Islam Mendukung Terorisme?

Islam Mendukung Terorisme?

-Akar terorisme dan cara menanggulanginya-

Islam adalah agama rahmat, yang diturunkan Allah swt melalui Nabi Muhammad saw. Sebagai pembawa agama rahmat, Nabi Muhammad saw pun menyampaikan ajaran agama tersebut dengan penuh rahmat dan dibarengi dengan ketinggian akhlak. Baik kawan maupun lawan mengagumi dan mengakui keluhuran budi pekerti Rasulullah saw. Sebagai antitesa dari rahmat, tentu Islam datang untuk menolak kejahatan dan melawan kebatilan. Sebab kejahatan, penindasan dan kebatilanlah yang membawa umat manusia jatuh pada bencana, yang merupakan kebalikan dari rahmat.

Sejak pertama kali kemunculannya, Islam tak pernah berhenti memainkan peranannya memberantas serta melawan kebatilan yang selalu berupaya dengan tipu muslihatnya untuk membawa bencana pada kemanusiaan demi keuntungan segelintir orang saja. Namun herannya, Islam saat ini malah mendapat tudingan dan fitnah tanpa henti, yang menyebutkan Islam adalah agama kekerasan. Melalui berbagai media, baik film, lagu, karikatur, buku bahkan komik, Nabi Muhammad saw digambarkan sebagai pelaku teror dan mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.

Untuk membantahnya, sebenarnya sangat mudah. Pertama, Islam adalah agama yang menuntut penganutnya untuk memeluk Islam tanpa paksaan, harus diyakini dengan sukarela dan kesadaran sendiri. Sebagai agama samawi terakhir, Islam tidak memungkiri kebenaran para Nabi sebelumnya dan kitab-kitab suci yang bersama mereka. Lebih dari itu, Islam telah menjadikan keimanan kepada para Nabi, utusan Allah itu, dan Kitab-kitab Suci yang Allah turunkan kepada mereka sebagai salah satu prinsip fundamental yang tanpanya keimanan seorang Muslim tidak absah.

Yang menjadi persoalan sebenarnya, bukan dari pihak Islam. Sebab Alquran sendiri mengingatkan, justru pengikut Yahudi dan Nasranilah yang cenderung memusuhi dan membenci Islam. Bahkan memaksakan kehendak, muslimlah yang harus mengikuti keyakinan dan cara hidup mereka.

” وَ لَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْۗ . . . “

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka . . . “ (QS. Al-Baqarah : 120).

Bahkan, dengan cara yang tidak fair, Islam diperkenalkan di Barat dengan cara yang irasional. Targetnya jelas, agar masyarakat Barat tidak tertarik mempelajari Islam. Terlalu sering kalangan media dan film Barat memotret dan menggambarkan Islam secara negatif.

Kedua, sebagaimana ditulis sebelumnya, Islam adalah agama rahmat, jadi tentu saja, Islam bertentangan dengan terorisme. Apa itu terorisme dan apakah Islam agama terorisme?. Teror atau Terorisme selalu identik dengan kekerasan. Terorisme adalah puncak aksi kekerasan, terrorism is the apex of violence. Bisa saja kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan. Kaum teroris modern seringkali mengeluarkan pernyataan dan tuntutan. Mereka ingin menarik perhatian masyarakat luas dan memanfaatkan media massa untuk menyuarakan pesan perjuangannya. Dan dengan melihat dan mengkaji langsung ajaran Islam yang tertulis dalam Alquran dan melalui kitab-kitab  hadis, jelas Islam menentang terorisme dan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan.

Sirah Nabawiah sama sekali tidak menulis satu penggalan kisah pun dari Nabi Muhammad saw yang mengajarkan sahabat-sahabatnya untuk melakukan aksi teror terutama yang menargetkan korban dari kalangan anak-anak dan perempuan atau dari warga sipil secara umum. Bahkan kitab hadis sarat dengan perintah Nabi saw untuk tidak mengganggu warga yang lanjut usia, kaum perempuan dan anak-anak, bahkan sekedar merusak tanaman dan pepohonan dalam perang pun, Nabi Muhammad saw mengecam dan melarangnya.

Adapun yang dilakukan ISIS, Alqaedah, Taliban dan kelompok-kelompok yang kerap mengatasnamakan Islam namun menggunakan kekerasan dan pembantaian manusia tidak bersalah untuk mencapai tujuan, tidak bisa dikaitkan dengan Islam. Sebab harus dipisahkan mana Islam sebagai ajaran dan mana Islam sebagai tafsiran penganutnya. Islam dalam penafsiran kelompok-kelompok teroris jelas Islam yang salah kaprah, Islam yang ditafsirkan dengan hawa nafsu.   Sebenarnya sekarang pun sudah terungkap ISIS adalah sekumpulan orang yang menyebarkan teror dan terorisme bahwa mereka hanyalah boneka dari negara-negara Barat.

Sekarang, jika kita diperhadapkan kenyataan, bahwa yang menyebarkan teror benar adalah seorang muslim, yang juga bersyahadat dan menjalankan rukun-rukun Islam dengan baik, bagaimana kita menyikapinya?.

Manusia mempunyai hawa nafsu, bahkan orang beriman juga punya hawa nafsu dan keinginan sendiri, jika kata pepatah bahwa sabar tidak berujung dan ikhlas tidak terlihat, tapi tetap saja bahwa orang beriman pun mempunyai batas dalam bersabar.

