Prof, Dr. Syafaatun Almirzanah dosen UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta dan UGM dalam sebuah diskusi memaparkan beberapa poin penting peran mistisisme dalam membangun dialog antar agama. Dikatakanya, pluralisme agama adalah sebuah fakta, oleh karena itu penting mencari matrix baru hubungan antar agama. Matrix itu bisa di temukan dalam tradisi mistisime.

Dalam pemaparanya berjudul When Mystic Master Meet; toward a New Matrix for Critian-Muslim Dialogue” yang dikutip dari bukunya menjelaskan lebih lanjut. “Buku ini berisi studi tentang peran dan pengalaman mistik yang dapat dimainkan dalam dialog Kristen-Muslim sebagai bagian dari dialog antaragama secara umum. Fokus buku ini pada karya dua master mistik hebat abad pertengahan, seorang Muslim dan Kristen. Guru Sufi al-Syaikh al-akbar atau “Guru Terbesar” —Muhyi al-Din Ibnu al-‘Arabi dan ahli teologi mistik, filosofis besar Jerman Meister Eckhart.

Buku ini mengidentifikasi tema-tema utama masing-masing ajaran yang memiliki implikasi signifikan untuk menangani isu-isu keragaman agama dan dialog antaragama. Mengapa dialog lintas agama?, Mirzah bertanya pada peserta diskusi. Kemajemukan adalah fakta dunia kontemporer kita, baik dalam skala global dan seringkali pada tingkat masyarakat tertentu. “Agama banyak dan beragam dan mereka mencerminkan hasrat baik pria dan wanita sepanjang masa berhubungan dengan Yang Mutlak.” (Paus Yohanes Paulus II dalam Asisi, 27 Oktober 1986)

Mengutip Friedrich Max Mullerm, Mirzanah mengatakan “Dia yang tahu satu agama tidak tahu apa-apa.” Dalam konteks pluralitas sosial yang semakin hari semakin religius, kata-kata ini menunjukkan tidak hanya kegagalan untuk melibatkan pluralisme, juga tindakan selfmarginalization dalam konteks sosial kita sendiri. Tanpa pemahaman tentang iman tetangga kita, orang beragama (atau komunitas) yang hidup dalam masyarakat majemuk yang religius bahkan tidak dapat memahami dirinya sendiri.

Kenapa mistisisme menjadi penting, menurut Mirzanah, seseorang akan memiliki peluang atau akses untuk mengunduh lebih banyak makna. Menggunakan interpretasi dari tradisi mistik, tidak berarti ia mengingkari pentingnya genre tafsir lain-linguistik, legal, filosofis atau teologis; masing-masing memiliki tempatnya dalam matriks interpretasi dan aplikasi secara keseluruhan.

Tetapi kita sekarang lebih membutuhkan kembali ke sumber spiritual agama daripada sebelumnya; dengan demikian, perhatian khusus harus diberikan kepada dimensi mistis, spiritual dan metafisika dari wahyu, dan kepada pihak yang memiliki otoritas menafsirkan kedalaman makna dalam Kitab Suci. Warisan makna tidak akan pernah habis. Sebuah tek, termasuk teks agama, bukanlah komunikasi tunggal yang diulang tanpa henti, melainkan sebagai kendaraan yang secara terus-menerus memberikan arti baru berdasarkan situasi dan momen pembaca. “Hal-hal yang diketahui ada pada “known” sesuai dengan mode knower” . “Warna air tergantung wadahnya”

Mengutip Fishbane, Mirzanah menegaskan bahwa, salah satu fungsi utama dari penafsir mistis – seperti Ibnu al-‘Arabi dan Eckhart – adalah “untuk melanjutkan misi kenabian, yakni menghancurkan berhala, melampaui pemujaan bahasa ”dan mengutuk“ arogansi hermeneutik dalam segala bentuknya. Keduanya percaya dengan tegas pada teks literal sekaligus memperjuangkan pembacaan kedalaman makna tak terbatas diluar makna literal.

