Bagaimana Seharusnya Memperlakukan Bendera “Tauhid”?

Bagaimana Seharusnya Memperlakukan Bendera “Tauhid”?

Setiap muslim sejatinya mencintai kalimat tauhid, sebab kalimat itulah yang diyakini akan menjadi penyelamat di akhirat kelak. Tidak sekedar dicintai yang diungkapkan secara lisan, bahkan menaruh penghormatan yang besar, walau sekedar pada tulisan kalimat tauhid sekalipun. Betapa banyak dari kita yang bangga menjadikan tulisan kalimat tauhid, Asmaul Husna, kaligrafi bertuliskan nama Nabi Muhammmad saw, maupun penggalan dari ayat-ayat suci Alquran sebagai hiasan didinding rumah dan ditempatkan di posisi yang paling terhormat dari rumah, kantor dan lain-lain. Bahkan ketika ditempatkan dalam bendera sekalipun, kalimat tauhid tidak tereduksi nilai dan derajatnya dalam pandangan seorang muslim.

Memang sangat disayangkan, ketika terdapat kelompok yang mengklaim diri muslim dan membawa simbol-simbol Islam termasuk menjadikan tulisan kalimat tauhid sebagai bagian dari bendera dan ciri khas kelompoknya, namun aktivitas mereka justru bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Kelompok teroris ISIS misalnya. Mereka menggunakan bendera yang bertuliskan kalimat tauhid, nama Allah dan Nabi-Nya. Yang dengan bendera itu mereka menebar teror dibanyak negara-negara muslim, yang korbannya justru banyak berjatuhan dari kaum muslim sendiri.

Sudah bukan rahasia lagi, ISIS adalah bentukan korporasi-korporasi anti Islam, yang lewat ISIS mereka ingin menciptakan image buruk mengenai Islam di mata dunia. ISIS menciptakan prahara dibanyak negara muslim, dan yang paling parah mendapatkan dampaknya adalah Suriah dan Irak. Kita bisa belajar banyak dari tentara-tentara Suriah dan Irak. Meski ISIS telah menimbulkan kerusakan besar di negeri mereka, tidak lantas kalimat yang dijadikan fitur bendera ISIS turut dimusuhi dan dibenci. Membakar bendera musuh adalah cara mengungkapkan ekspresi kebencian dan penolakan, sebagaimana aksi-aksi demonstrasi membela Palestina oleh kaum muslimin dibanyak negara kerap diwarnai dengan aksi membakar bendera Zionis dan Amerika Serikat, namun tentara Suriah dan Irak tidak kita lihat mereka melakukan hal tersebut pada bendera ISIS.

Disetiap wilayah yang berhasil dibebaskan kembali dari cengkraman ISIS, tentara Irak maupun Suriah cukup menurunkan bendera ISIS dan menggantinya dengan bendera nasional mereka dan sebagai selebrasi kemenangan dan sebagai simbol kalahnya ISIS di wilayah tersebut, mereka cukup membalik bendera ISIS.

Tulisan kalimat tauhid dalam keyakinan setiap muslim adalah tulisan yang tidak bisa diperlakukan seenaknya dan tidak bisa ditulis disembarang tempat. Menulis kalimat tauhid dibendera sebuah kelompok yang justru perbuatan mereka merusak citra Islam, itu pada hakekatnya tidak ada ubahnya dengan menulis kalimat tauhid di dinding WC yang tidak semestinya di tulis di tempat tersebut. Karena itu setiap muslim harusnya menolak, simbol teragung dari Islam tersebut disalah gunakan dan disalah tempatkan. Herannya, banyak dari kita diam saja, ketika organisasi teroris seperti ISIS dan organisasi yang akhirnya terlarang di Indonesia seperti HTI menggunakan tulisan kalimat tauhid tersebut sebagai fitur dari bendera dan simbol organisasi mereka namun ketika ada upaya untuk meluruskan agar tulisan kalimat tauhid diperlakukan dan ditempatkan sebagaimana mestinya, mereka malah berteriak lantang dan baru merasa terhina. Membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid, memang tidak semestinya dilakukan, namun semestinya sejak awal dan harus lebih dasyhat penolakannya adalah menentang keras tulisan kalimat tauhid dan simbol-simbol Islam dijadikan ornamen kelompok-kelompok yang memang tujuan pendiriannya adalah untuk merusak citra Islam.

Saya pribadi tidak sepakat dengan pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid atau memuat simbol-simbol Islam meski itu bendera dari kelompok atau organisasi teroris sekalipun, sebab masih ada alternatif lain menunjukkan penolakan pada bendera dan organisasi tersebut sambil tetap menaruh hormat pada tulisan kalimat tauhid yang ada pada bendera. Seperti yang dilakukan tentara Irak dan Suriah misalnya. Betapapun besarnya kebencian dan kemurkaan  mereka pada ISIS yang telah membawa perang dan petaka yang tak berkesudahan bagi mereka, namun tidak lantas memperlakukan bendera ISIS yang memuat tulisan kalimat tauhid secara senonoh. Mereka merasa tidak perlu sampai membakar bendera untuk mengungkapkan kemarahan, untuk membuat ISIS merasa terhina karena kalah, mereka cukup membalik bendera ISIS saja. Bendera ISIS dibalik sekalipun, tulisan kalimat tauhid tidak kehilangan esensinya, tapi itu telah membuat sensi pemilik bendera tersebut.

Ismail Amin

Kadep. Kajian Strategis dan Intelektual IPI Iran 2018-2019