Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Republik Islam Iran mengadakan acara diskusi sederhana bersama seluruh mahasiswa Indonesia di kota Mashhad, Iran dengan tema “Mengenal Identitas Kita Lewat Sumpah Pemuda”.

Diskusi ini diselenggarakan oleh Departemen Kajian Strategis dan Intelektual IPI di Mashhad, Kamis sore, 11 Oktober 2018 pukul 15:00 waktu setempat.
Saat ini ada sekitar 20 mahasiswa Indonesia yang belajar di kota Mashhad. Mereka menuntut ilmu di 2 kampus ternama di Iran yaitu Almustofa University dan Ferdowsi University of Mashhad.

Setelah dibuka dengan doa bersama, Hafiz Hasibuan, mahasiswa S2 Al-Mustofa University pertama menyampaikan bahwa ada 4 tahap dalam perjuangan kebangsaan yaitu berdirinya Budi Utomo, Sumpah Pemuda, Kemerdekaan, dan Mengisi Kemerdekaan. Sumpah Pemuda adalah salah satu dari perjuangan penting bangsa Indonesia. Ada 3 poin penting yang disampaikan pada kongres itu seperti pentingnya persatuan, pendidikan kebangsaan, dan gerakan PANDU. Ikrar ini bisa menyatukan seluruh pemuda-pemudi yang awalnya bukan satu bangsa, daerah, dan agama yang dimana pada saat itu dari Sabang sampai Marauke kita sedang dijajah oleh Belanda.

Lalu dilanjutkan dengan pertanyaan terbuka oleh Hafiz, Pada tahun 1945 kita merdeka, lalu apakah kita masih butuh dengan Ikrar Sumpah Pemuda ini? Bukankah tujuan sudah didapat yaitu kemerdekaan?

Ghiffari, salah satu mahasiswa Ferdowsi University menanggapi. Pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam perjuangan bangsa Indonesia. Pada tahun 1928, pemuda-pemudi saat itu membuat kongres sumpah pemuda. Lalu pada tahun 1945, pemuda juga yang berperan banyak berperan aktif dalam kemerdekaan Indonesia. Dan contoh terakhir pada tahun 1998, pemuda juga yang menjadi penggerak elemen masyarakat untuk mengganti Rezim Orba menjadi Reformasi. Jadi, semua tergantung tujuannya masing-masing.

Zhafran, sebagai penanggap kedua, meramaikan diskusi dengan berpendapat bahwa Ikrar Sumpah Pemuda itu adalah sebuah spirit untuk kita. Ikrar yang diucapkan pemuda-pemudi pada saat itu bagai lintas ruang dan waktu. Spirit artinya ada dalam diri kita masing-masing, yang dimana spirit itu harus selalu kita punya walaupun tinggal di luar negri.

Menurut Hafiz, yang penting untuk kita fahami sebagai anak bangsa adalah para pemuda yang berkumpul pada saat itu sudah diperbolehkan berorganisasi seperti Budi utomo yang orientasinya adalah untuk sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Sebelum Budi Utomo, sudah ada organisasi-organisai sebelumnya seperti Serikat Dagang Indonesia, lalu yang bersifat keagamaan seperti Muhammadiyah dan NU. Jadi pada zaman itu sudah diperbolehkan organisasi-organisasi yang tidak bersifat politik.

Pada zaman sebelum itu, Nusantara awalnya sudah memiliki kekuatan besar sebelum dimasuki oleh Belanda, Seperti kerajaan Majapahit dan Sriwijaya yang dimana kekuatan itu mampu untuk mengkondisikan Nusantara. Alasan kenapa 2 kerajaan ini memiliki kekuatan yang besar pada saat itu adalah karena mereka memanfaatkan kekuatan laut. Dibuatnya kapal-kapal yang kuat untuk bisa menguasai Nusantara.

Satu kisah lagi yang perlu difahami, lanjutnya, Alqur’an juga bercerita tentang berjuang untuk bangsa dalam kasus Nabi Musa A.S. Setelah menjatuhkan fir’aun pada zaman itu, Nabi Musa A.S sudah berhasil membebaskan bangsanya dari raja yang dzalim. Tapi apa yang dilakukan setelah itu? Nabi Musa A.S tidak kembali ke Mesir akan tetapi melanjutkan perjuangannya ke Palestina untuk menyelamatkan manusia disana dari raja yang dzalim.

Oleh karena itu, untuk memulai perjuangan langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenal identitas kita. Lalu kita harus bisa keluar dari kotak daerah dan mulai untuk membuat yang lebih besar lagi yaitu Bangsa Indonesia.

Diakhir pemaparannya, Hafiz mengatakan, substansi Sumpah Pemuda pada hari ini adalah kita pemuda Indonesia harusnya sudah mampu untuk mewacanakan ide-ide baru yang sesuai dengan nilai-nilai Sumpah Pemuda. Semisalnya di zaman sekarang ini, kita bukan hanya mengikrarkan sumpah kebangsaan akan tetapi Sumpah Kemanusiaan yang sifatnya universal. Bukan hanya masyarakat Indonesia saja akan tetapi juga dari bangsa-bangsa lain untuk menjadi satu bangsa yang bisa kita sebut Bangsa Kemanusiaan. (ZF)