Ibnu al-‘Arabi dan Eckhart cenderung menafsirkan teks suci dengan cara yang lebih alegoris dan mistis, bukan untuk menggantikan interpretasi yang lebih langsung, melainkan untuk melengkapi interpretasi konvensional dengan menggali makna teks yang paling dalam dan dengan bantuan metode filosofis. Eckhart tidak pernah menolak signifikan interpretasi literal langsung dari tek suci. Sebaliknya apa yang dia lakukan adalah mencari arti yang lebih dalam.

Mirzanah menutup pemaparanya, jika dialog agama itu otentik dan membawa transformasi otentik, maka perjumpaan dengan orang lain yang religius seharusnya memiliki efek terhadap pemahaman tentang keagamaan kita, dan oleh karena itu pada pembacaan kita sendiri atas teks kita sendiri.

Ibnu al-‘Arabi menyinggung dua dimensi berbeda dari pengalaman manusia tentang Tuhan. Yang pertama adalah “Tuhan yang diciptakan oleh manusia,” atau seperti “Dewa Keyakinan,” yang berubah sesuai dengan kecenderungan manusia. Yang kedua adalah Ketuhanan, Dzat yang tidak bisa diketahui. Menurut ajaran Ibn al-‘Arabi, tidak ada yang salah dengan “God of Belief,” asalkan selalu sadar akan sejauh mana pengalaman Tuhan ini terkondisi secara signifikan oleh keterbatasan mereka sendiri.

Seperti Arabi, Eckhart membedakan antara Tuhan sebagaimana dipahami oleh orang (Tuhan yang kita sembah), di satu sisi, dan Tuhan sebagai di luar bayangan dan konsep (Godhead). Juga Seperti Arabi, dan Eckhart, Tuhan yang merupakan objek ibadah dan penyembahan Kristen berbeda dari Ketuhanan yang tak terlukiskan. “Tuhan dan Tuhan Yang tak terlukiskan,” Eckhart berpendapat, berbeda satu sama lain sebagai surga dan bumi.

Baik Ibnu al-‘Arabi dan Eckhart percaya, Tuhan yang disembah adalah “konstruksi sebagian manusia, dia ada hanya dalam hubunganya dengan komunitas pemujaan.” “” Ketika aku berdiri pada tujuan pertama saya, maka saya tidak punya Tuhan,. . . tetapi ketika saya keluar dari rumah sendiri dan menerima sebagai makhluk ciptaan, maka saya memiliki Tuhan, karena sebelumnya ada makhluk lain, Tuhan bukan Tuhan, tetapi dia memang seperti itu. Tetapi ketika makhluk menjadi dan menerima status makhluk ciptaan, maka Tuhan bukanlah Tuhan dalam dirinya sendiri, tetapi dia adalah Tuhan di dalam makhluk. ”

Pembicara kedua, Dr. Seyyed Mirri (Mustofa International University) memberi respon. Dalam tradisi Filsafat Islam, terdapat dua subjek yang selalu dibahas beriringan, wujud qua wujud dan mahiyah. Wujud am (wujud sebagaimana wujud) dan wujud khos (Ketuhanan). Wujud yang tak tersentuh oleh konsep (wujud murni), wujud yang bercampur denga mahiyah (dengan konsep). Akan tetapi karakter wujud bergradasi, dan kesanggupan manusia dalam mentransendensikan wujud sesuai dengan kondisi gerak jiwanya. Proses memahami Tuhan simultan dengan perjalanan spiritualnya bertiingkat-tingkat sesuai dengan layer kedalaman makna baik tersirat dan tersurat.

Diksusi ini mengambil tema “Mysticism in Islam and West”, diselenggarakan oleh panitia gabungan Indonesia Discussion Forum, KBRI Tehran, IPI, HPI, Gusdurian Tehran, 3/10 2018, bertempat di Mustofa International University, Tehran.