Bencana Alam, Tanda Cinta Allah

Bencana Alam, Tanda Cinta Allah

Bencana alam baik itu gempa bumi, angin topan, banjir, tsunami, longsor maupun likuifaksi dalam penjelasan Alquran adalah tanda-tanda kebesaran Allah swt. Bencana alam tersebut terjadi bukan tanpa sebab dan bukan tanpa tujuan. Dalam Alquran disebutkan, bencana alam terjadi diantaranya karena akibat dosa-dosa dan perbuatan buruk manusia, dengan dua tujuan yaitu bagi orang-orang pelaku dosa adalah hukuman, dan bagi orang-orang yang beriman adalah ujian untuk menaikkan derajat mereka. Bencana alam juga digambarkan sebagai bentuk peringatan dari Allah swt agar manusia menyadari kekeliruannya dan menyatakan pertaubatan kepada Allah swt.

Kisah-kisah umat terdahulu yang direkam dalam Alquran menjadi pelajaran bagi kita semua. Jika ditengah-tengah masyarakat, ada yang melakukan perbuatan dosa besar secara terang-terangan dan masyarakat umum mendiamkan hal tersebut maka dalam kondisi tersebut, dengan izin dan kehendak-Nya, Allah swt bisa menimpakan bala yang akan mengenai semua orang dalam masyarakat tersebut. Sebagaimana yang pernah terjadi pada kaum Tsamud, yang ditimpakan atas mereka bala dari langit yang membuat kesemuanya binasa tanpa terkecuali.

Penyebab lainnya, bisa dikarenakan penolakan dan penentangan masyarakat pada dakwah-dakwah tauhid. Sebagaimana pernah terjadi pada negeri Mesir yang mendapat rangkaian bencana karena menolak dakwah tauhid Nabi Musa as. Rangkaian bencana tersebut adalah badai topan, serangan hama belalang, kutu dan katak, serta merahnya air sungai Nil. Rangkaian bencana tersebut adalah peringatan agar masyarakat mengikuti ajakan Nabi untuk bertauhid dan hanya menyembah Allah swt. Kisah ini bisa dibaca pada Qs. Al-‘Araf [7] ayat 133 sampai 135. Begitupun dengan kisah pembangkangan masyarakat pada dakwah Nabi Nuh as, Nabi Luth as, Nabi Hud as dan Anbiyah as lainnya.

Namun bencana tidak melulu berarti azab dari Allah swt. Terkadang musibah adalah mukaddimah dari turunnya rahmat dan nikmat-nikmat Allah swt. Sebagaimana dalam kisah Nabi Yusuf as. Sebelum menjadi nabi dan menjadi penguasa, Nabi Yusuf as mengalami berbagai rangkaian kesulitan, mulai dari konspirasi saudara-saudaranya yang membuatnya dibuang ke dalam sumur, dijebloskannya ia dalam penjara dan berbagai kesulitan lainnya.

Dalam surah Hud ayat 52 disebutkan Nabi Hud as berkata, “Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.” Pada ayat ini, hujan deras yang akan diturunkan Allah swt tidak akan menjadi bencana, jika sekiranya kaum Nabi Hud as bertaubat kepada Allah swt, melainkan hujan yang akan menjadi rahmat bagi mereka. Namun dikarenakan kaum Nabi Hud as menolak ajakan untuk bertaubat tersebut, maka hujan yang menimpa mereka menjadi azab yang membinasakan mereka. Begitupun dalam surah Nuh ayat 10-12 disebutkan, jika kaum Nabi Nuh as meminta ampun, maka Allah swt akan mengampuni mereka dan hujan lebat yang akan turun bukan untuk menenggelamkan mereka, melainkan akan menjadi karunia berupa semakin banyaknya harta dan anak-anak, akan diadakan bagi mereka kebun-kebun dan sungai-sungai. Namun dikarenakan mereka tetap pada kedurhakaan dan kesombongan maka sejarah mencatat akhir hidup mereka yang tragis.

Jadi secara alamiah, pergerakan bumi, tekanan udara, kenaikan suhu dan lain-lain bisa menyebabkan terjadinya bencana alam. Itupun dikatakan bencana alam karena menyebabkan kerugian pada manusia, baik  secara material maupun psikis termasuk menimbulkan korban jiwa. Angin topan di tengah samudra yang tidak dilalui kapal laut dan tidak menimbulkan kerugian apapun bagi manusia, tidak dikatakan sebagai bencana alam. Bencana alam dengan ilmu pengetahuan bisa diprediksi kejadiannya oleh BMKG dan tidak bisa dihindari. Namun dengan berkaca pada ayat-ayat Alquran, maka aktivitas pergerakan bumi yang bisa menimbulkan gempa bumi, tsunami maupun likuifaksi bisa menjadi azab jika kita membiarkan diri kita mendurhakai Allah swt dan juga bisa menjadi awal turunnya keberkahan Allah swt jika kita mengabdikan diri taat pada perintah-perintah-Nya.

Semoga bencana-bencana yang terjadi belakangan ini adalah mukaddimah bagi datangnya rahmat-rahmat Allah swt bagi negeri ini.

Diriwayatkan Imam Tirmidzi, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.”

Dalam riwayat lainnya, “Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.”

Palu dan Lombok bangkit!!!

Ismail Amin

Kadep. Kajian Strategis dan Intelektual IPI Iran 2018-2019