IPI Iran Siap Salurkan Dana Bantuan buat Korban Bencana di Palu dan Donggala

IPI Iran Siap Salurkan Dana Bantuan buat Korban Bencana di Palu dan Donggala

Belum kering airmata kita, atas bencana gempa bumi yang melanda Lombok dan Bali, kembali bencana gempa bumi dan tsunami terjadi di Sulawesi Tengah, khususnya di Palu, Donggala dan sekitarnya. Bencana tersebut adalah duka kita semua. Termasuk duka bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia yang berada jauh dari tanah air. Terbayang, betapa perihnya duka teman-teman perhimpunan pelajar yang keluarganya tertimpa bencana di tanah air.

Untuk turut membantu dan meringankan beban saudara-saudara kita yang terkena bencana, kami Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran membuka penyaluran donasi buat teman-teman pelajar dan warga Indonesia yang bermukim di seluruh wilayah di Republik Islam Iran yang akan kami salurkan langsung kepada teman dan kerabat kita yang menjadi korban.

Donasi bisa ditransfer ke rekening:

Bank Refah : 5894-6315-0129-6354

an: Bahesty Zahra

Narahubung : Bahesty Zahra (+98 933 479 6421)

Terimakasih

Presiden IPI Iran 2018-2019

Muhammad Ghiffari

 

Ismail Amin: Indonesia Punya Demokrasi Sendiri

Ismail Amin: Indonesia Punya Demokrasi Sendiri

Kepala Departemen Kajian Strategi dan Intelektual Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran, Ismail Amin dalam materi yang disampaikannya pada diskusi peringatan hari demokrasi internasional bertema “Masa Depan Demokrasi Indonesia dan Tantangan Zaman” Jumat (28/9) di Tehran, ibukota Republik Islam Iran, mengatakan, “Kebudayaan asli Nusantara telah akrab dengan nilai dan falsafah demokrasi sebelum Nusantara dipengaruhi India, Tionghoa, Persia dan Arab termasuk sebelum masuknya kolonialisme.”

Lebih lanjut, mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Internasional al-Moustafa Qom tersebut mengatakan, “Dengan menelusuri kembali jejak-jejak sejarah Nusantara, kita menemukan prinsip-prinsip demokrasi telah dijalankan masyarakat, jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, bahkan jauh sebelum pihak Barat yang mengklaim diri sebagai kampiun demokrasi menyebarkan paham demokrasi di seluruh dunia. Hal ini menyadarkan kita, bahwa kita tidak perlu diajarkan mengenai demokrasi dan HAM oleh pihak asing.”

Menukil dari tulisan Bung Hatta, Ismail Amin kemudian memaparkan tiga tiga ciri pokok demokrasi asli bangsa Indonesia. Ia menyebut ketiga ciri pokok itu adalah: tradisi musyawarah, hak untuk melakukan protes secara terbuka terhadap peraturan yang tidak adil dan tradisi gotong royong atau kolektivisme.

“Tradisi musyawarah atau rapat telah tumbuh dan hidup bersama dengan manusia Indonesia dari dulu sampai sekarang.  Kebiasaan rapat atau bermusyawarah dalam menentukan keputusan dapat kita temui dalam sistem sosial di desa-desa di Jawa, Bugis, Minangkabau, dan lain-lain. Di masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, berlaku prinsip:  Rusa taro arung, tenrusa taro ade, Rusa taro ade, tenrusa taro anang, Rusa taro anang, tenrusa taro to maegae, yang artinya, batal ketetapan raja, tidak batal ketetapan adat; batal ketetapan adat, tidak batal ketetapan kaum; batal ketetapan kaum, tidak batal ketetapan Rakyat banyak.” Ungkapnya.

Diakhir penyampaiannya, Ismail Amin menyampaikan  rekomendasi, “Model demokrasi Pancasila merupakan model asli bangsa Indonesia, yang memiliki akar dalam budaya dan tradisi masyarakat Indonesia. Karena itu nilai-nilai demokrasi asli dan pribumi Indonesia ini harus terus dipupuk dan disebarluaskan sehingga bangsa Indonesia tidak perlu meniru atau mengikuti model-model demokrasi asing yang tidak sejalan dengan budaya asli bangsa Indonesia.”

Dialog Kebangsaan “Masa Depan Demokrasi Indonesia dan Tantangan Zaman” yang digagas Indonesia Discussion Forum dibuka oleh Duta Besar Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan, Octavino Alimuddin yang juga bertindak sebagai keynote speaker.

Bertempat di aula lantai empat University of Islamic Sects Tehran, turut hadir tujuh pembicara lainnya, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Syafaatun Almirzanah Ph.D, Atase Politik KBRI Tehran, Priadji Soelaiman, Ketua Yayasan Ponpes Darul Muttaqien, Kiki Mikael, koordinator Gusdurian Tehran Purkon Hidayat, koordinator Indonesia Discussion Forum, Muhammad Ma’ruf dan perwakilan dari Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran, Muhammad Habri Zein.  Turut hadir pembicara tamu, mantan atase kebudayaan Iran untuk Indonesia, Dr. Hojjatollah Ibrahimian yang saat ini menjabat sebagai wakil rektor University of Islamic Sects Tehran sebagai panelis, sekaligus memberikan sambutan selaku tuan rumah. Hadir pula sebagai peserta  seratusan mahasiswa Indonesia yang kuliah di beberapa kota di Iran seperti dari Tehran, Qom, Masyhad, Lorestan, Ghorghon dan Esfahan.

Sejak 1988, PBB menetapkan setiap tanggal 15 September sebagai hari demokrasi internasional yang diperingati di seluruh penjuru dunia.

Rekomendasi lengkap Diskusi Kebangsaan bisa dilihat di sini.