“Mengedepankan spirit agama yang semua agama memilikinya yaitu, berlaku adil, tidak mengganggu satu sama lain dan berlomba-lomba berbuat kebaikan, adalah cara dan peran warga negara dalam menguatkan ketahanan nasional.”

Demikian yang diungkap Wakil Presiden Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran 2018-2019, Bahesty Zahra dalam penyampaiannya pada sarasehan yang diadakan KBRI Tehran di Sadaf Hall Tehran Grand Hotel, pada Kamis sore (22/11). Sarasehan yang mengusung tema,  “Pertahanan Nasional di Era Globalisasi”, turut menghadirkan tiga pembicara lainnya dari Universitas Pertahanan Indonesia, yaitu Marsekal Muda Taufik Hidayat, SE, Marsekal Pertama TNI Dr.Siswo Pudjiatmoko, SE, MSi dan Dr. Ir. Rudy Laksmono. 

“Agama apapun mengajarkan kebaikan. Melihat dari sisi itu jika orang tidak bersaudara karena satu aqidah maka dia bersaudara dikarenakan sesama manusia. Kalau prinsip ini dikedepankan maka kesatuan bangsa Negara itu akan utuh. Bahkan bukan hanyakesatuan Negara bahkan hubungan manusia di alam semesta ini akan baik dan rukun.” Tambah mahasiswi S1  jurusan Food Technology and Engineering Fakultas Agriculture and Natural Resources of University Tehran tersebut.

Behesty lebih lanjut menambahkan, “Lalu bagaimana cara menularkan nilai-nilai tersebut?. Perlu diajarkan kepada setiap individu bahwa setiap agama adalah kebaikan. Ketika agama menjadi pemicu timbulnya perpecahan dan peperangan maka bisa dipastikan itu tidak murni lagi sebagai agama, melainkan telah terkontaminasi oleh pemahaman-pemahaman manusia yang memiliki kepentingan-kepentingan tertentu. Agama yang datangnya dari Tuhan, bisa dipastikan akan mendatangkan maslahat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.”

“Ideologi pancasila yang dimiliki bangsa Indonesia adalah idelogi yang sudah ideal dan sangat tepat untuk bangsa Indonesia, karena nilai-nilainya universal yang bisa diterima oleh semua masyarakat Indonesia yang beragam etnis dan keyakinan. Di dalamnya ada nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, prinsip kebersamaan dan toleransi terhadap perbedaan yang diselesaikan melalui musyawarah dan membangun kesepakatan-kesepakatan bersama. Perbedaan itu sendiri adalah sebuah keniscahyaan yang harus diterima dengan baik. Tidak mungkin didunia ini tidak ada perbedaaan. Maka nilai-nilai pancasila itu sangat akurat karena memiliki hubungan integral terhadap sang pencipta dengan hubungan antar manusia, hablu minallah dan habluminannas.”Tambah mahasiswi lulusan SMAN 5 Depok tersebut.

Mengenai radikalisme yang menurutnya telah menggenjala di tanah air, ia berpendapat radikalisme tidak boleh diberikan tempat di bumi Pancasila. Karena baginya, radikalisme itu sendiri bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. “Bukan hanya nilai-nilai pancasila tetapi nilai-nilai setiap segala keyakinan yang berpaku pada ketuhanan yang maha esa, radikalisme itu bertentangan dengan itu semua.” Tegasnya.

Dibagian akhir pembicaraannya, Behesty yang juga aktif di PPI Dunia berbagi informasi mengenai pengalamannya kuliah di Iran. Sesuai pengamatannya, ia menyebut sistem pendidikan di Iran berangkat dari nilai-nilai spritual. “Pendidikan di Iran terintegral, tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan non agama. Ilmu sains sekalipun tetap berlandaskan nilai-nilai agama. Karena itu Iran meski agamis tetap dikenal sebagai negara scientist. Sejak dulu Iran telah dikenal sebagai lumbung ilmuan-ilmuan yang juga sekaligus ulama. Banyak filosof-filosof terlahir di Iran.” Terangnya.

Hadir dalam sarasehan tersebut, Kepala Duta Besar Indonesia untuk Iran Octavino Alimuddin yang juga memberi sambutan sekaligus membuka sarasehan secara resmi. Acara yang dimoderatori Fungsi Politik KBRI Tehran Priadji Soelaiman itu dihadiri puluhan WNI dan pelajar Indonesia di Iran dari berbagai kota seperti dari Tehran, Qom, Ghurghan, Esfahan dan Masyhad. Presiden IPI Iran 2018-2019, Muhammad Ghiffari yang turut hadir, mengungkapkan pada sesi diskusi pentingnya penanaman nilai-nilai Pancasila dalam membangun nasionalisme dan semangat cinta tanah air pada generasi muda. Ia lebih lanjut berharap, acara-acara serupa harus terus digalakkan terutama diluar negeri, agar WNI meski berada jauh dari tanah air, namun tetap mencintai dan loyal pada negara. Acara diakhiri dengan ramah tamah dan makan malam bersama.