Aksi teror dan aksi pemboman tahun belakangan ini termasuk yang terjadi di Indonesia yang melibatkan orang muslim sebagai pelaku, bisa dikatakan bermula dari aksi protes dan luapan amarah yang telah lama ditahan. Indonesia yang mayoritas umat Islam ini tentu saja paradoks, Islam yang menuntut pengikutnya agar tidak sama dengan hari ini dan besoknya harus lebih baik dan mengalami kemajuan, namun Negara Indonesia tetap saja tidak berkembang dan tidak maju yang mereka klaim penyebabnya, adalah pemerintah yang tidak becus mengelola. Negara dengan kekayaan alam yang melimpah, herannya justru terjerat hutang luar negeri yang mengggunung. Akhirnya dengan cara mereka, yang juga mendapat suntikan pemahaman ekstrimisme yang datangnya dari pihak-pihak yang hendak menggambarkan Islam sebagai agama kekerasan, mereka pun melakukan aksi-aksi teror untuk mewujudkan keinginan mereka. Karena itu, tidak ada asap jika tidak ada api. Sumber keresahan umat Islam di negeri ini yang harus dihilangkan. Caranya, tebarkan keadilan. Jalankan pemerintahan dengan jujur dan terbuka. Kebijakan-kebijakan yang tidak adil dan tidak memihak pada rakyat jelata yang mayoritas muslim harus dihentikan. Jika rakyat Indonesia yang mayoritas muslim ini mendapatkan keadilan, bisa dipastikan paham ekstrimisme dan kekerasan, tidak akan mendapat tempat di Indonesia, dan akan mati dengan sendirinya.

Diantara modus yang dapat menggaet orang-orang Islam untuk bergabung dalam jaringan teroris, adalah dengan menggunakan ayat-ayat  jihad dari Alquran mereka diiming-imingi dengan nikmatnya jihad, syahid dan surga untuk mereka yang mati syahid. Mereka yang mudah tergiur adalah mereka yang tidak punya Iman dalam hati mereka, tidak punya Iman dalam pikiran mereka, tidak punya Iman dalam mata, mulut, telinga, tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh mereka. Yang mereka punyai, hanya lisan yang mengaku bahwa mereka orang Islam.

Bagaimana cara agar kita tidak mudah terpedaya dan akhirnya masuk dalam jaringan terorisme tanpa kita sadari dan menganggap itu adalah perjuangan Islam?.

Pertama, dengarkanlah ilmu-ilmu serta pendapat-pendapat dari berbagai majelis ilmu. Namun, kita harus pintar memilah dan memilih ilmu-ilmu yang mana sajakah yang patut kita ambil dan kita amalkan. Bagaimana cara kita memilih dan memilah sedangkan kita saja tidak tahu mana ilmu yang baik mana yang buruk? Ikuti Alquran dan Assunah (Ahlul Bait), dalam dua pedoman tersebut kita bisa tahu semua ilmu-ilmu yang telah kita kumpulkan dari berbagai majelis-majelis taklim yang telah kita ikuti, bahkan tentang ilmu sihir yang banyak merugikan orang lain pun telah Allah terangkan dalam Alquran.

ادْعُ إِلٰى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ  ۖ  وَجٰدِلْهُمْ بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ  ۚ  إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِۦ  ۖ  وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 125)

Makna dari kata “hikmah” pada ayat di atas adalah “ilmu” dalam arti kita tidak usah jauh-jauh kemana harus mencari. Sudah jelas, cukup mengikuti jalan Nabi, sahabat dan keluarganya, sebagaimana yang dijelaskan terang dalam Alquran dan kitab-kitab hadis maka kita pun akan lurus jalannya, sementara jika mencari jalan lain selain itu, maka yang akan ditemui adalah penyimpangan dan kesesatan.

Mari kita lanjutkan perjuangan Islam sesuai dengan amalan yang diteladankan Nabi dan orang-orang yang mulia dan lurus dari agama ini. Mari kita memahami Islam sebagaimana pemahaman mereka yang memang dalam sejarah menorehkan catatan emas bagi peradaban manusia. Bukan dengan cara teror dan kekerasan, yang justru hanya menguntungkan musuh untuk menebar fitnah pada Islam.

Terakhir, cara paling mudah untuk menghindari jeratan terorisme adalah cukup kenali diri sendiri. Lihatlah kedalam hati sendiri, Allah itu lebih dekat daripada urat nadi kita sendiri, Insya Allah jika Allah ada dalam diri kita, dalam hidup kita, jalan manapun yang kita tempuh akan selalu terang dan mudah. Sebab Allah swt adalah sumber segala kebaikan dan kasih sayang.

Dzikry Al-Jihad

Kadep. Humas dan Broadcasting IPI Iran 2018-2019

Merajut Toleransi antar Umat Beragama, Membangun Kerukunan Bangsa

Merajut Toleransi antar Umat Beragama, Membangun Kerukunan Bangsa

-Refleksi peringatan kemerdekan RI ke-73

Mayoritas pemikir abad 19 dan 20 memprediksi bahwa seiring dengan kemajuan sains dan tekhnologi, agama akan semakin terpinggirkan, bahkan musnah sama sekali. Auguste Comte meramalkan bahwa masa depan adalah masa kaum positivis-saintis, masa teologis segera akan menjadi masa lalu. Karl Marx mensistematisir perkembangan sejarah yang berakhir dengan terbentuknya masyarakat komunis internasional, di mana ketidakrelevanan agama dalam kehidupan publik akan semakin diakui, diapun menyebut agama sebagai candu. Nietzche dalam refleksi filsafatnya menyebut, Tuhan telah mati. Max Weber meramalkan semakin merebaknya kesadaran rasional individu, yang secara langsung mengikis motivasi teologis dalam kehidupan. Sedang Huston Smith dalam Why Religion Matters: The Fate of the Human Spirit in an Age of Disbelief mempertanyakan, apakah agama akan menemukan ajalnya?.

