horor. Citra Islam yang dibangun bangsa Iran, bersama kelompok Islam yang anti kekerasan dan cinta perdamaian, dirusak dan diciderai oleh kelompok-kelompok yang mengklaim diri Islam namun menghalalkan aksi-aksi terorisme. Ada pula kelompok yang sampai hari ini tetap sibuk mempersoalkan mazhab yg dipeluk mayoritas warga Iran, yang berbeda dengan mazhabnya. Sunni-Syiah dikorek-korek titik bedanya untuk kemudian dipertengkarkan dan menjadi alasan untuk mengkafirkan dan saling membenci. Inilah yang justru menguntungkan musuh-musuh Islam. Untuk itulah, Iran kemudian memprakarsai pertemuan 350 ulama Islam Sunni-Syiah dari 80 negara yang telah berlangsung di kota Tehran, Iran 24-26 November 2018 dengan mengusung tema “al-Quds, Poros Persatuan Umat”. Ratusan ulama-ulama toleran lintas mazhab ini menyatukan tekad, bahwa persatuan Islam bukanlah hal yang bisa ditawar-tawar. Sifatnya segera dan mendesak untuk membangun kejayaan Islam dan peradaban manusia yang saling menyayangi bukan saling menguasai, saling merangkul, bukan saling memukul, yang lebih menempatkan keramahan diatas kemarahan.

Salam Persatuan dari Persia untuk Indonesia dan Dunia…

Ismail Amin 

Kadep. Kajian Strategis dan Intelektual IPI Iran 2018-2019