Rahman Dahlan: Pemerintah Harus lebih Serius Perhatikan Nasib Veteran

Rahman Dahlan: Pemerintah Harus lebih Serius Perhatikan Nasib Veteran

Memanfaatkan momen peringatan Hari Pahlawan, pada Jumat sore (16/11), IPI Iran gelar diskusi di kota Qom Republik Islam Iran dengan topik diskusi, pentingnya menghargai jasa para pahlawan. Rahman Dahlan, Kordinator IPI Iran wilayah Qom mengawali diskusi dengan menyampaikan keprihatinannya, pahlawan dan veteran kurang dihargai dan diperhatikan di Indonesia. “Keluarnya UU nomor 15 tahun 2012 tentang Veteran Republik Indonesia yang mengatur hak-hak veteran kita syukuri, sebab menunjukkan adanya kepedulian pemerintah terhadap nasib para veteran. Namun, jika kita membandingkan bagaimana pemerintah Iran menghargai jasa para pahlawannya, maka tentu kebijakan tersebut sangat terlambat.”

“Meski UU mengatur adanya dana bantuan kesehatan dan tunjangan buat para veteran dan keluarganya, namun dengan banyaknya syarat yang harus dipenuhi dan rumitnya jalur bikrorasi yang harus ditempuh, banyak veteran yang akhirnya tidak mendapatkan haknya. Kita harus akui, tidak sedikit veteran sampai saat ini hidupnya terlantar dan memprihatinkan. Sementara para veteran pejuang tersebut harus dihargai dan mendapatkan hak-haknya dari negara ini.” Ungkap mahasiswa S2 Universitas al-Mustafa program studi Tafsir Alquran tersebut.

Lebih lanjut, ia mengatakan, “Para pejuang telah mengorbankan harta, tenaga bahkan nyawanya demi kemerdekaan negeri ini, maka sudah sepantasnya mereka yang masih hidup atau keluarganya, layak mendapatkan hak-haknya. Selain menghargai jasa pahlawan dengan mewajibkan negara menunjang kehidupan mereka dan keluarganya, bentuk penghargaan lainnya adalah kita mengisi kemerdekaan dengan memberikan kontribusi positif pada kemajuan negara ini, supaya perjuangan mereka tidak sia-sia.”

“Kemerdekaan harus diisi setiap anak bangsa dengan menjalankan profesinya masing-masing, sebaik-baiknya. Sebagai pelajar, harus belajar dengan baik. Sebagai PNS harus bekerja dengan baik. Kita sayangkan, tidak sedikit PNS yang belum maksimal menjalankan tugasnya. Bagi saya itu adalah bentuk pengkhianatan pada pahlawan.” Tambahnya.

Mahasiswa asal Palu Sulawesi Tengah tersebut selanjutnya menegaskan peran pelajar yang berada di luar negeri. “Kita yang menuntut ilmu di luar negeri, harus belajar dengan sebaik-baiknya, agar kelak bisa menggunakan ilmu yang telah dituntut tersebut untuk membangun bangsa kita, bukan hanya fisiknya, tapi juga jiwa dan mentalnya. Membangun mental dan ruh masyarakat kita untuk tidak jadi pengkhianat bangsa.” Tegasnya.

Rahman Dahlan melanjutkan, “Sampai hari ini, masih banyak rakyat yang belum bisa terbebas dari jeratan kemiskinan. Bukan karena mereka malas, melainkan karena ada yang mengambil uang rakyat untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Sistem yang belum berjalan dengan baik. Tidak tegaknya hukum, korupsi masih merajalela dan masih banyak bentuk pengkhianatan lainnya.”

“Kita bisa belajar banyak dari Iran. Dengan sumber daya alam yang terbatas bahkan sempat porak poranda oleh perang selama 8 tahun, namun bisa mengelola negara dengan baik. Meski belum sampai pada tahap sempurna, namun di Iran setidaknya kita tidak melihat ada dari mantan pejuang mereka yang hidupnya memprihatinkan dan terabaikan nasibnya oleh negara.” Jelasnya.