Namun dalam konteks Indonesia, ramalan para pemikir ini salah besar. Kita dapat menyaksikan bagaimana masyarakat kota dan pedesaan semakin religius. Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, melalui survei nasional menunjukkan tentang adanya trend kenaikan religiusitas tersebut per tahun. Peningkatan religiusitas ini dapat diukur dengan fakta bahwa semakin banyak bermunculan gerakan-gerakan kegamaan yang diorganisir dalam bentuk organisasi-organisasi modern, kaum perempuan Islam yang mengenakan jilbab, semakin ramainya tempat-tempat ibadah, meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan ibadah, semakin banyak dan kuatnya komitmen masyarakat terhadap agama yang dianutnya dan lain-lain. Namun realitas ini sangat paradoks dengan tingkat intoleransi masyarakat yang juga meningkat. Berbagai bentuk kerusuhan disertai penjarahan bahkan pembunuhan banyak terjadi di beberapa daerah sejak tumbangnya rezim Orde Baru tahun 1998 sampai sekarang, menunjukkan peningkatan religiusitas berelevansi dengan kefanatikan dan tingkat intoleransi dengan penganut agama lain. Dan belum tampak semuanya akan berakhir, konflik laten bisa saja manifes dengan alasan yang sangat sederhana sekalipun Yang menyedihkan, tindakan anarkis dan kekerasan sering mengatasnamakan agama sebagai pembenar.

Sepanjang tahun 2017, SETARA Institute mencatat terjadi 155 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan dengan 201 bentuk tindakan, yang tersebar di 26 provinsi. Sebagian besar peristiwa pelanggaran terjadi di Jawa Barat, yaitu dengan 29 peristiwa. Pelanggaran dengan angka peristiwa yang tinggi juga terjadi di DKI Jakarta (26 peristiwa). Jawa Tengah dan Jawa Timur menempati provinsi peringkat ketiga dan keempat dengan masingmasing jumlah peristiwa 14 dan 12. Banten melengkapi peringkat lima besar dengan 10 peristiwa.

Dari 201 tindakan pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan, terdapat 75 tindakan pelanggaran yang melibatkan para penyelenggara negara sebagai aktor. Dari seluruh tindakan negara, 71 di antaranya dalam bentuk tindakan aktif (by commission), 3 tindakan by rule, sementara 1 tindakan lainnya merupakan tindakan pembiaran (by omission).

Sepanjang tahun 2017 pula, terjadi 44 peristiwa dimana kelompok-kelompok minoritas keagamaan menjadi korban. Dari empat kategori minoritas keagamaan yang digunakan oleh SETARA Institute, terdapat beberapa kelompok minoritas yang menjadi objek pelanggaran atas hak-hak konstitusional mereka, yaitu Umat Kristen (15 peristiwa), Syiah (10 peristiwa), Jemaah Ahmadiyah (8 peristiwa), Aliran keagamaan (5), Umat Katolik (2), Umat Konghucu (2), Umat Buddha (1), dan Umat Hindu (1). Kelompok-kelompok minoritas keagamaan tersebut secara berpola mengalami beberapa tindakan pelanggaran, yang dominan antara lain: intoleransi, penyesatan, penggrebekan, diskriminasi, intimidasi, penyegelan Rumah Ibadah, pembubaran kegiatan keagamaan, pembekuan, penyerangan, provokasi, ujaran kebencian, larangan ibadah, dan pembiaran.

Lahirnya Indonesia dan Toleransi

Pada dasarnya, sejak dahulu rakyat di negeri ini sadar dengan adanya kemajemukan bangsa. Namun kemajemukan itu tidaklah dijadikan dalih untuk saling menyudutkan, justru dijadikan sebagai kekuatan pemersatu menuju terbentuknya republik. Kelompok nasionalis berlatar belakang sekuler, kalangan agamis (Islam), dan kelompok komunis melakukan konsolidasi di bawah payung ideologis bernama keindonesiaan. Perlulah kiranya selalu kita ingat bersama-sama bahwa Sumpah Pemuda, yang dilahirkan sebagai hasil Kongres Pemuda II yang diselenggarakan tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta adalah manifestasi yang gemilang dari hasrat kuat kalangan muda Indonesia, yang terdiri dari berbagai suku dan agama, untuk menggalang persatuan bangsa dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Atas prakarsa Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) inilah kongres pemuda itu telah melahirkan Sumpah Pemuda yang berisi: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa yaitu Indonesia. Dari 1340 suku yang ada di nusantara dengan bahasa-bahasa yang berbeda, ada 748 bahasa namun pendahulu-pendahulu kita memiliki kebesaran jiwa untuk menyepakati bahasa melayu sebagai bahasa persatuan.

Republik Indonesia lahir 17 tahun kemudian, yang dijiwai semangat kebersamaan, persatuan, dan toleransi yang tinggi terhadap perbedaan. Semua pihak turut ambil andil dalam lahirnya republik. Meskipun ummat Islam mayoritas namun tak bisa dinafikan bahwa ada umat Khonghucu (Yap Tjwan Bing) yang menjadi anggota BPUPKI dan PPKI. Perlu dicatat pula bahwa sewaktu teks Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dibacakan, tempatnya di rumah seorang Tionghoa Khonghucu bernama Sie Kong Liong, di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta (yang sekarang dijadikan Museum Sumpah Pemuda). Ataupun kendaraan Kepresidenan pertama adalah mobil sumbangan seorang Tionghoa sebagai bentuk kecintaannya kepada republik yang baru terbentuk. Ini perlu dinukilkan karena masih saja ada anggapan, suku Tionghoa tidak memberi andil apa-apa dalam terbentuknya Republik Indonesia.

