IPI Tehran – Maknai Sumpah Pemuda

IPI Tehran – Maknai Sumpah Pemuda

Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Republik Islam Iran menggelar diskusi sederhana dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 2018 dan bersamaan dengan peringatan hari lahir Hafez dan ulang tahun Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan Octavino Alimudin.

Diskusi yang diawali dengan doa bersama dan makan malam dengan menu lontong itu diselenggarkaan oleh departemen kesekretariatan dan intelektual IPI di Tehran, ibukota Iran, Jumat malam, 12 Oktober 2018 pukul 19:00 waktu setempat.

Muhammad Ma’ruf, mahasiswa Ph.D Mustofa International University sebagai pembicara utama dalam sebuah diskusi peringatan Hari Sumpah Pemuda itu menjelaskan beragam hal penting mengenai tema ini. Menurutnya, terdapat relasi kuat antara tanah air, bangsa dan bahasa dalam ikatan sumpah. Tanah air adalah tempat takdir terbaik Tuhan yang diberikan kepada setiap umat manusia.

Oleh karena itu, lanjut Ma’ruf, pilihan kalimat terbaik memaknai Sumpah Pemuda adalah membangkitkan ucapan syukur atas anugerah tanah terbaik yang Tuhan berikan kepada masyarakat Indonesia. Niat syukur yang  kuat akan menghubungkan secara langsung kepada Tuhan sebagai titik tolak dan poros berpikir, membingkai relasi citacita berbangsa dan berbahasa.

Mahasiswa Ph.D Mustofa International University itu menjelaskan, bangsa (nation) adalah konsep abstrak yang tidak bisa mencukupi dirinya sendiri (not sufficient theory), sehingga membutuhkan teori pinjaman dari filsafat dan agama untuk mengisi kognisi Indonesia sebagai nation. Pemerintah, cakupan  wilayah, dan tentara adalah element struktur yang mengikat isi konsep nation state Indonesia.

Sedang  bahasa Indonesia, lanjutnya, adalah kesepakatan kolektif sebagai media expresi menyatukan cita cita pandangan yang ingin hidup bersama dalam wadah Indonesia. Bahasa Indonesia, secara “nature” dipilih sebagai alat expresi paling kuat yang dapat membantu menyusun cita- cita konsep negara Indonesia di tengah banyak ragam bahasa. Tiga kata; tanah air, bangsa dan bahasa kemudian dibingkai secara kuat oleh sebuah sumpah yang bernilai suci, karena berasal dari naluri untuk menjadi manusia bebas. Bebas dari perbudakan berpikir dan perbudakan fisik akibat ratusan tahun dibawah luka penjajahan.

Menurut Ma’ruf, menjadi manusia bebas adalah fitrah setiap manusia penghuni seluruh muka bumi. Bersumpah artinya berkomitmen untuk hidup bahagia dan sejahtera, keluar dari lobang takdir sejarah penindasan kolonial. Maka imaji Indonesia menjadi rasa kangen yang kuat, rumah ideal, rumah bersama sebagai payung arah pergerakan sejarah Indonesia di kemudian hari.

Memaknai sumpah pemuda artinya membaca dan menghayati diorama sejarah masa lalu  dan tantangan kontemporer secara  simultan. Karena kaitan manusia (agent) dan sejarah (man and history) seperti satu koin dua wajah. Kaitan itu di drive oleh hukum sebab akibat terencana (sebab dekat) dan campuran sebab jauh (aksidental). Sehingga panduan berpikir sumpah (ikrar) pemuda bersifat permanen dibawah poros rasionalitas dan manusia fitrah yang ingin selalu bebas dari perbudakan. Inilah fitrah, “self”, jati diri bangsa Indonesia.

Di akhir pemaparanya, mahasiswa yang aktif dalam berbagai diskusi dan seminar internasional itu mengatakan, cara menghidupkan sumpah pemuda secara kontemporer bisa dengan berbagi pengalaman dan mencari titik temu dalam pergaulan antar bangsa. Seperti halnya Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) yang membuat puisi merespon puisinya Hafez untuk mencari titik temu peradaban Jerman dan Persia. Ia mempersembahkan karyanya berjudul “West–östlicher Divan”, sajak pujian Barat-Timur. Goethe menyebut diwan Hafez sebagai ‘heiligen Bücher’, buku yang berharga. Puisi bisa digunakan sebagai alat berbagi pengalaman hidup dari belahan bumi. Kekeringan hubungan struktur antar negara bisa dibahasahi dengan bahasa hati, berbagi cinta kasih. Karya sastra nusantara dan para senimanya juga bisa bertukar makna dengan sastrawan dan seniman Persia.

Angku, sebagai penanggap pertama memberi respon. Sumpah pemuda artinya membuktikan, menjaga sumpah meski di perantauan. Bersumpah di perantauan artinya Indonesia menjadi pemersatu meski profesi beragam. Angku menambahkan, fenomena banyaknya Partai di tanah air telah menjadikan persaudaraan kita makin renggang, olehkarena itu di perantauan jangan sampai terpengaruh, harus terus dibangkitkan rasa saling menolong.

Kiki Mikhael, salah satu mahasiswa Ph.D Syahid Bahesti University, sebagai penanggap kedua, mempertajam diskusi dengan memberi makna bahwa manusia itu dipegang kata-katanya, para pemuda dahulu telah membuktikan kata-katanya. Sejarah yang sudah terjadi memang tidak bisa diubah, yang penting terus membaca sejarah sekarang yang terus berubah. Mengutip kata Sukarno, terdapat tiga kategori sejarah. Sejarah keemasan di masa lalu,sejarah gelap, dan sejarah cerah. Menurut Kiki, sejarah masa depan Indonesia adalah cerah. Pemuda tidak bisa diukur dari umur, tapi dari semangatnya. Semangat untuk mengatasi kesulitan hidup di perantauan sebagai bahan ujian, share kesulitan bersama dalam ikatan Indonesia.

Jannat, salah satu peserta memberikan komentar. Anggota sumpah pemuda dahulu terdiri dari pemuda, oleh karenanya pemuda selalu terdepan sebagai agen perubahan dan pembaharu. Mahasiswa di perantauan, jangan hanya mengukur kesuksesan dengan nilai IP, tapi juga harus beraktualisasi dan berinteraksi dengan organisasi dan masyarakat. Ikatan tidak hanya organisasi, batinnya juga harus saling terikat.

Syarif, salah satu mantan anggota Ikatan Pelajar Indonesia (IPI), memberi poin, sumpah pemuda harus diamalkan terus, jangan bercerai berai, kecintaan tanah air harus terus di pupuk, kecintaan tanah air harus lebih tinggi dibanding tanah air orang. Disamping itu, bahasa Indonesia harus terus di ajarkan kepada anak dimanapun kita merantau.

Sementara itu, Wakil Ketua IPI Bahesti Zahra memberi penekanan bahwa semangat pemuda harus terus diamalkan tetapi harus di sesuaikan dengan kondisi zaman dengan selau memperhatikan  norma tata krama. (RA)