Dibagian akhir penyampaiannya, Rahman Dahlan mengatakan, “Momen peringatan Hari Pahlawan harus kita jadikan pengingat untuk kita mewarisi sifat-sifat kepahlawanan para pahlawan. Diantaranya adalah berani. Panggilan zaman saat ini, bukan lagi berani menghadapi penjajah di front terdepan, tapi berani mengatakan tidak pada korupsi. Berani mengatakan tidak pada kolusi dan praktik-praktik hitam yang berpotensi membangkrutkan negeri ini.”

Pada sesi selanjutnya, Kamaruddin Dg Pati, salah satu peserta diskusi menyampaikan pendapatnya, “Salah satu faktor yang berpengaruh dalam membangun mental keterjajahan pada bangsa kita adalah dipercayainya mitos bangsa kita dijajah selama 350 tahun. Mengapa itu saya katakan mitos? karena sebenarnya kita tidak dijajah sampai selama itu. Namun sayangnya, versi resmi sejarah bangsa kita menuliskan itu. Akibatnya, mental yang terbentukpun mental pecundang, mental terjajah sehingga gagal membangun nilai-nilai kemerdekaan pada dirinya.”

“Seperti pada dunia pendidikan misalnya. Sampai hari ini dunia pendidikan kita belum terbebas sepenuhnya dari praktik-praktik kekerasan. Baru masuk saja, anak didik telah diperkenalkan dengan praktik perpeloncoan. Jadi mental yang lahirpun hanya ada dua. Kalau bukan diperas, ya memeras. Kalau bukan mempecundangi, ya dipecundangi. Padahal itu semua keluar dari nilai-nilai fitrah kemanusiaan, fitrah kebebasan yang merupakan ajaran luhur dari para pahlawan. Mental pecundang tersebut terus terbawa bahkan ketika menjadi pejabat. Membuat aturan dan UU yang justru meraup kepentingan pribadi.” Tambahnya.

“Solusinya, harus dibuat sistem dan program yang sistematis yang diterapkan dari usia dini generasi bangsa untuk ditanamkan nilai-nilai kepahlawanan dan rela berkorban. Di Iran, kita melihat sistem itu diterapkan dan hasilnya, negara ini jadi besar, karena penghargaannya yang besar pada para pahlawannya.” Ungkapnya. 

Mengenai veteran, mahasiswa asal Makassar tersebut turut menyampaikan kritikannya. Ia berkata, “Veteran lebih diidentikkan dengan mereka yang dulu memanggul senjata menghadapi penjajah. Sementara mereka yang dulu berjuang memperjuangan kemerdekaan negara ini bukan hanya dari kalangan militer namun juga dari rakyat sipil. Dalam peperangan, tanpa bantuan dari kalangan sipil, militer kita tidak akan bisa berbuat banyak. Rakyat sipil membantu membuat benteng, membuat markas, membuat parit, menyediakan makanan bahkan turut berperang dengan bambu runcing. Mereka membantu pejuang dengan menjadi mata-mata, yang tidak sedikit dari mereka sampai harus disiksa dan cacat fisiknya disiksa penjajah.”

“Lembaga dan yayasan-yayasan veteran yang dibuat harus benar-benar ditujukan buat mensejahterahkan para veteran, bukan hanya mensejahterahkan para pengelolanya saja.” Ungkapnya mengakhiri diskusi.

Moh. Zaki Amami: Menghargai Jasa Pahlawan adalah Kewajiban Agama

Moh. Zaki Amami: Menghargai Jasa Pahlawan adalah Kewajiban Agama

Memperingati Hari Pahlawan, IPI Iran menggelar diskusi pada Selasa (13/11) di kota Esfahan, Republik Islam Iran. Mengambil tema, “Mengingat Sejarah Pahlawan adalah Perintah Islam dan Bukti Kecintaan pada NKRI”, Mohammad Zaki Amami sebagai pembicara mengawali materinya dengan memberikan defenisi kata Pahlawan.