Toleransi kebangsaan lagi-lagi dipertontonkan para founding father negeri ini, dalam usaha mempertahankan kemerdekaan. 10 November 1945 dalam kalender sejarah bangsa kita dicatat sebagai hari lahirnya pahlawan-pahlawan bangsa, yang rela mati demi tegaknya sebuah negeri bernama Indonesia. Tanpa mempersoalkan suku, agama dan ras rakyat Indonesia saling membahu dalam menghadapi musuh bersama. Tentara sekutu sesumbar dapat menguasai Surabaya dalam 3 hari, namun pertempuran memakan waktu berminggu-minggu, meskipun tentara sekutu mengerahkan kekuatan penuh, namun tidak mudah menundukkan semangat rakyat yang merajut kebersamaan dalam berbagai perbedaan. Tentara sekutu tersentak dan akhirnya paham. Indonesia yang baru berusia 3 bulan, bukan bangsa kecil. Persatuan dan semangat toleran adalah kekuataan yang maha dahsyat, yang tidak tertundukkan. Karenanya tak bisa dipungkiri, rangkaian perjalanan sejarah bangsa Indonesia telah terbukti begitu kokoh dalam pijakan kemajemukan bangsa, mulai dari suku, agama, ras hingga budaya

Toleransi Antar Umat Beragama

Toleransi beragama yang tinggi sedari dulu telah ditunjukkan oleh umat beragama di Indonesia, baik yang Muslim, Kristiani maupun yang lainnya. Apabila satu pemeluk agama tertentu suatu ketika membangun tempat ibadah, tidak jarang kemudian dibantu oleh umat agama lain. Demikian halnya dalam pembangunan Mesjid Agung Istiqlal. Mesjid yang merupakan mesjid terbesar di Asia Tenggara pada masanya, dalam proses pembangunannya telah menyimpan satu sejarah toleransi beragama yang sangat tinggi. Disebutkan demikian, karena sang arsitek dari mesjid tersebut adalah seorang penganut Kristen Protestan yang taat. Friedrich Silaban yang oleh Bung Karno menjulukinya sebagai “by the grace of God” karena kemenangannya mengikuti sayembara desain Mesjid Istiqlal. Kebesaran jiwa dari umat Islam sangat jelas terlihat disini. Mereka mau menerima pemikiran atau desain tempat ibadah mereka dari seorang yang non muslim.

Mesjid yang diniatkan untuk melambangkan kejayaan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Mesjid yang merupakan suatu bangunan monumental kebanggaan seluruh umat Islam di Indonesia, di desain dan wakil kepala proyek pembangunannya dijabat oleh seorang Kristiani. Dia menciptakan karya besar untuk saudaranya sebangsa yang beragama Islam, tanpa mengorbankan keyakinannya pada agama yang dianutnya. Ummat Islampun menunjukkan kebesaran jiwanya dan penghargaan kepada Friedrich Silaban dengan menyebut Qubah Mesjid Istiqlal sebagai “Silaban Dom”, atau Qubah Silaban. Silaban dan kaum beragama di negeri ini mengukir sejarah, suatu sejarah yang lebih tinggi dari karya sebuah hasil seni atau teknologi. Sejarah kemanusiaan, kebersamaan, toleransi yang tidak akan terlupakan sampai kapanpun.  Karenanya, keanekaragaman yang selama ini ada menjadi tonggak “bineka tunggal ika” yang kuat dalam menopang berdirinya bangsa Indonesia, mesti tetap dipertahankan.

Pluralitas dan multikulturalitas bagi bangsa ini merupakan suatu keniscayaan; sesuatu yang memang harus ada dan tak terbantahkan. Pluralitas dan multikulturalitas yang kita miliki ini telah menciptakan mozaik yang indah dalam tampilan fisik manusia dan budaya Indonesia di sepanjang perjalanan sejarahnya. Sungguh memilukan melihat nilai-nilai pluralitas dan multikulturalitas yang telah tumbuh sejak awal terbentuknya republik ini, di kekekinian seolah-seolah tidak pernah ada. Sementara di sisi lain, eksklusivisme kelompok justru terlihat semakin menonjol. Maka sesungguhnya tak ada satu pun pihak, tak satupun suku, tak satupun agama, yang bisa mengakui keberadaannya tanpa andil pihak lain. Tak satupun. Tak bisa kita pungkiri, kita adalah bagian dari orang lain; ada sebagian dari orang lain dalam diri kita. Mengutip Emha Ainun Nadjib, “Kamu adalah aku yang lain”. Sikap dan penerimaan kultural seperti ini tidak akan memberi izin  atau permisi kepada siapa pun untuk arogan, menganggap dirinya lebih benar, dan merasa berhak untuk menghakimi pihak lain. Dengan sikap seperti itu, kita pun dapat terhindar dari pelbagai cedera sosial yang belakangan ini menimpa bangsa kita melalui konflik-konflik horizontal maupun vertikal, intelektual maupun fisikal.

Ismail Amin

Kepala Departeman Kajian Strategis dan Intelektual

Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran 2018-2019

Pidato Kebangsaan Kesatuan dan Persatuan

Pidato Kebangsaan Kesatuan dan Persatuan

“Membumikan Persatuan Indonesia demi Mewujudkan Keadilan Sosial”

Oleh, Muhammad Ma’ruf

Dibacakan dalam DIALOG KEBANGSAAN, 10/08/2018 Univesitas Internasional Imam Khomeini, Qom.

Yang terhormat segenap panitia, Yang terhormat Duta besar RI di Tehran,..Yang terhormat seluruh warga negara RI di Iran.

ASSALAMUALAIKUM WR, WB

Berbahagialah kita semua disini, menggelar dialog kebangsaan di tanah tua, negeri para pemikir dan filsuf, negeri yang sedang berjuang mempraktekkan sebuah negara pada lefel platonik, karena negara dan filsafat dianggap sebuah keniscayaan oleh pendiri Republik ini. Berbahagialah jika jerih payah ini, kita hargai dengan ucapan tulus hamdalah sebagai bentuk kewajiban beragama atas setiap nikmat umat manusia dan ekpresi kepatuhan pada hukum demokrasi Internasional yang kita hormati.

