Memperingati Hari Pahlawan, IPI Iran menggelar diskusi pada Selasa (13/11) di kota Esfahan, Republik Islam Iran. Mengambil tema, “Mengingat Sejarah Pahlawan adalah Perintah Islam dan Bukti Kecintaan pada NKRI”, Mohammad Zaki Amami sebagai pembicara mengawali materinya dengan memberikan defenisi kata Pahlawan.

“Melihat defenisi pahlawan dari KBBI, kamus Persia dan Oxford Dictionary, bisa kita simpulkan pahlawan adalah individu yang dinilai memiliki sifat berani, rela berkorban dan menepati janjinya. Dalam konteks hari Pahlawan maka kita memahami bahwa semua yang telah mengorbankan jiwa, raga, harta, umur dan keluarga untuk mencapai kemerdekaan NKRI adalah pahlawan Nasional. Contohnya adalah Ir. Sukarno, Bung Hatta, Pangeran Diponegoro, R.A. Kartini, Cut. Nyak Dien, Imam Bonjol, dan lain-lain” Ungkap Mahasiswa S2 Bahasa dan Sastra Arab Universitas Internasional al-Mustafa Esfahan tersebut.

Lebih lanjut, mahasiswa kelahiran Jember Jawa Timur tersebut bercerita singkat mengenai kronologis peristiwa 10 November 1945 yang kemudian melatarbelakangi hari itu dijadikan sebagai Hari Pahlawan. “Perang terbuka yang terjadi pada 10 November 1945 di Surabaya sangat dasyhat, meski arek-arek Suroboyo bersenjata apa adanya, namun mereka tidak mau tunduk pada kemauan Inggris yang memiliki kekuatan senjata yang lebih canggih. Hal itu terungkapkan dalam pidato Bung Tomo, yang berkata, ….selama banteng-banteng Indonesia masih punya darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga”.

“Pertempuran tidak berimbang tersebut berimbas banyaknya korban jiwa jatuh dari pihak pejuang. Menurut Merle Calvin Ricklefs, dalam A History of Modern Indonesia Since c.1300, tercatat setidaknya 6.000-16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya sebagai imbas dari pertempuran tersebut. Sementara itu, taksiran Woodburn Kirby dalam The War Against Japan (1965), korban dari pihak sekutu sejumlah 600- 2.000 tentara.” Paparnya.

Lebih lanjut, menukil tafsir Allamah Thabathabai mengenai ayat 169 dan 170 dari surah Ali Imran, Zaki Amami mengatakan, “Dalam kitab Tafsir al-Mizan disebutkan, orang-orang mukmin yang kehilangan nyawa di jalan Allah tidaklah mengalami kematian, bahkan masih tetap diberi rezeki dari Allah berupa kebahagiaan di sisi-Nya. ”

“Kebahagiaan yang dimaksud adalah tidak adanya rasa sedih dan takut ketika menghadapi kematian dan hari pengadilan. Ini merupakan rejeki luar biasa bagi mereka yang meninggal dalam keadaan Syahid. Kenikmatan dan rejeki yg lain adalah keberadaan mereka disisi Allah. Mereka mencintai Allah dan Allah mencintainya. Mereka telah dijamin untuk tidak diazab dan disiksa.” Jelasnya.

Pada bagian akhir pemaparannya, Kepala Departemen SDM dan Kelembagaan IPI Iran 2018-2019 tersebut menyimpulkan, “Pertama, kita wajib mendoakan, meniru dan meneladani jejak para pahlawan, karena merupakan ajaran Islam yang hakiki. Kedua, generasi muda wajib menjaga dan mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawian dengan berbagai kegiatan positif. Ketiga, seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada harus menjaga nasionalisme dan rela berkorban demi kejayaan NKRI.

Diskusi selanjutnya dilanjutkan dengan sharing session, dengan masing-masing dari peserta menceritakan mengenai pahlawan di daerah masing-masing dan bagaimana cara mengisi kemerdekaan. Diskusi yang diakhiri dengan makan malam bersama tersebut, tidak hanya dihadiri mahasiswa Indonesia yang berada di kota Esfahan namun juga dari mahasiswa negeri Jiran, Malaysia dan Thailand.