“Melihat defenisi pahlawan dari KBBI, kamus Persia dan Oxford Dictionary, bisa kita simpulkan pahlawan adalah individu yang dinilai memiliki sifat berani, rela berkorban dan menepati janjinya. Dalam konteks hari Pahlawan maka kita memahami bahwa semua yang telah mengorbankan jiwa, raga, harta, umur dan keluarga untuk mencapai kemerdekaan NKRI adalah pahlawan Nasional. Contohnya adalah Ir. Sukarno, Bung Hatta, Pangeran Diponegoro, R.A. Kartini, Cut. Nyak Dien, Imam Bonjol, dan lain-lain” Ungkap Mahasiswa S2 Bahasa dan Sastra Arab Universitas Internasional al-Mustafa Esfahan tersebut.

Lebih lanjut, mahasiswa kelahiran Jember Jawa Timur tersebut bercerita singkat mengenai kronologis peristiwa 10 November 1945 yang kemudian melatarbelakangi hari itu dijadikan sebagai Hari Pahlawan. “Perang terbuka yang terjadi pada 10 November 1945 di Surabaya sangat dasyhat, meski arek-arek Suroboyo bersenjata apa adanya, namun mereka tidak mau tunduk pada kemauan Inggris yang memiliki kekuatan senjata yang lebih canggih. Hal itu terungkapkan dalam pidato Bung Tomo, yang berkata, ….selama banteng-banteng Indonesia masih punya darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga”.

“Pertempuran tidak berimbang tersebut berimbas banyaknya korban jiwa jatuh dari pihak pejuang. Menurut Merle Calvin Ricklefs, dalam A History of Modern Indonesia Since c.1300, tercatat setidaknya 6.000-16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya sebagai imbas dari pertempuran tersebut. Sementara itu, taksiran Woodburn Kirby dalam The War Against Japan (1965), korban dari pihak sekutu sejumlah 600- 2.000 tentara.” Paparnya.

Lebih lanjut, menukil tafsir Allamah Thabathabai mengenai ayat 169 dan 170 dari surah Ali Imran, Zaki Amami mengatakan, “Dalam kitab Tafsir al-Mizan disebutkan, orang-orang mukmin yang kehilangan nyawa di jalan Allah tidaklah mengalami kematian, bahkan masih tetap diberi rezeki dari Allah berupa kebahagiaan di sisi-Nya. ”

“Kebahagiaan yang dimaksud adalah tidak adanya rasa sedih dan takut ketika menghadapi kematian dan hari pengadilan. Ini merupakan rejeki luar biasa bagi mereka yang meninggal dalam keadaan Syahid. Kenikmatan dan rejeki yg lain adalah keberadaan mereka disisi Allah. Mereka mencintai Allah dan Allah mencintainya. Mereka telah dijamin untuk tidak diazab dan disiksa.” Jelasnya.

Pada bagian akhir pemaparannya, Kepala Departemen SDM dan Kelembagaan IPI Iran 2018-2019 tersebut menyimpulkan, “Pertama, kita wajib mendoakan, meniru dan meneladani jejak para pahlawan, karena merupakan ajaran Islam yang hakiki. Kedua, generasi muda wajib menjaga dan mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawian dengan berbagai kegiatan positif. Ketiga, seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada harus menjaga nasionalisme dan rela berkorban demi kejayaan NKRI.

Diskusi selanjutnya dilanjutkan dengan sharing session, dengan masing-masing dari peserta menceritakan mengenai pahlawan di daerah masing-masing dan bagaimana cara mengisi kemerdekaan. Diskusi yang diakhiri dengan makan malam bersama tersebut, tidak hanya dihadiri mahasiswa Indonesia yang berada di kota Esfahan namun juga dari mahasiswa negeri Jiran, Malaysia dan Thailand.