Membenci dan mengahancurkanya akan membawa malapetaka bagi hukum Internasional dan bentuk kufur nikmat. Sesungguhnya, segala kekufuran akan mengantarkan pada kezaliman, dan kezaliman adalah sumber masalah ketidakadilan sosial dan ekonomi.

Berbahagilaah bagi ruh ruh para pejuang dan pemikir bangsa Indonesia, sesunggunya mereka sedang menyaksikan kita semau disini, darah syuhada para patriot bangsa Indoesia tidak akan sia sia. Semoga darah syuhada mereka akan membantu menjernihkan aneka ragam masalah bangsa Indonesia.

Puji Syukur atas anugerah kemerdekaan RI yang ke-73. Puji syukur  pada penciptaan, tanah air, udara, pohon, rumput, udara, alam semesta yang telah tersedia untuk di huni oleh khalifah bernama manusia Indonesia. Tiada pilihan selain berseri seri, berucap syukur atas segala penciptaan yang telah berusia ribuan tahun, bentuk geografis, anek flora fauna, muka bumi Indonesia denga segala hikmah terbaiknya.

Sesungguhnya ruh pertama tercipta dengan perjanjian abadi manusia dengan Tuhanya dan akan kembali ke tempat semula, “mabda wa maad”. Seluruh ciptaan termasuk manusia hidup dalam keadaan kondisi kodrat geografis yang khas, akan kembali ke pada perjanjian semula dalam keadaaan terikat dengan perjalanan eksistensial pribadi-membawa implikasi kewajiban hukum sosial yang akan mewarnai perjalanan sejarah setiap ragam bangsa hingga berimplikasi pada mahkamah keadilan tertinggi Tuhan kelak.

Kondisi mental pengetahuan masyarakat dan implikasi gerak hukum terhubung secara langsung dengan alam spiritual.

Manusia dengan fitrah kebebasanya memilih jalanya sendiri yang terbaik menurut ikhtiar manusia. olehkarena kompleksitas kondisi sosial, maka turunlah para nabi untuk membantu dengan hidayah agung agar perjalanan pribadi dan sosial masyarakat tetap pada rel hidayah vertikal.

Sesungguhnya sejarah pergerakan masyakat berbeda dengan sejarah pergerakan benda fisika. Masyarakat berpikir dan bebas bergerak membawa kodrat pengetahuan bawaan (given) yang menentukan arah sejarah, ditempa dan dibentuk dari kebebasan ihktiar epistemologis eksistensial individu dan sosial. Keduanya membawa karakter isi kognisi pengetahuan sosial masyarakat.

Sesungguhnya “Intelek intuisi” adalah cipataan pertama Tuhan. Jika individu berpikir, masyarakat berpikir,  individu hidup, masyarakarat juga hidup. Dominasi wawasan ontologi dan karakter epistemologi masyarakat, akan mewarnai ketajaman dan ketumpulan akselerasi dan kecepatan pergerakan.

Tidak hanya isi kognisi pengetahuan masyarakat akan membawa tabiat, tantangan alam geografi dan budaya, akumulasi pengetahuan awam dan elit akan ditantang oleh kecepatan dalam memutuskan. Ada kematangan, setengah matang dan juga sifat kekanan kanakan akan menentukan level kualitas keputusan.

Kematangan dalam mengambil hikmah dan kecerdasan dalam menangkap tanda-tanda zaman akan ditandai kualitas cara membaca dan memanifestasikan gerak dan waktu. Tiada kebingungan bagi anak emas zaman oleh gonjang gonjing riak gelombang isu, hingar bingar sosiopolik dalam dan luar. Karena anak emas zaman adalah generasi terdidik oleh pengetahuan stabil yang kokoh, flexibel dalam praktek keseharian rumah tangga sebuah bangsa.

Hadirin sekalian generasi anak emas zaman Indonesia tercinta …

Kita adalah sebuah masyarakat spiritual, kita adalah pewaris tradisi pengetahuan monoteis para nabi, kita adalah sila pertama, kita bukan pewaris pengetahuan Imanuel Kant dan Hegel, kita bukan manusia indepen tercerahkan Eropa, kita bukan seonggok rasio mekanik binner (dualisme) Decartes. Kita dan pengetahuan kita bukan produk akumulasi sejarah absolut.

Kita manusia Indonesia bukan dicipatakan dalam keadaan tanpa pilihan yang harus terseret seret terbawa ambisi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat industri Prancis, Inggris, Jerman dan Amerika setiap tahun dan abad.  Tabiat kita bukan dibentuk seperti penghuni penjara dominasi ekonomi, masyarakat pewaris dan hasil teori koflik Marxis.

Kita bukan  tawanan hawa nafsu kapitalis yang serakah tanpa ujung dan pangkal. Kita bukan hasil diterminasi pilihan dominasi mazhab ekonomi David Ricardo, fondasi kita bukan “homo faber” (mahkluk pekerja), kita bukan tawanan abadi struktur hegemoni dunia, sebagaimana zaman Romawi dan Jenghis Khan. Kita adalah generasi makhluk spiritual anak emas zaman.

Olehkarena itu,  kita adalah kita, Indonesia adalah Indonesia, identitas  adalah identitas, identitas A adalah A, identitas A adalah potensi intelek intuisi yang tertanam dan ditanam  kuat oleh Tuhan Yang Esa.

Identitas adalah kehadiran, manifestasi, fitrah bawaan, hadiah terbaik Tuhan Yang Esa. Identitas kita adalah anugerah manifestasi terbaik Tuhan. Inilah fondasi kemanusiaan seluruh manusia, yang sama saja dimanapun manusia berdiri, sedang perbedaan adalah ekpresi luar gerak budaya masyarakat.

Suku, bahasa, daratan dan kepulauan adalah warna luar, pantulan luar yang disatukan satu warna esensi kemanusiaan, berisi “intelek intuisi”, berasal dari wahyu dan agama, esensi kemanusiaan bukan relatifitas pengetahuan produk penjara ruang dan waktu. Bukan aposterior (pengalaman) sifat bawaan manusia hasil kegagalan akibat ketidaktauhan (uknown) mengenal pengetahuan Tuhan dan Metafisika.

Pembangkitan agama dan metafisika di zaman anak emas zaman adalah perlu dan signifikan. Sebuah legasi, sebuah pilihan, sebuah modal untuk menggerakan seluruh esensi sila Pancasila.

Maka kedirian kita, titik berangkat kita adalah manusia Indonesia yang tercerahkan, kerumunan dan kumpulan masyarakat besar yang menaiki kapal spiritual, titik labuh, dan titik mendarat ada dalam bingkai “mabda wa maad”, ujung dan akhir perjalanan kapal masyarakat bangsa Indonesia dalam level pengetahuan pasti. Jalanya adalah jalan keadilan, seperti jembatan tipis shirat di akherat.  Shalatnya seperti berdiri di sentuh angin sepoi.

Pandangan dunianya sudah pasti sesuai tek sila pertama, sumber sebab pertama Dialah yang tidak ada yang serupa, tak tersentuh hukum ruang dan waktu dan akumulasi dinamika pengetahuan manusia. Dialah Yang Esa penopang seluruh realitas.

Pandangan dunia bahwa seluruh struktur realitas, realitas sosial, realitas fisika, realitas hukum dan sejarah masyarakat ditopang oleh dunia imateri, dunia spiritual, dunia indenpenden tak tersentuh hukum ruang dan waktu. Sedang Dia yang Esa hadir,termanifestasi ke alam semesta dan sosial. Manifestasnya bukan produk reduksi, dia mengalir sempurna pada takdir gradasi, seperti matahari menyinari alam semesta, kegelapan alam semesta  dan pengetahuan manusia karena ketiadaan cahaya matahari yang terhalang, bukan karena gelap itu sendiri. Matahari adalah ciptaan Tuhan bukan Tuhan itu sendiri,  tapi matahari adalah perlambang paling jelas.

Manifestasi seluruh sifat Tuhan, kasih sayang dan keadilanNya dikenalkan melalui hukum, sedang intelek intuisi menjadi perangkat terbaik manusia memahami hukum Tuhan dan manusia. Dinamika manusia memahami hukum Tuhan dan manusia itu sendiri menjadi ujian, menjadi bahan dan perangkat untuk memperoleh keadilan sosial dan semesta.

Sedang gerak sosial dipandu dengan kebebasan pilihan manusia, hukum evolusi kasual sosial dan  efek gerak benda fisika dan kimia yang di gerakakan oleh Tuhan robul alamien. Gerak  dan isi kognisi pengetahuan masyarakat dibantu oleh doktrin rasionalitas dan prinsip realisme sosial. Dibantu dengan penjelasan intelek teori dan intelek praktis nenek moyang manusia pintar,  Aristoteles dan AlFarabi.

Hadirin yang terkasih anak emas zaman

Ijinkanlah saya memberi bingkai dengan beberapa pertanyaan dari judul dialog kita

“Membumikan Persatuan Indonesia demi Mewujudkan Keadilan Sosial”

Pertanyaan kemudian mana yang terlebih dulu di dahulukan,….

  1. Mana yang lebih primer, bersatu dulu demi terwujudnya keadilan atau wujudkan keadilan sosial demi persatuan, atau keduanya bisa berjalan bersama
  2. Biskah membaca sila Persatuan dan sila keadilan lepas dari sila Ketuhanan, sila Kemanusiaan dan sila demokrasi dan hikmah
  3. Bisakah persoalaan bagaimana membumikan, menyatukan bangsa Indonesia, demi terwujudnya keadilan tanpa wawasan Ketuhanan, Kemanusiaa, rakyat dan demokrasi pada level tertinggi..

Baiklah saya akan berusaha menggali Pancasila sebagaimana ajakan Bapak Ir Soekarno. Sesunggunya persatuan memiliki beragam level dan dimensi sebagaimana keadilan.

Dimensi kesatuan dan keadilan, menyatu dengan  sila ketuhanan dan kemanusiaan, karena bertuhan yang benar, berperikemanusiaan yang beradab, ada dalam diri orang yang adil. Orang yang adil adalah  orang yang tidak terasing dengan masyarakat. Orang yang adil adalah orang yang menyatu dengan masyarakat yang diliputi keadilan.

 

Itulah manusia integral, manusia spiritual, manusia yang diliputi lima pancasila.  Sebagaimana manusia dalam keadaan berlevel, maka keadilan sosial mayarakat berlevel timbang balik antara individu, masyarakat dengan aparatur negara. Etos pemenuhan keadilan harus menjadi pijakan cita-cita bersama.

Jika kita menemukan ketidakadilan parsial, janganlah kita mengatakan terjadi perpecahan nasional. Jika kita menemukan perpecahan parsial, kita harus berhati hati untuk mengatakan terjadi ketidakadilan nasional secara masif.

Kita hanya bisa membaca angka, indikasi ketidaksatuan dan ketidakadilan, kita bisa ukur kesatuan dan keadilan yang terjadi dalam masyarakat dari sisi titik imbang, kualitas pemenuhan kebutuhan materi dan immateri, gerak tindakan dan tujuan masyarakat, kualitas pengetahuan yang mengisi kognisi masyarakat, kita bisa lakukan tindak induksi parsial dan induksi tidak sempurna, tapi hakim  tertinggi adalah deduksi logika sebagai doktrin rasionalitas.

Doktrin rasional yang membingkai arah perjalanan masyarakat, apakah masyarakat pada rel gerbong spiritual atau material. Kita boleh merujuk indikasi adil tidak adil dari indek perkapita standar negara lain, tapi hal tersebut tidaklah baku, indek keadilan sosial pertama adalah persoalan seberapa jauh hukum dipatuhi, seberapa jauh tindak etis dilaksanakan dalam masyarakat. Seberapa jauh masyarakat memahami dan menghayati keadilan.

Sesungguhnya keadilan adalah kepatuhan dan pelaksanan pada hukum agama dan negara. Manusia Indonesia yang adil adalah manusia yang memahami hukum, taat pada hukum, menjalankan hukum pada level legal, etis dan penuh dengan kecintaan pada keadilan sosial.

Keadilan harus dicintai, olehkarena keadilan adalah sifat mulia Tuhan, segala sumber keadilan bersumber dari sumber keadilan Tuhan.  Sila Ketuhanan Yang Esa, adalah Tuhan Yang Maha Adil. Dia telah menciptakan alam semesta dengan adil, tidak ada ciptaan tanpa sentuhan keadilan Tuhan. Semut yang injak, kecoa, nyamuk yang kita bunuh adalah berguna bagi mata rantai ekosistem.  Tumbuhan, hewan tercipta dari mata ratai ekosistem, tidak ada yang tidak berguna dalam keseluruhan ekosistem. Itulah prinsip kesatuan, itulah prinsip keseimbangan.

Sesungguhnya di dalam persatuan terdapat keseimbangan, sesungguhnya di dalam perpecahan terdapat benih ketidakseimbangan. Keseimbangan artinya adil pada diri sendiri, adil pada sesamanya, adil pada hewan, tumbuhan dan alam semesta.  Keadilan adalah tuntutan hidup setiap manusia, sedang timbal balik hak dan kewajiban antar manusa dan negara adalah dasar untuk menilai keadilan sosial.

Kesatuan dan keseimbang alam semesta adalah sistem keindahan makhluk hidup, tidak terkecuali manusia. Tuhan menghendaki alam semesta, tumbuhan dan hewan hidup dalam keseimbangan dan kesatuan. Tuhan menghendaki manusia dimanapun menempati sistem masyarakat dengan geografi dan budaya beragam untuk hidup seimbang dan harmoni.

Hak dan kewajiban manusia, hak milik manusia, terjadi ketika dalam sebuah masyarakat. Manusia dan alam pengaruh mempengaruhi hingga berpengaruh pada cara bekerja. Manusia hidup di gunung dan hutan menjadi pemburu dan becocok tanam. Relasi manusia dan gurun menjadi nomaden, manusia kota menjadi pedagang, manusia hidup deket laut menjadi nelayan, manusia dekat pertambangan menjadi penambang, manusia dia area perkotaan menjadi pedagang.

Ketika perkembang interaksi manusia semakin cepat dan tinggi di dorong oleh penemuan ilmu, kebutuhan dan cara memperoleh kebutuhan semakin komplek. Sarana sarana prasarana meningkat, bahan mentah, cara berproduksi, pra produksi, paska produksi, distribusi, sistem barter berubah sistem alat tukar, nilai barang kemudian berubah, gagasan bunga muncul, nafsu penguasaan muncul, akibatnya kebutuhan tak terkendali, bahan produksi tidak terkendali pada saat yang sama kelangkaan produksi tidak terkendali. Darisanalah kemudian ide gagasan makna keadilan tersemai berkelindan dengan kemajuan kebutuhan.

Manusai bekerja pada awalnya mempertahankan hidup, harmoni dengan alam, lama lama manusia bekerja fokus pada keuntungan, bekerja bukan pada keringat dan jerih payah, manusia bekerja fokus pada tingkat profit, kemudian nilai profit di persempit dengan nilai tukar dan waktu. Upah buruh, keuntungan pedagang, gaji pegawai, keuntungan negara lama kelamaan bukan di hitung dari ketersediaan dan pemerataan barang kebutuhan, melainkan fokus pada selisih keuntungan, nilai mata uang yang di ukur dari nilai mata uang yang paling dominan. Hukum penawaran dan permintaan menjadi penggerak utama yang di dukung kekuatan nilai mata uang tertinggi. Itulah kesatuan mata uang dan penguasaan menjadi  justifikas hak milik.

Darisanalah kebutuhan hidup di ukur dari kekuatan mata uang tertentu terhadap mata uang terkuat, bukan ketersediaan barang dan daya beli dengan harga terkontrol dari sebuah negara. Olehkarena itu keseimbangan (keadilan) sosial bukan titik imbang penawaran dan permintaan dalam ekonomi, yang diukur dari pemenang kapital terkuat, keseimbangan di ukur dari pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok dan sekunder sesuai dengan standar kebutuhan hidup sebuah negara mengikuti pergerakan karakter kualitas cita-cita zaman.

Tentukanalah kualitas bertuhan, tentukanlah kualitas kemanusiaan, tentukanlah kualitas kesatuan, tentukanlah kualitas hikmah, tentukanlah standar keadilan sosial dan ekonomi,  tentukanlah standar hidup  rata-rata masyarakat Indonesia. Itulah inti  tema pertemuan dialog nasional ini. Kesatuan adalah lawan perpecahan, sedang keadilan adalah lawan kezoliman.

Bersatulah melawan ketidakadilan, untuk dapat mewujudkan keadilan.

WASSALAMUALAIKUM WR, WB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Membumikan Trisakti dari Qom

Membumikan Trisakti dari Qom

Udara musim panas menyengat. Pelajar yang tergabung dalam Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) di Iran menggelar diskusi dan seminar berjudul “Membumikan Persatuan Indonesia demi Mewujudkan Kedilan Sosial”.

 

Aneka banner berbahasa Farsi menjelaskan profile Pancasila dan Indonesia. Gambar Soekarno dan aneka info ragam Indonesia bercampur dengan foto-foto ulama besar Iran memberi kesan spiritualitas suasana ruangan dan penuh khidmat.

 

Ali Ridho selaku ketua membuka acara dengan salam dan ucapan terima kasih. Mahdi sebagai moderator menggebrak tema dengan pertanyaan apa itu kesatuan dan keadilan? apa yang menjadi masalah utama?

 

Dengan baju koko putih nampak elegan, Duta Besar RI untuk Iran Octavino Alimudin selaku Keynote Speaker langsung pada pokok utama masalah. Dia menyinggung persoalan kesatuan dan keadilan diantaranya ektrimisme, konflik sara, kesenjangan ekonomi, ketidakmerataan tingkat pendidikan, kekurangan alustista dan ketidakmerataan pembangunan. Octavino membeberkan beberapa problem yang ada dengan didahului penjelasan tentang profile kekayaan Indonesia.

Problem SARA

Soal SARA, bersumber dari pelecehan satu keyakinan lain yang berbeda dengan keyakinan yang dianut. Hal tersebut merupakan upaya untuk mengklaim bahwa kepercayaan yang dianut merupakan kepercayaan yang paling benar.

Problem Pendidikan

Kualitas pendidikan Indonesia menempati peringkat 10 dari 14 negara berkembang di Asia Pasifik, sedangkan kualitas para guru berada pada level 14 dari 14 negara berkembang. (Survey UNESCO)

Problem Ekonomi

Soal ekonomi, 20 % masyarakat golongan teratas di Indonesia mengusai sekitar 46 % dari total perekonomian Indonesia. Sementara itu, 40 % masyarakat golongan terbawah hanya menikmati 17,2 % (September 2017).

Problem Ekstrimisme

Mengenai ekstrimisme, bahaya intoleransi dan ekstrismisme jauh lebih besar daripada terorisme, sebab, orang tidak dapat dihukum hanya dengan berpikir, baru ketika berbuat, bisa ditindak. Ekstrismisme merupakan ladang subur berkembangnya benih-benih aksi kekerasan dan atau terorisme. Selama 2018, lima kasus terorisme terjadi di Indonesia secara berturut-turut.

Pondasi Penyelesaian Masalah

Octavino kemudian memberi pondasi untuk menyelesaikan masalah kesatuan dan ketidakadilan sosial. Meningkatkan ketahanan nasional yang tangguh sesuai dengan pidato Presiden Soekarno tanggal 1 Juni 1945 memperdengarkan Dasar Negara Indonesia Merdeka (Philosofische grondslag) atau Pancasila. Pancasila melahirkan Trisakti, yaitu berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi dan berkepribadian dalam budaya.

Daulat Politik

Berdaulat dalam politik berarti tidak ada “intervensi”, sebagai alat diplomasi di panggung dunia, serta dihormati dan dihargai sebagai bangsa yang kuat.

Daulat Ekonomi

Mandiri dalam ekonomi, mampu memenuhi kebutuhan dasar bangsa yaitu sandang, papan dan pangan dengan menjamin kepastian dan keberlanjutannya.

Daulat Budaya

Berkepribadian dalam budaya adalah faktor yang sangat penting untuk meneguhkan identitas, ciri, karakter dan jati diri bangsa. Bangsa yang kuat memiliki kepribadian dan budaya yang tidak mudah dipengaruhi oleh budaya lain

Solusi

Dubes RI untuk Tehran memberi solusi dengan menekankan bahwa persoalan kesatuan dan ketidakadilan sosial adalah tanggung jawab bersama. Dalam hal pendidikan, bisa dengan memperkuat kurikulum dan pelaksanaannya, memperkuat sistem penilaian pendidikan yang komprehensif dan kredibel, meningkatkan pengelolaan dan penempatan guru, dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Selain itu, pendidikan kewarganegaraan, bela negara dan wawasan nusantara serta pemanfaatan kemajuan IPTEK dan Alutsista Moderen di bidang pertahanan.

Diskusi di hadiri oleh beberapa perwakilan pembicara, Muhammad Ma’ruf (IPI, Ikatan Pelajar Indonesia), Romzah Hidayatullah (Perwakilan Pelajar Qom), Abdul Latief (HPI, Himpunan Pelajar Indonesia), dan Ismail Amin (Kerukunan Keluarga Sulawesi).

Para pembicara mempertajam problem, pondasi dan solusi potensi perpecahan dan ketidakadilan sosial Indonesia dari beberapa aspek. Ma’ruf menawarkan konsistensi dan implikasi pandangan dunia, ideologi, doktrin sosial dan ekonomi, peran ilmuan sosioekonomi. Konsistensi pembangunan mazhab sosioekonomi pancasila di tingkat teori dan kebijakan negara Pancasila.

Romzah menawarkan kejelasan konsep kesatuan dan keadilan dari teks agama Islam, Ismail Amien menawarkan analisa historis, sedang Abdil Latief dari sisi relasi filosofis konsep kesatuan dan keadilan serta implikasinya pada hak dan kewajiban.

Namun keempat pembicara menyepakati bahwa kezaliman dan kebodohan adalah sumber perpecahan dan ketidakadilan sosial. Kesatuan adalah bingkai untuk memenuhi keadilan, sedang pemenuhan keadilan adalah syarat mutlak kesatuan. Keadilan artinya menjaga keseimbangan dalam berbagai level individu, teologi, kosmos dan sosial.

Setelah tiga jam berdiskusi dilanjutkan dengan acara kenduri besar di kantor HPI sebagai ucapan syukur atas HUT Kemerdekaan RI ke- 73.

Sumber : Parstoday